Posted in BL, Drama, Romance, Series

Schiksal part. 5

project kedua Miss Lee & Ellena Han

By. Ellena Han & Miss Lee

Cast : Siwon x Kyuhyun, Hankyung

Genre : Drama/Romance, BL

Rate : T

 

Schiksal

Ada dua hal yang di pelajari Kyuhyun hari ini. Yang pertama jangan meninggalkan rumah jika kau kesal, cemburu, marah atau sakit hati. Dan yang kedua, jika pun kau memang harus meninggalkan rumah, setidaknya bawalah sedikit uang agar kau tak terdampar di jalanan dengan perut lapar, mata sembab dan hidung merah karena tangis. Well.. Satu hari yang tak akan pernah Kyuhyun lupakan.

Pemuda itu masih menyusuri jalanan Seoul yang lengang, karena memang dia memilih menyepi ke daerah pinggiran. Tak mungkin kan, dia akan menunjukkan raut wajah galau di tengah keramaian kota. Itu memalukan. Walau Kyuhyun yakin keadaan dirinya sekarang juga tak begitu jauh dari kata itu, memalukan, tambahkan lagi kata menyedihkan hingga semua akan terasa lengkap.

Apa lagi yang belum di alaminya hari ini. Dia kecewa, sudah. Dia kecewa ketika Siwon, kekasihnya, ah.. Apa masih boleh dia menyebut Siwon sebagai kekasihnya? Anggap saja masih boleh. Kita ulangi, dia kecewa ketika Siwon, kekasihnya, mengabaikannya pagi ini. Sakit hati, sudah. Kyuhyun sakit hati ketika Siwon tak menjawab sapaan nya pagi ini. Dan cemburu, sudah. Dia cemburu ketika Siwon tak menyentuh sarapan yang dia buat dan memilih pergi makan malam dengan mantan kekasihnya, atau orang yang Kyuhyun anggap menjadi mantan kekasih Siwon.

Tambahkan satu lagi hal yang harus dilakukan Kyuhyun ketika meninggalkan rumah, dia harus memakan sarapannya terlebih dahulu agar perutnya tak berkeriut minta di isi.

Kyuhyun mengacak surai coklatnya yang berantakan, kalimat-kalimat Siwon tadi pagi terus saja terngiang di telinganya.

‘Aku pergi atau tidak itu bukan urusanmu Kyu..

Bukan urusanmu bagaimana? Apanya yang bukan urusan Kyuhyun. Tentu saja itu semua urusan Kyuhyun. Bukankah mereka berdua sepasang kekasih. Lalu jika ya.. Urusan mana yang bukan urusannya.

Choi Siwon brengsek… Atau mungkin Siwon selama ini memang tak pernah putus dari Ara? Dia hanya memanfaatkan Kyuhyun. Oh.. Kyuhyun harap tidak. Dia telah menyerahkan semuanya untuk Siwon, dan sungguh, dia benar-benar berharap Siwon membalas cintanya sebesar cinta Kyuhyun.

Tapi, masih bisakah dia mengharapkan hal itu ketika tadi telinganya secara langsung menangkap pembicaraan Siwon tentang perjodohannya.

Belum lagi kenyataan jika kekasihnya itu sama sekali tak mempercayai Kyuhyun,  menorehkan goresan panjang untuk hatinya. Kenapa Siwon tak mau mendengarkan semuanya? Kenapa Siwon tak mau hanya untuk sekedar duduk dan bertanya baik-baik padanya?

Kyuhyun tak tahu harus merasa senang atau sedih. Dia tahu, Siwon cemburu padanya itu membuktikan jika Siwon pun memiliki rasa cinta padanya, tapi, ketika kekasihnya itu justru meorehkan luka yang sama untuknya, masih bisakah dia gemebira dengan rasa possesif yang dimiliki Siwon.

‘Aaargg… apa yang harus kulakukan.. Apa!?

Ingin sekali Kyuhyun berteriak. Tapi alih-alih suara kencang, justru hanya butiran-butiran halus itu yang kembali menuruni pipinya. Dia kembali mengingat setiap kata manis yang di ucapkan Siwon untuknya, setiap kalimat cinta yang di dengungkan hanya untuknya, juga setiap sentuhan panas yang mereka lewati bersama.

‘Apa semua itu tak berarti untukmu Hyung…?’

Kyuhyun mengusap butiran air matanya yang masih terus menetes. Tidak.. dia tak boleh menangis, untuk apa dia menangisi pria yang akan makan malam dengan perempuan lain? Untuk apa dia menangisi pria yang sama sekali tak mau mendengar penjelasannya?

Tapi bagaimana dengan cintanya, kenapa goresan itu semakin dalam menghujam hatinya. Kenapa sesakit ini?

Kyuhyun terus melangkah gontai, sesekali menengadahkan kepalanya hanya untuk menahan tetesan itu agar tak semakin deras. Tapi sayang, pesona langit biru di atasnya hanya semakin menambah luka, ketika bayang wajah Siwon kembali menyapa.

‘Aku mencintaimu Hyung.. aku hanya milikmu.. kenapa kau tak percaya padaku..‘ bisik Kyuhyun lirih.

Dia tak tahu kemana kakinya akan membawanya melangkah. Kyuhyun tak punya tempat singgah lain, oh.. Apakah ini yang akan menjadi nasibnya, terdampar di jalanan, atau akan kembali lagi ke tempat maksiat itu? Dia tak tahu dan tak akan peduli. Sakit ini harus dia sembuhkan. Bagaimanapun caranya, walau sesungguhnya Kyuhyun tahu jika jauh dari Siwon justru akan membuat lukanya semakin menganga.

Pemuda itu melangkah pelan, mengamati sekitarnya berharap jika ada seseorang yang di kenalnya dan mau menolongnya. Well.. harapan tinggal harapan, tak ada seorang pun yang dia kenal di kota ini. Kyuhyun tertawa getir, menertawakan nasibnya yang sungguh tak bersahabat.

Mata bulat Kyuhyun membola ketika mendapati pemandangan di hadapannya. Dua puluh langkah di hadapannya, seorang bocah cantik sedang sibuk mengambil bolanya hingga tak tahu jika sebuah mobil tengah melaju kencang ke arahnya. Jantung Kyuhyun berpacu, larut dalam kesedihan tak membuat pemuda manis itu hilang rasa kemanusiaan. Dia berusaha berlari secepat yang dia bisa, berharap jika dirinya tak terlambat meraih bocah cantik itu dalam pelukannya.

Kyuhyun terus belari, dan..

Ckiiittttttt…. Decit ban dengan aspal itu membuat Kyuhyun memejamkan matanya rapat-rapat, dapat dia rasakan jika bocah dakam pelukannya juga bergetar ketakutan. Kyuhyun sudah bersiap memberikan tubuhnya agar anak ini selamat. Eh.. Tunggu.. Tapi ada yang aneh? Kenapa tak sakit, tubuhnya tak membentur aspal atau apa… Dia, mereka, selamat..

“HAERAAAAA!!”

Bing Yu menutup matanya, lemas adalah hal utama yang terasa saat ini. Air mata mengalir deras di kedua mata tertutupnya. Di tempat yang hanya berjarak beberapa meter, terdapat seorang namja cantik yang masih memeluk erat anak berusia 5 tahun itu.

Kyuhyun membuka matanya perlahan, dilihat jarak tubuh dan mobil yang hanya berbatas satu jengkal saja.

“Oh syukurlah…” Kyuhyun sedikit melonggarkan pelukannya, “Sayang.. kau tak apa??”

Anak kecil itu mengangguk sembari tetap mempertahankan wajahnya yang menyandar di dada Kyuhyun, sopir mobil turun untuk memastikan keduanya baik-baik saja.

“Kalian tak apa??”

Kyuhyun berdiri dengan menggendong gadis kecil itu. Ia mengangguk, masih sedikit syok.

“Maafkan aku yang terlalu cepat mengendarai”

“Tak apa, akupun meminta maaf”

“Apa perlu ke rumah sakit??”

“Tidak perlu.. sekali lagi aku minta maaf dan juga terima kasih”

“Baiklah, kalian hati-hatilah..”

Sopir tersebut segera menuju mobilnya kembali dan berlalu pergi meninggalkan keduanya, tak banyak orang lalu lalang disana. Jadi kejadian tersebut luput dari penglihatan yang lainnya.

Kyuhyun lurus memandang, terdapat seorang wanita yang usianya, di atasnya. Masih dengan menutup mata dan menahan gemetar tubuhnya.

“Apa itu Umma mu??” tanya Kyuhyun yang membuat gadis kecil itu melihat ke belakangnya.

“Mama…” teriaknya.

Kyuhyun pun mendekati yeoja itu, masih enggan membuka matanya.

“Mama kenapa?” ucapnya sedih.

Kyuhyun mencoba menyentuh bahunya. Bing Yu membuka mata secara perlahan dan nafasnya seakan kembali saat melihat Haera yang selamat dan di gendong oleh seorang pria yang dia yakini adalah penyelamatnya.

“Haera.. oh Haera sayang, maafkan mama.. maafkan mama yang tak bisa menjagamu..” air mata itu kembali mengalir.

Gadis kecil bernama Haera itu pun mengarahkan jari kecilnya untuk menghapus air mata.

