Posted in BL, Comfort, FF Kontes, Genre, Hurt, Oneshoot, Romance, WonKyu Story

[FF Kontes] What Is Smell

PicsArt_1533919709082

What Is Smell

Author: ApolDes

Main cast: Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Jung Yunho

Genre: Friendship, Romance, Hurt/comfort

Rated: T

Summary: Siwon berusaha melindungi Kyuhyun tanpa membuatnya tersinggung. Namun seiring berjalannya rasa ingin melindungi, perasaan itu semakin aneh untuknya.

ApolDes

“Nah, ini ruanganmu. Sepertinya ada orang di dalam. Masuklah!”

“Ye, terimakasih, Hyung!”

Siwon menghentikan kegiatannya memetik gitar. Ia menoleh ke pintu saat didapati seorang laki-laki yang Ia perkirakan lebih muda darinya tengah sibuk memasukkan koper ke kamar asramanya. Merasa iba, akhirnya Siwon bangkit dan membantu.

“Eoh, terimakasih, Sunbae-nim! Terimakasih!” Ucap pemuda itu riang. Ia mengekor di belakang Siwon yang membawakan kopernya ke sebuah ranjang kosong yang Ia yakini akan menjadi miliknya.

“Ini tempat tidurmu! Atur sesuka yang kau mau. Nakas ini milikku, dan yang sebelah ini milikmu. Jangan campurkan barangmu dengan barangku. Arra?” Ucap Siwon tanpa jeda. Ia kembali duduk dan memetik gitarnya setelah si pemuda membungkuk dan mulai menata barangnya di nakas. Terkadang Siwon akan menggaruk dahinya ketika kunci gitar yang Ia mainkan tidaklah pas. Lalu sedikit menyenandungkan lagu dari apa yang Ia pelajari.

“Namaku Cho Kyuhyun.” Siwon mengangkat wajahnya. Ia menerima uluran tangan pemuda yang baru saja mengajaknya berkenalan. Dengan senyum, Ia pun menjawab.

“Choi Siwon.” Jawabnya singkat, lalu menyimpan gitarnya untuk kemudian bangkit dan mengambil beberapa buku.

“Kau mau kemana, Sunbae?” Tanya Kyuhyun heran. Pemuda itu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Aku ada jam kuliah.” Jawab Siwon lagi. Ia baru menyadari bahwa beberapa menit lagi kelasnya akan dimulai.

“Ah, padahal aku masih ingin mengenalmu lebih jauh, Sunbae. Kita kan akan hidup bersama untuk beberapa waktu kedepan.” Ucap Kyuhyun penuh nada kecewa. Bibir semerah plum itu mengerucut, membuatnya tampak imut.

“Perkenalannya nanti saja, ya? Aku benar-benar sedang dikejar waktu.” Jawab Siwon. Ia mengalungkan gitarnya di punggung dan melangkah keluar kamar. Meninggalkan Kyuhyun yang melambaikan tangan padanya dengan wajah ceria.

“Wahh, senangnya teman sekamarku sebaik dia. Choi Si Won. Nama yang indah, seindah orangnya. Kkk~.”  Monolog Kyuhyun. Pemuda manis itu lalu mengambil  handuk dan bergegas ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya yang mulai lembab akibat perjalannya dari Nohwon ke Seoul yang lumayan melelahkan.

ApolDes

“Siwon-ah!” Siwon menoleh, Ia melihat Yunho tengah berjalan terburu ke arahnya. Mata kuliahnya baru saja selesai dan Yunho seakan menundanya pulang lebih awal.

“Kau sudah bertemu Kyuhyun?” Siwon mengangguk. Ia sudah bisa menebak bahwa Yunho akan menanyakan hal ini padanya. Sebagai ketua asrama, Siwon bisa menebak bahwa Yunho akan menanyakan hal serupa ketika ada anak asrama baru yang bergabung dengan kamar anak asrama lama.

“Dia anak yang baik. Aku mengenalnya karena orangtuanya adalah sahabat orangtuaku. Jaga dia dengan baik, ya?” Siwon mengerutkan dahinya bingung. Biar bagaimanapun pemuda tampan itu tidak mungkin akan langsung beradaptasi dengan anak baru. Apalagi untuk menjaganya. Hey, memangnya Kyuhyun siapanya dia?

“Dia sudah besar, hyung. Untuk apa dijaga? Seperti balita saja. Kkk~.”

“Jangan seperti itu kau, Choi. Pokoknya jaga saja dia. Arra?”

“Ne..”

“Oh iya.” Yunho menghentikan langkahnya saat Ia akan berbalik. Menunda Siwon untuk sekedar memindahkan posisi kakinya.

“Jangan biarkan dia memasak. Asrama bisa kebakaran jika dia menyentuh peralatan dapur.” Ucap Yunho dan berlalu tanpa menunggu jawaban Siwon. Sedangkan Siwon? Pemuda tampan dengan tahi lalat di hidung bangirnya itu hanya menaikkan sebelah alisnya. Batinnya berkecamuk. Seakan tidak terima akan permintaan Yunho padanya. Biar bagaimanapun Ia sudah menyiapkan jadwal memasak untuk mereka setiap harinya.

Sambil berjalan menuju kamarnya, Ia masih memikirkan ucapan Yunho.

“Jaga dia, dan jangan biarkan dia menyentuh peralatan dapur. Yaishh.. memangnya seistimewa apa dia? Apa dia pangeran yang setiap saat harus dikawal? Tidak boleh melihat dapur? Oh, ayolah.. ini asrama dengan dapur di masing-masing kamar, bung!” Monolog Siwon sambil menendangi kerikil di depan sneakers Nike-nya.

 Memikirkan dapur, Ia jadi teringat bahwa siang tadi Ia belum memasukkan apapun ke perutnya. Hanya seporsi ramen dan soda di pagi hari. Ck..sarapan yang benar-benar buruk. Daripada memasak di dapur yang membutuhkan waktu lama, Siwonpun memutuskan untuk mampir ke rumah makan guna memenuhi panggilan cacing perutnya yang sudah menendang tak sabar.

“Omurice dan segelas ice lemon tea.” Pesan Siwon saat seorang pelayan datang padanya. Sembari menunggu pesanan, Siwon memutuskan untuk berselancar dengan ponselnya di dunia maya. Melihat aduan remaja labil yang ditujukan entah pada siapa dan entah apa manfaatnya. Sesekali Ia tersenyum kecil, melihat betapa berlebihan hoobae-hoobae di kampusnya dalam mengadu pada ibu DuMay.

“Sunbae?!!” Hampir saja Siwon meluncurkan ponselnya setelah gendang telinganya mendengar suara bahagia di hadapannya. Ia mengusap wajahnya kasar, sedikit jengkel kepada teman sekamarnya yang kini duduk di hadapannya masih dengan wajah tanpa dosa.

“Kau bisa makan disini juga?” Tanya Kyuhyun sambil memotong daging di piringnya semangat. Lalu mulai memasukkannya ke dalam mulutnya dengan diikuti sesendok nasi.

“Kau fikir aku tidak punya uang?” Tanggap Siwon ketus. Ia menatap lapar steak yang masih dipotong Kyuhyun dengan ukuran sedang. Menyadari tatapan Siwon pada makanannya, Kyuhyunpun menyendokkan makanannya ke wajah Siwon.

“Sepertinya kau akan pingsan jika menunggu pesanan. Ayo buka mulutmu!” titah Kyuhyun sambil membuka mulutnya, berharap Siwon ikut melakukan apa yang Ia lakukan dan memakan makanannya.

“Tidak usah. Sebentar lagi pesananku datang.” Tolak Siwon dengan halus. Tangannya Ia gunakan untuk menyingkirkan sendok di depan wajahnya pelan. Membuat Kyuhyun mengangkat bahu dan menyuapkan makanan itu ke mulutnya sendiri.

“Pesanannya, Haksaeng.” Siwon membungkukkan badan dan berterimakasih setelah si pelayan berlalu. Kemudian menyantap makanannya dengan tenang. Sesekali matanya melirik bagaimana cara Kyuhyun makan. Terlihat buru-buru dalam menyuapkan makanan ke mulutnya namun mengunyahnya dengan tenang saat memangkas tumpukan karbohidrat itu di mulutnya.

