Posted in Angst, BL, Drama, Family, Fluffy, Genre, Hurt, Romance, Sad, Series, WonKyu Story

Circle of Love – Take 11

col

Circle of Love – Take 11

By: -ssii-

Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Cho Jinra (OC)

Romance, angst, family, BL, OOC, AU, PG 15

Siwon punya Kyuhyun, Kyuhyun punya Siwon, sedangkan WonKyu punya wks… Hehehe.. ^^

Don’t Like, don’t read !

Dilarang membashing WonKyu jika ingin hidup tenang!

(==)

***

CoL

ssiihee©2016

Totally Reserved

***

Choi Daehan memandang ruang kerja putranya yang terlihat sepi. Sekretaris Siwon mengatakan bahwa putranya sudah keluar untuk makan siang beberapa menit yang lalu. Dia memang datang tanpa memberitahu Siwon, jadi Choi Daehan tidak terlalu kecewa.

 

Choi Daehan sedikit berkeliling di ruangan Siwon. Dia tahu ini sedikit tidak sopan walaupun dia pemilik perusahann tempat Siwon bekerja dan juga ayah dari pemuda itu. Hanya saja terkadang seorang ayah sedikit ingin tahu bagaimana anaknya bekerja. Jadi dia tidak bermaksud melanggar privasi anaknya.

 

Pria tua itu mendekati meja kerja Siwon yang terdapat beberapa tumpuk dokumen. Dia sedikit membacanya lalu kembali meletakannya ke tempat semula. Choi Daehan juga tersenyum melihat beberapa foto yang menghiasi meja kerja Siwon. Foto bersama keluarganya dan juga Twins Cho. Ayah Siwon itu hanya menggelengkan kepalanya melihat foto tersebut, foto mereka saat kecil yang mungkin belum lama Siwon dapatkan dari keluarga Cho yang memang lebih banyak menyimpan kenangan masa kecil anak-anak mereka.

 

Pria yang masih terlihat gagah di usianya itu baru saja akan meninggalkan ruangan Siwon saat tiba-tiba saja matanya menangkap sebuah amplop yang tergeletak pinggir meja. Dari tulisan dan gambar di depan amplop tersebut Tuan Choi tahu bahwa amplop itu berasal dari studio foto. Mungkinkah Siwon mencetak seluruh foto-fotonya dengan Cho Siblings. Putranya itu memang memiliki hobi mencetak foto. Padahal jika ingin melihat hanya perlu membuka ponsel atau komputer.

 

Penasaran dia membuka amplop itu perlahan. Foto pertama yang Tuan Choi dapat adalah foto Kyuhyun yang dia tidak tahu kapan dan di mana diambilnya. Foto tersebut diambil secara diam-diam. Kemudian lembar kedua terdapat foto Kyuhyun lagi yang kali ini sedang tertidur. Dan Cho Daehan sangat tahu di mana foto itu diambil. Apartement Siwon.

 

Pikiran Choi Daehan segera melayang jauh. Dia tidak tahu jika Siwon dan Kyuhyun sering menghabiskan waktu berdua hingga Kyuhyun bisa menginap di apartement putranya itu.

 

Tapi.

 

Ada hal yang lebih mengejutkan Choi Daehan saat dia mengambil lembar ketiga foto tersebut. Siwon terlihat mencium Kyuhyun yang sedang tertidur. Bukan di dahi atau pun pipi melainkan di bibir. Tuan Choi segera mengeluarkan semua isi dalam amplop tersebut yang kebanyakan isinya adalah foto Siwon dan Kyuhyun.

 

Foto-foto tersebut menyiratkan bahwa hubungan mereka berdua jauh dari apa yang selama ini dia ketahui. Tuan Choi melonggarkan dasinya. Tiba-tiba saja dia merasa sesak. Jika yang dilihatnya Jinra dan Siwon mungkin ini adalah sesuatu yang bagus. Tapi Siwon dan Kyuhyun. Bagaimana mungkin keduanya melakukan hal seperti ini di belakang keluarga mereka.

 

Choi Daehan menarik nafasnya perlahan dan kembali memasukan foto-foto tersebut ke dalam amplop dan meletakannya ke tempat semula. Kemudian dia segera meninggalkan ruangan Siwon dan memikirkan apa yang harus dia lakukan terhada dua pria yang berada di jalan yang salah itu. Dia harus bertindak sebelum semuanya terlambat.

.

.

.

“Kau yakin dengan keputusanmu?”

Cho Seunghwan menatap sahabatnya yang berdiri memunggunginya, tidak jauh dari tempatnya. Mereka sedang berada di pinggir kolam renang. Istri dan anak-anaknya sudah mengurung diri di kamar sementara Siwon dan ibunya telah meninggalkan kediamannya sejak 30 menit yang lalu.

“Aku tidak tahu, tapi yang jelas hubungan mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja,” jawab Choi Daehan.

Seunghwan tentu tahu tentang mereka yang di maksud sahabatnya. Beberapa hari lalu dia dibuat terkejut dengan pernyataan sahabatnya dengan mengatakan bahwa Siwon dan Kyuhyun sedang menjalin hubungan asmara. Awalnya Seunghwan mengira sahabatnya itu salah menyebut nama anaknya tetapi ternyata tidak.

Terkejut?

Tentu saja. Orangtua mana yang tidak terkejut melihat anak laki-laki kebanggaannya berhubungan dengan seorang pria. Terlebih pria itu adalah orang yang dijodohkan dengan putrinya sendiri. Kakak perempuan dari anak laki-lakinya.

