Posted in Angst, Drama, Family, FF Kontes, Genderswitch, Genre, Romance, WonKyu Story

[FF Kontes] Sakura Nagashi

Sakura Nagashi

Sakura Nagashi 

Author : n4oK0

Main Cast : Siwon, Kyuhyun

Supporting Cast : Minho, Suho

Genre : GS

Rated : PG 13 to M (Language Use)

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Utada Hikaru and Sakura Nagashi are belong to herself and her label. Poster by Choi So Yeon

Inspired : Sakura Nagashi by Utada Hikaru

Warning : Un-betaed, Angst, AU, OC, Family, Romance, Drama

Summary : Everybody finds love, in the end.

.

.

.

Cuaca hari itu sangatlah tidak bersahabat. Panas terik dari sinar matahari terasa membakar kulit masyarakat yang sebagian besar berkulit putih tersebut, membuatnya menjadi sedikit menghitam. Setiap orang akan berusaha untuk tidak keluar rumah atau keluar dari kantor karena ingin terhindar dari sengatan matahari dan panasnya udara.

Terkecuali untuk seorang pria berusia tiga puluh lima tahun yang sedang sibuk mengangkat barang-barang majikannya ke dalam bagasi sebuah mobil mewah. Pria dengan tubuh tinggi kekar itu harus bergulat dengan cuaca ekstrem hanya karena perintah dari sang anak majikan yang akan berpergian ke luar negeri di liburan musim panas ini. Padahal jadwal keberangkatannya masih lima jam lagi namun dia sudah memerintahkan pria yang notabene adalah supir keluarganya untuk memasukkan koper dan semua barang yang akan dibawanya sekarang juga.

“Choi ahjussi! Sudah semua belum? Awas! Jangan sampai ada yang ketinggalan!” teriak sang anak majikan dari dalam rumahnya yang sejuk. Sang pria menoleh sebelum akhirnya memberikan senyum manisnya kepada sang anak majikan.

“Sudah nona. Koper tadi adalah koper terakhir. Ada lagi yang bisa saya lakukan untuk nona?” tanya pria bermarga Choi tersebut. Sang anak majikan nampak berpikir ketika dia ditanya sedemikian rupa oleh pria tersebut. Sepertinya dia tidak memiliki perintah apapun namun entah karena alasan apa, sang anak majikan seolah-olah mencari sesuatu yang bisa dikerjakan oleh pria yang belum kehilangan ketampanannya meski kulitnya menghitam karena disengat oleh sinar matahari.

“Buatkan aku minum! Sekarang!” titahnya tak terbantahkan. Dia menyuruh pria tersebut untuk membuatkan minum padahal di dalam rumah ada beberapa pelayan yang siap melakukan perintahnya. Akan tetapi, nona muda itu menyuruh supirnya untuk membuatkan minuman. Mendengar perintah nona mudanya, pria tadi hanya bisa menghela nafas panjang, berusaha maklum dengan tingkah sang nona muda karena pada dasarnya hal ini memang sudah sering terjadi.

Dengan lunglai, sang pria berjalan memasuki rumah menuju dapur untuk membuatkan minuman, walau dia sendiri tak tahu harus membuatkan minuman apa karena sang nona muda tidak mengatakan keinginannya secara jelas. Pria Choi itu pun tidak berani bertanya sebab dia tahu apa yang akan dia dapatkan, omelan panjang dan bukannya jawaban atas pertanyaannya. Jadi dia pasrah saja jika nanti dia kena marah lagi oleh nona mudanya. Dia sudah terbiasa dengan sikap gadis manis tersebut yang selalu saja mencari kesalahan dari dirinya. Sebaik apapun pekerjaan yang dia lakukan tidak akan pernah memuaskan di mata sang nona.

Terlebih lagi, bagi pria itu, sebuah perintah dari majikan adalah hal yang harus dilakukan meski perintah tersebut tidak sesuai dengan deskripsi pekerjaannya. Dia tak punya pilihan lain selain mengerjakannya dengan baik walau terkadang jerih payahnya tidak membuahkan hasil yang setimpal.

Di saat sang pria tengah membuatkan minuman, dia dikagetkan oleh tepukan di bahunya. Sontak sang pria berbalik dan menemukan nyonya rumah tempatnya bekerja sedang menatap ke arahnya dengan tatapan iba. Pria itu tahu maksud dari tatapan itu namun dia tidak berkata apapun. Dia hanya membungkuk hormat selayaknya pekerja kepada atasannya.

“Selamat datang, nyonya. Mohon maaf saya lancang masuk ke dalam rumah. Nona muda ingin dibuatkan minuman jadi saya membuatkan terlebih dahulu. Setelah saya mengantarkan minuman nona muda, saya akan segera kembali ke tempat saya.” Ucap pria itu sopan sembari memberikan penjelasan mengapa dia yang seorang supir, yang memiliki tempatnya sendiri, berada di dalam rumah utama. Sang nyonya rumah hanya mengangguk dan masih terus memandang lekat ke arah pria tersebut sehingga pria itu merasa risih walau dia tak berani mengatakannya.

“Kau sudah makan?” tanya nyonya itu tiba-tiba, mengagetkan pria tersebut.

“S-saya… Sa-saya…” ujarnya terbata. Dia ingin menjawab dengan jujur tapi jika itu dia lakukan maka dampaknya akan buruk. Sementara sang pria berkecamuk dengan perdebatan di benaknya sendiri, raut wajah sang nyonya terlihat semakin iba kepada pria tersebut. Dia menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.

“Tak perlu kau jawab, aku sudah tahu jawabannya.”

“Nyonya… Saya…”

“Kau pasti belum makan. Siwon, apa yang sudah diperintahkan oleh Joonie sampai kau tidak sempat makan?” tanyanya lagi. Pria bernama Siwon itu terlihat semakin gugup. Dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut. Dia tahu nyonya rumah ini bisa memarahi Joonie atau Cho Joonmyeon, jika dia tahu seharian ini Joonmyeon terus saja menyuruhnya macam-macam.

“I-itu… S-saya…”

“Siwon, jawab aku! Dan jangan sekali-kali kau berbohong!” Tegas nyonya rumah itu.

Cho Kyuhyun, menunggu jawaban dari Siwon dengan sabar meski ada gurat kekesalan terpancar dari wajahnya yang cantik meski dia sudah berusia tiga puluh tujuh tahun.

Didesak seperti itu oleh Kyuhyun membuat Siwon serba salah. Dia tidak mau membuat Kyuhyun memarahi Joonmyeon tapi dia juga tak tahu harus menjawab seperti apa pertanyaan Kyuhyun tadi. Kyuhyun jelas bisa segera tahu jika dia berbohong. Jadi yang dilakukan oleh Siwon hanya berdiri, menundukkan kepalanya dan menutup mulutnya rapat-rapat. Siwon lebih memillih Kyuhyun marah kepadanya daripada Kyuhyun marah kepada Joonmyeon.

“Kau tidak mau menjawabku bukan? Kau tidak akan pernah mau menjawabku jika sudah berurusan dengan Joonie! Baik kalau begitu. JOONMYEON!!!” teriak Kyuhyun tiba-tiba dengan sangat lantang sehingga membuat Siwon terlonjak sedikit sebelum membelalakan matanya dengan lebar, terkejut Kyuhyun langsung memanggil Joonmyeon. Sayup-sayup, Siwon mendengar suara langkah kaki dari arah ruang keluarga dan tidak sampai dua menit, Joonmyeon sudah berdiri tak jauh dari Kyuhyun dan Siwon.

