Posted in BL, Drama, Romance, Series

Schicksal part.2

project kedua Miss Lee & Ellena Han

By. Ellena Han & Miss Lee

Cast : Siwon x Kyuhyun

Genre : Romance, angst

Rate : T (17)

Schicksal

Umma..”

“Kenapa kau terkejut, Siwon?”

“Ah.. haha aniyo..”

Umma Choi segera masuk, tanpa permisi terlebih dahulu kepada Siwon. Sedangkan Siwon masih sibuk dengan segala pemikirannya, menjadi patung didepan pintu.

“Bagaimana dengan Kyu??” mengingatnya membuat Siwon bergegas menyusul sang Umma.

Dilihatnya kini Umma Choi tengah sibuk menata keperluan selama sebulan di kulkas dan juga lemari dapur. Lalu dimana Kyuhyun? Saat Siwon dalam pikirannya.

Pintu kamar terbuka, menampakkan Kyuhyun yang memakai bajunya sendiri, Siwon bisa melihat baju itu terlihat sudah sedikit mengering.

“Siwon..”

Siwon mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun dan melihat Umma nya masih terlihat sibuk membereskan sayuran dan persediaan makanan lainnya.

Ne Umma..” jawab Siwon yang masih setia berdiri di tempatnya.

“Kau libur? Karena tidak biasanya saat Umma datang, kau ada di apartemen” Umma Choi masih sibuk dengan barang bawaannya.

“Eum.. ya.. aku, eum.. libur” Siwon sesekali melihat ke arah Kyuhyun yang nampaknya cukup terkejut saat mendengar suara Umma Choi disana.

Hyung..” cicit Kyuhyun yang hanya bisa di dengar oleh Siwon.

“Tak apa, tenanglah..”

Siwon mendekati Kyuhyun, ia menghembuskan nafasnya dan menarik lengan Kyuhyun agar bisa ikut bersamanya.

Umma..”

Umma Choi telah selesai merapihkan semuanya, kini membalikkan badannya. Ia bisa melihat Siwon yang sedang tersenyum dan juga seorang namja yang begitu manis, berdiri di samping Siwon. Terlihat jika namja itu, gugup.

“Dia siapa, Siwon?”

Siwon melirik Kyuhyun, “Dia temanku, Umma..” jawab Siwon mantap.

“Ah.. kau ada tamu, tapi tadi Umma tak melihatnya…”

Umma Choi mendekati keduanya, semakin mendekat ke arah Kyuhyun. Tersenyum lembut dan membuat Kyuhyun merasa tenang.

“Cho Kyuhyun imnida..” Kyuhyun menunduk, sikap hormat yang biasa selalu dilakukan orang Korea pada umumnya.

“Kau namja yang sangat manis”

Umma Choi menarik tangan Kyuhyun untuk duduk bersamanya.

“Selama hidupku, baru kali ini Siwon membawa temannya ke apartemen, bahkan sepupunya sendiri, Hankyung, jarang dibawanya kemari”

Umma..” rajuk Siwon.

Kyuhyun tersenyum malu, ada rasa bahagia yang membuncah saat mendengar bahwa Siwon bukanlah type orang yang suka membawa siapapun ke apartemennya. Patutlah dia berbangga hati karena, Kyuhyun adalah orang pertama itu.

“Apakah kau teman Siwon dikantor?” tanya Umma Choi yang membuat Kyuhyun terkejut.

“Bukan Umma… dia teman..” Siwon sedang berpikir jawaban apa yang tidak membuat Umma nya curiga.

“Siwon Hyung menolongku” sela Kyuhyun.

“Menolong??” Umma Choi menatap tak mengerti, sedangkan Siwon sudah meminta Kyuhyun tak melanjutkan ucapannya dengan terus menatap wajahnya.

Ne..”

“Maksudku Siwon menolongmu tentang apa?”

“Itu Umma.. aku menolong..”

“Menolongku dalam suatu kesulitan, Bibi.. dia adalah orang yang baik, sangat baik.. aku sendiri tak tau harus berbuat apa untuk membalasnya”

Umma Choi walau tak begitu mengerti, tapi ia bisa merasakan kesedihan di raut wajah Kyuhyun.

“Aku yang sudah tak mempunyai orang tua, bekerja keras seorang diri. Tentu beruntung saat Siwon Hyung menolongku, bahkan menampungku sementara waktu disini” lanjut Kyuhyun.

Umma Choi dengan refleks memeluk Kyuhyun, menghantarkan rasa kepedulian atas apa yang di derita Kyuhyun.

“Tinggalah sesukamu disini, Bibi mengijinkannya. Bibi memang tak tau apa yang terjadi sebelumnya, tapi Bibi adalah seorang Ibu. Bibi merasakannya, kau adalah anak yang baik”

Umma Choi melepaskan pelukannya, kini kedua tangan Umma Choi bertengger manis di kedua lengan Kyuhyun mengusapnya lembut.

“Bibi percaya padamu..” ucapnya dengan memberikan senyuman, menambah kesan cantik walau kini usianya sudah tak lagi muda.

“Terima kasih Bibi.. terima kasih…”

Siwon hanya mampu tersenyum tenang, ia memang sangat mengetahui perangai ibu nya. Umma Choi bukanlah seorang ibu yang diktaktor, bukan juga seorang ibu yang sombong.

Lama mereka bertiga berbincang, Umma Choi melirik jam yang menunjukkan pukul 4 sore.

Umma harus segera pulang, Appa pasti sebentar lagi akan pulang”

Ne Umma.. hati-hati dijalan, titipkan salamku untuk Appa

Siwon dan Kyuhyun ikut berdiri saat Umma Choi mulai berjalan meninggalkan ruang tamu.

“Kyuhyun.. tinggalah sesukamu disini, Bibi sangat bahagia jika Siwon mempunyai teman di apartemennya, setidaknya ada yang bisa mengurus dan mengawasinya”

Umma… aku bukan anak kecil” protes Siwon yang hanya ditanggapi tawa dari Umma Choi dan Kyuhyun.

“Baik Bibi, saya akan membantu Bibi mengurus dan mengawasi Siwon Hyung” goda Kyuhyun.

“Yak!! Kalian…”

“Sudahlah.. Umma pamit jika begitu”

“Aku antar Umma, Kyu kau disni saja ne

“Baik Hyung

Siwon berjalan beriringan dengan Umma Choi, sebelum sampai depan lift..

Umma.. tentang Kyuhyun..”

Umma tak akan bilang pada Appa mu”

Siwon memeluk Umma Choi dan tak lupa mencium keningnya.

Gomawo Umma..”

“Ya.. Umma terlalu tahu perangai Appa mu dan kau Siwon, jadi tenanglah Umma akan menjaga rahasia ini”

“Heum.. sekali lagi terimakasih.. dan hati-hati dijalan Umma

Pintu lift terbuka, Umma Choi masuk ke dalamnya, sebelum pintu lift tertutup sempurna. Umma Choi hanya melambaikan tangannya dan tersenyum cantik.

.

.

.

Keesokan harinya. Siwon maupun Kyuhyun tak pernah mau membahas mengenai ciuman yang terjadi kemarin. Mereka berusaha bersikap biasa saja, seolah tak pernah terjadi apapun yang spesial di antara mereka.

Hyung..”

“Ya..”

“Mengenai Ibu mu..”

“Tak perlu dipikirkan, Umma mengerti, terlebih beliau sudah menitipkanku padamu, bukan?”

Kyuhyun menunduk menutupi rona merah pipinya, membuat Siwon gemas dan mengusak rambutnya.

“Kita sarapan..”

Siwon dan Kyuhyun memakan sarapan dengan tenang, sesekali Siwon akan bertanya pada Kyuhyun dan Kyuhyun yang akan menjawab singkat. Selesai dengan sarapan, Kyuhyun membersihkan meja makan, tak lupa juga mencuci bekas piring dan gelas kotor.

“Aku harus kembali bekerja, maaf tak bisa lama mengambil cuti”

“Tak apa Hyung..”

“Jika begitu aku pamit, ah dan jangan sembarangan membuka pintu pada orang asing, mengerti”

“Ya.. ya.. Hyung aku sangat mengerti karena hal itu, sudah kesekian kalinya aku mendengar dari bibirmu”

“Baiklah aku pergi”

Siwon pun menutup pintu apartemen, melihat sosok Siwon hilang dibalik pintu. Kyuhyun memilih untuk membersihkan apartemen dan mungkin selanjutnya adalah mengambil cucian di laundry dan melanjutkan hal menyenangkan di apartemen sembari menunggu waktu malam.

***

Hyung.. tak bisakah kau duduk di tempat semestinya?”

Siwon menatap malas dimana kini Hankyung sudah duduk di atas meja kerjanya, seakan menagih janji Siwon untuk menceritakan semuanya.

“Aku hanya menagih janji”

“Ya Tuhan… tapi tidak saat ini Hyung.. ini masih jam kerja”

Hankyung berdiri dari duduknya, ia pun memegang bahu Siwon.

“Aku akan tagih pada makan siang”

“Ck.. Arraseyo..”

“Jangan lupa..” Hankyung melenggang pergi meninggalkan Siwon yang hanya memutar bola matanya, kesal karena sepupunya itu menagih janji di saat tak tepat.

Tak tepat??

Ya.. karena Siwon sendiri tak tau harus bercerita bagaimana? Terkadang sekelebat bayangan dirinya dan Kyuhyun berciuman panas, menjadi beban pikirannya.

“Oh.. aku normal, ya.. aku normal.. tapi..” Siwon mengusap wajahnya dan memilih mencuci mukanya agar bisa kembali kerja dengan tenang.

