Posted in Angst, BL, Drama, Family, Genre, Hurt, Romance, Series, WonKyu Story

Circle of Love – Take 10

col

Circle of Love – Take 10

By: -ssiihee-

Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Cho Jinra (OC)

Romance, angst, family, BL, OOC, AU, PG 15

Siwon punya Kyuhyun, Kyuhyun punya Siwon, sedangkan WonKyu punya wks… Hehehe.. ^^

Don’t Like, don’t read !

Dilarang membashing WonKyu jika ingin hidup tenang!

(==)

***

CoL

ssiihee©2016

Totally Reserved

***

“Kyunnie!!! Irona, palli!!!”

Kyuhyun mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya terang yang berasal dari jendela kamarnya yang terbuka. Udara yang terasa dingin di kulitnya memaksa Kyuhyun untuk menarik selimut kembali untuk menutup tubuhnya. Namun seseorang menariknya membuat dia kembali meringkuk dengan memeluk guling.

“Ya! Sampai kapan kau akan tidur. Ayo bangun!”

Kyuhyun memaksa tubuhnya bergerak dan dia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Matanya mengerjap memandang seorang gadis yang berdiri di samping ranjangnya. Kedua tangannya diletakan di pinggang dan dia menatap Kyuhyun dengan senyum penuh semangat. Kyuhyun menjadi patung untuk beberapa detik karena tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.

“Cepat bangun dan antar aku belanja. Sudah lama kita tidak melakukannya bukan?”

Kyuhyun masih menatap kakak perempuannya dengan pandangan bingung. “Nunna…”

“Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran.”

Ne. Aku akan bersiap. Tunggu aku.”

Kyuhyun segera melompat dari atas ranjangnya saat Jinra meninggalkan kamarnya. Kyuhyun tidak akan menanyakan apapun. Dia tidak akan mengkonfirmasi apapun saat ini. Kyuhyun hanya akan menikmati waktunya berdua dengan Jinra. Jadi Kyuhyun akan diam.

Ponsel Kyuhyun berdering saat dia bersiap meninggalkan kamarnya. Senyum manis terlukis di bibirnya melihat nama Siwon tertera dilayar.

Hyung.”

“Ne. Ada apa kau terdengar sangat senang.”

Kyuhyun menyandarkan tubuhnya pada pintu dan tersenyum. “Hem. Aku akan pergi dan kau tahu dengan siapa?”

“Nugu?”

“Jinra,” jawab Kyuhyun cepat. “Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi bukankah aku harus menikmatinya. Aku benarkan, Hyung?”

Kyuhyun mendengar Siwon menghela nafas pelan. “Mianhae.”

Waeyo? Kenapa kau meminta maaf?”

“Hanya saja jika semua ini tidak terjadi kau dan Jinra…”

Hyung…” Kyuhyun memotong ucapan Siwon. Dia sudah bisa menebak apa yang akan pria itu ucapkan. “Tidak ada yang perlu dimaafkan dan ayolah jangan merusak suasana hatiku.”

Terdengar tawa pelan Siwon membuat Kyuhyun ikut tertawa. Ne, selamat bersenang-senang.”

Ne. Kau sendiri? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kyuhyun.

“Aku? Aku akan pergi dengan Appa. Dia memintaku menemaninya.”

Kyuhyun mengangguk paham namun ia sadar Siwon tidak akan melihatnya. “Baiklah. Aku akan menelponmu lagi nanti, Hyung. Sekarang aku harus pergi.”

“Ne. Saranghae.”

Nado.”

Kyuhyun menutup ponselnya dan memasukannya ke saku lalu segera turun ke bawah di mana Jinra sedang menunggunya di meja makan bersama kedua orangtua mereka. Terdengar canda tawa dari ketiganya. Hal yang Kyuhyun sadari sangat ia rindukan.

“Selamat pagi semuanya,” sapanya riang.

“Pagi, Kyunnie.” Jinra menjawab pertama diikuti dengan ayah dan ibu mereka.

“Duduklah.”

Ne,” jawab Kyuhyun cepat saat ibunya memintanya duduk.

Aigo lihatlah uri twins sudah besar.” Tuan Cho memandang putra-putrinya dengan haru. Sementara Nyonya Cho hanya mengulas senyum. “Jika mereka menikah maka hanya akan tinggal kita berdua,” tambah Tuan Cho.

“Eiyyy… lihatlah pagi-pagi Appa sudah membuat sebuah drama.” Jinra menyipitkan mata memandang kedua orangtuanya yang terlihat berkaca-kaca.

Appa kalian ini memang sangat melankolis. Percayalah jika cucu pertama keluarga Cho nanti lahir maka yang akan menangis haru adalah Appa kalian.”