“Ada apa sih umma? Kenapa umma berteriak seperti itu? Jika umma ada perlu denganku, cepatlah! Aku sedang menonton acara favoritku.” Runtuk Joonmyeon sedikit tidak sopan kepada Kyuhyun, ibu kandungnya sendiri. Kyuhyun sendiri, langsung menatap tajam putri semata wayangnya tersebut sebelum dia membuka mulutnya.

“Joonmyeon! Sopan sedikit! Kau itu pewaris keluarga kita, jadi bersikaplah seperti orang yang bermartabat.” Ingat Kyuhyun tegas yang hanya diangguki malas oleh Joonmyeon. Kyuhyun menggelengkan kepalanya, tidak mengerti mengapa putrinya yang dulu begitu baik dan penurut bisa berubah menjadi seenaknya dan egois seperti sekarang.

“Umma ingin tanya sesuatu kepadamu.”

“Apa?”

“Kenapa kau menyuruh Choi ahjussi untuk membuatkanmu minum? Bukankah ada banyak pelayan di rumah ini yang bisa melakukannya?” tanya Kyuhyun langsung tanpa basa basi. Sontak Joonmyeon langsung menoleh ke arah Siwon dan memincingkan matanya, tidak suka bahwa Kyuhyun tahu apa yang dia lakukan terhadap Siwon.

“Aku inginnya dia.” Jawab Joonmyeon angkuh. Matanya terus mengikuti gerak gerik Siwon dengan amarah yang begitu kentara, membuat Siwon salah tingkah.

“Joonmyeon! Choi ahjussi itu supir keluarga kita. Tugasnya mengantarkan dan menjemputmu. Bukan melakukan semua perintahmu!” tegur Kyuhyun semakin jengkel dengan sikap Joonmyeon yang begitu semena-mena terhadap Siwon. Sementara Joonmyeon justru merasa heran sekaligus kesal karena ibunya begitu membela Siwon.

“Umma ini kenapa sih? Selalu saja membela dia! Biar saja umma! Kita yang membayar dia jadi dia harus menuruti semua kemauan kita!” tukas Joonmyeon keras kepala.

“Cho Joonmyeon! Sudah umma bilang, bersikaplah sopan!” raung Kyuhyun marah. Dia tidak mengira bahwa sikap Joonmyeon benar-benar berubah menjadi begitu menyebalkan. Kyuhyun tidak tahu sejak kapan Joonmyeon berperangai buruk seperti ini.

“Kenapa umma jadi marah kepadaku? Oh! Ini pasti gara-gara dia! Choi ahjussi!! Choi ahjussi ini suka sekali mencari muka dengan umma hah! Oh, aku tahu. Pasti Choi ahjussi mengincar umma bukan? Dengar ya, ummaku boleh saja seorang janda kaya, tapi aku tak sudi punya ayah tiri! Apalagi supir miskin sepertimu! Jadi lebih baik Choi ahjussi jangan bermimpi di siang bolong dan bersikaplah seperti seorang supir miskin yang mengais rejeki dari kami!” Kyuhyun membulatkan matanya lebar-lebar, tak percaya dia baru saja mendengar Joonmyeon memaki seseorang sedemikian rupa. Terlebih lagi yang dia caci maki itu adalah…

“CHO JOONMYEON!! KETERLALUAN KAMU!! YANG ADA DIHADAPANMU SEKARANG ITU…”

“Nyonya!” seruan Siwon menghentikan teriakan kemarahan dari Kyuhyun. Tatapan dan gelengan kepala kecil yang dilakukan oleh Siwon terlihat oleh Kyuhyun dan itu membuatnya semakin sedih dan kesal di saat yang bersamaan. Tangannya mengepal kuat, berusaha menahan segala perasaan yang berkecamuk di dadanya.

Sedangkan Siwon sendiri hanya bisa memberikan senyum tipis meski di matanya, Siwon merasa terluka dengan ucapan Joonmyeon. Namun Siwon buru-buru mengenyahkan kesedihannya dan beralih ke arah Joonmyeon yang terkejut dengan teriakan sang bunda.

“Nona Joonmyeon… Maafkan saya jika saya sudah membuat nona merasa tidak nyaman. Nona tidak perlu khawatir. Saya tidak memiliki maksud apapun dengan nyonya Kyuhyun dan nona Joonmyeon. Saya hanya ingin bekerja disini nona. Demi putra saya yang sedang sakit. Saya tidak sempat memikirkan apapun selain dia.” Tutur Siwon tulus. Dia memang tidak berniat jahat sedikit pun kepada keluarga Cho. Siwon hanya ingin terus bisa bekerja di keluarga yang telah memberikannya pekerjaan untuk menghidupi dan membiayai pengobatan putra semata wayangnya yang sakit parah.

Walau…

Siwon menyimpan sesuatu yang tidak bisa dia beritahukan kepada siapa pun. Rahasia yang akan dia simpan seumur hidupnya.

“Huh! Kau pikir aku percaya? Kau itu licik. Entah dengan cara apa, kau bisa membuat umma menerimamu bekerja. Aku sudah tidak menyukaimu sejak kau datang! Lihat saja, aku akan buat kau menyesal telah datang di kehidupan kami!” ancam Joonmyeon sebelum dia meninggalkan Siwon dan Kyuhyun berdua.

“Siwon…” lirih Kyuhyun memanggil nama Siwon. Dari nada suaranya, jelas Kyuhyun cemas dengan keadaan Siwon setelah mendapat perlakuan seperti itu dari Joonmyeon.

“Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa dengan sikap nona Joonmyeon.” Ucap Siwon sambil kembali tersenyum. Dia tidak ingin menambah kekhawatiran Kyuhyun meski tidak berhasil sama sekali. Justru dengan senyum terpaksa Siwon, Kyuhyun menjadi lebih merasa bersalah.

“Mana bisa seperti itu! Anak itu semakin tak terkendali semenjak aku memindahkan sekolahnya. Aku kira sekolah disana adalah pilihan terbaik, namun dia berubah sampai aku tidak mengenal putriku sendiri.” Gerutu Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Dia menyalahkan keputusannya memindahkan Joonmyeon ke sekolah swasta ternama agar Joonmyeon bisa mengenyam pendidikan lebih baik dan bergaul dengan orang-orang yang bisa membantunya kelak saat dia menjadi pimpinan selanjutnya dari perusahaan Cho. Namun Kyuhyun menyesali keputusan itu karena apa yang terjadi sekarang, Joonmyeon justru berubah menjadi anak pembangkang, tidak sopan dan sangat keras kepala.

