Posted in Drama, Family, FF Kontes, Genderswitch, Genre, Oneshoot, Romance, Sad, WonKyu Story

[FF Kontes] The Faith

THE FAITH

THE FAITH

.

Kakagalau

.

Another love story from

SIWON & KYUHYUN

.

Teenager

.

Romance – Family

.

 

GENDER SWITCH

.

 

Karena sabar tak mengenal batas tepi,

Karena menyayangi tak mengenal untung-rugi,

Dan karena cinta tak pernah mengajarkan untuk lemah dan menyerah,

Maka Tuhan akan selalu mendengar doa yang terucap setulus hati.

.

.

.

Seluruh orang di dunia tahu, bahwa pernikahan adalah hal yang sangat sakral. Sebuah komitmen yang harus dijaga. Karena pernikahan, adalah tentang janji kita terhadap Tuhan. Dan kebanyakan dari mereka berharap, bahwa mereka hanya akan menikah satu kali untuk seumur hidup. Menjalani pernikahan mereka hingga tua bersama orang yang dicintainya, hingga maut memisahkan.

Terdengar klise, namun pada kenyataannya setiap orang berharap hal serupa tentang pernikahan. Bayangan tentang menikah dan hidup bersama dengan orang yang dicintai adalah hal yang paling indah dan menyenangkan. Menjalani kehidupan pernikahan dengan bahagia. Menikmati setiap perputaran bumi dengan orang yang paling dicintai. Menyaksikan buah cinta kalian tumbuh dewasa, dan menikmati senja di hari tua bersama keluarga. Hanya itu, keinginan sederhana dari seluruh pasangan di dunia ini.

Namun hidup, tak pernah semudah itu, bukan? Jalan tak selalu lurus; ada tikungan tajam, tanjakan terjal atau mungkin jalan buntu. Dan pagi, tak melulu cerah.

Maka dengarlah satu kisah. Tentang dua orang yang saling mencintai dengan setulus hati. Bahwa pernikahan adalah tentang pengorbanan dan ketulusan –pengabdian dan penerimaan. Dan tentang cinta mereka, yang tak pernah mudah.

.

 

.

 

.

Pria paruh baya berusia empat puluh delapan tahun itu menggeliat di balik selimut tebalnya. Menarik selimut yang sempat melorot itu hingga sebatas dada. Ia mencoba untuk mengabaikan matahari kota Seoul baru merangkak naik. Tapi semburat sinarnya yang kaya vitamin E itu menyusup masuk melalui serat gorden. Memaksa pria paruh baya itu terjaga, meski masih samar-samar.

Sebenarnya ia sudah berhasil mendengar keributan kecil dari arah dapur rumahnya, dan ia hafal betul siapa pelaku keributan itu. Namun tak urung, jemarinya tetap juga meraba sisi di samping kanannya. Sedikit kecewa ketika mendapati bahwa sisi itu benar-benar sudah kosong. Seperti dugaannya, istrinya itu pasti sedang bertempur dengan peralatan dapur –atau mungkin juga tengah ribut membangunkan anak-anak mereka. Jadi, pria paruh baya itu hanya ingin menunggu istrinya kembali ke kamar untuk membangunkannya. Seperti biasanya, manis sekali!

“Kau sudah bangun?” Suara lembut bak lelehan keju itu mengalun. Sosok itu kian mendekat ke arah si pria paruh baya itu –Siwon. Membuat Siwon pura-pura terpejam lagi. Siwon mengamati perempuan itu dari sudut matanya yang sedikit terbuka. Memperhatikan ekspresi dari orang yang begitu dicintainya itu dengan seksama. Merasakan betapa lembutnya tangan itu saat memainkan surai Siwon sebelum memutuskan untuk menggesekkan hidungnya dengan hidung Siwon.

Geli.

Siwon merasa sedikit geli, hingga akhirnya memilih untuk membuka matanya. Ia memandang iris hitam serupa biji lengkeng itu tengah menatapnya. Siwon mau tak mau tersenyum. Menyaksikan salah satu malaikat Tuhan tengah menatap ke arahmu di pagi ini adalah sebuah keberuntungan, bukan?

“Hai, sayang…” sapa Siwon dengan suara khas orang baru bangun tidur.

“Hai, pemalas.” Lagi, suara lembut itu menyambangi telinga Siwon dengan mesra. “Secangkir kopi dan pancake madu sudah menunggu di meja makan. Ayo bangun!” Katanya manja.

Siwon membuka matanya dengan sempurna. Namun masih enggan bergeser dari ranjangnya barang satu inch-pun. “Aku masih lelah dan mengantuk…” Keluh Siwon dengan sedikit menguap lebar. “Kau tau bukan, aku baru saja pulang dari luar kota tengah malam tadi?”

“Haruskah kau aku tinggalkan sarapan sendirian?” Tanya perempuan itu dengan nada sedikit merasa bersalah. “Kasihan… anak-anak sudah menunggu di meja makan.”

Siwon tersenyum mendengar perkataan isterinya itu. Pria yang masih kekar di usianya yang menyambut kepala lima itu kemudian mendudukan dirinya di ranjang –sebagai pembuktian bahwa nyawanya sudah kembali utuh.

“Bilang pada anak-anak untuk menunggu Ayahnya lima menit. Aku akan mencuci mukaku terlebih dulu.”

Perempuan itu mengangguk dan tersenyum kecil. Senyuman yang keindahannya mengalahkan cahaya mentari pagi ini. Dan Siwon, merebut morning kissnya dari bibir perempuan di hadapannya sebelum melesat ke kamar mandi. Membuat bola mata perempuannya itu membulat sempurna dan menyisakan semburat merah di wajah karena menahan malu dengan tingkah konyol suaminya itu.

.

Keluarga kecil yang bahagia itu berkumpul dalam lingkaran meja makan. Ada Choi Siwon yang merupakan kepala keluarga, Cho Kyuhyun –Nyonya Choi, serta Choi Suho, Choi Jino dan Choi Minho –yang merupakan putera dan puteri keluarga Choi. Mereka semua berkumpul untuk menikmati sarapan. Kebiasaan yang selalu dipertahankan keluarga kecil ini, dimana setiap kali ada kesempatan, mereka sebisa mungkin untuk makan bersama. Menjaga quality time dengan keluarga.

“Ayah, hari ini aku ada seleksi masuk tim basket sekolah.” Jino –putra kedua keluarga Choi yang baru duduk di kelas satu senior high school  itu mengadukan agenda kegiatannya hari ini pada sang Ayah. “Jadi, hari ini aku akan pulang terlambat. Tak apa, kan?”

Bocah enam belas tahun itu menyuapkan irisan pancakenya ke mulut sebelum menyambung kalimatnya lagi, “Aku sudah bilang pada Ibu tentang hal ini –dan Ibu tak masalah sama sekali. Aku hanya tinggal minta izin dari Ayah.”

Siwon melihat ke arah Kyuhyun untuk memastikan kebenaran cerita anak keduanya itu. Kyuhyun mengangguk singkat sambil menyeruput teh madu miliknya.

Siwon tersenyum sebagai responnya untuk anak keduanya itu. “Semoga kau lolos seleksi, Jagoan! Buat ayah bangga, okay?”

Jino mengangguk bersemangat.

“Lalu Minho…” Siwon mengalihkan pandangannya pada bocah tujuh tahun yang duduk tepat di sisi kiri ayahnya. “Apa kegiatan Minho hari ini?”

Bocah itu nampak memiringkan kepalanya ke arah kanan. Menampilkan gaya sedang berpikir dengan cara yang menggemaskan. “Minho akan pergi bersama Taeminie untuk membeli kaset game baru. Boleh ya, Ayah?” si bungsu Choi itu mengeluarkan jurus puppy eyes miliknya. Hasil meniru gaya sang ibu setiap kali memohon sesuatu pada ayah. “Minho sudah menabung selama dua minggu penuh untuk beli kaset game.”

