Posted in Drama, Genderswitch, Genre, Oneshoot, Romance, WonKyu Story

Beautiful Stranger

BEAUTIFUL STRANGER

.

©Kakagalau

Another love story from

SIWON & KYUHYUN

Romance – Drama

Teenager

Gender Switch

For all uke(s)

.

 

Karena ketika Tuhan jatuh cinta,

Ia akan selalu punya cara

 Mendekatkan rusuk-rusuk yang terpisah dari pemiliknya.

Karena Tuhan tidak bodoh

Maka jodoh, selalu akan kembali,

Sejauh apapun ia pergi dan berlari

 

.

 

Langit Seoul nampak sepi tak berawan. Seorang wanita paruh baya berbalut dress berwarna hitam itu melangkah dengan anggun menyusuri lobby utama sebuah gedung pencakar langit milik Choi Enterprise. Rambutnya disanggul dengan cantik dan bibirnya di poles dengan warna merah maroon. Kharismatik juga berwibawa.

Beberapa staff Choi Enterprise membungkuk hormat pada perempuan paruh baya itu. Menantu dari keluarga Choi –yang berarti istri dari mendiang pemilik Choi Enterprise generasi kedua. Ditangannya, perempuan paruh baya itu memegang beberapa file yang berbungkus map berwarna violet.

“Siwonie ada di ruangannya?” perempuan paruh baya itu bertanya pada sekretaris presdir  yang sedang berkutat dengan komputernya.

Pria muda yang merupakan sekretaris presdir itu membungkuk hormat sebelum akhirnya menjawab dengan santun, “Beliau ada di ruangannya, Nyonya.”

Wanita itu tersenyum manis, “Lanjutkan pekerjaanmu, sekretaris Lee.” Katanya sambil berlalu menuju ruangan sang presiden direktur.

“Kau sibuk, presdir?” wanita paruh paya itu menyapa sang presdir.

Siwon –pria yang merupakan presiden direktur dari Choi Enterprise generasi ketiga itu mengangkat wajahnya untuk melihat penampakan sang empunya suara. Wanita paruh baya itu adalah orang yang sangat Siwon kenal –orang yang paling Siwon benci sekaligus paling Siwon hormati. Dia adalah Kim Heechul –Nyonya Choi. Ibu kandung Siwon.

“Aku sangat sibuk, Bu.” Dari nada suaranya, jelas sekali bahwa Siwon tak ingin diganggu. Terlebih untuk urusan yang tidak penting.

“Kalau begitu, segera selesaikan yang satu ini! Dan kau bisa kembali berkutat dengan dokumen bodohmu itu.” ujar Nyonya Choi tak peduli. Wanita paruh baya itu menaruh sebuah file ke meja kerja Siwon. Mengabaikan ketidaknyamanan anak satu-satunya itu. “Pilih salah satu!”

Siwon melirik sekilas file yang disodorkan ibunya itu, lalu mendengus malas. Ia sudah bisa menduga isi dari map violet. Makanya ia memutuskan untuk kembali mengarahkan pandangannya ke arah file-file perusahaan yang ada dihadapannya dibanding membuka-buka map yang baru saja disodorkan sang ibu. “Bukankah aku sudah bilang bahwa aku sedang sibuk?” Keluh Siwon. Malas sekali menanggapi ibunya itu.

“Hanya lihat sebentar!” paksa Nyonya Choi itu. “Pilih satu, dan Ibu akan mengatur sisanya.”

Siwon berdecih, “Aku bahkan tak kenal dengan perempuan-perempuan yang ibu sodorkan itu, Bu! Jadi bisakah ibu berhenti untuk merecoki hidupku?” ujar Siwon tanpa mengalihkan atensinya pada sang Ibu.

“Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, Siwon.” Perempuan paruh baya itu berujar dengan nada mengintimidasi. “Ibu tak ingin kau melajang seumur hidupmu!”

“Ibu!” Siwon agak meninggikan suaranya. Menatap galak pada wanita yang melahirkannya dua puluh delapan tahun lalu itu. “Aku tak pernah bilang bahwa aku akan melajang seumur hidup, kan?”

“Tapi kau tak pernah punya tanda-tanda akan menikah. Bahkan berkencan pun tidak pernah.”

“Aku berkencan! Ibu saja yang tidak tahu.” Siwon merasa tersinggung dengan kalimat ibunya. Siwon terdengar seperti pria yang tidak laku. Meskipun pada kenyataannya, Siwon memang nyaris tidak pernah pergi keluar untuk kencan selama beberapa tahun terakhir.

“Kapan? Dengan siapa?” sang Ibu juga menggunakan nada tinggi miliknya.

“Kenapa aku harus melaporkannya pada ibu? Ini hidupku! Ibu tak usah terlalu ingin tau!”

“CHOI SIWON!” Nyonya Choi itu berteriak keras. Anaknya yang satu itu sungguh kurang ajar! Rasanya sakit sekali ketika anakmu sendiri berkata hal demikian. Padahal perempuan paruh baya itu hanya mencoba yang terbaik untuk membahagiakan putranya.

Siwon sendiri terpaku karena teriakan ibunya. Menyadari bahwa kali ini kelakuaannya memang sungguh sangat tidak sopan. Namun ia selalu tak bisa menahan diri setiap kali ibunya mulai membawa gadis yang tak jelas juntrungannya hanya untuk Siwon nikahi.

“Aku minta maaf, Bu.” Ujar Siwon pelan. “Aku selalu tak bisa mengontrol emosiku setiap kali Ibu membawa topik ini kedalam perbincangan kita.”

Nyonya Choi itu terdiam. Masih cukup sakit hati dengan perkataan anaknya itu. Siwon sendiri bangkit dari kursinya. Memeluk ibunya dengan hangat sebagai permintaan maaf. Menyesali kelakuannya karena membuat perempuan yang begitu dihormatinya itu terluka karena kata-katanya.

“Baiklah… aku akan melihatnya nanti. Dan memilih salah satu. Tapi ku mohon biarkan aku bekerja dulu saat ini, okay?” tutur Siwon pada akhirnya.

Ibu kandung Siwon itu tersenyum senang mendengar kalimat putranya. “Pastikan kau memilih satu.” Kata Kim Heechul sambil memandang iris gelap milik putranya. Perempuan itu kemudian berlalu dari ruang kerja anaknya. Menyisakan bunyi beradu antara heels yang dikenakannya juga lantai marmer.

Siwon tersenyum masam kemudian. Ia kembali duduk diam di kursinya sepeninggal sang ibu dari ruang kantornya. Wajahnya menatap file yang diberikan sang ibu dengan tanpa minat. Lalu menumpuknya begitu saja dengan berkas kantornya yang lain. Tak peduli!

Ia memutuskan untuk membuka salah satu laci terbawah di mejanya itu. Ada sebuah kotak perhiasan kecil disana, beserta selembar foto. Siwon membawa foto itu kedepan matanya. Menatap gambaran perempuan manis berwajah bulat yang sedang dikecup mesra oleh Siwon. Potret lama yang membuat Siwon sesak, hingga menarik dasi yang tengah dikenakannya. Potret lama yang membuat Siwon tak bisa jatuh cinta lagi. Hatinya beku dan terasa rusak.

Sesak dan luka itu bertambah ketika Siwon membalik selembar potret tersebut. Menatapi tulisan tangannya, dan sepasang cincin yang masih tergeletak manis di tempatnya. Soon to be Mrs. Choi. She is my all. Pada kenyataannya, tulisan itu hanya delusi.

 

“Aku juga ingin jatuh cinta lagi, Mom.” Lirih Siwon, “Aku ingin menggunakan hatiku untuk mencintai lagi.”

.

 

.

 

Siwon masih dengan setelan kantornya yang lengkap saat ia mengemudikan audi metallic kesayangannya di jalanan kota Seoul. Langit sudah sangat gelap dan ia merasa sangat lelah baik fisik maupun psikisnya. Wajar saja, ini sudah nyaris pukul sepuluh malam –dan ia sudah lembur lebih dari tiga jam.

