Posted in BL, FF Kontes, Genre, Oneshoot, Romance, WonKyu Story

[FF Kontes] Reset

WKCAnnive - Reset

RESET

By: Agasshii

 

Main cast: Our beloved Siwon & Kyuhyun

BL

~~~***~~~

Semuanya terasa asing dimatanya. Ruangan bercat pastel, rumah ini, ranjang itu, dan pria yang ada diluar sana. Matanya terpejam, berusaha menyelami setiap sudut diotaknya, membuka setiap lacinya. Mencari sekeping ingatan tentang semuanya. Tapi tak satupun yang ia dapatkan. Seolah ia baru saja transplatasi otak, terlahir kembali. Blank. Seperti selembar kertas putih bersih. Tapi nyatanya dia sudah hidup selama 28 tahun.

Perlahan kakinya menapaki lantai marmer yang dingin, mendekati ranjang dengan sprei warna biru. Jemarinya mengelus salah satu bantal. Matanya menelusuri kamar yang dindingnya sangat polos. Tak ada pajangan ataupun foto disudut manapun.

Benarkah ia sudah tinggal disini selama lima tahun kebelakang? Kenapa tidak ada rasa apapun yang tertinggal dihatinya?

Kepalanya menoleh mendengar pintu kamar yang terbuka. Pria yang selama dua minggu menemaninya muncul dari balik pintu.

“Siwon hyung, makanan sudah siap. Atau kau mau istirahat dulu?”

Siwon mengerjapkan matanya. Ia masih merasa canggung walaupun Kyuhyun selalu disisinya. Otaknya selalu berputar, menanyakan kebenaran. “Makan dulu saja.”

Siwon dibawa kedapur yang minimalis dengan penataan sederhana namun terlihat elegan. Disana ia menemukan satu foto tergantung, dirinya dan Kyuhyun yang dipeluknya dari belakang. Satu-satunya foto yang ada.

“Itu foto ketika kita di Busan. Acara pertemuan keluarga.” Ucap Kyuhyun menjelaskan. Ia lalu menaruh piring kehadapan Siwon.

Mata Siwon menyipit untuk melihat lebih jelas tulisan yang ada disudut kiri. Diambil dua tahun lalu. Dengan latar di sebuah pantai ketika warna langit berubah menjadi oranye dan matahari sebagian telah tenggelam. Sangat indah.

“Tidak perlu memaksakan diri jika kau tak mengingatnya.” Ujar Kyuhyun ketika melihat dahi Siwon mengerut.

Siwon mengalihkan fokusnya, melihat pria dihadapannya yang mulai menyumpit beberapa makanan. “Maaf.”

“Jangan meminta maaf. Kaupun pasti tidak menginginkan untuk hilang ingatan. Tidak dari kita semua menginginkannya.”

Siwon memperhatikan pria yang mempunyai mata boneka itu. Gurat-gurat lelah terlihat jelas menghiasi wajahnya, tidak berkurang sedikitpun sejak ia melihat sosoknya. Hidungnya yang bangir, bibir yang penuh dan tebal dengan warna merah alami. Dia tampan tapi kecantikannya tak mampu ditutupi. Jari-jarinya kurus dan panjang. Salah satunya terselip cincin emas putih yang juga menghiasi jarinya. Cincin yang dibaliknya terukir nama mereka berdua. Mereka telah bertunangan, begitu yang dikatakan semua orang disekelilingnya.

.
.
.

Kyuhyun menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya. Mencegah agar lengannya tidak lancang melingkar kepinggang pria dihadapannya. Dia hanya bisa memandang punggung kokoh itu. Lengan yang biasa merengkuhnya itu terlipat dibawah kepala. Mereka hanya berjarak satu lengan. Tapi Kyuhyun merasakan Siwon begitu jauh darinya. Tak terjangkau.

Tak ada ucapan selamat malam untuknya. Siwon tak pernah melupakan hal itu sekalipun dirinya tak pernah peduli ataupun telah terlelap. Tak ada kecupan didahi yang tanpa disadarinya itu merupakan cara Siwon agar membuatnya tenang ketika tidur. Istirahat dalam ketenangan.

Kyuhyun membalikkan badannya dengan menutup mulutnya. Mencegah isakan lolos dari mulutnya. Ini buah dari biji yang ia tanam. Ini karma untuknya. Hukuman yang harus diterimanya.

Siwon adalah pria yang baik. Selalu memberikannya perhatian. Memastikan jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Saat dirinya berubah menjadi monsterpun Siwon masih mendampinginya. Tapi Siwon hanyalah manusia biasa yang punya batas.

“Maaf. Maafkan aku. Maafkan aku Siwonnie.” Ucap Kyuhyun pelan ditengah isakannya.

.
.
.

Siwon hanya bisa termenung menatap layar komputernya. Otaknya benar-benar seperti terprogram ulang. Dia tidak bisa mengerjakan laporan yang tersaji dihadapannya. Dia tidak mengerti apapun soal huruf dan angka yang tercetak disana.

Kyuhyun meletakkan tangannya dipundak tunangannya, membuat Siwon menoleh. “Aku bisa membantumu.” Ucap Kyuhyun sambil tersenyum tipis. Ia lalu duduk setelah mendapat anggukan.

“Apa-” Siwon berhenti sebentar, memastikan bahwa Kyuhyun tidak akan terganggu. Pria disampingnya hanya bergumam. “Apa kafe ini benar-benar milikku?”

“Ya. Kita yang mendirikannya.”

Kyuhyun mengingat kembali kemasa tiga tahun silam.

