Posted in Angst, BL, Drama, FF Kontes, Genre, Hurt, Oneshoot, Romance, Sad, WonKyu Story

[FF Kontes] Romeo dan Juliet

WKCAnnive – Romeo dan Juliet

Romeo and Juliet

Author: Mojil (momoji.leaf)

Main Cast and Pair: Siwon dan Kyuhyun

Suport Cast:  Kim Jongwoon dan Shim Changmin

Genre: BL

Rate: T

Sumarry:

Kisah kita terhalang banyak palang. Apakah kita akan berakhir seperti Romeo dan Juliet?/ “Apa kita akan berakhir seperti Romeo dan Juliet?”/“Apa kau menginginkan kita berakhir seperti mereka?”/

Ingatan yang aku lupakan.

….

Lamat-lamat udara kini perlahan tertahan di paru-parunya. Air perlahan masuk pada rongga telinganya memberikan tekanan sangat keras pada syaraf-syaraf memorinya, menghantarkan dirinya tenggelam pada suatu memori tersembunyi yang hanya samar-samar bisa dia ingat dengan benar. Tubuhnya tenggelam perlahan didinginnya air laut, bajunya yang masih lengkap terpakai, kini telah basah kuyup dengan air.  Beban berat tubuhnya makin bertambah.

“Kyuhyun-ah. Cho Kyuhyun.” Suara baritone yang sangat familiar ditelinganya terus saja terdengar, tetapi wajah milik namja itu sama sekali tak dapat dilihatnya, kelopak matanya sangat sakit sehingga tak dapat terbuka.

Padahal dia melakukan semua ini untuk membuka kabut gelap yang beberapa bulan ini selalu menutupi jaringan memorinya. Dua buah tangan kini meraih kedua pundaknya, mungkin ini namja tak berwajah yang selalu hadir di mimpi-mimpinya. Seorang namja yang hampir saja membuat dia mati penasaran, seorang namja yang memegang kunci dari pintu-pintu yang menghalangi mimpinya.

“Kyuhyun-ah. Apa yang kau lakukan?” Kyuhyun membuka matanya ketika goncangan di bahunya semakin kencang dan menyakitkan.

“Hanya berendam.” Serunya dengan ketus, dia menjauhkan tangan namja dihadapannya itu dengan tangan yang telah basah.

Bukan dia. Walaupun namja itu bersikeras bahwa dialah namja itu –Kyuhyun pernah menceritakan tentang ingatannya itu, hatinya merasa semua cerita yang dilontar namja dengan suara tenor  yang kadang melengking itu, hanya bohong belaka dan dia membenci namja itu terus berkata menjijikkan didepannya.

“Kau hampir membunuh dirimu sendiri.” Nada suaranya terdengar sangat panik, dia terus menarik tangan Kyuhyuhn, agar tubuh dengan kulit pucat yang masih setia berendam didinginnya air yang menggenangi bathtab-nya, keluar dari sana.

“Jangan berlebihan, Changmin-ssi.” Kyuhyun dapat melihat ekspresi getir di mata Changmin saat dirinya masih memakai kata formal dengannya. “Keluarlah dari sini. Aku ingin mandi.” Sekali lagi Kyuhyun menepis tangan kekar milik Changmin.

….

Ingatan penting yang ku cari.

Entah kenapa detak jantungnya berdetak sangat kencang ketika kakinya menginjakkan kedua kakinya di negara kelahiran dirinya, Seoul, Korea Selatan. Negara yang selama setahun ini telah dia tinggalkan, tak pernah dia tahu apa penyebabnya, hyung-nya hanya berkata mereka harus pindah, tanpa ada penjelasan lain yang bisa diterima oleh otaknya. Kini dia berada disini, menghirup udara Seoul untuk pertama kalinya yang bisa dia ingat.

Langkah kakinya terasa ringan, akhirnya dia bisa keluar dari lingkaran penghalang milik Kim Jongwoon itu. Senyum kini terukir diwajah tampan bak pahatan itu.

Napasnya terengah-engah, senyum terukir ketika sebuah bus yang beberapa menit yang lalu dia inginkan telah berada didepannya. Dengan begini, dia akan lepas dari cengkraman namja yang tak pernah dia sukai itu. Mungkin sebelum dia hilang ingatan, dia juga benci dengan namja itu.

Kyuhyun merogoh kantongnya mengeluarkan bus pass miliknya. Sepertinya dia memang tak beruntung hari ini, bus berwarna biru yang bisa membawanya pergi itu tempat duduknya telah penuh dengan penumpang, mungkin ini ada garis merahnya dengan Changmin. Kesalnya kini telah menimbulkan sebuah daging yang sangat susah untuk dihilangkan.