Sialnya, sopirnya mengambil cuti mendadak. Hingga Siwon ditinggal di kantor sejak jam makan siang lalu. Menyesal sekali ia membiarkan sopirnya mengambil cuti dan tidak menelepon jasa sopir pengganti. Sekarang ia jadi bersusah-susah untuk menyetir mobilnya sendiri. Terlihat menyedihkan!

Audi itu melaju lambat saat menghadapi lampu merah. Jalanan sepi membuat Siwon berpikir melantur. Bukan, bukan karena Siwon takut hantu –karena Siwon sungguh takkan terpengaruh pada hal-hal seperti itu. Dibanding hantu, Siwon lebih takut pada makhluk hidup. Kecoa terbang atau mungkin orang jahat. Jalanan sepi seperti ini rawan–

DUG DUG DUG!

-orang jahat.

Siwon terdiam saat merasa jendela dibagian penumpang itu diketuk seseorang dari luar. Matanya memicing. Sayangnya, langit gelap dan penerangan yang tidak memadai membuat Siwon tak mampu menangkap sosok itu.

DUG DUG!

DUG DUG DUG DUG DUG!

Lagi. Jendelanya di ketuk lagi –bahkan dengan suara lebih keras dari sebelumnya.

Biasanya Siwon tidak akan peduli dan mengabaikannya begitu saja. Namun entah kenapa, saat ini Siwon malah berniat untuk menurunkan sedikit kaca jendelanya. Sialnya, bukannya menekan tombol untuk menurunkan jendela, Siwon malah menekan tombol pembuka pintu otomatis. Sehingga pintu bagian penumpang terbuka begitu saja. Dan Siwon sukses untuk dibuat cukup kaget saat melihat penampakan manusia yang terbungkus jaket kebesaran hingga sebagian wajahnya tenggelam di jaket itu duduk di kursi penumpang. Membanting pintu mobilnya dengan kasar sambil celingak-celinguk menatap sekeliling.

Ajussi, lampunya sudah hijau!” Suara orang itu memekik nyaring sehingga mengagetkan Siwon. Membuat pemuda Choi itu melajukan mobilnya begitu saja tanpa sempat bertanya siapa orang asing yang dengan tidak tahu diri duduk begitu saja di dalam mobilnya.

Dan Siwon, kau benar-benar terlihat seperti sopir sekarang!

“YAK! YAK! YAK! Kenapa berhenti?” orang asing itu berteriak saat menyadari laju mobil Siwon melambat dan mulai menepi. Sudah agak jauh dari jalanan sepi tadi, namun si orang asing itu tetap menatap kesekeliling dengan kebingungan dan agak takut.

Siwon menyalakan lampu di mobilnya untuk melihat penampakan orang asing itu dengan lebih jelas. “Siapa kau?” Siwon tidak membentak, tapi justru menggunakan nada suara rendah yang membuat suasana sekitar langsung dingin dan terasa mengerikan.

Ajussi, tanya-tanyannya nanti saja! Sekarang tolong aku dulu. Aku dikejar-kejar orang jahat, tadi!”

“Aku tidak peduli! Keluar kau dari sini!” usir Siwon. Ia menekan tombol pembuka pintu otomatisnya lagi kali ini.

Namun orang asing itu menariknya pintu mobilnya kembali, dan menutupnya dengan keras. Ia melihat ke arah belakang –dan seketika matanya membulat. “Aku akan jelaskan, tapi selamatkan aku dulu.”

“YAK! Berani sekali kau memerintahku?”

Ajussi, aku mohon.” Orang asing itu melancarkan puppy eyesnya –yang jujur saja tidak kentara karena minimnya pencahayaan. “Aku sedang dikejar oleh orang jahat Ajussi…”

“Kau pikir aku peduli?”

Ajussi tidak boleh begitu! Sesama makhluk Tuhan kita harus saling membantu!” memelas. Orang asing itu menggunakan nada memelas. “Aku sungguh-sungguh, Ajussi. Tolong aku!”

Siwon mengacak rambutnya dengan frustasi. Untuk pertama kalinya, Siwon mau menolong orang yang bahkan tidak dikenalnya. Kelak, ingatkan Siwon tentang kesalahannya malam ini jika ia menyesali tindakan ini di kemudian hari.

 

.

 

Orang asing itu kini duduk di sofa empuk di ruang tamu rumah pribadi Choi Siwon –dan dia adalah seorang gadis. Siwon perkirakan bahwa gadis itu masih duduk di bangku sekolah –atau mungkin baru memasuki bangku kuliah? Ya… sekitar ujung usia belasan. Mungkin sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun –mengingat gadis itu memanggil Siwon dengan sebutan Ajussi, tadi.

Ia mengaku bernama Jung Kyuhyun –dan baru saja dikejar-kejar debt collector karena tak mampu bayar hutang. Sialnya, ia tak membawa apapun selain kacamata minus dan telepon genggam yang kehabisan baterai. Tak ada kartu identitas yang bisa membuat Siwon percaya bahwa gadis kecil dihadapannya ini bukanlah seorang penjahat atau buronan polisi. Pakaian yang dikenakannya juga sedikit aneh. Siwon baru sadar bahwa gadis itu menggunakan piyama berwarna biru muda dengan motif teddy bear dibalik mantel kebesaran yang tadi digunakannya. Ya, mantel kebesaran yang sama sekali bukan ukuran gadis itu. Siwon yakin bahwa itu mantel pinjaman –atau mungkin sebuah mantel curian-, mengingat design mantel itu adalah design untuk laki-laki dan keluaran brand ternama. Siwon tahu akan hal itu karena ia pernah memilikinya juga. Belum lagi, kaki gadis bernama Kyuhyun itu juga hanya menggunakan kaus kaki berwarna senada dengan piyama yang dikenakannya –dan beralas sandal jepit. Rambutnya pendeknya di jepit acak-acakan. Mencurigakan!

 

“Rumahmu cukup besar.” Gadis itu tiba-tiba berkomentar tentang rumah pribadi Siwon –yang kenyataannya mirip sebuah mansion. Dan kata cukup yang digunakan gadis itu membuat Siwon sedikit tersinggung. Rumahnya sudah sangat mewah, apalagi untuk ukuran pria lajang yang tinggal sendirian seperti dirinya. Dan penggunaan kata cukup besar untuk menggambarkan rumah mewahnya adalah sebuah penghinaan.

“Asal kau tau, Nona… rumahku dengan blue house saja bahkan lebih besar rumahku.” Siwon sedikit menyombong. Ia tak rela jika anak kecil di hadapannya ini meremehkannya.

Gadis itu manggut-manggut. “Tapi sayang sumurnya kering.” Ejeknya. “Aku bahkan tidak disuguhi minum. Padahal aku tamu.”

Siwon menggeram mendengar ejekan konyol dari orang asing dihadapannya ini. “Mohon dengar baik-baik, Nona! Pertama, kau tidak berhak menghakimi kediamanku. Kedua, kau bahkan bukan tamu. Kau hanya orang asing –dan aku sedang bodoh saat itu hingga membawamu ke rumahku. Ketiga, aku tak berniat memberikan air untukmu, karena aku ingin kau segera angkat kaki dari rumahku ini!”

Gadis itu berdecak sebal. “Kau akan mengusir seorang gadis? Tengah malam begini? Bahkan ketika aku baru saja bercerita bahwa aku barusaja dikejar debt collector jahat? Tsk, kau benar-benar tak berperasaan.”

Siwon mengacak rambutnya untuk yang kesekian kalinya hari ini. Kesal setengah mati dengan gadis kecil dihadapannya. Apakah ini balasan dosanya terhadap ibunya karena ia sering membangkang? Makanya Tuhan mengirimkan makhluk cerewet ini yang membuat Siwon nyaris gila. Haish… rasanya Siwon harus sering-sering ke gereja untuk mohon ampun agar dihindarkan dari makhluk berisik ini.

“BIBI HWANG!” Siwon berteriak memanggil salah satu maidnya.

Perempuan paruh baya dengan seragam khas itu membungkuk sekilas, yang dibalas Siwon dengan kibasan tangannya. “Antarkan gadis ini ke kamar tamu dan berikan ia minum! Air putih saja! Dan jangan lupa, pastikan besok pagi ia sudah tak disini lagi.” Titah Siwon dengan suara tegas. Pria arogan itu berlalu. Meninggalkan si bibi paruh baya dengan gadis yang masih asyik duduk di sofa.