“Nona Joonmyeon masih remaja nyonya, jadi nona muda masih berusaha mencari jati dirinya.” Ucapan Siwon membuyarkan pikiran Kyuhyun terhadap Joonmyeon. Dia menatap Siwon yang masih berusaha terlihat tenang dan baik-baik saja. Padahal Kyuhyun yakin bahwa hati Siwon sekarang pasti sakit sekali karena ulah Joonmyeon.  Kyuhyun mengerti Siwon mengorbankan dirinya sendiri demi kebahagiaan dirinya dan Joonmyeon, tapi bukan seperti ini yang ada di pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun berjalan ke hadapan pria yang lebih tinggi darinya itu. Kyuhyun memandang wajah tampan yang tertutupi raut wajah yang lelah dan sorot mata yang selalu sendu. Kyuhyun menatap mata itu lekat sambil mengambil salah satu tangan Siwon dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya sebelum mengecup buku jari Siwon. Pria itu membiarkan nyonya yang menjadi majikannya itu melakukan hal tersebut kepadanya walau dilihat dari sisi mana pun, tindakan Kyuhyun bukanlah tindakan yang biasa dilakukan majikan kepada pekerjanya.

Akan tetapi kedua pria dan wanita itu telah menyimpan kerinduan yang mendalam terhadap satu sama lain. Kerinduan yang tidak bisa mereka ungkapkan karena situasi mereka berdua.

“Aku tak bisa seperti ini terus Siwon. Aku harus mengatakan kenyataannya kepada Joonmyeon.” Sahut Kyuhyun terdengar tak sanggup lagi untuk menampung semuanya. Siwon menghela nafas panjang sebelum melepaskan genggaman tangan Kyuhyun dari tangannya. Siwon mengambil jarak diantara mereka berdua, menatap Kyuhyun yang tampak kebingungan dengan sikap Siwon yang tiba-tiba menjauh, sebelum menggelengkan kepalanya.

“Jangan nyonya. Saya mohon jangan. Kasihan nona muda. Dia pasti tidak bisa menerimanya dengan baik.” ujar Siwon menolak maksud Kyuhyun untuk membeberkan rahasia mereka berdua.

“Lalu apa kau bisa? Apa kau tak sedih jika dia memperlakukanmu seperti itu? Apa kau tidak kasihan denganku? Dia harus tahu kenyataan yang sebenarnya bahwa kau…”

“Kyu.” Begitu nama itu keluar dari bibir Siwon, Kyuhyun berhenti berbicara. Dia termangu dengan panggilan Siwon kepadanya. Sejak waktu itu, Siwon tidak pernah lagi memanggilnya begitu, tidak dengan sebutan nyonya di depan namanya. Kyuhyun bergeming, menunggu kelanjutan ucapan Siwon.

“Dia anak yang bahagia. Dia bahagia sampai aku datang. Sikapnya kepadaku adalah hukuman untukku jadi aku tidak mempermasalahkannya Kyu. Jika baginya melampiaskan semua kekesalannya kepadaku dapat meringankan bebannya, maka aku rela. Asalkan dia bahagia. Asalkan dia bahagia…”

“Siwon…”

.

.

.

Kriet!

“Appa pulang.” Sapa Siwon begitu memasuki apartemen kecilnya yang merupakan tempat tinggalnya bersama dengan sang putra, Choi Minho.

“A-appa…”

“Minho-ya.” Lirih Siwon bergegas memasuki satu-satunya kamar tidur yang ada di dalam apartemen tersebut. Di dalam kamar, terbaring lemah seorang pemuda yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Pemuda tersebut, Choi Minho, tampak kurus dengan kulitnya yang pucat dan rambutnya yang menipis.

Dengan keadaannya yang jelas sakit parah tersebut, Minho masih mencoba tersenyum kepada sang ayah, Siwon. Minho berusaha agar dirinya tidak terlihat kesakitan walau kenyataan berkata sebaliknya.

Gagal ginjal serta kanker darah yang dideritanya membuat Minho harus bertahan hidup dengan cuci darah. kemoterapi dan obat-obatan. Minho juga harus menggantungkan harapannya untuk sembuh dengan donor ginjal dan donor sumsum tulang belakang yang cocok untuknya.

Jika boleh jujur, sebenarnya Minho tidak keberatan jika harus meninggalkan dunia ini. Dia pasrah dengan keadaannya sejak dia di vonis dokter menderita penyakit mematikan tersebut. Hanya saja…

Hanya saja, Minho memikirkan Siwon.

Ayahnya sudah berjuang untuknya dan keluarga mereka. Ayahnya hanya memiliki dirinya di dunia ini. Jika dia pergi, ayahnya akan kesepian meski Minho tahu dengan kepergiannya, beban Siwon akan berkurang.

Minho dilema karenanya.

“Minho-ya. Appa sudah bisa melunasi pembayaran cuci darahmu bulan lalu, sehingga pihak rumah sakit bersedia melakukan perawatanmu untuk bulan ini. Lalu appa juga sudah memberitahu ke pihak rumah sakit untuk kemoterapimu bulan depan. Dan ini, appa sudah membelikan obat untuk mengurangi rasa sakitmu nak.”

“Appa…”

“Ya, ada apa?”

“Obat yang appa bilang tadi bukannya mahal? Appa dapat uang darimana?”

“Ah! Tidak usah dipikirkan Minho-ya. Yang penting besok kau bisa segera melakukan cuci darah kembali.”

“Appa… Appa pasti menjual darah lagi ya. Lalu appa pasti berhutang lagi kepada nyonya Cho. Appa, hutang kita kepada mereka sudah terlalu banyak. Aku mohon jangan meminjam uang lagi ataupun menjual darah. Aku baik-baik saja appa. Aku tidak perlu cuci darah lagi.”

“Apa yang kau katakan? Kau perlu perawatan itu nak. Kau bisa sembuh dengan melakukan apa yang dikatakan oleh dokter. Demi kesembuhanmu, appa akan lakukan apapun jadi kali ini appa yang memohon. Jangan pikirkan apapun ya sayang. Sembuhlah dan terus bersama dengan appa.”

“A-appa…” Minho tidak tahu harus berkata apalagi agar Siwon mengerti bahwa dia tidak ingin melihat ayahnya terus menderita.

“Sudahlah. Jangan bicarakan ini lagi. Ayo makan Minho-ya. Appa sudah bawakan makanan dari rumah keluarga Cho. Para koki berlebihan membuat makan malamnya sehingga appa diberi sedikit.”

.

.

.

Cho Joonmyeon melihat kertas di dalam genggamannya dengan seksama. Dia menbaca satu per satu kata yang tertera di kertas itu dan seketika hatinya didera rasa bersalah yang sangat dalam. Isakan demi isakan keluar dari bibirnya dan bulir-bulir kristal itu mengalir dengan deras membasahi pipinya.

Hanya dua kata yang terucap dari bibir itu di sela isak tangis Joonmyeon.

“A-appa… M-maaf…”

.

.

.

“Anda perlu dioperasi.” Ucap seorang dokter dengan raut wajahnya yang terlihat menyesal telah mengatakan kebenaran yang mau tak mau harus dia sampaikan kepada pasiennya. Meski dia mengetahui bahwa berita itu tentulah beban berat bagi si penerima.

Orang itu, orang yang menerima berita yang bagi sebagian orang adalah momok terburuk mereka, justru menanggapi dengan sangat tenang dan tersenyum.

“Jika saya tidak mau melakukannya?” tanyanya balik yang membuat sang dokter tercengang dengan kata-katanya.

“Anda bisa meninggal.” Sahutnya pasti. Padahal kematian berada ditangan-Nya dan bukan ditangan sang dokter tetapi mendengar pasiennya dengan gamblang mengatakan bahwa dia menolak untuk dioperasi membuat sang dokter melupakan kenyataan tersebut.