“Jangan menangis mama, paman ini menolongku”

“Terima kasih.. terima kasih”

Kyuhyun hanya mengangguk dan segera memberikan Haera untuk di gendong oleh Bing Yu.

Bing Yu tak hentinya menciumi setiap jengkal wajah anaknya, ia sungguh ketakutan. Jika tak ada pemuda yang di hadapannya, tak mungkin kini Haera ada dalam dekapannya.

“Sekali lagi aku sangat berterima kasih.. namaku Shin Rae” mengulurkan tangannya.

Kyuhyun mengambil uluran tangan itu, senyum terkembang di wajahnya.

“Namaku Kyuhyun”

Adegan itu harus tertutupi dengan rasa malu, saat perut Kyuhyun meminta pemasukkan. Kyuhyun hanya bisa menunduk malu.

Bing Yu tersenyum, “Rumahku tak terlalu jauh dari sini, mau kah kau mampir ke rumah?”

“Tapi…”

“Ayo paman, kita ke lumah.. ayo.. ayo..” ajaknya riang dengan suara cadel khas anak-anak.

Kyuhyun mengusak rambutnya dan mengangguk, meng iya kan.

***

“Makanlah..” Bing Yu mengarahkan sebuah piring berisikan bibimbap buatannya.

Gomawo Noona..”

Ne..”

Bing Yu tersenyum lucu, saat melihat bagaimana cara Kyuhyun makan. Seakan makanan itu akan segera lenyap, maka ia harus segera memakannya dengan cepat dan habis.

“Ini minumnya paman” Haera memberikan gelas berisikan air putih dingin.

“Gomawo.. aku sungguh merepotkan”

“Tidak.. jika tak ada kau..”

“Sudahlah Noona, semua orang yang melihat pasti akan menolong..”

“Ya.. tapi tetap saja aku harus berterima kasih padamu”

Kyuhyun hanya menatap Bing Yu tersenyum. Terlihat hari semakin menjelang malam, tapi Kyuhyun tak tau harus pergi kemana setelah dari sini, tidak mungkin bukan Kyuhyun kembali ke apartemen Siwon?

Itu namanya bukan kabur, tetapi kau hanya berjalan-jalan dan kembali pulang ke rumah setelah lelah. Bing Yu yang melihat Kyuhyun kebingungan hanya menatap penuh tanda tanya.

“Ada apa?”

“Ah.. ani..”

“Rumahmu dimana??”

Pertanyaan yang tentu tak bisa di jawabnya. Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

“Maksudmu??” Bing Yu menebak, “Kau tak punya rumah??”

“Tidak.. eum.. maksudnya ada, tapi.. tidak..” Kyuhyun menggaruk tengkuknya, tak tau harus menjelaskan bagaimana?

Bing Yu memegang tangan Kyuhyun, “Menginaplah disini untuk sementara”

Kyuhyun terkejut, benarkah ia tak salah mendengar??

“Aku akan mengatakan kepada suamiku, pasti dia akan mengizinkanmu”

Bing Yu tersenyum menenangkan, tak lama suara pintu terbuka. Bing Yu sudah memastikan jika suaminya telah pulang.

“Aku pulang”

“Papa…” Haera berlari memeluk kaki Papa nya.

“Anak papa, semakin cantik” lalu menggendongnya, “Dan semakin berat” Haera tertawa kegelian saat Papa nya menggelitik perutnya.

“Sepertinya suamiku sudah pulang, aku menyambutnya dulu.. kau tunggu disini” Bing Yu meninggalkan Kyuhyun yang tergugup saat ini.

“Suamiku..”

Bing Yu mengambil tas kerja, lalu menyimpan coat di tempatnya.

“Ada yang harus ku bicarakan”

“Mengenai apa??”

“Tadi Haela hampir teltablak mobil, Papa” sela Haera.

Mwo??”

“Haera baik-baik saja, dia di selamatkan seseorang”

“Seseorang??”

“Ya.. dan orang itu ada disini”

“Dimana??”

“Dia ada di ruang keluarga, kajja” Bing Yu menarik lengan suaminya untuk ikut bersamanya.

Kyuhyun yang masih menundukkan kepala, tak mengetahui jika sang pemilik rumah saat ini sedang berada di hadapannya.

“Terima kasih karena kau telah menyelematkan putriku”

Mendengar ucapan itu, Kyuhyun menengadahkan kepala.

“Kyuhyun..” Hankyung tak menyangka jika yang menyelamatkan putrinya adalah kekasih sepupunya sendiri.

“Kau mengenalnya, sayang??” tanya Bing Yu penasaran.

“Dia yang sering aku ceritakan..” bisik Hankyung, Bing Yu mengangguk mengerti.

“Jadi Noona adalah istri Hankyung Hyung?? Tapi bukankah nama Noona..”

“Nama asliku memang Bing Yu, tapi nama korea ku adalah Shin Rae”

Kyuhyun mengangguk mengerti. Dulu Siwon pernah mengatakan jika istri Hyung nya adalah seorang asli keturunan China.

“Kau.. kenapa bisa berada di daerah ini??”

Hankyung penasaran, setaunya apartemen Siwon jauh dari daerah rumahnya yang terletak di pinggir Seoul. Maklum Hankyung memang tak menyukai keramaian, di pinggir kota Seoul udara masih sangat baik bagi kesehatan, itulah faktor mengapa Hankyung memilih tinggal disana.

Balik lagi menuju Kyuhyun, kini dia menautkan kesepuluh jarinya. Bingung sudah barang tentu, apa yang harus di bicarakannya, sedangkan di hadapannya kini adalah Hankyung, sepupu Siwon.

“Aku tak akan mengatakan pada Siwon, mengenai keberadaanmu. Tapi aku butuh penjelasan mengapa kau berada di daerah sini”

“Aku.. aku.. pergi dari rumah”

Hankyung semakin mengerti, pertemuan Siwon tadi pagi dengannya sudah menjadi jawaban untuk Hankyung. Sudah pasti keduanya terlibat masalah yang besar, sehingga menyebabkan Kyuhyun pergi dari rumah.

“Sudah larut. Menginaplah disini dulu, kau bisa tidur dengan Haera..”

“Tapi Hyung..”

“Aku tak mungkin membiarkanmu berkeliaran di luaran sana, sendirian”

“Sudahlah.. kau tinggal disini, ne.. akan ku siapkan makan malam dulu, kita makan malam bersama setelahnya kau bisa tidur”

Bing Yu mengambil Haera dari gendongan Hankyung dan pergi meninggalkan Hankyung dan Kyuhyun berduaan. Merasa canggung, karena Hankyung menatap intens Kyuhyun.

‘Bibi memang benar, Kyuhyun anak yang baik dan lugu.. besok aku akan memberitahu Bibi mengenai hal ini’

“Aku tinggal mandi dulu” Hankyung bergegas meninggalkan Kyuhyun yang bisa bernafas lega saat Hankyung berjalan menjauhinya.

“Hufftt.. semoga Hankyung Hyung benar-benar tak memberitahukan keberadaanku pada Siwon Hyung… tapi saat ini Siwon Hyung sedang apa??”

Kyuhyun memukul kepalanya sendiri.

Pabbo.. pasti Siwon Hyung sedang bersiap menuju acara perjodohan”

Kyuhyun menghela nafas kasar dan menutup matanya, menyingkirkan segala stigma negatif yang bisa mempengaruhinya.

.

.

Dilain tempat, tepatnya dimana Appa Choi berjanjian dengan Siwon. Tengah duduk dua pasang keluarga, dengan Ara yang sesekali menatap pintu masuk.

“Maafkan saya, sepertinya Siwon sedang ada lembur”

Ara sedikitnya lega saat Appa Choi berucap seperti itu, setidaknya masalah perjodohan kembali akan tertunda.

“Tak masalah tuan Choi, sebagai polisi tentu pekerjaannya akan sangat berbeda dengan kita yang seorang pebisnis” Mr. Go memaklumi.

Appa Choi hanya tersenyum menahan marah, Siwon tidak pernah mempermalukannya. Dan kini, saat ia menghubunginya, Siwon tak satu kalipun mengangkatnya. Umma Choi mengelus halus tangan Appa Choi.

“Bagaimana jika kita mengatur ulang makan malam lagi??” Harap Appa Choi.

Ahjussi.. sebelumnya aku minta maaf” Go Ara memandang Appa dan Umma nya, mencoba mencari dukungan.

“Ada baiknya jika perjodohan ini, kita evaluasi ulang” ucapnya pelan.

Appa Choi menatap heran Ara.

“Maafkan sekali lagi ahjussi, ahjumma.. tapi kami sudah mencobanya, tetapi kami tak bisa..”

Umma Choi hanya tersenyum, “Tak apa Ara.. mungkin kalian tidak berjodoh”

Senyum kelegaan terpancar dari wajah cantik Go Ara, begitu juga dengan kedua orang tuanya, tapi tidak dengan Appa Choi yang masih menahan rasa marah.

“Bukankah kita sudah sepakat??” Ucapnya dingin.

“Aku menyerahkan sepenuhnya pada anak-anak kita, jika memang mereka menentukan untuk tak bersama.. aku tak bisa menahannya..”

“Tapi..”