 

.

 

Matahari mulai naik setengah tiang. Siwon sedikit terjaga saat semburat sinar itu menggelitik menembus serat gorden kamarnya. Menerpa tubuhnya dan memberikan kesan hangat. Pria bertubuh kekar tak terkira itu menggeliat di balik selimutnya. Ia butuh waktu istirahatnya beberapa menit lagi mengingat semalam ia menghabiskan energinya dengan sia-sia untuk menolong orang asing dan berdebat dengannya. Tapi ia memaksakan diri untuk bangun karena teringat bahwa ia ada meeting dengan salah satu supplier jam sembilan nanti. Jadi, dengan sangat terpaksa, Siwon melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya. Melakukan ritual kebersihannya –seperti biasanya.

Semerbak aroma kopi menguar saat Siwon keluar dari kamarnya. Bersambung dengan wangi lainnya yang terasa manis. Wewangian itu membuat hidung Siwon tak henti untuk mengendus. Tumben sekali masakan Bibi Hwang menghasilkan aroma manis seperti ini –batin Siwon sambil melakukan sedikit peregangan.

“Selamat pagi, Ajussi.” Suara riang seorang gadis menyambangi gendang telinga Siwon. Pria maskulin itu mengernyit menyadari orang asing yang ditolongnya masih saja berkeliaran di rumah besarnya –bahkan tersenyum ceria seperti itu.

“Kau masih di sini?”

“Ya,” gadis itu manggut-manggut dengan semangat. “Aku membantu Bibi Hwang menyiapkan sarapan.” Tambahnya sambil menyodorkan secangkir kopi dan pancake yang berlumur saus madu serta sedikit taburan gula bubuk. “Cobalah!”

“Kau menaruh racun di dalamnya?”

Gadis itu mendecak sebal. “Curigaan sekali!” Kyuhyun memotong tumpukan pancake di hadapan Siwon dalam porsi sekali suap. Menusuknya dengan garpu dan melahapnya tanpa basa-basi.

“YAK! Kenapa kau memakannya?” marah Siwon.

“Kau kan takut aku racuni, aku hanya membuktikan padamu bahwa aku tidak menaruh racun didalamnya.” Kyuhyun menjawab enteng. “Nah! Sekarang kau makanlah.” Kyuhyun mendorong secangkir kopi dan pancake sisa itu lebih dekat lagi ke arah Siwon.

“Kau tidak mencoba kopinya sekalian?” Cibir Siwon.

Kyuhyun menggeleng. “Aku sakit maag. Tidak baik mengkonsumsi kopi untuk lambungku.” Ujar Kyuhyun polos. Gadis itu kemudian mengambil duduk dihadapan Siwon. Kyuhyun memiliki setumpuk pancake dan segelas air putih dihadapannya sendiri.

“Kau mau ikut makan bersamaku?”

“Aku hanya diberi SEGELAS air putih semalam, Ajussi. Aku kelaparan, tidak punya uang dan tempat tinggal.” Kyuhyun mengeluh. “Kau benar-benar tega untuk mengusirku?”

“Apa peduliku? Kita bahkan tak saling kenal!”

“Ck, Ajussi! Berhentilah bersikap begitu menyebalkan! Menolong orang yang kesusahan itu bagus. Tuhan mencintai orang penyayang.”

“Aku tak ingin jadi orang penyayang!” gerutu Siwon. Tanpa sadar pria itu menyuapkan sisa pancake yang tadi dimakan Kyuhyun ke dalam mulutnya. Merasakan sensasi manis yang menggelitik indera perasanya. Masakannya berbeda dengan milik Bibi Hwang.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Meneguk banyak-banyak air putih dan menahan diri untuk tidak menyemburkannya pada pria arogan dihadapannya.

“Dimana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu.” Kata Siwon mencoba berbaik hati.

Kyuhyun menelan air dalam kulumannya. “Rumahku disita, makanya aku kabur dan tidak sempat membawa apapun.”

“Orang tuamu? Kerabat?”

“Mereka… uhm… aku…” Kyuhyun menunduk –tidak memberikan jawaban yang jelas. Air mukanya nampak berubah dan Kyuhyun terlihat semakin gugup.

Siwon jadi sedikit merasa bersalah membuat gadis kecil itu sedih. “Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi tentang itu. Jadi, nanti  aku akan mengirimu ke dinas sosial saja.”

Kyuhyun mendadak menggeleng keras. “Kenapa dinas sosial?”

“Lalu kau mau tinggal dimana? Ku tanya tentang kerabat dan orang tua kau diam saja. Tak ada pilihan lain, kan?”

Kyuhyun menghela napas kasar. “Ajussi… aku tak ingin pergi ke dinas sosial…” tolak Kyuhyun, “Bagaimana jika aku bekerja untukmu?” cetus Kyuhyun tiba-tiba.

“MWO? ANDWAE… NO. BIG NO!”

“Aku bisa memasak dan membuat kopi.”

“Memasak pancake terlalu manis dan kopi dengan rasa yang mengerikan seperti ini?” ejek Siwon.  Padahal pancake miliknya sudah tidak bersisa sedikitpun. Dan kopi buatan Kyuhyun juga hanya tinggal bersisa seperdelapan cangkir. Kentara sekali bohongnya si Choi Siwon itu!

Tapi Kyuhyun tidak ingin mendebat hal itu saat ini. Ia sedang butuh uang dan tempat tinggal. Bisa celaka jika ia mulai mendebat Siwon dan berakhir dengan dikirimnya Kyuhyun ke dinas sosial.

“Aku bisa membersihkan rumahmu.”

“Kau tidak lihat berapa banyak maid yang aku miliki?”

“Aku bisa membantumu mengerjakan tugas kantor.”

“Aku bahkan tidak yakin kau lulus SMA!”

Kyuhyun berdecak sebal. Kau sungguh tidak tahu siapa aku, Ajussi jelek? –gerutu Kyuhyun dalam hati. Namun Kyuhyun tidak mengungkapkannya. Gadis itu malah tampak menunduk dan nyaris menangis. Air mata buaya! Kerena dalam kepalanya, ia tengah berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan jika Ajussi jahat dihadapannya ini benar-benar mengusirnya.

Sekalipun Siwon bukanlah malaikat, Siwon juga bukan iblis. Ia tentu tak tega melihat gadis kecil dihadapannya itu nyaris menangis. Jadi, Siwon menghela napasnya lagi –dan membuat keputusan yang mungkin akan disesalinya kemudian hari. “Baiklah anak kecil… kau bisa bekerja untukku. Dan tugas pertamamu, bereskan semua kekacauan ini.” Ujar Siwon sambil meninggalkan meja makan. Paling ia takkan tahan bekerja denganku lebih dari seminggu. –batin Siwon.

Kyuhyun terlihat tersenyum dengan keputusan Siwon. Ia memasang wajah riang sebelum membereskan piring-piring kotor sisa sarapan. “Gomawo, Ajussi!” Kyuhyun menjerit mengucapkan terimakasih.

Siwon hanya mengulum senyumannya mendengar suara gadis itu. Namun senyum itu lenyap seketika ketika Kyuhyun kembali berteriak, “Ajussi, bisakah aku sekalian pinjam beberapa baju serta charger untuk ponselku?”

.

.

 

.

 

Kyuhyun itu manis. Sangat manis malah! Dia juga cantik. Secantik Aprodith si dewi Yunani itu. Tapi Siwon tak ingin mengakui itu dihadapan orangnya. Nanti gadis petakilan itu bisa besar kepala. Bisa hancur harga diri Siwon nanti.

Hampir dua minggu berlalu, dan Kyuhyun masih bertahan dengan kelakuan ketus Siwon. Pencapaian yang ajaib. Meskipun sesekali menggerutu, tapi Kyuhyun tetap melayani Siwon dengan baik. Hasilnya, malah Siwon yang merasa dunianya di jungkir balikkan. Semuanya berubah, semenjak Kyuhyun turut menyumbang karbon dioksida di rumah besar Siwon.