***

“Mungkin akan lebih baik jika aku kabur saja, atau pura-pura ikut patroli, atau sedang tidak enak badan, atau…aarrgghh…”, Choi Siwon mengacak surai hitamnya frustasi, memandangi ponselnya yang terus saja bergetar, menampilkan nama dari orang yang sama.

Memang benar jika dia telah berjanji dengan orang itu untuk menjelaskan semuanya, dan ini memang sudah waktunya, tapi sial tak dapat di tolak oleh Siwon, karena sedari tadi tak ada satupun ide tentang apa yang harus dia utarakan pada kakak nya itu.

“Uurrghh.. bagaimana?? Bagaimana…” Siwon masih menatap nanar benda kotak di tangannya itu. Berusaha menahan dirinya untuk tidak melemparkan ponselnya itu ke lantai ataupun memukul dirinya sendiri karena bisa-bisanya dia kebingungan dan takut menghadapi ini semua.

Apa alasan untuk takut? Bukankah dia yakin jika dirinya normal? Lalu apa lagi?

Yeobseoyo..”

“Siwon.. Sekarang!!!” teriak suara di seberang, sebelum sambungan kembali terputus.

Siwon melotot kesal pada ponselnya, seolah salahnya ketika hanya dua kata yang berhasil di keluarkan oleh benda persegi itu. Pemuda itu beranjak dari duduknya, meninggalkan ruangannya sambil masih saja sibuk berfikir dan mencari ide lain untuk menyelamatkan diri.

Ya ampunIni bukan hal mudah…’

***

Hanya perlu beberapa puluh menit untuk Siwon sampai pada tempat yang di maksud Hankyung. Pemuda tampan itu menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu kaca cafe di hadapannya dan mencari dimana saudara sialannya itu berada. Oh.. Siwon berharap Hankyung tak tahu jika Siwon baru saja mengatai dirinya sialan.

AstaaggaaAyolah Siwon.. Dia hanya saudaramu..jangan bertingkah berlebihan, kau akan tampak semakin konyol..’ Siwon bergumam sendiri.

Sebenarnya bukan Siwon tak tahu harus berkata apa, dia hanya belum siap. Belum siap kenapa? Entahlah, mungkin belum siap membagi cerita tentang Kyuhyun. Tentang senyum manis pemuda itu, tentang mata bulatnya yang indah, tentang tubuh rampingnya yang mulus, tentang bibir merahnya yang lembut dan manis.

God dammit!

Cukup Siwon..! Berhenti berimajinasi tentang Kyuhyun, dia bukan siapasiapa untukmu, kau normal.. Okay..!!’

Siwon menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengenyahkan visual Kyuhyun yang kini tergambar di otaknya.

“Kau tak apa-apa Siwon-ah..?”

Suara Hankyung yang entah sejak kapan sudah berada di hadapannya, atau memang Siwon yang tak sadar jika dia sudah duduk di hadapan Hankyung, membuat nya tergagap.

“Ah..ya…ya Hyung..apa kabarmu Hyung..?”

“Apa maksudmu , kita baru tak bertemu 4jam yang lalu Siwon-ah dan kau bertanya kabarku? Aku tak tahu jika kita seintim itu?” dahi Hankyung berkerut dengan ekspresi penuh tawa geli, tampak sangat menikmati kegugupan bodoh yang dibuat Siwon.

“Tsk… Hyung, maksudku kabar Haera, bagaimana dia, kau lama tak mengajaknya ke apartemenku dan…”

“Ini bukan saat nya menanyakan kabar putriku Siwon-ah.. segera jelaskan aku tak punya banyak waktu..”

“Oh baguslah Hyung.. Ak-aku.. Akan aku jelaskan lain kali jika kau tak sibuk..”

Lagi-lagi kalimat Siwon terputus ketika menerima tatapan membunuh yang di layangkan Hankyung untuknya. Siwon mengusap wajahnya kasar. Menyerah pada nasibnya.

“Baik..baik.. Apa yang ingin kau tahu Hyung..?”

“Siapa dia..?”

“Cho Kyuhyun, bukankah kau tahu siapa dia Hyung…” jawab Siwon.

“Kau mengenalnya sebelum ini..?”

Siwon mengeluh tertahan, dia merasa seperti kriminal yang sedang di interogasi.

“Tidak…” jawabnya singkat.

“Lalu, bagaimana bisa dia tinggal bersamamu selama ini..?”

Mata Siwon membola, melemparkan tatapan ‘bagaimana kau tahu‘ untuk Hankyung yang masih bersandar santai sambil menggigit sedotan minumannya. Setahunya terakhir kali Hankyung bertemu Kyuhyun dan dirinya adalah ketika pemeriksaan Kyuhyun waktu itu. Dan Siwon berani bersumpah, jika dia tak memberi tahu sepupunya itu tentang fakta jika dia dan Kyuhyun masih tinggal bersama. Lalu, darimana Hankyung tahu?

Umma mu…” Kata Hankyung, menjawab kebingungan Siwon.

Siwon menghela nafas, sudah menduga jika Ummanya tak akan menyembunyikan apapun dari Hankyung, keponakan favoritnya dan sekutu yang tepat untuk memata-matai Siwon.

“Sudah kuduga.. tapi jika Umma memberitahumu…” satu kekhawatiran tiba-tiba menghantam Siwon. Bagaimana jika ibunya memberi tahu Ayahnya..? Memang dia sudah meminta ibunya berjanji tapi siapa tahu apa yang terjadi.

“Tak perlu khawatir, Ayahmu tak tahu apapun…”

Siwon kembali menghela nafas, kali ini adalah hela nafas lega. Lega? Kenapa dia harus lega..?

“Jadi Siwon.. Kau belum menjawab pertanyaanku..”

Hyung..aku menerimanya tinggal dirumahku hanya karena aku kasihan padanya, tak lebih..”

Hankyung mengangkat sebelah alisnya, membuat pandangan tak percaya.

“Aku serius Hyung..aku..”

Entah kenapa Siwon kehabisan kata-katanya. Ada sesuatau yang menggores hatinya ketika dia selesai mengucapkan kalimatnya. Hanya kasihan? Benarkah seperti itu? Tapi, rasa kasihan seperti apa yang bisa membuatnya mencium seorang pemuda lain dengan begitu panas.

Choi Siwon menangkup wajahnya dengan dua tangannya, kembali menghela nafas panjang berulang kali. Seolah mengurangi sesak yang tiba-tiba melanda dadanya.

“Oh..jadi aku benar Siwon-ah.. Kau menyukainya…” Kata Hankyung ringan diiringi kekeh pelan. Wajar, karena tingkah Siwon sungguh membuatnya terhibur.

Siwon mendelik kesal.

“Jangan sembarangan Hyung.. Aku normal…”

“Aku tak bilang kau tak normal Siwon-ah.. Aku hanya berkata jika kau menyukainya…”

Siwon menggaruk belakang kepalanya penuh frustasi, ketika lagi-lagi torehan panjang itu melukai hatinya, saat dia menyangkal jika dia tertarik pada Kyuhyun, tertarik pada senyum Kyuhyun, pada mata Kyuhyun, pada bibir Kyuhyun.

Sial..sial..sial..

Pemuda tampan itu tak tahu lagi harus berkata apa, menatap merana sepupunya itu yang justru tertawa terhibur menyaksikan betapa frustasinya Siwon.

“Apa yang harus aku lakukan Hyung..?” bisik Siwon lirih pada akhirnya.

Sungguh dia sendiri pun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya, pada dirinya.

“Jadi benar kau menyukainya..?”

Hyung,  please… Aku tak tahu..” Siwon hampir memekik sebal.

“Kenapa tak kau coba cari tahu Siwon-ah..”

“Ini tak benar Hyung…”

“Tak ada yang tak benar, jika itu bisa membuatmu bahagia Siwon-ah..”

“Baiklah… Mencari tahu bagaimana Hyung…?”

Siwon meraih gelas minuman Hankyung, dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga lupa belum memesan apapun.

“Mencoba tidur bersamanya mungkin..”

Bbyyuurrrr…..

Siwon menyemburkan minuman di mulutnya ke taplak linen putih di hadapannya, terbatuk-batuk keras, sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Mata hitamnya melotot ganas.

“Apa kau gila Hyung…!!”

“Aku masih waras Siwon-ah..”

“Lalu apa maksudmu..?” pemuda tampan itu masih bersungut-sungut.

“Bukankah kau ingin mencari tahu bagaimana orientasimu? Kenapa kau tak mencoba tidur bersamanya dalam satu ranjang untuk semalam, jika tak terjadi apapun.. Yah.. Kau tahu apa jawabnya…”

Siwon masih menatap horor pria di hadapannya itu, berulang kali melemparkan tatapan ‘kau benarbenar gila Hyung‘.

“Aku tak gila Siwon-ah, berhenti menatapku seperti itu…” kata Hankyung jengah.

Hyung.. ayolah, apa kau tak punya ide lain..? Aku ini 100 persen normal tahu…” Siwon kembali menghela nafas panjang. Dia sama sekali tak habis pikir bagaimana bisa saudara nya itu menyarankan hal seperti ini.

“Bukankah kau sudah melihat buktinya, aku mempunyai…”

“Kau takut Siwon..?” Hankyung menyela kalimat panjang Siwon.

Takut? Itukah yang Siwon rasa? Apa benar jika dirinya takut? Tapi takut pada apa? Takut jika dia memang berbeda?

“Aku tahu  kau punya bukti tentang kenormalanmu Siwon, tapi aku pikir tak ada salahnya kau mencoba ide tidur bersama itu…”

“Hanya tidur Siwon, bukankah kau dulu juga sering tidur bersamaku…” Hankyung buru-buru menambahkan ketika Siwon terlihat ingin menyela.