“Bisnis is bisnis.. tidak akan ada yang berubah Tuan Choi.. kita masih bisa tetap menjalin kerjasama yang baik dan solid”

Appa Choi masih terdiam. Ia tak tau harus bagaimana? Ada rasa malu dan juga kelegaan dalam dirinya, tapi egonya terlalu tinggi.

“Aku pamit pulang, maaf”

Appa Choi membungkuk pamit, Umma Choi hanya mencoba mengikuti dan berusaha untuk memasang wajah yang tetap tenang.

.

.

“Ayolah Kyu.. Katakan kau dimana… Ayolah…” Siwon bergumam seorang diri. Tangannya meraba-raba mencari ponsel di dashboard mobil, mata hitamnya bergerak ke sana kemari, menatap apapun yang mungkin akan dia kenali. Tubuh tinggi, ataukah surai coklat lembut itu, atau bisa juga mata bulat coklat yang dia rindukan.

Shit..” pemuda itu mengumpat keras-keras ketika ingat jika ponsel nya tergeletak di meja ruang tamu apartemen. Sial.. kenapa justru disaat seperti ini dia bisa melupakan satu hal yang penting. Ponsel. Urgh.. bagaimana dia bisa mencari keberadaan kekasihnya itu.

Ya Tuhan… Masih pantaskah dia disebut sebagai kekasih Kyuhyun jika dia sudah membuat luka di hati kekasih nya itu?

Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Kyuhyun? Bagaimana jika dia terluka atau bertemu orang jahat? Atau hal-hal buruk lainnya? Tidak.. tidak.. Siwon tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika seujung kuku Kyuhyun tergores.

Siwon memukul stir mobilnya dengan geram. Ya ampun… Dia benar-benar payah. Bagaimana dia bisa kalah oleh rasa cemburunya? Seharusnya kemarin dia mau sejenak mendengarkan penjelasan Kyuhyun, bukannya meledak seperti orang gila yang kehilangan akal. Bukankah Kyuhyun sudah berusaha menjelaskan. Hanya dirinya yang terlalu bodoh untuk mencoba meredam emosinya barang sejenak.

Siwon masih sibuk menoleh kesana kemari. Peduli setan jika tingkahnya kali ini bertentangan dengan rambu-rambu keselamatan berkendara. Ada hal yang lebih penting dari itu semua daripada sekedar rambu-rambu, hal yang menyangkut hidup Siwon. Bagus Siwon. Betapa bodohnya kau yang baru menyadari jika kau memiliki sesuatu yang berharga setelah kau kehilangan nya.

Kehilangan.. kata-kata itu terus berputar di benak Siwon. Membuatnya semakin frustasi, hampir membenturkan kepalanya sendiri ke stir mobil jika saja tak dia ingat, dia masih harus menemukan Kyuhyun.

‘Baby.. Ada dimana kau? Apa kau baik-baik saja… apa sesuatu terjadi padamu?‘ Siwon bergumam seorang diri. Menggigit pipi dalamnya dengan gelisah.

‘Tuhan… Bisakah kau memberi kesempatan aku sedikit saja….

.

.

“Memikirkan Siwon, Kyu…?”

Kyuhyun tesentak kaget ketika suara Hankyung membuyarkan lamunannya. Pemuda manis itu sedang asyik duduk menekuk lutut di beranda, menikmati ratusan kunang-kunang yang berterbangan indah. Oh.. Jika dia behasil menikah dengan Siwon suatu saat nanti, Kyuhyun akan meminta di buatkan satu hunian seperti ini juga, jauh dari keramaian, tenang dan banyak kunang-kunang. Oh.. memikirkannya saja membuat Kyuhyun meringis pelan. Menikah? Dengan Siwon, masih mungkinkah? Ketika hubungannya justru di ambang kehancuran seperti ini.

“Tidak Hyung….”

“Tidak salah, maksudmu?” Kyuhyun merona seketika. Heck.. dia lupa jika sedang berhadapan dengan kepala bagian penyelidikan SPMA, membohonginya adalah hal yang mustahil sepertinya.

Hankyung menghempaskan tubuhnya disisi Kyuhyun.

“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”

Pemuda manis itu tak menjawab, menggigit pipi dalamnya untuk mencoba merangkai kalimat.

“Itu.. Itu aku.. Kami… Eum… kami bertengkar semalam..”

“Bertengkar?”

Kyuhyun mengangguk, memainkan jari-jarinya yang ada di pangkuannya.

“Karena apa?”

“Siwon Hyung hanya salah paham…”

“Apa yang membuatnya salah paham?”

“Kijoon….” Kyuhyun melihat ekpresi Hankyung yang penuh tanda tanya. “Kijoon, mantan kekasih yang menjualku Hyung…”

Hankyung hanya ber-ooh ria dan memberi isyarat Kyuhyun untuk melanjutkan ceritanya.

“Aku tak tahu bagaimana awal mulanya. Tapi Kijoon menemukan dimana aku tinggal, dia terus mencoba mendekatiku. Dan saat itu Siwon Hyung melihatku yang tak sengaja bertemu Kijoon di minimarket.. dan yah.. kau tahu apa kelanjutannya Hyung…”

Hankyung menghela nafas lelah, menggumamkan sesuatu yang di dengar Kyuhyun seperti ‘pabbo Siwon’.

“Lalu..dia mengusirmu?”

Kyuhyun cepat-cepat menggeleng.

“Tidak Hyung.. Aku yang pergi dari rumah. Karena aku pikir Siwon Hyung sudah tak menginginkan aku lagi…”

“Dan kenapa kau bisa berfikir seperti itu..”

Oh.. Andai Kyuhyun tidak dalam mode merajuk dan kesal pada Siwon dan sedang memerlukan tempat berkeluh kesah, dia pasti akan merasa jika dia sedang di interograsi.

“Aku.. Eum..tadi pagi aku mendengar jika Siwon Hyung akan pergi makan malam dengan Ara.. Belum lagi masalah perjodohan itu…”

Kyuhyun menunduk dalam-dalam, sesak yang dia rasa karena teringat semua tentang Siwon kembali melanda. Biarlah semua menganggap dirinya berlebihan, tapi Kyuhyun memang menyadari dia sudah teramat sangat merindukan Siwon.

Mulutnya sudah akan kembali menyuarakan sesuatu ketika dering ponsel Hankyung membuatnya terdiam. Kyuhyun melihat bagaimana pria itu menatap dengan dahi berkerut caller id si pemanggil, sebelum beralih menatap Kyuhyun.

“Ada apa Hyung?”

Hankyung menunjukkan layar ponselnya. Seketika itu juga Kyuhyun panik. Tidak.. dia belum ingin bertemu dengan Siwon.

Hyung.. Ku mohon.. jangan katakan aku berada disini…” Kyuhyun mencengkeram erat lengan Hankyung, menatapnya dengan tatapan ala anak kucing kehujanan yang membuat Hankyung semakin menyumpahi Siwon karena telah menyia-nyiakan Kyuhyun.

Pria itu meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri, memberi isyarat agar Kyuhyun diam.

“Ya…”

HYUNG.. DIMANA KYUHYUN?”

Hankyung menjauhkan ponselnya dari telinga, sedangkan Kyuhyun yang mampu mendengar keributan di ujung sana hanya meringis pelan. Ya Tuhan.. hanya mendengar suara sayup-sayup Siwon saja sudah mampu membuatnya ingin berlari pulang saat itu juga.

“Apa maksudmu?”

“Oh.. Shit..” umpatan Siwon lagi. Hankyung yakin pemuda itu pasti tengah berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartemennya, sambil bersiap melemparkan apapun yang ada di hadapannya. “Maksudku.. Apa kau tahu dimana Kyuhyun?”

“Dan kenapa aku harus tahu Siwon-ah…. bukankah dia kekasihmu?”

Satu umpatan lagi, kali ini Kyuhyun yang mendengar semuanya hanya mampu menggigit bibir menahan tangis.

“Aku.. Aku…. Dia… Dia tadi… Arrgghh… Aku tak tahu dimana dia sekarang Hyung.. bantu aku!!!” suara Siwon semakin terdengar frustasi.

“Mungkin dia hanya sedang ke minimarket Siwon-ah.. kau tak perlu khawatir berlebihan..”

“Berlebihan kepalamu…” Kyuhyun semakin meringis ketika umpatan Siwon membuatnya merasakan campuran antara kasihan dan geli.

“Aku sudah mencarinya kesemua sudut Seoul Hyung… aku tak tahu lagi harus kemana? Aku.. dammit… kau yakin tak menyembunyikannya Hyung??”

Kali ini Kyuhyun membayangkan Siwon sedang mengacak surai hitamnya penuh frustasi. Sedikit rasa bahagia menyelinap dalam dirinya. Siwon mengkhawatirkannya, benarkah?

“Mungkin kau hanya belum teliti mencari Siwon-ah.. dan seleraku tak sama denganmu Siwon, jangan menuduhku yang bukan-bukan, cobalah sekali lagi dan.. ya.. ya.. Siwon.. Choi Siwon…”

Sambungan terputus secara sepihak. Hankyung menatap Kyuhyun yang kini terisak tanpa suara.

“Siwon mencarimu Kyu.. apa kau tak ingin kembali?”

Pemuda manis itu hanya diam, membiarkan air mata semakin memenuhi pipi bulatnya.