Kyuhyun mulai suka mengurangi jatah kopi yang diminum Siwon. Tak baik untuk kesehatan, katanya. Sebagai gantinya, Kyuhyun akan menyeduh cokelat panas untuk Siwon sebagai pengganti kopi. Siwon juga tak lagi mampu menemukan malam-malamnya yang sunyi dan tenang. Siwon tak lagi bisa mengerjakan tugas kantornya di rumah karena Kyuhyun akan dengan kurang ajarnya merecoki Siwon setiap kali pria kekar itu berkutat dengan laptop di ruang kerjanya. Dan setiap saat Siwon pulang dari kantor, ia pasti mendapati Kyuhyun masih terjaga. Menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan bibi Hwang, membaca koleksi buku yang dimiliki Siwon, atau kadang menonton TV dengan wajah bosan. Dibanding seorang maid, kelakuan Kyuhyun di rumah Siwon lebih mirip seperti si pemilik rumah. Seenaknya sendiri! Kyuhyun bahkan jarang memanggil Siwon dengan sebutan Tuan. Gadis itu lebih suka memanggil Siwon dengan panggilan Ajussi. Dan herannya, Siwon tak pernah marah sama sekali.

Siwon malah jadi terbiasa dengan keberadaan Kyuhyun di sekelilingnya. Seolah hal yang benar membiarkan Kyuhyun terus berada di sekitarannya. Siwon suka sekali berdekatan dengan Kyuhyun. Meski itu hanya sekedar menemani gadis itu memasak atau mengobrol. Ia selalu bisa mengendus aroma apel dan vanilla yang menguar dari tubuh gadis itu. Sensasinya selalu berhasil membuat Siwon lupa diri.

“Mungkin kau sedang jatuh cinta?” komentar Lee Donghae –sekretaris sekaligus sahabat Siwon sejak masa sekolah dulu.

Saat ini, mereka –Siwon dan Donghae- sedang berada di salah satu café di kawasan Apgujeong-dong. Menikmati makan siang sambil mengobrol ringan. Dan Siwon lagi-lagi bercerita tentang gadis asing itu. Ah… pria bermarga Lee itu suka sekali mendengarkan cerita Siwon tentang orang asing yang dipungutnya dari jalanan itu. Ia merasa bahwa sahabatnya itu terlihat lebih hidup.

Tapi Siwon sepertinya tidak mengamini pendapat Donghae. Pria bermarga Choi itu malah terlihat melamun sembari memandangi americano dihadapannya dengan intens. Tanpa sadar, celotehan Kyuhyun tentang bahaya mengkonsumsi caffeine berlebihan berkelebat di kepala Siwon.

Sepertinya pengaruh Kyuhyun pada Siwon sudah melekat begitu kuat, ya?

“Apa kau yakin bahwa itu perasaan cinta, Hae?” tanya Siwon ragu.

“Kau nyaman, bahagia setiap kali bersamanya. Apa lagi?” Donghae mengeluarkan asumsinya.

“Tapi bukankah aku sudah jatuh cinta pada Kibum?” ujar Siwon. Menyebutkan nama permpuan yang telah membuat hatinya beku untuk perempuan lain.

“Kau kira jatuh cinta hanya bisa terjadi satu kali?” Donghae mendengus tak suka. “Lagipula perempuan itu sudah pergi meninggalkanmu, Siwon. Apa yang kau tunggu dari dia? Kau menunggu untuk disakiti lagi?”

“Tapi Kyuhyun orang asing, Hae. Aku bahkan tak mengenalnya.”

Donghae memasang senyum asimetrisnya. Menyuapkan tiramisu ke mulutnya sebelum menimpali ucapan Siwon. “Kau juga mengenal Kibum semasa kuliah. Dia orang asing juga bagimu pada awalnya, bukan?”

“Tapi…”

“Berhenti mencari-cari alasan, Siwon!” pinta Donghae. “Empat tahun terpuruk karena seorang gadis, aku rasa itu bukan hal yang bagus! Jangan terus bersembunyi dalam gelapmu, Siwon. Karena gelap takkan bisa mengusir gelap –hanya terang yang bisa. Keluarlah! Mungkin dengan begitu kau bisa menemukan setitik cahaya. Atau bahkan kau bisa mengenal pelangi. Jangan biarkan hatimu beku hingga tak mampu mencintai lagi, Siwon.”

Tapi prakteknya tidak semudah saat mengucapkannya! Selama empat tahun ini Siwon juga berusaha untuk membuka hatinya. Namun bayangan tentang mantan kekasihnya itu –Kibum- terus menerus menghantui Siwon. Memberikan keyakinan pada Siwon bahwa gadis itu akan kembali pada waktunya nanti. Meski selama empat tahun ini, penantiannya tak membuahkan hasil. Kibumnya itu tak tau bersarang dimana.

“Lupakan Kibum, dan mulai hidupmu yang baru!” ujar Donghae. “Bahkan jika kau tidak menyukai orang asing yang kau bawa ke rumahmu itu, kau bisa memulai kencan dengan wanita yang dibawa ibumu.”

“Aku lupa bagaimana caranya mencintai, Hae.”

 

“Bukan, Siwon… kau bukannya lupa cara mencintai. Tapi kau takut ditinggalkan lagi. Seperti Kibum meninggalkanmu demi lelaki lain. Kau hanya terlalu banyak berpikir tentang resiko yang mungkin akan terjadi hingga kau tak bisa menikmati hidupmu. Jadi berhenti terlalu banyak berpikir, dan jalani saja! Nikmati hidupmu, Choi sajangnim!

 

.

 

Sore ini Siwon pulang lebih awal. Bahkan ketika matahari belum terbenam sempurna, mobil Siwon sudah berada di pelataran parkir. Mungkin karena ini menjelang akhir pekan? Kyuhyun tidak tahu pasti. Kyuhyun hanya merasa senang karena melihat Siwon pulang cepat.

“Kau pulang cepat, tuan Choi?” kata Kyuhyun yang cengengesan menyambut keadatangan Siwon. Ia membawakan tas dan jas Siwon. Terlihat seperti seorang istri yang baru saja menyambut suaminya pulang.

“Kau tau, aku menemukan sesuatu yang hebat dari gudangmu.” Kata Kyuhyun sambil menunjuk gitar –yang sengaja ia letakkan di sofa ruang tamu- dengan menggunakan dagunya.

“Gitar?”

“Ya! Tidakkah itu hebat?”

Siwon yang lelah hanya mengibaskan tangannya dan berlalu menuju kamarnya. Enggan menanggapi. Itu membuat Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Ajussi yang satu itu memang tidak ada manis-manisnya! Kyuhyun menaruh seluruh barang-barang milik Siwon itu di tempat yang semestinya. Gadis itu berniat menyiapkan air hangat untuk mandi sang majikan. Tapi Siwon malah menjentik dahi Kyuhyun, membuat gadis itu meringis.

“Keluarlah dari kamarku!” titah Siwon. “Aku bisa menyiapkan ini sendiri.”

Kyuhyun hanya menggendikkan bahu, “Terserah saja.”

Kyuhyun memilih mengambil mantel tebalnya di kamar dan kemudian kembali ke ruang tamu. Memeluk gitar temuannya itu sambil memandang langit sore memalui jendela. Kyuhyun suka sekali pada gitar. Sayangnya ia tak bisa memainkannya sedikitpun. Hingga gitar itu hanya jatuh di pelukan Kyuhyun saja. Kyuhyun memetik senarnya dengan gaya yang tidak jelas. Menghasilkan nada sumbang yang membuat telinga gatal.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Siwon yang tiba-tiba muncul. Tampilannya sudah lebih segar dari sebelumnya. Kyuhyun yang terkaget-kaget langsung menegakkan duduknya. Pria kekar itu hanya mengenakan celana pendek dan kaus oblong berwarna putih. Kontras sekali dengan Kyuhyun yang bersembunyi di balik mantel tebalnya itu. Bahkan gadis itu juga ternyata mengenakan kaus kaki.

“Kau sakit?” tanya Siwon lagi. Ia berniat menempelkan punggung tangannya ke dahi Kyuhyun. Gadis manis itu sontak menarik badannya mundur.