Awalnya dia sedikit tidak setuju dengan ide bahwa pertunangan Jinra dan Siwon harus segera dilaksanakan. Bagaimanapun keputusan ini akan melukai Kyuhyun sementara dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Jinra. Namun Daehan mengatakan bahwa waktu akan mengembalikan semuanya ke tempat semula. Dan pertunangan Siwon dan Jinra adalah langkah awal mengembalikannya.

Cho Seunghwan bahkan belum mengkonfirmasikan hal mengenai hubungan Siwon dan Kyuhyun pada Jinra. Anak perempuannya itu terlihat terkejut dengan berita ini dan Kyuhyun terlihat sangat terluka. Terdengar dari suaranya yang sedikit bergetar. Orang lain mungkin tidak menyadarinya tapi ia ayahnya. Dia tahu hal-hal kecil mengenai kedua anak kesayangannya.

“Tapi putraku terluka, dan aku yakin Siwon juga terluka. Kau tidak memikirkan Siwon? Dia anakmu dan mungkin saja Siwon bahagia bersama Kyuhyun begitu pun sebaliknya.”

“Lalu Jinra?” tanya Choi Daehan, berbalik dan menatap sahabatnya. “Dia juga putrimu. Kau pasti tahu saudara kembar Kyuhyun itu tertarik pada putraku. Tidakkah kau merasa di sini hanya kita berdua saja yang tidak mengetahui hubungan Siwon dan Kyuhyun. Kau bahkan bisa bertanya pada istrimu.”

Perkataan sahabatnya benar. Cho Seunghwan melupakan putrinya jika dia sampai membiarkan hubungan Siwon dan Kyuhyun berlanjut. Maka anaknya yang lain akan hancur, tapi memaksa Siwon dan Jinra bersama juga akan menghancurkan Kyuhyun dan juga Jinra. Apakah putrinya akan bahagia menikah dengan pria yang mencintai adiknya.

Seunghwan mengusap wajahnya dengan penuh gelisah. Sungguh dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar putra dan putrinya tidak terluka. Demi Tuhan dia hanya ingin keluarganya bahagia. Tapi sebagai ayah saja dia tidak bisa memberi keputusan yang adil.

“Bagaimana jika kita memisahkan ketiganya. Kau bisa menjodohkan putramu dengan gadis lain kecuali Jinra. Aku yakin Jinra lebih mengerti jika seperti ini.” Suara Cho Seunghwan terdengar sedikit putus asa.

“Jika kita memutuskan perjodohan Siwon dan Jinra maka itu akan semakin memudahkan Siwon terus berhubungan dengan Kyuhyun baik kita setuju atau tidak. Dia tidak akan bersedia dijodohkan dengan gadis lain. Aku mengenal Siwon. Putraku itu keras kepala,” tutur Choi

“Sama sepertimu.”

Daehan tertawa kecil. “Aku tahu. Lagipula Siwon dan Jinra juga saling mengenal, aku yakin perasaan salah Siwon akan menghilang seiring berjalannya waktu. Aku hanya ingin anak-anak kita kembali ke jalan yang seharusnya.”

Cho Seunghwan memikirkan ucapan sahabatnya. Benarkan perasaan Siwon dan Kyuhyun adalah sebuah kesalahan? Lalu jika benar, siapa sebenarnya yang benar-benar patut dipersalahkan. Anak-anaknya kah yang gagal mengartikan apa yang mereka rasakan dan menyebutnya cinta. Diakah sebagai orangtua yang gagal mendidik anak-anaknya. Atau Tuhankah sang pemilik segala rasa, jiwa dan raga umat-Nya karena menempatkan perasaan itu pada hati anak-anaknya. Oh Cho Seunghwan berdosalah kau karena berani menyalahkan Tuhan. Ia harus segera memohon ampun.

“Kau tenang saja. Untuk saat ini kita lihat situasi setelah keputusan ini kita buat. Setelah itu kita bisa memikirkan tindakan selanjutnya.”

Cho Seunghwan mengangguk kemudian menatap langit yang terlihat gelap tanpa cahaya bintang sedikitpun. Dia benar-benar berharap keputusan ini tidak menyakiti baik Kyuhyun dan Jinra maupun Siwon. Dia benar-benar masih tidak percaya bahwa anak kembarnya kembali menyukai hal yang sama. Dan kali ini Seunghwan tidak dapat memberikan hal itu untuk keduanya seperti sebelumnya.

***

Harapan Seunghwan untuk melihat bahwa keputusannya benar dalam sekejap menguap menjadi udara kosong saat dia melihat keadaah Kyuhyun pagi ini. Putranya itu masih tersenyum padanya dan menyapa anggota keluarganya yang lain. Namun dia tidak melihat sinar di mata putra manisnya. Hanya ada kantung mata yang tersamarkan oleh pelembab atau bedak yang sepertinya digunakan anaknya.

Cho Jinra sama saja. Anak gadisnya itu terlihat dingin. Dia bahkan merasa tidak mengenal dua orang yang duduk di sisi kanannya. Istrinya sendiri melakukan silent treatment sejak Seunghwan masuk kamar semalam. Dia hampir saja kesiangan karena wanita yang sudah menemaninya bertahun-tahun itu tidak membangunkannya. Meskipun Seunghwan akan bangun sendiri tapi biasanya istrinya akan tetap melihatnya sebelum sarapan untuk sekedar menyiapkan pakaian selagi ia mandi.