“Kau masih mencintai Siwon?”

Kyuhyun tak tahu harus menjawab apa, mencintai? Tentu saja Kyuhyun mencintai Siwon, lewatkan kata masihnya karena perasaan Kyuhyun tak pernah berubah sedikit pun. Tapi…. penghalang hubungan mereka begitu banyak.

Di tambah lagi dengan luka karena Siwon tak mempercayainya dan menuduh dirinya berkianat. Demi Tuhan.. Kyuhyun bukan type pemuda brengsek yang suka bermain apa di belakang kekasihnya.

Tangan putih Kyuhyun menutupi bibirnya. Menahan agar suara isaknya tak tedengar. Sudah cukup satu kesalah pahaman dengan Siwon, dia tak ingin kesalah pahaman lain dengan Bing Yu misalnya. Bisa jadi kan noona itu akan mengira jika Hankyung menyakitinya atau apa?

Kepalanya menggeleng pelan, sambil terus menahan isak yang tercekat di tenggorokannya.

“Apa ada sesuatu yang lain mengganggumu?”

Kyuhyun mencengkeram erat lengan Hankyung, mencari pegangan ketika kalimat-kalimat tajam Appa Choi kembali menghantuinya. Ya.. Ada hal lain Hyung.. Ada… Batinnya berteriak pilu. Nihil.. tak ada suara yang terdengar, hanya isak yang semakin deras.

Terserah Hankyung mau menganggapnya pemuda cengeng atau apa saja, Kyuhyun tak peduli, dia hanya ingin mencari pelampiasan semua sesak di hatinya. Dia hanya ingin punya tempat untuk mengadu.

Hankyung tak bicara apapun, menepuk nepuk pelan kepala Kyuhyun yang bergetar.

“Apa.. apa.. Apa cintaku ini satu kesalahan Hyung? Apa.. Apa aku tak boleh merasakan bahagia?”

Kyuhyun berbisik lirik. Membuat Hankyung tercengang dengan pertanyaannya.

“Kyu…”

“Katakan Hyung.. Apa aku tak boleh merasakan cinta ini untuk Siwon Hyung?”

“Kyu.. Seseorang mengatakannya padamu? Apa seseorang menyalahkanmu?”

Kyuhyun menggeleng pelan, membuat air mata yang menetes di ujung hidungnya memercik ke bawah.

Tak mungkin, Hankyung tak percaya begitu saja, pasti ada seseorang yang telah bicara pada pemuda manis ini. Ada seseorang yang telah mempertanyakan cinta Kyuhyun untuk Siwon, dan Hankyung sudah mendapatkan satu nama sebagai jawabannya.

“Paman…” Hankyung mendesis kesal. “Apa paman mendatangimu Kyu? Apa Paman Choi berkata sesuatu padamu?”

Kyuhyun masih saja menggeleng pelan, semakin erat mencengkeram lengan Hankyung. Ingatannya tentang hari itu kembali memenuhi dadanya dengan rasa sesak.

“Kyu.. dengar… Apa kau mencintai Siwon?” Hankyung memegang dua bahu Kyuhyun.

“Ya.. aku mencintainya Hyung, selalu mencintainya…”

“Jika ya.. Apa lagi yang kau takutkan, kau takut cintamu salah? Tanyakan pada hatimu. Apa kau pikir kau bersalah?”

Pemuda manis itu tak menjawab, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Dengar Kyu… Semua jawaban ada dalam hatimu, walaupun kau bertanya pada seribu orang sekalipun, tak akan ada jawaban yang kau temukan, karena semuanya ada dalam hatimu…”

Hyung.. Aku mencintai Siwon Hyung…” bisik Kyuhyun lirih.

Hankyung mengulas senyum lembut, mengusap kepala Kyuhyun. Oh.. Siwon pabbo.. bagaimana bisa dia menuduh bocah manis seperti Kyuhyun ini mengkhianatinya.

“Kalian sudah dewasa Kyu, kebahagiaan kalian. Hanya kalian yang bisa menentukan, tak ada yang salah dalam perasaan apalagi tentang cinta…”

Kyuhyun merenungi setiap kalimat yang di ucapkan Hankyung.

“Hei.. jangan kau jadikan beban. Aku yakin Siwon mu itu akan mencincangku menjadi 13 bagian jika dia tahu kau menangis disini..”

Kyuhyun terkekeh pelan, mengusap air mata yang mulai berhenti mengalir.

“Kau tahu…cinta selalu membawa jalan takdirnya sendiri Kyu. jika kau memang di takdirkan bersama Siwon, maka tak akan ada yang mampu merubah jalan itu. Walaupun ada yang memandang salah, setidaknya itu bukan hatimu…”

Kali ini Kyuhyun benar-benar tersenyum, mengulas sebuah ucapan terimakasih pada calon saudaranya itu.

Belum pernah Kyuhyun merasa begitu disayangi, merasa begitu dihargai. Pemuda manis itu memejamkan mata bulatnya ketika Hankyung beranjak dari sebelahnya, sekali lagi mengusap surai coklat Kyuhyun dengan penuh kasih.

“Aku tahu Siwon sangat mencintaimu Kyu.. dia hanya terlalu bodoh karena di kendalikan cemburu, berbahagialah…”

Kyuhyun menengadahkan kepalanya, memandang kerlip bintang tepian Seoul yang berkedip menggoda. Tersenyum tipis ketika bayangan wajah Siwon menggodanya dari pancaran kilau langit malam.

‘Selamat malam bintangku.. Aku merindukanmu, buktikan jika kau masih mencintaiku. Agar kilau bintangku… kembali seterang dahulu…’

.

.

.

Pagi menyapa seluruh insan yang ada di bumi. Tak terkecuali di dalam sebuah rumah yang sederhana dengan satu kepala rumah tangga, satu istri, satu anak dan juga calon saudara.

Hankyung memisahkan dirinya untuk berdiam diri di ruang kerjanya, ia bisa melihat Kyuhyun yang bisa cepat akrab dengan anaknya Haera. Bahkan Bing Yu, istrinya yang serasa mendapatkan teman dirumah.

Hankyung tersenyum, ia menyadari bahwa pengaruh Kyuhyun memanglah besar. Tapi ia pun menyadari jika Pamannya tak segitu saja memudahkan anak tunggalnya memiliki orientasi seksual berbeda. Tapi Tuhan punya caranya sendiri untuk menentukan takdir bukan?

Mendial nomer yang sekitar sebulanan lebih ini selalu menjadi penelepon utama setelah sang istri. Siapa lagi jika bukan Bibinya, adik kandung dari Umma nya.

Yeboseyo..”

“Bibi..”

Han.. ada apa pagi-pagi menghubungi, Bibi? Apa ada sesuatu dengan Haera?

“Tidak.. bukan itu” Hankyung melewatkan mengenai Haera yang kemairn hampir tertabrak, jika Bibi nya tau. Bisa-bisa, ia di pukuli karena tak bisa menjaga anaknya dengan baik.

Lalu??

Hankyung mendudukan dirinya di kursi kebesarannya.

“Mengenai Kyuhyun”

Kyuhyun??

“Dia ada di rumahku saat ini”

Mengapa bisa??

“Ceritanya panjang, tapi intinya mereka bertengkar dan.. Kyuhyun memutuskan pergi”

Lalu Siwon??

“Kyuhyun memintaku untuk tak memberitahu keberadaannya”

Anak itu.. ada masalah apa sebenarnya??

“Masalah utama adalah… Paman”

Ne??

“Jika Bibi, benar-benar mengharapkan Siwon bahagia, bicaralah pada Paman mengenai hal ini.. buat Paman untuk memahami keadaan Siwon, jangan biarkan masalah berlarut dan juga.. ini demi kebahagiaan bersama”

Han.. kau selalu membantu Siwon dan juga Bibi, Bibi sangat berterima kasih

“Kalian keluargaku, mana mungkin aku hanya diam saja, Bi..”

Terdengar suara tawa renyah diseberang line.

Baiklah.. Bibi akan mencoba berbicara dengan Paman.. tolong jaga Siwon, selama Kyuhyun mencoba menata hatinya

“Tentu Bi..”

Ya.. sudah jika begitu, ah salamkan pada Rae dan Haera

“Ya Bi.. akan ku sampaikan”

Sambungan pun terputus, Hankyung kembali beranjak dan merapihkan kembali penampilannya. Setelahnya segera kembali bergabung dengan istri dan anaknya, dan.. ah.. penghuni baru lainnya, Kyuhyun. Untuk sarapan.

.

.

Siwon terbangun dengan malas, biasanya dia akan terbangun di sofa dan sudah mencium wangi masakan Kyuhyun. Tapi kini, ia kembali di kamar, saat keluar tak ada wewangian atau bahkan sapaan pagi.

“Kau dimana, Baby??”

Siwon berjalan ke dapur, mengambil sekaleng orange juice. Meneguknya dengan cepat dan habis. Meremasnya lalu membuang ke tempat sampah. Mengacak rambutnya dan segera menuju kamar mandi, niatnya adalah mencari cara untuk bisa menemukan kembali kekasihnya.

“Kyu.. maafkan aku..”