Jinra dan Kyuhyun tertawa kecil mendengar penuturan ibu mereka. Tuan Cho hanya tersenyum, menikmati hal terindah di dalam hidupnya. Melihat anak dan istrinya tersenyum bersamanya. Tidak ada hal lain yang dia inginkan selain melihat mereka tersenyum bahagia.

***

Jinra tersenyum penuh kemenangan dan memandang sinis gadis-gadis yang menatap Kyuhyun dengan pandangan kagum. Gadis itu melingkarkan tangan kanannya pada lengan kiri adiknya dan memberikan death glares dengan jelas bahwa mereka sama sekali tidak bisa mengganggu pemuda itu sedikitpun. Pria disampingnya ini miliknya.

Nunna, kau mau kemana lagi?” Kyuhyun bertanya saat dirinya menyadari bahwa mereka hanya berputar-putar sejak 30 menit lalu.

Jinra berguman kesal dan menyipitkan matanya pada Kyuhyun yang telihat bingung. “Ya! Tidak bisakah kau berhenti memanggilku Nunna saat sedang jalan-jalan seperti ini. Bagaimanapun kita hanya beda beberapa menit.”

Waeyo?” Kyuhyun tidak mengerti dengan sikap kakaknya saat ini. Namun saat mendengar bisik-bisik dari beberapa gadis di sekitarnya Kyuhyun tersenyum. “Ah aku tahu.”

Jinra semakin mengerucutkan bibirnya menyadari bahwa Kyuhyun pasti akan menggodanya.

“Wah Nunna, sepertinya kau sangat mengagumiku. Aku tahu aku sangat manis dan tampan. Tapi…”

“Aish sudahlah. Ayo kita pergi.”

Kyuhyun hanya tertawa kecil saat Jinra menariknya. Gadis itu bahkan tidak berhenti menggerutu saat mereka sampai di sebuah butik langganan kakaknya. Waktunya jadi juri bagi semua gaun-gaun cantik yang melekat pada manekin.

Sementara Jinra mencoba beberapa gaun, Kyuhyun memutuskan untuk membuka ponselnya, mengecek apakah ada pesan dari Siwon. Namun harapannya tidak terkabul. Mungkin saja kekasihnya itu sedang sibuk.

“Kyunnie, bagaimana?”

Kyuhyun kembali memfokuskan pandangannya pada Jinra yang saat ini menggunakan sebuah gaun yang sangat cantik. Namun Kyuhyun menggelengkan kepala melihat kurang panjangnya gaun tersebut hingga tidak mampu menutupi paha kakak perempuannya itu.

Jinra menghela nafas melihat Kyuhyun menunjuk bagian bawah gaun yang dia gunakan. Dirinya sudah dapat menebak bahwa gaun ini tidak akan lolos dari penilaian Kyuhyun.

Berikutnya Jinra keluar dengan menggunakan gaun berwarna maroon. Kyuhyun sempat tidak mengalihkan pandangannya karena Jinra terlihat lebih dewasa dan seksi. Kata seksi yang muncul di kepalanya membuat Kyuhyun sadar dan menggelengkan kepalanya cepat melihat belahan dada yang begitu terbuka.

Jinra kembali menyipitkan matanya menyadari apa yang Kyuhyun pikirkan. Padahal ini tidak terlalu rendah, hanya saja dia juga tidak merasa nyaman. Jinra kembali masuk ke kamar ganti dan berulang kali mencoba gaun dan beberapa pakaian. Beberapa ada yang diterima dengan cepat oleh Kyuhyun dan sisanya dibuang jauh. Dan hampir semua yang Kyuhyun pilih masuk dalam favorit Jinra. Aigo terkadang Jinra melupakan fakta bahwa mereka saudara kembar.

Ja, kita mau kemana lagi?” Kyuhyun bertanya dengan beberapa kantong belanjaan di kedua tangannya.

“Bagaimana kalau kita menonton film? Ada film bagus yang ingin aku lihat. Kemudian kita makan es krim bagaimana?” Kyuhyun mengangguk membuat Jinra tersenyum lalu merangkul lengan kiri adiknya.

Hari itu mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua. Menonton film, makan bersama, ke taman hiburan atau sekedar jalan-jalan santai. Terkadang keduanya membicarakan hal apapun kecuali yang berhubungan dengan Choi Siwon, terkadang keduanya terdiam menyadari ada sebuah tembok pembatas di antara mereka.

Kyuhyun hanya mampu diam, dirinya takut jika dia bicara maka hari indah ini akan rusak atau dia akan terbangun menyadari bahwa semuanya hanya mimpi. Kyuhyun tersenyum saat Jinra memeluk erat lengan kirinya saat mereka terduduk di sebuah taman tidak jauh dari kediaman keluarga Cho. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun dan memejamkan mata. Kyuhyun melakukan hal yang sama, meletakan kepalanya di atas kepala Jinra dan memejamkan matanya.