Siwon membuka pintu apartemen dengan kasar,  memanggilnya dengan berteriak kencang dan ia balas dengan omelan. Tapi itu tidak menyurutkan semangat sang kekasih. Siwon menubruk punggungnya, melingkarkan lengan kepinggang Kyuhyun yang sedang menyetrika.

 

Kyuhyun mematikan setrika sebelum Siwon membalik badannya. Senyum lebar terpasang seraya meletakkan tangan dibahunya. “Ayo kita buka kafe!”

 

Kyuhyun memicingkan mata. “Jangan gila. Siapa yang akan mengurusnya? Kita berdua sama-sama sibuk.” Kyuhyun ingin berbalik badan tapi dicegah oleh Siwon.

 

“Kau bisa saat kau selesai dengan deadline. Aku akan membagi waktu. Atau mungkin keluar dari perusahaan.”

 

“Kau benar-benar sudah tidak waras. Kau pikir ayahmu mengijinkanmu?”

 

“Jiwon akan bergabung dengan perusahaan. Dan aku memulai bisnisku sendiri. Aku sudah mendapat persetujuan dari appa.”

 

Kyuhyun menoleh kesamping, menghindari mata yang memancarkan permohonan dan antusias. Jiwon, adik Siwon memang sangat tertarik dengan dunia bisnis. Terlebih dengan perusahaan turun temurun dari keluarga Choi. Dan Jiwon selama ini sudah berusaha keras untuk membuktikan bahwa seorang wanita juga mampu memimpin perusahaan. Lagipula Siwon sendiri tidak masalah jika tidak mendapat jabatan itu.

 

Kyuhyun menatap Siwon kembali, sinar pengharapan itu masih disana. “Kenapa kau tiba-tiba mengusulkan ini?”

 

Siwon tersenyum. “Karena aku suka kopi. Aku juga bisa belajar membuatnya sendiri.” Ia terkekeh.

 

“Tapi aku benci kopi.” Kyuhyun berjalan pergi tapi Siwon menahan tangannya.

 

“Baby, nanti kita juga menyajikan bermacam cake. Kau sangat suka itu, kan?” Siwon menaikkan alisnya.

 

Kyuhyun mulai mengomel panjang. Tentang betapa tidak sehatnya kopi bagi tubuh, dampaknya, kadar kafeinnya dan lain-lain. Siwon dengan setia mengekori si cantik kemanapun ia melangkah tanpa mengatakan apapun. Telinganya sudah tebal mendengar ceramah semacam itu disetiap pagi hari. Tapi Kyuhyun tetap menyiapkan secangkir kopi panas untuknya walaupun disertai dengan gerutuan atau bantingan pelan hingga membuat kopinya sedikit tumpah ke meja.

 

Kyuhyun menggenggam erat botol air ditangannya. Ia menghela nafas, tahu jika pada akhirnya dirinya akan mengalah pada Siwon untuk apapun itu, kemudian mengangguk. Dia sangat tahu sedari dulu jika mereka singgah di kafe Siwon akan mulai membicarakan rancangan bisnisnya itu. Memimpikan menghirup aroma kopi selama bekerja sepanjang hari akan sangat menyenangkan. Membicarakan tentang konsep yang akan diusungnya dan sebagainya.

 

Siwon memberikan pelukan erat, merengkuhnya hingga kakinya sedikit terangkat dari lantai. Ucapan terima kasih terus mengalir dari bibirnya disertai kecupan dipelipis.

 

Lalu beberapa bulan setelah pembicaraan itu, Twosome resmi dibuka. Membuahkan senyum penuh harapan dan puas dibibir Siwon.

 

“Kau seorang penulis novel?”

Pertanyaan Siwon membuyarkan lamunan Kyuhyun dan sekaligus menyadarkan jika pekerjaan dihadapannya minta untuk segera diselesaikan.

“Ya.” Jawab Kyuhyun dengan setengah hati. Pekerjaan yang dulu sangat dicintainya tapi kini sangat dibencinya. Pekerjaan dimana semua bencana ini bermula.

Nada enggan itu tidak luput dari telinga Siwon dan membuatnya bertanya-tanya. Ruangan kerja ini terdapat satu rak berisi novel karya Kyuhyun yang semuanya menjadi best seller. Ia sempat mencari tahu di internet. Bukankah itu suatu yang membanggakan? Jumlahnyapun tidak sedikit. Ia sendiri sudah membacanya beberapa ketika merasa bosan dan tidak tahu harus apa didalam rumah. Novelnya sangat bagus malah. Kyuhyun membuat bermacam genre, tidak seperti penulis lain yang biasanya berpusat di satu genre.

Tapi kenapa Kyuhyun terlihat sangat tidak suka? Jika dia memang tidak suka, harusnya novel yang ia buat hanya sedikit.

“Istirahatlah dulu. Biar ini aku yang tangani. Kau tidak boleh terlalu lama didepan komputer.”

Siwon memandang Kyuhyun dengan dalam. Kyuhyun sangat lembut dan perhatian. Terlihat sangat mencintainya. Jadi, kenapa dirinya tidak juga menemukan rasa familiar itu dalam diri Kyuhyun? Ibunya bilang bahwa dirinya begitu mencintai Kyuhyun. Tapi kenapa kekosongan yang ia temukan? Apa yang salah?

Ucapan maaf Kyuhyun malam itu terngiang-ngiang dalam benaknya. Kenapa pria itu minta maaf padanya? Memang apa yang telah ia perbuat? Semua pertanyaan yang memenuhi otaknya membuatnya frustasi.