“Kau ambil jurusan musik sudah sampai semester berapa, Sunbae?” Tanya Kyuhyun membuka percakapan di tengah keheningan makan mereka. Lama tidak mendapat jawaban Siwon, akhirnya Kyuhyun menatap pemuda di hadapannya yang sedang mengunyah dengan dua jari yang Ia gunakan untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun, pemuda manis itu hanya membulatkan mulutnya dan tersenyum kecil.

“Sepertinya besok kita akan satu kelas. Anggap saja kita tidak saling kenal ya, sunbae? Aku malu.” Gumam Kyuhyun sambil memotong-motong steaknya ke ukuran yang lebih kecil lagi.

‘Sepertinya aku yang akan malu jika kau bersikap sok kenal seperti ini di kelas besok.’ Batin Siwon sambil menarik teh lemon dingin dengan sedotannya.

“Ahh.. kenyangnya.” Ujar Kyuhyun sambil menepuk perutnya yang sudah terisi penuh. Ia melambaikan tangan kepada pelayan dan kembali memesan makanan.

“Tolong dibungkus, ya?” Imbuh Kyuhyun setelah menyebutkan pesanannya. Pelayan itu hanya mengangguk mengerti. Berbeda dengan Siwon. Yang hanya menggeleng heran. Apakah seporsi penuh steak dengan nasi itu tidak cukup menggembungkan lambungnya?

“Kau belum selesai, Sunbae?” Siwon menatap piringnya yang masih tersisa seperempat dari porsi awal. Kyuhyun yang mengerti arah pandang Siwon sekali lagi hanya bisa mengangguk.

“Aku sudah selesai.” Ucap Siwon lalu meletakkan selembar duapuluhribu won di atas meja. Kyuhyun menatap Siwon tidak suka, membuat yang ditatap mengernyit jengkel saat Kyuhyun menghalangi jalannya.

“Aku sudah selesai dan aku ingin pulang. Bisakah kau menyingkir?” Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Membuat beberapa helai rambutnya ikut bergerak seiring kepalanya menggeleng semakin cepat.

“Hey! Apa masalahmu? Kau tidak membawa uang untuk membayar?”

“Habiskan!”

“Mwo?”

“Habiskan. Ma-ka-nan-mu!” Ucap Kyuhyun penuh penekanan. Siwon kembali menatap sisa makanannya di piring lalu menunjuknya. Membuat Kyuhyun mengangguk. Mengiyakan pertanyaan tersirat Siwon.

“Aku sudah kenyang, dan itu sudah tidak muat di perutku.” Jawab Siwon sambil menggeser tubuh Kyuhyun. Membuat pemuda manis itu sedikit terhuyung.

“Yak!! Aku akan menghabiskannya jika kau enggan!” Siwon menghentikan langkahnya setelah mendengar teriakan Kyuhyun. Lalu kembali berjalan ketika Ia menyadari arti ucapan pemuda manis itu.

“Terserah!” Serunya tidak peduli. Ia berjalan dengan santai dari rumah makan itu dan mulai memasangkan headphone di kedua telinganya.

Masih di posisi yang sama, Kyuhyun hanya menghentakkan kakinya dan duduk di tempat dimana Siwon meletakkan pantatnya tadi.

“Bagaimana aroma omurice yang sebenarnya?” Tanpa rasa jijik, Ia mulai memasukkan sisa makanan itu dan tidak mengindahkan tatapan orang lain yang seakan menganggap rendah dirinya.

‘Apa yang kalian lihat?’ Sirat Kyuhyun melalui tatapan tajam mata bonekanya kepada orang yang masih saja menatapnya lain. Membuat mereka buru-buru menghentikan aksi mereka setelah melihat kilatan petir di mata bulat itu.

“Ini bungkusannya, Haksaeng.” Kyuhyun membungkuk senang dan menukar makanan itu dengan beberapa lembar won kepada si pelayan. Lalu melangkahkan kakinya riang keluar dari rumah makan.

ApolDes

Siwon menatap pintu sudah sejak setengah jam yang lalu. Ia tidak kehilangan kunci pintu, namun Ia menunggu  teman barunya sampai. Jarak dari asrama mereka sampai rumah makan yang mereka kunjungi hanya memerlukan sepuluh menit dengan berjalan kaki. Dan ini sudah lebih dari waktu normal, pemuda yang Ia akui berwajah manis belum juga sampai. Apa dia tersesat? Mencoba mengiyakan fikiran buruknya, Siwon mengambil mantel dan membuka pintu. Tepat dimana tiba-tiba seorang pemuda membuka lebar bibirnya dengan mata yang terlihat lelah.

“Kau darimana?” Tanya Siwon ketika Kyuhyun membungkuk hormat padanya.

“Aku, sepertinya aku tersesat tadi. Maaf, Sunbae.” Ucap Kyuhyun lagi sambil memeluk tubuhnya sendiri. Bibirnya tampak menggigil, dan pemandangan itu tidak luput dari penglihatan Siwon.

“Kau pucat. Ayo masuk! Biar kuseduhkan minuman hangat.” Titah Siwon sambil menangkup bahu Kyuhyun dan menggiringnya ke ranjang. Merasakan bahwa baju yang melindungi pemuda manis itu sedikit basah. Tidak ingin sesuatu buruk menimpa teman barunya, Siwon perlahan mulai melepas tautan kancing kemeja Kyuhyun. Namun entah karena apa, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering dan jantungnya berdentum tidak nyaman ketika collarbone Kyuhyun terpampang dengan begitu indah dibalut kulit seputih porselen tanpa noda. Ditambah ekspresi Kyuhyun yang seakan begitu err –menggoda- dengan mata tertutup serta bibir yang terbuka.

“G-gan-ganti baj-jumu sendiri sajalah! A-Aku-ak-aku mau membuat minum untukmu!” Kyuhyun membuka matanya yang terasa lelah. Lalu menatap Siwon dengan sedikit senyum yang bisa Ia ciptakan.

“Kenapa sunbae sampai gugup begitu? Dia juga berubah. Tidak semenyebalkan saat di rumah makan tadi.” Gumam Kyuhyun heran. Dengan lemah, Ia memaksakan tulangnya untuk mengambil beberapa helai pakaian hangat dari kopernya dan mulai mengganti bajunya. Lalu berbaring di ranjang, menuruti permintaan matanya yang meminta jatah istirahat.

Siwon sudah selesai dengan kegiatan dapurnya ketika Kyuhyun sudah terpejam sempurna berbalut selimut tebal. Siwon yakin, teman barunya itu benar-benar kedinginan. Entah apa yang Ia lakukan. Namun Siwon percaya Kyuhyun baru saja menembus hujan yang turun deras sampai saat ini. Mungkin membangunkannya untuk sekedar meminum seduhan ginseng di tangannya hanya akan mengganggu tidur si pria manis. Pria tampan nan kekar itu kembali ke dapur, mengambil sebaskom air hangat dan kain pengompres untuk membantu penurunan demam Kyuhyun.

 “Kau terlihat jauh lebih manis saat tertidur. Kenapa kau begitu cerewet saat mata indah ini terbuka, eh?” Monolog Siwon, tangannya yang jahil mengatupkan bibir Kyuhyun yang sedikit terbuka. Kekehan kecil lolos dari bibir jokernya, saat jari telunjuknya menyentuh permukaan bibir Kyuhyun. Terasa hangat, sedikit pecah dan kenyal. Akankah bibir itu terasa sedemikian pula ketika seseorang menghisapnya? Oh, Choi Siwon. Sadarlah! Kau baru menyentuh bibirnya dan fikiranmu sudah sejauh itu? Lebih baik kau tidur, Choi. Berharaplah pria manis itu bangun dalam keadaan sehat besok pagi.

ApolDes

Pagi menyambut beratnya kelopak mata untuk terbuka. Suasana gerimis tipis yang menyelimuti Seoul menambah beban untuk sekedar membuka mata barang sedikitpun. Tidak ubahnya seorang Choi Siwon yang masih setia membenamkan wajahnya diantara selimut dan bantal yang melapisi tubuhnya. Ia tidak terusik dengan kegiatan Kyuhyun yang kini tengah memanaskan jjangmyun yang Ia pesan di rumah makan semalam.

“Iya, hyung. Aku tidak akan meninggalkan dapur.”

“…”

“Kalau sudah kumasukkan mienya, hyung?”

“…”

“Ahh..sampai baunya harum? Bau yang seperti apa, hyung?”