“Aku tak tahu Hyung…” pemuda tampan itu menghela nafas lelah.

“Jujurlah pada apa yang kau rasakan Siwon-ah.. Menyangkalnya hanya akan membuatmu semakin tersiksa…”

Hyung.. ini aneh kau tahu? Kita berbincang santai disini, membicarakan orientasiku…” Siwon berusaha tertawa.

“Tak ada yang aneh Siwon-ah…apa salahnya jika kau memang berbeda, itu tak akan mengubah fakta jika kau tetap manusia.. Jatuh cinta adalah hal yang paling manusiawi, tak peduli pada siapa itu terjadi…”

Siwon terdiam. Mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan Hankyung.

“Ap-apa.. apa ini tak salah Hyung…?” nada penuh harap Siwon sedikit banyak membuat Hankyung yakin jika adiknya ini memang tengah mencoba menyangkal perasaannya.

“Jika kau jujur… Walaupun ada yang memandang salah, setidaknya itu bukan diri dan hatimu Siwon-ah…”

Siwon menerawang jauh. Kali ini untuk 30 tahun hidupnya dia benar-benar tak tahu harus melakukan apa.

.

.

Teman sekantornya telah pamit pulang setengah jam yang lalu, tetapi Siwon masih betah duduk di kursinya tanpa enggan membereskan kerjaan maupun barang-barangnya. Ia masih betah duduk melamun, hanya satu pemikirannya.

“Apakah aku harus mengikuti saran Hankyung Hyung??”

Siwon menggigit bibir bawahnya, ia terus berpikir. Hingga suara seseorang mengejutkannya.

“Kau tak pulang Siwon??”

Siwon menolehkan wajahnya, dia bisa mendapati teman sekantornya yang memang mempunyai waktu lembur menatap heran kepadanya.

“Ah ya.. haha.. eum.. aku harus menyelesaikan sesuatu”

“Benarkah?? Kasus apa??”

“Eum??” Siwon berpikir, “Kasus traficking kemarin, masih ada yang harus aku lakukan”

“Perlu bantuan?” Tawarnya.

“Ah tidak,  filenya sebentar lagi akan aku selesaikan lalu diberikan ke kejaksaan”

“Oh baiklah..”

Soojung teman Siwon itu pun segera meninggalkan Siwon yang menghela nafas lega, dia harus segera pergi jika tidak Soojung pasti akan menanyai nya kembali.

“Apapun yang terjadi malam ini, aku pasti bisa menjalaninya.. pasti.. karena aku normal, ya.. normal”

Siwon pun bergegas mengambil kunci mobil dan coatnya, segera meninggalkan kantor.

***

Siwon berdiri diam di depan pintu apartemennya. Terlihat ragu hanya untuk sekedar mengetuk pintu. Hela nafas berat berulangkali terhembus dari hidung nya.

Ayolah Siwon.. Segera selesaikan.. Kau hanya perlu membuka pintu dan katakan padanya..’

Katakan apa, kau minta aku mengatakan, Kyu tidurlah bersamaku..? Heck..itu tidak mungkin..’

Siwon merutuki pikiran-pikirannya yang sibuk berperang sendiri.

“Tenang Siwon.. tenang…. hitung sampai 3 dan buka pintunya… 1..2..”

Belum genap hitungan Siwon, pintu di hadapannya terbuka, membuat baik Siwon ataupun orang yang membuka pintu terlonjak terkejut.

“Kyu, kau mengagetkanku..”

Mian Hyung, aku tak tahu jika kau di depan pintu….” Kyuhyun menunduk, dengan rona merah di pipi yang semakin membuat Siwon gelisah.

Ya Tuhan.. kenapa dia manis sekali…

Hyung… Kau tak apa-apa… Siwon HyungHyung…”

Siwon tergagap ketika tangan Kyuhyun mengguncang pelan lengannya. Sentuhan kulit mereka membuat Siwon seperti tersengat listrik statis. Pemuda tampan itu menepis pelan tangan Kyuhyun dan seketika menyesal karena telah kehilangan kehangatannya.

“Masuklah Hyung… Di luar dingin…”, lagi-lagi suara lirih Kyuhyun memicu detak dada Siwon menjadi diluar kendali.

Pria tampan itu mengikuti langkah Kyuhyun, memperhatikan pemuda manis itu melepaskan jaket yang dia pakai.

“Kau mau pergi kemana tadi, Kyu..”

“Aku menunggu Hyung pulang, karena khawatir aku berencana menjemput Hyung.. Tadi kau tak bilang akan pulang terlambat…”

Siwon membuka tutup mulutnya tanpa suara, bingung dengan kata-kata yang harus dia gunakan untuk menjawab Kyuhyun. Jadi, si manis ini mengkhawatirkannya? Ya ampun..kenapa dia begitu bahagia…?

Katakan sekarang Siwon, sekarang.. Katakan jika kau ingin tidur bersamanya…’

“Diam..cukup..!” desis Siwon menghentikan kegilaan otaknya sendiri.

Kyuhyun menatap penolongnya itu dengan dahi berkerut, sedikit takut jika Siwon mendesiskan kalimat marah tadi untuknya.

Hyung.. kau marah padaku..?”

“A-apa.. Apa… Tidak Kyu.. Tidak.. Aku hanya…emmm.. Aku hanya lelah..”

Pemuda manis itu mengangguk pelan, sebelum kembali melangkah mendekati Siwon. Meraih jaket yang ada di tangannya dan membimbing Siwon untuk duduk di sofa.

“Tunggulah sebentar, akan aku siapkan air mandi dan segelas teh panas untukmu…”

Belum genap dua langkah Kyuhyun bergerak, langkah kakinya terhenti karena Siwon menahan gerakannya.

Pemuda manis itu berbalik dengan pandangan penuh tanya, apalagi dengan fakta jika Siwon menatapnya salah tingkah, ini sungguh di luar kebiasaan.

“Ya Hyung..”

“Kyu.. Eum..bagaimana.. eum.. maksudku.. bisakah….” Kalimat Siwon yang terputus-putus menambah kerutan di kening Kyuhyun

bisakah aku tidur bersamamu malam ini..’ katakan itu Siwon.

“Bisakah.. Bisakah kau membuatkan aku makan malam juga…”

Senyum terkembang di bibir Kyuhyun, membuat kata manis kembali tercetak besar-besar di otak Siwon.

Lain dengan Kyuhyun yang melangkah riang dengan tersenyum, kini Siwon justru menutup mukanya dengan dua tangan besar nya, kembali merutuki kebodohannya yang bahkan tak mampu mengucapkan kalimat sederhana seperti itu.

Ralat, kalimat yang awalnya dia anggap sederhana yang ternyata tak sesederhana itu.

Apa yang sebenarnya terjadi..? Bukankah dulu dia sering kali mengucapkannya ketika meminta Hankyung menginap.. Dulu..dulu sekali..

Tapi, Hankyung dan Kyuhyun berbeda… Mereka… Arrgghh… Lagi-lagi surai hitamnya yang sudah berantakan kembali menjadi sasaran frustasinya, membuatnya semakin berantakan.

‘Astaggaa… seperti nya memang ada yang salah dengan dirinya..’

.

.

.

Seperti biasa Kyuhyun menjalani rutinitasnya dengan mengerjakan pekerjaan rumah, dari mulai menyapu, mengepel maupun membersihkan perabotan. Itu semua dilakukannya, hanya untuk membunuh waktu yang terasa lama baginya jika hanya diisi dengan menunggu kepulangan Siwon.

Setelah selesai membersihkan rumah, kini waktunya bagi Kyuhyun untuk berendam. Merilekskan tubuh baik bagi kesehatannya. Setelah semua selesai dilakukan, Kyuhyun hanya duduk santai di ruang TV. Baru saja dia akan merebahkan dirinya di sofa, suara bell terdengar nyaring di telinganya.

Takut. Itulah yang dirasakannya, karena ini kali pertama selama dia tinggal di apartemen Siwon, ada yang datang untuk menemui Siwon, mungkin… Kyuhyun ragu, tetapi tetap mendekati intercom. Dirinya bisa melihat dengan jelas saat ini Umma Choi sedang berdiri di depan pintu.

“Bibi?” desisnya.

Kyuhyun bergegas membuka pintu.

“Bibi..”

“Kyu..”

Sadar bahwa mereka masih di depan pintu, Kyuhyun segera mempersilahkan Umma Choi masuk.

“Siwon sudah pergi ke kantornya?” Umma Choi menyimpan sekantong belanjaa di atas meja dapur dan kembali duduk di sofa.

Kyuhyun yang tadi mengekori dengan ikut ke dapur tak lupa membawakan minuman untuk di sajikan kepada Umma Choi.

“Silahkan Bibi” menyimpan secangkir teh panas, “Siwon Hyung sudah berangkat pagi sekali, katanya ada urusan yang harus di kerjakannya”

“Anak itu… tetapi dia sudah sarapan?”

Kyuhyun ikut duduk di samping Umma Choi, “Ya.. sarapan sangat penting, terlebih Siwon Hyung yang mempunyai aktifitas sangat padat”

“Bibi memang tidak salah menerimamu”

Ne?”

“Ya.. dengan kehadiranmu, membuat Siwon bisa mengatur waktunya dengan baik. Bahkan menjaga kesehatannya”

“Aku hanya membalas budi”

“Benarkah?”

Ne?

Umma Choi hanya terkekeh, “Tak apa, bagaimana jika hari ini kita membuat cake kesukaan Siwon?”

Cake?”