Siwon lagi-lagi tersenyum “Boleh. Perginya hati-hati, ya!”

“Okay, Ayah.” Bocah enam tahun itu menampilkan pose hormat sambil melonjak riang di kursinya.

Suho –putri tertua keluarga Choi itu memundurkan kursinya. “Aku sudah selesai.” Katanya sambil membawa piring bekas makannya ke dapur.

Anak-anaknya yang lain juga selesai dengan sarapannya. Mereka mencium pipi ayah dan ibunya sebagai tanda bahwa mereka juga sudah selesai makan dan akan berangkat ke sekolah. Meninggalkan piring kotor di meja makan begitu saja. Kyuhyun berdecak kecil melihat kelakuan anak-anak lelakinya yang tak bisa diandalkan itu.

“Suho pulang larut, semalam. Makanya ia segera menyelesaikan sarapannya barusan. Aku sebenarnya ingin cerita padamu, tapi saat kau pulang, kau kelihatan lelah sekali! Aku jadi tidak tega.” Adu Kyuhyun sambil membereskan meja makan. “Cobalah Ayah yang bilang padanya! Dia selalu menyebut aku sebagai Ibu yang galak setiap kali Ibu menasihatinya.”

Siwon tersenyum melihat kelakuan istrinya. Khas ibu-ibu sekali –pengadu dan pandai merajuk. “Aku akan bicara padanya.” Ujar pria itu. Mengecup dahi Kyuhyun sekilas sebelum mencari keberadaan Suho.

.

“Hai, putri Ayah.” Siwon menyapa Suho dengan nada jenaka. Pria paruh baya itu berdiri di pintu kamar putrinya demi mengamati Suho yang asyik dengan novel tebalnya itu. “tidak pergi ke kampus?”

Suho tersenyum menatap ayahnya, dan kemudian menggeleng singkat. “Jadwalku siang, Yah.”

Siwon menghampiri putrinya itu. Duduk di tepian ranjang dengan sprei pink bermotif bunga lily. “Jadi, pulang jam berapa semalam?”

“Tsk, apa Nyonya Choi itu mengadu pada Ayah?” Suho terdengar berdecak kesal. Membalik halaman novelnya dengan agak kasar. “Apalagi yang dia adukan padamu? Aku berkencan, hura-hura dan lain sebagainya?”

Siwon mengerutkan dahinya. Cukup tak suka mendengar nada kurang ajar itu mengalun dari bibir putri yang teramat sangat disayanginya. “Dia ibumu, Choi Suho!” Tegur Siwon. “Dari mana kau belajar kalimat kurang ajar seperti itu? Dosenmu mengajari hal-hal seperti itu?”

Suho menunduk takut. Ia selalu tak bisa berkutik jika ayahnya yang bersuara. Terlebih ketika sudah menegur seperti barusan. Dalam hati Suho meruntuk karena tak bisa menahan bibirnya.

“Bukankah Ayah hanya bertanya jam berapa kau pulang, semalam? Kenapa kau jadi begitu marah?”

“Aku pulang jam sembilan, semalam.” Aku Suho. “Aku dan beberapa teman belajar kelompok. Tapi sebelum pulang mereka malah mengajakku ke salah satu mall yang baru buka di Apgujeong-dong.”

“Dan kau pergi?”

Suho mengangguk.

“Ibu memberi izin?”

“Aku tak bilang.” Cicit Suho kian takut usai mengakui kesalahannya. “Ibu pasti langsung memintaku cepat pulang. Makanya aku tak bilang.” Suho terdengar kesal.

“Ibu itu terlalu konservatif, Yah! Dan itu sungguh menyebalkan. Melarang ini dan itu –padahal teman-temanku yang lain tak pernah dilarang seperti itu oleh orang tua mereka.” Keluh Suho. “Aku sudah dua puluh tahun, Ayah. Mengapa Ibu selalu menganggapku anak kecil yang harus sudah duduk diam di rumah sebelum jam tujuh malam? Menggelikan.”

“Itu karena kau anak Ibu dan Ayah. Kami melakukannya karena kami menyayangimu, Suho sayang.” Siwon membawa gadis kecilnya itu kedalam tangan kekarnya. “Semalam, Ibu pasti menunggumu dengan cemas hingga kau pulang, padahal ia pasti sangat lelah. Lagipula, tidak baik anak gadis berkeliaran malam-malam. Bahaya! Ayah bahkan takkan mengizinkan kau pulang lewat dari jam lima sore jika bukan untuk urusan kuliahmu.”

“Tapi, Ayah…”

Siwon menggeleng. Kode keras bahwa ia tak ingin dibantah. “Minta maaf pada Ibu, sana!”

Suho memalingkan wajahnya. “Tidak mau! Harusnya Ibu yang minta maaf karena sudah memarahiku semalam.” Ketus Suho. Tapi Siwon tau, bahwa putrinya tak sungguh-sungguh mengatakan itu.

“Tapi nanti, Ibu pasti membuatkanmu pudding mangga sebagai permintaan maaf.” Siwon menjentik hidung putri kesayangannya itu.

“Ayah benar.” Ujar Suho disambung dengan tawa. “Ibu selalu begitu setiap kali selesai marah-marah. Membuat pudding atau dessert lainnya.”

“Itu karena Ibu menyayangimu.” Siwon mengacak rambut putri kecilnya itu dengan penuh sayang. “Kau akan tau rasanya, ketika nanti sudah jadi ibu. Ayah pikir, kau bahkan akan lebih cerewet dari ibumu ini.”

.

 

.

 

.

 

Awal musim gugur tahun ini menjadi begitu dingin dan menusuk. Padahal salju masih lama datang, tapi hawa menggigil dan sepi sudah masuk mewarnai hari. Beberapa daun maple sudah nampak berguguran mengotori jalan. Sebagian lainnya menari terseok angin.  Menyampaikan kerinduannya yang dicampakkan kehangatan matahari.

“Ibu… cepat! Aku dan Suho noona sudah menunggu diluar dari tadi! Sebentar lagi pertandingan basket Jino hyung akan segera dimulai. Nanti kita terlambat.” suara teriakan Minho mulai terdengar.

“Tunggu sebentar, sayang!” Kyuhyun balas berteriak dari arah kamar mandi sambil menyeka mulutnya.

Ya… Kyuhyun berada di kamar mandi saat ini. Memuntahkan isi perutnya –dan Siwon masih mencoba memijat tengkuk perempuan yang dicintainya itu.

Ini bukan kali pertama pria paruh baya itu mendapati istrinya mengeluarkan isi perutnya seperti ini. Bahkan beberapa hari yang lalu, istrinya sampai dehidrasi karena terlalu sering muntah. Awalnya, Siwon kira istrinya mungkin sedang mengandung anak keempat mereka –mengingat bahwa mual dan muntah adalah gejala yang juga sering dialami ibu hamil. Ditambah lagi, Kyuhyun sering mengeluhkan bahwa ia menjadi mudah lelah, dan sering mengalami sakit kepala –seperti yang dulu sering dialaminya saat mengandung Minho. Namun saat diperiksa ke klinik kecil yang terletak beberapa blok dari rumah mereka, Kyuhyun dinyatakan baik-baik saja –dan tak ada janin yang sedang tumbuh di rahim perempuan empat puluh lima tahun itu. Dokter bilang, semua yang Kyuhyun alami adalah karena Kyuhyun kelelahan. Apalagi, Kyuhyun memiliki riwayat penyakit anemia. Makanya dokter hanya menyarankan Kyuhyun untuk beristirahat penuh selama beberapa hari.

Tapi kondisinya tak kunjung ada perubahan. Istri yang begitu dicintai Siwon itu malah terlihat semakin sakit dan kerap kali kedapatan meneteskan darah dari hidungnya. Sayangnya, Kyuhyun terlalu keras kepala untuk memeriksakan dirinya sendiri ke rumah sakit.

