Posted in BL, Drama, Oneshoot, Romance, WonKyu Story

LIBRA

LIBRA ( Adil dan tak adilnya hidup ini)

Autor : Cat meonks

Cats : Cho Kyuhyun Choi siwon, Choi Minho, dll

BL,Yaoi, Mpreg

Warning : typo berserakan dan bahasa kurang jelas,

cerita gaje namun asli hasil karya sendiri

INI PANJANG dan membosankan

(Cerita ini pernah aku tulis bukan Ff wonkyu tapi aku rubah dengan kisah Wonkyu walau ada perubahan teks)

^_^

.

.

.

.

Inilah pekerjaaanku sekarang. Menjahit satu demia satu mata pada bonekah. Hidup sebatang kara..oh tidak aku mempunyai adik perempuan yang masih kecil. Kadang aku masih belum percaya bila orang tuaku meninggalkanku yang masih membutuhkan mereka. Hidup dengan sisa angsuransi dan tabungan yang tak seberapa tak akan mungkin cukup bila aku tak berusaha mencari tambahan usaha.

Namaku Cho Kyuhyun sedangkan adik manisku bersama Cho Sulli. Rumah sederhana ini menjadi sunyi dan sepi sejak satu setengah tahun yang lalu larut bersama tangis dan duka mendalam. Perampokan di toko perihasan merengggut nyawa kedua orang tuaku. Dendam. Mungkin!! Bagaimana kau tak marah dengan perampok itu? Ahh…namun aku sudah semakin lelah menangis. Mau bagaimana lagi? Apa aku harus menyalahkan takdir? Perampok itu? Atau…keadaan yang salah? Lupakan… ini terlalu pahit.

” Oppa, mana sarapannya?’ suara itu membuyarkan lamunanku. Segera ku hapus air mataku dengan kasar. Menghela nafas dan meleparkan senyuman ke arah adikku yang terus menatapku. ” Oppa menangis lagi?’ tanyanya.

Aku segera mengelengkan kepala, ” Ini ada nasi goreng kimchi.” aku berusaha tersenyum.

” Tahu seperti itu aku akan bangun lebih awal.” keluhnya.

Aku hanya terkekeh kecil. Aku akui adiku lebih pandai dalam segela hal. Masak, bergaul, dan berhati lembut. Berbeda denganku yang akuh dan pendiam. ” Kau tak sarapan dulu…’ tanyaku ketika adikku tiba-tiba berjalan menjahui dapur.

“Tidak. Aku bosan memakan masakan tak enak buatan kakak.”

” YAH!!”

” Diamlah!! Aku bosan bertengkar denganmu. ” jawabnya sambil mengambil tas punggungnya, “Aku rindu masakan umma…” gumamanya namun masih dapat terdengar di gendang telingaku. Aku hanya mampu menundukan kepala. Andai waktu itu….

.

.

.

.

.

.

Pukul 09:00 aku ada janji dengan dosen pembimbingku untuk membahas bab 1. Lelet…iya semua sudah menginjak bab 3 sedangkan aku memulai saja belum. Aku terlalu fokus dengan pekerjaanku. walau sehari aku hanya menghasilkan beberapa ribu won saja.

” Oppa melamun lagi? Mana makan siangku?” sentakan itu sontak membuayarkan lamunanku. “Jangan karna asalan oppa bertemu dengan dosen dan melupakan makan siangku.”

Aku mengacak gemas rambut adiku. Dia terlalu bawel dan menyebalkan dalam waktu bersamaan.

“Yah!! Jangan buat malu aku di depan temanku.”

Aku baru sadar bila ada Minho disana. Pemuda itu tersenyum padaku. Ya walau Sulli dan Minho baru berteman satu tahun yang lalu namun mereka benar-benar tak terpisahkan.

“Jadi kau dengan calon adik iparku…”bisikku mengoda adikku.

“Dia bukan tipeku.” bantahnya.