“…”

“Dia masih tidur. Tidak mungkin aku membangunkannya. Ini juga masih terlalu pagi untuk kuliah.”

“…”

“Ne.. annyeong..!”

Kyuhyun mengakhiri sambungan teleponnya dengan Yunho. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan angka enam. Lalu mengalihkan pandangannya ke masakannya sendiri. Sedikit tidak yakin dengan bentuk yang dia masak. Saus jjangmyun-nya tampak meletup dan mulai kering. Kyuhyun sedikit ragu untuk mencicipinya. Namun bagaimana lagi? Ini jalan satu-satunya.

“Kyuhyun-ah.” Kyuhyun menoleh, mendapati Siwon yang bertelanjang dada dengan handuk yang melingkari pinggangnya. Entah sadar atau tidak, pipinya memanas diikuti debaran aneh yang merambat ke seluruh syarafnya. Seolah dia ingin meleleh disana saat itu juga.

“Kau masak apa?” Tanya Siwon heran. Ia menilik ke wajan tempat dimana Kyuhyun memanaskan masakannya yang berbau sangat menusuk.

“Apa kau terbangun karena bau makanannya, Sunbae?” Siwon mematikan kompor dengan kasar. Lalu megambil spatula di tangan Kyuhyun dan menggaruk Jjangmyun yang sudah mengerak. Sausnya kering dengan mie yang menyatu dengan alat masak itu sendiri.

“Ya. Aku terbangun karena bau masakannya..-” Jawab Siwon, membuat Kyuhyun seakan melambung. “Apa hidungmu bermasalah? Bahkan dengan mencium aromanya saja membuatku keracunan. Apalagi memakannya!” ucap Siwon kasar sambil menaruh spatula di tangannya bosan. Beberapa kerak saus tampak melekat disana. Membuat Kyuhyun semakin ciut untuk sekedar melirik ekspresi Siwon.

“Mianhae, Sunbae.” Cicit Kyuhyun. Pemuda manis itu menurunkan airmatanya saat Siwon mengatakan hal yang seharusnya tidak pernah Ia dengarkan.

“Ini baru satu hari kau tinggal dan kau mau membakar asrama ini, Kyu?” Kyuhyun menggigit bibirnya. Posisi Siwon dengan busananya membuat pria manis itu semakin tidak nyaman. Ia berusaha sebaik mungkin agar airmatanya tidak lagi tumpah dan meraung disana saat itu juga.

“Cuci semua peralatan itu. Kita pesan delivery saja.” Ucap Siwon sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Dan setelahnya, hanya terdengar suara gemericik air. Entah dari dapur maupun dari kamar mandi.

ApolDes

Kyuhyun melihat universitas di depannya kagum. Ini hari pertama dimana Ia menjadi mahasiswa sekaligus memulai pekerjaan sampingannya sebagai pembantu tambahan dosen. Teman ayahnya yang merupakan dosen di universitas ini memintanya untuk sedikit membantu mengakumulasi nilai muridnya mengetahui Kyuhyun juga pandai dalam berhitung. Namun yang paling utama, adalah keahlian Kyuhyun yang tidak bisa dianggap sepele. Seni bermusik. Seluruh bagian dari tubuhnya mungkin saja bisa menghasilkan petikan dan untaian nada yang indah ketika badan itu berdekatan dengan alat musik. Suaranya yang lembut nan merdu, jemari lentiknya yang selalu indah saat menari di atas tuts piano, serta kaki jenjangnya yang akan menghentak seiring ketukan nada disetiap permainan drumnya. Sempurna memang. Pemuda dengan usia delapan belas tahun sudah menguasai banyak alat musik seperti seorang master. Dari yang tradisional bahkan sampai yang modern musik. Semua dengan mudah Ia kuasai. Saking gilanya dengan musik, Kyuhyun sampai mengoleksi beberapa pakaian bertemakan not balok atau apapun hal yang bersangkut-paut dengan musik. Seperti yang Ia kenakan sekarang. Sweater putih bergambar piano antik dan dipadu dengan celana denim yang membuat kakinya semakin terlihat jenjang.

“Kyuhyun-ah!” Puas menyelami bahagia hari pertamanya di universitas, Kyuhyun mendapati seseorang yang Ia anggap bagian dari keluarganya sendiri tengah menatapnya senang.

“Hyung!” Jawab Kyuhyun tidak kalah riangnya. Ia sedikit berbasa-basi ketika Yunho, seseorang yang Ia anggap kakak sendiri menemaninya berkeliling kampus.

“Bagaimana Choi Siwon?”

“Siwon sunbae? Uhmm, baik. Bahkan semalam dia merawatku setelah aku terserang demam.” Jawab Kyuhyun sambil menganggukkan kepalanya kecil. Jemari tangannya tampak sibuk memutilasi daun oak yang jatuh di sekitaran jalan yang mereka lalui.

“Bagaimana bisa kau terkena demam, Kyu? Apa sekarang kau sudah baikan?” Tanya Yunho khawatir. Ketua asrama berwajah tampan itu menghadang langkah Kyuhyun, mengangkat dagu wajah manis di hadapannya dan menelitinya dengan seksama.

“Apa yang kau lakukan, Hyung?” Kyuhyun tampak gugup. Jarak wajahnya dengan Yunho tidak lebih dari ukuran jari kelingking. Dan Yunho belum juga mengalihkan pandangannya. Membuat Kyuhyun harus menopang tubuhnya dua kali lipat untuk tidak terjatuh.

“Kau masih pucat, Kyu. Sebaiknya kita makan dulu sebelum kau masuk ke kelas.” Ajak Yunho sambil menarik tangan Kyuhyun menuju kafetaria kampus. Namun tarikannya tidak membuahkan hasil. Kyuhyun masih berdiri di tempatnya dengan kepala menggeleng imut.

“Aku harus menemui Joon ahjussi. Kelas akan dimulai beberapa menit lagi. Aku pamit dulu, Hyung!” ucap Kyuhyun lalu berbalik pergi meninggalkan Yunho yang menatapnya kecewa.

“Kalau begitu kutunggu sampai kelasmu usai!” Teriak Yunho semampu yang Ia bisa, berharap punggung yang mulai mengecil itu mendengar suaranya walau samar. Dan ketika pria manis yang Ia teriaki berbalik arah sembari mengucapkan OK dalam bisu, Yunho mampu merasa bahagia kembali.

‘Dua jam bukanlah waktu yang lama.’ Batin Yunho optimis.

ApolDes

Kelas musik yang semula penuh riuh dengan alunan nada dan latihan vokal tiba-tiba sunyi. Berubah hening ketika seorang dosen masuk dibuntuti seorang laki-laki manis yang kini berdiri di sampingnya. Kebanyakan dari mereka menatap penasaran, dan selebihnya menatapnya dengan biasa saja.

“Anyeonghaseyo, Joneun Cho Kyuhyun imnida.” Salam Kyuhyun setelah dipersilahkan untuk mengenalkan diri. Dosen yang notabene-nya adalah sahabat ayahnya itu mulai memperkenalkan dirinya dengan sedikit berlebihan yang tentu saja mengundang seruan kagum dan tidak percaya. Apalagi setelah Kyuhyun melakukan tantangan dari mahasiswa disana unuk memainkan alat musik dan menyanyikan lagunya.

Sampai-sampai, Choi Siwon yang sejak Kyuhyun masuk tampak tidak peduli pada Kyuhyun kini menatap laki-laki manis di depan kelas yang masih melantunkan paduan nada dan suaranya. Entah, dentuman aneh itu kembali merayapinya ketika melihat sosok Kyuhyun yang tampak berbeda ketika menarikan jemarinya di atas tuts piano. Apalagi dengan getaran pita suaranya yang begitu lembut. Seolah bukan hanya dia yang ikut meleleh, namun seluruh mahasiswa di kelas itu hampir semuanya mengalami apa yang Ia rasakan sekarang.

“…Geudaeui bicceuro gadeukha..ge~”

Akhir lirik lagu itu diiringi tepuk tangan yang sangat meriah. Cukup untuk memuaskan rasa remeh mahasiswa yang lebih tua dari Kyuhyun. Karena baru saja mereka ketahui, umur Kyuhyun baru saja menginjak delapanbelas tahun. Berbeda dengan mereka yang berusia empat atau lima tahun diatasnya.