“Belum pernah membuatnya?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, “Walau aku pernah bekerja di café, tapi untuk membuat kue. Aku belum pernah mencobanya”

“Ya sudah.. saat ini kau akan menjadi muridku, mari kita buat bersama”

Umma Choi tersenyum senang saat melihat wajah Kyuhyun yang sumringah, wajah cantik itu terlihat sangat menarik jika sedang tersenyum. Umma Choi hanya merasa bahwa Kyuhyun adalah seseorang yang didamba nya sebagai seorang menantu, walau Umma Choi tau, itu akan sangat sulit, terlebih Siwon dan Kyuhyun adalah sesama namja.

Aku berpikir terlalu jauh’

Kyuhyun mulai membuka kantong belanjaan dan ikut membantu apa yang dibutuhkan Umma Choi untuk membuat cake. Rasanya Kyuhyun ingin selalu merasakannya, bercengkarama hangat dengan seorang Ibu.

Selesai membuat cheese cake, Kyuhyun juga tak lupa membantu Umma Choi membersihkan peralatan masak. Sepanjang memasak, Umma Choi tak pernah segan untuk menceritakan mengenai masa kecil Siwon kepada Kyuhyun.

Kyuhyun semakin mengenal Siwon, dari Umma Choi. Walau Siwon adalah anak tunggal, bukan berarti Siwon anak yang di didik dengan penuh kemanjaan. Tetapi Siwon memanglah anak yang penurut, walau dia mempunyai pendirian sendiri.

“Kyunnie”

“Ya..”

“Apa boleh Bibi mengetahui tentangmu? Lebih jelas tentunya”

Kini keduanya telah duduk kembali di sofa ruang TV, menikmati kebersamaan dan juga menghilangkan rasa lelah dengan duduk bersantai. Kyuhyun menghela nafasnya, ia memejamkan mata dan kembali mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.

“Orang tuaku mengalami kecelakaan setelah selesai bertemu dengan rekan bisnis Appa, aku saat itu tidak mengerti akan keadaan perusahaan. Appa memang termasuk orang yang tidak ingin membebankan permasalahan kepada keluarga. Tapi nyatanya, kepergian mereka, memang membuat beban bagi diriku… kehilangan kedua orang tua, disertai beban hutang yang mereka tinggalkan, sungguh membuat hidupku seakan menjadi balik ke titik nol”

Umma Choi menggemgam tangan Kyuhyun, mencoba menguatkan.

“Aku harus bangkit, bukan?” Kyuhyun menghembuskan nafas kasar, “Aku bekerja, siang malam demi membayar hutang maupun untuk bertahan hidup, Hingga..”

“Hingga?”

Setitik air mata jatuh di sudut mata Kyuhyun yang membuat Umma Choi terkejut.

“Jangan ceritakan jika itu berat untukmu”

“Tidak Bibi.. aku hanya ingin, tak ada yang aku tutupi”

Kyuhyun tersenyum, “Aku mengenal seseorang yang aku kira dia baik, aku kira dia berhati mulia, kami pun semakin dekat. Aku menganggapnya sebagai seorang kekasih”

“Tapi… ternyata dia.. menjualku..”

“Apa?”

Namja itu menjualku, dia mengatakan bahwa uang yang di dapat dari menjualku adalah pembayaran hutang kepadanya dan juga untuk biaya pernikahannya kelak”

Namja?”

Kyuhyun teringat jika orientasi seksualnya tentulah masih tabu di masyarakat, walau tak banyak orang yang berani mempublikasikannya.

“Aku.. aku..”

“Bibi mengerti, gwenchana…”

Kyuhyun menatap haru saat Umma Choi meyakinkannya, sorot matanya yang teduh mencerminkan seorang Ibu yang mengerti akan kondisi anaknya.

“Walau aku menyimpang, tapi sungguh aku tak akan membuat Siwon Hyung mempunyai hal yang sama denganku”

Kyuhyun takut jikalau Umma Choi akan menyalahkannya apabila Siwon sama sepertinya. Tak dipungkiri bahwa Kyuhyun menyukai Siwon, tapi Kyuhyun terlalu sadar diri.

“Tidak Kyu.. jika memang Siwon berbeda. Sebagai orang tua, Bibi hanya bisa menerima dan men support nya. Apapaun atas kebahagiaan Siwon, Bibi pasti akan merasakannya juga”

“Bibi tak malu?”

“Tidak akan” jawabnya mantap.

Kyuhyun menatap penuh kebahagiaan saat Umma Choi juga menatapnya, ia mengingat bahwa saat dulu dimana dia mengatakan yang sejujurnya pada keluarga, mengenai orientasi seksualnya. Umma nya lah yang langsung menerima, walau Appa nya tak menentang tapi Kyuhyun tau, jika Appa nya kecewa kepadanya.

“Kau aman disini, buanglah masa lalumu. Hidup sebagai Cho Kyuhyun yang baru, bentuk masa depanmu dengan indah, sesekali menengok ke belakang tidak masalah. Tapi masa depanmu, ada di hadapanmu..”

Ne Bibi.. terima kasih..”

“Untuk apa?”

“Karena Bibi mau mengerti aku dan juga menerimaku dengan baik”

“Ntah mengapa aku menyayangimu seperti anakku sendiri, jangan sungkan..”

Kyuhyun memeluk Umma Choi sayang, sudah lama ia merindukan kehangatan seorang Ibu.

.

.

“Berniat lembur lagi Siwon-ah…?”

Choi Siwon acuh, tak berniat memandang ataupun menjawab pertanyaan Hankyung. Seharian ini dia sudah cukup dibuat kesal dengan tingkah sepupunya itu yang selalu mengerecokinya dengan pertanyaan ‘bagaimana apa semalam sukses‘ yang tentu saja menjadi daftar teratas dari hal-hal yang bisa membuat Siwon frustasi.

Siwon masih ingat ketika dia mendelik kesal sambil menggumamkan ‘sukses kepalamu, Hyung‘ yang berbalas sebuah pukulan untuk kepalanya sendiri.

Hah.. Siwon benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa saudara nya itu menganggap hal itu sebagai hal mudah. Dan lagi, kenapa justru Hankyung yang paling bersemangat mendorong nya untuk menentukan orientasinya. Jangan salahkan Siwon jika dia mencurigai adanya campur tangan Umma nya dalam masalah ini.

“Aku tak lembur Hyung.. dan tak pernah.. tak ada tugas jaga untukku malam ini..”

“Aku dengar semalam kau lembur? Kenapa? Kau berniat..”

Hyung tolong.. Bisakah kita tak membahas itu.. atau menyingkirlah dari sini segera.. kau membuatku pusing…” Siwon cepat memotong kalimat Hankyung, dia benar-benar tak ingin membahas apapun. Pemuda tampan itu memijit pangkal hidungnya mencoba mengurangi pening yang mulai melanda kepalanya.

Hankyung mengangkat bahunya, beranjak pergi, setelah menepuk pelan bahu Siwon.

Choi Siwon mendesah pasrah, mengusap kepalanya sebelum beranjak juga dari ruangannya. Dia harus pulang sebelum kepalanya benar-benar meledak.

***

Hyung.. kau sudah pulang…”

Siwon berjengit pelan. Dia tak tahu apa sebabnya tapi kehadiran Kyuhyun di dekatnya akhir-akhir ini sering sekali membuatnya berjengit kaget dengan detak jantung yang sepuluh kali lebih cepat.

Tangan nya menutup pintu apartemennya dengan pelan, berbalik dan memandang Kyuhyun. Mata hitamnya hampir melompat keluar ketika menyaksikan Kyuhyun yang saat itu hanya memakai kaos V neck rendah yang membuat leher putihnya terekspos jelas. Juga jangan lupakan hotpants yang bahkan tak menutupi setengah pahanya.

Glekk..

Siwon menelan ludah nya yang terasa begitu sakit di tenggorokannya. Ya ampun… Kyuhyun terlihat sangat lezat.

Gezz…berfikirlah dengan jernih Siwon.. berpikir… Kau tak mungkin tertarik pada Kyuhyun…

Hyung… Lagi-lagi kau melamun..”

Siwon kembali tergagap, ketika Kyuhyun menghampirinya yang masih mematung di sisi pintu masuk. Aroma strawberry dari surai coklat Kyuhyun membuat Siwon lapar ingin meraup suguhan memabukkan itu.

“Kau sakit Hyung.. mukamu pucat?”

Kyuhyun menyentuh kening Siwon dengan punggung tangannya. Siwon yang tekejut dengan sentuhan Kyuhyun reflek memiringkan kepalanya, berusaha menghindari tangan itu.

Hyung…”

Apa itu tadi? Apa dia mendengar nada kecewa dari Kyuhyun, benarkah?

“Aku… aku.. aku tak apa Kyu.. Aku hanya lelah.. Sedikit kurang enak badan..” bisik Siwon lirih, mata hitamnya sejenak terpejam, bukan karena dia benar-benar sakit, hanya sedang berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang kini menari disisi otaknya.

Mata bulat Kyuhyun membola.

“Astagga… Benarkah Hyung… kau sudah minum obat.. Akan aku siapkan makan malam aku…”

Degg…

Kalimat panjang Kyuhyun terhenti ketika tubuhnya berputar dan mendarat di pelukan hangat Siwon.

Sama terkejutnya dengan Kyuhyun, Siwon pun sama sekali tak punya ide untuk menyanggah apa yang baru saja dia lakukan. Tubuhnya bergerak sendiri, mendengar nada khawatir Kyuhyun, kecemasan di mata bulatnya membuat Siwon merasa bersalah. Pria itu tak punya usul lain selain merengkuh Kyuhyun dalam pelukannya.