Kyuhyun dan Jinra sama-sama sedang memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Apakah mereka bisa seperti ini saat keduanya sama-sama mencoba meraih satu tangan sebagai kebahagiaan mereka. Atau mereka harus merelakan kebahagiaan lain itu dan tetap bergandengan tangan seperti ini. Keduanya tidak tahu dan tidak mampu menebak jalan apa yang sedang disiapkan Tuhan atas kehidupan mereka.

Tentunya sebagai manusia mereka memiliki ego untuk mementingkan perasaannya sendiri atau pada akhirnya saling mengalah menjadi jalan agar tidak saling menyakiti. Semuanya butuh proses dan waktu yang tepat. Maka tunggulah sampai saat itu datang. Apakah keduanya dapat tersenyum bersama atau menangis bersama. Tersenyum di atas tangisan lain atau menangis atas senyuman lain.

.

.

.

“Ya! Choi Siwon, kau lupa punya kekasih?”

Siwon tertawa pelan mendengar ucapan Kyuhyun saat dirinya menghubungi pemuda itu. Sudah seminggu sejak dia terakhir kali menghubungi Kyuhyun saat kekasihnya akan pergi dengan Jinra. Mereka hanya sempat berkirim pesan karena jadwal Siwon yang padat ditambah kemarin dia baru saja kembali setelah beberapa hari meeting dengan pihak luar di Jepang. Bukannya Siwon tidak ingin menghubungi pemuda itu, Siwon hanya menghindar karena jika dia sampai mendengar suara Kyuhyun atau melihat wajahnya lewat video call maka dia akan mengacaukan semuanya. Untuk itulah Siwon bertahan dan siap menerima apapun yang akan Kyuhyun lakukan atas tindakannya.

Rencananya Siwon akan mengajak pemuda itu pergi, namun dia tidak tega melihat Kyuhyun terus saja mengubunginya. Bahkan dia sudah merasakan amarah kekasihnya hanya lewat panggilan telponnya. Siwon menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Dia menyamankan posisi duduknya diranjang.

Mianhae.”

“Kau menyebalkan! Aku membencimu, Choi Siwon!”

Siwon tertawa pelan, “I love you too.”

“Kau…” suara Kyuhyun hilang sesaat. “Apa kau… baik-baik saja?”

Siwon tersenyum pelan. “Mianhae. Kau tahu aku sedang tidak baik-baik saja. Aku begitu merindukanmu, katakan apa yang harus aku lakukan?”

“Cheesy,” Siwon dapat mendengar tawa dalam suara Kyuhyun. “Haruskah aku datang?”

Siwon menggeleng namun dia sadar Kyuhyun tidak dapat melihatnya. “Annie. Sudah malam, besok aku akan menemuimu.”

“Kau terlambat.”

“Apa maksudmu?”

Siwon segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya saat mendengar pintu kamarnya terbuka dan Kyuhyun berdiri dengan wajah datar. Siwon segera melempar ponselnya ke ranjang dan melompat menghampiri Kyuhyun.

“Kyu… aku… kau…” sebelum Siwon menyelesaikan ucapannya Kyuhyun sudah menubruk tubuh Siwon dan memeluk pria itu erat.

Kyuhyun meletakan wajahnya pada perpotongan leher Siwon, menghirup aroma yang begitu ia rindukan. Siwon tersenyum dengan tindakan kekasihnya dan membalas pelukan Kyuhyun erat. Dia melingkarkan kedua tangannya pada punggung Kyuhyun dan mengecup kepala kekasihnya.

”Bagaimana bisa kau ada disini?” Siwon melepaskan pelukannya untuk dapat melihat wajah Kyuhyun, namun kedua tangannya tetap melingkari pinggang pemuda itu agar tetap merapat padanya.

“Aku hanya mampir. Kebetulan lewat sini,” jawab Kyuhyun.

Sebenarnya dia ke apartement Siwon karena sudah terlalu merindukan kekasihnya. Namun Kyuhyun masih sedikit kesal dengan kelakuan kekasihnya. Siwon hanya tertawa pelan mendapat jawaban ketus Kyuhyun.

Mianhae,” Siwon mengecup pipi Kyuhyun lalu kembali menatap pemuda itu. “Lihatlah hampir seminggu tidak melihatmu aku merasa kau semakin kurus. Apa kau makan dengan baik?”

Kyuhyun tersenyum kecil dan memejamkan matanya saat tangan besar Siwon mengusap pipi kanannya. “Tentu saja aku makan dengan baik. Hanya saja semuanya habis digunakan untuk merindukanmu.”