Luka, sakit, kesedihan dan rasa bersalah selalu terpancar dari mata Kyuhyun. Terkadang ada air mata yang mengumpul. Karena itu dia tidak bisa bertanya pada Kyuhyun. Takut jika malah menambah luka.

Ataukah sebenarnya dirinya yang telah menyakiti pria itu? Tapi apa? Jika begitu harusnya dia yang memohon maaf. Melupakan semua tentang mereka dan seolah-olah lari dari kesalahan yang telah dia perbuat dengan mengkambing hitamkan amnesianya.

Ya. Pasti dirinya yang membuat salah. Karena dia seorang pecundang, dia memilih menghapus semua tentang Kyuhyun dan membuat pria manis itu yang menanggung rasa sakit. Ya, pasti begitu. Tidak mungkin seseorang seperti Kyuhyun tega menyakiti hati orang lain.

Siwon menarik nafas dalam. Tuhan memberikan kesempatan padanya, memberikan hidup kedua untuknya agar bisa membenahi kekacauan yang telah ia buat; yang mirisnya tidak ia ingat. Begitu juga dengan Kyuhyun. Pria itu masih mau menerima kembali dirinya yang begitu jahat. Mencintainya. Sudah sepatutnya ia membalas Kyuhyun. Mencintainya sepenuh hati.

Siwon melirik bagian atas rak buku. Terlihat kertas yang menyembul. Pernikahannya satu bulan lagi. Dia punya waktu yang cukup banyak untuk menumbuhkan rasa cinta lagi pada Kyuhyun. Dia tidak ingin Kyuhyun bersedih lagi. Dia tidak mau menambah luka lagi dengan pembatalan pernikahan. Cukup sampai disini saja.

“Buat aku jatuh cinta padamu lagi.”

Jemari Kyuhyun diatas keyboard berubah kaku. Giginya menggigit pipi bagian dalamnya. Ucapan Siwon menusuk hatinya. Apa itu artinya dihati Siwon sudah tidak ada cinta untuknya?

Mata Kyuhyun terpejam, lebih untuk mencegah air matanya meluncur. Siwon yang amnesia merupakan anugerah sekaligus bencana untuknya. Hal yang patut disyukuri karena dirinya bisa memulai kisah mereka lagi. Ia bisa mengubur kenangan pahit diantara mereka dalam-dalam. Dan ia bisa mendapatkan Siwon kembali.

Hal yang paling ia takutkan adalah, bagaimana jika Siwon tidak bisa lagi mencintainya? Cintanya sudah berubah? Kyuhyun tidak sanggup melihat Siwon bersama orang lain.

Kyuhyun menoleh. Menatap pria tampan disampingnya yang menunggu respon darinya. Lalu air matanya meluncur melihat mata itu. Tidak. Siwon tidak membuat kesalahan apapun. Berhenti memberi tatapan minta maaf.

Kyuhyun menarik nafas panjang sembari mengusap pipinya. Siwon mengharapkan mereka kembali bersama seperti dulu. Pria itu masih menginginkannya. Dan itu lebih dari cukup untuk Kyuhyun.

Bibirnya melengkung keatas. “Aku akan mengambil hatimu dengan cepat.”

Itu sumpah Kyuhyun. Ia tidak akan membuang kesempatan sekecil apapun itu.

.
.
.

Kyuhyun mengerjapkan mata, menguap sembari merentangkan tangan untuk merenggangkan badan. “Rasanya masih mengantuk.” Gumamnya.

“Kalau begitu tidurlah lagi.”

Kepala Kyuhyun menoleh cepat. Tangannya dengan segera meraba disekitar mulut, membersihkan sesuatu yang mungkin saja menempel menjijikkan disana. Otaknya mengingat-ingat apa dirinya melakukan sesuatu yang memalukan sewaktu tidur. Tapi tentu saja ia tidak tahu.

“Sejak kapan?”

“Entah. Aku hanya ingat saat membuka mata ada kau. Dan… yeah… aku tak bisa memejamkan mata lagi.”

Alis Siwon terangkat, merasa penasaran dengan apa yang digumamkan Kyuhyun tanpa suara. Pria manis itu kemudian berbaring miring, entah melakukan apa. Tapi ia mendengar gumaman kata bodoh berkali-kali. “Ada apa?” Siwon menyentuh pundak Kyuhyun.

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

“Apa aku tidak pernah seperti itu? Apa itu menakutimu?”

Kyuhyun cepat-cepat berbalik. Tidak ingin membuat Siwon salah paham. “Tidak. Kau memang selalu begitu. Apa aku yang mengganggu tidurmu?”

Kyuhyun bertanya demikian karena jika saat merasa sangat lelah ia akan mengeluarkan suara yang sangat mengganggu. Mungkin jika didepannya bukan Siwon yang baru, ia tidak akan masalah. Ia hanya merasa kalau dirinya harus menunjukkan hal yang baik-baik didepannya. Sekarang ini mereka seperti dua orang asing yang baru dipertemukan.

“Tidak kok.”

Tangan Siwon terjulur begitu saja untuk menyentuh pipi kemerahan Kyuhyun. Mengelusnya, merasakan tekstur lembut dijemarinya. “Apa aku juga melakukan hal itu?”

“Apa?”

“Morning kiss.”

Tanpa bisa dicegah, pipi Kyuhyun semakin memerah. Ia tidak tahu kapan terakhir kali ia merasa tersipu malu. Morning kiss adalah cara Siwon membangunkannya dari tidur. Dulu, jika manjanya kambuh, satu kecupan saja tidak cukup baginya.