Saat itu entah kenapa lubang besar yang selama ini ada dalam hati Siwon mulai tertutup perlahan. Tubuh Kyuhyun begitu pas dalam dekapannya, seperti potongan puzzle yang memang sudah didesain untuk melengkapi tubuh Siwon.

Kyuhyun hanya mampu mengerjapkan kedua bola matanya ketika kehangatan yang menggoda itu mulai membuatnya berdesir halus. Pelukan Siwon di tubuhnya sungguh membuatnya nyaman. Tak pernah dia merasa selengkap ini, seaman ini, sedamai ini.

Pemuda manis itu mengusap pelan punggung Siwon, menyandarkan kepalanya di bahu pemuda tampan itu. Memberi kenyamanan yang Siwon inginkan. Choi Siwon masih memejamkan kedua matanya, dengan rakus menghirup aroma lembut dari tubuh Kyuhyun.

Ini kah yang benar? Inikah yang dia inginkan? Tapi.. Apa ini bukan satu kesalahan..

Siwon membuka matanya, melepaskan pelukannya pada Kyuhyun.

Mianhe.. Maaf Kyu.. Aku.. Aku tak bermaksud…” Siwon mengalihkan pandangannya kemanapun selain ke arah Kyuhyun yang kini menatapnya tak mengerti.

“Tak perlu minta maaf Hyung.. Tak apa..” pemuda manis itu tersenyum tipis. Menyembunyikan kekecewaan tubuhnya yang kehilangan kehangatan Siwon ketika pria itu melepaskan pelukannya.

Sadarlah KyuSiwon tak sama sepertimu…’

Hyung belum makan.. Akan aku siapkan…jja..”

Siwon mengangguk pelan, masih berusaha memulihkan diri dari euforianya ketika mendekap tubuh Kyuhyun.

Pemuda itu mengikuti langkah Kyuhyun, menuju dapur. Tangan nya membuka pintu lemari es berniat mengambil sebotol air dingin ketika mata nya menangkap sebuah cake lezat disana. Tak mungkin kan Kyuhyun membuatnya seorang diri?

“Kyu.. Umma tadi kemari…?”

“Ah.. Iya Hyung.. Aku lupa mengatakannya padamu… Umma mengunjungiku tadi.. Membawa banyak sekali bahan makanan, mengajakku membuat kue.. Apa Hyung mau…”

Siwon mengamati setiap gerakan Kyuhyun yang tengah menyiapkan makanannya dalam diam. Senyum tipis terlukis dibibirnya ketika membaca semua ekpresi yang di gambarkan si manis itu.

“Makanlah Hyung…”

Kyuhyun menggeser kursi di hadapan Siwon. Duduk sambil menopang dagunya.

“Kau tak makan Kyu?”

“Aku sudah.. Cepatlah makan Hyung.. Dan segeralah istirahat… akan aku rapikan kamarnya untukmu…”

Siwon hampir tersedak sepotong daging ayam besar ketika mendengar kata-kata Kyuhyun.

Menyiapkan kamar.. Apa maksudnya, bukankah selama ini dia tidur di sofa..

Apa maksudmu Siwon, justru bagus kan jika dia menyiapkan kamar untukmu, kau tinggal memintanya menemanimu dan…’

“Uggh..” Siwon mengeluh pelan, memijit kepalanya yang kembali berdenyut karena debat tak penting otaknya dimulai kembali.

“Kau tak apa Hyung?” nada cemas yang sama keluar dari bibir Kyuhyun.

Siwon menggeleng, memberi isyarat jika dia tak apa-apa.

“Untuk apa kamarnya Kyu.. Aku akan tidur di sofa seperti biasa…”

“Jangan bodoh Hyung… bagaimana aku bisa membiarkanmu yang sedang sakit ini tidur di luar…”

Kau yang bodoh Kyu.. bagaimana jika aku macammacam padamu..’

Diam.. diam… hentikan pikiran mesumku… Tolong diam…

Siwon kembali menyumpah-nyumpah dalam hati.

Hyung…”

“Aku tak apa Kyu.. Tak perlu khawatir..” Siwon menyentuh tangan Kyuhyun yang ada di bahunya.

“Tunggulah sebentar.. Kau bisa segera tidur..” pemuda manis itu bergegas beranjak ke kamarnya, sama sekali tak sadar ekspresi merana yang ditunjukkan Siwon.

Oh Goddness…’

.

.

Siwon berbaring diam di ranjangnya. Menatap nanar langit-langit mantan kamarnya. Biarlah dia menyebutnya mantan, karena toh, selama ini Kyuhyun yang teakhir kali menempatinya.

Pemuda itu masih saja berbaring diam ketika Kyuhyun melangkah masuk kedalam kamar. Menutup pintu nya dan memandang Siwon yang tengah berbaring dengan selimut sebatas pinggang dan tangan terlipat di depan dada.

“Ku harap Hyung tak merasa tak nyaman.. Atau jika Hyung tak suka.. Aku akan tidur di luar…”

Siwon menolehkan kepalanya, menatap Kyuhyun yang duduk di tepi ranjang.

“Tak apa Kyu.. Tidurlah.. Sudah malam…”

Tak apa yang kali ini berarti bohong besar untuk Siwon. Apa nya yang tak apa-apa jika saat ini saja Siwon hampir kehilangan kendali atas tubuhnya ketika aroma Kyuhyun yang menyeruak memenuhi rongga hidungnya. Aroma hangat yang membuat gairahnya terpacu.

Hankyung sialan… Kenapa dia menyarankan hal seperti ini…

Hati Siwon tak hentinya mengeluarkan segala macam umpatan yang mungkin akan membuat Umma Choi mencuci mulutnya dengan pemutih jika sampai mendengarnya.

Kyuhyun mengangguk pelan, merebahkan tubuhnya membelakangi Siwon, mengucapkan selamat malam dengan pelan.

Keadaan yang sama bohongnya ketika Kyuhyun pun sama sekali tak dapat memejamkan mata, irama tubuhnya menghianati keinginannya sendiri untuk dapat tenang dan tak berharap apapun.

Tapi percuma, kehadiran Siwon disisinya membuat kekecewaan hati dan keterpurukannya terobati. Setiap perhatian yang diberikan Siwon untuknya mau tak mau membuat sebuah rasa familiar kembali muncul di hatinya. Sebuah rasa ketergantungan yang lebih memabukkan daripada candu.

Siwon menatap punggung Kyuhyun yang bergetar pelan karena nafas teraturnya.

Dia menyerah, Siwon tak ingin menyangkal apapun lagi, tak ingin mengendalikan apapun lagi. Dia hanya ingin agar tubuh dan hatinya melakukan apa yang mereka inginkan.

Jujurlah pada hatimu Siwonah..’ kata-kata Hankyung kembali terngiang di ingatannya.

Apa selama ini aku tak jujur padamu Kyu..?

Tangannya terulur, membelai surai coklat Kyuhyun yang menjuntai ke tengkuknya. Kyuhyun memejamkan matanya saat merasakan sentuhan Siwon.

Pemuda manis itu tak ingin bergerak, tak ingin mengelak, dia hanya diam, menikmati rasa nyaman kebersamaannya dengan Siwon. Usapan itu begitu lembut, begitu membuai, hingga membuat Kyuhyun ingin menangis. Belum pernah ada seorang pun yang mau menyentuhnya semesra ini.

Hyung.. Bolehkah aku mengharapkan lebih darimu..’ ingin rasanya Kyuhyun meneriakkan kalimat itu pada Siwon. Agar pemuda itu tahu jika Kyuhyun hanya manusia yang pasti akan jatuh dalam pesona pemuda sebaik Siwon.

Tapi.. Dirinya sudah berjanji pada ibu Siwon jika dia tak akan membuat putranya sama sepertinya. Salahkan jika dia kini ingin menikmati sentuhan ini..?

Maafkan aku Bibi..aku mohon..sekali saja Bibi.. Biarkan aku menikmati hangatnya pelukan Siwon Hyung…’

Kyuhyun tak menolak ketika lengan Siwon memaksanya menoleh ke samping. Menatap pemuda yang kini juga tengah memandangnya itu. Dia hanya diam ketika Siwon sedikit menegakkan punggungnya, menatap intens wajah Kyuhyun yang kini terbaring disisinya. Dan Kyuhyun masih diam ketika jari-jari panjang Siwon mengelus keningnya, menyusuri tulang hidung nya dan mengusap pelan pipi Kyuhyun.

Siwon mengernyit sebentar ketika perang debat di otaknya kembali, ketika teriakan benar dan salah itu berpusing ulang dalam kepalanya. Pemuda itu menghela nafas dalam-dalam, mengalahkan semua logikanya dan menguncinya rapat-rapat di sudut terdalam otaknya.

Dia tak ingin di kendalikan logika, Siwon akan melakukan ini menurut apa yang di katakan oleh hatinya. Pemuda itu masih menyusuri setiap senti wajah Kyuhyun dengan jarinya, menikmati detail yang tergambar dimata bulatnya ketika Siwon menyentuh setiap bagian dirinya.

“Kau indah Kyu…” bisiknya lirih. Tak ada balasan dari Kyuhyun, karena Siwon pun tak menginginkan jawaban.

Kyuhyun masih menatap Siwon dalam bisu, tetap tak menolak ketika salah satu jari Siwon menarik pelan dagunya, membuat bibirnya sedikit terbuka. Satu elusan singkat sebelum bibir tipis Siwon mengeliminasi jarak yang ada, menenggelamkan Kyuhyun dalam ciuman yang sesungguhnya.

Jantung Siwon seakan ingin meledak oleh gemuruh, ketika sentuhan singkat itu berimbas besar pada tubuhnya. Baik Siwon maupun Kyuhyun tak ada yang bergerak, masing masing berusaha mengartikan setiap detak yang hampir membuat telinga mereka tuli.