Dia memilih berdiri di baris dua bangku terakhir didekat seorang namja yang seperti terlihat kelelahan dan tertidur dibangkunya. Kalau dia jadi namja itu, dia tidak akan mau tidur di tempat tidak nyaman seperti tempat ini. Apalagi bus bisa saja…

Tubuhnya mendadak jatuh terjerembab ke kursi didepannya, sebuah rem ditekan dengan kuat sehingga keseimbangannya hilang seketika. Untung saja, tangan kekar namja itu menahan tubuhnya yang kecil itu.

“Kau lumayan berat juga.” Pandangan mata Kyuhyun kini tertuju tepat pada mata bening nan menenangkan milik namja itu. “Tubuhmu kecil loh.” Kyuhyun menarik tubuhnya dengan cepat, entah kenapa pandangan mata itu mampu memacu detak jantungnya bergerak cepat.

Suara-suara marah seolah mendadak hilang dari pendengarannya, Kyuhyun seolah hanya bisa mendengar suara baritone khas milik namja itu.

“Kau tak apa bukan?”

Hatinya sedikit sakit. Kata berat seolah menggores perlahan.

“Hey, kulit pucat.”

Apa-apaan itu? Kulit pucat? Kyuhyun melemparkan wajah mengerikan miliknya kepada namja itu. Namja didepannya itu sedikit salah tingkah.

“Eh, duduk disini.” Kyuhyun menggeleng perlahan padahal namja itu telah bangkit dari tempat duduknya, mempersilahkan Kyuhyun untuk duduk. Dia menggaruk kepala belakangnya, Kyuhyun yakin tidak ada rasa gatal disana.

Namja itu menggengam pergelangannya, membuat Kyuhyun sebenarnya ingin berontak tetapi tangan itu perlahan menarik pergelangannya dengan lembut menyuruhnya untuk duduk dikursi miliknya.

“Anggap saja ini permintaan maafku.” Serunya perlahan, sebelumnya akhirnya kepalanya itu berpaling memandang kedepan.

Kyuhyun tak pernah ingat kapan bus itu berjalan, saat suara namja itu tak lagi terdengar, bus itu telah berjalan menelusuri sudut kota indah Seoul. Angin menyejukan kini perlahan menerpa dirinya, dia tak pernah merasakan nyaman seperti ini. Kyuhyun bahkan masih membiarkan tangan namja itu menggenggam pergelangannya, rasanya nyaman sekali.

“Eh, sepertinya gelang kita sama.” Kepala namja itu beralih, dia memandang gelang berwarna biru di tangan Kyuhyun dan gelang berwarna pink yang melingkar di pergelangannya.

“Sepertinya. Hanya beda warna.” Dia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Warna gelangku biru dan warna gelangmu pink.” Kyuhyun harus menahan tawa ketika dia menyebutkan warna pink.

“Entahlah. Aku bahkan tak tahu ini gelangku atau bukan. Aku kehilangan ingatanku sejak setahun yang lalu. Kalau dipikir-pikir, mengapa aku harus memilih gelang berwarna pink untuk kupakai?” Kyuhyun sontak mendongak memandang wajah yang sebenarnya sangat familiar baginya. “Oh aku berhenti disini.” Dia melayangkan tangan menekan bel yang berada tepat dihadapannya. Dia lalu berlari sambil menarik tas besar miliknya.

“Namamu siapa?” Kyuhyun tak peernah mendapatkan jawaban, namja itu kini telah menghilang dari pandangannya. Walaupun begitu senyum mendadak muncul di wajah kerasnya.

Sebuah ingatan yang seperti kotak pandora.

Kyuhyun baru saja tiba saat gelap dirumahnya. Beberapa orang sempat memasang wajah panik dan menanyainya beberapa hal. Tetapi maknae dirumah itu malah melemparkan senyum paling ramah yang belum pernah diberikan Kyuhyun sejak setahun yang lalu. Ketika ditanyai keadaannya, Kyuhyun selalu berkata dia baik-baik saja sambil memasang senyum dan muka paling bahagia. Changmin bahkan hampir saja membenturkan kepalanya ke dinding, dirinya sama sekali tak menyangka semua yang dilihat oleh matanya.

“Apa yang membuatmu bahagia seperti ini?” Changmin menghampiri Kyuhyun yang tiba-tiba mendadak melankolis tengah memandangi bulan di balkon kamarnya.

“Sesuatu yang tak perlu kau ketahui tentunya.” Walaupun nada kepadanya tetap saja ketus seperti biasa.

Kyuhyun mematut dirinya didepan cermin. Sudah hampir satu setengah jam dia berdiri disana. Beberapa kali dia bertukar baju, memastikan satu baju yang paling cocok untuknya hari ini. Senyuman terukir ketika matanya telah menangkap kesempurnaan dari bayangannya di cermin.