***

Siwon mengendarai mobil dengan tenang, sesekali ia akan melihat ke kiri-kanannya, berharap menemukan makhluk yang telah menjadi buah pemikirannya dari kemarin. Khawatir, itulah yang dirasakan Siwon saat ini. Apa yang sedang dilakukan Kyuhyun pun menjadi pusat pertanyaannya.

Baby.. aku harus bagaimana untuk bisa bertemu denganmu, kembali??”

Tak terasa mobilnya telah sampai di depan kantornya. Berjalan lunglai memasuki lobby, tak ada senyuman ataupun sapaan yang selalu dilakukannya. Dunianya menjadi hitam saat tak ada cahaya itu di sisinya.

“Siwon.. kau baik-baik saja kan??” Rekan se-divisinya Sojung bertanya heran.

“Aku.. ya.. tentu baik” Siwon tersenyum menenangkan, lalu menduduki kursinya.

Menatap laptop di hadapannya dengan berpikir keras, apa yang harus dilakukannya?? Bodohnya ia, mengapa tak segera memberikan telepon genggam untuk Kyuhyun, jika Kyuhyun mempunyainya sudah dipastikan Siwon bisa segera melacak melalui GPS.

Lalu apa dia harus mencari nama Kyuhyun di semua hotel atau motel seluruh Seoul?? Menggunakan jabatannya sebagai polisi tentu bisa dilakukan, tapi jika Hankyung mengetahuinya, habislah ia.

Siwon pun bergegas pergi menuju ruangan Hankyung, tanpa permisi segeralah ia masuk. Hening itulah yang pertama dirasakannya, tak seperti biasanya Hankyung datang terlambat.

“Siwon??”

Siwon menolehkan ke sumber suara, dimana Hankyung menatapnya penuh tanda tanya.

“Kau baru datang, Hyung??”

“Ya.. ada apa mencariku??”

“Tidak biasanya kau terlambat, Hyung??”

“Kau tak menjawab pertanyaanku, Siwon..”

“Tapi kau pun tak menjawab pertanyaanku, Hyung

Hankyung menyimpan tas nya di atas meja, lalu duduk di kursi. Menatap dengan mata elangnya kepada Siwon. Menangkupkan dua telapak tangannya untuk menyangga kepalanya.

“Aku habis mengantar Haera, ke Rumah Sakit”

Mwo?? Sakit apa??” Siwon segera duduk di hadapan Hankyung.

“Beruntungnya ia tak apa-apa.. aku hanya khawatir saja, kemarin Bing Yu mengatakan, Haera hampir saja tertabrak mobil”

“Tertabrak??”

“Ya.. tetapi ada seseorang yang menyelamatkannya”

“Ah.. syukurlah.. aku ingin sekali menjenguk keponakanku, tapi..”

“Aku mengerti Siwon, teruskan saja dulu pencarianmu. Haera terlalu mengerti dengan Paman yang sibuk urusan pribadinya” sindir Hankyung.

Hyung..”

Hankyung tertawa, “Tak apa Siwon, Haera sudah beraktifitas normal. Bahkan tadi dia pun sudah bersekolah, tak ada yang perlu dikhawatirkan”

“Heum..”

“Lalu apa maksud kedatanganmu kesini??” Balas Hankyung bertanya.

“Aku.. aku.. bolehkah jika aku.. meng..”

“Tidak bisa..”

Mwo??” Siwon terkejut sebelum mengutarakannya, tetapi Hankyung sudah tepat menebaknya.

“Aku mengerti kau menginginkan segera mendapatkan Kyuhyun, tetapi menggunakan kekuasaanmu dengan mencarinya itu bukan cara yang baik Siwon”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Kau.. harus selesaikan dulu urusanmu dengan Paman”

Appa??”

Hankyung mengangguk, “Perjodohan itu harus benar-benar batal, setelahnya kau bisa focus untuk mencari Kyuhyun dan membawanya kembali dalam pelukanmu”

“Kau benar Hyung..”

“Aku memang selalu benar bukan??”

“Ck..”

“Sudahlah.. kembali bekerja, masih banyak kasus yang harus segera dilimpahkan ke pengadilan”

Sebelum Siwon pergi, Hankyung berkata..

“Bahkan kau bisa memenjarakan Kijoon, karena kasus perdagangan kemarin”

Siwon menolehkan wajahnya.

“Hanya ingin agar kau tak salah paham kembali… itupun jika Kyuhyun mau melaporkannya”

“Akan aku pikirkan”

.

.

“Minumlah sebelum dingin..”

Appa Choi melipat surat kabar di tangannya ketika suara lembut istrinya menyapanya, diiringi secangkir teh herbal yang masih mengepulkan uap panas.

Pagi itu, sang kepala keluarga Choi masih terlihat duduk santai di beranda rumahnya. Hari ini, dia terpaksa membatalkan semua kegiatannya karena kondisi tubuhnya yang sedikit kurang baik. Ah.. haruskah dia mulai menyalahkan putra kesayangannya itu yang mengakibatkan kondisi tubuhnya sedikit memburuk.

Appa Choi menghela nafas sejenak, sebelum mengangkat cangkir, meniupnya pelan dan menyesap sedikit isinya. Pria paruh baya itu mengerling sejenak istrinya yang tengah menatapnya dengan pandangan yang tak bisa di artikan. Dia tahu dan bisa menebak apa yang ingin istrinya itu bicarakan.

“Apa yang ingin kau katakan? Kau seperti bersiap ingin menghakimiku…” Appa Choi meletakkan cangkirnya, menatap istrinya yang kini meletakkan tangannya di lengannya, mengusapnya pelan.

Yeobo… Ini.. tentang Siwon…”

“Ahh.. Anak nakal itu…” Appa Choi menghela nafas berat. Berusah menekan emosinya yang selalu ingin meledak jika mendengar nama Siwon.

Semalam, putra kebanggaan dan harapan satu-satunya itu telah mempermalukannya di hadapan keluarga Go. Appa Choi sungguh tak habis pikir apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Siwon. Putranya itu benar-benar menjelma menjadi seseorang yang tak dia kenal. Ataukah memang dirinya yang tak pernah mengenal siapa putranya?

Yeobo.. Apakah. Apakah kau lihat jika.. jika Siwon akhir-akhir ini sedikit berubah..” kata Umma Choi pelan, masih mengusap lembut lengan suaminya.

“Perubahan yang aku lihat tidak sama dengan apa yang kau lihat…” jawab Appa Choi dingin.

“Tapi.. tidakkah kau lihat jika putraku… Putraku…”

“Ini tidak benar chagia.. Hal seperti ini tidak benar…” Appa Choi cepat memotong kalimat Umma Choi.

Umma Choi menghela nafas sedih.

“Apa nya yang tak benar Yeobo? Bagian mana yang tidak di benarkan jika ini menyangkut kebahagian Siwon?”

Appa Choi menghembuskan nafasnya kuat-kuat.

“Hal ini tetap tak dibenarkan. Aku masih menginginkan Siwon memiliki keturunan untuk kita. Penerus keluarga kita…”

“Apa artinya memiliki penerus jika putra kita tak bahagia yeobo…”

Appa Choi menatap tajam istrinya itu.

“Apa maksudmu? Tentu saja Siwon akan bahagia… “

“Itu menurutmu yeobo.. tapi bagi Siwon, apa kita tahu apa yang terbaik untuknya…” nada suara Umma Choi sedikit meninggi.

“Tentu saja aku tahu. Siwon putraku. Aku tahu apa yang terbaik untuknya…”

Yeobo.. bukan kita.. bukan kau yang akan menjalaninya, bukan pula aku. Siwon yang akan menjalani hidupnya. Tak bisakah kau membiarkannya memilih jalannya sendiri?”

Appa Choi kembali melempar tatapan tajam pada Umma Choi yang masih mengusap lengannya.

“Tidak!! Ini keputusanku..”

“Tidakkah kau lihat jika Siwon tampak jauh lebih hidup sekarang yeobo, putraku bisa tersenyum, bisa tertawa bukan sebongkah kayu tanpa nyawa… tak bisakah kau…”

“CUKUP!!!”

Umma Choi tersentak kaget.

“Maafkan aku yeobo.. maafkan aku.. Aku…” bisik Umma Choi lirih.

Appa Choi mengusap kasar wajahnya. Saat inipun dia juga di buat pusing dengan tingkah putranya yang di luar kendalinya. Terkadang sebersit keinginan sempat singgah di hatinya untuk merestui pilihan Siwon. Tapi bagaimana dengan nama baik keluarganya, reputasinya, garis keturunannya.

Umma Choi semakin mendekat pada suaminya itu, melingkarkan lengannya pada bahu suaminya. Sungguh, dia memang sudah jatuh sayang pada Kyuhyun, dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Siwon. Hanya saja dia tetap harus menghormati suaminya.

“Maafkan aku yeobo… maafkan aku…”

Appa Choi menghela nafas panjang, kembali berusaha meredam emosinya.

“Apa yang membuatmu menyukai pemuda itu?” tanyanya lirih yang membuat Umma Choi tersentak.

“Aku hanya melihat kebahagiaan Siwon, bagaimana senyum dan tawa Siwon ketika bersama Kyuhyun, aku belum pernah melihat putraku tampak begitu hidup dan bersemangat. Bahkan hal itu tak dia dapat ketika Siwon bersama Ara…”

Umma Choi tersenyum tipis, lengannya memeluk Appa Choi dengan erat.