“Silahkan mencari tempat dudukmu sendiri, Kyuhyun-ssi.” Perintah dosen itu dan diangguki dengan semangat oleh Kyuhyun. Laki-laki manis itu tampak mulai berjalan menuju barisan kosong di bagian belakang. Hanya ada seorang laki-laki yang duduk disana dan melambaikan tangannya pada Kyuhyun dengan senyum lebar. Kyuhyun mengangguk, lalu mengambil kursinya dan mendudukkan tubuhnya disana.

“Aku Changmin.” Ucap laki-laki itu sambil menjulurkan tangannya kepada Kyuhyun yang baru saja meletakkan buku partiturenya di meja. Kyuhyun menyalami uluran tangan itu, dan balik menyebutkan namanya.  Lalu Kyuhyun menatap bangku di depannya, ada Siwon yang mulai mencatat kunci gitar yang tengah diajarkan oleh dosen di depan sana.

“Dia tidak terkejut dengan kehadiranku di kelasnya?” Gumam Kyuhyun heran. Dia memilih angkat bahu tidak peduli dan mulai melakukan seperti apa yang dilakukan mahasiswa lainnya.

Tes..Tess

Kyuhyun menyentuh hidungnya. Ada cairan bening mengalir di philtrumnya. Padahal dia sedang tidak flu. Bagaimana bisa sampai berair begini hidungnya?

“Kau punya tissue Changmin-ssi?” Changmin tampak mengaduk tasnya setelah mendengar pertanyaan Kyuhyun. Lalu mengeluarkan beberapa lembar tissue dan memberikannya ke Kyuhyun.

“Kau flu? Hidungmu berair sangat banyak.” Kyuhyun menggeleng tidak tahu, yang Ia lakukan hanya mengeringkan hidungnya yang tiba-tiba terasa sulit mengais udara. Maka Iapun membuka bibirnya sedikit, membantu hidungnya mengais oksigen sebanyak mungkin.

“Kau yakin tidak apa-apa?”

“Apa tissuenya kurang?”

“Kau tampak kesulitan bernafas. Apa kau sakit? Mau ke ruang kesehatan? Biar kuantar.”

“Bag..awww.”Changmin menghentikan pertanyaan beruntunnya ketika dosen menghampirinya dan mengetuk kepalanya pelan dengan kertas partiture-nya. Lantas mahasiswa disana melirik, tidak kecuali Siwon yang menatap intens mereka.

“Mianhae seonsaengnim, Kyuhyun terlihat kurang sehat hari ini. Aku khawatir dia kenapa-kenapa.” Ungkap Changmin jujur. Ia tersenyum saat dosennya memutar bola mata malas. Alasannya terlalu konyol. Dan kekehan mahasiswa lain membuntuti jawaban konyolnya.

“Kau merasa tidak enak badan, Kyuhyun-ssi?”

“An..ekhm..Animida, ekhm.” Kyuhyun membulatkan matanya. Suaranya tiba-tiba bindeng. Tak ayal mahasiswa lain ikut tekejut. Padahal sebelumnya suara Kyuhyun begitu halus dan lembut. Berbeda dengan sekarang, besar dan terdengar sukar.

“Lebih baik setelah kelas ini berakhir kau istirahat Kyuhyun-ssi.” Kyuhyun mengangguk patuh, lalu kembali menyeka hidungnya yang masih saja terasa berair. Ia akan fokus melihat catatan di papan tulis jika saja matanya tidak bertemu pandang dengan Siwon. Pria tampan itu masih menatapnya, seperti ingin bertanya namun sulit untuk sekedar membuka mulutnya. Dan akhirnya kontak mata itu berakhir setelah Siwon memutuskan untuk kembali terfokus pada tulisan dosen di depan kelas. Lama menatap Kyuhyun membuat perasaan aneh semakin merayapi syarafnya saja. Dan kelas itu berlangsung tenang sampai akhirnya jam berakhir.

ApolDes

“Tidak perlu, Kyuhyun-ah. Kau istirahatlah. Sepertinya kau akan terserang flu. Tolong akumulasi nilai teman-temanmu yang ada di flshdisk ini. Aku ada dinas dan tolong selesaikan paling lambat akhir pekan. Aku percaya kau bisa melakukannya.” Kyuhyun mengangguk, lalu menerima flashdisk yang diberikan oleh dosen yang sudah Ia anggapnya paman.

“Kalau ada kesulitan hubungi aku saja, arra?” Imbuh paman Joon, lalu meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri dengan Changmin di sampingnya.

“Sepertinya kau harus menjadi sahabatku, Kyuhyun-ah.” Kyuhyun sedikit tersentak ketika Changmin tiba-tiba saja menariknya ke suatu tempat. Tanpa mengajak seseorang lain yang mungkin hanya tinggal dia sendiri di kelas itu. Choi Siwon. Yang menatap Kyuhyun sampai bayangan namja manis itu tertelan pintu yang tertutup.

ApolDes

“Kyuhyun-ah..” Yunho menepuk bahu Kyuhyun yang tengah menyantap makan siangnya. Pria bermata musang itu menarik tangan Siwon untuk duduk di sampingnya. Membuat Kyuhyun sedikit terkejut. Pasalnya Ia baru tahu bahwa Yunho dan juga Siwon dekat.

“Kau sendiri?” Tanya Yunho sambil mengambil sumpit dan mulai memasukkan makanan ke mulutnya.

“Aku bersama Changmin. Dia sedang mengambilkan makanan untukku.” Jawab Kyuhyun singkat.

“Kalian sudah saling kenal rupanya. Changmin adalah pria manis dan menggemaskan. Sama sepertimu.” Ucap Yunho lalu melirik daftar menu makanan dan memesannya.

“Yunho hyung. Apa pria di sampingmu itu memang aneh?” Tanya Kyuhyun takut-takut. Pria manis itu memainkan jemarinya di atas paha. Ketika melirik Siwon yang tengah menatapnya tajam, seolah tidak terima.

“Maksudmu?” Yunho yang akan menjawab mengatupkan lagi bibirnya saat Siwon bertanya balik kepada Kyuhyun. Baginya, menyimak daripada menjawab sepertinya lebih baik.

“Kau menyambutku dengan hangat saat aku masuk. Tapi jika di luar kau mendiamkanku seperti ini. Apa salahku?” Tanya Kyuhyun pelan. Ia menatap Siwon dengan mata berair. Membuat yang ditatap salah tingkah.

“Memang apa yang terjadi, Siwon-ah?” Tanya Yunho tajam. Membuat Siwon mati kutu hanya dengan mendengar pertanyaan itu.

“Siwon-ah?”

“Tidak ada. T-tapi di-dia hampir membakar dapur, hyung.”

“Mwo?!” Seru Yunho tidak percaya. Dia menatap Kyuhyun cemas. Lalu menghadapkan wajah Kyuhyun kepadanya, membuat Siwon menahan nafas dan Changmin yang baru saja sampai disana hampir menjatuhkan nampan di tangannya jika saja dia tidak bisa mengendalikan diri. Demi apapun, jarak wajah Kyuhyun dan juga Yunho hanya beberapa centi dan bibir mereka bisa saja bertemu apabila Yunho sedikit lagi memajukan wajahnya.

“Appo!!” Yunho berteriak sakit ketika Siwon tiba-tiba berdiri dan menyandungkan kakinya ke kursi Yunho, membuat pria musang itu jatuh dari tempatnya.

“Maaf hyung, kakiku tersangkut kursimu.” Ucap Siwon pelan, lalu meninggalkan tempat itu dengan wajah merah padam.

“Gwenchana, hyung?” Ucap Changmin dan Kyuhyun sambil membantu Yunho berdiri.

“Gwenchana. Kita ke rumah sakit, Kyu.”

“Ani, hyung.” Tolak Kyuhyun sambil menggelengkan kepalanya cepat. Ia berusaha melepas tautan tangan Yunho namun tidak mampu.

“Aku tidak ingin terlambat, Kyu. Kau adalah amanat yang harus kujaga dari orangtuamu. Kumohon menurutlah!”

“Tidak, hyung. Aku tahu ini tidak parah.”

“Kyu..”

“Hyung!” Sentak Kyuhyun. Ia menatap Yunho memohon, lalu Ia merasakan tangannya dihempas begitu saja. Dan Yunho meninggalkannya tanpa kata. Membuat namja manis itu menangis. Menyesal karena telah membuat Yunho marah.