Siwon ingin menangis. Rasa ini, rasa ketika dirinya menyentuh Kyuhyun, inilah yang benar, lubang besar di dadanya perlahan tertutup ketika bibirnya bergerak mendominasi bibir Kyuhyun. Rasa panas mulai menyergapnya ketika lembutnya bibir Kyuhyun mulai membuatnya mabuk.

Kyuhyun benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa, tanpa sadar dia mengerang pelan, merasakan sensasi dahsyat dari bibir pria di sisinya itu. Siwon memisahkan bibir mereka sebentar, hanya untuk menatap kilau caramel Kyuhyun. Dan kembali menikmati kelembutannya saat tak didapatnya penolakan dari si manis itu.

Debar ini lama tak dirasanya, gairah yang lama terlupakan kembali datang. Siwon kembali memperdalam ciumannya, menahan sisi kepala Kyuhyun dengan lengannya agar ciuman mreka tak terpisah.

Tak tahu kenapa, tapi rasa bahagianya muncul ketika Kyuhyun membalas ciumannya dengan tak kalah possesif. Terus seperti itu, saling memagut, mereguk semua rasa, hingga nafas mereka tersengal karena alarm oksigen yang mulai berdering.

Hyung….” bisik Kyuhyun lirih.

Siwon membungkam lagi bibir Kyuhyun, mencumbunya, memanjakan dirinya dalam kehangatan rongga pemuda manis itu. Membelai setiap senti rongga mulut Kyuhyun dengan lidahnya yang panas, membuat Kyuhyun bergetar dan mengerang.

Tubuh Kyuhyun tak henti-hentinya bergetar menerima setiap kenikmatan yang di berikan Siwon. Ciuman yang lebih menuntut, lidah yang bermain dengan lidahnya itu membuatnya mabuk.

Kyuhyun tersentak saat jemari Siwon menyusup dalam kaos yang dia pakai, membelai kulitnya dengan tangannya yang hangat. Meninggalkan jejak panas yang begitu menyiksa. Ciuman Siwon pindah menyusuri rahang Kyuhyun, bergerak turun hingga mengekplorasi leher putih itu. Lagi-lagi aroma Kyuhyun benar-benar membuat Siwon hilang akal.

Pria itu mengendus sisi leher putih, membuat Kyuhyun mengerang dan memiringkan kepalanya, kesempatan yang tak disia-siakan Siwon untuk menyesap kulit mulus itu, menggigit nya pelan, menghisapnya, dan mengecup penuh kasih bekas merah hasil karyanya.

Tangan besar nya terus saja bergerak menyusuri perut rata Kyuhyun, menarik kaos itu keatas hingga membuat bagian atas tubuh Kyuhyun tak tertutupi apapun. Kyuhyun meremas sprei di bawahnya ketika jari-jari Siwon bergerak ke arah dadanya. Sekali lagi tersentak ketika pria itu menemukan ujung-ujung dadanya yang sensitif. Membelainya lembut, memberinya sedikit remasan yang sungguh membuat Kyuhyun melayang.

Pemuda manis itu tak henti mengerang, semakin melesakkan kepalanya kedalam bantal ketika tak hanya tangan dan jari saja yang mulai memanja dadanya tapi juga bibir dan mulut Siwon. Pria itu menggantikan tugas jarinya menggoda titik sensitif dada Kyuhyun dengan mulutnya. Menghisapnya pelan, memainkan ujung nya dengan lidahnya yang panas.  Sementara tangannya yang lain sibuk meremas sisi lainnya, menyentil pucuknya dan mengusap dengan ujung-ujung jarinya.

Perlakuan Siwon padanya membuat akal sehat Kyuhyun lenyap. Dia ingin lebih, dia menginginkan Siwon menyentuhnya lebih dari ini. Jari-jarinya menyusup dalam helaian surai hitam Siwon, meremasnya pelan, meminta pria itu untuk terus memanjanya, menikmati tubuhnya, membelai dadanya, mengecup setiap ujungnya dengan rangsangan yang sanggup membutakan logika.

Hyung.. Please…”

Desah pelan Kyuhyun bagai cambuk semangat di telinga Siwon, pria itu semakin ingin menggoda tubuh mulus di bawahnya itu. Tak terhitung banyaknya tanda cinta yang dia ukirkan di jengkal kulit mulus Kyuhyun. Kyuhyun menyusuri punggung tegap Siwon, meremas bagian belakang tubuh Siwon dengan lembut.

Siwon masih terjebak dalam pusaran gairah yang mulai terkumpul di bawah perutnya. Pemuda itu masih saja menikmati sajian di hadapannya ketika jari-jari Kyuhyun menemukan pusat panas tubuhnya. Pria itu terkesiap, seketika melepaskan cumbuan nya pada tubuh Kyuhyun yang mengernyit bingung.

Hyung… Kenapa..” bisik nya lirih. Sapuan gairah masih menggelapkan matanya.

“Tidak Kyu.. Ini tak benar.. Ini…”

Suara gugup Siwon bagai palu imajiner yang menghantam setiap fantasy indah Kyuhyun. Menghancurkan imajinasinya jadi berkeping-keping.

Pemuda manis itu menatap terluka pada Siwon yang kini memalingkan wajahnya.

Hyung…”

Mianhe Kyu… Tak seharusnya ini terjadi.. Maafkan aku…”

Tangan Kyuhyun yang separuh terulur itu terhenti, urung menyentuh bahu Siwon yang masih membelakanginya. Pemuda manis itu menunduk, menghela nafas dalam-dalam.

“Tak apa Hyung… Tak perlu minta maaf…”

Ya.. ini bukan salah Siwon, bukan salah Siwon jika pemuda itu tak menginginkan Kyuhyun sebesar Kyuhyun menginginkannya. Sama sekali bukan salah Siwon jika dia tak sama dengan Kyuhyun..

Kyuhyun mengerti dan mencoba berbesar hati. Membiarkan saja ketika Siwon kembali merebahkan tubuhnya membelakangi Kyuhyun. Di ikutinya gerakan Siwon, tak ada gunanya dia memaksa, Siwon sudah berbaik hati menerima Kyuhyun dirumahnya. Dia tak ingin penyelamatnya itu jijik padanya. Tak apa..semua bukan salah Siwon…

Pemuda manis itu menggigit bibirnya menahan isak yang telah sampai di tenggorokannya, fakta jika Siwon tak menginginkannya membuatnya terluka. Dan Kyuhyun tak lagi mampu memejamkan mata.

Siwon menatap nanar dinding putih di hadapannya, merutuki sikapnya yang lepas kendali. Tapi, kejadian tadi, kenapa semua teras benar, kenapa semua terasa begitu indah…? Lenguhan Kyuhyun, cara pemuda manis itu mendesiskan nama Siwon, kenapa begitu menggoda, seolah memang itu yang seharusnya terjadi…

Siwon masih tak mampu berpikir jernih, masih mencoba mencari jawab, tanpa niat menutup mata.

.

.

.

Dua hari semenjak kejadian yang.. ah.. mereka bahkan tak punya kata untuk mendeskripsikan kejadian itu. Baik Kyuhyun ataupun Siwon serasa tak ingin membahasnya kembali, agar hubungan mereka tetap berjalan biasa saja.

Walau Siwon tak ingin membahasnya, akan tetapi jejak malam itu, sering dilihat olehnya. Siwon hanya bisa merutuki dirinya yang tak sengaja atau memang sengaja melakukan hal itu, oh Tuhan.. Siwon selalu berusaha untuk mengingat bahwa dirinya sangatlah normal.

Kyuhyun sendiri tak menyalahkan Siwon karena telah memperlakukan dirinya seperti itu. Karena dia pun ikut andil didalamnya, Kyuhyun mengakui bahwa ia menikmatinya, tapi Kyuhyun sadar jika Siwon tidaklah sama seperti dirinya.

Hari ini Kyuhyun akan pergi bersama Umma Choi, Mereka berencana hanya makan siang diluar.

“Bagaimana kabarmu, Kyu?”

“Seperti yang Bibi lihat, aku baik, Bi.. lalu bagaimana dengan Bibi sendiri?”

“Bibi harus selalu sehat tentunya, demi Appa dan Siwon”

Kyuhyun tertawa renyah, ah indahnya hidup berumah tangga. Bahkan Umma Choi sangat baik kepadanya, bolehkah jika ia berharap… ah tidak, tidak, Kyuhyun sudah berjanji untuk tidak membuat Siwon sama sepertinya.

“Ada apa Kyu??”

“Ah.. tidak Bi, mau pesan apa?”

Keduanya pun larut dalam obrolan ringan sembari menunggu pesanan datang. Makan dengan bahagia, saling berbagi cerita mengenai Siwon. Walau perlu dicatat, Kyuhyun melewatkan pembicaraan mengenai kejadian malam beberapa waktu yang lalu, saat dirinya hampir saja melepaskan semuanya kepada Siwon.

***

Setelah sesi makan siang terbaik yang pernah Kyuhyun alami, pemuda manis itu kini mendapati dirinya tengah diseret kesana kemari oleh Umma Choi. Memasuki satu demi satu toko dan butik terbaik yang bahkan Kyuhyun tak berani bayangkan sebelumnya.

“Bagaimana jika yang ini?” Umma Choi mencocokkan satu kemeja hijau lembut ke tubuh Kyuhyun yang hanya mampu berdiri tegak tanpa berani begerak.

“Ah..tak cocok…” Umma Choi sibuk bergumam sendiri, meletakkan kembali kemeja hijau itu dan kembali lagi dengan satu kemeja lain berwarna baby blue. Perempuan paruh baya itu memekik senang ketika pilihannya telihat bagus di tubuh Kyuhyun.