“Kau mungkin tak pernah tahu yeobo.. tapi bagiku yang seorang ibu, tak ada hal lain yang lebih penting dari kebahagiaan putranya. Aku bisa merasakan kasih sayang tulus yang Kyuhyun berikan untuk Siwon, aku bisa merasakan pemuda itu begitu mencintai putraku…”

Appa Choi berbalik dan memeluk tubuh istrinya itu.

Yeobo.. tak bisakah kau menerima dia sebagai bagian dari keluarga kita? Aku… Aku menyanyanginya. Aku mohon… Aku…”

“Cukup!!” Dapat Umma Choi rasakan pelukan yang semakin mengerat di tubuhnya. Perempuan itu segera mengusap punggung Appa Choi agar suaminya itu tak kembali meledak marah.

“Maafkan aku Yeobo.. maaf…”

“Jangan membuatku semakin bingung…”

Umma Choi menggeleng pelan. Walau dalam hati, dia berteriak agar suaminya ini mau membuka sedikit pintu hatinya demi Siwon, putra mereka.

“Aku perlu meyakinkan hatiku…” bisik Appa Choi lirih pada akhirnya.

.

.

“Siwon-ah..”

Siwon melirik belakangnya, kaka sepupu yang selalu melindunginya sedang tersenyum.

“Ada apa?”

“Kau akan mulai mencari, Kyuhyun kembali??”

“Begitulah.. tapi seperti saranmu, Hyung.. aku harus menyelesaikan dulu urusanku dengan Appa

Hankyung menepuk pundak Siwon, memberi semangat.

“Perlu aku ikut?”

“Tidak perlu, Hyung.. aku akan menyelesaikannya sendiri..”

“Baiklah.. aku pamit jika begitu..”

Belum Hankyung keluar.

Hyung..”

Hankyung menoleh, “Ya..”

“Jika.. Hyung melihat Kyuhyun.. tolong kabari aku”

Hankyung tersenyum, lalu melambai pergi meninggalkan Siwon yang kembali mendesah kasar. Pikirannya bercampur aduk, antara apa yang harus dikatakannya pada sang Appa mengenai kejadian tadi malam, serta bagaimana caranya Siwon menemukan Kyuhyun.

“Oh Tuhaaaann..” desahnya.

Siwon beranjak pergi meninggalkan ruang kerja yang telah sepi, shift nya akan diganti dengan polisi lainnya. Siwon haruslah bergegas pulang sebelum rekannya menemukan dirinya dalam keadaan kacau.

.

.

Kyuhyun bermain dengan Haera, sepulang sekolah gadis kecil itu memonopoli Kyuhyun untuk bermain dengannya. Anggap saja, Kyuhyun saat ini sedang pendekatan dengan calon keponakannya.

Bing Yu hanya bisa pasrah, Haera memang selalu seperti itu. Jika ia sedang menyukai seseorang maka dirinya akan selalu bersama orang itu.

“Kau lelah, Kyu??”

Kyuhyun hanya menggeleng, walau ia merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Haera sudah lelah tertidur, maka itu Kyuhyun bisa sedikit bernafas lega.

“Maafkan Haera.. dia selalu seperti itu jika sedang menyukai mainan baru untuknya”

“Maksudnya?”

“Ya.. jika dia sedang senang berada di dekat seseorang, maka dia akan selalu bersamanya, ya.. hanya dalam waktu seminggu, setelahnya ia akan kembali seperti biasa.. bermain dengan lainnya, bukan berarti melupakan.. itulah sikap Haera dia ingin mengenal jauh dengan seseorang, dengan pengenalan seperti itu”

“Menurun dari sikap Papa nya..” Hankyung berjalan mendekati keduanya.

“Kau sudah pulang, sayang?”

“Heum..”

Mereka berpelukan seolah tak menyadari bahwa ada Kyuhyun disana, Hankyung sengaja mengeratkan pelukannya dan tersenyum jahil pada Kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa memalingkan mukanya, oh.. dia merindukan Siwonnya saat ini, apa kabar dengan Siwon?

“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi” Bing Yu segera pergi meninggalkan Hankyung.

Hankyung mendekati Kyuhyun dan ikut duduk disampingnya.

“Bagaimana harimu??”

“Menyenangkan.. Haera selalu menemaniku”

“Haera selalu cepat akrab dengan orang-orang baik”

Hyung..”

“Siwon baik, dia saat ini masih mencarimu.. kau tak ingin bertemu dengannya?”

Kyuhyun menggeleng, ntah lah dia masih punya muka atau tidak untuk bertemu dengan Siwon saat ini.

.

.

“Siwon.. Kau datang berkunjung?” Umma Choi melepaskan pelukan suaminya, menghampiri putranya yang diam mematung di tengah pintu masuk beranda.

“Ya..” jawab Siwon lirih. Umma Choi yang jelas tahu jika ada sesuatu yang memang terjadi pada Siwon tak begitu heran dengan raut masam putra semata wayangnya itu. Sedangkan Appa Choi menampakkan raut wajah merah padam menahan marah ketika menatap Siwon.

Siwon tahu, jika Ayahnya pasti akan berlaku seperti itu, dia telah mengabaikan janji makan malam dengan keluarga Ara, dan Ayahnya tak suka itu.

“Untuk apa kau kemari?” kata Appa Choi dingin.

“Ada satu hal yang ingin aku bicarakan Appa…”

“Jika itu tentang kekasih aneh mu itu. Jangan harap aku mau mendengarkan..”

“Kyuhyun bukan orang aneh Appa… jangan sebut dia seperti itu!!”

“Jangan membentakku Siwon!!” Appa Choi berkata tak kalah keras.

Siwon menggeretakkan bibirnya, bersiap melemparkan balasan ketika di tangkapnya gelengan pelan Ummanya yang berdiri di belakang sang ayah.

Pemuda tampan itu menghela nafas, mencoba bicara dengan nada senormal mungkin, dia sungguh berharap jika masalahnya kali ini akan mampu dia selesaikan tanpa harus memakai jalur kekerasan. Tak mungkin bukan, dia harus melawan dengan kekerasan pada orang tuanya sendiri.

Appa tolong.. Aku datang bukan untuk bertengkar dengan Appa….” Siwon berkata lirih.

Umma Choi segera meraih kembali lengan suaminya, mengajaknya duduk di sofa beranda agar suaminya itu tak lagi meledak marah dan sedikit lebih tenang.

“Bicaralah Siwon…” kata Umma Choi.

Appa… Aku.. Aku tahu. Mungkin aku sudah sangat mengecewakanmu. Tapi tolong.. Untuk sekali dalam hidupku. Ijinkan aku memilih apa yang aku inginkan…”

“Selama ini aku selalu menuruti apa kehendak Appa.. mengikuti perintah Appa… kali ini, biarkan aku memilih apa yang aku inginkan Appa…” Siwon menghela nafas dalam. Sungguh, dia sangat berharap ayahnya mau mengabulkan keinginannya kali ini.

Appa Choi masih terdiam, menatap tajam putranya yang balas menatapnya dalam-dalam.

Siwon tak akan menundukkan kepalanya, bukan dia ingin berlaku tak sopan, hanya saja dia tak ingin ayahnya mengira jika dia ragu pada pilihannya kali ini. Siwon tak pernah ragu, dia ingin bersama Kyuhyun. Memang pertemuan mereka masih terlalu simgkat, tapi, perasaan nyaman yang dia rasakan tak pernah dia dapat dari siapapun selain Kyuhyun.

Siwon menggigit bibirnya sejenak, mengingat Kyuhyun membuat rasa rindunya kembali menjadi.

‘Kyu.. Tunggulah.. Aku akan menemukanmu…’

“Bagaimana dengan nama baik keluarga kita Siwon-ah.. pikirkan itu juga.. bagaimana dengan kehormatan Appa!!”

Appa.. Mencintai seseorang tak akan membuat martabat keluarga kita jatuh Appa. Aku yakin, aku melakukan hal yang benar. Aku tak pernah menyakiti hati siapapun, dan itu tak akan membuat kehormatan Appa tercoreng..”

“Aku percaya pada cintaku Appa… Aku hanya ingin bersama Kyuhyun. Hanya itu…”

Appa Choi sedikit terkesiap melihat raut wajah Siwon yang mengeras. Belum pernah dia melihat Siwon seyakin ini, setegas ini, ada kesungguhan dalam setiap kalimatnya. Dan di tambah lagi sorot penuh cinta di mata gelap Siwon ketika menyebut nama Kyuhyun. Appa Choi tak pernah tahu jika Kyuhyun memiliki pengaruh sebesar ini bagi putranya.

“Pergilah Siwon. Biarkan aku memikirkan ini sekali lagi…”

Yeobo…Tak bisakah kau…” isyarat tangan Appa Choi memutuskan kalimat Umma Choi. Perempuan cantik itu hanya menatap Siwon dengan ucapan penuh maaf, maaf karena tak bisa membantu Siwon.

Siwon mengangguk, berbalik, dan melangkah pergi. Pemuda tampan itu menghentikan langkahnya di tengah pintu beranda.

Berkata tanpa membalikkan tubuh. “Apapun keputusan Appa.. Aku harap Appa akan ingat.. jika aku tak akan pernah meninggalkan Kyuhyun. Tak peduli Appa suka.. atau tidak..”