“…”

“Siwon-ssi, satu peluru itu masih bersarang di kepala anda. Suatu mukjizat bahwa anda bisa bertahan hidup selama ini. Jadi saya harap anda segera melakukan operasi pengangkatan peluru yang saya sarankan kepada anda.”

“Saya tidak bisa dokter.”

“Siwon-ssi!”

“Dokter, operasi itu pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit bukan? Putra saya saat ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatannya. Jadi saya lebih mementingkan putra saya. Mohon dokter berikan saja saya obat penghilang rasa sakit di kepala saya.”

“Tetapi Siwon-ssi…”

“Saya mohon dokter… Saya mohon…” pinta Siwon dengan sangat. Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain putranya saat ini. Tidak bisa.

.

.

.

Seorang pria tampak duduk dengan badan bergetar. Bukan karena sakit melainkan karena ketakutan akan apa yang sebentar lagi menimpanya.

“Jaksa penuntut Cho, apakah anda masih memiliki pertanyaan lain untuk terdakwa?” tanya hakim paruh baya berwibawa tersebut. Kyuhyun terdiam sesaat, menatap tajam terdakwa yang terus menundukkan kepalanya, sebelum mengalihkan perhatiannya kepada sang hakim.

“Tidak Yang Mulia.” Sahutnya singkat.

“Baik. Pengacara Kim apakah anda memiliki pertanyaan lain untuk terdakwa?” tanya hakim tersebut kepada pengacara terdakwa yang terlihat lesu.

“Tidak Yang Mulia.” Ujar sang pengacara dengan tatapan pasrah dan tak bersemangat. Untuk apa bersemangat jika kau sudah mengetahui jika dirimu kalah telak dari jaksa penuntut umum yang terkenal begitu handal dalam pekerjaannya.

Pengacara muda tersebut menyesal telah menerima kasus ini. Seharusnya dia mendengarkan nasihat rekan sejawatnya bahwa adalah hal mustahil untuk bisa berhadapan dengan Jaksa penuntut Cho terlebih lagi dengan kasus yang memang menyudutkan kliennya tersebut. Namun ego dan ambisinya untuk mengalahkan jaksa yang tak terkalahkan itu lebih besar dari logikanya sehingga menerima kasus limpahan dari pengacara senior di biro hukum tempatnya bekerja.

Dengan hakim yang mengetuk palu sebanyak tiga kali, maka berakhir sudah sidang yang dilangsungkan tertutup itu. Kyuhyun membungkuk hormat kepada hakim yang meninggalkan ruangan sebelum menegakan kembali tubuhnya dan berhadapan dengan terdakwa yang terus menundukkan diri.

“Kau tampak takut.” Ujar Kyuhyun dengan seringai kemenangannya. Sang terdakwa hanya bisa diam tanpa bisa membalas ucapan Kyuhyun. Wanita itu lalu menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan sang terdakwa yang duduk di kursi pesakitan. Kyuhyun mendekatkan bibirnya di telinga sang terdakwa dan membisikan,

“Kau sudah sepantasnya merasa takut karena akan aku pastikan kau membusuk di penjara setelah apa yang kau lakukan terhadap suamiku dulu bajingan.” Desis Kyuhyun marah lalu meninggalkan terdakwa yang meringkuk, semakin ketakutan karena tekanan dari Kyuhyun.

.

.

.

“Nona Joonmyeon, apa yang akan saya sampaikan mungkin mengejutkan untuk nona, tapi saya minta nona bisa kuat dan tegar untuk menerimanya.”

Joonmyeon hanya bisa mengangguk pelan ketika seorang wanita lanjut usia yang diketahui Joonmyeon sebagai pengasuh ibunya dulu mengatakan hal tersebut. Joonmyeon tentu akan diam sampai dia mengetahui kebenaran dari semua masa lalu ibunya dan orang itu.

Orang yang selalu dia benci keberadaannya padahal orang itulah yang juga memiliki andil atas keberadaannya di dunia ini.

“Perlu nona Joonmyeon ketahui bahwa ibu nona dulu bukanlah sosok yang tampak seperti sekarang. Nona Kyuhyun bisa dikatakan sebagai gadis yang sangat sulit diatur dan semaunya sendiri. Dia selalu membuat masalah dan membuat tuan dan nyonya besar malu dengan ulahnya.” Jonnmyeon kembali mengangguk walaupun dia sedikit tidak percaya dengan penjelasannya wanita di depannya sekarang.

Ibunya, seorang jaksa dan pengusaha sukses, seseorang yang bisa diandalkan dan kuat, adalah pembuat onar?

Yang benar saja.

Namun Jonnmyeon sudah berjanji dia akan diam sampai wanita tersebut selesai bercerita. Dia harus membuktikan bahwa penyelidikannya atas orang itu benar adanya.

“Awal pertemuan nona Kyuhyun dan Siwon-ah tidak begitu baik. Mereka…”

.

.

.

Awal pertemuan Siwon dan Kyuhyun bukanlah awal pertemuan yang indah seperti layaknya pasangan kekasih. Awal pertemuan mereka justru dipenuhi caci maki Kyuhyun yang notabene adalah nona besar keluarga Cho terhadap salah satu penjaga keamanan rumah megah tersebut.

Choi Siwon, yatim piatu miskin yang hanya membawa gelar sekolah menengah pertamanya, mencoba mengadu nasib ke Seoul dan mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga keamanan.

Nasib pula lah yang membawanya ke keluarga Cho.

Walau Siwon senang bisa bekerja dengan gaji yang lebih dari cukup untuk seseorang seperti dirinya, ditambah dengan situasi kerja yang kekeluargaan, akan tetapi Siwon tidak pernah bisa mengerti mengapa keluarga majikannya begitu pongah dan senang sekali merendahkan orang lain. Dia lelah menghitung sudah keberapa kali dirinya menerima cercaan baik dari tuan dan nyonya pemilik rumah maupun dari putri semata wayang mereka, Cho Kyuhyun. Terutama Cho Kyuhyun. Gadis muda itu selalu merendahkan Siwon dan terus saja membuatnya susah.

Siwon tidak paham dimana letak kesalahannya sampai Kyuhyun selalu memarahi dan mengerjainya dengan berbagai cara termasuk dengan memberikan begitu banyak pekerjaan yang sebenarnya bukan merupakan tugas Siwon.

Kyuhyun pun sebenarnya tidak mengerti mengapa dia begitu sebal jika melihat Siwon. Pandangannya tidak pernah bisa lepas dari Siwon dan itu membuatnya merasa terganggu. Dia benci karena Siwon selalu saja memenuhi pikirannya meski Kyuhyun tidak mau memikirkan pemuda itu. Karena itu, demi melampiaskan kekesalannya, Kyuhyun terus mengganggu Siwon. Berusaha membuat Siwon mengundurkan diri dari pekerjaannya sehingga Kyuhyun bisa terbebas dari Siwon.

Hanya saja, Siwon tidak akan mengundurkan diri karena dia membutuhkan pekerjaannya. Siwon bisa hidup menggelandang jika dia berhenti. Demi alasan itulah, Siwon bertahan dengan semua ulah dan tingkah buruk Kyuhyun.