“Kau mau kemana hari ini?” Sang Ibu kini tengah berdiri didepan pintu yang sama sekali tak ditutup olehnya, Ibunya itu telah melihat pergerakan sang anak satu-satunya itu sejak awal.

“Pergi ke suatu tempat.” Senyum lega kini diukir di wajah Ibunya itu, akhirnya anaknya itu bergerak menjauh dari kegelapan. Dia bahagia anaknya itu tak lagi mengurung diri di kamar.

“Bersama Changmin.”

Kyuhyun menggeleng perlahan. “Aniya. Aku akan pergi sendiri.”

“Tidak dengan supir.”

“Aku ingin sendiri, eomma.” Nadanya terdengar keras dan memerintah, moodnya mendadak berubah dan Ibunya tahu akan hal itu.

Arraseo.” Dia sama sekali tak ingin mematahkan semangat Kyuhyun.

Kyuhyun meluruskan kakinya. Otot-otot kakinya sudah terlalu tegang, dia sudah berjalan ke seluruh pemberhentian bus dan menaiki semua bus untuk menemui namja itu. Dia sudah menaiki bus yang sama dengan yang dia naiki bersama namja itu tetapi dia sama sekali tak bertemu dengannya, padahal dia sengaja datang pada waktu yang sama.

Apa namja itu telah pergi dari Seoul? Seingatnya, kemarin namja itu membawa ransel besar. Kyuhyun menghela napasnya dengan panjang, apa perjuangannya beberapa jam ini berakhir disini dan gagal. Tangannya terangkat mengusap beberapa tetes keringat dirinya yang kini mulai menetes perlahan. Dia sungguh sangat lelah dan tak bisa berjalan lagi. Apalagi matahari berderik dengan semangat diatasnya.

“Ouch.” Sebuah kaleng yang sangat dingin menempel di pipinya. Kyuhyun sontak menoleh kesamping, betapa terkejutnya dia, namja yang sangat ingin temui itu kini berada tepat disebelahnya ketika dia hendak menyerah.

“Annyeong.” Senyum itu merekah indah disana. “Mau minum?” Dia menarik kaleng minuman dari pipi Kyuhyun lalu menyodorkan. “Sepertinya kita jodoh hingga bisa bertemu lagi untuk kedua kalinya.” Aliran darah Kyuhyun seolah berhenti, tangannya yang memegang kaleng masih menggantung di udara. Semua darahnya berkumpul di kedua pipinya dan meninggalkan bekas merah yang sangat jelas.

“Kau tak ingin minum.” Kata namja itu lagi, dia baru saja meneguk liquid berasam itu. Kyuhyun dengan segera membuka penutupnya dan meminumnya dengan perlahan. “Jadi ini namanya Hangang.” Kyuhyun kembali menoleh menatap wajah namja itu.

“Apa kau berasal dari luar negeri?” Mengingat betapa besarnya ransel yang dia pakai kemarin, namja ini pasti berasal dari luar negeri dan baru pertama kalinya datang ke Seoul.

“Aku baru datang ke Seoul saat pertama kali kita bertemu.” Minuman dingin itu kini bergerak mengalir melalui tenggorakannya. “Tetapi aku berasal dari Seoul. Setahun yang lalu, aku pindah keluar negeri.” Kyuhyun mengangguk-angguk perlahan. “Aku kehilangan ingatanku setahun yang lalu dan sama sekali tak mengingat bagaimana bentuk Seoul.” Tambahnya ketika Kyuhyun membuka mulutnya untuk memprotes perkataannya.

“Bagaimana kalau aku mengajakmu berjalan-jalan sekitar Seoul?” Kyuhyun sebenarnya agak ragu menanyakan hal itu tetapi ketika namja disebelahnya itu mengangguk dengan semangat, senyum terukir di wajahnya.

“Boneka apa yang kau inginkan?” Kini mereka sedang berada didepan sebuah mesin boneka. Mata Kyuhyun berpedar, keningnya berkerut beberapa kali, mencerna setiap boneka yang masuk dalam jangkauan pandangannya.

“Aku mau boneka penguin. Boneka penguin berwarna abu-abu dan berpita merah itu.” Katanya dengan nada yang sangat antusias seperti anak berumur tujuh tahun.

“Baiklah.”

Capit itu bergerak perlahan ketika tangannya kini tengah memegang kontrol mesin itu. Dia menunggu saat yang tepat, saat capit itu berada tepat diatas boneka penguin keinginan Kyuhyun itu. Kyuhyun bersorak ketika tubuh si penguin berhasil naik dan bergerak perlahan mendekati garis finish. Dia lalu menekan tombol merah, membuat penguin itu beranjak turun dengan cepat.