Siwon tertawa mendengar penuturan Kyuhyun. “Kau mencoba memberikan gombalan huh?”

Annie itu benar. Kau pikir saat aku mengingatmu tidak menggunakan tenaga. Justru aku melihat kau bertambah tampan. Apa kau terhibur dengan gadis-gadis Jepang yang kau temui?”

“Apa kau sedang mengintrogasiku?”

Ne. karena sepertinya kekasihku melupakanku.”

“Aku tidak melupakanmu, Sayang.”

“Kau kekasihku?”

Siwon dan Kyuhyun tertawa bersama kemudian keduanya kembali berpelukan. Kyuhyun menyandarkan kepalanya pada bahu Siwon. Sementara pria itu memeluknya erat.

“Kau akan menginap?”

“Kau mau aku menginap?”

Siwon mengangguk, “Tentu saja. Aku tidak yakin bisa melepasmu pergi.”

“Sudah makan?”

Siwon mengangguk lagi, “Aku pulang kerumah dan makan bersama keluargaku.”

Untuk beberapa menit mereka tidak beranjak dari posisi saling berpelukan. Siwon bahkan beberapa kali terlihat menarik Kyuhyun jauh ke dalam pelukannya. Mencoba menepis jarak di antara keduanya.

“Ganti bajulah.” Siwon melepaskan pelukannya dan menatap Kyuhyun yang mengangguk.

Kemudian Siwon masuk kedalam kamar ganti dan mengambil sebuah piyama berwarna baby blue dan memberikannya kepada Kyuhyun. Pemuda itu menerimanya dan tanpa banyak bicara masuk ke dalam kamar mandi. Saat selesai dia melihat Siwon sudah bersandar di ranjang dan tersenyum saat Kyuhyun memanjat dan duduk bersisihan dengan kekasihnya.

“Warna ini memang sangat cocok denganmu. Kau terlihat jauh lebih manis.”

Kyuhyun tertawa kecil. “Kau merayuku?”

“Apa kau akan termakan rayuanku?” Kyuhyun kembali tertawa pelan.

Siwon berbaring menghadap Kyuhyun yang tertawa kecil lalu menarik pemuda itu agar mengikutinya. Kyuhyun mendekat dan menyamankan posisinya. Dia menyandarkan kepalanya pada dada Siwon. Kedua tangan Siwon memeluk erat tubuh Kyuhyun setelah menarik selimut agar membuat keduanya hangat.

Kemudian suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar suara detik jam dan hembusan nafas keduanya. Siwon pikir Kyuhyun sudah tidur jadi dia bergerak untuk mematikan lampu kamarnya. Namun gerakannya terhenti saat kepala Kyuhyun bergerak dan menatapanya.

Hyung.”

“Hem? Kukira kau sudah tidur.”

Kyuhyun menggeleng dan kembali menyandarkan kepalanya pada dada Siwon. “Annie, aku sedang berpikir.”

“Boleh aku tahu apa yang sedang kau pikirkan.” Siwon mengecup kepala Kyuhyun pelan.

“Kita…” jeda sejenak. “Apa kita bisa seperti ini selamanya? Berada dalam pelukanmu, mendengar detak jantungmu, menghirup aroma tubuhmu. Apa aku bisa selalu melihatmu sebelum aku menuju dunia mimpi? Apa kau akan menyambutku setiap kali aku membuka mata di pagi hari? Apa selamanya kita bisa tetap bergandengan tangan?”

Wae? Mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Siwon. Kyuhyun hanya mengangkat bahu.

“Entahlah. Perasaan kuhanya tidak enak. Mungkin aku butuh istirahat.”

“Kalau begitu tidurlah. Aku tidak ingin kau sakit. Kau hanya perlu tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan aku akan memperjuangkanmu. Mengerti?”

Kyuhyun mengangguk dan berusaha memejamkan matanya. Namun perasaan resahnya tetap merayap dalam hatinya membuatmya terjaga hingga dirinya baru bisa memejamkan mata hampir tengah malam.

.

.

.

Sabtu ceria menghiasi kediaman keluarga Cho. Sang Nyonya besar sedang sibuk dengan peralatan masak dan bahan-bahannya yang memenuhi meja dapur. Bibirnya menyenandungkan sebuah lagu yang tidak ada judulnya alias wanita itu hanya bernyanyi asal. Sementara di meja makan, terdapat wanita yang lebih muda sedang asik memakan buah-buahan di hadapannya. Sesekali dia menggelengkan kepala melihat kelakuan wanita yang berstatus ibunya.