Sarapan pagi ini adalah yang terburuk. Dan ini karena ayah mereka tidak dapat membuat keputusan yang baik. Dia harus kembali menemui Choi Daehan untuk membahas masalah ini.

“Aku sudah selesai.” Kyuhyun berdiri dan bersiap meninggalkan ruang makan.

“Sarapanmu belum habis, Sayang.” Nyonya Cho melihat piring Kyuhyun yang isinya hanya berkurang sedikit.

Mianhae Umma, tapi aku harus berangkat sekarang. Pekerjaanku sedang banyak,” jawab Kyuhun pelan dan mninggalkan ruang makan tanpa menunggu protes lain dari ibunya.

Jinra melakukan hal yang sama hanya saja dia masih menghabiskan sarapan yang dibuat oleh ibunya dan mencium kedua orangtuanya. Setelah ruang makan itu hanya tersisa Tuan dan Nyonya Cho, suasana dingin semakin terasa.

“Kau senang sekarang? Anak-anakku terlihat tidak kerasab berlama-lama bersama orang tuanya.” Nyonya Cho akhirnya membuka suaranya.

Mianhae karena tidak memberitahumu sebelumnya.” Tuan Cho menatap istrinya yang mulai membersihkan meja makan. Wanita itu juga belum menghabiskan sisa makanannya.

“Aku hanya belum memberitahumu kenyataan tentang Siwon dan Kyuhyun, bukan berarti tidak akan memberitahumu. Tapi kau mengambil keputusanmu sendiri. Jadi aku tidak akan membantumu.” Setelah mengatakan hal itu Nyonya Cho meletakan apapun yang sedang dipegannya dan meninggalkan ruang makan. Posisinya kini digantikan oleh seorang pelayan.

Tidak lama Cho Seunghwan menghentikan sarapannya dan pergi ke kantor tanpa dilepas oleh wanita yang dicintainya. Tidak dapat dibayangkan bagaimana hari-hari kedepan keluarganya. Dia hanya berharap semua akan kembali seperti semula. Tetapi tidak semua yang kita harapkan akan terwujud bukan?

***

Suasana di kediaman Choi tidak jauh berbeda. Choi Daehan dan istrinya terlihat dingin satu sama lain. Choi Heerin yang tidak mengetahui kejadian semalam memandang orangtuanya dalam diam. Dia tidak berani bertanya melihat sikap ayahnya. Heerin lebih baik bertanya pada kakaknya. Siwon semalam memang langsung kembali ke apartement setelah mengantar ibunya. Jadi dia tidak melihat bagaimana suasana suram di keluarganya.

“Kau benar-benar akan melakukannya?” tanya Nyonya Choi pada suaminya setelah Heerin meninggalkan ruang makan. Anak kedua keluarga Choi itu mengatakan bahwa dia ada kuliah pagi.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Memisahkan ketiganya sedangkan perusahaan diambang kehancuran?”

“Kau! Apa kau mengorbankan perasaan anakmu hanya demi perusahaan? Benarkah orang yang mengatakan hal itu adalah pria sama yang mengatakan bahwa keluarganya adalah segalanya?” Nonya Choi benar-benar tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari suaminya.

“Jika kau melakukannya demi perusahaanmu, bukankah kau bisa saja membiarkan Siwon dan Kyuhyun bersama. Kedua keluarga akan tetap bersatu, kau akan menyelamatkan perusahaanmu, Siwon dan Kyuhyun akan bahagia. Bukankah bisa seperti itu?”

“Lalu Jinra? Kau rela membiarkan putramu di jalan yang salah? Kau siap mereka mendapat hinaan dari publik?”

“Ya aku rela!” seru Nyonya Choi. “Aku rela jika itu membuat putraku bahagia. Untuk Jinra, setidaknya kita menyelamatkan dua orang. Jinra gadis baik, dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari Choi Siwon. Jika kita melanjutkan hal ini maka mereka bertiga akan hancur, tidak sadarkah kau akan hal itu, Choi Daehan?”

Choi Daehan memandang istrinya dengan keterkejutan yang dalam. Jika wanita itu sudah menyebut namanya maka dia benar-benar marah dan kecewa.

“Kau tidak mengenal putramu. Siwon bukanlah orang yang mudah menyukai sesuatu. Jika dia sudah menyukainya maka dia akan mempertahankannya. Bahkan dari ayahnya.”

Cho Daehan menghela nafas dan memandang punggung istrinya yang meninggalkan sendirian di ruang makan. Ini bahkan baru keputusan awal. Entahlah bagaimana keadaan keluarganya setelah keputusan itu benar-benar dilaksanakan.

***

Sejak sejam lalu Choi Siwon hanya memandang ponselnya, berharap semua pesan yang dia kirim untuk Kyuhyun setidaknya dibaca oleh kekasihnya. Tapi nyatanya Kyuhyun sama sekali tidak menghiraukannya. Pemuda itu menolak panggilannya dan mengabaikan semua pesannya.

Siwon mengerang frustasi. Bukan dia yang membuat keputusan itu tapi ia merasa Kyuhyun seperti sedang menghukumnnya. Ini tidak bisa dibiarkan. Siwon segera memasukan ponselnya lalu mengambil jas dan kunci mobilnya. Tidak lama Siwon sudah di jalan menuju kantor Kyuhyun.

Sesampainya di sebuah gedung yang pernah beberapa kali dia kunjingi, Siwon langsung menuju ruangan Kyuhyun. Heechul yang kebetulan datang dari arah lain dan melihat pemuda itu segera memanggilnya.

“Choi Siwon!” teriak Heechul.