Mata Kyuhyun membesar kala bibir Siwon menyapa bibirnya. “Good morning.” Sapa Siwon sambil tersenyum.

Perlahan Kyuhyun ikut tersenyum. “Good morning.” Pagi yang indah sejak dua bulan terakhir.

.
.
.

“Oh boss! Senang melihatmu sehat kembali!”

Siwon hanya tersenyum menanggapi pria yang menepuk bahunya sambil tersenyum lebar. Didadanya terpasang name tag Eunhyuk. Semua pegawai kafenya lalu menyapanya bergantian. Ada 8 orang, semuanya pria. Entah apa yang dipikirkannya dulu. Bukankah merekrut pegawai wanita sebagai waiter lebih menguntungkan? Kopi identik dengan pria.

“Kau harus tahu tentang ini.” Eunhyuk mendekatkan bibir ke telinga Siwon dengan tangan yang menutupinya. “Lee Donghae tidak berhenti menangis selama tiga hari.” Eunhyuk lalu tertawa terbahak-bahak.

Siwon melirik kearah pria dibalik meja kasir yang ditunjuk Eunhyuk. Donghae membuang mukanya kesamping. Mungkin tahu apa yang dibisikkan temannya itu padanya dan merasa malu.

“Mmm Eunhyuk~ssi-“

“Hei apa-apaan itu? Kau selalu memanggilku Hyuk.”

“Maaf, aku-“

“Ya. Ya. Aku mengerti kondisimu.” Tangan Eunhyuk kembali menepuk pundak Siwon, menunjukkan rasa simpatinya. “Jadi, ada apa Siwon?”

Eunhyuk mengusap dagunya. “Aku tidak tahu soal itu. Kita memang teman tapi kau bukan tipe orang yang terbuka tentang masalah pribadi.”

“Berapa lama kita kenal?”

Dahi Eunhyuk mengerut. “Sekitar tiga tahun lalu mungkin?” Ujarnya tidak yakin.

Tiga tahun. Tepat pembukaan kafe. Tidak lebih lama daripada ia mengenal Kyuhyun. Tapi kenapa? Bahkan dengan Eunhyuk saja ia merasa pernah kenal sebelumnya. Tapi tidak dengan Kyuhyun. Sebenarnya apa yang terjadi? Hanya Kyuhyun yang sangat asing bagi dirinya. Padahal pria itu orang terdekatnya.

Ingin rasanya Siwon menggebrak meja didepannya. Ia memang memutuskan untuk memulai semuanya dari awal dengan Kyuhyun. Tapi hatinya seolah berteriak menyuruhnya untuk memunguti kepingan masa lalunya.

Siwon memejamkan mata. Hanya Kyuhyun satu-satunya orang yang tahu, ia pikir. Jika kemudian ia tahu penyebabnya, apa keadaan akan lebih baik?

Siwon menatap Kyuhyun dari balik pintu kaca. Pria itu terlihat sedang mengomeli Donghae entah karena apa. Bukannya takut, Donghae malah terlihat terhibur dengan ekspresi wajah Kyuhyun yang terlihat jauh dari kata garang. Dan Siwon menyetujui hal itu. Kyuhyun malah sangat lucu. Tanpa sadar tawa kecil keluar dari bibirnya.

“Apa dia selalu seperti itu?”

“Apa? Pemarah? Ya memang.” Eunhyuk menanggapi pertanyaan pelan Siwon. Ia lalu seperti kebiasaannya dulu, mengeluh tentang sikap Kyuhyun yang seenaknya menyuruh ini itu tanpa kenal waktu.

Kyuhyun perlahan berubah. Sekarang ia banyak tersenyum dan riang. Tidak memandang Siwon dengan tatapan sendu lagi. Tidak merasa ragu ataupun takut untuk berinteraksi dengannya. Mereka perlahan mengakrabkan diri layaknya teman yang baru kenal. Lebih tepatnya Siwon yang bertanya banyak tentang pria manis itu. Mencoba memahaminya seperti Kyuhyun yang memahami dirinya dengan baik.

Siwon memberi sugesti dikepalanya untuk berhenti memikirkan apa yang terjadi sebelum ia amnesia. Jika kejadian lalu merupakan hal buruk, Siwon yakin, Kyuhyun akan mencegah hal serupa akan terjadi lagi. Dan kehidupan mereka akan lebih baik.

“Apa amnesiamu itu permanen?”

“Ya. Begitu kata dokter. Aku seperti bayi yang baru lahir. Tidak tahu apa-apa.”

“Tapi tidak ada bayi yang langsung bisa berjalan dan dewasa seperti kau.” Eunhyuk tertawa terbahak sembari menepuk-nepuk pahanya. Tak menghiraukan tatapan aneh dari Siwon.

.
.
.

“Jadi kau yang memasak? Kupikir ada seseorang yang membantu.”

Siwon memberi kecupan pagi hari dipipi Kyuhyun dari belakang. Mereka mulai berani melakukan sesuatu yang lebih intim, walaupun tak lebih dari sekedar kecupan. Siwon sadar, sebentar lagi mereka menikah. Tidak seharusnya rasa canggung itu ada. Siwonpun tahu mungkin Kyuhyun tidak akan keberatan memberinya waktu, tapi Siwon yang tidak mau membuat pria itu menunggu.

“Kenapa? Tidak enak?”

“Bukan begitu. Hanya tidak menyangka saja.”

Kyuhyun tersenyum, mengingat lagi bagaimana dirinya mulai belajar memasak. Menyadari bahwa nantinya dirinyalah yang akan mengerjakan pekerjaan rumah. Makanan pertama yang ia buat berubah menjadi lahan garam, dan malangnya Siwonlah yang mencicipinya. Kabar bagusnya, sekarang masakannya sudah lebih baik.