Dia memasukkan tangannya, ketika tangan kekar itu telah keluar, tangannya memegang sebuah boneka. Dia menyodorkannya kepada Kyuhyun yang menerimanya dengan sangat semangat. Senyum terukir di wajahnya, sungguh namja didepannya ini sangatlah imut.

“Apa kau haus? Bagaimana kalau kita membeli minuman?” Dia mengandeng tangan Kyuhyun membawanya menuju sebuah cafe terdekat yang bisa mereka lihat.

“Bisakah kau yang memilih minuman untukku?” Kyuhyun mengangguk antusias. Dia menolehkan kepalanya menatap daftar menu yang berada didepannya.

“Cappucino.” Kata Kyuhyun asal, dia sebenarnya tak terlalu yakin, dia hanya mengutarakan apa yang pertama kali terlintas diotaknya.

“Eoh, bagaimana kau tahu minuman kesukaanku?” Kyuhyun sontak menoleh menatap namja itu, keduanya sama-sama memasang wajah bingung.

“Kalau begitu untukmu yang manis, stawberry milk shake.”

Bagaimana dia tahu minuman kesukaan namja itu, dia sama sekali tak tahu. Apa ini hanya sebuah kebetulan? Tetapi ini terlalu luar biasa bila dikatakan kebetulan. Bahkan dia merasa sangat nyaman dengan namja itu tanpa berniat menjauhkan namja itu dari sebelahnya. Mereka kini tengah bergandengan tangan secara tak langsung, kedua tangan mereka masing-masing memegang tangan milik si boneka penguin yang menggemaskan itu.

Namja itu mendadak memberhentikan kakinya, membuat Kyuhyun ikut berhenti dan menoleh menatap wajah itu.

“Ponselku bergetar.” Dia melepaskan gandengan tangannya, merogoh kantongnya dan mengambil ponsel bergetar tak karuan. Wajahnya sedikit berkerut, Kyuhyun yakin dia agak ragu untuk mengangkat telepon itu, tetapi sedetik kemudian dia menempelkan ponsel putih itu tepat ditelinganya.

Yoboseyo.”

“Siwon-ie, menjauh dari dia.” Dia mengenal suara baritone yang mirip dengannya itu. Apa namja berumur lebih tua dua tahun diatasnya itu berada di Seoul juga?

Keningnya sedikit berkerut. “Dia? Jongwoon hyung apa yang kau maks—.” Dia sontak menatap Kyuhyun dengan pandangan terkejut. “Apa dia ada hubungannya dengan semua ini?” Kyuhyun sepertinya mengerti maksud ‘dia’ disini, tetapi hubungan apa yang dimaksud?

“Dimana kau sekarang, hyung?” Raut wajah berubah sangat serius, Kyuhyun sedikit takut dengan perubahan raut wajahnya itu.

“Aku harus pergi.” Nada suara sama sekali tak seperti sebelumnya. “Kita berpisah disini. Berikan ponselmu.” Tanpa banyak protes Kyuhyun memberikan ponselnya. Sepertinya namja itu memasukkan beberapa angka kedalam ponselnya, beberapa detik kemudian ponsel putih milik namja itu kembali bergetar, tapi dia sama sekali tak mengangkatnya. “Ini nomorku. Aku juga sudah menyimpan nomormu. Kuharap kita bisa kembali bertemu, suatu saat nanti.” Katanya, perkataannya diakhiri suatu helaan napas yang membuat perasaan Kyuhyun menjadi sangat tidak baik.

“Kalau begitu, apa aku boleh tahu namamu?” Dia menggeleng perlahan.

“Kalau kita bertemu, aku akan memberitahukan namamu.” Sebenarnya Kyuhyun kecewa akan hal itu tetapi tak ada yang dapat menghentikannya.

Sekali lagi, namja itu menghilang dari pandangannya. “Mogyu, kita pasti akan bertemu dengannya lagi, bukan?” Katanya kepada boneka penguin ditangannya.

“Dia bertemu lagi dengan Kyuhyun.” Suara tegas milik Ayahnya itu mampu menghentikan langkah kakinya. “Apa dia masih berniat membalas dendam kepadaku?”

Balas dendam. Siapa?

“Mengingat apa yang dilakukan oleh Tuan kepada kedua orangtuanya, aku yakin dia akan melakukannya.” Itu suara Changmin. Ternyata benar dia menyimpan sesuatu dari Kyuhyun.

Kyuhyun bergerak perlahan, mendekati pintu yang sedikit terbuka, melihat semua keadaan di ruang kerja Ayahnya itu.

“Tetapi sepertinya dia juga kehilangan ingatannya juga seperti Kyuhyun.”

Dia? Siapa dia?

 “Aku kehilangan ingatanku setahun yang lalu.”

Suara baritone itu mendadak memenuhi otaknya. Kakinya mendadak lemas.

“Dia? Apa dia ada hubungan dengan semua ini?”