Siwon mendengar panggilan itu namun dia mengabaikannya. Saat ini yang diperlukannya hanya bertemu Kyuhyun bukan yang lain. Ketika pintu lift terbuka Siwon segera masuk dan menekan lantai tempat kantor Kyuhyun berada. Sementara Heechul yang mengejarnya hanya berdecak kesal dan menyusul Siwon dengan lift lain.

Pintu ruangan Kyuhyun dibuka tanpa ketukan. Siwon yang melakukannya hanya menelan kecewa saat ruangan itu tidak berpenghuni.

“Aku ingin memberitahumu jika kau mencari Kyuhyun, dia tidak ada,” ucap Heechul yang telah berdiri di belakang Siwon. “Ada masalah? Kyuhyun tidak biasanya tidak masuk tanpa pemberitahuan.”

Siwon berbalik dan menatap sahabatnya itu. “Hem. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Siwon mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat sangat frustasi.

“Kau bodoh! Tentu saja mempertahankannya. Kyuhyun hanya menginginkan hal itu darimu, Choi Pabbo!” Heechul terlihat kesal melihat Choi Siwon yang pintar menjadi seperti agar-agar. “Kau tidak akan menariknya ke dalam kehidupanmu jika kau tak bisa memperjuangkannya.”

Siwon menatap pria berkulit putih susu dihadapannya. Sejak kapan Kim Heechul dapat berbicara seperti ini.

“Jangan menatapku seperti itu!” teriaknya. “Kau membuatku takut.”

Hyung…” Siwon memegang bahu Heechul. “Kau harus memperjuangkan Heerin juga.”

“Ya! Kau meledekku. Aku sudah mengejar-ngejar dia sejak kita kenal. Tapi adikmu benar-benar kejam!” sungut Heechul membuat Siwon tertawa.

Setidaknya bicara dengan pria itu membuatnya sedikit tenang walau dia tetap harus menemukan Kyuhyun.

“Kurasa Kyuhyun ada di sana. Dia biasa menghabiskan waktu dengan bermain game jika sedang tertekan.”

Siwon kembali tersenyum lebar. Tidak sia-sia dia berlari seperti orang gila bahkan mengabaikan Kim Heechul.

“Baiklah aku akan kesana, kutinggal, Hyung.” Siwon segera melesat pergi setelah mendapat nama tempat yang Heechul maksud, sementara Heechul hanya menggelengkan kepala melihat jalan cerita pasangan kekasih itu.

***

Oppa!”

Kim Heechul baru saja akan melangkahkan kakinya ke dalam lift saat tiba-tiba saja suara yang begitu dia kenali masuk ke dalam gendang telinganya. Dia berbalik dan menemukan Choi Heerin sedang melambai kepadanya tidak jauh dari meja recepcionist. Ada apa sebenarnya sampai dalam jarak berdekatan dia bertemu 2 Choi itu.

“Choi Heerin!”

Heechul berlari dengan merentakan kedua tangannya menuju tempat Heerin berdiri. Gadis itu hanya memutar matanya melihat tingkah ajaib pria itu.

“Kau tidak ingin memelukku?” tanya Heechul saat dia sudah berada di depan Heerin. Gadis itu menggeleng membuat kedua tangan Heechul terhempas begitu saja.

“Aish kau ini! Apa kau begitu sibuk sampai tidak pernah menghubungiku dan tunggu…” Heechul menunjuk di depan hidung Heerin. “Tadi kau memanggilku Oppa, kau pasti ingin tahu sesuatukan. Aku tidak akan memberitahumu.”

Mwo, itu tidak akan terjadi kau tetap akan memberitahuku.”

“Tsk! Percaya diri sekali kau!”

“Memang! Sekarang cepat jelaskan mengapa aku merasa seperti sudah menghadapi sidangku? Demi Tuhan pagi ini dingin sekali.”

Heechul berdecak mendengar perkataan Heerin yang berlebihan. “Sudah kubilang aku tidak akan memberitahumu. Silahkat tanya Oppa, orangtuamu, atau kau bisa tanya pada Cho Sibling. Tapi aku tidak akan memberitahumu.”

“Ya! Kim Heechul!” Heerin sudah berniat mengeluarkan kata makian untuk pria cantik dihadapannya. Tapi dia menahannya. Bertanya pada Siwon tidak akan ada gunanya, dengan orang tuanya apa lagi, dia akan diminta fokus belajar. “Arraso. Apa yang kau mau?”

Senyum Kim Heechul merekah. Akhirnya gadis dihadapannya ini menyerah. “Aku hanya ingin kau memberikan satu harimu untukku.”

“Untuk apa?”

“Terserah padaku. Aku akan memberitahukannya nanti.”

“Aku sibuk.”

Heechul mengangkat bahu kemudian berbalik. “Baiklah.”

“Ya! Baiklah.” Heechul menghentikan langkahnya dan tersenyum penuh kemenangan.

“Kita bertemu lagi jam makan siang Heerin-ah, sekarang aku sibuk. Annyeong,” ucap Heechul dan meninggalkan Heerin dengan tatapan tidak percaya.

Gadis itu pikir dia akan langsung mendapatkan jawabannya tapi dia hanya membuang waktunya saat ini. Dengan sedikit kesal Heerin berbalik dan meninggalkan gedung tersebut.

***

Siwon mengamati tempat yang ditunjukan Heechul padanya. Tentu saja Game Centre adalah tempat terbaik bagi orang-orang seperti Kyuhyun. Dia masuk dan mendapati kerumunan yang cukup ramai diujung tempat tersebut. Siwon mendekat dan berusaha melihat siapa yang menjadi pusat perhatian. Dan di sanalah dia melihat Kyuhyun sedang bermain dengan tatapan sangat serius.