***

Appa Choi masih terdiam di tempatnya, Umma Choi kembali menghampiri suaminya. Sebelum menyentuh bahunya..

“Biarkan aku sendiri.. jangan mengusikku untuk saat ini”

Appa Choi pun berlalu menuju ruang kerjanya, menutup pintu perlahan. Umma Choi hanya bisa mendesah, tak tau ia harus berdiri dimana? Siwon adalah anaknya, tapi di sisi lainnya, ada suami yang harus di hormatinya.

“Aku harap, kau bisa merubah keputusanmu.. yeobo..”

Sayup-sayup masih bisa Appa Choi dengar gumaman pelan istrinya itu. Entah, dia sendiri pun tak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. Siwon putranya, dia sangat menyayanginya, tapi disatu sisi, dia harus menjalankan tugas sebagai kepala keluarga Choi, harus mengesampingkan semua hal yang tak sama dengan prinsip-prinsip yang dia yakini.

Pria paruh baya itu menggeser kursi kerjanya, menghempaskan tubuhnya dan menangkupkan tangan di depan wajah. Pandangannya terlihat berpikir. Baru pertama kali ini dalam hidupnya dia melihat Siwon begitu penuh cinta, sorot mata putranya itu begitu hidup ketika menyebut nama Kyuhyun.

Ah.. Kyuhyun, bagaimanakah keadaan pemuda manis itu saat ini, apakah kata-katanya tempo hari masih menyisakan luka untuk Kyuhyun?

Appa Choi sedikit terkesiap ketika tahu apa yang dia pikirkan? Kenapa dia jadi memikirkan Kyuhyun. Sebenarnya jika boleh sedikit jujur, Appa Choi juga bisa merasakan jika pemuda manis itu adalah pribadi yang baik. Sikapnya santun, hanya nasib kurang baik yang di alaminya ketika dia menjadi korban penjualan manusia,  Tak ada yang salah dalam diri Kyuhyun kecuali pilihannya yang sedikit bertentangan dengan Appa Choi.

Hela nafas panjang terdengar dari bibir Appa Choi, dia harus melakukan sesuatu. Appa Choi berharap jika tindakannya kali ini mampu membantunya meyakinkan hatinya. Pria tua itu menekan beberapa sambungan telepon, menunggu sejenak dan mulai bicara.

“Ya…  Ada sesuatu yang perlu kalian ketahui…”

.

.

.

Siwon sedang sibuk memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi pusing yang dia rasa. Akhir-akhir ini tubuhnya tidak begitu sehat, dan kali ini sungguhan, bukan hanya bualannya semata agar dia bisa bebas kemanapun.

Salahkan dirinya yang tak bisa menjaga pola makan dan pola tidurnya dengan baik. Oh.. Masih bisakah Siwon tidur nyenyak dan makan enak jika pikirannya masih saja di penuhi oleh Kyuhyun, Kyuhyun, dan Kyuhyun.

Sampai saat ini, kekasihnya itu tak Siwon tahu ada dimana. Khawatir tentu saja dia khawatir, jika tidak Siwon tak akan menggunakan waktu luangnya setelah selesai bertugas untuk berkeliling Seoul mencari Kyuhyun yang berakibat waktu tidurnya semakin berkurang. Atau dia akan mencuri waktu istirahat, untuk kembali bertanya kesana kemari tentang Kyuhyun, yah..tak perlu dijelaskan bukan apa yang menyebabkan pola makannya menjadi tak teratur.

Siwon masih memijit kepalanya, sesekali akan mengernyit ketika pening yang terasa semakin menusuk.

“Kau tak apa-apa Siwon-ah?” sebuah tepukan di bahunya membuatnya menoleh. Jiyoung terlihat tengah menatapnya dengan pandangan heran, sambil membawa setumpuk dokumen di tangannya.

Siwon hanya menghela nafas lelah, kenapa Jiyoung yang selalu menyapanya ketika dia sedang kurang enak badan? Semoga saja kali ini Siwon tak akan menemukan dirinya tengah memukuli Jiyoung atau apa..

“Tidak Sunbaenim.. Aku hanya kurang enak badan.. dan kali ini sungguhan..”

Jiyoung tertawa.”Tentu saja kali ini sungguhan Siwon-ah. Wajahmu pucat seperti itu..”

Siwon hanya memutar bola matanya malas. “Yang dulu juga sungguhan Sunbaenim..”

“Oh.. yang dulu aku tak percaya…”

Siwon mengeluh pelan ketika mekihat seringai Jiyoung. Oh.. Bagus.. sekarang rahasia percintaannya pun sudah menyebar ke seantero kantor.

“Apa yang kau bawa Sunbaenim, sepertinya kasus baru..”

Jiyoung mengerling file di tangannya.

“Ya.. Kasus baru Siwon-ah.. baru hari ini mulai pengusutan, aku pikir ini akan ada hubungannya dengan kasus yang kau tangani waktu itu Siwon.. coba kau…” Mereka sedikit tersentak ketika alih-alih ingin menunjukkan file itu pada Siwon, tangan Jiyoung justru menjatuhkan semuanya.

“Oh maaf…” Siwon ikut menunduk, membantu merapikan beberapa file yang berserakan, hingga matanya terpaku ketika melihat potret tersangka yang ada disalah satu lembar. Tunggu, orang ini, bagaimana bisa…

Sunbaenim orang ini, tersangkanya?” Siwon bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari potret Kijoon.

“Ya.. kau kenal dia..”

“Bagaimana bisa?” Siwon mengabaikan pertanyaan Jiyoung, justru sibuk memenuhi semua pertanyaan dalam kepalanya. Kijoon, tersangka.. Siapa yang melaporkannya?

“Bukan kau yang melakukannya Siwon-ah?”

Jiyoung dan Siwon menoleh ketika suara Hankyung menyapa mereka. Jiyoung memberi salam sejenak, sebelum kembali membereskan berkasnya dan segera berlalu.

Hyung.. bagaimana bisa dia?”

“Aku juga baru mendapatkan laporan dari bagian penyidik, aku pikir kau yang melaporkan dia?”

“Bukan.. bukan aku…” Siwon menggeleng dengan cepat, pikiran ala detective nya segera mencari jawaban, jika bukan dia, bukan Hankyung, pasti. “Kyuhyun..” desis Siwon pelan.

“Kyuhyun? Kenapa dia?”

“Apa bukan Kyuhyun yang melaporkan ini semua Hyung?”

“Kyuhyun… Aku pikir bukan Siwon-ah, bukan Kyuhyun…” Hankyung tak sadar berucap.

“Darimana kau tahu jika itu bukan Kyuhyun?”

Hankyung tergagap, merutuki dirinya sendiri yang hampir saja terlalu banyak bicara.

“Oh.. itu.. Eum.. yah.. jika melihat tingkah Kyuhyun ketika dia pertama kali kau bawa kemari, dia bukan type orang yang bisa dekat-dekat dengan kata kepolisian, pengecualian untukmu tentu saja..”

Siwon memutar bola matanya, sebelum beranjak dan bergegas pergi.

“Ya.. yaa… Siwon-ah… mau kemana kau? Siwon!!”

“Aku harus bertemu Kijoon, Hyung.. dan terimakasih ijinnya..”

Hankyung hanya menghela nafas pasrah. Ya Tuhan… Kyuhyun dan Siwon itu sungguh merepotkan sekali, semoga saja dia ingat untuk meminta imbalan ketika mereka telah kembali bersama..

.

.

Hankyung menyimpan sepatunya di rak, ia melihat ke dalam rumah yang nampak sepi.

“Mereka dimana?”

Hankyung bisa mendengar tawa ceria setelah kakinya semakin melangkah mendekat kamar Haera, dibukanya pintu kamar. Memberikan sedikit celah untuk melihat baginya. Hankyung dapat melihat bagaimana Kyuhyun yang sangat akrab dengan Haera dan juga Bing Yu yang tertawa melihat interaksi Kyuhyun dan Haera.

Bing Yu yang melihat siluet Hankyung berdiri di pintu, segera mendekatinya.

“Kau sudah pulang sayang? Maaf aku kembali tak menyambutmu..”

“Tak apa.. sudah sangat larut kalian belum tidur?”

“Haera masih menunggumu pulang, tapi Kyuhyun berusaha untuk membujuknya bermain bersama dan ya.. kau bisa lihat”

Hankyung mencium kening istrinya, lalu membawa menuju kamar.

“Ada apa sayang, apa ada kasus baru??” Tebak Bing Yu yang menyiapkan baju tidur Hankyung.

“Tebakanmu selalu tepat sasaran”

“Bukankah aku istri kepala SPMA. Sudah seharusnya aku mempunyai insting yang kuat?”

Hankyung berjalan mendekat lalu mencium bibir istrinya mesra, Bing Yu meletakkan kedua tangannya di leher Hankyung memperdalam ciuman itu. Mereka larut dalam romansa indah. Hankyung memindahkan ciumannya di leher Bing Yu, memberikan tanda yang selalu menjadi miliknya.

Bing Yu melepaskan ciuman Hankyung di lehernya, “Mandilah dulu..”

“Lalu setelahnya memakanmu??” Godanya sembari masih mengecup bahu Bing Yu.