“Aku baik-baik saja.” Kilah Kyuhyun. “Hanya merasa dingin.”

Siwon mengambil duduk di samping Kyuhyun. “Kau pucat.” Ujar Siwon sambil memperhatikan dengan intens penampakan gadis itu.

Aigoo, uri sajangnim ini perhatian sekali.” Goda Kyuhyun sambil memeletkan lidahnya.

Dalam hati Siwon menyesal karena telah memperhatikan gadis tak tau diri itu. Siwon kemudian mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Ia mencoba menatapi langit –meskipun lelaki itu yakin bahwa tak ada hal menarik dari langit sore ini.

Ajussi… mainkan satu lagu untukku.” Pinta Kyuhyun bersemangat.

“Tidak bisa!” elak Siwon. Enggan sekali menuruti permintaan gadis kecil menyebalkan itu.

“Tidak mungkin. Gitar ini ada di rumahmu. Mana mungkin kau punya gitar tapi tak bisa menggunakannya?”

“Aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa!” ketus Siwon.

“Huh, pelit sekali.” Kyuhyun cemberut lagi. Gadis itu mulai lagi kegiatannya –memetik gitar dengan asal.Lalu menggumamkan lagu yang cukup familiar. Sayang sekali gumaman indah Kyuhyun itu hanya diiringi oleh nada-nada sumbang tak beraturan.

Siwon gatal juga rupanya. Akhirnya ia mengambil alih gitar itu dan memetikkan nada-nada yang membuat Kyuhyun tersenyum. Ia mengenal intro lagu itu. Pada ketukan keempat, Kyuhyun memutuskan untuk menyanyikan lagu itu dengan nada menggoda Siwon.

 

Oneureun museum irin geoni?

Ureottdeon eolgul gateungeol

Keuga neo-ui maeumeul apeuge haettni?

Naegen sesang jel sojunghan neoinde

Namun Siwon tak menyambung nyanyiannya. Gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya sebal. Mencubiti Siwon dengan bertubi-tubi. Pria kekar itu hanya tertawa tak jelas dan sesekali mengaduh kesakitan. Baru ketika lagu mendekati  refrain bagian akhir Siwon mulai menyambung lagunya.

Niga wooseumyeon nado joha…  neon jangnanira haedo..

Neol gidaryeottdeon nal, neol bogosipdeon bam

Naegen beonchan haengbok kadeuk hande…

Naneun honjayeodo gwaencanha

Neol bol suman ittdamyeon

Neul neo-ui dwieseo, neul neol baraboneun

Keuge naega kajin mokshin geotman kata. 

 

Kyuhyun bertepuk tangan saat Siwon berhasil menyelesaikan lagu itu. Bohong besar saat Siwon berkata bahwa ia tak bisa memainkan gitar. Buktinya, permainannya tadi bagus sekali.

Hanbeonman?” pinta Kyuhyun.

Siwon menggeleng.

“Ayolah…” pinta Kyuhyun.

“Ada syaratnya.”

“Apa?” tanya Kyuhyun antusias.

Siwon meminta Kyuhyun mendekatkan telinganya dengan isyarat tangan. Niat awal Siwon sebenarnya hanya ingin berbisik keras-keras di telinga Kyuhyun. Demi menggoda gadis itu. Sungguh! Namun aroma apel yang menguar dari rambut pendek Kyuhyun itu benar-benar membuat Siwon tak terkendali hingga menempelkan bibirnya di pipi mulus Kyuhyun.

Kyuhyun sempat terpaku beberapa detik. Menikmati sentuhan bibir itu dipipinya. Namun dengan segera ia menarik diri beberapa inch dari Siwon.

“A-ak-aku… aku akan menyiapkan makan malam.” Kyuhyun berujar dengan gugup. Berlalu melewati Siwon bahkan sebelum pria itu sempat mengatakan apapun.

Siwon masih kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan. Namun entah kenapa ia tidak menyesal. Ia menyentuh bibirnya dan merasakan sensasi menggelitik –yang tidak pernah ia rasakan ketika masih berhubungan dengan Kibum dulu. Bahkan dengan kecupan singkat itu, Siwon menyadari bahwa dirinya memang tengah jatuh cinta. Seperti yang Donghae bilang.

Di sudut lainnya, Kyuhyun juga melakukan hal yang sama. Ia menyentuh pipinya. Merasakan sisa bibir Siwon disana. Mengingat kejadian beberapa detik lalu dan merasakan jantungnya yang berdebar keras. Wajahnya terasa panas saking gugupnya karena kejadian tadi. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik perut.

Kyuhyun tak pernah tau perasaan sejenis ini sebelumnya. Namun hati kecil Kyuhyun merasa bahagia. Entah bagaimana, tapi gadis itu merasa bahwa ia diinginkan. Dicintai.Sampai akhirnya gadis itu terbatuk kecil. Batuk yang membuat Kyuhyun merasa kesal, lelah dan lemah. Batuk yang membuat senyum Kyuhyun menghilang. Batuk yang menyisakan sedikit noda merah di sudut bibir gadis itu.

.

 

.

 

.

Tidak hanya ekonomi yang bisa mengalami krisis, tapi cinta juga bisa!

Hubungan Siwon dan Kyuhyun berubah menjadi canggung. Kyuhyun tak memang pernah mengatakan apapun sejak ciuman singkat itu terjadi. Gadis itu juga tak pernah membahasnya sekalipun. Tapi justru itu yang membuat Siwon merasa buruk!

Bagaimana tidak? Kyuhyun mulai menjaga jarak dengan Siwon. Ia tak lagi menemani Siwon sarapan atau menunggui Siwon pulang kantor. Siwon tahu dengan pasti bahwa gadis itu sebisa mungkin menolak berinteraksi secara langsung dengannya. Tapi itu sungguh membuat Siwon merasa tidak nyaman.

Siwon merasa tidak bisa melakukan apapun dengan benar jika ia memulai paginya dengan tidak melihat Kyuhyun. Siwon seringkali terserang insomnia jika ia tak mendengar celotehan Kyuhyun sebelum tidur. Siwon merindukan masa-masa dimana Kyuhyun merecokinya bekerja hingga larut malam karena tak ingin Siwon kelelahan. Siwon rindu Kyuhyun yang cemberut karena Siwon terlalu banyak minum kopi.  Ini membuat pria itu nampak menyedihkan, bukan? Dan Siwon sungguh tak betah dengan suasana seperti ini. Jadi, setelah hampir empat hari menjalani perang dingin dengan Kyuhyun, Siwon memberanikan diri untuk mengibarkan bendera putih lebih dulu.

Kyuhyun mulanya sedang bercengkrama dengan bibi Hwang untuk mendiskusikan menu makan malam. Tapi gadis itu menjadi begitu diam saat ia melihat Siwon memasuki dapur. Siwon sendiri masih mengenakan setelan kerjanya. Pria itu memberikan kode untuk bibi Hwang agar segera menyingkir dari sana.

“Apa yang kau masak?” Siwon bertanya dengan nada jenaka. Berharap kalimat pembuka itu bisa menghapus jarak yang membuat mereka canggung.

Nugget.” Jawab Kyuhyun singkat.

Siwon mencomot nugget buatan Kyuhyun. mencocolnya dengan saus sambal. Melahapnya ke dalam mulut. “Ini enak.” Komentar Siwon. Namun Kyuhyun tak memberi respon apapun. Padahal biasanya gadis itu akan kegirangan saat hasil kerjanya dipuji.

Siwon kemudian mencoba mengganggu Kyuhyun; mengacak-acak masakannya, menambahkan banyak rempah-rempah ke masakan Kyuhyun, bahkan mengganggu Kyuhyun yang sedang memotong paprika. Namun Kyuhyun seolah tak terpengaruh. Itu membuat Siwon semakin kesal.

“Bisakah kita bicara?” ujar Siwon pada akhirnya. Ia sungguh kesal setengah mati karena tak kunjung mendapat respon dari Kyuhyun.

Kyuhyun diam saja. Gadis itu lebih memilih berfokus pada potongan-potongan sayuran yang akan disajikan untuk makan malam.