“Apa kau ada pekerjaan hari ini?” Kyuhyun mematikan kompor, mengangkat pancinya lalu meletakkannya diatas meja.

Siwon berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepala. “Memang kenapa? Kau ada rencana?” Siwon mengambil peralatan makan mereka dari kabinet.

“Ya jika kau tidak keberatan.” Kyuhyun menerima piring yang diulurkan kepadanya.

“Apapun itu semuanya akan serasa disurga jika bersamamu.” Siwon mengedipkan salah satu matanya.

Kyuhyun tertawa sambil menggelengkan kepala. “Aku tidak ingat jika kau se-cheesy ini.”

“Apa itu sesuatu yang buruk?”

“Tidak juga. Sering-seringlah seperti itu. Aku orang yang gila pujian, kau tahu.”

Siwon melipat tangannya diatas meja. Memandangi sosok Kyuhyun lekat-lekat, membuat pria didepannya sedikit salah tingkah.

“Kenapa?”

Siwon beralih menopang dagu dengan satu tangan. “Kau cantik. Bahkan ketika kau bangun tidur. Keadaan yang menurut semua orang adalah saat-saat terburuk.”

Kyuhyun menurunkan sendok yang berada didepan mulutnya. “Semua pria berkata seperti itu kepada pasangannya.” Ia kemudian melanjutkan acara makannya.

“Tapi aku serius.”

“Semua pria juga begitu.”

Siwon meloloskan tawa tidak percaya. “Kau gila pujian. Tapi mendapatkanmu tidak mudah ternyata.”

“I already fall into you. What else do you need Mr. Choi?”

“Your confession.”

Sekali lagi Kyuhyun menghentikan kegiatannya. Memandang Siwon yang menunggu sembari memasang senyum. Saling menyatakan cinta adalah sesuatu yang wajib bagi mereka. Tidak pernah bosan walaupun mendengarnya setiap hari. Bahkan mereka malah merasa semakin terikat.

Kyuhyun mendongak, berhenti memandangi sendok yang ia mainkan diatas piring. Semenjak Siwon amnesia ia memang hanya diam. Bukannya ia tidak mau, hanya saja ia tidak ingin membebani Siwon dengan perasaannya. Karena ia sangat sadar, Siwon tidak lagi -belum- mencintainya.

Tapi kali ini Siwon sendiri yang memintanya. Ia tidak harus menahannya lagi. Lagipula, mungkin, setelah itu secara ajaib ada rasa cinta yang tumbuh dihati Siwon untuknya.

“I love you.”

“Glad to hear that.” Siwon tersenyum lalu mulai menyentuh sarapannya. Melewatkan satu senyum sendu milik Kyuhyun. Mati-matian Kyuhyun menahan agar tidak menangis.

“Ngomong-ngomong, apa itu tadi ajakan kencan?”

Kyuhyun mengerjapkan mata, menghapus pikiran negatif yang sempat melintas diotaknya. “Anggap saja begitu.”

“Sebenarnya mau kemana?” Pertanyaan Siwon hanya dijawab dengan senyum tipis milik si pria manis.

.
.
.

Pasangan itu menunggangi kuda masing-masing dengan berisisian sembari mengobrol ringan. Menikmati pemandangan alam yang disajikan disekitar mereka. Berkencan dengan berkuda, terdengar romantis bila hanya ada satu kuda saja.

Siwon menghampiri Kyuhyun, membantu mengikat tali kekang kuda jantan berwarna putih yang tadi ditunggangi Kyuhyun.

“Aku tidak tahu jika kau benar-benar bisa berkuda.” Ujar Siwon.

“Aku chaebol jika kau tidak tahu.”

“Tapi jika dilihat kau ini bukan tipe orang yang suka beraktifitas diluar.”

“Memang, aku tidak suka kepanasan. Tapi aku suka dengan ini.” Kyuhyun mengangkat bahu.

Siwon menyodorkan wortel tapi ditolak dengan gelengan oleh Kyuhyun. “Aku tidak mau.” Siwon menaikkan alis, tanda meminta penjelasan lebih. “Jangan tertawa. Tapi aku takut kena gigit.”

Larangan Kyuhyun tidak diindahkan Siwon karena pria itu tertawa geli. Kyuhyun memukul pundaknya dengan kesal. “Kau tidak akan tergigit jika tanganmu tidak ikut kau masukkan.”

Siwon memberi makan kuda itu, sekedar memberi contoh pada Kyuhyun. Pria manis itu akhirnya mau menerima satu wortel dan dengan ragu menyodorkan kepada si kuda. Kyuhyun memekik dan menarik tangannya dengan cepat saat si kuda mulai membuka mulut, menyebabkan wortel yang belum sempat tergigit itu jatuh ketanah.

“Sudahlah. Aku benar-benar tidak mau.” Kyuhyun beranjak pergi. Oh ayolah, gigi kuda itu besar-besar. Sangat mengerikan baginya.

Siwon menyusul Kyuhyun beberapa menit kemudian. Duduk disampingnya yang berada dibawah satu-satunya pohon besar disana.

“Apa kita sering berkuda?” Tanya Siwon memulai obrolan.

“Sudah tidak lagi sejak setahun terakhir.” Kyuhyun tersenyum pahit. Kesibukannyalah yang menyebabkan mereka tidak bisa lagi berkencan. Ia sering menolak ajakan Siwon dengan alasan deadline.