“Ini akan terlihat bagus… Kita beli yang ini… “

Kyuhyun memutar bola matanya, sebelum menghela nafas lelah.

“Bibi… Ini sudah terlalu banyak.. Siapa yang akan memakainya nanti?” Kyuhyun memandang tumpukan berbagai macam pakaian di keranjang belanja mereka.

“Tentu saja kau, Nak.. Astagaa.. belum pernah Bibi merasa semangat seperti ini..kau tahu.. Siwon sama sekali tak pernah mau mengikuti pilihan Bibi.. Hah.. Apalagi mengajaknya belanja…” Umma Choi membuat eksprsi terluka yang langsung membuat Kyuhyun merasa begitu bersalah.

Mianhae Bibi.. Aku tak bermaksud membuat Bibi sedih…” Kyuhyun mengusap lengan Umma Choi.

“Tak apa Nak.. Jja kita lanjutkan..masih banyak yang harus kita datangi…”

Lagi-lagi Kyuhyun hanya mampu memutar bola matanya ketika ekspresi kecewa Umma Choi menguap seketika dan berganti lagi dengan senyum penuh semangat.

Pemuda manis itu kembali mengekor di belakangnya saat Umma Choi menuju kasir membayar semua barang yang mereka beli. Ugh.. Kyuhyun tak ingin tahu berapa jumlahnya.. Yang pasti.. Mungkin setara dengan jumlah uang saku Kyuhyun untuk beberapa bulan.

Umma Choi menggandeng mesra lengan Kyuhyun, kembali menuntun pemuda manis itu untuk mengikutinya. Sedangkan Kyuhyun hanya mampu pasrah kemana Umma Choi membawanya, menikmati hangatnya genggaman Umma Choi yang terasa begitu nyaman di lengannya.

Seperti inikah rasanya pelukan seorang ibu, kembali?‘ senyum tipis terukir di bibir manis Kyuhyun. Entah kebaikan apa yang di buat di kehidupan terdahulu, hingga sekarang dia dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Umma Choi dan Siwon.

Ah.. Siwon… mengingat nama nya saja sudah membuat jantung Kyuhyun kembali berulah. Kilasan-kilasan adegan malam itu kembali, membuat nya merasakan panas di pipi dan tubuh nya. Kyuhyun masih ingat, sangat ingat, setiap detail sentuhan lembut Siwon. Bagaimana pria itu memperlakukan tubuhnya… Hah… Memikirkannya membuat Kyuhyun semakin rindu akan sentuhannya.

Dia tahu ini tak seharus nya terjadi, tidak ketika Umma Choi telah begitu baik padanya. Tapi, jika mengingat sikap Umma Choi yang penuh kasih padanya, yang menerima apapun jalan dia pilih, bisakah dia berharap jika suatu saat Umma Choi merestuinya jika dia dan Siwon bersama?

Tuhansemoga saja bukan hanya harapan semu….

Guncangan pelan di lengannya membuyarkan semua lamunan Kyuhyun. Rupanya mereka kini telah berhenti disatu tempat. Tempat yang membuat Kyuhyun menatap horor Umma Choi saat itu juga.

“Bi-Bibi… Kenapa kita… Apa Bibi ingin melakukan sesuatu disini?” Kyuhyun menatap bergantian antara Umma Choi dan plakat salon kecantikan ternama di hadapannya itu.

“Bukan Bibi, Kyu.. tapi kau..”

Mwo??!!??”

“Tidak Bibi.. Aku tak mau.. Aku… Lebih baik kita…” Kyuhyun sudah bersiap untuk lari ketika tangan Umma Choi menariknya mendekat.

“Ayo masuk Kyu… Hanya sebentar..”

“Tak mau Bibi..tidak..” Kyuhyun menggeleng kuat-kuat. Salon kecantikan..? Yang benar saja..

“Ayolah Kyu.. Kau mau membuat Bibi sedih lagi?”

Kyuhyun terdiam ketika kembali menerima sorot mata sedih ala Umma Choi. Pemuda manis itu menghela nafas pasrah, sambil mengusak rambutnya frustasi.

“Baik.. Baik Bibi.. Baiklah… Jja…”

“Nah.. Itu baru anak Bibi…” Umma Choi kembali menyeret Kyuhyun masuk kedalam. Tak peduli jika Kyuhyun mulai menyumpah-nyumpah dalam hati, mengerucutkan bibir merah nya dengan kesal. Kemana perginya raut wajah terluka tadi..? Oh.. Jika ada award untuk ibu rumah tangga yang pandai berakting, maka Kyuhyun akan memberikannya pada Umma Choi.

Kyuhyun hanya menatap pasrah saat melihat salah satu pegawai, mendekatinya sambil mengaduk sesuatu yang terlihat seperti cream berwarna putih, beraroma bengkoang.

“Untuk apa ini??”

“Menghaluskan kulit.. cocok untukmu”

Mwo??”

“Sudahlah Kyunnie, ini memang cocok untuk kulitmu” Umma Choi menimpali, membuat kerucut bibir Kyuhyun semakin maju.

“Kau akan tambah cantik dan suamimu pasti akan menyukainya, beruntungnya mempunyai mertua yang perhatian” ujar pegawai salon sekali lagi.

Kyuhyun hanya diam dan merona merah, semakin menambah cantik… Apakah benar? Aku akan semakin cantik? Apa jika aku cantik Siwon Hyung akan semakin memperhatikanku?

Oh astagaa.. Apa yang sebenarnya Kyuhyun pikirkan. Bukankah Siwon sudah menolaknya kemarin..

‘Sudahlah Kyu.. bukan saat nya memikirkan hal itu.. Nikmati saja pelayanan ekstra mewah untuk memanjakan dirimu disini…’ Kyuhyun bergumam sendiri, mengabaikan keluhan pelan dari bibirnya ketika pegawai salon itu mulai membubuhkan cream bengkoang itu pada wajahnya.

.

.

“Oh syukurlah.. Aku pikir dia hilang Umma…” Siwon mendesah lega, menghempaskan tubuh tingginya di sofa. Suara tertawa geli milik ibunya di line seberang cukup untuk membuatnya memutar bola mata, apalagi di tambah dengan seruan ‘oh.. Kau menghawatirkannya, Nak‘ yang kembali membuat Siwon mengerang frustasi.

Tentu saja dia menghawatirkan Kyuhyun. Selama tinggal bersamanya, itu artinya pemuda manis itu ada dalam tanggung jawab Siwon. Jelas bukan, alasan kenapa dia menghawatirkan Kyuhyun yang tiba-tiba saja menghilang dari apartemen tanpa berkata suatu apapun.

Apa kau yakin hanya itu alasanmu menghawatirkan Kyuhyun?’

Siwon tersentak dengar pikirannya sendiri. Tentu saja hanya itu, memang nya apalagi yang membuatnya memikirkan si manis itu.

Bagaimana jika Kyuhyun bertemu dengan orang jahat? Bagaimana jika Kyuhyun di jual lagi, bagaimana jika

Hell.. Tutup mulut kalian pikiran-pikiran sial… Siwon kembali mengumpat karena faktanya memang terlalu banyak hal yang membuatnya mencemaskan Kyuhyun.

Won.. Siwon.. kau masih di sana Nak..” suara Umma nya membuat Siwon kembali memijak bumi.

“Ya Umma… Sekarang dimana Kyuhyun..?”

Sebentar lagi kami sampaioh.. Kau tak sabar bertemu dia rupanya…”

Siwon hampir menampar dirinya sendiri mendengar pertanyaan ibunya, apa dia tak salah dengar..? Umma nya menggodanya..? Tentang Kyuhyun…? Oh.. Pasti Hankyung sialan itu memang sudah membocorkan semuanya…

Umma.. tolong…”

“Ya.. Ya… Umma mengerti Nak.. Jangan khawatir.. Okay…” kekeh pelan Ummanya adalah hal terakhir yang Siwon dengar sebelum nada sambungan telepon berakhir.

Siwon menatap layar ponselnya yang menghitam, kalimat Umma nya kembali terngiang..? Dia..? Merindukan Kyuhyun..? Yang benar saja…? Tapi..?

Aarrgghh… Pemuda tampan itu mengacak surainya frustasi. Merasa tak ada yang bisa dia kerjakan Siwon memilih untuk membersihkan diri.

Setidaknya satu fakta jika Kyuhyum baik-baik saja telah membuatnya tenang.

***

Siwon baru saja selesai membersihkan diri ketika mendengar pintu depan teebuka. Tak perlu melihat siapa, Siwon sudah hafal setiap suara langkah kaki Kyuhyun. Darimana dia menghapal? ah.. lebih baik tak usah menanyakannya, karena Choi Siwon akan mulai membeberkan alasan-alasan yang sama sekali tak akan masuk akal.

Pemuda tampan itu memilih ke arah dapur, membuka lemari es dan menegak sebotol air dingin.

Hyung.. Kau disini….”

Siwon menoleh dan terpekik kaget saat itu juga ketika botol air itu tumpah membasahi bagian depan kaosnya.

Mata bulat Kyuhyun membola, dia buru-buru meletakkan tas belanjanya begitu saja dan menghampiri Siwon yang sedang sibuk mengelap kaosnya yang basah.

“Kau tak apa Hyung.. kenapa kau ceroboh sekali…..”

Siwon terpaku. Menatap lekat-lekat sosok manis dihadapannya ini. Entah mantra apa yang tadi digunakan Umma nya untuk merubah Kyuhyun, tapi yang pasti pemuda manis ini begitu berbeda.