“Kita bisa membatalkannya jika kau merasa kurang sehat, Sayang.” Siwon berujar dengan nada khawatir. Masih mengusap punggung istrinya dengan penuh sayang.

Kyuhyun menggeleng lemah. Sepertinya habis sudah tenaganya usai memuntahkan seluruh isi perutnya.“Jino pasti kecewa jika kita tidak datang. Kita sudah berjanji, bukan?”

“Tapi kau sakit, Sayang.”

“Ini hanya masuk angin. Dan aku sudah merasa lebih baik sekarang.” Kyuhyun tersenyum meyakinkan. “Beri aku beberapa menit untuk menggosok gigi dan membenarkan riasanku. Bisakah?”

Siwon enggan, tapi akhirnya mengangguk juga. “Aku tunggu diluar. Aku akan menenangkan bocah kecil kita yang sedang merengek itu.”

.

Siwon tak tau, apakah benar atau tidak menuruti permintaan Kyuhyun untuk tetap menonton pertandingan final putra keduanya itu. Selama jalannya pertandingan, Siwon hanya terus memperhatikan Kyuhyun. Tak bisa fokus pada pertandingan Jino. Sang istri yang terlihat tersenyum dan melambai pada Jino dengan semangat itu diam-diam kedapatan tengah memijat perut atau kadang pelipisnya sambil sedikit meringis sakit. Itu semua lebih menarik perhatian Siwon dibanding Jino yang tengah melakukan lay up- lay up cantik untuk menambah poin. Terlebih, bibir juga kulit Kyuhyun nampak lebih pucat dari biasanya.

“Kau sungguh tak apa?” Siwon menarik sang istri untuk bersandar di dadanya. Membantu memijat perut perempuan itu dengan hati-hati.

“Sedikit sakit.” Keluh Kyuhyun pelan, “Mungkin aku mulai kelaparan karena muntah tadi.” Perempuan itu mencoba tertawa.

Siwon tau bahwa hal itu bukan karena lapar. Tapi ia tak ingin bicara banyak. Siwon hanya menyodorkan sebotol air mineral untuk Kyuhyun. Tangan lainnya ia gunakan untuk menyeka keringat dingin yang menghiasi sekitaran dahi dan leher perempuan yang dicintainya itu.

“Kau yakin baik-baik saja?”

Kyuhyun mengangguk. “Sudahlah sayang, fokus saja pada pertandingannya Jino.”

Siwon berdecak saat istrinya mulai mengalihkan topik pembicaraan. “Tunggulah sebentar lagi, setelah pertandingan selesai kau bisa segera beristirahat dirumah.” Ujar Siwon.

Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi ucapan Siwon.

.

Siwon sungguh bersyukur karena pertandingan telah usai dengan kemenangan yang diraih oleh sekolah Jino. Jino bahkan dinobatkan sebagai Most Valuable Player dalam kompetisi ini. Tak pelak, Suho dan Minho pun terdengar berteriak bangga untuk saudara mereka itu. meneriakkan nama Jino seolah putra keluarga Choi itu adalah salah satu pahlawan revolusi. Dan suara konfeti terdengar meletup dimana-mana.

Jino menggoyangkan sertifikat yang diraihnya di depan Ayah dan Ibunya. Memamerkan diri bahwa ia bisa membuat keluarga kecilnya itu bangga. Bocah itu bahkan sempat menantang Minho untuk jadi sehebat dirinya. Gaya angkuh khas yang diturunkan Siwon untuk dua jagoannya itu. Sayangnya, kebahagiaan tidak seabadi itu. Karena Kyuhyun tiba-tiba saja menumpukan dirinya sepenuhnya pada Siwon dengan hidung yang berdarah. Terkulai lemah tak sadarkan diri. Membuat anak-anak Choi itu menjerit kaget, nyaris histeris.

.

“Noona, Hyung… apakah Ibu baik-baik saja?” Minho yang kini berada dalam pelukan Jino dan Suho itu bertanya dengan nada sedih. Bola mata kodok itu menatap ayahnya yang tengah berdiri di depan pintu ruang emergency dengan ekspresi yang kurang bersahabat. Ayahnya itu nampak gusar dan kacau.

“Minho berdoa saja, ya.” Jino berujar lirih sambil menahan air matanya untuk tidak menetes. Laki-laki tidak boleh cengeng, bukan? Ayahnya selalu bilang begitu. Terlebih, dia anak lelaki tertua di keluarga Choi. Jino jadi berfikir bahwa ia harus menjadi lebih kuat untuk melindungi kakak perempuannya dan adiknya yang masih kecil. “Ibu pasti baik-baik saja.”

Jino terdengar tak yakin dengan kalimatnya. Ditambah, ia semakin ngeri dengan sisa bercak darah Ibu mereka yang ternyata menempel di baju Suho. Tapi Jino tak boleh mengatakan hal buruk –seberapa takutnya pun ia. Karena ucapan adalah doa, dan Jino tak ingin mendoakan hal buruk terjadi untuk ibunya sendiri.

Ketiga putra-putri Choi itu melihat dokter yang sudah keluar dari ruang emergency. Raut wajah dokter itu juga sama seperti raut wajah ayah mereka -tidak bersahabat. Dan ketiga anak kecil itu tidak bisa mendengar apa yang Ayahnya dan dokter itu bicarakan karena jarak mereka duduk dan jarak dua orang dewasa itu berdiri cukup jauh, dan lagi kedua dewasa itu berbicara dengan suara yang sangat pelan.

Siwon menghampiri anak-anaknya usai berbicara serius dengan sang dokter. Ia mengecupi dahi anak-anaknya satu persatu. Menatap tiga pasang bola mata jernih itu dengan tatapan berair.

“Ibu tidak apa-apa…” kata Siwon menenangkan. “Dokter akan memindahkan Ibu ke kamar rawat. Ibu harus tidur beberapa hari di rumah sakit. Ayah pikir, lebih baik kalian pulang dulu saja. Kakak kalian perlu mengganti bajunya yang terkena darah Ibu.” Tambah Siwon sambil melirik pada putri tertuanya itu.

Suho menggeleng tak setuju. “Tak bisakah kita menunggu Ibu disini? Aku ingin melihat Ibu dulu.”

“Minho dan Jino harus sekolah besok, sayang.” Jelas Siwon sambil menangkup pipi kanan Suho dengan tangan besarnya.“Jadi lebih baik kalian pulang dan beristirahat. Ayah akan menelepon Aunty Hyukkie dan Uncle Hae untuk menemani kalian dirumah.”

“Bagaimana dengan Ayah?” Tanya Suho. Gadis dua puluh tahun itu menunjuk baju ayahnya yang juga terdapat noda darah. “Baju ayah juga kotor karena terkena darah ibu.”

“Jangan khawatir, Ayah punya baju ganti di mobil.” Jelas Siwon. “Jadi Suho, bisakah kau Ayah percaya untuk menjaga kedua adikmu ini?”

Suho akhirnya mengangguk.

Siwon tersenyum puas, “Baiklah anak-anak. Segeralah pulang dan beristirahat.” Kata Siwon sambil mengusak surai-surai lembut milik ketiga anaknya.

Ketiga anak penyandang marga Choi itu menuruti keinginan ayahnya meski dengan setengah hati. Suho menggandeng tangan Minho untuk menggiring adiknya pulang bersamanya –dengan Jino yang mengekor di belakang. Meninggalkan ayahnya sendirian menunggui Ibu di rumah sakit mewah itu.

.

 

Siwon menemani istrinya yang masih tertidur. Dadanya bergerak naik turun dengan teratur. Wajahnya yang damai setiap kali sedang tertidur itu selalu berhasil membuat Siwon jatuh cinta. Malaikat paling indah yang pernah dikirimkan Tuhan untuknya.