Siwon hanya mengangguk, tidak ingin bertanya lebih lanjut. Berpikir bahwa pembicaraan ini tidak akan berlangsung dengan baik.

“Disini tempat kita pertama kali bertemu jika kau ingin tahu.” Kyuhyun menerawang jauh ke masa lalu.

“Apa kita langsung jatuh cinta satu sama lain?”

“Tidak tahu denganmu. Tapi jujur, aku merasa tertarik padamu.” Detik itu, detik saat melihat Siwon dengan gagah menunggangi kudanya, ia lupa bahwa ia sedang melakukan kencan bersama kekasihnya.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?”

“Karena kau tampan dan seksi?” Kyuhyun terkekeh mendengar jawabannya sendiri. Kepalanya kemudian menggeleng. “Terlalu banyak yang aku suka darimu hingga aku tidak tahu mana yang membuatku mencintaimu.”

“Lalu apa yang dulu membuatku jatuh cinta padamu?”

“Percaya atau tidak, selama lima tahun bersama kita tidak pernah membicarakan tentang ini.”

“Kemungkinan yang kupikirkan. Jantungku berdetak kencang hanya untukmu.”

“Cheesy.”

Siwon mendecak, “kau selalu saja mengataiku seperti itu.”

“Karena kau memang begitu.”

Siwon memejamkan mata. Memutar kembali kejadian pagi tadi saat Kyuhyun menyatakan cinta padanya. Tangannya menyentuh dadanya disebelah kiri. Dirasakannya ada sesuatu yang asing disana. Bagaimana ini?

“Mungkin ini memang takdir. Berapa kalipun aku tidak mengingatmu, akhirnya pasti akan tetap sama.”

Kyuhyun menoleh dengan kening berkerut. Bingung dengan perkataan Siwon. Dia ingin bertanya tapi ada rasa takut yang menggelayuti.

“Sudah sore. Ayo pulang.” Siwon berdiri menepuk celananya. Ia lalu mengulurkan tangan yang langsung disambut Kyuhyun.

Kyuhyun memperhatikan wajah Siwon dari samping. Apa maksudnya tadi? Akan tetap sama? Apa Siwon sudah jatuh cinta padanya? Atau malah rasa itu sudah benar-benar lenyap? Kyuhyun tersenyum kecut. Apa harapannya terlalu besar?

“Baby.” Siwon bergumam.

“Apa?” Tanya Kyuhyun memastikan.

Siwon menoleh dan mengeratkan genggaman tangan mereka. “Kurasa panggilan baby cocok untukmu.” Ia memberikan seulas senyum.

Kyuhyun terdiam beberapa saat sebelum memutuskan untuk ikut tersenyum. “Aku suka itu.”

Dada Kyuhyun membuncah, dibanjiri rasa bahagia. Siwon tidak sepenuhnya melupakannya.

.
.
.

Siwon bersiul sembari menekan kode pintu apartemen lalu mendorongnya masuk. Ia melepas sepatunya tanpa mau repot menaruhnya di rak. Alisnya menyatu menemukan sepasang sepatu asing. Adakah tamu yang berkunjung?

Siwon mengurungkan niat melangkahkan kakinya masuk saat mendengar teriakan Kyuhyun dari dalam. Bukan teriakan ketakutan, tapi kemarahan. Dua orang pria beradu argumen, ia tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

“Ini urusanku Shim Changmin. Pergi! Urusi masalahmu sendiri.” Tangan Kyuhyun terulur menunjuk pintu apartemen.

Changmin berkacak pinggang lalu menghela nafas lelah. Kembali memandang Kyuhyun yang masih terselimuti amarah. Ia ingin berkata tapi tertahan oleh suara deheman diambang pintu.

“Maaf, tapi bisakah kalian berbicara baik-baik?”

“Oh Siwon hyung, kau sudah pulang?” Kyuhyun menghampiri Siwon, mengambil alih bungkusan dari tangan Siwon. “Apa ini jjajangmyeon dari kedai langganan yang kuminta?”

“Aku bisa keluar jika-“

“Tidak. Tidak. Changmin baru akan pulang. Aku akan mengantarnya sebentar kedepan. Hyung langsung saja ke meja makan, makanan sudah siap.” Ucap Kyuhyun cepat-cepat.

Kyuhyun meletakkan bungkusannya ke meja lalu menarik paksa tangan pria yang disebut Changmin. Pria jangkung itu terlihat tidak terima tapi tidak berkata apapun, dan wajahnya tetap kaku.

Kyuhyun menghempas kasar tangan Changmin setelah mereka sampai di tempat parkir apartemen. “Kumohon, berhentilah ikut campur.”

“Kenapa kau mengusirku? Kau tidak ingin Siwon mengetahuinya?”

Kyuhyun memejamkan mata dan menghirup nafas panjang. “Changmin, please. Keadaan sudah lebih baik, tak bisakah kau tidak merusaknya?”

“Tapi kau menyiksa Siwon.”

“Apa Siwon terlihat tersiksa?”

“Tentu saja tidak. Karena ia tidak tahu kalau kau mencampakkannya.”

Changmin tidak tahu lagi bagaimana harus menyadarkan Kyuhyun bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Memang apa yang diharapkannya? Siwon kembali mencintainya setelah apa yang dilakukannya pada pria itu? Naif sekali.

“Siwon tidak lagi mencintaimu. Terima kenyataan itu.”

“Tutup mulutmu! Tahu apa kau tentang Siwon?!” Tatapan Kyuhyun berubah nyalang.

“Jangan menyakitinya dengan menahannya untuk tetap disampingmu. Dia pernah mengalaminya. Kau tahu bagaimana terlukanya dia.”