Nyonya Cho tidak memperdulikan apa yang putrinya lakukan. Setidaknya Jinra duduk tenang tanpa menggangu kegiatan memasaknya. Senyuman bahagia terlukis di bibirnya ketika melihat putranya berjalan menuruni tangga dengan rambut sedikit acak-acakkan, mata yang masih sedikit terpejam dan beberapa kali menguap lebar. Sungguh menggemaskan.

“Selamat pagi, Kyunnie!”

“Ini sudah siang, Umma,” sahut Jinra yang hanya dibalas delikan kesal Kyuhyun.

“Akan ada acara?” Kyuhyun bertanya. Jinra mengangguk sebagai jawaban sementara Nyonya Cho kembali bersendandung.

“Aku sudah bertanya berkali-kali tapi hanya itu reaksinya,” ucap Jinra.

“Ibumu memang seperti itu,” sahut Kyuhyun santai.

“Dia juga ibumu,” balas Jinra. Kyuhyun tertawa pelan lalu mengambil sepotong roti.

Nyonya Cho tertawa kecil melihat tingkah putra-putrinya. “Malam ini, kalian tidak ada acarakan?”

“Kalaupun ada acara Umma pasti akan memaksa kami untuk tidak pergi kan?” jawab Jinra malas dan Kyuhyun hanya mengangguk-anggukan kepala berusaha menelan rotinya.

Nyonya Cho kembali tertawa senang. “Kalian memang anak-anak Umma yang pengertian.”

“Aku sudah selesai, Umma. Aku akan pergi sebentar.” Jinra berdiri dan meninggalkan ruang makan.

“Pastikan kau pulang sebelum jam makan malam, Sayang!” ucap Nyonya Cho sedikit berteriak memastikan putrinya mendengar ucapannya.

Ne!” sahut Jinra. Gadis itu memang sudah siap untuk pergi saat menemani ibunya.

Kyuhyun hanya menatap kakak perempuannya sebentar sebelum kemudian beranjak mendekati ibunya. Pemuda itu lalu memeluk wanita itu dari belakang. Nyonya Cho tertawa pelan melihat kelakuan putra kesayangannya.

“Ada apa? Kau ingin tahu acara malam ini?” Kyuhyun hanya mengangguk kecil.

Arraso. Karena kau bersikap manis Umma akan memberitahumu.”

Umma bertingkah seolah malam ini sangat penting,” ucap Kyuhyun pelan disela punggyng hangat ibunya.

“Kau ini. Tentu saja Umma harus menyambut setiap tamu yang datang. Terlebih mereka sudah seperti keluarga sendiri.”

“Keluarga sendiri?” Kyuhyun menegakan tubuh dan memperhatikan ibunya yang kembali sibuk.

Tamu yang sudah seperti keluarga sendiri. Tidak banyak orang atau keluarga lain yang dianggap seperti yang ibunya katakan, -keluarga sendiri. Itu berarti teman dekat ayah dan ibunya. Sepengetahuan Kyuhyun salah satunya adalah keluarga Choi. Mungkinkah?

“Kau benar!” seru ibunya penuh semangat membuat Kyuhyun sedikit terkejut. “Keluarga Siwon akan datang malam ini.” Nyonya Cho tersenyum bangga dapat menebak apa yang putranya pikirkan.

Kyuhyun hanya memandang ibunya dengan senyum kecil. Keluarga Choi akan datang. Itu artinya malam ini mereka bertiga, -Kyuhyun, Siwon dan Jinra, untuk pertama kalinya akan bertemu secara langsung setelah kejadian beberapa minggu terakhir. Kyuhyun bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Dia bahkan tidak bisa memperkirakan bagaimana reaksi Siwon dan Jinra. Bahkan reaksi dirinya sendiri.

Umma, aku akan kembali ke kamar.” Kyuhyun berjalan meninggalkan ibunya.

“Jangan hanya berdiam diri di kamar. Kau terlihat seperti selimut yang tidak pernah dicuci.”

Kyuhyun memutar matanya pelan mendengar ibunya menyamakan dirinya dengan selimut. Bagaimanapun dirinya ini sangat menarik hingga mampu menaklukan Choi Siwon. Kyuhyun tertawa kecil dan menaiki tangga dengan sedikit cepat. Mengingat Siwon membuat dia merindukan pria tampan itu. Tidak ada salahnya mengobrol sebentar.

***

Siwon mengalihkan tatapannya dari layar laptop dan mencari ponselnya yang tertutup lembaran kertas di meja kerjanya. Kemudian menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Kyuhyun yang diambil secara diam-diam. Siwon tersenyum pelan dan menggeser tombol hijau dilayar ponselnya. Kemudian dia menyandarkan tubuhnya di kursi sebelum menyapa kekasihnya.