“Kyuhyun-ah..” Kyuhyun menoleh, baru menyadari bahwa Ia melupakan keberadaan Changmin. Ia menghapus airmatanya lalu kembali duduk, bersikap biasa dan mengajak Changmin memakan makanan yang pria jangkung itu ambilkan untuknya. Sedangkan Changmin, dia hanya mengangkat bahu. Yunho dan Siwon jika sudah pergi tanpa kata biasanya masalah ini serius. Dan objek masalah itu bisa disimpulkan adalah Kyuhyun. Daripada menjadi orang kesekian dalam permasalah mereka, lebih baik dia diam. Yahh, sepertinya peran itu cocok untuknya sekarang.

ApolDes

Malam sudah larut, menghanyutkan setiap orang yang sudah terlelap untuk semakin pulas dan yang masih terjaga terbuai oleh kegiatan lembur mereka. Seperti Kyuhyun, dengan berbalut sweater tebal dan kacamata minus yang membantu penglihatannya masih berkutat dengan materi yang diberikan sahabat ayahnya. Sejak sampai asrama, Kyuhyun tidak melihat Siwon sama sekali. Dan ini sudah semakin larut. Namun pria tampan itu tidak kunjung memasuki kamar mereka.

“Kau sudah pulang?” Seru Kyuhyun ketika pintu kamar mereka terbuka dan menampakkan Siwon yang berjalan lelah ke arah ranjang.

“Hmm.” Jawab Siwon serupa gumaman. Kyuhyun yang tidak nyaman melihat Siwon yang mulai memejamkan matanya dengan sepatu yang masih menempel akhirnya turun tangan. Dia mengambil sepatu Siwon dan meletakkannya di rak sepatu. Lalu memindahkan kaki jenjang Siwon yang menggantung untuk diselimuti. Kemudian namja manis itu kembali ke meja belajarnya, berkutat dengan halaman nilai yang sekiranya perlu Ia akumulasi sesuai perintah dosennya.

“Kau tidak tidur?” Kyuhyun tersentak, tiba-tiba Siwon duduk di sampingnya dan menjatuhkan kepalanya di meja belajar Kyuhyun, menutupi panduan akumulasi nilai yang sebentar lagi akan Kyuhyun baca.

“Belum, masih ada yang harus kuselesaikan. Sunbae tidur saja dulu.” Jawab Kyuhyun lalu berusaha menarik kertas yang tertindih kepala Siwon.

“Tidurlah, Kyu! Ini sudah larut.” Kyuhyun menghela nafas, lalu menatap Siwon yang merebut lembaran materi di tangannya.

“Tidur sekarang atau jadwal memasakmu akan kutambah?” Siwon tersenyum menang. Kyuhyun langsung mengemas barangnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Siwon terkekeh, lalu menyusul Kyuhyun berbaring di ranjang yang sama yang ditempati pemuda manis itu. Membuat Kyuhyun protes dengan kehadiran Siwon di ranjangnya.

“Ranjangku basah. Di luar hujan, ingat? Dan aku baru saja hujan-hujanan. Kau mau aku sakit?” Kyuhyun terdiam. Tubuhnya tidak lagi melakukan perlawanan. Dirinya seakan tidak berdaya ketika Siwon memeluknya dari belakang dan mengurung mereka dalam hangatnya selimut. Jantungnya terasa akan melompat saat itu juga, apalagi ketika Ia mendengar Siwon mengucapkan ‘selamat malam’ untuknya.

‘Sunbae benar-benar aneh. Tadi saja dia marah-marah dan sekarang? Apa yang merubahnya menjadi seperti ini?’ Batin Kyuhyun sebelum akhirnya memilih untuk menikmati waktu yang mungkin saja tidak Ia rasakan di waktu yang lain.

ApolDes

Kyuhyun melihat Siwon yang tengah mengajarinya memasak. Lalu belajar melakukan apa yang Siwon lakukan. Mulai dari mencuci bahan masakan, sampai memotongnya. Terkadang Kyuhyun yang kesulitan memotong dibantu Siwon dengan memegang tangan Kyuhyun lalu mengarahkannya agar bahan masakan itu terpotong dengan baik. Waktu-waktu yang baru kali ini Kyuhyun rasakan membuatnya merasa nyaman berada di dekat Siwon. Ia bisa merasakan kehadirannya sudah diterima di sekitar namja tampan itu.

“Masukkan bumbunya, lalu hirup aromanya, Kyu.” Titah Siwon. Lalu menumis bumbunya sampai tercium bau yang harum.

“Bagaimana aromanya?” Seketika Kyuhyun melepas senyumnya ketika pertanyaan itu terlontar.

“Baunya anyir, kan?” Tanya Siwon lagi. Lalu Kyuhyun mengangguk dan menyerukan lagi ucapan Siwon.

“Ne, sangat anyir! Hmm..” Ucap Kyuhyun riang sambil bergaya mengipaskan aroma tumisan bumbu itu ke hidungnya.

‘Aromanya bukanlah anyir, Kyu. Dan jika ini anyir, seharusnya kau bisa saja muntah.’ Batin Siwon lalu terbatuk setelahnya akibat reaksi bumbu yang sudah menyatu. Kemudian pria tampan itu menyuruh Kyuhyun untuk mulai memasukkan bahan makanan yang lain sehingga masakan mereka mendapat hasil yang cukup memuaskan.

ApolDes

Hari berlalu begitu cepat. Kyuhyun dan Siwon yang semakin nyaman satu sama lain dan juga Kyuhyun serta Changmin menjadi lebih dekat. Kegilaan mereka –Changmin dan Kyuhyun- terhadap game membuat mereka mudah beradaptasi. Sedangkan Siwon, akan selalu menemani kebiasaan mereka di game center. Bukan, bukan menemani mereka. Lebih tepatnya mengawasi Kyuhyun.

“Dia terlihat ceria.” Siwon mendongak, ada Yunho yang berdiri di sampingnya. Menatap Kyuhyun yang tengah memencet tombol playstation gemas. Tak lepas dari suara gelak tawa keduanya ketika mereka melakukan kebodohan dalam trik bermain.

“Ya, keadaannya baik-baik saja beberapa hari ini.” Siwon menunduk, menatap ponsel yang kini dimainkan oleh jarinya.

“Dia tidak pernah mengajakmu ke rumah sakit?” Yunho menatap hasil kerjaan tangan Siwon. Inisial WK, dan Yunho tahu itu milik siapa.

“Tidak. Dia sering menggunakan obat tanpa sepengetahuanku. Tapi sepertinya hampir habis.” Terang Siwon. Yunho menatap Kyuhyun miris, lalu membuka kaleng soda yang Ia simpan di samping tempatnya duduk.

“Aku yang akan membawanya kesana besok.” Siwon melirik Yunho dengan ujung matanya. Lalu mengalihkannya lagi ke lain arah, ingin melayangkan protes dengan tangan mengepal di atas pahanya.

“Kenapa bukan aku saja, hyung?”

“Kau lambat. Aku akan selalu mendahuluimu kalau Kau tetap seperti ini. Ingat itu!” Ucap Yunho sambil mengukir seringai di bibirnya. Ia dapat menatap kemarahan Siwon yang ditahan. Kemudian bangkit dan pergi meninggalkan ruang tunggu game center itu untuk mengambil membuang kaleng sodanya.

Sedangkan Siwon, dia hanya bisa memutar matanya untuk mengikuti arah jalan Yunho.

“Aku tidak akan kalah darimu.” Gumamnya.

ApolDes

Kyuhyun merasakan seluruh bebannya lepas begitu saja setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di game center bersama Changmin yang kini berjalan di sampingnya.

Siwon tidak menemani, karena pemuda tampan itu mendapat panggilan dari ayahnya untuk membantu menyelesaikan beberapa berkas.

“Kyuhyun-ah, sebenarnya kau sakit apa?” Tanya Changmin ketika mereka dalam perjalanan ke arah halte.

“Aku sehat-sehat saja. Wae?” Tanya Kyuhyun sedikit gugup. Pemuda manis itu menghindari tatapan Changmin, lalu menyeka hidungnya yang kembali berair.

“Tidak apa-apa. Hanya penasaran. Syukurlah kalau kau baik-baik saja.” Ucap Changmin, lalu menarik tangan Kyuhyun ketika bus yang mereka tunggu sampai juga. Kemudian mereka mengambil duduk di belakang supir, dekat dengan pintu keluar masuk.