I’m yours…”

Hankyung segera menuju kamar mandi, ketukan di pintu membuat Bing Yu segera membukanya.

“Kyu.. ada apa??”

“Haera sudah tidur, aku pun sudah memanaskan makanan”

“Ah.. terima kasih..”

Kyuhyun mengangguk, lalu pergi menjauhi kamar utama.

***

Kyuhyun terduduk di teras dengan selimut yang sengaja ia bawa untuk dililitkan di tubuhnya, menahan hawa dingin yang menusuk hingga tulang. Tapi baginya itu sensasi yang menyegarkan pikiran. Ia merindukan Siwon, ingin sekali pulang. Tapi.. ucapan Siwon, ucapan Appa Choi membuatnya mengurungkan niat.

“Ntah mengapa aku selalu bertemu denganmu, disini”

Hyung.. kau belum tidur?”

Hankyung tersenyum dan mengambil duduk di hadapannya, ia menggeleng dan memberikan teh panas pada Kyuhyun.

“Minumlah.. bisa menghangatkan badanmu..”

Gomawo Hyung, aku selalu merepotkanmu”

“Jika kau merepotkanku.. mengapa kau tak pulang??”

Ne??” Kyuhyun yang hendak meminum akhirnya meletakkan kembali gelasnya.

Hankyung tertawa dan mengusak rambutnya, “Aku hanya bercanda, minumlah..”

Kyuhyun menatap Hankyung dan kembali mengambil gelasnya. Meminumnya sedikit demi sedikit setelahnya menyimpan kembali ke atas meja.

“Kijoon tertangkap”

Ne??”

“Heum.. aku tak tau siapa yang melaporkannya, tapi ini mengenai kasusmu”

“Kasusku??”

“Ya..”

Kyuhyun menerawang, apakah Siwon yang melakukannya??

“Bukan Siwon.. dia tak tau soal itu..”

“Lalu??”

“Kau akan tau, jika saatnya kau dipanggil untuk pengambilan laporan”

“Aku akan kesana kembali??”

“Kau tak ingin bertemu Siwon kembali??”

“Bukan.. bukan itu, maksudku.. eum..”

“Siwon sepertinya sedang sakit, apa kau tak ingin bertemu dengannya?”

“Sakit??” Lirih Kyuhyun.

“Heum.. buanglah ego kalian, bertemulah dan selesaikan masalah..”

Hankyung menepuk pundak Kyuhyun, meninggalkannya sendiri dalam pikiran-pikiran mengenai Siwon dan juga hubungannya

.

.

.

Kyuhyun menatap air hujan yang menetes dari selusur atap halte tempatnya berteduh. Hah.. Ada dua hal yang patut disalahkan dalam kesialannya hari ini, yang pertama, salahkan dirinya yang tak memperhatikan ramalan cuaca tadi malam, dan yang kedua salahkan Hankyung yang seenaknya saja menyuruhnya pergi belanja dengan alasan bla..bla..bla.. Yang tak perlu Kyuhyun sebutkan karena alasan itu hanya akan semakin membuat kepala Kyuhyun mengepulkan asap tebal.

Sepertinya Kyuhyun memang tak bisa disandingkan dengan kata belanja. Lihat saja semua kesialan yang dia dapat ketika pergi berbelanja seorang diri. Kehujanan dan bertemu Kijoon beberapa waktu yang lalu dan berujung pada kandasnya hubungannya dengan Siwon. Benarkah jika hubungan mereka telah kandas, ataukah Kyuhyun masih bisa berharap jika dirinya akan kembali dalam pelukan Siwon.

Tapi kapan? Kapan mereka akan kembali bersama, sedangkan untuk bertemu Siwon saja Kyuhyun masih enggan. Alasan klasik takut menyakiti Siwon yang selalu dia gunakan, padahal jika boleh jujur, sebenarnya Kyuhyun yang terlalu takut akan terluka lagi. Egois memang, tapi Kyuhyun luka hatinya belum sepenuhnya kering.

Pemuda manis itu merapatkan jaketnya, memeluk tubuhnya sendiri untuk mengurangi dingin yang mulai membuatnya menggigil.

Seandainya dia masih bersama Siwon, apa yang akan mereka lakukan di pagi seperti ini? Mungkin Siwon akan memeluknya, merengkuh tubuhnya hingga dingin ini tak akan menyentuhnya. Mungkin juga mereka akan menikmati pagi ini, dengan secangkir coklat panas di tangan, memandang tetesan air melalui jendela apartemen sambil membicarakan tentang masa depan mereka. Ah.. membayangkannya saja membuat tubuh Kyuhyun menghangat.

Pemuda manis itu heran, dirinya mampu berpisah dari Siwon selama ini, okay, memang hanya beberapa hari, tapi tetap saja Kyuhyun merasa heran dirinya tak meledak karena rindu.

‘Hyung.. Kau melihat hujan ini kah? Atau kau tengah bersama perempuan itu?‘ Kyuhyun menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak.. tidak. Kata Hankyung, Siwon masih mencintainya.. Siwon masih mengharapkannya.

Sial.. kenapa di saat dirinya menikmati bayangan indahnya tentang Siwon justru rusak oleh kenangan akan hari itu. Kyuhyun menundukkan kepalanya, memainkan tumpukan pasir basah di halte kosong itu dengan ujung sepatunya.

‘Siwon Hyung… Temukan aku…’

.

.

Kembali Siwon hanya bisa mendesah, sudah hari ketiga tapi tak ada kejelasan dimana Kyuhyun berada. Apa dia harus ke Nowon? Tempat dimana Kyuhyun di besarkan?

“Ah tapi jika aku pergi.. bagaimana dengan kerjaanku??” Siwon mengacak surainya.

Terpikir dengan menemui Hankyung di rumahnya adalah jawaban akhirnya, ya.. Siwon harus menemui Hankyung, untuk memintanya meliburkan diri selama beberapa hari untuk mencari keberadaan Kyuhyun di Nowon.

Siwon bergegas menuju kamar mandi, tanpa perlu berendam. Dengan waktu kurang dari 15 menit Siwon sudah selesai membersihkan diri dan segera berpakaian. Melupakan sarapan paginya kembali karena tergesa mengejar Hankyung yang ia pikir pasti belum berangkat ke kantor. Kemarin Hankyung ada lembur, pasti pagi ini Hankyung datang sedikit terlambat dan ia pasti bisa menemuinya sebelum pergi.

Siwon mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, jarak rumah Hankyung dan apartemennya cukup jauh. Hankyung setelah menikah memang lebih memilih mengambil rumah di pinggiran Seoul. Jauh dari polusi maupun kebisingan itulah katanya.

Di tengah jalan hujan menjumpai dirinya, Siwon tak lengah untuk menurunkan kecepatan mobilnya. Tak biasa, pagi ini Seoul dilanda hujan. Tapi hujan semakin deras dan Siwon mau tak mau harus menurunkan kecepatannya jika ia tak mau hanya tinggal nama jika masih mempertahankan egonya.

“Semoga Hyung belum pergi” Siwon berdoa. Tapi bukankah dia sudah mengirimkan pesan, agar Hankyung tak pergi dulu?

Tiba-tiba wajahnya melirik ke sebuah halte, terdapat seorang namja yang sedang berdiri berteduh.

“Pasti dia tak membawa payung” ujar Siwon.

Mobil melaju melewati halte, tetapi mata Siwon masih terfokus pada namja yang asik melihat kaki-kakinya. Mata Siwon masih terpaku pada kaca spion melihat namja itu, perawakannya mengingatkan pada seseorang, hingga namja itu mendongakkan kepalanya menatap lurus jalanan dan tersenyum indah, menjulurkan tangannya agar bisa mendapatkan gemiricik hujan.

Siwon segera menepikan mobilnya.

“Tidak.. ia tidak salah lihat, itu…”

Siwon bergegas keluar mobil, memakai jaketnya untuk menutupi kepalanya. Berlari cepat menuju halte, hingga dia sampai di hadapan namja tersebut.

Baby..”

Kyuhyun yang awalnya sedang menunggu hujan reda di halte, di kejutkan dengan sepasang sepatu yang berdiri di depannya. Kepalanya menengadah untuk melihat siapa yang ada di hadapannya kini, terkejutnya ia saat tau jika..

Hyung…”

***tbc***

note :

Tak menyangka kalian sangat luar biasa… terima kasih karena sudah selalu bersama kami dalam ff ini.. atas supportnya selalu pula..

Kalian luar byaaasssaaahhh sekali… terima kasih..

Sampai jumpa di chap ending kami… dan bocoran lagi, itu akan di pw..

Bye.. bye…

-Miss Lee-

Ni hao.. ni hao…

We are here… 😀

Tinggal satu chap lagi menuju end… karena chap depan akan mengandung adegan dewasa… bagi yang meminta pw.. seperti biasanya ya…:)

TERIMAKASIH BANYAK UNTUK SELALU BERSAMA KAMI….

-Miss Han-

Advertisements

118 thoughts on “Schiksal part. 5

  1. semoga appa choi cepet ngerestuin hubungan wonkyu
    yg ngelaporin kijoon itu appa choi ya??
    yeaayy wonkyu ketemu lagi…sweet banget pertemuan’a di halte pas hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s