“Lalu kenapa pipi merah ketika aku mengodamu…”

“YAHS!! INI EFEK PANAS BODOH…” aku terkekeh geli.

“Ehem… Bagaimana pun aku juga manusia disini…” aku tersenyum mendekatinya. “Kali ini menu apa yang hyung buat?? Sup laba-laba beracun atau… Kecoak saus pedas?”

“YAH!! KAU… okey terus saja menyerangku. Bagaimana pun aku ini jauh lebih yua dari kalian karna itu…”

“Hargai aku…”potong Sulli dan Minho secara bersamaan.

Aku hanya mengepalkan kedua tanganku. Dia itu memang tampan tapi sungguh aku tak menyangka lidahnya tajam bagai pisau. Demi Tuhan… Bila bukan karna dia sering mrmbantuku mencari pekerjaan aku akan…

“DASAR MALAIKAT BERHATI IBLIS…” sentakku kesal.

Dia terdiam. Sendu. Bukan ini hanya gurauan?? Kenapa wajahnya berubah tak nyaman? aku…

“Minho-sii..” dia tersenyum kaku dan aku tahu ada yang salah dengan ucapanku. Entah apa itu…

.

.

.

.

.

00:00

Hari ini aku benar-benar lelah namun masih ada dua karung bonekah yang harus aku pasang bola matanya. Tanganku sudah cukup sakit dengan tusukan itu jarum ketika aku mulai tak konsentrasi. Menyebalkan… Luka yang tak berdarah dan tak terlihat namun begitu sangat menyakitkan. Aku melangkahkan kaki keluar kamarku. Berjalan-jalan sebentar tak akan menghabiskan waktu banyak. Bosan..iya. Sangat. Dulu aku begitu menghandalkan orang tuaku. Aku sampai tak bisa menyalakan mesin cuci pertama kali aku melakukannya. Aku menangis semalaman karna tak mengerti apa itu masakan?? Sedangkan aku tak bisa membiarkan Sulli yang melakukannya. Aku tersenyun kecut lalu membuka kamar adik kesayanganku. Dia tertidur pulas dengan buku di tangannya. Aku bersyukur kini dia tak pernah lagi mimpi buruk dengan jeritan kesakitan. Aku benar-benar harus bertahan demi hartaku… Iya adikku.

02:45

Aku mengepak rapi bonekah-bonekah itu dalam kardus. Besok aku akan menukarkanya dengan uang. Ahh lelahnyya. Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang kecil milikk.

03.33

Sampai detik ini aku belum bisa memejamkan mata. Aku oun bangkit berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahku dengan air dingjn. Setelah itu berjalan menuju dapur dan mulai berkutat dengan sayuran.

“Oppa sudah bangun dari tadi atau tak tidur sama sekali?” Sulli mengejutkanku yang baru selesai mengoreng telur.

Aku hanya tersenyum kecil. Dia menghela nafas lalu menarik salah satu kursi di meja makan,”Mau sampai kapan kau akan jadizombie. Oppa..” omelnya.

“Makanlah.. Kemarin aku membeli benerapa sayuran dan daging.” aku menhidangkan masakan yang baru aku buat tadi dan tersenyum ke arahnya.

“oppa..”

“Uhu?”

“Setelah aku lulus sekolah, aku akan membantu oppa bekerja. Jadi oppa bisa melanjutkan kuliah dengan tenang.” dia menunduk memainkan nasi dalam piringnya.

“Kau harus jadi orang sukses karna itu oppa akan mencari pekerjaaan tambahan.” aku mengacak rambutnya dengan sayang. Dia tak protes sama sekali. Dia meraih tanganku dan mengecup satu-persatu jari-jariku.

“Aku menyayangi oppa…” kami tersenyum. Jarang sekali kami melakukannya dan hari ini begitu berbeda.

“kau hidupku.. Aku menyayangimu.”

.

.

.

.

.