“Hai, Sayang,” sapa Siwon dengan senyum lebar layaknya orang bodoh.

“Hai, Choi Siwon. Kau sedang apa?”

“Emm. Sedang memikirkanmu,” Siwon semakin tertawa lebar mendengar tawa renyah Kyuhyun. Hal yang ingin terus Siwon dengar.

Aigo hentikan. Aku tidak sedang ingin mendengar rayuanmu, Hyung.

“Aku tidak sedang merayumu, Baby. Aku mengatakan hal yang sebenarnya.” Siwon mendengar Kyuhyun berdecak pelan namun Siwon tahu kekasihnya sedang tersenyum manis.

“Ada apa? Kau merindukanku? Mau aku menemuimu?”

“Memang kau akan datang jika aku memintamu detik ini juga?”

“Emmm,” Siwon terlihat berpikir namun kemudian tertawa. “Tidak bisa. Aku sedang mengerjakan pekerjaanku.”

“Tsk. Kau masih bekerja di akhir pekan? Aigo kau kaku sekali, Choi Siwon.” Suara Kyuhyun terdengar ringan di telinga Siwon.

“Hanya mengerjakan beberapa hal kecil. Lagipula Umma memintaku untuk tidak pergi. Sepertinya kami akan makan malam bersama.”

“Ah tentu saja,” guman Kyuhyun pelan.

“Apa maksudmu?”

“Ah annie. Umma juga mengatakan jika mereka akan kedatangan tamu penting,” ucap Kyuhyun pelan meskipun dia sudah tahu kebenarannya.

Siwon menganggukan kepalanya. “Ah begitu. Untuk itukah kau menelponku?”

Annie. Hanya saja…” Kyuhyun menghentikan ucapannya membuat Siwon yakin bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kekasihnya.

Waeyo? Katakan saja, Sayang,” bujuk Siwon. Kyuhyun menghela nafas pelan.

“Hanya saja aku tidak tahu akan seperti apa suasananya. Aku…”

“Kau khawatir dengan Jinra?” tanya Siwon langsung.

“Aku juga mengkhawatirkanmu, Hyung.

“Aku jauh lebih mengkhawatirkanmu. Kau mau aku tidak datang?”

“Tentu saja tidak!” Kyuhyun menjawab cepat.

“Hey dengarlah, semua akan baik-baik saja. Percalah. Aku akan selalu ada di sisimu. Kita pasti bisa menghadapinya. Soal Jinra, dia sudah cukup dewasa untuk memahami situasi di antara kita bertiga. Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.”

Siwon menunggu Kyuhyun untuk mengatakan sesuatu karena pemuda itu terdiam sejenak.

“Sayang.”

Ne, Hyung. Aku akan mempercayai ucapanmu,” suara Kyuhyun kembali terdengar ceria meskipun kekhawatiran masih melingkupi dirinya.

“Ah aku jadi tidak sabar untuk melihatmu. Aku benar-benar merindukanmu, Sayang,” ucap Siwon membuat Kyuhyun tertawa pelan.

“Aku juga merindukanmu. Aku menunggumu, Choi Siwon yang tampan.”

“Ne. Cho Kyuhyun yang manis milik Choi Siwon yang tampan.”

Kyuhyun tertawa kencang mendengar ucapan Siwon dan seketika kembali membuat jantung Siwon sedikit bergetar. Betapa dia ingin selamanya membuat Kyuhyun tertawa bahagia seperti itu. Dengan hal-hal kecil yang mereka bagi bersama. Sebuah harapan sederhana namun terasa sangat sulit karena langkah mereka terhalang sebuah tembok yang masih mereka berdua usahakan agar hancur. Atau setidaknya memberi mereka celah untuk menyelinap perlahan.

***

Hari yang indah berlalu dengan begitu cepatnya. Sang waktu perlahan mengantarkan langkah kaki Siwon ke sebuah rumah yang terasa hangat. Senyum menghiasi bibir Siwon saat sang pemilik rumah menyambut dirinya dan kedua orangtuanya dengan sebuah pelukan hangat.

“Aigo Jinra-ah kau semakin cantik,” ucapan pembuka Nyonya Choi saat dia memeluk Cho Jinra.

“Tantu saja,” sahut Jinra dengan sebuah candaan. Gadis itu memeluk erat Nyonya Choi.

Siwon juga mendapat pelukan dari Nyonya Cho dan suaminya. Sementara dengan Jinra, Siwon tetap berusaha menyapa gadis itu dengan sebuah pelukan yang diterima Jinra dengan senang hati. Sejauh ini mereka masih bisa bekerja sama untuk tidak merusak suasana hangat di antara mereka. Namun hal itu tetap tertangkap mata oleh kedua ibu mereka yang memang sudah mengetahui keadaan anak-anaknya.