Siwon yang gemas langsung mematikan kompor-kompor yang masih menyala dan menarik Kyuhyun menjauhi bahan makanan itu. Ia memaksa Kyuhyun untuk menatapnya. “Kyuhyun-ah!”

“Apa?” Kyuhyun mencoba untuk terdengar marah. Ia berusaha untuk menjadi segalak yang ia bisa.

Siwon jelas-jelas terlihat frustasi karena sikap Kyuhyun itu. “Aku minta maaf.” Ucapnya lirih. “Jika kau marah padaku karena kecupan beberapa hari lalu, aku sungguh minta maaf!”

“Aku tidak marah.” Elak Kyuhyun. Gadis itu mencoba mengalihkan wajahnya dari Siwon. Tapi Siwon malah menangkup pipinya dengan kedua lengan kekarnya. Hingga Kyuhyun tak mampu berkutik.

“Tapi kau mengabaikanku.”

“Aku tidak seperti itu, Tuan Choi!”

“Kau selalu sudah tidur tiap kali aku pulang kantor!”

“Itu karena  kau pulang terlalu larut.”

“Kau tak pernah menemaniku sarapan lagi.”

“Aku ini maidmu, Tuan Choi. Tak sopan jika aku bergabung di meja makan yang sama denganmu.”

“Kau tak pernah mengatakan soal itu sebelum-sebelumnya.” Siwon merengut. Pria itu melangkah pelan-pelan hingga membuat Kyuhyun tersudut. Pergerakan Kyuhyun terkunci. “kau membuatku gila, Nona Kyu.”

“A-apa maksudmu.” Kyuhyun gugup.

“Kau mendiamkanku. Menolak berbicara padaku, mengacuhkanku, bahkan karena kau, aku jadi banyak minum kopi!”

“Kenapa kau menyalahkanku?”

“Itu karena… karena…”

Kyuhyun menunggu jawaban Siwon.

“Aku tak tau karena apa!” Siwon menjawab ketus. “Aku hanya berpikir bahwa aku mulai terbiasa menghirup aroma kopi buatanmu sebelum terbangun, aku mulai terbiasa mendengar celotehanmu sebelum aku tidur. Aku terbiasa melihatmu berada di sekelilingku. Aku hanya merasa bahwa keberadaanmu di sekelilingku membuat semuanya terasa benar. Tepat. Dan ketika kau mengabaikanku, aku menjadi asing –seolah semua yang ku lakukan salah…”

Siwon mengambil jeda. “Aku tak tau perasaan apa ini…tapi aku tak tahan lagi dengan semua pengabaianmu!”

“Kyuhyun-ah…aku menyukaimu.” Lirih Siwon, tepat di telinga Kyuhyun. “Entah apakah ini terburu-buru atau tidak, aku tidak peduli. Yang aku tau adalah aku membutuhkanmu. Semuanya terasa tepat saat kau disini.”

“A-aku…” Kyuhyun gugup. Terlebih, Siwon mengunci pergerakannya. Rasanya dada Kyuhyun kembali berdebar keras.

“Jangan terburu-buru menjawab.” Kata Siwon.  “Aku bisa menunggu jawabanmu. Hanya saja, berjanjilah satu hal padaku…”

“Apa?”

“Jangan mengabaikanku lagi.” Kata Siwon.

Pria itu sungguh tak bisa menahan hasratnya. Ia melumat bibir Kyuhyun dalam. Memberikan gigitan-gigitan kecil agar diberikan akses penuh untuk menyapa setiap mili rongga mulut Kyuhyun. Kyuhyun tak bisa menolak. Pria itu memperlakukannya dengan terhormat. Ciuman itu tidak terlalu menuntut meskipun Siwon lebih mendominasi. Lagi-lagi, hanya karena sebuah ciuman, Kyuhyun merasa bahwa dirinya begitu diinginkan oleh Siwon.

Kedua insan itu melepas ciuman manis mereka saat Kyuhyun sudah terlihat nyaris kehabisan nafas. Siwon menyeka jejak saliva di bibir Kyuhyun.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Siwon. Pria itu khawatir saat mendapati bercak merah di sudut bibir Kyuhyun. “Apakah aku melukaimu saat kita berciuman barusan?”

“kenapa?” Kyuhyun tak mengerti.

“bibirmu…”

Kyuhyun mengontrol emosinya saat melihat bercak merah di jemari Siwon. Gadis itu kemudian menghapusnya. “Makanya kalau makan yang benar! Bagaimana bisa pria dewasa sepertimu memakan nugget saja sausnya belepotan kemana-mana.” Ejek Kyuhyun. Gadis itu menyeka ujung bibir Siwon dan menunjukkan bercak saus disana.

Siwon tertawa. Sedangkan Kyuhyun merasa takut. Ia tau dengan pasti noda apa yang ada di tangan Siwon tadi. Itu sungguh bukan pertanda baik.

.

 

.

 

.

 

Pagi ini Siwon bangun kesiangan. Tak ada aroma kopi buatan Kyuhyun seperti biasanya. Tak ada wangi waffle atau pancake dari arah dapur. Tak ada celotehan riang gembira.

Tak ada Kyuhyun!

Gadis itu menghilang dari kamar tamu yang biasa ditempatinya. Hanya meninggalkan secarik kertas bersama sederet hangeul diatasnya.

Aku pergi.

Terimakasih untuk segalanya, Choi Siwon.

Aku sungguh berharap kita bisa bertemu lagi.

 

Kyu-

 

 

.

 

.

.

Siwon frustasi!

Ia sungguh menyesal karena terlalu terburu-buru menyampaikan perasaannya. Ia salah memperhitungkan pengakuan cintanya. Lelaki yang katanya pengusaha penguasa Asia itu tak mampu melakukan pekerjaannya dengan benar selama beberapa hari terakhir. Kyuhyun yang menghilang membuat otak Siwon terasa lumpuh.  Bodohnya, Siwon benar-benar baru menyadari bahwa ia tak tahu apapun tentang Kyuhyun. Ia bahkan tak tau nomor ponsel gadis itu!

Berkali-kali Siwon membaca setumpuk berkas yang disodorkan sekretarisnya sejak sejam yang lalu. Namun nihil. Tak ada satupun kalimat dari berkas-berkas itu yang ditangkapnya. Tempurung kepalanya itu sudah penuh dengan Kyuhyun. Tak mampu memikirkan yang lainnya lagi. Dan hatinya, cemas setengah mati mengingat betapa gadis itu tak memiliki siapapun. Siwon takut Kyuhyun tidur di jalanan dan diganggu orang jahat. Semua ketakutan-ketakutan yang dirasakan Siwon agaknya membuat sang presdir itu bertambah tua sepuluh tahun.

Siwon tak tau akan semenyakitkan ini jadinya. Mencintai, lalu ditinggalkan. Dan Siwon merasakan ini untuk yang kedua kalinya. Bahkan ketika dulu Kibum melakukan ini padanya, rasanya tidak senyeri ini. Siwon merasa bahwa dirinya sudah mulai gila hanya karena Kyuhyun.

Kenapa kau datang, jika hanya sekedar singgah dan kemudian berlalu tanpa berniat untuk tinggal?

 

BRUK

Kertas-kertas file itu jatuh berantakan. Berceceran. Membuat kesal Siwon kian menjadi. Setelah Kibum, lalu kemudian Kyuhyun yang tiba-tiba saja pergi, apa kertas-kertas file itu juga enggan berada dalam genggaman Siwon?

Siwon nyaris berteriak marah, jika saja sudut mata elangnya itu tidak menangkap sesuatu yang menarik. Map berwarna violet yang berminggu-minggu lalu dilemparkan ibunya ke mejanya itu terbuka. Menampilkan potret gadis yang Siwon kenal. Kyuhyun. Namun dengan marga Cho di belakang namanya, bukan marga Jung seperti yang Kyuhyun katakan di pertemuan pertama mereka. Sebuah senyum terkembang di bibir Siwon. Aku menemukanmu.

.

 

.

 

.

Kertas file yang diberi ibunya tempo hari itu membawa Siwon pada sebuah rumah mewah di kawasan Cheondam-dong. Harusnya Siwon tahu bahwa Kyuhyun bukanlah orang biasa –mengingat gadis itu menggunakan mantel keluaran brand ternama saat Siwon menemukannya. Dan sekarang, ketika Siwon memasuki rumah itu, ia disambut oleh Cho Yunho. Pemilik Cho Inc. yang juga merupakan rekanan bisnis perusahaanya.