Dan hubungan nona majikan dan pekerja ini terus berlangsung. Tanpa mereka sadari keduanya terus berhubungan dan memiliki keterikatan tersendiri.

Sampai hari itu.

Hari yang membuat keduanya mau tak mau memiliki hubungan yang tidak terputus.

Hari ketika Kyuhyun menyerahkan kesuciannya kepada Siwon, meski pemuda itu tidak mau.

Kyuhyun yang merupakan gadis nakal kurang kasih sayang, memang suka bertingkah binal dan seenaknya. Tingkahnya itu dia bawa ke rumah saat dia mabuk berat sehabis berpesta dengan teman-temannya. Siwon yang sedang mendapat jadwal untuk jaga di depan pintu pagar, melihat nona besarnya datang sempoyongan ditemani oleh seorang pemuda yang terlihat mengambil kesempatan dari mabuknya Kyuhyun, spontan mendekati mereka dan segera mengusir sang pemuda. Siwon lalu berusaha membawa nona mudanya itu untuk masuk ke dalam rumah.

Dalam perjalanan ke kamar Kyuhyun, gadis itu merasa ingin muntah. Bermaksud baik ingin menolong Kyuhyun, Siwon membawanya ke kamar mandi lantai bawah agar Kyuhyun bisa muntah agar bisa merasa lebih baik.

Namun kebaikannya itu tidak berbuah manis. Kyuhyun yang mabuk dan sepertinya dalam pengaruh obat perangsang yang entah kapan dia minum, mulai menggoda Siwon dan memaksanya untuk bercinta dengan Kyuhyun. Siwon berusaha menolak, akan tetapi Kyuhyun memiliki seribu satu cara yang membuat Siwon terpaksa menyerah akan keinginan nona besarnya.

Kejadian itu akhirnya membuat Kyuhyun hamil diusianya yang kesembilan belas tahun. Siwon yang masih berusia tujuh belas tahun, tentu bingung dan ketakutan luar biasa. Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan kondisinya saat ini. Bagaimana dia harus menopang Kyuhyun dan buah hati mereka di saat dirinya sendiri masih berjuang untuk bisa bertahan hidup.

Di satu sisi Siwon bahagia akan menjadi seorang ayah dari wanita yang disadarinya telah dia cintai sejak pertama kali bertemu. Ya, Siwon mencintai Kyuhyun. Meski terus mendapatkan perlakuan buruk darinya, Siwon tetap memendam rasa kepada nona besarnya itu.

Meskipun demikian, kebahagiaan itu tidak bisa menang dari ketakutan dan kebimbangan hati Siwon. Dia bingung dan takut dengan reaksi keluarga Kyuhyun dan tentunya reaksi Kyuhyun sendiri.

Apa yang akan mereka lakukan dengan janin di kandungan Kyuhyun?

Apa Kyuhyun akan menerimanya?

Apa keluarga Cho akan menerimanya?

Entahlah.

Yang pasti, Siwon akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi buah hatinya.

Pemikiran buruk datang silih berganti di benak Siwon dan salah satunya terbukti dengan Kyuhyun yang ingin menggugurkan darah dagingnya sendiri. Akan tetapi, beruntung bagi Siwon, keinginan itu ditentang oleh kedua orang tuanya Kyuhyun.

Kedua orang tua Kyuhyun menentang keinginan putri mereka bukan karena mereka merasa iba atau mereka merasa bertanggung jawab sebagai orang tua dan calon kakek nenek untuk calon bayi Kyuhyun.

Tidak.

Mereka justru sangat malu dengan aib ini dan jika bisa, mereka ingin segera menyingkirkan janin tersebut bersama dengan Siwon. Akan tetapi wasiat dari kakek Cho membuat mereka merasa mendapat kesempatan bagus.

Wasiat itu menyatakan bahwa Kyuhyun harus menikah sebelum usianya dua puluh lima tahun dan memiliki keturunan atau semua harta akan diserahkan kepada paman Kyuhyun yang merupakan anak hasil selingkuhan sang kakek.

Ayah Kyuhyun sudah mengetahui rencana sang adik yang ingin mengusai seluruh harta keluarga Cho dengan menikahkan putrinya. Hanya saja, sang putri sampai sekarang belum dikaruniai momongan sehingga wasiat itu tidak berlaku untuknya sementara waktu ini.

Sekarang, Kyuhyun hamil. Itu membuat otak kedua orang tua Kyuhyun bekerja dengan licik. Mereka akan menikahkan Kyuhyun dengan Siwon agar mereka memiliki bukti bahwa Kyuhyun sudah menikah secara sah. Mereka tidak peduli dengan status Siwon karena mereka akan mengarang cerita dan menyembunyikan pernikahan mereka berdua sampai Kyuhyun melahirkan.

Upacara pernikahan pun dilangsungkan walau sang pengantin wanita merasa dipaksa. Dia tidak setuju karena dia masih membenci Siwon dan menganggap pemuda yang lebih muda dua tahun darinya tersebut sedang mengambil keuntungan dari masalah ini. Padahal Kyuhyun sendiri yang menjerumuskan dirinya dalam masalah pelik tersebut.

Setelah pernikahan, bahkan setelah Minho dan Joonmyeon lahir, sikap Kyuhyun tak kunjung berubah. Sikapnya justru semakin buruk terhadap Siwon. Kyuhyun bersikap tak acuh dengan kedua bayi kembarnya. Kyuhyun tak mau menyentuh keduanya apalagi untuk mengurus keperluan si kembar sehingga Siwon mengambil semua tugas Kyuhyun. Dia seorang diri mengurus Minho dan Joonmyeon karena jelas tidak ada satu orang pun dari keluarga sang istri yang mau membantunya. Hanya beberapa asisten rumah tangga di rumah besar itu yang mau berbesar hati membantu Siwon menangani si kembar.

Meskipun sedih dengan sikap Kyuhyun terhadapnya dan si kembar, Siwon tetap mencintai Kyuhyun. Dia berharap suatu saat Kyuhyun bisa membuka hatinya. Paling tidak untuk si kembar karena dia adalah ibu kandung keduanya. Hanya saja, lagi-lagi Siwon harus menelan pil pahit kehidupan. Baru tiga bulan usia si kembar, kedua orang tua Kyuhyun meminta Siwon untuk menceraikan Kyuhyun. Mereka sudah memiliki cerita yang sesuai untuk menutupi aib keluarga mereka. Dan hal itu termasuk dengan perceraikan Siwon dan Kyuhyun. Mereka sudah membuat cerita agar hubungan antara Choi Siwon dan Cho Kyuhyun tetap sebagai hubungan pekerja dan pemberi kerja.

Tidak lebih.

Awalnya Siwon menolak, sangat menolak karena dia mencintai Kyuhyun dan ingin terus bersamanya. Namun desakan dan ancaman dari kedua mertuanya bahwa jika Siwon menolak maka dia tidak bisa lagi bertemu dengan buah hatinya, membuat Siwon terpaksa menuruti keinginan jahat itu. Terlebih lagi Siwon tak mampu berjuang jika Kyuhyun pun setuju bahkan senang dengan keinginan kedua orang tuanya.

Mereka pun bercerai ketika si kembar berumur lima bulan.