Hari ini tak ada pekerjaan sama sekali.Tak ada salahnya bila aku merebahkan diri di sofa. Beberapa hari ini aku tak benar-benar merasakan bagaimana tidur di ranjang dengan benar? Jadi biarkan kali ini aku menikmatinya. Aku benar-benar lelah hingga terlelap tidur. Sampai bau harum terhirup di hidungku. Berlahan aku membuka mataku.

“Malaikat…” kenapa ada malaikat di rumahku?? Bagaimana bisa?? Dia begitu mempesona dan menapjubkan.Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh wajah bersinarnya.

“Oppa dia bukan malaikat… Dia kakak kandung Minho.”

Aku sontak menarik tanganku dan tersenyum bodoh. Belum pernah aku melihat pemuda tampan seperti ini yang membuat jantungku akan lepas ketika menatap matanya.

“Sampai kapan kalian terus saling memandang?” sentak Minho.

“Huh?” aku kembali tersenyum bodoh dan mengaruk tengkukku.

“Siwon.” dia mengulurkan tangannya. Terlihat kuat dan nyaman. Aku mengigit pipi dalamku lalu berjalan menyambut jabatan tanganya.

“Kyu…” gagap dan terlihat konyol. Aku tidak sedang menghadapi ujian.

“OPPA…hentikan memasang wajah bodohmu.” cela adikku. Aku hanya bisa meunduk malu. Sungguh ini menalukan. Sulli berjalan ke arahku dan merangkul pundakku. “Kalian jadi makan disini…” tanya Sulli dengan penuh semangat. Aku hanya melihat mereka bertiga secara bergantian.

“tak masalah. Tapj bagaimana denganmu hyung?” tanya Minho.

Siwon tersenyum manis. Sungguh pria itu begitu mempesona dan menarik. “Terserah.” dia menatapku tajam.

“Tapi jangan salahkan aku bila setelah pulang dari sini kalian akan mulas… Terutama kau Siwon oppa…” Sullii melirik ke arahku.

.

.

.

.

“Kau melakukanya setiap hari…” kini kita duduk berdua di kamarku. Dia terus menatapku. “Apa kau tak lelah?” entah sejak kapan kita menjadi dekat. Dia setiap hari menyempatkan datang. Bahkan ketika makan siang.

“Tentu lelah. Tapi bagaimana lagi.”

Dia tersenyum ke arahku.”Kau tidak ingin bekerja di tempat yang lebih baik. Maksudku… “

Aku tertawa.”Kalau bisa… Mungkin aku akan melakukannya. Sampai detik ini aku belun lulus kuliah.”aku kembali berkutat dengan pekerjaanku.

“Apa kau ingin…??” aku segera mengelengkan kepala. Aku tahu dia akan berkata apa. Selama ini aku sudah terbantu dengan adanya Minho.Bila Sulli kesusahan dia akan menolongnya. Kadang aku berpikir Minho menyukai Sulli. Lalu..

Siwon sedang menatapku. Seakan menunggu sesuatu. ” Apa ada yang salah dengan wajahku?” tanyaku.

Siwon mengelengkan kepala,” Lalu kenapa menatapku seperti itu??” tanyaku lagi.

“Aku lapar.”

“Huh??”

“Aku sudah lapar. Kapan kita makan?” aku tertawa dengan keras. Dia begitu lucu ketika mengespresikan wajahnya yangmemelas. Aku sampai lupa bila ini sudah memasuki jam makan siang.pekerjaanku begitu menumpuk dan hanya kata syukur yang aku panjatkan. Terlebih sejak ada dia.

.

.

.

.

Siang ini cukup panas. Aku menikmati matahari yang menusuk dalam kulit pucatku.Siwon datang dengan membawa buah-buahan segar dan beberapa minuman dingi tentunya.. Aku segera masuk dan memotongnya. Bukan menyenangkan duduk berdua dengan sepiring buah segar dan minuman dingin. Rasanya seperti kencan. Memikirkannya membuatku tertawa konyol. Bagaimana mungkin pria dingin dan sempurna itu memilih aku. Aku segara berjalan cepat namun ketika aku sampai di depan pintu rumahl, dia terlihat sibuk menghubungi seseorang.