“Kyuhyun-ah, Siwon hyung menyukaimu, ya?” Tanya Changmin. Pemuda jangkung itu membuka bungkus choco chipsnya lalu membaginya dengan Kyuhyun.

“Kurasa tidak. Dia hanya berperan sebagai hyungku.” Jawab Kyuhyun sambil mengambil makanan yang Changmin tawarkan. Dalam hatinya jujur Ia berharap apa yang Changmin katakan adalah benar.

“Atau kau menyukai Yunho hyung?” Kyuhyun menggeleng kecil, lalu menatap pemandangan di luar jendela.

“Kau termasuk namja beruntung Kyu. Dua pangeran kampus seolah jatuh hati kepadamu.” Ucap Changmin dengan nada menggoda, membuat semburat merah tampak samar di pipi Kyuhyun.

 “Kau tidak mau mampir?” Kyuhyun menggeleng, Changmin mengedikkan bahu lalu berpamitan dan meninggalkan Kyuhyun sendirian disana. Changmin memang tidak tinggal di asrama, karena jarak rumahnya dengan kampus terbilang cukup dekat.

Kyuhyun melambaikan tangan ketika bus kembali melaju. Dia kini bisa bernafas lega, mengambil obat dan menyemprotkannya ke rongga mulutnya yang mulai sesak. Kepalanya terasa pening, dan selembar tissue Ia keluarkan ketika merasa hidungnya kembali berair.

“Mwo?” Gumam Kyuhyun pada dirinya sendiri. Bukanlah air yang melekat di tissuenya, namun noda darah dengan warna pekat. Bahkan Ia tidak sadar jika darah itu masih mengalir dan menodai sweaternya. Merasa panik, buru-buru Kyuhyun mengambil tissue lain dan menyeka darah di hidungnya dengan telaten hingga dirasanya darah pekat itu berhenti keluar. Pening kembali melandanya, Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sedikit memijat pelipisnya yang berdenyut sakit.

“Ini adalah pemberhentian terakhir, Haksaeng. Kau tidak mau turun?” Kyuhyun terkesiap. Pemuda manis itu rupanya tertidur akibat peningnya tadi. Ia segera bangun dan turun dari bus dengan tergesa. Baru menyadari bahwa Ia melewati asramanya terlampau jauh. Pemuda manis itu kini bingung. Tidak mungkin Ia menghubungi Siwon untuk menjemputnya setelah Ia melirik jam ponselnya yang menunjuk waktu tengah malam. Tidak mungkin juga meminta si supir mengantarnya lagi ke asramanya. Kini Kyuhyun hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Kenapa dirinya bisa sampai tertidur di sana.

“Kyuhyun-ah pabbo!!” Rutuk Kyuhyun sambil duduk di halte bus. Suasana jalan sudah lengang, hanya satu atau dua kendaraan yang lalu lalang. Membuat Kyuhyun sedikit bergidik dan membayangkan hal yang bukan-bukan.

“Haksaeng!” Pemuda manis itu hampir terlonjak ketika seseorang berseragam polisi menghampirinya.

“Ada perlu apa kau tengah malam disini?” Tanya polisi itu penuh selidik. Mengamati Kyuhyun dari bawah sampai atas. Sekali lagi membuat Kyuhyun hampir menangis. Seumur hidupnya dia tidak pernah berhadapan dengan polisi.

“A-aku melewatkan tempat pemberhentianku.” Jawab Kyuhyun dengan suara bergetar. Polisi itu sedikit tertegun, ketika menatap wajah pucat Kyuhyun dan beberapa noda darah di bajunya.

“Apa kau terluka, Haksaeng? Bajumu berdarah!” Kyuhyun gelagapan. Sweaternya yang ternoda darah menyembul dari lilitan syalnya. Membuat pemuda manis itu membenarkan letak syalnya agar si polisi tidak bertanya lebih lagi.

“Tadi, aku mimisan.”

“Ikut saya ke kantor!” Kyuhyun terperangah. Polisi itu menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam mobil. Semakin membuat Kyuhyun ingin menangis saja.

“Ya..! Kau tidak perlu menangis. Aku hanya membawamu ke kantor agar orangtuamu menjemput, arra?!” Ucap polisi itu kala mendengar isakan Kyuhyun.

“Antar Kyunnie pulang, hiks.” Pinta  Kyuhyun sambil menggoyang jok polisi di depannya. Dia semakin menangis ketika melihat kantor polisi sudah berada tidak jauh darinya.

“Ayo turun!”

“Anniyo.. Kyunnie mau pulang!” Tolak Kyuhyun manja. Polisi itu hampir saja menyentak Kyuhyun jika saja matanya tidak bertemu pandang dengan mata bulat berair itu.

“Yaissh jinjja! Dimana alamat rumahmu?” Akhirnya Kyuhyun bisa tersenyum menang. Dia segera mengatakan alamat asramanya dan menghembuskan nafas lega saat polisi itu memutar balikkan mobilnya.

ApolDes

“Hidungnya memang bermasalah, Won. Dia mengalami Anosmia sejak kecil. Jadi bau setajam apapun tidak dapat Ia cium.”

“Kau tahu itu?”

“Aku sudah mengenal Kyuhyun lama. Dia anak yang periang walau kadang sering sakit karena tidak adanya indera pembau.”

“Kenapa kau mengatakannya padaku?”

“Aku tahu Kyuhyun menyukaimu. Dan kau sepertinya belum sadar kalau kau menyukainya. Jadi Kuberitahu sekarang saja. Tapi jika kau tidak berhati-hati pada hal yang dapat menyusup ke pernafasan Kyuhyun, Aku akan menghindarkannya darimu!”

Siwon tertegun dalam kerjanya. Dia masih saja mengingat percakapannya dengan Yunho ketika Ia mengatakan bahwa Kyuhyun hampir saja membakar dapur. Perlahan Ia pijat hidungnya yang pegal, lalu menilik jam di dinding ruang kerjanya. Sudah dini hari, dan tugas yang diberikan ayahnya untuk mengecek laporan keuangan sudah Ia selesaikan. Mungkin lebih baik Ia tidur di asrama saja. Perasaannya tidak enak tentang Kyuhyun.

ApolDes

Nyanyian malam sudah terganti dengan semaraknya sambutan burung ketika matahari mulai beranjak naik. Kamar asrama yang ditempati Siwon dan Kyuhyun begitu lengang. Dengan satu ranjang kosong disana. Bukan berarti salah satu dari mereka sudah bangun, namun Siwon sengaja tidur di ranjang yang sama dengan Kyuhyun. Sejak pemuda tampan itu masuk ke kamar dan mendapati Kyuhyun sudah tertidur pulas, rasanya Siwon ingin menjadikan Kyuhyun sebagai gulingnya. Maka tanpa fikir panjang Ia memeluk Kyuhyun dan menyelamkan alam mimpinya dikebisuan malam. Dari kedua pemuda rupawan itu, Kyuhyunlah yang terbangun pertama kali. Dia terkejut ketika mendapati tangan Siwon melingkar di atas perutnya. Sedikit bersemu, Kyuhyun mencoba memindahkan tangan Siwon perlahan. Tanpa niat mengganggu ‘pangeran’ yang masih betah dalam tidurnya.

“Aku berangkat dulu, Hyung. Aku sudah pesan delivery order untukmu.” Ucap Kyuhyun selepas Ia siap berangkat ke kampus. Ia menatap wajah Siwon sejenak mengurangi perasaan tidak enak yang entah sejak kapan menyusup benaknya.

“Aku pergi.” Ucap Kyuhyun pelan, lalu menutup pintu tanpa suara.

ApolDes

Kampus tempat dimana Kyuhyun belajar masih sangat sepi. Maklum, ini adalah hari yang dingin. Pemuda manis itu saja mengenakan berlapis-lapis pakaian tebal. Dia berencana akan menemui sahabat ayahnya atau bisa disebut dosennya untuk setor akumulasi nilai yang Ia kerjakan.

“Bagaimana keadaanmu, Kyu? Kau sehat?” Tanya si dosen saat Kyuhyun sampai di ruangannya dengan wajah yang ceria meski semburat pucat melekat di wajahnya. Kyuhyun mengangguk riang, sedikit basa-basi dengan Joon ahjussi mengurangi rasa cemasnya yang berlebih. Rasanya seperti berbincang dengan ayahnya sendiri.