“Itu sudah berlalu. Ini masa yang berbeda. Dan aku bukanlah orang dungu yang akan jatuh dilubang yang sama.”

Kyuhyun tahu Changmin berniat baik. Tapi Kyuhyun ingin mencoba, apa itu salah? Jikalaupun Siwon nanti tidak bisa mencintainya lagi, ia akan melepaskan pria itu walaupun berat.

Changmin disana ketika hubungan Siwon dan Kyuhyun berubah dingin. Ia tidak percaya mereka bisa begitu karena bagi orang yang mengenal mereka, pasangan itu dijadikan role model. Ketika ia tahu dimana titik kesalahannya, ia berada dipihak Siwon. Mencoba untuk memberi nasehat pada Kyuhyun bahwa apa yang dilakukannya bisa berdampak buruk bagi hubungan mereka. Tapi Kyuhyun keras kepala dan tetap pada pemikirannya. Ketika ia sadar dengan apa yang telah ia lakukan, keadaannya sudah dijungkir balikkan.

“Aku melihatnya Siwon menderita, Kyuhyun. Ia ingin pergi tapi tidak bisa karena pernikahan kalian sudah dekat.”

“Kau bukan cenayang. Kau bukan Tuhan. Kau tidak tahu bagaimana isi hati Siwon! Jadi tutup mulut tidak bergunamu itu!”

Setetes air mata meluncur disudut mata Kyuhyun. Ia menggeleng dengan memejamkan mata. Berusaha menyangkal ucapan Changmin yang tidak sepenuhnya salah. Ia percaya bahwa Siwon belajar untuk mencintainya bukan atas dasar iba, tapi keinginan dari dasar hatinya. Dan, bukankah cinta tumbuh karena terbiasa?

Kyuhyun tidak tahu diri, ia tahu itu. Ia yang melukai Siwon begitu dalam. Ia sendiri yang membuat rasa cinta dihati Siwon hilang. Dan ia menginginkan Siwon kembali padanya. Ia egois? Ya. Tapi ia tidak bisa melepaskannya begitu saja sementara kesempatan terbuka lebar untuknya. Ia sangat mencintai pria itu.

Changmin memegang kedua pundaknya, meremasnya. “Aku juga ingin melihat kalian bahagia. Seperti dulu. Tapi kenyataan tidak selalu seperti yang diharapkan.”

“Kubilang tutup mulutmu. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi.” Ucap Kyuhyun dengan bibir terkatup rapat.

Changmin menarik Kyuhyun kedalam pelukan. “Aku mengharapkan hal yang baik dari kalian.” Ia melepaskan pelukan lalu menepuk bahu sahabatnya. “Kau tahu dimana aku berada jika kau membutuhkanku.”

“Maaf, apa aku terlalu lama? Kami mengobrol sebentar tadi.” Kyuhyun menarik kursi lalu duduk dihadapan Siwon. “Makanannya sudah dingin. Sebentar, akan aku hangatkan.”

Siwon memegang tangan Kyuhyun, mencegahnya untuk beranjak. “Tidak usah. Aku sudah lapar.”

“Ah, baiklah kalau begitu.”

Siwon bisa melihat mata Kyuhyun sembab walaupun pria manis itu berusaha menutupinya dengan sesering mungkin menunduk. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan hingga membuat Kyuhyun kacau seperti ini?

Lagipula, siapa Changmin itu? Kyuhyun seolah menutupi sesuatu darinya dengan pergi tergesa-gesa. Tidak ingin dirinya mendengar pembicaraan mereka. Apa itu berhubungan dengannya?

Gerakan suapan Siwon terhenti. Kyuhyun memeluk lehernya dari belakang, pundaknya dijadikan tumpuan dahi pria itu.

“I love you. I love you, Choi Siwon.”

.
.
.

“Siwon? Choi Siwon?”

Siwon mendongak dari wafflenya mendengar namanya dipanggil oleh suara asing. Ia mendapati seorang wanita berada didepannya.

“Ah benar! Kau Siwon.” Wanita itu duduk tanpa dipersilahkan ataupun meminta ijin.

“Maaf, anda siapa?” Siwon tidak merasa pernah mengenalnya. Terlebih tidak ada seorangpun yang memberi tahunya tentang wanita ini sebelumnya.

“Ah, iya. Kau amnesia. Aku lupa.” Wanita itu mengulurkan tangan yang disambut Siwon. “Aku Dasom. Euumm yeah mantan kekasih Kyuhyun.”

Siwon memperhatikan wanita didepannya. Cantik, dengan tubuh semampai, mata yang besar dan hidung mancungnya.

“Kau ternyata sangat tampan. Pantas Kyuhyun oppa mencampakanku.” Dasom tersenyum kecut.

“Maaf?”

“Aku sangat sakit hati saat tahu Kyuhyun oppa berselingkuh. Terlebih dengan seorang pria. Tapi yah itu hanya masa lalu. Kehidupanku sekarang lebih baik.” Dasom mengangkat bahu.

Siwon sangat terkejut mengetahui fakta ini. Ia tidak tahu harus sepenuhnya percaya atau tidak dengan ucapan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Tapi sampai sekarang memang tidak ada yang menceritakan padanya tentang masa lalu. Hanya Kyuhyun, itupun kenangan indah diantara mereka saja.

Tapi jika benar, bagaimana mungkin Kyuhyun mencampakkan wanita secantik ini dan rela menjadi gay untuk dirinya? Sebesar itukah cinta Kyuhyun padanya? Haruskah Siwon merasa senang akan hal ini?