“Appa…bisa berhenti ikut campur dalam urusanku?” appa… Jadi dia sedang bicara dengan orang tuanya.

“……”

“CUKUP. Aku tahu…” kenapa dia begitu kasar. Ya walau aku tahu… Dia pria dingin dan keras kepala tapi… “Kau tak pernah berpikir bagaimana posisi kami, appa hanya memilirkan diri appa sendiri.”

“…….”

“Aku tahu…”lrih dan aku dengar nada kesakitan. “Mereka menderita appa?” aku semakin asik memasang telinga. “Demi Tuhan… Jangan sakiti mereka lagi. Sudah cukup appa menyakiti merek. Mereka kehilangan keluarga mereka…”

DEG!!

“….”

“Ku mohon..hentikan semua ini. Harta ayah sudah cukup hingga tua nanti. Ayah sudah meraja di dunia hitam. Tak bisakah ayah melepaskan aku…”

“….”

“APPA MASIH BERTANYA KENAPA AKU MENDEKATI MEREKA? APPA BUKAN ORANG BODOH BUKAN??”

PYAR!!!

Aku tanpa sadar melepas nampan di tanganku. Air mataku mengalir begitu saja. Jadi dia baik selama ini karna…. Aku kembali menatap ke depan, dia sudah menutup teleponya. Aku ingin berlari namun…

“Semua…”

“Cukup…”

“Kita perlu bicara…”

“Tentang… Bukan semua sudah jelas??”

“Kyu….”

“Pergi dari rumahku…mulai hari ini jangan pernah kau dan adikmu datang kemari…” sentakku walau air mataku sudah meleleh deras di pipiku. Siwon hanya tertunduk lemas dan berjalan meninggalkan rumahku. Aku membanting pintu dengan keras dan menyandarkan tubuhku lalu meraung memanggil orang tuaku. Demi Tuhan…aku begitu terluka… Dia anak dari dalang pembunuhan di toko emas itu…

.

.

.

.

.

Beberapa hari Siwon dan Minho selalu datang namjn adikku lebih sadis mengusirnya. Dia pernah melepar telur,tepung,bahkan barang-barang. Mereka tak jera dan tetapdatang memohon maaf. Ini sudah hampir dua bulan dan aku harus menerima perjodohan dari keluargaku. Bibiku memperkenalkanku dengan pengacara muda Shim Changmin, dia pemuda baik yang akan menolongku. Kami pun dekat dan Sulli cukup menyukainya. Bagaimana pun adikku harus tetap sekolah sampai selesai? Karna itu… Aku tak menolak ini. Walau…

“Kau tak makan banyak.Kyu?”tanyanya. Aku hanya tersenyum kecil dan mengelengkan kepala. “Setelah ini…”

“Langsung pulang saja. Sulli pasti sudah menunggu.”

“Baik.” kami melanjutkan makan dengan hening.

.

.

.

Dia menghantarku sampai rumah dan membawakan satu nasi bungkus untuk Sulli adikku. Dia pun tak berniat mampir dan langsung melajukan mobilnya menjauh dari runahku ketika Sulli sudah menyambutku.

“Oppa menikmatinya?”

“HUH?”

“Kencan…” teriaknya. Aku hanya tersenyum dan menutup pintu rumah dan mengkuncinya. “Apa oppa Changmin mrnyakitimu?”

“Tidak sayang. Dia begitu baik dan lihat…” aku menunjukan kantong plastik yang aku bawa, ” Dia membelikan ini untukmu…” aku mrmberikan kantung itu padanya.

“Apa oppa bahagia?”

Aku mengulurkan tangan meraih wajah adikku,”Bila kau bahagia…” jawabku dengan santai dan membelai wajah adikku.

.

.

.

.