“Itu lebih baik. Mungkin lebih baik Kyuhyun hilang ingatan selamanya.”

Rasa sakit mendadak membelegu kepalanya. Rasa sakit yang selama beberapa hari ini menghilang, mendadak datang dengan rasa sakit yang melebihi sebelumnya. Tangannya terangkat keatas, memberi pijatan untuk menghilang rasa sakit pada kepalanya. Kepalanya seperti dihujani batu-batu kerikil.

“Kyu-ah, apa yang terjadi padamu?” Kyuhyun mendongak, dia menatap tajam Changmin yang kini telah berada disampingnya, wajah Changmin mendadak panik.

Kyuhyun tak mengindahkan pertanyaan Changmin, kakinya lebih memilih melangkah.

“Kyu, kau dapat boneka itu dari mana?” Kyuhyun memberhentikan langkahnya, ada nada khawatir di setiap katanya. Dia menaikkan tangannya memandang boneka penguin miliknya itu. Apa boneka ini juga memiliki sangkut pautnya dengan semua kejadian ini.

“Kyu, aku bertanya padamu. Kau tidak membuka lemari kamarku, kan?”

Lemari kamar Changmin? Kyuhyun berlari, dia melangkah dengan cepat sebelum Changmin menghalangi dirinya. Dia harus mengetahui apa yang Changmin sembunyikan di lemari kamarnya.

“Kyuhyun.” Teriak Changmin, dia sama sekali tak dapat mengimbangi kecepatan Kyuhyun yang mendadak dapat berlari dengan sangat kencang.

Tetapi tangan cepat Changmin berhasil menangkap tangan Kyuhyun. “Mengapa kau ingin ingatanmu kembali?”

“Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku.”

“Bagaimana kalau ingatan itu menyakitkan?”

“Akh.” Nyeri kembali menyerang otaknya.

“Bagaimana kalau ingatan itu menyakitkan dan kau ingin mati jika kembali mengingatnya?” Dia berdiri agak menjauh, memilih untuk berdiri dibalik bayang-bayang lampu.

“Kenapa? Kau malah membuatku makin penasaran.” Siwon berjalan mendekat. Walaupun tangan hyung-nya kini terangkat, mengisyaratkan dia untuk tak mendekatinya. “Apa ini ada hubungannya dengan namja berkulit pucat itu?”

“Akh.” Nyeri kini menyerang otaknya. Beberapa memori ikut menghujan otaknya.

“Kyu, mengapa kulitmu pucat seperti ini? Kita seperti pasangan susu dan coklat.”

“Hyung saja yang terlalu sering berjemur di sinar matahari.”

“Kau tak apa, Siwon-ie.” Perlahan Jongwoon berjalan mendekati Siwon, dia tampak khawatir dengan keadaan adiknya itu.

“Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Ini ada hubungan dengan namja bernama Cho Kyuhyun itu, bukan? Akh.”

Lagi, otaknya sepertinya dihujani jarum, terasa sakit memang tetapi entah mengapa dia ingin mendengar semuanya, mendengar semuanya hingga mendapat penjelasan walaupun kepalanya harus pecah sekalipun.

“Kau tak harus mengingatkannya jika itu menyakitkan.”

Tidak. Dia tidak akan melawannya sedikitpun.

Dia duduk dekat dengan dinding. Tatapan tajam matanya kini terarah pada tangan dari kedua namja itu yang sudah bertautan. Kenapa bukan dia yang berada disamping namja itu dan memberikan kekuatan dengan genggaman tangan miliknya? Bukan namja yang telah dianggap kekasihnya itu sebagai kakak kandungnya. Ini semua gara-gara Ayahnya.

Dia berjalan perlahan mendekati tahta bagi orang yang meninggal itu, disana ada dua foto, foto kedua orangtua kekasihnya. Dia dapat memahami betapa kehilangannya. Dia juga dapat mengerti airmata yang membuat wajah kekasihnya itu sangat kusut daripada biasanya.

Dia memberikan penghormatan terakhir sebelum akhirnya berjalan mendekati kekasihnya itu. Tangannya terangkat berusaha menyentuh dan mengelus tangan kekasihnya itu, tetapi ketika kulit mereka saling bersentuhan, kekasihnya itu memundurkan tangannya tak ingin disentuh.

“Kyuhyun-ssi, Siwon saat ini sedang tak ingin diganggu. Jadi bisakah kau jangan menganggunya dulu?” Jongwoon, namja disebelah kekasihnya itu, berkata dengan perlahan, matanya juga terlihat merah.

“Tetapi aku kekasihnya.” Kyuhyun meraung hanya dalam hati, tak sempat hati ingin mnegutarakan apa yang berada dalam otaknya. Kepalanya terpaksa mengangguk, kakinya bergerak mundur, menjauh dari kedua namja itu.