Kyuhyun yang sadar jika Siwon tengah memandangnya tanpa berkedip, sedikit memalingkan muka, menyembunyikan rona merah yang gagal dia tahan. Mata hitam Siwon masih lekat memandang, tak puas dengan sosok Kyuhyun yang hanya sekilas.

“Kyu…”

Kyuhyun tak menjawab, hanya menatap sejenak Siwon dan kembali memandang kearah lain. Kemanapun asal tak menatap Choi –tampan sekali -Siwon yang tengah memandangnya bulat-bulat.

Belum lagi kenyataan jika mereka berdiri begitu dekat membuat detak teratur di dada Kyuhyun kembali bertingkah. Bayangan kejadian malam itu kembali lagi dan membuatnya semakin merona.

Tangan Siwon terangkat, membelai sisi kepala Kyuhyun untuk menatapnya. Dengan susah payah Kyuhyun berusaha menelan ludah. Oh.. Andai dia tahu jika hal yang sama juga tengah di alami Siwon. Pemuda tampan itu sudah kehilangan kendali akan dirinya sendiri. Persetan dengan sebutan normal atau tidak. Karena baginya ketika menyentuh Kyuhyun ini adalah hal yang sangat normal.

Dua mata berbeda warna itu masih saling menatap lekat, mencoba menyelami perasaan masing-masing dari jendela hati. Bagi Kyuhyun kilau sekelam malam milik Siwon adalah labirin tak berujung yang sanggup membuatnya rela tersesat dalam pesonanya, sorot yang menjanjikan ketenangan, kenyamanan dan nikmat yang tiada terkira.

Sedang untuk Siwon, manik caramel Kyuhyun adalah butiran polos dari perasaan tulus tak ternoda. Sorot penuh kekaguman dan pemujaan tak henti untuknya. Layak nya mata kanak-kanak yang mengharapkan untuk disayangi dan di cintai. Dan Siwon rela untuk menyayangi ataupun mencintainya.

Perlahan, entah siapa yang memulai, dua wajah itu saling mendekat, mengikis jarak yang ada dalam hitungan menit. Hembusan nafas hangat Siwon di wajahnya membuat Kyuhyun menutup bola matanya ketika bibir mereka bertemu.

Sentuhan kesekian yang masih saja memberikan efek yang luar biasa bagi keduanya. Ledakan demi ledakan kembali berpacu dalam dada mereka.

Ciuman pelan dan lembut itu mulai berubah dalam dan menuntut. Siwon bergerak pelan mendorong tubuh Kyuhyun, hingga terhenti ketika membentur meja dapur. Botol airnya tergeletak begitu saja. Tangannya kini melingkari pinggang Kyuhyun. Membawanya dalam dekapan Siwon. Sementara tangan yang lain sibuk menekan kepala Kyuhyun agar tautan bibir mereka tak terpisah.

Tangan Kyuhyun yang semula mencengkeram erat bagian depan kaos Siwon menemukan jalannya menuju ke leher kokoh pemuda itu, mengalung sempurna, merasakan tubuh Siwon lebih dekat lagi.

Kyuhyun tak tahu apakah kali ini Siwon akan benar-benar memilikinya ataukah akan meninggalkannya seperti waktu itu, dia tak peduli, yang dia pedulikan hanya Siwon dan sentuhannya.

Seolah mengerti keinginan Kyuhyun, Siwonpun memperdalam ciuman mereka. Membelai bibir merah Kyuhyun dengan lidahnya, berharap jika belahan merah itu akan terbuka dan mengijinkannya menjelajahinya. Dan Kyuhyun mengabulkannya, membuka sedikit bibirnya seiring dengan erangan pelan yang dia suarakan. Lidah Siwon merayap masuk, menggoda milik Kyuhyun dengan lembut. Mendominasi yang sama sekali tak mendapatkan protes dari si manis dalam dekapannya itu.

Hyung….” erang Kyuhyun. Kepalanya kosong, tak mampu memikirkan apapun, karena setiap sentuhan Siwon mampu mengosongkan semuanya.

“Kenapa Kyu… kenapa aku selalu tak mampu menolak pesonamu…” bisik Siwon di depan bibir Kyuhyun. Berbalas satu tatapan sayu dari bola mata karamel di depannya.

“Jika begitu kenapa tak kau miliki aku Hyung?”

Siwon kembali membungkam bibir Kyuhyun, menggigit bibir bawahnya hingga membuat desah lolos dari pemuda manis itu. Siwon terus bergerak menurunkan kepalanya, menghirup setiap aroma manis yang di uarkan tubuh Kyuhyun. Aroma yang tak disadari Siwon telah menawannya sejak pertama kali mereka bertemu.

Nafas Kyuhyun tercekat, ketika bibir panas Siwon kembali membelai lehernya. Mengirimkan impuls menggoda yang membuat tubuhnya meremang seketika. Andai saja Siwon tak memeluk erat tubuhnya maka bisa di pastikan jika Kyuhyun akan merosot ke lantai saat itu juga.

Kepala Kyuhyun terdongak kebelakang, memberi akses lebih agar Siwon mudah menikmati apapun yang dia mau. Jari-jarinya menyusup dalam helaian hitam milik Siwon yang masih setengah basah.

Ting..tong…

Kyuhyun tekesiap, suara bel rumah sedikit mengganggu konsentrasinya. Tapi tak berimbas pada Siwon yang masih saja meneruskan kegiatannya.

Hyung… Ada tamu..buka pintunya…”

“Biarkan saja Kyu…” Siwon masih terus mengecup leher putih Kyuhyun.

Ting..tong…

Hyung… Ayolah.. mungkin tamu penting..”

Siwon mengumpat pelan, ketika Kyuhyun mendorong bahunya. Mengusap wajahnya yang masih tersaput gairah. Mengapa selalu ada saja hal yang menginterupsi mereka? Tak bisakah orang-orang mengerti jika Siwon dan Kyuhyun membutuhkan privacy? Oh.. buang jauh-jauh pikiran mesummu, Siwon…

Kyuhyun tekekeh pelan, menepuk pipi Siwon. Dia juga tak suka kegiatannya di interupsi tapi, tak bisa juga mereka membiarkan suara bel itu terus menerus mengganggu. Siwon melangkah gontai kearah pintu depan. Bibirnya tak henti mengeluarkan umpatan dan sumpah serapah untuk siapapun yang berusaha mengacaukan kesenangannya.

Siwon terkejut saat pintu terbuka, menampilkan sosok wanita berambut panjang lurus hitam, dengan mata coklat karamel, yang sangat dia kenal.

“Ara..”

Oppa.. kita perlu bicara”

Yeoja itu menerobos masuk ke dalam tanpa permisi. Sedangkan Siwon yang masih berusaha mencerna apa yang terjadi mengikutinya setelah menutup pintu.

Beruntung Kyuhyun tak ada disana. Kyuhyun, Oh tidak.. Satu pemahaman kembali menghantam benak Siwon, Kyuhyun ada di rumah ini, bagaimana Siwon selama ini lupa jika dirinya telah…

Oppa..” ujar yeoja itu penuh kecemasan.

“Ada apa?” Siwon bergerak gelisah, menatap bergantian antara gadis itu dan pintu ke arah dapur.

“Bagaimana ini??”, gadis itu meremas-remas kedua tangannya.

“Apa maksudmu?” dahi Siwon berkerut bingung.

“Pernikahan kita.. akan dipercepat”

Mwo??”

Kyuhyun yang baru saja akan menyusul Siwon, mengurungkan niatnya ketika di dengarnya suara perempuan. Pemuda manis itu bersembunyi disisi dinding pemisah antara dapur dan ruang tamu, mengintip keluar.

Dilihatnya Siwon yang tengah bersama seorang yeoja, terdengar samar jika yeoja itu berkata, mengenai..

“Pernikahan?? Siwon Hyung akan menikah?”

Kyuhyun menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Berusaha menelan semua isak yang hendak keluar dan menepuk dadanya yang terasa sakit.

“Siwon Hyung… Benarkah itu? Menikah?”

****TBC****

note :

Comeback miss-miss disini hehehe… senangnya dengan respon di chap 1.. terima kasih banyak… semoga masih setia disini ya.. chap 2.. ga banyak kata, cuman berikan kami saran kembali dan makasih banyak buat cii posternya selalu menemani setiap ff kami hehehe…  ah ya.. chap depan ber pw.. seperti biasa untuk permintaan pw bisa sama seperti saat minta pw ff kemarin ya.. lwat dm.. sampai jumpa

-Miss Lee-

Yuhuu.. istrinya gege kembali *pllakk…
Hahahaha.. senang bisa kembali mempersembahkan chap 2 buat kalian semua…
TERIMAKASIH banyak buat semua respon positif nya di chap 1.. kaliam semua WARBSYAAAHHH… *deepdeepboow
Buat partner in crime ku.. nyonya Lee.. thanks a lott ..:*
And thans ucii.. buat covernya..
Oh ya.. untuk chap depan.. karena akan naik naikan rate nyaa.. yang mau minta pw.. bisa pm ke sosmed atau email kami.. pasti kami bales kok .. ^^
Soo… mind to ripiu..?
*MissHan*
Advertisements

95 thoughts on “Schicksal part.2

  1. MWO?? MENIKAH?? ANDWAEEE
    Padahal baca dari awal udh manis, umma choi yang welcome sama kehadiran kyu, siwon yg berusaha ngeyakinin perasaan’a, moment wonkyu yg bikin senyum” sendiri walau kadang gereget sama pikiran siwon yg galau. Tapi KENAPA di ending’a bikin nyesek. Huweee
    Apa siwon udh dijodohin?? itukah knpa siwon takut klo appa’a tau kehadiran kyu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s