Pemuda itu menatap layar di depannya tanpa berkedip. Orang-orang yang berguman di sekitarnya sama sekali tidak mengganggu konsentrasi Kyuhyun dan saat mesin berkelip itu memuculkan tanda menang, seketika suara orang-orang di sekitar kekasihnya menjadi jauh lebih ramai. Ikut merayakan kemenangan Kyuhyun. Siwon juga ikut tersenyum melihat Kyuhyun yang terlihat bahagia. Entah ini kemenangan yang keberapa kalinya tapi dia yakin pemuda itu merasa senang.

Kyuhyun sesekali menunduk dan mengulas senyum mendengar pujian dari beberapa teman yang baru dikenalnya. Jujur saja game seperti ini bukan hal sulit baginya tapi sangat membantu ketika menghilangkan stres. Ya dia sedang stres. Memikirkan hubungannya dengan Choi Siwon. Dan senyum Kyuhyun sedikit menyusut saat sosok yang terbesit dalam otaknya kini berada bersamaan dengan orang-orang yang mengerumuninya.

“Permainan selesai,” ucapnya seketika membuat orang-orang itu meninggalkan dirinya dengan berguman kecil.

Kyuhyun menghampiri Siwon dan menampilkan senyum terbaiknya. “Kau di sini?”

“Ehm. Sudah makan siang?” tanya Siwon. Kyuhyun menggeleng dan melihat arloji dipergelangan tangannya.

“Sudah waktunya makan siang ternyata. Waaah berapa lama aku di sana.” Siwon hanya tertawa dan menyentuh kepala Kyuhyun pelan. Tidak peduli dengan keadaan di sekitar mereka.

“Kalau begitu kita makan siang bersama.”

Kyuhyun mengangguk dan mengikuti Siwon. Tidak lama mereka berdua sampai di sebuah restoran yang menyediakan ruangan privat. Siwon butuh bicara dengan Kyuhyun berdua saja. Setelah pelayan datang dan mereka memesan makanan Kyuhyun terlihat bersandar pada sofa nyaman tersebut. Pilihan bagus juga untuk tidak memilih kursi seperti biasanya. Jadi kekasihnya itu bisa sekaligus istirahat.

“Kau lelah?”

“Ehm. Padahal aku hanya main game.”

Siwon kembali mengusap kepala Kyuhyun penuh sayang. “Kalau begitu istirahatlah atau kau mau ke apartemenku?”

“Boleh juga. Memikirkanmu membuatku sangat lelah, Hyung. Aku tidak tidur semalaman. Jadi aku berpikir akan menghabiskan hari ini dengan tidur bersamamu. Kau keberatan?”

Siwon tersenyum kecil merasa bersalah. “Tentu saja tidak.” Saat itu pelayan datang dan menghidangkan makanan mereka. “Makanlah. Kau terlihat semakin menyusut.”

Kyuhyun berguman tidak jelas tapi dia tetap melakukan apa yang Siwon katakan. Mereka berdua makan dalam diam. Tidak ada obrolan ringan yang menemani keduanya. Siwon sendiri awalnya memesan tempat yang cukup privat agar mereka bisa bicara. Tapi karena Kyuhyun mengatakan akan ke apartemennya maka dia akan membicarakannya disana.

“Ah kenyangnya,” tukas Kyuhyun kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa.

Siwon tersenyum dan mengusap sudut bibir Kyuhyun. “Mau langsung pulang atau kau ingin di sini dulu?”

Kyuhyun menggeser tubuhnya lebih mendekat ke arah Siwon lalu memeluk kekasihnya. “Nanti saja, sepertinya aku tidak bisa jalan karena terlalu banyak makan.”

Siwon hanya tertawa dan membalas pelukan Kyuhyun. Mencium puncak kepala pemuda itu perlahan. “Baiklah. Apa perlu nanti kugendong?”

“Benarkah?”

 “Tentu saja. Kalau kau mau, aku bisa melakukan apapun.”

Kyuhyun mengangkat wajah dan menatap Siwon. “Termasuk menentang orangtuamu?”

Siwon mendekap Kyuhyun lebih erat, berusaha meyakinkan kekasihnya melalui bahasa tubuhnya. Dia tidak akan pernah melepas Kyuhyun.

“Jika itu pilihan terakhir yang harus kulakukan untuk mempertahankanmu, maka akan kulakukan.”

***

Appa mengetahuinya.” Choi Heerin menatap Kim Heechul yang sedang menikmati makan siangnya. Pria itu baru saja menjelaskan apa yang terjadi di antara keluarganya dan keluarga Cho.

Appa tidak akan membuat keputusan seperti itu jika dia tidak mengetahui hubungan Siwon Oppa dan Kyuhyun,” lanjut Heerin.

Heechul meminum air putihnya dengan cepat. “Kau benar. Ternyata kau cepat tanggap juga.”

Heerin mendengus lalu menggigit kuku ibu jarinya. Tanda bahwa gadis itu sedang benar-benar bingung. Heechul membersihkan mulutnya dengan tisu dan menatap gadis itu.

“Sebaiknya kau tidak ikut campur, aku tidak ingin kau terluka. Biarkan mereka menyelesaikannya.”

Heerin menaikan sebelah alisnya. Tidak mengerti dengan maksud Heechul. Bagaimana mungkin dia hanya berdiam diri. “Kau ingin aku menutup mata, sementara keluargaku diambang kehancuran.”