Siwon awalnya hanya menyalami Yunho. Sekedar berbasa basi. Hal itu disambut ramah oleh Tuan Cho. Wajah pria paruh baya itu sedikit kaget karena relasi bisnisnya datang ke rumah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Terlebih, Yunho tak pernah membiarkan urusan bisnis sampai ke rumah.

Lalu ketika Siwon bertanya tentang Kyuhyun, dahi Yunho nampak mengkerut. Siwon menceritakan setiap detail pertemuannya dengan Kyuhyun. Cho Yunho –yang ternyata adalah ayah Kyuhyun- mendengarkan setiap kalimat Siwon dengan seksama. Sesekali mengangguk sebagai responnya. Puncaknya, wajahnya berubah kian suram ketika Siwon mengatakan bahwa ia sungguh ingin bertemu gadis manis itu.

Yunho tak mengatakan apapun hingga cerita Siwon berakhir. Pria itu tersenyum, lalu meminta Siwon meninggalkan mobilnya di mansion Cho. Siwon sempat bingung, namun Tuan Yunho itu hanya bilang bahwa ia ingin mengajak Siwon ke suatu tempat, dan pria paruh baya itu ingin berbincang dengan pemuda yang merupakan relasi bisnisnya itu.

.

 

‘Putri kecilku sedang sakit, Siwon-goon. Beberapa waktu lalu, dokter memvonis bahwa hepatitis yang di deritanya sudah berkembang menjadi sirosis.’

 

Kalimat itu Siwon dengar dari Yunho selama dalam perjalanan. Gadis yang sudah berhasil mencuri cintanya itu sekarang sedang sakit. Terbaring di salah satu kamar rawat Samsung Medical Center.

‘Kyuhyun begitu marah dan menolak semua pengobatannya. Ia pergi begitu saja dari rumah sakit. Aku sudah memerintahkan orang untuk mencarinya kemana-mana. Tapi Kyuhyun menghilang begitu saja. Ia sempat mengirimiku SMS yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja –tapi kemudian ponselnya tak aktif lagi. Aku meminta tolong orang untuk melacak ponselnya, namun semuanya nihil.’

 

“Kau memang anak bengal.” Cibir Siwon sambil mengamit jemari Kyuhyun. Gadis itu masih memejamkan mata. Meski tak ada satupun alat medis yang ditempel di bagian wajah Kyuhyun, tapi Siwon bisa melihat banyak kabel yang terpasang di balik piyama rumah sakit yang dikenakan Kyuhyun juga selang-selang infus di punggung tangan gadis itu. Siwon jadi bertanya-tanya seberapa parah kondisi gadis itu?

‘Tiga hari lalu ia pulang. Kondisinya cukup buruk.’

“Sepertinya ayahmu benar. Kondisimu memang masih terlihat buruk, Nona Kyu.” Siwon membelai halus pipi Kyuhyun. Wajah gadis itu lebih tirus dari yang Siwon ingat. Berapa banyak gadis itu kehilangan berat badannya beberapa hari ini?

‘Tapi ia sempat memohon padaku untuk melakukan apapun agar ia bisa sembuh. Ia ingin hidup.’

 

‘Putri kecilku jatuh cinta.’

 

“Aku sudah mengakui bahwa aku jatuh cinta padamu…” Ujar Siwon pelan. Bahkan angin tak mampu menyampaikan getar suaranya. “Bisakah aku berharap, bahwa kau membalas perasaanku?”

Kyuhyun bergerak pelan dalam tidurnya. Kecupan singkat yang baru saja dilayangkan Siwon sepertinya membuatnya terjaga. Butuh beberapa kali untuk Kyuhyun mengerjap sebelum benar-benar menyadari bahwa Siwon ada dihadapannya. Gadis itu tersenyum saat mendapati bahwa Siwon yang ada dihadapannya adalah nyata.

“Kenapa kau bisa menemukanku begitu cepat?” suara lemah Kyuhyun mengalun. Suara yang selalu Siwon rindukan. Suara yang beberapa hari terakhir menghilang tiba-tiba dari rumahnya.

“Karena kita jodoh?” canda Siwon, meski raut khawatir tetap tak lenyap dari wajahnya.

Kyuhyun mencebik. “Jawaban macam apa itu?”

Siwon menggendikkan bahu. “Kau merasa sakit? Perlu ku panggil dokter? Atau ayahmu?”

Kyuhyun menggeleng pelan.

“jadi, kebohongan apa lagi yang ingin kau ucapkan, Nona?”

Kyuhyun menggeleng lagi, “kecuali soal identitas, aku tak pernah berbohong apapun lagi padamu, Ajussi.”

“Kau tak pantas memanggilku ajussi, Nona Cho. Karena kita hanya terpaut tiga tahun.” Kini giliran Siwon yang memasang tampang kesal. “Padahal aku kira kau masih SMA.”

Kyuhyun terkikik –dan langsung disambung dengan ringisan kecil. “Kau tak pernah bertanya soal usiaku, Tuan Choi.” Kyuhyun mengganti tawanya dengan senyum kecil.

Siwon mengusap puncak kepala Kyuhyun dengan penuh sayang. Tanpa sadar air matanya terjatuh. Beginikah rasanya sakit karena melihat orang yang kau cintai sakit? Rasanya begitu menyakitkan ketika menemukan belahan jiwamu dalam keadaan seperti ini. Uh, mengapa Choi Siwon yang galak itu bisa begitu cengeng?

“Apa kau sedang menangisiku?”

Siwon menggeleng. Tapi Kyuhyun tau bahwa pria itu berbohong.

“Aku memang sekarat, Tuan Choi. Tapi aku belum mati. Jadi simpan dulu air matamu.”

Siwon mendengus tak suka karena ucapan Kyuhyun barusan. Gadis itu –dalam keadaan lemah dan kabel-kabel medis yang menempel di tubuhnya, masih sanggup berkata begitu? Kurang ajar sekali!

Tapi, bukankah Siwon sudah jatuh cinta pada gadis kurang ajar itu?

“Siwon Oppa… apa kau benar-benar jatuh cinta padaku?” tanya Kyuhyun sendu.

“Ya.” Siwon menjawab mantap, tanpa keraguan.

“Sejak kapan?”

Siwon menggeleng. “Apa itu penting? Bukankah yang terpenting adalah kenyataan bahwa saat ini aku jatuh cinta padamu? Aku juga ingin terus jatuh cinta padamu.”

“Tapi aku sakit.”

Siwon mengangguk, “Aku tau. Dan aku tetap mencintaimu.”

“Kau ingin aku berjanji di hadapan Tuhan bahwa aku akan terus mencintaimu dalam keadaan apapun? Tak peduli sehat maupun sakit –bahkan jika kau mengaku dikejar debt collector untuk kedua kalinya, aku akan tetap mencintaimu.” Canda Siwon.

Kyuhyun tersenyum kecil. Siwon baru saja menyindir soal kebohongannya waktu itu. “Kau tidak manis.”

“Aku bersungguh-sungguh, Kyu. Jika kau bersedia, aku akan melakukannya untukmu. Aku akan berjanji di hadapan Tuhan untuk terus mencintaimu.”

Apa itu artinya? Siwon barusaja mengajukan wedding proposal? Kyuhyun tak pernah membayangkan seseorang akan melamarnya dengan cara seperti ini. Di rumah sakit –dengan keadaan Kyuhyun yang dikelilingi peralatan medis. Sungguh jauh dari ekspektasi tempat romantis. Tapi Kyuhyun bahagia.

“Kau baru saja melamarku?”

“Tentu saja. Kau pikir aku sedang apa?”

“Tapi kau tak bawa cincin.” Kilah Kyuhyun. Padahal sedari tadi gadis itu tak peduli apakah Siwon bawa cincin atau tidak. Saat terbangun dan ia melihat Siwon disisinya saja, Kyuhyun sudah kegirangan setengah mati.