Setelah perceraian mereka, Siwon masih tinggal di kediaman keluarga Cho. Dia pun kembali ke pekerjaan awalnya walau sekarang dia memiliki satu pekerjaan lagi yaitu mengurusi dan membesarkan si kembar. Untuk hal itu Siwon berterima kasih kepada keluarga Cho yang ternyata menepati janji mereka untuk membiarkan Siwon bersama dengan anak-anaknya. Meski kenyataannya, mereka membiarkan Siwon untuk tetap bisa tinggal di rumah itu karena mereka dan Kyuhyun tidak mau berurusan dengan kedua bayi lucu tersebut.

Siwon berjuang sendirian selama 3 tahun lamanya. Berusaha menyelesaikan pendidikannya agar dia bisa lebih diandalkan dan membuat bangga kedua anaknya, bekerja sambil membesarkan keduanya dengan penuh kasih sayang sebagai ayah dan juga ibu, serta mempertahankan perasaannya kepada Kyuhyun agar tidak berubah.

Siwon mencintai Kyuhyun.

Dia tidak mengerti alasannya karena selama Siwon mengenal Kyuhyun, tidak pernah satu kali pun nonanya itu berbuat baik kepadanya. Tetapi, cinta tidak mengenal apapun. Sekali terjerumus jeratnya, sulit untuk melepaskan diri. Itulah yang terjadi pada Siwon. Dia tak bisa lepas dari pesona seorang Cho Kyuhyun. Siwon tahu seumur hidupnya dia akan terus mencintai gadis itu tanpa bisa berpaling darinya. Meskipun dia tahu cintanya tidak akan pernah berbalas.

Lalu, apakah benar yang ada dalam pikiran Siwon?

Tidak ada yang tahu kecuali Kyuhyun sendiri.

Sejak bercerai, Kyuhyun kembali ke kehidupannya yang lama. Berpesta, berbuat onar disana-sini, tidak memikirkan masa depannya sendiri.

Sama seperti sebelum dia hamil dan melahirkan si kembar.

Sama.

Sama persis dengan dirinya yang tak bisa mengenyahkan bayang-bayang Siwon.

Kyuhyun masih merasakan perasaan aneh jika menatap Siwon. Terlebih lagi sekarang ketika dia melihat bagaimana bahagianya Siwon saat bersama dengan si kembar. Bagaimana Siwon begitu telaten dalam mengurus dua orang bayi. Bagaimana wajah tampan Siwon terlihat teduh dan damai ketika menatap wajah tertidur si kembar. Bagaimana senyum manis itu selalu terukir ketika Siwon bertatapan dengannya.

Kyuhyun mulai memikirkan segalanya.

Dirinya, Siwon, kedua buah hatinya yang bahkan belum pernah dia gendong.

Apakah dia akan terus seperti ini?

Bertingkah liar seolah-olah tidak ada yang perlu dia pikirkan?

Berbuat seenaknya tanpa takut akan konsekuensinya?

Tidak melakukan apapun untuk membuktikan bahwa dia punya arti?

Arti untuk dirinya sendiri, untuk orang lain, untuk mereka yang dia kasihi.

Mereka yang dia kasihi?

Siapa?

Begitu pertanyaan itu muncul, bayangan Siwon dan si kembar terbersit di benak Kyuhyun.

Mereka yang dia kasihi.

Mereka yang dia kasihi.

Tanpa sadar airmata Kyuhyun mengalir. Dan semakin lama semakin deras. Dia menangis dengan keras sembari meminta maaf.

Entah untuk siapa maaf itu Kyuhyun tujukan.

Sehari setelahnya, sikap Kyuhyun berangsur berubah kea rah yang lebih baik, terutama kepada Siwon. Kyuhyun mulai mendekati Siwon dan dari apa yang dilihatnya tentang sifat dan perbuatan Siwon, membuat Kyuhyun sekali lagi mempertanyakan dirinya sendiri.

Dia seorang ibu, namun dia tidak tahu bagaimana caranya mengganti popok.

Dia pernah menjadi seorang istri, tapi dia tidak tahu bagaimana menyiapkan sarapan untuk sang suami.

Dia seorang wanita, tapi dia tidak tahu bagaimana memperlakukan dirinya sendiri agar tidak dipandang remeh oleh pria.

Berdekatan dengan Siwon, membuat Kyuhyun sadar bahwa selama ini, dia sudah merendahkan dirinya sendiri. Dia sudah mempermalukan dirinya sendiri dan tidak menyadari bahwa dia istimewa dimata Siwon dan mungkin untuk kedua anaknya.

Kyuhyun terus mencari jawaban dari semua pertanyaan yang muncul setelah dia mengenal Siwon lebih dekat. Terus mencari sampai setahun kemudian Kyuhyun mendekati Siwon dan tiba-tiba memeluknya dengan erat. Kyuhyun menangis sejadi-jadinya di pelukan Siwon, meminta maaf dan berjanji akan menjadi seseorang yang lebih baik untuk Siwon, untuk anak mereka dan untuknya sendiri. Siwon tersenyum dan memeluk balik Kyuhyun, bersyukur bahwa Kyuhyun dibukakan pintu hatinya dan berniat untuk memperbaiki hidupnya.

Setahun kemudian, baik Kyuhyun maupun Siwon memulai kehidupan mereka meski tanpa ikatan apapun. Kedua orang tua Kyuhyun tentu tidak akan menyetujui Kyuhyun menikah kembali dengan Siwon jadi mereka berdua harus memendam perasaan mereka dan memilih untuk bersama hanya untuk kedua buah hati mereka.

Sampai…

Sampai Minho mulai sakit-sakitan.

Siwon dan Kyuhyun terlihat panik, namun tidak dengan kedua orang tua Kyuhyun. Mereka seperti mendapat ide untuk memisahkan Siwon dan Kyuhyun. Ditambah lagi, mereka kini mampu memilih siapa yang akan menjadi penerus keluarga karena tidak mungkin menjadikan dua orang sebagai penerus.

Kedua orang tua Kyuhyun akhirnya menyuruh Siwon untuk pergi dan membawa Minho ikut serta bersamanya. Mereka menjanjikan akan memberikan Siwon rumah dan membiayai kehidupan mereka serta pengobatan Minho. Baik Siwon dan Kyuhyun tidak bisa berbuat apapun. Kedua orang tua Kyuhyun begitu berkuasa sehingga mereka mau tidak mau menyetujui keinginan keduanya.

Siwon pun pergi bersama dengan Minho ke rumah yang sudah dijanjikan. Namun sesampainya Siwon di rumah itu, ternyata rumah tersebut sudah ada yang menempati. Siwon dan Minho telah dibohongi oleh kedua orang tua Kyuhyun.

Siwon memutuskan untuk kembali ke rumah Kyuhyun namun yang dia temukan hanyalah pelayan rumah yang sibuk menutupi semua perabotan rumah karena ditinggalkan oleh pemiliknya untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

Semua keluarga Cho mendadak memutuskan pergi dan pindah ke luar negeri.

Siwon kebingungan. Siwon marah. Siwon takut. Siwon tak tahu harus berbuat apa. Namun, mengingat dia memiliki Minho yang membutuhkan dirinya, Siwon akhirnya bangkit dan berusaha demi Minho. Dia pernah berjuang untuk si kembar maka dia akan kembali berjuang untuk Minho.