Kyuhyun bahagia sekali. Sudah sebulan penuh, Siwon sama sekali tak menghubungi, kekasihnya itu seperti menghilang ditelan bumi, tetapi pagi tadi, kekasihnya itu menelponnya, memintanya untuk tadi ke rumah Siwon. Kini mereka sedang duduk di sofa didepan televisi, Siwon tengah membuka sebuah apel dengan pisau dan Kyuhyun yang berada disebelahnya tengah melahap beberapa potong apel.

“Kyu, apa kau pernah merasa ingin membunuh seseorang?” Kyuhyun memberhentikan kegiatannya, dia menoleh dengan wajah bingung.

“Tidak. Kenapa hyung?” Kyuhyun terus saja memperhatikan wajah tampan tanpa celah itu.

“Tidak ada. Hanya ingin tahu.” Siwon memberhentikan gerak tangannya. “Karena sekarang aku merasakan perasaan ingin membunuh seseorang.” Wajahnya mendadak berubah menyeramkan, bulu kuduk Kyuhyun bahkan berdiri karena efeknya. Kekasihnya itu sama sekali tak pernah seperti ini dan ini artinya sangat serius.

Dia tidak salah dengar. Ada suara baritone milik Siwon  yang terdengar oleh pendengarannya. Yang lebih anehnya lagi, suara baritone Siwon-nya itu bercampur dengan suara Ayahnya. Sebuah kemajuan yang sangat membahagiakan baginya, mengingat betapa buruknya hubungan Siwon dan Ayahnya.

“Kau yang membunuh orangtua ku, Tuan Cho.” Kyuhyun kini tepat berdiri dibalik pintu. Dia bisa mendengar suara dingin dan melihat wajah menunduh milik Siwon dengan sangat jelas.

“Apa kau mempunyai bukti bahwa aku membunuh kedua orangtuamu?” Nada suara Ayahnya tak kalah dingin. Pandangan mata membunuh milik Siwon kini terarah tepat kearah Ayahnya. Siwon menundukkan kepalanya, pernyataannya hanya sebuah prasangka.

“Kyu, apa kau pernah merasa ingin membunuh seseorang?”

Perkataan Siwon beberapa waktu yang lalu kini kembali terngiang telingannya lebih jelas daripada sebelumnya. Tangannya terkepal erat, kepalanya menggeleng dengan keras. Tidak. Tidak mungkin kekasihnya itu ingin membunuh Ayahnya.

Ban-ban bergerigi berhenti tepat di seberang sungai Han. Beberapa lampu yang kini berderik hidup membuat tempat ini menjadi tempat yang sangat indah, sangat indah bahkan disaat dingin seperti ini. Dia mengangkat tangannya keatas, memberikan sebuah hembusan kehangatan dari mulutnya. Seharusnya dia pulang dahulu dan mengambil mantel miliknya tetapi entah kenapa ketika nama itu muncul di layar smartphonenya, dia mendadak kehilangan semua yang ada di otaknya,Cho Kyuhyun, dia adalah cahaya matahari baginya.

“Apa kau jadi membunuh orang itu, hyung?”

Siwon kaget, suara itu mendadak menjadi dingin, dia menoleh dan mendapatkan Kyuhyun kini tengah berdiri jauh darinya.

Siwon mencoba tersenyum. “Apa maksudmu, Kyu?”

“Orang itu, orang yang kau tuduh sebagai penyebab kematian orangtuamu. Apa kau jadi ingin membunuhnya?” Siwon memandang lurus ke mata bening itu, tatapannya sangat dingin.

“Aku membencinya, Kyu.” Dia menghela napasnya perlahan. “Kau pasti tahu bagaimana perasaanku, bukan?”

“Entahlah.” Kyuhyun mendadak mundur. Kepalanya sengaja dia angkat, tak membiarkan sesuatu benda bening jatuh dari sana. “Apa kau yakin kalau dialah yang membunuh orangtuamu, hyung?”

Siwon tahu Kyuhyun berusaha menjauh dari sehingga dia ikut memajukan langkahnya ketika langkah kaki milik Kyuhyun perlahan mundur.

“Yakin.” Katanya mantap.

“Apa kau punya bukti?” Kyuhyun kembali berjalan mundur ketika Siwon kembali maju mendekatinya.

“Apa aku harus mempunyai bukti?” Wajah keyakinan masih terpasang di wajahnya.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Tidak. Ayahnya tidak mungkin melakukan itu semua. Sebenci apapun Ayahnya kepada Siwon dan hubungan mereka, dia yakin Ayahnya tak akan pernah melakukan hal kotor seperti itu.

“Kau harus mencari bukti jika ingin dipercaya oleh orang, hyung.” Kata-katanya terdengar terbata-bata.