 

Menurut pemeriksaan kami, ada leukosit-leukosit abnormal yang berkembang dalam tubuh istri anda, Tuan Choi.

 

Penjelasan dokter tadi kembali terngiang dalam benak Siwon. Berdengung dengan menyakitkan. Hingga Siwon tak mampu menahan air matanya lagi.

Dalam dunia medis, ini dikenal dengan nama Leukemia, atau kanker darah. Tapi kami belum mengetahui seberapa parah kanker yang di derita oleh nyonya Choi. Kami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan semuanya –dan opsi apa yang bisa rumah sakit tawarkan untuk pengobatan Nyonya Choi selanjutnya.

 

“Ayah menangis?” suara serak Kyuhyun menyapa gendang telinga Siwon. Perempuannya telah terbangun, rupanya.

Siwon menggeleng, menampik bahwa ia baru saja bertindak cengeng –menangis. Gaya khas lelaki paruh baya yang kharismatik ketika ketahuan meneteskan air mata. Buru-buru ia mengganti lelehan air matanya dengan senyum. Tapi Kyuhyun balas tertawa kecil. Karena perempuan itu masih bisa melihat jejak air mata yang menganak sungai di pipi suaminya itu.

“Apa kau merasa sakit, hn?”

Sang istri mengangguk jujur. “Kepalaku masih pusing, perutku mual dan punggungku sakit.”

“Perlu Ayah panggil dokter?”

“Tidak usah, Sayang… Kan sudah ada kau disini. Dokter terhebat untukku.” Kyuhyun tersenyum manis untuk menggoda suaminya. Senyum yang selalu berhasil membuat Siwon jatuh cinta setiap hari pada perempuan itu.

Kyuhyun memandang sekeliling. Menyadari bahwa ruangan ini begitu sepi dan hanya ada mereka berdua. “Ayah, kemana anak-anak?”

“Mereka aku suruh pulang. Aku juga sudah meminta tolong Hae dan Hyukkie untuk menjaga mereka.” Terang Siwon sambil menyebut nama tetangga mereka. “Lagipula, Suho juga sudah besar. Dia pasti bisa di andalkan untuk menjaga adik-adiknya.”

Kyuhyun mengangguk paham. Perempuan itu kemudian terdiam cukup lama. Menatapi langit-langit kamar rawat rumah sakit yang membosankan. “Sayang…”

“Hn?” Siwon mengusap lengan istrinya dengan penuh sayang.

“Apa yang terjadi padaku?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba. Ia menolehkan kepalanya untuk menatap bola mata suaminya. “Apakah aku sakit parah?”

“Tidak…” jawab Siwon. Kyuhyun tau itu bohong, tapi ia belum ingin menyela kalimat suaminya. “Kau hanya kelelahan, sayang. Kata Dokter, kau hanya perlu beristirahat selama beberapa hari dan kau pasti akan segera sembuh.”

“Kau yakin tak ingin mengatakan yang sejujurnya padaku?” desak Kyuhyun. “Aku sungguh sudah siap dengan apa yang akan ku dengar.”

Siwon menggeleng. Mengusap pipi istrinya dengan lembut. Bagaimana mungkin Siwon sanggup mengatakan vonis dokter yang sebenarnya? Siwon terlalu mencintai perempuan dihadapannya ini. Ia tak ingin perempuan itu terluka.

“Sayang…” Kyuhyun merajuk. Namun Siwon tak terpengaruh sama sekali.

“Kau sungguh takkan memberitahuku?” Tanya Kyuhyun –dan Siwon membalasnya dengan gelengan super singkat.

“Kalau begitu, biar aku yang tebak. Bagaimana?”

“Sayang, kau tak perlu-”

“Kanker?” potong Kyuhyun. Mengabaikan Siwon yang mencoba menghentikan tingkah konyolnya. Perempuan itu memperhatikan raut wajah suaminya yang kian mengeruh.

“Sepertinya tebakanku benar… Aku kira yang seperti itu hanya ada dalam novel dan drama TV.” Kyuhyun tertawa saat Siwon tak kunjung berucap apapun. Mencoba untuk riang, namun Siwon mendengarnya sebagai nada sumbang.

Siwon tak sanggup lagi. Bahkan ketika Kyuhyun menanggapinya dengan tertawa, Siwon merasa lebih hancur. Rasanya ia ingin melempar Dokter yang tadi memberikan vonis mengerikan itu untuk istrinya. Ia ingin menangis dan berteriak karena sikap istrinya itu. Lebih baik istrinya itu menangis meruntuki nasib daripada berpura-pura baik-baik saja seperti ini. Menutupinya dengan senyum seolah menerima takdir Tuhan dengan lapang dada. Padahal semuanya tidak semudah itu. Menerima kenyataan pahit tidak pernah semudah itu!

“Sayang… aku baik-baik saja. Sungguh!” Ujar Kyuhyun sembari menangkup pipi suaminya. “Kenapa jadi kau yang bersedih?”

Siwon tak mengeluarkan suara. Sedikit merasa kerdil ketika sang istri tak menunjukkan raut terluka seperti dirinya.

“Temani aku berobat, sampai aku sembuh, ya?” pinta Kyuhyun lemah. Perempuan itu menangis juga pada akhirnya.

Siwon mengangguk. Tersenyum dan memeluk Kyuhyun dengan hangat. Berbagi kekuatan untuk menghadapi pahitnya kenyataan, serta dinginnya angin musim gugur.

.

 

.

 

.

 

Tiga bulan berlalu membuat Kyuhyun semakin kelihatan lemah dan tak berdaya. Hari-hari yang dijalani Kyuhyun kian rumit. Beberapa kali kemoterapi membuat perempuan paruh baya itu kehilangan banyak berat badannya. Matanya kian redup dan sayu. Tak bersinar seindah dulu. Beberapa helai rambutnya mulai rontok –membuat Kyuhyun memotong pendek surai yang dulu selalu diusapi Siwon itu. Bahkan tak jarang, Kyuhyun menggunakan kursi roda karena terlalu lemah untuk membawa tubuhnya berjalan.

Siwon diam-diam selalu menangis. Meruntuki diri karena tak mampu menolong apapun agar istrinya sembuh. Pagi dan malam ia menghadap Tuhannya. Mengucapkan permohonannya yang sederhana. Berharap ada secercah harapan untuk istrinya bisa sembuh. Tapi kabar baik itu belum juga datang. Memaksa Siwon untuk bersabar lebih banyak lagi.

Sore ini, angin musim gugur sudah tak berhembus kencang. Berganti dengan butiran salju yang turun dari langit. Kyuhyun terlihat sedang berselonjor kaki diatas ranjangnya –dengan selimut tebal yang meliputi tubuhnya. Tatapannya menerawang, menembus jendela kamar mereka.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Siwon saat menyaksikan Kyuhyun melamun. Pria itu membawa satu pisin kecil berisi obat-obatan dan segelas air mineral.

Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum simpul ke arah suaminya. Mengganti kalimatnya dengan isyarat bahwa ia tak sedang memikirkan apapun.

“Kalau begitu mari minum obatmu sekarang.”

Kyuhyun menerima obat yang baru saja disodorkan oleh suaminya. Menelannya sekaligus dengan bantuan air. Perempuan itu mengernyit saat merasakan sensasi pahit yang masih tertinggal di mulutnya. Lelah sekali rasanya harus bergantung pada pil-pil kecil itu. Padahal ia baru menjalaninya selama tiga bulan saja. Tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun.

Hebatnya, Siwon selalu bisa merubah suasana. Pria paruh baya itu melumat bibir Kyuhyun dalam. Menyalurkan rasa manis dari permen yang entah sejak kapan dikulum oleh lelaki itu.

“Merasa lebih baik?” Tanya Siwon sambil menghapus sisa saliva di sudut bibir Kyuhyun.

Perempuan itu tertawa. Memperlihatkan gumpalan permen yang kini sudah berpindah ke mulutnya. “Cheesy..”