“Apa kali ini Heerin juga tidak bisa hadir?” Jinra bertanya saat menyadari keluarga Choi hanya datang bertiga.

“Maafkan Heerin. Dia sangat menyesal tidak dapat ikut. Anak itu benar-benar sibuk dengan tugas-tugasnya.” Nyonya Choi terlihat kecewa dengan ucapannya sendiri.

“Sudahlah. Masih banyak lain waktu.” Tuan Cho membuka suaranya.

“Lalu dimana Kyuhyun?” Kali ini Tuan Choi berbicara.

“Sepertinya Kyuhyun masih bersiap. Entah apa yang dilakukan,” jawab Nyonya Cho dengan heran.

“Boleh aku yang panggilkan?”

Ne?” Nyonya Cho sedikit terkejut begitu juga dengan Nyonya Choi. Namun kedua wanita itu berusaha bersikap bahwa mereka tidak tahu dengan apa yang terjadi.

Sementara itu Jinra hanya memasang wajah datarnya.  Dia sudah menahan dirinya, tapi Choi Siwon justru mengibarkan bendera perang di antara mereka saat ini.

“Tentu saja. Kau naik saja Siwon-ah.” Suara Tuan Cho mencairkan suasana canggung yang kasat mata itu. “Kyuhyun pasti senang bertemu denganmu,” sahut Tuan Cho santai.

Siwon tersenyum lalu segera berjalan ke arah kamar Kyuhyun. Sementara Nyonya Cho membawa tamunya ke ruang keluarga menunggu meja makan yang sedang disiapkan dan juga menunggu Siwon dan Kyuhyun.

***

Makan malam ini berjalan dengan sedikit kecanggungan. Siwon, Kyuhyun dan Jinra lebih banyak diam para orangtualah yang lebih banyak bercengkrama. Sesekali melontarkan pertanyaan pada anak mereka dan dijawab dengan lugas seolah tidak ada masalah apapun.

Namun bagi kedua wanita paruh baya yang mengetahui masalah di antara anak mereka hanya saling melirik dan mencoba meminta anak-anaknya untuk bersikap seperti biasa. Tetapi hal itu tidak terjadi. Suasana makan malam tetap terasa canggung hingga mereka pindah ke ruang tengah.

“Sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan saat in.” Tuan Cho selaku tuan rumah mengeluarkan suaranya.

Ke enam pasang mata lain menoleh dan menatap pria itu. Nyonya Cho memandang intens suaminya, sedikit mencari sesuatu dari apa yang dikatakan suaminya.

“Alasan kami mengumpulkan kalian semua adalah karena aku dan Senghwan telah sepakat bahwa pertunangan Siwon dan Jinra akan segera dilaksanakan.”

Semua mata kini tertuju kepada Tuan Choi. Terkejut. Mereka semua tentu saja terkejut dengan ucapan pria itu. Dua wanita paruh baya itu seketika menatap putra-putrinya penuh kekhawatiran. Jinra terlihat tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Jika yang dikatakan Tuan Choi  benar-benar terjadi Jinra tidak tahu apakah ia harus senang atau tidak. Bukankah dia seharusnya senang, dengan demikian ia bisa memiliki Choi Siwon. Tapi mengapa Jinra merasa hatinya kosong.

Sementara itu Kyuhyun menundukan kepalanya, tidak berani menatap Siwon yang duduk dihadapannya. Wajahnya terlihat pucat dan matanya mulai memerah menahan likuid bening yang berebut keluar.

“Aku…” Kyuhyun berusaha menormalkan suaranya yang sedikit bergetar. “Sepertinya aku harus ke kamar mandi. Aku permisi dulu.” Dengan cepat Kyuhyun berdiri dan segera melesat ke kamarnya.

Siwon yang melihat kepergian kekasihnya menarik nafas pelan dan menghembuskannya. Dia benar-benar terkejut karena ayahnya tidak mengatakan apapun sebelumnya. Tapi Siwon tidak bisa diam saja. Tidak, jika dia tidak ingin kehilangan Kyuhyun.

“Tapi Appa, aku dan Jinra belum memutuskannya. Bukankah Appa bilang keputusan ada pada kami?”

“Kau diam saja Choi Siwon, aku yang memutuskan!” bantah Tuan Choi dengan suara sedikit keras.

Siwon dan Nyonya Choi terlihat terkejut mendengar ucapan kepala keluarga mereka. Sementara Tuan Cho hanya menghela nafas kemudian memandang istrinya yang terlihat bingung dan kecewa karena tidak tahu apapun yang terjadi.

Jinra berdiri dan membungkukan badannya pada orang-orang dewasa itu. Ruangan tamu yang nyaman ini mulai terasa sesak dan membuatnya sulit bernafas.