“Tidak.” Dia menghela napasnya, kakinya lalu kembali maju. “Aku tidak butuh pengakuan orang lain, Kyu.” Disana, di mata bening itu ada tatapan pengharapan yang ditujukan khusus untuknya. “Aku hanya butuh kau yang mempercayaiku, Kyu.”

Sekali lagi, Kyuhyun melangkahkan kakinya mundur. “Apa kau percaya padaku?”

Kyuhyun terus mundur hingga tiba-tiba kakinya mendadak tak lagi mendapat pijakan. Sejak tadi ternyata dia berdiri dipinggir sebuah bukit kecil yang mengarah langsung ke sungai dan tak ada yang sadar akan semua itu.

“Akh.”

“Kyuhyun.” Siwon panik. Tubuhnya kekasihnya itu terguling diantara bebatuan kecil, dia berlari secepat mungkin menurunin bukit kecil itu tetapi kakinya masih berhati-hati. Ketika pendengarannya mendengar sebuah bunyi air, Siwon dengan cepat berlari, tanpa memperdulikan dirinya yang beberapa kali jatuh dan batu-batu tajam meninggalkan bekas di celana jeansnya.

“Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

Semua kejadian itu berjalan cepat. Beberapa kali dia jatuh ketika hendak meraih tubuh itu. Tetapi tangannya sama sekali tak bisa menangkap tubuh itu.

Kyuhyun dapat merasakan air kini memenjarakan seluruh tubuhnya. Sebuah bunyi keras benda terjatuh kedalam air juga memenuhi telinganya, setelah itu semua menjadi gelap.

“Akh.”

“Kyu-ah.” Changmin berusaha mendekati Kyuhyun yang mendadak diam dan kehilangan dirinya sendiri. Tangannya terangkat mencoba membangunkan syaraf-syaraf  motorik milik Kyuhyun. Tetapi tangannya hampir menyentuh pundak Kyuhyun, suara kasar itu kembali terdengar.

“Jangan mendekatiku, Changmin-ssi.” Dia mendongak menatap Changmin. Tatapan marah ditujukan langsung untuknya. dia sangat marah sekarang dan jika seseorang menyentuhnya, dia ingin melampiskan semua, melampiaskan semua yang telah terjadi padanya.

“Dari dulu kau selalu bersekongkol dengan Ayahku untuk memisahkanku dan Siwon hyung, bukan?” Kyuhyun sama sekali tak bisa menahan ini semua. Kepalanya bisa pecah jika memendam lagi ini semua. “Kau sama sekali tak pernah sekalipun berada di sisiku.”

“Aku mencintaimu, Kyu.”

“Aku tidak mencintaimu.” Teriak Kyuhyun dengan keras, napasnya berjalan tak beraturan akibat semua itu.

Getaran pelan milik ponselnya memecah semua keheningan yang terjadi diantara mereka. Sebuah pesan yang berhasil mengejutkannya.

‘Bisa kita bertemu. Bukankah aku berjanji akan menyebutkan namaku? Oh iya jangan lupa bawa penguin kecil itu’

Apa Siwon masih kehilangan ingatannya? Kyuhyun melangkahkan kakinya dengan cepat. Ini adalah kesempatannya.

Kyuhyun memberhentikan kakinya. Dia mengedarkan pandangannya, mencari sosok tinggi itu diantara keremangan cahaya. Ketika mata itu kini bertemu dengannya, dia dengan cepat menghampiri namja itu, namja yang kini tengah berdiri tepat didepan mobil berwarna putih. Dia menoleh ketika Kyuhyun tiba di sampingnya, dia seperti mengetahui bahwa Kyuhyun telah berada didekatnya.

Senyum terumbar di wajahnya. Senyum tak pernah dia lihat setahun ini, dia baru saja betapa merindunya akan senyum itu. Tubuh kekar itu perlahan mendekatinya, tangannya dengan perlahan menarik tubuhnya kedalam pelukan hangat yang dirindukannya.

“Aku rindu denganmu. Padahal kita baru bertemu dua jam yang lalu tetapi rasanya seperti setahu lamanya.” Dia berbisik perlahan ditelinganya.

Mungkin ingatannya memang belum kembali. Ini memang telah setahun lamanya. Kyuhyun menyamankan tubuhnya dan membalas pelukan hangat itu.

“Nado.”

“Rasanya aku ingin mati karena merindukanmu. Akh.” Kyuhyun memukul perlahan pundak itu.

“Apa kita akan berakhir seperti Romeo dan Juliet?”

“Apa kau menginginkan kita berakhir seperti mereka?”

“Apa kau mendengar kabar dari Siwon dan Kyuhyun?” Kepala itu menggeleng dengan malas, entah berapa kali dia harus menjawab pertanyaannya yang sama setiap kalinya. Namja didepannya ini sama sekali tak mempercayainya.