“Tapi tidak ada yang bisa kau lakukan juga, Rin-ah.  Siwon tidak akan melepas Kyuhyun dan kau tahu itu. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Kau hanya perlu mendukungnya sekalipun semua orang nanti akan memusuhinya. Kau mengingat ucapanku bukan?”

Heerin kembali menggigit bibir bawahnya pelan. Apa yang Heechul katakan benar. Dia tidak akan bisa melakukan apapun jika ayahnya sudah mengeluarkan keputusan. Ditambah masalah ini bukanlah masalah kecil yang bisa ia campuri dengan pemikiran sederhananya. Heerin hanya ingin keluarganya bahagia, dan saat ini yang Heerin inginkan adalah melihat kakak satu-satunya bahagia. Apapun caranya.

Heerin menghela nafas pelan. “Tentu saja aku ingat. Kau tidak perlu mengulangnya seperti aku ini mudah melupakan sesuatu. Lebih dari siapapun aku adalah orang yang sangat menginginkan Siwob Oppa bahagia.”

Heechul tertawa pelan dan mengusap kepala Heerin, membuat gadis itu berdecak kesal. “Aigo, kau sudah dewasa rupanya.”

“Lalu bagaimana dengan Kyuhyun dan Jinra Oenni? Haruskan aku menemuinya?” tanya Heerin. Gadis itu benar-benar terlihat bingung jadi dia memutuskan untuk mendengarkan saran Kim Heechul.

“Aku yakin Kyuhyun baik-baik saja karena ada Siwon. Tapi aku tidak yakin dengan Jinra,” Heechul menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya. “Kau bisa menemuinya, setidaknya dia tahu bahwa masih ada yang memperhatikannya disaat yang lain sibuk mengurus masalah Siwon dan Kyuhyun.”

Heerin menghela nafas lelah. Tugas akhirnya bukanlah sesuatu yang mudah, ditambah masalah yang terjadi pada keluarganya. Dia berharap semua akan cepat selesai dan mereka semua bisa hidup dengan damai.

Arasso. Aku akan menemuinya,” ucap Heerin. Dia lalu menatap Heechul dengan intens. “Sekarang katakan apa yang kau inginkan?”

“Kau penasaran sekali.” Heechul terkikik geli melihat Heerin yang terlihat kesal.

“Kau tidak akan meminta hal yang aneh bukan?” Heerin memicingkan mata menatap Heechul. Bebedapa detik kemudian matanya mengerjap menyadari sesuatu. “Kau tidak akan memintaku jadi kekasihmu bukan? Atau kau tidak berniat menikahiku bukan?”

Heechul tertawa geli melihat tingkah Heerin. “Wae? Kau takut?” Heerin hanya mendengus. “Kau tenang saja. Meskipun itu adalah hal yang sangat kuinginkan aku tidak akan pernah memaksamu melakukannya. Aku akan membuatmu datang sendiri padaku. Jadi sampai saat itu tiba kau tenang saja.”

Heechul tersenyum tulus pada Heerin membuat gadis itu sedikit salah tingkah. Dia sudah sangat sering mendengar lelucon pria dihadapannya dan juga sudah terbiasa menanggapi setiap ucapannya dengan sebuah candaan. Tapi Heerin akan selalu merasa tidak nyaman saat pria berkulit putih itu menatapnya dengan sebuah senyuman tulus. Seolah Heerin takut bahwa pada akhirnya pertahanannya akan luluh saat itu juga dan secara tidak sadar dirinya akan berlari kepelukan Kim Heechul. Astaga.

Heerin menggelengkan kepala dan mengerjapkan matanya. Kim Heechul sudah sibuk dengan ponselnya. Jari-jarinya yang putih sangat kontras dengan case ponselnya yang berwarna hitam. Sebagai seorang wanita Heerin pernah merasakan iri pada sahabat kakaknya itu karena memilikk kulit seputih susu, rambut yang hitam legam, bibir merah, jari-jari yang lentik dan juga mata yang indah. Heerin bahkan pernah berpikir bahwa Tuhan sangat tidak adil karena membuat Kim Heechul tampan sekaligus cantik secara bersamaan. Astaga.

Apa dia baru saja mengatakan bahwa Heechul tampan? Heerin menggelengkan kepalanya membiat pria dihadapannya menatapnya bingung.

Waeyo? Kau baik-baik saja? Jangan membuatku malu dengan tingkah anehmu?”

Mwo?” Heerin menatap tajam pada Heechul yang terkekeh geli. Benar-benar tidak ada gunanya memuji Kim Heechul. Semu akan terbang dan hancur karena ucapan pedasnya.

“Kau yang aneh Heechul-ssi.” Heerin mengambil tasnya dan berdiri. “Aku pergi.”

“Tidak mau kuantar?”

“Tidak.”

Heechul hanya tertawa kecil melihat kepergian Heerin. Kemudian setelah membayar, dia dengan cepat menyusul gadis keras kepala bermarga Choi itu. Heechul masih bisa menghabiskan waktu lebih lama jika mengantar gadis itu. Sungguh perjuangan panjang.

***

Kyuhyun mengamati apartment Siwon yang memang selalu terlihat sepi namun menyenangkan. Tanpa menunggu Siwon yang sepertinya langsung menuju dapur untuk mengambil air, dia melangkahkan kakinya ke kamar pribadi Siwon. Kyuhyun lalu menghempaskan tubuhnya dan memejamkan mata sejenak. Dia sangat lelah dan mengantuk. Tubuhnya juga terasa lebih hangat dari biasanya meskipun hal itu bukanlah sesuatu yang baru bagi dirinya, mengingat dia mudah sekali sakit.