Berbekal pendidikan yang dia punya, Siwon lalu memutuskan untuk melamar di sebuah kantor detektif swasta. Beruntung kantor tempatnya melamar sedang membutuhkan seorang detektif tambahan dan dia pun diterima.

Siwon berkerja dengan sangat baik selama 6 tahun. Semua kasus yang ditanganinya bisa dia pecahkan dan membuatnya mendapatkan banyak klien. Kehidupannya dengan Minho benar-benar menyenangkan meski keduanya terus berusaha mencari donor yang cocok untuk Minho. Walau sulit, keduanya tetap berpikir positif dan berusaha untuk bisa menatap masa depan. Semuanya karena keduanya saling menyayangi satu sama lain.

Sampai satu kejadian yang membuat Siwon harus mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.

Siwon terkena tembakan di kepalanya oleh seorang penjahat keji dan kritis selama beberapa bulan sampai sebuah keajaiban membuatnya tersadar. Siwon berhasil melalui masa kritisnya walau…

Walau kini Siwon harus hidup dengan satu peluru yang masih bersarang dikepalanya dan peluru itu membuatnya sulit untuk bekerja kembali di kantor detektif swasta. Siwon tidak bisa kembali bekerja seperti sebelumnya karena dia terus dilanda sakit kepala yang terus datang dan pergi.

Akhirnya dia memutuskan keluar dan mencari pekerjaan lain walau hanya paruh waktu. Biaya pengobatan Minho menjadi lebih berat karena pekerjaannya tidak memberikan banyak uang. Apalagi Siwon harus membayar hutangnya kepada salah seorang rekan kerjanya yang merawat Minho selama dia koma di rumah sakit.

Kehidupan Siwon semakin sulit dan membuatnya tertekan. Tetapi Siwon terus berusaha dan bekerja dengan keras meski di saat-saat tertantu Siwon merasa tak sanggup lagi untuk bertahan. Siwon hampir depresi jika tidak mengingat bagaimana nantinya nasib Minho jika dia pergi.

Berjuang dan berjuang. Hal itulah yang Siwon lakukan sampai tiga tahun kemudian, Siwon tak sengaja bertemu lagi dengan Kyuhyun.

Kyuhyun begitu bahagia bertemu dengan Siwon lagi dan segera saja dia meminta Siwon untuk kembali bersamanya. Kyuhyun mengatakan tidak ada lagi yang bisa mengganggu mereka sekarang karena kedua orang tuanya telah meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan.

Awalnya Siwon pun begitu ingin bersatu dengan Kyuhyun. Dia begitu bahagia karena setelah sekian lamanya, Kyuhyun masih ingin bersamanya. Terlebih lagi Siwon akan segera bertemu dengan Joonmyeon. Tanpa berpikir dua kali Siwon pun setuju dengan tawaran Kyuhyun dan ikut pergi ke rumah Kyuhyun.

Begitu dia sampai di rumah Kyuhyun dan bertemu dengan Joonmyeon, Siwon mengharapkan pelukan dan kecupan dari Joonmyeon, namun semua harapan Siwon harus pupus dengan sikap Joonmyeon yang langsung antipati begitu melihatnya. Harapan itu semakin hilang di telan bumi kala Siwon tidak sengaja mendengar Joonmyeon mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan seorang ayah. Bagi Joonmyeon seorang ayah hanya akan membuang waktunya dan waktu ibunya. Ditambah lagi Joonmyeon memang membenci ayah kandungnya karena meninggalkan dia dengan sang bunda.

Rupanya, Joonmyeon sudah diracuni pikirannya oleh kakek dan nenek semasa keduanya masih hidup. Kyuhyun sendiri tidak tahu Joonmyeon berpikir demikian karena dia sibuk dengan pekerjaannya dan Joonmyeon sendiri terlihat baik-baik saja.

Mendengar Joonmyeon berkata demikian, Siwon memikirkan kembali keputusannya untuk bersanding dengan Kyuhyun. Akan sulit dan menyakitkan hati jika dia memaksakan kehendaknya. Untuk itu, Siwon menolak tawaran Kyuhyun untuk menyatukan cinta mereka dan lebih memilih menjadi orang asing untuk putrinya sendiri.

.

.

.

“…mereka masih begitu?”

Joonmyeon terlalu terlarut dengan perasaannya sendiri sehingga dia tidak mendengarkan pertanyaan wanita dihadapannya sama sekali. Dia tidak bisa memperhatikan apapun kecuali tentang rasa bersalahnya yang semakin besar terhadap Siwon.

“Nona Joonmyeon?” panggil wanita itu lagi, berusaha membuat Joonmyeon memperhatikannya namun nihil. Joonmyeon tetap terpaku dengan kedua tangannya sendiri yang dia remas dengan kuat.

Wanita paruh baya itu akhirnya berhenti memanggil Joonmyeon. Apalagi ketika dia melihat Joonmyeon yang mulai menitikan airmatanya. Wanita hanya bisa menyaksikan Joonmyeon yang menangis tersedu-sedu sampai akhirnya tidak kuasa menangis keras walaupun Joonmyeon masih sempat menutup mulutnya dengan punggung tangannya agar isakan tangisnya tidak terdengar oleh orang lain.

Hanya saja, suara tangis Joonmyeon yang menyayat hati tidak akan bisa dihiraukan begitu saja. Tangisan Joonmyeon yang begitu memilukan membuat semua orang menoleh, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sekaligus merasa iba dengan gadis yang terlihat sedih itu.

Mereka hanya bisa bertanya-tanya karena Joonmyeon terus saja menangis sampai dia sesengukan. Mereka hanya bisa merasa iba tanpa bisa menghibur Joonmyeon karena apapun bentuk hiburan atau kata penenang, Joonmyeon tidak akan pernah bisa dihibur dengan cara apapun.

Rasa bersalah itu terlalu besar.

Rasa penyesalan itu terlalu dalam.

Joonmyeon telah berdosa kepada orang yang selalu menyayanginya.

Dia berdosa.

“A-appa… M-maaf… Hiks… M-maafkan Joonie… Hiks… Ma-maaf…”

.

.

.

“Maafkan kami Siwon-ssi, tapi Minho-ssi…”

“Tidak dokter. Tidak. TIDAK!!!”

“Kami sangat menyesal.”

.

.

.

Lelaki tinggi itu menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit dan tanpa dia sadari, kekuatan kakinya melemah sehingga dia merosot sampai ke lantai. Lelaki itu, Siwon, terduduk disana dengan kedua kakinya yang menekuk dengan secarik kertas di tangannya. Siwon tak kuasa menahan airmatanya lagi.

Mengapa?

Mengapa nasib buruk selalu menimpa keluarganya?

Mengapa Tuhan memberikan cobaan sedemikian sulit untuknya?

Siwon tak tahu apa salahnya di masa lalu sehingga dia diberi cobaan seperti ini. Dia sudah berjuang sampai dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi semua kesulitan dalam hidupnya.

Dan semua itu tak pernah cukup, tak pernah selesai.

Mungkin jika semua itu terjadi padanya, Siwon tidak akan sesedih ini. Tapi yang mengalaminya adalah putranya. Putranya yang bahkan belum pernah mendapatkan kasih sayang selain dari dirinya. Putranya yang masih jauh dari kata bahagia.