“Oh ya Kyu. Kau bisa ke laboratorium Kimia? Aku ingin mengembalikan pinset yang kemarin anakku pinjam.”

“Tentu. Aku akan mengembalikannya dengan selamat.” Jawab Kyuhyun. Segera Ia menerima titipan ahjussinya itu dan berlalu. Laboratorium Kimia, tempat biasanya Yunho menyelesaikan penelitiannya.

“Eoh? Tidak ada orang?” Gumam Kyuhyun. Ia memasuki laboratorium yang sepertinya belum ada mahasiswa masuk. Langsung saja Ia menuju rak peralatan dan menempatkan pinsetnya disana. Sebenarnya ingin Kyuhyun langsung berlalu, namun banyak cairan kimia dengan berbagai warna menarik perhatiannya. Sedikit melirik pintu, akhirnya Kyuhyun menekatkan aksinya untuk sekedar melihat-lihat cairan dalam tabung yang berjajar rapi. Sesekali Ia membulatkan bibirnya kagum. Puas dengan eksplorasinya di laboratorium itu, akhirnya Ia memutuskan keluar sebelum,

Prak..

tangannya tanpa sengaja menjatuhkan cairan dalam tabung reaksi diantara jajaran cairan kimia disana. Perasaan takut seketika melandanya. Tidak ingin menyebabkan kebakaran, Kyuhyun langsung saja mencoba membersihkan pecahan tabung reaksi itu dengan tangannya. Serta mengeringkan cairan kimia itu dengan kain tanpa peduli bahaya yang ditimbulkan oleh kecerobohannya itu.

“Kyuhyun-ah?” Kyuhyun menoleh kebelakang, mendapati Yunho dengan pakaian laboratorium lengkap tengah berjalan kearahnya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yunho ketika mendapati tangan Kyuhyun terdapat pecahan tabung reaksi. Dengan sigap Ia mengamati wajah Kyuhyun dan beling itu bergantian, tidak siap dengan dugaan buruk yang merayapinya.

“Ma-maaf, hy-hyung, ukh..a-aku, hhh, ti-dak..se-nga-hhjaaa..” Ucap Kyuhyun. Pemuda manis itu merasakan sesak yang begitu menyiksa. Ia mencoba menahannya namun tidak sanggup. Yunho melirik warna cairan kimia dengan takut, dan mengumpat saat Kyuhyun akhirnya jatuh pingsan.

“Shit!!” Lalu pria bermata musang itu segera berlari dengan membridal Kyuhyun, menyombongkan telinganya dari pertanyaan teman fakultasnya yang penasaran.

“Bertahanlah, Kyu!”

ApolDes

Siwon menatap kosong pintu kamar isolasi di hadapannya. Ia hampir saja gagal jantung ketika Yunho menghubunginya dan memberitahu keadaan Kyuhyun. Di seberangnya terdapat orangtua si pemuda manis yang tampak tegar dalam diamnya. Juga ada Yunho dengan wajah kacau yang terus merapalkan do’a. Siwon sendiri? Matanya sudah kering bahkan untuk sekedar berkaca-kaca. Dia tidak yakin dengan perasaannya yang mengatakan bahwa cinta pertamanya akan pergi ke tempat yang jauh. Pemuda tampan itu bahkan belum berani menyatakan cintanya karena takut akan Kyuhyun tolak. Bersamaan dengan datangnya Changmin, pintu keramat itupun terbuka. Menampilkan wajah lelah dokter yang kentara.

“Orangtua Kyuhyun-ssi?” Orangtua Kyuhyun menghadap segera. Mengikuti titah dokter untuk mengikutinya ke ruangannya.

“Biarkan kami ikut, Uisa.” Mohon Siwon dan Yunho, dengan paksaan dan negosiasi yang panjang, akhirnya dua pemuda tampan itu ikut bergabung dengan kedua orangtua Kyuhyun. Sedangkan Changmin, pemuda jangkung itu menemani Kyuhyun yang berselimut peralatan medis. Membuat pemuda jangkung itu menangis sesaat setelah memasuki ruangan Kyuhyun.

ApolDes

“Kyuhyun-ssi menghirup Amonia dengan skala kecil. Namun ini menyebabkan gangguan pernafasan yang fatal ditambah Anosmianya yang merupakan bawaan lahir. Jika saja Kyuhyun-ssi telat dibawa kemari dalam tigapuluh menit, saya tidak yakin indera penglihatannya masih berfungsi.” Terang si dokter, membuat rasa takut keempat pendengar disana semakin besar.

“Kami sudah berusaha semampu kami, tetapi sepertinya Kyuhyun-ssi masih perlu dirawat beberapa minggu hingga kami mampu menetralkan cairan kimia itu agar tidak membengkakkan saluran pernafasan. Tangannya yang terbakar juga memerlukan perawatan intensif.” Lanjut dokter itu sambil menunjukkan hasil rontgen paru-paru dan juga luka bakar di tangan Kyuhyun. Ia menerangkan bagaimana sirkulasi udara yang buruk dari paru-paru Kyuhyun bekerja, serta Polip yang menjadi alasan kenapa hidung Kyuhyun sering berair.

“Kami akan berusaha mencari jalan terbaik untuk komplikasi ini.” Tandas dokter diakhir penjelasannya, lalu mempersilahkan keempat wali pasien di hadapannya untuk keluar.

ApolDes

Ruang rawat inap Kyuhyun cukup sesak, dijejali lima tamu termasuk orangtua Kyuhyun sendiri membuat ruang VIP itu penuh. Changmin duduk dalam canggungnya ketika Yunho memutuskan duduk di sampingnya dan mengelus bahunya memberi kekuatan. Orangtua Kyuhyun tampak sibuk menerima telepon dari rekan bisnisnya perihal keadaan si manis. Dan Siwon masih setia menanti mata bulat itu terbuka dengan menggenggam tangan seputih porselen itu hangat. Selang oksigen menyusup di hidung bangir Kyuhyun, beberapa selang juga menempel di dada yang sering membuat Siwon meneguk ludahnya kasar tanpa sadar.

“Nak?” Siwon menoleh. Ia mendapati ayah Kyuhyun menepuk bahunya dan kemudian mengajaknya keluar. Membiarkan ibu Kyuhyun menggantikan posisinya.

ApolDes

“Kyuhyun banyak bercerita tentangmu.” Ucap ayah Kyuhyun membuka pembicaraan. Mereka berada di taman rumah sakit saat ini.

“Ne?” Kaget Siwon.

“Setiap dia pulang, dia menceritakan betapa baiknya kamu dalam menjaganya, bahkan kau diam-diam memeluknya dalam tidur saat dia sakit.” Wajah Siwon memerah, rupanya Kyuhyun menceritakan sedetail mungkin skinship yang diam-diam Ia lakukan.

“Jika kau menyukainya, tolong katakanlah segera, Nak. Kyuhyun tampak begitu bergantung padamu.” Siwon membulatkan mata tidak percaya. Dia menatap ayah Kyuhyun tidak yakin, namun saat mata yang mulai berkeriput itu memancarkan keyakinan, Siwon tidak mampu menyangkal.

“Dulu Yunho pernah menyatakan cintanya kepada Kyuhyun, namun putraku hanya diam, tidak mau menjawab. Dan kau tahu, Nak?”

Siwon menatap ayah Kyuhyun penasaran.

“Bahkan Kyuhyun berharap dia bisa menikah denganmu.” Kali ini jantung Siwon benar-benar siap meledak. Secara tidak langsung, ayah Kyuhyun melamarnya untuk Kyuhyun. Dia bingung sekaligus bahagia sebenarnya. Rupanya Ia tidak lagi perlu takut untuk menyatakan cintanya. Kyuhyun bahkan sudah mengatakan bahwa dirinya adalah pilihannya.

“Ayo masuk! Sepertinya Kyuhyun mencarimu.”

Kedua pria beda usia itu berjalan beriringan, sedikit terburu karena tidak sabar bertemu Kyuhyun. Hana, ibu Kyuhyun menelepon. Memberitahu bahwa si manis sudah siuman. Dan ketika membuka pintu, langkah Siwon terhenti. Yunho tengah mengecup kening Kyuhyun lama, membuat rasa terbakar perlahan merayap ke dalam lubuk hatinya. Hampir saja Ia pergi sebelum akhirnya Kyuhyun memanggilnya.