Keluargaku mempercepat pertunanganku karna utangku semakin menumpuk selama tiga bulan terakhir ini. Aku menghela nafas. Jujur aku belum siap namun bibiku selalu mendesakku. Aku berjalan menuju rumah dengan lemas. Pikiranku berkecamuk. Tiba-tiba ada lima pria menghadangku. Aku terdiam.

“apa yang kalian inginkan??” aku berusaha tak takut walau jujur tubuhku bergemetar hebat. Demi Tuhan…. “Siapa kalian?” tanyaku sekali lagi. Mereka berwajah menyeramkan. Tubuhnya penuh tato. Mereka merenggut paksa tasku.

“ambil barangku tapi biarkan aku pergi…”

“Bila kau sudah siap aku mengambil barangmu. Kenapa harus buru-buru pergi sayang? “pria berkepala bitak itu menatapku.

“Apa mau kalian? Aku bukan orang kaya yang bisa kalian jadikan sandra.”

“Sayang… Sebelum kami mengejar target kita,kami jelas mencari tahu siapa mangsa kami dulu…dan Ternyata kau jauh lebih manis daripada yang di gambar.”

DEG!!

Hening!! Mereka masih mengitariku. “Lalu…Apa yang kalian inginkan dariku…?” aku mencoba mengambil jarak ketika salah satu pria bertato itu mendekatiku.

“MEMBUNUHMU…”ringan dan tanpa beban ketika dia mengucapkannya.

“Tapi sebelum itu… Kenapa kita tak bersenang-senang dulu manis…” dia mencolek daguku.

Entah bagaimana mereka mulai mengkoyak bajuku. Aku hanya bisa berteriak meminta tolong tapi naas tak ada satu orang yang datang. Gang ini begitu sepi… apakah aku akan habis? beberapa kali aku melawan dan meberontak. Mereka menendang perutku. Menamparku dan memukuliku. Pria itu mulai menjamah tubuhku yang mulai lemas memberontak dan salah satu pria siap memperkosaku. Aku memejamkan mata ketika pria itu tertawa di sekelilingku. Menertawakan kelemahanku. Mungkin ini adalah akhirnya…tapi kenapa tak merasakan sakit? Bahkan gengaman tanganku terbebas… aku memberanikan diri membuka mata ketika seseorang membawaku dalam pelukannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Aku hafal suara itu. Walau mataku memburam tapi telingaku sadar benar. Aku selamatTuhan… Kau kembali mengirimkan malaikatku. Aku merasakan hangat dalam tubuhku, dia menyelimutiku. Hingga sedetik kemudian semua gelap…

.

.

.

.

.

Tubuhku begitu sakit. Berlahan aku mulai membuka mata. Rasanya lelah dan berat untuk membukanya. Semua begitu sakit… Terutama dibagian perutku.

“Kau sudah sadar. Aku panggil dokter dulu…” ucapnya dengan senyuman tampan di wajahnya.

“Tak perlu. Aku akan pulang.” aku berusaha berdiri walau semua terasa sakit.

“Jangan banyak bergerak. Kau harus banyak istirahat…”

“CUKUP!! aku muak melihat basa-basimu. Sebelumnya terima kasih kau telah menolongku.. Ahh, jangan-jangan kau adalah dalang dari semua ini…”

“Aku tidak sehina itu…” dia marah dan wajahnya lebih menakutkan dari kelima pria itu.

Aku menundukan kepala sebelum mata itu menusukku,”Baik aku percaya. Buat apa juga kau melakukan hal itu…”

“Kyuhyun dengarkan aku…”

“Aku sudah muak mendengar. Tenang saja aku tak akan bicara apa pun pada orang lain. Bila selama ini yang kau lakukan hanya untuk mendapatkan maaf. Aku sudah memaafkanmu…jadi berhenti meneror keluargaku…”

“Mungkin…iya..” dia tersenyum.”Tapi berbeda denganmu…aku mengingkan lebih…”

Aku tersenyum sinis,”Beda? Apa? Oh..apa mereka memaafkanmu dengan mudah? Sedangkan aku, kau terlalu banyak mengelurakan uang?”