“Bukankah kau menyukai pria yang selalu berbuat cheesy ini?”

“Aku takkan menampiknya, Tuan Choi.” Ujar Kyuhyun sambil memeluk suami kekarnya itu. “Kalau tak salah, Minho akan berulang tahun minggu depan.”

“Benarkah?” kerutan di dahi Siwon nampak menyatu. Berusaha mengingat-ingat tanggal ulang tahun si bungsu. “Kau ingin memberi kado?”

Kyuhyun mengangguk. “Tolong pilihkan hadiah untuk putra kecil kita, Sayang.”

“Aku pikir kau akan memilihnya sendiri?”

“Dengan keadaan begini?” Kyuhyun terdengar putus asa menatap keadaannya sendiri.

“Kyuhyun…” Siwon melemahkan nada suaranya. Cukup tak habis pikir, bagaimana bisa istrinya merasa rendah diri karena kondisinya ini.

“Kalau kau sibuk, aku akan membeli hadiahnya di online shop.” Putus Kyuhyun tiba-tiba.

“Tidak, Sayang. Bukan begitu maksudku.” Ujar Siwon. “Aku hanya berpikir bahwa kita bisa berjalan-jalan menikmati waktu berdua. Kita bisa memilih kado untuk Minho bersama-sama.”

Siwon menangkup wajah Kyuhyun saat melihat perempuan itu hendak menyela kalimatnya. Memaksa bola mata itu untuk menatap ke arahnya. “Kau sempurna, dan akan selalu seperti itu.” tegas Siwon. “Jangan merasa rendah dan hina, Kyuhyunie sayang. Ada aku disini.”

“…” Kyuhyun merasa tertampar. Ia memang merasa rendah diri semenjak sakit. Jujur, perempuan itu sungguh takut jika suaminya malu dengan keadaannya. Kyuhyun tak ingin membuat Siwon terbebani.

Ya… sakit ini selalu membuat Kyuhyun berprasangka negatif. Padahal Siwon sudah mencintainya dengan setulus hati.

“Jadi, bisakah kita pergi berkencan hari ini?” Goda Siwon.

Kyuhyun mengangguk. “Terimakasih sudah menjadi suamiku, Choi Siwon.” Bisiknya tepat di telinga sang suami.

.

“Ibu dan Ayah mau kemana?” Minho bertanya dengan nada riang saat melihat ibu dan ayahnya sudah berpakaian cukup rapi. Bocah itu bahkan melupakan toples keripik kentang yang sedari tadi dipeluknya.

“Kencan.” Siwon berujar dengan nada riang. Membuat Minho mengernyit karena tak mengerti.

“Apa itu kencan?” Minho balik bertanya.

Kyuhyun menepuk pelan tangan suaminya yang tengah mendorong kursi rodanya. Sedikit menegur karena suaminya itu sudah berbicara yang macam-macam di depan anak dibawah umur. Sedangkan Siwon jadi sedikit kikuk.

“Aigoo… Ayah dan Ibu sedang dalam masa puber ke dua.” Goda Jino yang baru saja turun dari kamarnya di lantai dua. Pemuda enam belas tahun itu langsung duduk di sisi Minho.

“Astaga… kalian ini bicara apa?” Kyuhyun cukup malu digoda anak-anaknya seperti itu.

Minho menarik ujung baju Jino. “Hyung, puber itu apa?”

Para dewasa disana cukup bersweatdrop ria. Bingung cara menjelaskan hal itu kepada anak kecil.

“Kencan itu artinya ketika kau dan teman perempuanmu jalan-jalan berdua. Seperti yang akan dilakukan Ibu dan Ayah.” Terang Suho yang muncul dari dapur sambil membawa segelas orange jus.

“Kalau puber?”

“Hm… apa ya?” Suho jadi bingung sendiri. “Nanti Minho pasti mengerti kalau sudah sebesar Jino.”

Sedangkan Siwon malah tertawa. “Ingin pesan sesuatu? Mungkin Ayah akan mampir ke beberapa toko nanti.”

Jino dan Minho sepakat bahwa mereka ingin dibawakan Pizza dan Pasta sebagai oleh-oleh dari kencan Ayah dan Ibu. Sedangkan Suho, gadis itu malah terlihat menghampiri ibunya. Membenarkan letak syal berwarna merah maroon yang nampak senada dengan dress yang digunakan sang ibu.

“Ibu terlihat cantik.” Puji Suho.

“Terimakasih.”

“Cukup pastikan bahwa Ayah tak membuat Ibu lecet sedikitpun selama kalian berkencan. Itu sudah menjadi oleh-oleh yang bagus untukku.” Suho terdengar over protective pada sang ibu. Membuat Tuan Choi itu lagi-lagi tertawa.

“Baiklah… kami pergi dulu.”

“Hati-hati dijalan.” Ketiga putra-putri Choi itu berujar nyaris bersamaan.

“Pastikan kalian berdua tidak kelelahan.” Tambah Suho.

.

 

.

 

.

Hari ulang tahun Minho tiba. Sejak matahari kian tinggi, Kyuhyun sudah terlihat sibuk di dapur dengan dibantu beberapa maid. Dulu, saat Kyuhyun masih sehat, Kyuhyun takkan membiarkan siapapun menyentuh dapurnya. Para maid paling hanya membantu membereskan rumah saja –tidak untuk memasak. Tapi sekarang, ya… keadaannya sudah berbeda, bukan?

Suho yang kebetulan hari itu sedang libur kuliah turut menjadi tenaga relawan dalam memasak berbagai hidangan. Ia harus cukup banyak bersabar karena Ibu cukup cerewet setiap kali memasak.

“Jangan memasukkan gula terlalu banyak, Suho-ya. Nanti Ayahmu diabetes.”

 

“Ayahmu tak suka makanan pedas, Suho. Jadi hentikan memasukkan merica itu ke dalam sup.”

 

“Jangan terlalu banyak bawang Bombay dan paprika. Minho tak menyukainya. Ah, tambahkan sedikit garam untuk masakan itu. Jino suka jika masakan itu sedikit terasa asin.”

 

“Kau tak suka aroma kayu manis bukan? Jadi lewatkan saja bumbu itu. Ibu kira rasanya takkan begitu berubah.”

 

“Suho, masakanmu nyaris gosong!”

 

“Jangan melamun saat di dapur, sayang. Atau kau bisa terluka nanti. Dapur itu medan perang, bukan tempat bermain. Ada banyak benda yang membahayakan di sini.”

Dan masih banyak lagi ucapan Ibunya yang harus Suho dengar selama acara memasak ini. Dua maid yang ikut membantu itu bahkan mengulum senyum melihat tingkah Suho yang terlihat jengah dikomando sana sini oleh sang Nyonya.

Meskipun telinganya gatal mendengar celotehan Ibunya yang tak kunjung berhenti, tapi Suho takjub juga pada perempuan itu. Bagaimana bisa ia begitu hapal dengan apa yang disukai dan tidak disukai oleh orang-orang di rumah ini. Ibu bahkan tau dengan pasti berapa takaran gula yang digunakan untuk membuat milkshake strawberry kesukaan Minho. Keren!

“Apakah itu makanan untuk Ayah?” Tanya Kyuhyun sambil memutar kursi rodanya mendekati hidangan yang disiapkan Suho.

Suho mengangguk, meski ia tak mengerti mengapa ibunya bertanya tentang hal itu.

Kyuhyun terlihat mengambil beberapa botol berisi obat-obatan. Menghancurkan satu butir obat-obatan itu dari tiap botolnya. Bubuk halus itu kemudian ditabur sang nyonya pada makanan suaminya.