“Aku akan membawakannya untukmu jika kau benar-benar akan bilang ya.” Tutur Siwon. “Bagaimana?”

Kyuhyun terdiam. Ragu. “Kau mau menungguku? Appa bilang dia akan membawaku ke Jepang untuk pengobatan. Maukah kau menungguku kembali?”

Siwon menghembuskan napas panjang. “Berapa lama?”

“Aku tak tahu. Jika kondisiku memburuk, aku mungkin takkan kembali.” Tawa Kyuhyun terdengar sumbang. “Siwon, tak ada yang bisa ku janjikan padamu untuk saat ini. Aku sakit. Aku tak ingin– ”

“Dua tahun.” Potong Siwon. Ia sungguh tak ingin mendengar kelanjutan kalimat Kyuhyun itu. “Aku akan mendaftarkan diri untuk wajib militer selama kau menjalani pengobatan di Jepang. Jadi, lakukanlah pengobatan, dan kembalilah dalam dua tahun.”

“Jika aku tidak kembali?”

“Aku akan menyusulmu. Aku akan menikahimu, dimanapun kau berada.” Ujar Siwon. “Jadi pastikan kau kembali dan sehat dalam dua tahun! Arrachi?”

 

Kyuhyun tersenyum. Betapa ia bersyukur dalam hati karena telah begitu dicintai oleh seorang Choi Siwon.”Kau juga harus baik-baik selama wajib militer, eum?”

“Aku berjanji padamu.” Ujar Siwon. Ia mendekatkan bibirnya ke arah Kyuhyun.

“Choi Siwon…!” Kyuhyun membulatkan matanya saat Siwon menempelkan bibirnya pada bibir Kyuhyun. Mencoba menetralkan debar jantungnya sendiri agar tidak mempengaruhi monitor-monitor yang berada disamping ranjang Kyuhyun.

“Apa?” Tanya Siwon pura-pura bodoh.

“Aku kan belum gosok gigi. Kenapa kau menciumku begitu?” Gadis itu mencoba menyamarkan kegugupannya.

Siwon menaikkan alisnya. “Setelah mengobrol panjang lebar denganku, kau baru berfikir tentang gosok gigi?”

.

 

.

 

Dua Tahun Kemudian…

 

Langit Seoul nampak cerah. Beberapa pemuda dilepas dari camp militer usai menunaikan kewajibannya pada Negara. Siwon salah satunya. Pria itu melangkah dengan pasti, melewati kerumunan demi menemukan keluarganya sembari tangannya yang menggenggam erat bandul dari kalung yang menggantung di leher.

Di gerbang camp militer itu, ia melihat Ibunya dan juga Donghae melambai ke arahnya, menyambut kepulangannya.

Rasanya baru kemarin ia mendengar ibunya marah-marah karena Siwon memutuskan untuk menjalani wajib militer dibanding mencari jodoh. Sekarang, Siwon bisa mendengarkan keluhan ibunya lagi. Keluhan yang lebih panjang dari yang pernah Siwon dengar sebelumnya. Ibunya yang terus bertanya tentang kapan Siwon akan menikah, kapan Siwon akan memberinya cucu, dan kapan – kapan yang lainnya yang membuat telinga Siwon sakit dan terasa nyaris tuli.

Siwon memandang sekeliling. Mengabaikan sejenak sang ibu yang masih sibuk berceloteh soal jodoh dan menantu. Bola matanya sibuk mencari sosok yang berjanji akan menemuinya tepat saat ia keluar dari camp militer.

“Mencariku, Tuan Choi?” suara lembut yang selalu Siwon rindukan itu memaksa Siwon berbalik.

Perempuan yang selalu dicintainya itu berdiri di sana –dengan Tuan Cho yang beberapa meter berdiri di belakang Kyuhyun. Kyuhyun nampak lebih cantik dan lebih segar dari yang terakhir kali Siwon ingat. Siwon tersenyum. Melangkah pelan menghampiri gadis ia rindukan selama lebih dari 63.072.000 detik. Terdengar berlebihan? Tidak! Karena itulah kenyataannya. Sebanyak itulah Siwon merindukan Kyuhyun, bahkan di setiap helaan napasnya. Baik saat matanya terpejam maupun terjaga.

“Terimakasih sudah kembali.” Siwon memeluk Kyuhyun.

“Tidak. Aku yang harus berterimakasih.” Kyuhyun menggeleng dalam pelukan Siwon. “Terimakasih karena sudah menunggu.”

Siwon memberi jarak usai pelukan hangat mereka. Menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata Kyuhyun. Ia kemudian mengeluarkan kalung yang sejak lama ia gantung di lehernya. “Masih ingat?”

Kyuhyun mengangguk. Air matanya jatuh lagi.

Bandul kalung itu… cincin yang sengaja Kyuhyun pilih sebelum pergi ke Jepang, dua tahun lalu. Kyuhyun meminta Siwon untuk menyimpannya, agar saat bertemu nanti, Siwon bisa melamarnya dengan cincin itu.

Siwon mengambil bandul itu dari kalungnya. “I wanna grow old with you; stand beside you all the time; perfecting your imperfection. Would you be mine, from now to forever, ‘till death tears us apart?

Kyuhyun mencium Siwon. Hangat. Siwon yang diingatnya masih sama seperti yang Kyuhyun ingat dulu. “Semoga itu cukup sebagai jawaban.”

Siwon memasangkan cincin itu ke jari manis Kyuhyun dan kembali membawa Kyuhyun ke dalam pelukannya. Menggendongnya dan membawanya berputar dalam dekapannya. Tak peduli bahwa mereka akan jadi tontonan orang banyak disana. Beberapa orang bahkan sudah bersorak untuk mereka. Tak terkecuali Donghae dan Nyonya Choi yang sudah kelihatan heboh sendiri. Sedangkan Tuan Cho hanya memasang senyum manisnya yang berwibawa.

“Kau tau?” Kyuhyun berbisik dalam pelukan Siwon.

“Apa?”

“Aku mencintaimu… sangat.”

Siwon tersenyum. Ia kembali menempelkan bibirnya di bibir Kyuhyun. “Semoga itu cukup sebagai jawaban.” Siwon menggunakan kalimat yang digunakan Kyuhyun sebelumnya.

Siwon tak pernah menyesali hari dimana ia membawa Kyuhyun ke dalam mobilnya malam itu. Karena dengan begitu, ia bisa bertemu dengan jodohnya.

Ingatkan Siwon untuk berterima kasih pada ibunya. Jika hari itu ibunya tak membawa map violet itu, mungkin Siwon tak bisa bertemu lagi dengan Kyuhyun. Dan sang ibu harus menunggu untuk waktu yang lama lagi demi mendapatkan seorang menantu.

Ingatkan Siwon untuk mensyukuri perpisahannya dengan Kibum, karena jika tak begitu, Siwon takkan benar-benar bertemu dengan belahan jiwanya, yang benar-benar tepat untuk hatinya.

 

-KKEUT-

 

A/N: Awalnya saya pengen ngirimin cerita yang ini untuk kontes FF yang baru saja selesai di adakan blog ini beberapa hari lalu –bukan yang The Faith… tapi yaaaa~ karena satu dan lain hal, maka saya kirimin The Faith. Makanya jangan heran kalau kalimatnya banyak yang sama. Hahaha! Berhubung akan sedikit disayangkan jika FF ini menganggur begitu saja, maka saya bertanya sama adminnya untuk membiarkan FF absurd ini bertengger disini. Terlebih, aku juga pengen WKS yang lain baca ini.

 

Terimakasih untuk semua yang udah dukung ff saya kemarin. Terimakasih telah mencintai WONKYU. Spread Wonkyu’s Love!

 

Cheers,

Kakagalau.

 

Advertisements

26 thoughts on “Beautiful Stranger

  1. Aahhh ceritanya manis banget , ternyata dibalik keceriaan kyuhyun dia sakit ternyata .

    Huh untungnya happy ending

  2. untung saja kyuhyun kembali dg keadaan yg benar” sdh sehat
    kirain kyuhyun bner” msh anak sma disini, tp trnyta dia babyface.hehehe
    akhir yg bahagia buat wonkyu tu bnar” mnyenangkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s