“IYA”

DEG!!

Jujur aku sakit ketika mendendengar itu. Tapi aku pun merasa jijik dalam waktu bersamaan. “Baik. Aku akan mengganti semuanya. Kau tenang saja…” aku berusaha berdiri dan menghindari kontak mata dengannya.

“Kau sudah bertindak terlalu jauh. Kau sudah terlalu rakus. kau mencuri segala yang ku punya…dan kau harus mengganti seutuhnya.”

“Beri aku waktu bodoh…” sentakku. Aku mulai berbalut emosi. Aku berjalan meninggalkannya.

Dia tertawa keras, “Baik. Aku akan memberimu waktu. Semua sudah di persiapkan dan aku tak memberikan waktu banyak padamu. Karna aku ingin kau segera menjadi istriku.”

Aku terkejut ketika telingaku menanggap kata terakhir. Istri… Aku tak percaya… Dia mengkatakan istri…

“Hhahahhahahah… Istri..” aku tertawa keras untuk menghilangkan wajah terkejutku.

“IYA. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku tak mungkin membiarkanmu pergi. Aku juga tak tahu sejak kapan aku mencintaimu? Kau begitu kejam mengambil semua hatiku. Aku selalu mengawasimu dari jauh. Kau tak tahu betapa gilanya aku… Sampai kita bisa berdekatan tanpa jarak..dan kau menjauhiku. Jadi..aku tak akan membiarkamu pergi.”

HENING sesaat sebelum tawaku kembali mengelegar. Aku ingin mempercayainya, aku tak menangkap kebohongan tapi…

“Simpan dramamu…”

“kenapa kau tak percaya. Aku mencintaimu cho Kyuhyun.”

“CUKUP PEMBOHONG.”

“Aku bersumpah…”

“AKU TIDAK MEMOERCAYAIMU…”

Braakk!!

Dia menghimpitiku di dinding rumah sakit. Tubuhku masih lemas memberonak walau aku masih berusaha. Dia mengkunci tubuhku . Dan…. Dia menciumku… Entah kenapa aku tak menolaknya. Aku sadar ini adalah pelecehan… Pemaksaan… Tapi… Aku masih memberontak, otakku masih bekerja pada tubuhku. Aku memukul dadanya. Ini sama saja terlepas dari kandang buaya masuk dalam sangkar harimau.

Aku masih memberontak ketika paru-paruku memperlukan makananan. Dia melepaskaku…ya hanya melepas bibirku tapi dia mencium tekukku. Aku masih sibuk bernafas dan tak memperdulikan dia menggigit leherku.

“KAU MILIKKU…” dia menempelkan keningnya di keningku. Posesif. “Kau adakah milikku…”

“GILA…” aku mendongnya menjauh dari tubuhku.

“Iya dan aku memarisi darah ayahku. Ingat…kau adalah MILIKKU. Tak ada yang boleh memilikmu selain aku. Suka atau tidak suka… Kau milikkku. Bila kau tak ingin melihat wajah asliku… Turuti keinginanku…”

“KAU…”

“Jadi istriku atau… “

Sungguh baru kali ini aku melihatnya. Dia begitu menakutkan. Tuhan adilkah ini…aku membuka pintu kamar rawatku dan ku melihat Sulli sedang berjalan dengan dua pria bertubuh kekar.

“KAU… AKU…”

Aku kehabisan kata. Dia masih setia menatapku. Tapi…aku masih membeku dan menunduk lepas tanpa kata.

THE END

Advertisements

Author:

Saya manusia biasa Punya salah dan tak sempurna Saya jatuh cinta dengan Wonkyu Tak perduli banyak yang bilang saya gila Bahkan pacar saya... Saya jatuh cinta dengan mereka ♡♡♡♡

22 thoughts on “LIBRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s