“Apa yang Ibu lakukan?” Suho mengernyit. “Ibu mau meracuni ayah? Astaga Ibu…-”

Sang ibu mengeplak putrinya sekenanya. “Itu vitamin, sayang. Untuk menjaga agar trigeliserda dan kolesterol Ayahmu tetap stabil. Ayahmu sudah cukup tua dan terlalu banyak kerja hingga kadang makan tidak teratur dan mudah sakit. Ia juga sangat susah jika diminta meminum vitamin. Makanya ibu menaburnya di makanan untuk Ayah.”

“Tidak berbahaya?”

“Ck. Tentu saja tidak. Ibu pernah menanyakannya pada dokter, dan tak ada masalah. Toh, dua puluh tahun ini Ayahmu hidup dengan baik, bukan?”

“Ibu sudah melakukan ini selama dua puluh tahun? Berarti selama kalian menikah?” sekali lagi Suho memandang takjub pada sang ibu.

“Tentu saja. Ibu bahkan seringkali memasukkan vitamin pada makanan kalian.” Nyonya Choi itu terdengar sedikit menyombong. “Kelak, kau juga harus melayani suami dan anak-anakmu dengan baik, Suho-ya. Kau bisa belajar dari sekarang –melayani Ayah dan adik-adikmu misalnya?”

“Untuk apa? Kan ada Ibu.” Suho berniat bercanda, sebenarnya. Namun perempuan paruh baya itu menanggapinya dengan agak serius.

“Untuk jaga-jaga, siapa tau ibu pergi cepat.”

.

Sore menjelang. Keluarga Choi sudah berkumpul untuk merayakan ulang tahun Minho. Berbagai macam hidangan sudah tersaji di meja makan. Dan yang paling utama, sebuah kue tart dengan icing sugar berwarna hijau itu sudah tertata –lengkap dengan lilin yang membentuk angka tujuh yang menyala tepat di bagian tengah kue itu. Bocah kecil yang kini menyambut usia tujuh tahun itu sedang mengaitkan jemarinya sembari memejamkan mata. Berdoa. Menyampaikan harapan pada Tuhan di hari ulang tahunnya itu.

Bocah kecil itu berdoa cukup lama –sampai-sampai Suho merasa was-was bahwa adiknya itu ketiduran. Tapi akhirnya Minho membuka matanya juga. Meniup lilin itu dengan wajah berseri. Keluarga kecil itu bertepuk tangan dengan riang gembira.

“Apa yang kau minta, Jagoan?” Tanya sang Ayah penasaran usai Minho selesai dengan acara tiup lilinnya.

“Game console keluaran terbaru?” celetuk Jino.

“Kalau itu, Ibu kira Minho bisa menemukannya di salah satu kado.” Ujar Kyuhyun, yang dibalas gelengan oleh Minho.

“Jangan bilang kau minta dibelikan mobil, seperti permintaan Suho Noona  di ulang tahunnya tahun lalu.”

Kalimat kurang ajar dari Jino itu langsung dihadiahi tepukan singkat di kepala oleh Suho.

Minho menggeleng lagi untuk menjawab pernyataan Hyungnya itu.

“Minho hanya berdoa agar Ayah tetap sehat dan Ibu segera sembuh. Minho hanya ingin kita semua tetap sehat agar kalian semua bisa menemani Minho untuk merayakan ulang tahun Minho yang selanjutnya. Menemani Minho hingga Minho dewasa dan menikah. Minho ingin bisa sehebat Ayah dan Jino Hyung agar selalu bisa menjaga Ibu dan Suho Noona. Minho ingin Tuhan selalu mencurahkan kebahagiaan untuk keluarga Minho.” Ucapan polos Minho membuat orang-orang itu tersentuh. “Apakah doa Minho terlalu banyak, Ayah?”

Siwon menggeleng.

“Jadi, Tuhan akan mengabulkan doa Minho, kan?”

“Tentu saja. Tuhan menyukai anak baik yang rajin berdoa.”

Minho tersenyum mendengar jawaban sang ayah. Bocah yang kini berusia tujuh tahun itu turun dari kursinya dan beranjak memeluk sang ibu. Memeluknya dengan hangat.

“Cepat sembuh ya, Bu. Minho sayang Ibu dan juga Ayah.”

Semua anggota keluarga kecil itu kemudian terlibat dalam pelukan hangat. Berharap keluarga kecil itu bisa menghadapi musim dingin ini bersama-sama. Berharap Tuhan selalu bermurah hati untuk memberikan kebahagiaan bagi keluarga mereka.

 

.

 

.

 

.

Tapi lagi-lagi, dunia tak selalu semudah itu.

Dua hari pasca ulang tahun Minho, kondisi Kyuhyun memburuk. Perempuan itu terserang demam tinggi dan muntah-muntah hebat –kejang hingga berakhir dengan tidak sadarkan diri. Tubuh ringkihnya itu kembali dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis. Dipasangi berbagai macam alat-alat medis untuk menopang hidupnya.

Siang malam Siwon tak hentinya berdoa. Berharap ada setitik saja harapan untuk keluarga kecil itu kembali bisa bahagia. Siwon tak terlalu serakah untuk meminta begitu banyak pada Tuhan. Ia hanya meminta sedikit saja cahaya di tengah gelap sempurna yang kini menghantui keluarganya. Kesembuhan istrinya yang kini jadi prioritas utama.

Kini, Kyuhyun bahkan sudah tak sanggup lagi bangun dari ranjangnya. Segala sesuatunya mesti dibantu –termasuk untuk urusan membersihkan diri dan buang air. Siwon maupun anak-anaknya dengan telaten membantu sang ibu. Tapi bukannya bahagia, Kyuhyun malah merasa tertekan. Dibanding dengan penyakit yang di deritanya, kondisi seperti ini yang justru membuat Kyuhyun frustasi. Siwon sudah terlalu lelah mengurus perusahaannya, anak-anaknya juga pasti sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Dan sekarang keluarga kecilnya itu harus dibebankan untuk mengurus Kyuhyun yang rusak  ini. Kyuhyun tidak bisa melakukan apapun untuk suami dan anak-anaknya. Ia merasa seperti boneka kayu yang rapuh dan tak berdaya.

Kyuhyun tidak bodoh untuk mengetahui seberapa banyak suaminya itu menangis karena kondisinya. Kyuhyun juga cukup tau diri bahwa kondisinya yang seperti ini menambah beban bagi anak-anaknya. Rasanya sakit ketika kau tau bahwa dirimulah yang menjadi alasan hilangnya senyum di wajah orang-orang yang kau cintai. Perempuan itu merasa berdosa karena membiarkan suaminya untuk mengurus dirinya seperti ini.Kyuhyun merasa begitu berdosa karena telah menyusahkan hidup mereka.

Hari itu, Kyuhyun diam. Menolak berbicara apapun –pada siapapun- termasuk pada anak-anaknya. Ia hanya menangis tanpa mengatakan apa alasannya. Siwon pikir, mungkin Kyuhyun merasa kesakitan, hingga Siwon berinisiatif untuk memanggil dokter. Namun baru empat langkah beranjak dari tempat duduknya yang berada disamping ranjang Kyuhyun. Kyuhyun baru berani bersuara.

“Ceraikan aku, Choi Siwon.” Suara lemah dibalik masker oksigen itu mengalun. Tiba-tiba saja menyampaikan sebaris kalimat yang sungguh sangat menyakitkan dan sarat akan nada memohon. “Ceraikan aku.”

“IBU!” Suho terkejut setengah mati dengan kalimat yang baru saja disampaikan ibunya itu. Begitu juga dengan Jino dan Minho. “Apa yang kau katakan?”

“Kau sedang bercanda?” Siwon mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang didengarnya adalah sebuah kesalahan.

“Aku… tak sanggup lagi.” Kyuhyun berujar lirih. Siwon bisa melihat masker oksigen itu mengembun karena terkena sisa nafas Kyuhyun. “Ceraikan saja aku… Siwonie.”