Kenapa harus Minho?

Kenapa bukan dirinya?

Apa ini sebenarnya hukumannya karena telah berani mencintai Kyuhyun yang jauh diatasnya?

Namun bukankah cinta tidak mengenal apapun?

Bukankah semua sama dimata Tuhan?

Lalu mengapa?

Mengapa hidupnya selalu dilanda kesedihan?

“Kenapa Tuhan? Kenapa? Kenapa harus putraku? Ambil saja aku. Ambil aku…”

Lirihan itu yang terus terucap dari bibir Siwon sampai tidak terdengar satu kata pun dari Siwon.

Sampai tidak terdengar satu kata pun.

.

.

.

Siwon menekan bel pintu rumah yang telah memberinya banyak kenangan, baik itu kenangan indah maupun kenangan buruk. Rumah yang menjadi saksi cintanya kepada nona rumah yang cantik. Rumah yang menjadi saksi akan cintanya yang seharusnya tak pernah ada.

Siwon tidak menyesali telah jatuh cinta. Tapi dia selalu berpikir apakah jika mencintai wanita lain hidupnya akan berbeda? Apakah Kyuhyun adalah wanita yang tepat untuk dia cintai? Apakah sejak awal cintanya yang telah membawanya dan keluarganya sekarang dalam kehancuran ini?

Tidak ada yang bisa menjawabnya.

Yang saat ini Siwon ketahui bahwa apapun yang dia lakukan, apapun yang dia pikirkan, tidak akan membuatnya bisa membalikan waktu. Semua sudah terjadi dan dia menerimanya.

Saat ini yang ingin Siwon lakukan untuk terakhir kalinya adalah melihat wajah cantik itu. Wajah cantik yang telah menjadi ibu dari kedua anaknya. Wajah yang akan selalu membayanginya seumur hidupnya. Wajah yang akan selalu dia cintai sampai akhir hayatnya.

Kyuhyun.

Siwon menekan sekali lagi dan tidak berjarak dua detik, pintu pun terbuka. Menampakan seseorang yang selalu membuatnya tersenyum.

“Siwon? Ada apa?” tanya Kyuhyun senang walau dia bingung Siwon datang tengah malam seperti ini. Siwon hanya tersenyum dan terus memandang wajah indah yang seperti tak terkikis oleh waktu. Tanpa peringatan sama sekali, Siwon mendekat lalu merengkuh tubuh itu dalam dekapannya. Siwon memeluk Kyuhyun erat, menyembunyikan wajahnya dalam cerug leher Kyuhyun, menghirup aroma tubuh mantan istrinya tersebut, aroma yang memabukkan.

“S-siwon…” Kyuhyun tak pelak terkejut dengan sikap Siwon, namun dia senang karena bisa merasakan lagi pelukan hangat dari mantan suami yang begitu dia cintai. Dengan perlahan, Kyuhyun pun mulai membalas pelukan Siwon, menempatkan kedua tangannya di punggung Siwon dan merebahkan kepalanya di dada Siwon.

Siwon mengangkat kepalanya dari leher Kyuhyun dan mengarahkan ke pelipis Kyuhyun. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Siwon mengecup pelipis itu sebelum sedikit melonggarkan pelukannya agar dia bisa berhadapan dengan Kyuhyun. Siwon meraih pipi Kyuhyun, menangkupnya dan membawa wajah itu mendekat agar Siwon bisa mengecup kening Kyuhyun.

Cukup lama Siwon mengecup kening Kyuhyun sebelum akhirnya dia melepaskannya. Jemari Siwon masih betah berada di pipi Kyuhyun mengusap permukaan pipi yang halus tersebut lalu memberikan senyum yang lebar kepada Kyuhyun.

“Aku selalu mencintaimu.” Ucap Siwon dengan lirih, mengembangkan senyum di wajah cantik Kyuhyun.

“Selalu Kyuhyun-ah. Selalu.” Lanjutnya lagi sebelum benar-benar melepaskan diri dari Kyuhyun, memandang Kyuhyun sesaat sebelum mendadak berbalik dan lari meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun tersentak kaget dengan perginya Siwon begitu saja. Dia tidak sempat menerjemaahkan apa yang telah terjadi sampai Siwon hilang di balik pagar rumahnya yang tinggi.

Begitu Kyuhyun sadar bahwa ada yang tidak beres dengan Siwon, Kyuhyun pun mengejar Siwon sampai depan gerbangnya. Akan tetapi Kyuhyun tidak mendapati sosok Siwon sama sekali. Dia terlambat mencegah pria yang dicintainya itu untuk pergi.

Kyuhyun merasakan sesak yang sangat dalam di dadanya. Bulir-bulir krsital miliknya mulai berjatuhan dan dia tak kuasa menahan bobot tubuhnya sendiri. Tubuhnya merosot ke tanah dengan tangan Kyuhyun berpegangan di pintu gerbang.

Kyuhyun mulai terisak sampai dia menangis sejadi-jadinya. Kyuhyun tidak mempedulikan tatapan kekhawatiran penjaga rumahnya yang bingung dengan keadaan Kyuhyun. Ibu dua anak itu terus menangis di kegelapan malam sampai,

“SIWON!!!” teriakannya memecah keheningan malam.

Teriakan pilu yang menyayat hati semua orang yang mendengarkan.

Teriakan yang memberi tahu bahwa dia akan berpisah dengan seseorang.

Seseorang yang begitu dia cintai.

.

.

.

“Dilaporkan telah terjadi kecelakaan di kawasan xxx pada pukul xxx. Meneurut saksi mata, mobil melaju dengan kecepatan yang tinggi dan tidak terkendali. Pihak kepolisian…”

.

.

.

I can’t believe we’ll never meet again.
I haven’t told you anything yet. 

No matter how frightening it is, I won’t look away
if there is love at the end of everything.

Everybody finds love
In the end

END

.

.

From Admin

Dukung FF ini untuk jadi pemenang dengan cara:

  1. Share FF ini ke FB melalui kolom Share.
  2. Screenshot_2016-03-29-18-58-12-1
  3. Berikan Komentar untuk FF ini.
  • 1 username 1 komentar
  • Komentar dengan kata dibawah 20 tidak dihitung. Jadilah reader yang aktif. Jangan hanya semangat komentar jika ada war. #eh *bercanda ajah nih*
  • Penilaian oleh reader dilakukan sampai tgl 8 April jam 10 Malam atau setelah Min ssii memberikan komentar di postingan tersebut. Artinya koment yang masuk setelah komentar Min ssii tidak akan dihitung.
  1. Vote FF favorite kalian pada kolom di bawah ini.

VOTE

 

Sekian dan terima kasih.

 

Selamat berlomba untuk semua author dan selamat menikmati sekaligus memberikan nilai untuk semua reader WonKyuCorp.

 

Semangat!!!!!

Advertisements

21 thoughts on “[FF Kontes] Sakura Nagashi

  1. Tiap baca f fpasti selalu pngen gantian ngeliat siwon menderita jangan kyuhyun mulu
    tapi sekali nemu ff yg siwon disiksa habis”an pasti ga tega juga liatnya… Soalnya siwon ga pantes dibuat menderita sih apalagi jadi orang miskin hahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s