“Hyung, mau kemana?” Siwon berbalik, lalu dengan berat hati menghampiri Kyuhyun.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Siwon canggung. Sedikit meringis melihat balutan perban tebal di atas luka bakar pria manis itu.

“Sedikit lebih baik.” Jawab Kyuhyun singkat, lalu menarik nafas dari selang oksigennya dalam-dalam. Sesak itu masih ada.

“Apa masih sesak, Kyu?” Tanya  Siwon melihat raut Kyuhyun yang mencemaskan. Bahkan ayah dan ibu Kyuhyun serta Changmin Yunho langsung berkerubut menanyakan kondisi Kyuhyun.

“Maaf. Sebaiknya kalian keluar terlebih dahulu. Terlalu banyak orang akan membuatnya semakin sesak.” Tegur dokter kala melihat kondisi Kyuhyun yang semakin terlihat kesulitan bernafas. Dan akhirnya, ruangan yang semula penuh itu kini hanya tersisa dua orang. Si pasien dan dokternya. Meskipun, kelima orang yang keluar tadi sedikit enggan meninggalkan mereka.

“Bagaimana keadaanmu, Kyuhyun-ssi? Katakan dengan jujur.” Kyuhyun menatap si dokter ragu, lalu sedikit menepuk dadanya.

“Disini masih sesak. Tanganku terasa sangat perih.” Keluh Kyuhyun dengan suara bergetar. Ia menjulurkan tangan kanannya yang berbalut perban. Lalu si dokter dengan telaten merawatnya dan mengganti perbannya hati-hati.

“Kalau pernafasanmu sudah normal kembali, selang ini bisa dicabut dari hidungmu.” Terang dokter setelah menyelesaikan tugasnya.

“Benarkah?” Tanya Kyuhyun dengan wajah berbinar.

“Benar, Kyu. Kalau begitu, aku pergi ya? Sepertinya adik manisku ini akan lekas sembuh.” Ucap Hyun Bin sambil mengalungkan stetoskop di lehernya. Kemudian dokter tampan itu keluar dari ruang rawat Kyuhyun, digantikan dengan Siwon yang masuk tiga menit kemudian.

“Dimana eomma dan appa? Changmin dan Yunho hyung juga tidak terlihat.” Mata Kyuhyun berkeliling saat kalimat itu Ia ucapkan. Nyatanya memang tidak ada siluet empat orang yang dicarinya.

“Changmin dan Yunho hyung sedang makan. Eomma dan appamu sedang mengambil pakaian.” Jawab Siwon sembari menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di samping Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun, dia hanya mengangguk kecil. Sedikit canggung mengingat hanya mereka berdua di ruang yang bisa dibilang megah ini.

“Ngomong-ngomong, aku minta maaf.” Ungkap Siwon setelah limabelas menit kebersamaan mereka diisi oleh keheningan.

“Maaf untuk?” Tanya Kyuhyun bingung. Namja manis itu menatap Siwon penuh selidik, membuat yang ditatap menjadi salah tingkah.

“Itu, aku baru tahu kalau kau mempunyai masalah dengan indera pembaumu.” Kyuhyun membatin ‘Kau sudah tahu rupanya.’ Tidak ada tanggapan dari Kyuhyun, Siwon meraih tangan kanan Kyuhyun hati-hati. Takut melukai isi dibalik perban yang kini Ia raba.

“Tangan cantik, cepatlah sembuh. Aku ingin kau menerima hadiah special dariku. Mau?”

“Mau hyung, mau..!” seru Kyuhyun girang. Ia menganggukkan kepalanya imut. Persis anak kecil. Dan Siwon terkesima akan hal itu.

“Tapi Kyu,” Sambung Siwon dengan mata yang menatap Kyuhyun dalam.

“Hm?”

“Mungkin hadiah ini menyinggungmu. Namun kuharap kau menyukainya.” Ucap Siwon sembari mengeluarkan sebuket bunga dari bawah ranjang Kyuhyun. Membuat laki-laki manis itu mengernyitkan dahinya. Namun tetap tangannya menerima buket itu dengan senang hati.

“Apakah kau bisa mencium wanginya, Kyu? Itu bunga terharum yang ada di toko.” Terang Siwon. Dia hanya ingin memastikan sekali lagi dan berharap bahwa ada kesempatan Kyuhyun untuk sembuh.

“Aku hanya merasakan hidungku mampu menarik dan mengeluarkan udara, Hyung. Dan wangi terindah yang pernah kuhirup adalah udara itu sendiri. Selain itu, aku benar-benar buta.” Ucap Kyuhyun miris. Ia menundukkan wajahnya, menyembunyikan tangisnya agar Siwon tidak melihat.

“Kyu..” Panggil Siwon. Pria tampan dengan jambang halus yang mulai tumbuh di dagunya itu mengangkat wajah Kyuhyun, menyeka airmata yang mengalir disana.

“Aku akan menjadi penyalur nafas untukmu. Aku akan menjadi indera penciumanmu sekalipun racun yang harus kubaui agar kau mengenal seperti apa aroma setiap benda. Dan aku, akan membutakan otakku kalau kau memang tidak memiliki apa yang orang normal punyai. Yang kumau, hiduplah bersamaku. Mulai hari ini sampai ajal nanti. Apa kau bersedia?” Mata Kyuhyun berair kembali. Membuat Siwon memeluknya dan mencium pucuk kepalanya saat Ia mengangguk dengan kata ‘iya’ yang terlontar dengan senyuman bahagia.

“Aku mencintaimu.” Ungkap Siwon tulus. Wajahnya mencondong ke sisi kiri wajah Kyuhyun, mencium pipi gempal yang menggemaskan. Lalu pria tampan itu melanjutkan,

“Maaf untuk menjadi pecundang selama ini. Kau tahu? Meyakinkan perasaan itu sangat sulit.”

“Yah, karena kau pribadi yang aneh, Hyung.”

“Apa kau bilang?” Kemudian mereka tertawa bersama. Hingga akhirnya Kyuhyuun teringat atas rencana yang Ia buat tempo hari.

“Bagaimana kalau kita jodohkan Yunho hyung dan Changmin diam-diam?”

“Ide bagus. Ayo kita lakukan itu.” Dan terakhir, kamar rawat itu dipenuhi oleh rencana WonKyu untuk menyatukan sahabat mereka dengan penuh canda tawa.

E N D

.

.

From Admin

Dukung FF ini untuk jadi pemenang dengan cara:

  1. Share FF ini ke FB melalui kolom Share.
  2. Screenshot_2016-03-29-18-58-12-1
  3. Berikan Komentar untuk FF ini.
  • 1 username 1 komentar
  • Komentar dengan kata dibawah 20 tidak dihitung. Jadilah reader yang aktif. Jangan hanya semangat komentar jika ada war. #eh *bercanda ajah nih*
  • Penilaian oleh reader dilakukan sampai tgl 8 April jam 10 Malam atau setelah Min ssii memberikan komentar di postingan tersebut. Artinya koment yang masuk setelah komentar Min ssii tidak akan dihitung.
  1. Vote FF favorite kalian pada kolom di bawah ini.

VOTE

 

Sekian dan terima kasih.

 

Selamat berlomba untuk semua author dan selamat menikmati sekaligus memberikan nilai untuk semua reader WonKyuCorp.

 

Semangat!!!!!

Advertisements

14 thoughts on “[FF Kontes] What Is Smell

  1. aku suka… aku suka 😀 penyakitnya langka -dan itu terdengar menarik! *aku jadi mulai googling anosmia*
    jadi mereka pacaran, kan? mau jodohin yunho sama chwang juga? ah…manis sekali!
    ah… mari tebarkan kisah hangat dan manis milik wonkyu!
    sukses terus, author!!!!

  2. Kkkkkkkkkk bagus sekali…..
    Ternyata kyu pnya penyakit itu…. Dugaanku bnr, ada yg tdk beres dng kyu……

    Tapi mnrt ku ceritanya krg panjang hehehehehe #Fighting

    ——1315—–

  3. Cinta tapi ndak mau ngaku.
    Cape deeeeh..
    Kan jadinya gt. Sesak lihat kyu dideketin ama yg lain. Untung aja tu yunho sadar diri dan menyerahkan kyu ke siwon. Siwon pun secara ndak sadar malah melindungi kyu, padahal ndak tau penyakitnya diawal kan. Itu lucu deh, diawal kyu sendiri minta siwon untuk pura2 ndak kenal tapi malah sedih sendiri waktu siwon cuek…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s