Sedangkan Siwon membatu. Selama pernikahan mereka, nyaris tidak pernah Kyuhyun memanggil Siwon dengan nama lengkapnya. Dan ketika Kyuhyun mengucapkannya untuk pertama kali, itu terdengar menyakitkan. Kakinya seolah di paku pada lantai tempatnya berpijak detik ini. Dunianya jatuh, tepat diatas kepalanya. Cerai… Kyuhyun meminta cerai darinya? Setelah dua puluh tiga tahun pernikahan mereka, Kyuhyun memohon untuk diceraikan? Mimpi apa Siwon semalam?

Siwon menatap perempuan yang dicintainya dengan mata berkaca. Melangkah dengan tertatih untuk kembali mendekat ke sisi sang istri. “Setelah dua puluh tiga tahun pernikahan kita, kau ingin berpisah dariku?”

Tak jauh berbeda dari Siwon, perempuannya itu juga menitikan air mata. Menghela napas dengan susah payah hanya untuk berujar, “Aku sakit, Siwon… Aku sekarat…”

Kalimat yang diucapkannya dengan sangat lirih. Selirih nyanyian angin –dan itu membuat mata Siwon kian terasa panas.

“Kau… pantas mendapatkan yang lebih baik, Siwonie. Perempuan yang tidak akan menyusahkanmu. Jangan mencintai perempuan seperti aku…”

Siwon membiarkan air matanya meluncur bebas kali ini. Ia menggenggam tangan Kyuhyun. Erat. Memberikan kesan bahwa genggaman itu takkan mungkin dilepaskan. Siwon membiarkan jemari Kyuhyun bergesekan dengan cincin yang dikenakannya. Membiarkan Kyuhyun merasakan tekstur cincin yang selalu tersemat di jari manisnya sejak dua puluh tiga tahun lalu. Siwon ingin Kyuhyun mengingat kenangan manis mereka melalui cincin itu.

“Saat itu dedaunan dari pohon oak berguguran, kau ingat? Dan kau membuatku merasakan sepuluh detik paling lama dalam hidupku hanya untuk menunggu jawabanmu.” Siwon memejamkan matanya, mengingat kembali kalimat yang ia gunakan untuk melamar Kyuhyun. “I wanna grow old with you; stand beside you all the time; and perfecting your imperfection. Would you be mine, from now to forever, ‘till death tears us apart? –kau mengingatnya?”

Kyuhyun mengingatnya tentu saja. Kalimat paling indah yang pernah didengarnya. Perempuan itu memejamkan matanya. Bernostalgia dengan kenangan itu. Membiarkan kenangan indahnya menari dalam ingatan. Namun semuanya sudah jauh berbeda. Kyuhyun sudah menjadi Kyuhyun yang rapuh dan tak berdaya, sekarang. Ia membebani Siwon. Sungguh demi apapun, ia tak ingin membuat Siwon kesusahan lebih dari ini.

Maka Kyuhyun memilih untuk memantapkan hati.

“Carilah wanita lain, Siwon…” Kyuhyun memohon dengan hati tercabik. Tak pernah terpikirkan selama hidupnya bahwa ia akan mengatakan kalimat itu pada suaminya sendiri. “Carilah wanita yang sehat… yang bisa merawatmu lebih dari aku… yang bisa menemanimu menatap senja…”

Siwon menggeleng. Merasakan kembali cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang sama dengan cincin yang masih tersemat di jari manis Kyuhyun. “Aku sudah berjanji padamu untuk melengkapi ketidak sempurnaanmu. Aku sudah berjanji pada ayah dan ibumu bahwa aku akan selalu bersamamu, membahagiakanmu. Aku sudah berjanji pada Tuhan untuk terus mencintaimu. Selalu. Sepanjang waktu. Tak peduli ketika susah maupun senang, tak peduli saat kaya atau miskin, tak peduli dalam sehat maupun sakit –sampai maut memisahkan.”

“Aku menjadi bebanmu dan anak-anak kita, Siwon…” tangis Kyuhyun. Suaranya bergetar.

“Ibu cukup.” Jino mendekati sang Ibu agar Ibunya itu bisa secepatnya sadar dari tindakan konyol yang sedang ia lakukan. Sedangkan Suho sudah menyingkir sedari tadi. Sibuk memeluk Minho di sudut kamar. Menenangkan bocah itu yang sudah menangis terisak.

Mereka sungguh tak menduga bahwa sang ibu akan melontarkan kalimat seperti itu. Beban… bahkan tak satupun dari mereka yang berpikir bahwa Kyuhyun adalah beban. Baik Siwon maupun anak-anaknya mencintai Kyuhyun dengan sepenuh hati. Kenapa sang Ibu bisa berpikir sedangkal itu tentang cinta mereka terhadapnya?

“Sedikitpun aku tak pernah berpikir bahwa kau adalah beban bagiku, Sayang. Aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu. Ini hanya sebagian kecil yang bisa aku lakukan untuk membalas seluruh kebahagiaan yang pernah kau berikan untukku.” Siwon kian terdengar putus asa

“Sayangku Choi Kyuhyun, mungkin kau akan baik-baik saja usai berpisah denganku. Tapi tidak denganku. Aku tidak baik-baik saja jika kau bersikukuh pergi dariku. Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku yang membutuhkanmu. Jadi berhentilah mengatakan semua omong kosong ini.”

“Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya bahwa aku akan terus mencintaimu sepanjang waktu? Apa yang harus kulakukan agar kau tetap tinggal disisiku? Hm? Katakan, Sayang… katakan padaku apa yang harus aku lakukan untukmu agar kau tak pergi dariku?”

 “Hentikan semuanya, Siwonie…” Kyuhyun memelas, dengan napas yang kian melemah. “Kka… aku sudah tidak mencintaimu lagi.”

Siwon menggeleng kuat. “Jika kau sudah tidak mencintaiku, maka kau tak mungkin meminta berpisah dariku hanya untuk kebahagiakanku.”

“Siwonie.” Suara Kyuhyun kian tenggelam dibalik masker oksigen. “Jika kau tak mampu melepaskanku, biar aku yang melepaskanmu.”

Kyuhyun memegang cincin yang melingkar di jari manis Siwon. Mencoba melepasnya dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Dan Siwon, tak melakukan apapun. Hanya menatap kedua bola mata sayu istrinya sambil berharap istrinya mau berhenti melakukan hal yang jelas-jelas akan menyakiti mereka berdua.

“Kyuhyun…” suara Siwon yang penuh dengan memohon itu coba diabaikan Kyuhyun.

Sesak, baik Kyuhyun maupun Siwon merasakan sesak yang sama. Separuh nyawa mereka seolah lepas dari tempatnya.

“Maafkan aku, yang tak bisa menemanimu lebih lama lagi. Maafkan aku yang tidak bisa mencintaimu dengan sempurna…” lirih Kyuhyun.

Siwon merasakan gerakan Kyuhyun kian lemah, hingga akhirnya Kyuhyun berhenti. Bersama pekikan menyakitkan dan garis lurus yang tergambar di elektrokardiograf.

“IBU!” / “SAYANG!” pekikan nyaring dari orang-orang itu beradu.

Satu hal yang luput dari pengelihatan mereka adalah, bahwa cincin di jari manis Siwon itu bahkan tak pernah berpindah satu mili-pun dari tempatnya.

.

 

.

 

.

Tiga Tahun Kemudian

 

Dunia berputar begitu cepat. Menambah puing-puing kenangan seiring waktu berjalan. Musim gugur kembali datang. Memaksa pria yang kini benar-benar sudah memasuki kepala lima itu mengingat banyak kenangan. Air matanya kembali jatuh. Terlebih, ketika iris matanya menatap senja.