“Aku akan melihat Kyuhyun.” Jinra tidak mengatakan apapun lagi dan langsung menyusul Kyuhyun ke kamarnya.

***

Air mata Kyuhyun meluncur tanpa bisa ditahan tepat saat dia membuka pintu kamarnya. Kemudian dia masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan sedikit keras. Bukahkah saat ini dirinya benar-benar terlihat lemah karena tidak bisa melakukan apapun selain menangis. Memang apa yang bisa dilakukannya, jika dia mengatakan tidak setuju dengan keputusan tersebut maka Kyuhyun harus memiliki alasan yang kuat, salah satunya membuka hubungannya dengan Siwon. Tapi entah mengapa keberanian Kyuhyun tidak sebesar yang ia harapkan. Kyuhyun merasa bersalah pada Siwon.

Kyuhyun mengusap wajah dan mendudukan dirinya di toilet. Dia membungkukan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya terus mengalir dalam diam tanpa bisa dihentikan. Kyuhyun masih tetap pada posisinya yang sama saat mendengar pintu kamarnya terbuka, kemudian tidak lama seseorang telah berdiri tidak jauh dari tempatnya.

“Kau sudah mengetahuinya bukan?” tanya Kyuhyun pada Jinra yang bersandar pada westafel.

Annie,” jawab Jinra singkat dan itu benar. Dia tidak mengetahui apapun tentang hari ini.

 

Jinja?” Kyuhyun mengangkat wajah dan menatap kakak perempuannya. “Bukankah ini alasanmu bersikap seperti tidak pernah terjadi sesuatu kemarin? Kau sengaja berbaik hati padaku karena tahu hal ini akan benar-benar jadi senjata ampuh untuk memisahkan aku dengan Siwon Hyung. Benarkan?”

Mwo? Kau pikir aku sepicik itu?”

Jinra menghembuskan nafas kasar mendengar pertanyaan Kyuhyun. Apa kepala adiknya itu sudah dilumpuhkan oleh cinta hingga tidak bisa berpikir dengan jernih. Oh Jinra bukankah kau sendiri seperti itu. Bukankah beberapa saat lalu kau selalu menyakiti hati adikmu sendiri demi memperjuangkan Siwon, orang yang kau cintai. Jinra mengigit bibirnya mendengar suara hatinya menaburkan garam pada lukanya sendiri.

“Kau pikir yang aku lakukan hanya untuk mengejek dan menghiburmu?” Jinra kembali menghembuskan nafas kasar. Bahkan kerja paru-parunya saat ini sangat lambat. “Baiklah anggap saja seperti itu! Anggap saja bahwa aku memang sudah mengetahui semua ini! Dengan begitu aku bisa dengan senang hati menerima kabar menyenangkan ini! Kau puas?”

Jinra menatap Kyuhyun sekilas dengan mata merah antara marah dan menahan air matanya agar tidak tumpah. Kemudian dia meninggalkan Kyuhyun dengan sebuah bantingan pintu yang cukup keras.

Sementara itu Kyuhyun mengusap rambutnya lalu berjalan menuju shower dan menyalakan kerannya. Membiarkan dinginnya air menyusup melalui pori-porinya. Membekukan seluruh tubuhnya hingga dia tidak lagi merasakan sesak di hatinya. Semua ini membuatnya lelah hingga akhirnya tubuh Kyuhyun merosot dan terduduk di lantai marmer yang tidak kalah dingin. Dia memeluk dirinya sendiri, merasa kasihan dengan tubuhnya yang ia siksa secara perlahan. Entah sampai kapan Kyuhyun sanggup menanggungnya.

.

.

.

TBC

Note:

Gak panjang lebar, makasih ajah buat yang masih mau baca^^

-ssii-

Advertisements

Author:

Me and My Dirty Little Secret Are Heaven ^^

48 thoughts on “Circle of Love – Take 10

  1. waktu awal bca sneng liat babykyu and jinra uda baik kan,,,tapi pas terakhir koqq sdih liat mereka bertengkar lagi..

    author_ssi ditunggu kelnjutany yaa..
    semangattt…..!!!!!!

  2. Hhhhh..aku bingung mw bilang apa, kasihan Kyu, kasihan Jinra, kasihan Siwon..
    Semoga yg terbaik aja bwt mereka..
    Ditunggu next chapnya y eon, semangaaattt..

  3. Udh lama banget nunggu lanjutan ff ini .. sampe akhirnya muncul juga ..
    Kyuhyun yg sabar ya .. siwon pasti akan mempertahankan kamu .. hehe
    Makasih aktor ssi udh mau lanjutan ceritanya .. ditunggu take berikutnya ya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s