Tidak lama dia merasakan sisi sebelahnya bergerak namun Kyuhyun tidak bergeming hingga dia merasakan sebuah telapak tangan mengusap dahinya. Kyuhyun akhirnya membuka mata dan menatap Siwon yang sedang tersenyum padanya.

“Ganti baju dan minumlah obat sebelum tidur. Sepertinya kau demam,” ucap Siwon membuat Kyuhyun mengangguk kecil. “Aku akan menyiapkan pakaianmu, jadi bangunlah dan minum obatnya.”

Lagi Kyuhyun mengangguk kecil dan menatap Siwon yang meninggalkan. Dengan malas Kyuhyun bangun dan meminum obat yang tergeletak di atas nakas beserta segelas air. Setelahnya Kyuhyun berdiri dan menyusul Siwon ke kamar ganti. Dia melihat kekasihnya seperti sedang memilih kaos yang pas untuknya.

Dengan langkah kecil Kyuhyun menghampiri Siwon dan berdiri dibelakang pria itu. Sedetik kemudian kedua tangannya sudah melingkari pinggang Siwon sementara wajahnya sudah menempel pada punggung kekasihnya. Siwon tersenyum kecil dan meletakan tangannya diatas kedua tangan Kyuhyun.

Perlahan Siwon berbalik dan memeluk Kyuhyun erat. Mencium puncak kepala pemuda itu agar Kyuhyun tenang. Terus manarik tubuh kekasihnya semakin erat kedalam dekapannya. Bagi Siwon dan Kyuhyun saat ini tidak ada kata-kata yang lebih baik selain bahasa tubuh mereka yang mengatakan bahwa tidak ada siapapun yang bisa memisahkan keduanya. Biarlah mereka menjadi egois atas apa yang mereka rasakan. Kyuhyun tidak butuh hal lain, ia hanya membutuhkan kehadiran Siwon saat ini begitupun sebalikanya.

“Istirahatlah,” bisik Siwon pelan.

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan menatap Siwon. “Kau akan menemaniku kan?”

“Tentu saja.”

Siwon menatap wajah Kyuhyun dengan intens. Ada kantung mata menghitam dibawah mata besar yang bila menatapnya, membuat kerja jantung Siwon menggila. Ada sorot lelah dibalik mata jernih yang ketika memandangnya selalu penuh cinta. Dan tidak ada bibir merah yang selalu mengundang Siwon untuk mencicipinya. Kekasih kecilnya itu hancur dalam waktu semalam karena ketidakberdayaannya menghadapi orangtuanya. Siwon merasa benar-benar tidak berguna.

Hyung?” Panggilan Kyuhyun membuat Siwon kembali fokus dan sebelum dia sempat memberikan reaksi, bibir Kyuhyun sudah melumat bibirnya dengan sedikit kasar.

Siwon terkejut namun tidak lama dia mengambil dominasinya. Siwon menarik pinggang Kyuhyun agar lebih merapat ke tubunya sementara Kyuhyyn sudah melingkarkan kedua tangannya pada leher Siwon. Tubuh Kyuhyun terdorong Siwon hingga membentur dinding.

Siwon melumat kedua belah bibir Kyuhyun dengan lebih cepat dan keras seolah esok tidak akan menjumpai keduanya. Tidak ada ciuman lembut yang biasa mereka bagi berdua. Kyuhyun bahkan dengan berani mengeluarkan lenguhan dan desahannya saat Siwon mencium dan meraup bibirnya dengan lebih keras.

Hisapan dan decakan memenuhi kamar ganti tersebut. Keduanya saling memiringkan kepala mencari posisi terbaik hingga Siwon tidak menyadari bahwa ada aliran hangat yang meleleh dari sudut mata Kyuhyun, disusul oleh isakan kecil yang seketika membuat Siwon melepaskan tautan bibirnya pada Kyuhyun.

“Sayang.” Kyuhyun memeluk erat Siwon dan mengubur wajahnya pada dada pria itu. Tidak membiarkan Siwon melepaskan pelukannya. “Hey jangan seperti ini. Bicaralah kumohon,” ucap Siwon.

Hal yang sangat Siwon hindari adalah melihat orang yang ia cintai menangis. Dan sekarang Kyuhyun menangis dalam pelukannya. Harusnya pemuda itu bisa tersenyum bahagia.

“Sayang…”

“Aku tidak bisa, Hyung.” Kyuhyun mengangkat wajahnya dan menatap Siwon dengan air mata berlinang. Siwon dengan cepat menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya. Menghapus air mata yang mengalir dengan deras menggunakan ibu jarinya.

“Sekeras apapun aku memikirkannya. Aku tidak bisa…” ucap Kyuhyun lagi. “Aku tidak bisa melepasmu, Hyung. Tidak bisa.”

Kyuhyun kembali menangis kencang dan sedikit histeris. Kyuhyun tidak peduli meskipun ia seorang pria. Dia hanya ingin meluapkan perasaannya saat ini. Dan membayangkan akan kehilangan Siwon sudah cukup untuk membuatnya gila.

“Itu tidak akan terjadi.” Siwon mengecup dahi Kyuhyun dengan mata berkaca-kaca. “Kau tidak akan kehilanganku, Sayang. Aku berjanji.”