Daun maple masih berguguran mengotori jalan. Angin masih berhembus menyisakan hawa dingin yang menggigit. Tapi ia seolah tak peduli. Ia hanya duduk di gazebo rumahnya sambil memandangi dedaunan yang dibawa angin menari. Pria itu menyentuh selingkar cincin yang bertengger manis di tangan keriputnya. Cincin yang mengikat janjinya pada seseorang. Bahkan setelah beberapa masa berlalu, perasaan cintanya pada pemilik pasangan cincin itu masihlah tetap sedalam dulu. Tak berubah. Siwon –pria tua itu- masih dengan jelas mengingat kisah cintanya.

“Apa yang kau pikirkan, Sayang?” Tangan lembut yang sama keriput dengan miliknya itu menyentuh pundak Siwon. Menyampirkan syal tebal untuk melingkari leher pria itu.

“Ayo masuk, Suho sedang belajar membuat donat untuk kita semua.” Perempuan itu memamerkan senyum manjanya yang khas ke arah Siwon.

Siwon balas tersenyum. Ia selalu berfikir bahwa ini ilusi, tapi tangan hangat itu membuatnya yakin bahwa ini adalah nyata.

Ada begitu banyak kejadian yang Siwon alami selama tiga tahun terakhir. Yang paling menyesakkan adalah penantiannya mengharap istrinya membuka mata usai vonis koma di layangkan dokter. Ya… di hari Kyuhyun meminta berpisah darinya, Kyuhyun jatuh koma.

Tidak ada yang kehilangan harapan. Baik Suho, Jino dan Minho percaya bahwa Ibu mereka akan kembali bangun. Begitu juga dengan Siwon. Maka mereka memutuskan untuk menunggu. Menunggu Kyuhyun bangun meski dokter sudah tak berani berjanji apapun lagi. Siwon percaya, Kyuhyunnya takkan menyerah begitu saja. Maka Siwon pun berjuang sekuat tenaga untuk menunggu Kyuhyun kembali. Dan semua berbuah manis, saat Kyuhyun bangun di hari ke delapan puluh satu perempuan itu tertidur. Sebuah keajaiban yang sangat di syukuri keluarga kecil itu.

Seperti yang selalu disebut dalam doa Siwon. Ia tak ingin terlalu tamak dengan meminta banyak hal. Maka bangunnya Kyuhyun sudah merupakan anugerah besar yang dihadiahkan Tuhan. Tapi Tuhan terlalu baik, hingga memberikan Siwon begitu banyak keajaiban dalam hidupnya. Perempuan yang berdiri di sisinya ini adalah salah satunya.

Siwon menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Membuat perempuan itu terkikik geli karena gerakan Siwon yang tiba-tiba. Bersama perempuan itu, Siwon menyadari, bahwa mencintai dengan sempurna tidak hanya sekedar menikah berlandaskan cinta, memiliki anak, lalu hidup bahagia selamanya. Karena kisah seperti itu hanya ada dalam dongeng. Dan cinta tidak sesederhana itu.

Tapi bagi Siwon, mencintai dengan sempurna adalah seperti cara Kyuhyun mencintainya.

Dari Kyuhyun, ia belajar bahwa mencintai adalah sebuah pengabdian. Bagaimana Kyuhyun mengabdikan dirinya pada Siwon dan keluarga kecilnya. Mendedikasikan hidupnya untuk menjaga orang-orang yang ia sayangi. Memperhatikan detail kecil hanya untuk menyempurnakan kebahagiaan mereka. Dari Kyuhyun, Siwon belajar bahwa mencintai adalah sebuah pengorbanan. Bagaimana Kyuhyun mengorbankan perasaannya dengan meminta perpisahan. Kyuhyun telah berani melepasnya hanya agar Siwon tak merasa terbebani dan hidup dengan bahagia. Dan bersama Kyuhyun, Siwon belajar bahwa mencintai dengan sempurna adalah sebuah penerimaan. Bagaimana caramu menerima pasangan hidupmu dengan apa adanya. Tetap bertahan menjaga kesetiaan, hingga hanya maut yang bisa benar-benar memisahkan.

“Terimakasih…” Ucap Siwon tulus.

“Untuk?”

“Karena telah membiarkanku mencintaimu hingga detik ini.”

Perempuan itu –Kyuhyun- mengerjap matanya lucu. Menampilkan iris hitamnya yang berkilau. “Kalau begitu aku juga ingin mengucapkan terimakasih.”

“Untuk?”

“Karena kau telah menjadi Ayah yang hebat dan suami yang begitu sempurna untukku. Terimakasih karena telah menepati janjimu. Terimakasih karena telah setia untuk tetap tinggal di sisiku dalam keadaan apapun.”

Siwon melumat bibir perempuannya itu. Bibir yang terasa sangat manis. Bibir yang selalu membuat Siwon candu.

“Ayah, mari hidup bersama Ibu untuk selama-lamanya?” Kyuhyun menyodorkan jari kelingkingnya untuk Siwon saat suaminya itu melepas ciuman mereka. “Ibu mungkin bukan orang yang sempurna, tapi mari kita saling melengkapi satu sama lain. ibu ingin mencintai Ayah sebaik Ayah mencintai Ibu selama ini. Ibu ingin menjadi tua bersama ayah. Ibu ingin  menemani Ayah membangun hari dan memotret senja kita yang sempurna bersama-sama. Ibu ingin terus mencintai ayah untuk selama-lamanya.”

“Semoga ini cukup sebagai jawaban.” Ujar Siwon yang langsung melumat bibir Kyuhyun lagi. Menyesapnya lebih dalam dari sebelumnya sambil menautkan jari kelingking mereka. Sampai akhirnya,

“Ibu… bagaimana dengan adonannya? Aku tidak tau langkah selanjutnya, -ASTAGA!” Suho memekik kaget saat melihat kedua orang tua itu tengah berciuman di tengah dinginya udara angin musim gugur.

“Noona, ada –ih, kenapa mata Minho ditutup!” Minho yang menghampiri kakak perempuannya itu protes saat kakaknya malah menutup kedua mata Minho dengan telapak tangannya yang berlumuran tepung. “Noona mata Minho perih!! ADUH NOONA, PERIH!!”

“Ckckckck… Dasar orang dewasa.” Jino berkomentar sambil mengintip kelakuan Ayah dan Ibunya melalui jendela rumahnya.

-KKEUT-

A/N :

Happy White Day… spread Wonkyu’s love!!!

I well-known as villain who wrote sad ending fanfiction;

And today, I wrote a happy ending story!

Well, lil bit absurd with ayah-ibu style [cz WonKyu always called as dad and mom] but please accept it whole-heartedly.

 

With love,

Kakagalau.

.

.

From Admin

Dukung FF ini untuk jadi pemenang dengan cara:

  1. Share FF ini ke FB melalui kolom Share.
  2. Screenshot_2016-03-29-18-58-12-1
  3. Berikan Komentar untuk FF ini.
  • 1 username 1 komentar
  • Komentar dengan kata dibawah 20 tidak dihitung. Jadilah reader yang aktif. Jangan hanya semangat komentar jika ada war. #eh *bercanda ajah nih*
  • Penilaian oleh reader dilakukan sampai tgl 8 April jam 10 Malam atau setelah Min ssii memberikan komentar di postingan tersebut. Artinya koment yang masuk setelah komentar Min ssii tidak akan dihitung.
  1. Vote FF favorite kalian pada kolom di bawah ini.

VOTE

 

Sekian dan terima kasih.

 

Selamat berlomba untuk semua author dan selamat menikmati sekaligus memberikan nilai untuk semua reader WonKyuCorp.

 

Semangat!!!!!

Advertisements

71 thoughts on “[FF Kontes] The Faith

  1. aq kira klan sad ending tp akhirnya happy end,,,hore tiup terompet(lebay)
    pas aq bca ada nma kakagalau di ff ni aq dah yakin ff ni psti bkal nguras perasaan and bkin baper ternyata tebakan q g meleset ff ni bnr2 bkin nguras air mata pokoknya conratz deh buat kakagalau d tunggu krya selanjut nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s