“Sudah kubilang, bukan? Jikapun aku mendapatkan kabar dari mereka berdua, aku sama sekali tak akan memberitahukanmu.” Serunya dengan nada bosan yang sangat kentara.

“Apa kau yakin mereka masih hidup?” Changmin kini merubah pertanyaannya, berusaha mendapatkan semua informasi dari namja didepannya itu.

Jongwoon memajukan tubuhnya, memutuskan jarak antara mereka berdua, seolah tak ingin satupun orang yang berada di kafe itu mendengar semua perkataannya.

“Selama polisi belum menemukan mayat mereka, berarti mereka masih hidup.” Jongwoon tersenyum perlahan ketika mengatakan itu semua. Dia menegakkan tubuhnya lalu bergerak berjalan meninggalkan Changmin yang terlihat sangat frustasi.

Jongwoon baru saja tiba didepan rumahnya ketika seorang kurir datang. Namja itu membawa sebuah buket bunga dan sebuah kotak kado. Setelah memberikan tanda tangannya, tangan mungil itu dengan cepat mengambil sebuah surat yang tepat berada diatas bunga.

Hyung selamat ulang tahun. J. Aku mencintaimu.’

“Kau masih hidup, eoh.” Gumamnya, dia mendongak menatap gugus bintang langit yang bersinar terang menjadikannya lampu-lampu yang menerangi malam itu.

….

“Ingatanmu sudah kembali. Apa yang akan kau lakukan?” Jongwoon memandang lekat kepada adiknya itu yang seperti baru bangkit dari kematian selama satu tahun ini

“Apa yang harus kulakukan?” Dia menegakkan tubuhnya, kini tatapan tajam itu diarahkan tepat kearah kakaknya itu. “Aku akan kembali ke samping orang yang memang ditakdirkan untukku, hyung?”

“Bagaimana dengan balas dendam itu?” Siwon tersenyum perlahan.

“Bagaimana yah?” Dia mengangkat tangannya, membersihkan beberapa debu yang menempel pada bajunya. “Ahh, mendadak aku kembali kehilangan ingatanku, hyung.” Dia kembali tersenyum, senyum yang bahkan membuat Jongwoon terdiam seribu kata.

“Kau tak akan menghambatku, hyung.” Siwon kembali mengerakkan tangannya, mengambil ponsel miliknya.

“Apa aku harus mem-brogol tanganmu dan memasukkanmu kedalam sumur tua yang tak ada lagi airnya?” Siwon tersenyum sambi masih menggerakan jari-jarinya diatas keyboard ponselnya. “Atau aku harus mengirimmu ke kutub selatan.”

“Ide itu aku lebih suka, hyung. Tetapi bisakah kau kirimkan juga Kyuhyun bersamaku?” Siwon kembali memasang senyum, dia memasukkan ponsel kembali kedalam kantongnya.

“Baiklah. Kau temui saja dia sekarang.” Jongwoon berjalan mendekati Siwon, menepuk pundak adiknya itu perlahan. “Tetapi kau harus tetapi ingat dengan ulang tahunku dan mengirimiku buket bunga serta hadiah, kau mengerti?”

Siwon mengangguk perlahan sebelum akhirnya menarik kakaknya itu kedalam pelukan perpisahan.

The End.

….

.

.

From Admin

Dukung FF ini untuk jadi pemenang dengan cara:

  1. Share FF ini ke FB melalui kolom Share.
  2. Screenshot_2016-03-29-18-58-12-1
  3. Berikan Komentar untuk FF ini.
  • 1 username 1 komentar
  • Komentar dengan kata dibawah 20 tidak dihitung. Jadilah reader yang aktif. Jangan hanya semangat komentar jika ada war. #eh *bercanda ajah nih*
  • Penilaian oleh reader dilakukan sampai tgl 8 April jam 10 Malam atau setelah Min ssii memberikan komentar di postingan tersebut. Artinya koment yang masuk setelah komentar Min ssii tidak akan dihitung.
  1. Vote FF favorite kalian pada kolom di bawah ini.

VOTE

 

Sekian dan terima kasih.

 

Selamat berlomba untuk semua author dan selamat menikmati sekaligus memberikan nilai untuk semua reader WonKyuCorp.

 

Semangat!!!!!

Advertisements

13 thoughts on “[FF Kontes] Romeo dan Juliet

  1. Ceritanya bagus nih tp gantung yah? Siwon jd balas dendam apa ga? Trs apa cho dan changmin jahat apa ga?
    WAh bikin penasaran…

  2. disini banyak sekali yg blm jelas, yg dituduhkan siwon thdp appa kyuhyun bener nggak??
    alasan apa yg membuat tuduhan siwon mengarah thdp appa kyuhyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s