“Aku tidak bisa, Hyung.” Kyuhyun mengerjapkan matanya. “Semalaman aku berusaha membayangkan bahwa kau akan baik-baik saja jika hidup normal dengan Nunna. Tapi aku tidak bisa.” Kyuhyun menarik nafas dan menatap Siwon. “Aku tidak bisa membayangkan kau memeluk dan mencium orang lain. Aku tidak sanggup, Hyung. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa!”

Kyuhyun kembali histeris membuat Siwon hanya bisa memeluknya dengan erat dan membisikan kata-kata bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Kyuhyun. Siwon menghujani wajah Kyuhyun yang bercucuran air mata dengan kecupan bertubi-tubi dan kini air mata kesedihan itu ikut menelisik di sudut matanya seolah tidak terima bahwa ia membuat pemuda yang dicintainya menangis.

Siwon harus menemui ayahnya. Dia tidak peduli jika ayahnya mengusirnya atau bahkan menghapus namanya dari daftar keluarga. Siwon akan membangun keluarganya sendiri, bukan dengan Jinra atau gadis lain tapi dengan Kyuhyun, belahan jiwanya.

Hampir sejam Kyuhyun menangis tersedu-sedu dan tidak melepaskan pelukannya hingga pemuda itu tertidur. Siwon bahkan hampir memanggil dokter untuk memberikan obat penenang karena wajah Kyuhyun semakin memucat karena menangis. Namun akhirnya Siwon dapat bernafas lega saat Kyuhyun tertidur karena kelelahan.

Dia memindahkan tubuh kekasihnya ke ranjang dan menyelimuti tubuh Kyuhyun. Siwon juga memeriksa kening Kyuhyun takut kekasihnya itu demam, beruntung suhu tubuh Kyuhyun masih dibatas normal sehingga Siwon bisa meminta kekasihnya itu meminum obat setelah bangun dari tidurnya.

Setelah menaikan penghangat ruangan, Siwon duduk dipinggir ranjang dan menatap Kyuhyun intens. Dia mengusap dahi Kyuhyun dan menyentuh bibir pucat kekasihnya. Apa yang dia lakukan hingga membuat pemuda sehebat Kyuhyun bisa mencintainya dengan begitu dalam. Siwon berpikir dia tidak akan pernah meninggalkan Kyuhyun apapun yang terjadi, tapi lain halnya jika pemuda itu memintanya mundur, maka Siwon akan mundur meskipun hal tersebut akan menyakitinya. Dia tidak akan mempermasalahkan hal itu asal Kyuhyun bahagia dengan dia tidak berada di sisinya.

Siwon ingin mencintai Kyuhyun dengan damai dan menerima cinta pemuda tersebut dengan damai pula. Dia tidak akan mengurung orang yang dicintainya dalam genggamannya jika orang tersebut tidak bahagia. Dia akan berada di sisi Kyuhyun bahkan jika hanya bisa sebagai seorang teman jika Kyuhyun bahagia memilikinya sebagai teman.

Jadi jika saat ini pemuda itu bersikeras bahwa dia tidak bisa melepaskan dirinya, Siwon merasa tersanjung. Dia merasa berharga di mata pemuda yang ia cintai dengan seluruh jiwa raganya. Meskipun hubungan mereka bukanlah hubungan yang sudah menghabiskan ribuan detik dengan kebersamaan namun Siwon memaknai setiap detik kebersamaan mereka dengan penuh penghargaan.

Bahkan jika waktu dapat diputar Siwob ingin menghabiskan waktunya yang terlewat dengan menyaksikan Kyuhyun tumbuh menjadi pemuda yang menawan. Namun saat ini semuanya sudah terjadi, dan yang harus ia lakukan secepat mungkin adalah menemui ayahnya. Dan Siwon siap menghadapi apapun yang akan dilakukan ayahnya. Siwon akan berjuang. Dia akan memperjuangkan Kyuhyun dan cintanya.

Siwon berdiri dan mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas dan men-dial nomor ayahnya. Pria tua itu mengangkat dalam nada ketiga. Dan Siwon tanpa basa-basi mengucapkan tujuannya.

Appa, aku ingin bicara.”

.

.

.

TiBiCi

Note:

Seperti AFY cerita ini pun sedang aku kejar untuk selesai tahun ini jadi aku bisa nyantai… #plak (Semoga bukan omdo)

Mau ngerjain yg lain juga gak bisa krn update 2 ff ini ajah lama bingits… makasih selalu buat yang masih baca cerita yang makin hari makin ancur sehancur hati aku liat Kyuhyun sakit… *kecup basah*

Terus yah terus apalagi yah… makasih juga buat yg selalu nyampah di WKc hahahaha makin banyak sampah kita senang… #plak

Udah itu ajah…

Papay…

–ssii–

 

Advertisements

Author:

Me and My Dirty Little Secret Are Heaven ^^

40 thoughts on “Circle of Love – Take 11

  1. Daebak…kira-kira apa yang akan dilakukan appadeol sekarang.Melihat reaksi yg mereka dapat dari para istri.Semoga..jlan keluar yg bijaksana segera ditemukan .

    Fighting eonni…gumawo

  2. Gmn ya, liat kyuhyun sampe nangis histeria krna ga mau pisah sama siwon itu bkin nyesek tp bahagia jga.. nyesek krna dy mesti nanggung masalah sebesar ini diusiany skrg, bahagiany krna dia bsa seterus terang itu ingin mmpertahankan siwon

  3. Penasaran banget apa yg terjadi selanjutnya…
    Liat kyu sedih dan tertekan begitu jadi sesak juga nih.. hiksss
    Thanks for update!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s