“Aku tidak percaya kalian akan menikah. Kupikir kalian benar-benar putus. Aku turut bahagia hal itu ternyata tidak benar.”

“Apa? Kami putus?”

Dasom menutup mulutnya. Merasa salah berbicara. Ia kemudian mengibaskan tangan dan tertawa kecil. “Ah itu hanya gosip kurasa.”

“Kapan kau mendengar tentang itu?”

Wanita itu menggigit bibir. Merasa bimbang mau mengatakannya atau tidak. Ia jelas tahu itu bukanlah hanya sekedar gosip karena ia mendengarnya langsung dari mulut Kyuhyun saat mereka tidak sengaja bertemu disalah satu restoran.

“Dua atau tiga bulan yang lalu. Tapi hal itu sudah biasa terjadi pada tiap pasangan. Yang terpenting kalian tetap bersama.”

Tiga bulan, satu bulan sebelum operasinya.

.
.
.

Kyuhyun baru saja melangkahkan kakinya masuk saat tubuhnya terdorong hingga membentur dinding. Ia seperti tidak mengenal kekasihnya sekarang ini. Siwon melumat bibirnya dengan liar, tidak lembut seperti biasanya. Ia tidak merasakan ada cinta didalamnya.

 

“Siwon!” Kyuhyun menggerakkan kepalanya guna menghindar. Tangannya berusaha mendorong tubuh kekar kekasihnya. Tapi sepertinya sia-sia karena Siwon kini menyerang leher dan mulai meloloskan kancing kemejanya.

 

“Choi Siwon! Apa kau sudah gila?!” Satu dorongan kuat dan tubuh Siwon menjauh beberapa senti.

 

“Aku merindukanmu.” Siwon maju lagi tapi berhasil ditahan oleh Kyuhyun.

 

“Apa yang ada diotakmu itu hanya seks?!”

 

“Bukankah itu sudah menjadi rutinitas kita?”

 

Kyuhyun mendesah kasar. “Aku baru pulang bekerja setelah dua minggu. Aku lelah, tidak kah kau tahu itu?” Kyuhyun melempar kasar tasnya keatas sofa.

 

“Aku merindukanmu. Aku hanya ingin waktu pribadi untuk kita berdua tanpa diganggu pekerjaan.”

 

“Aku lelah! Aku butuh istirahat Siwon!”

 

Siwon menunduk, tersenyum mengejek. Saling memeluk sudah cukup menghilangkan rasa lelah mereka masing-masing. Itu dulu. Sekarang Kyuhyun berubah, pria itu akan menyalak jika Siwon mengatakannya.

 

“Jika kau lelah, berhenti saja bekerja.”

 

“Apa kau berniat menghalangiku bekerja sesuai passion-ku?”

 

“Tidak. Jika itu tidak membuat kita menjauh seperti ini.”

 

Kyuhyun mendengus, “kau berlebihan.”

 

Siwon seperti tidak mengenal Kyuhyun sepuluh bulan terakhir. Sejak karir Kyuhyun merangkak naik dan novelnya laris dipasaran. Pria itu mencurahkan semua waktunya untuk menulis. Dikepalanya hanya dipenuhi tentang plot, plot, dan plot. Mengabaikan kekasihnya yang membutuhkan perhatian sama banyaknya. Tidak ada morning kiss, duduk berdua menonton tv, sarapan bersama, berkencan bahkan tempat tidur disamping Siwon terasa dingin. Kyuhyun memilih pergi berhari-hari ke suatu tempat demi mendapatkan ide tentang tulisannya. Siwon bahkan lupa kapan terakhir kali mereka bertatap muka.

 

Kyuhyun seperti punya dunianya sendiri dan tidak memasukkan Siwon kedalamnya. Pernah Siwon meminta untuk ditemani ke dokter karena sakit dikepalanya tak kunjung sembuh, tapi yang Kyuhyun katakan, “deadline-ku sudah dekat. Jangan ganggu aku. Kau pria dewasa yang mandiri dan tak perlu ditemani.” Tanpa memandang wajah pucatnya dan fokus menatap layar laptop.

 

Siwon sudah lelah dengan keadaan ini. Tiga bulan lagi pernikahan mereka, bukannya semakin erat hubungan, malah menjadi asing. Mereka satu atap tapi seperti hidup di berlawanan kutub. Siwon selalu mencoba untuk membuat hubungan mereka seperti sedia kala, tapi Kyuhyun tidak. Hingga ia beberapa kali berpikir, sudah benarkah keputusannya untuk menikahi Kyuhyun?

 

“Aku tidak bisa hidup seperti ini terus-menerus.”

 

“Aku juga tidak bisa hidup dengan pria yang merecoki tentang sesuatu yang kusukai.”

 

Lima tahun bersama, pernikahan didepan mata. Haruskah berakhir begitu saja?

 

Siwon menghela nafas. “Berhentilah untuk sejenak dan lebih fokuslah pada kita.”

 

Ditelinga Kyuhyun itu lebih seperti Siwon menyuruhnya berhenti total. Itu tidak adil. Ia tidak pernah protes saat Siwon masih menjadi CEO yang sibuk ataupun melarangnya untuk membuka kafe. Siwon mendapat apa yang dia inginkan. Tetapi kenapa dia tidak boleh?

 

“Kenapa tidak kau saja?”

 

“Karena kau yang melupakan keberadaan kita, bukan aku.”

 

Kyuhyun membuang muka kesamping lalu kembali memandang Siwon. “Aku tidak bisa. Aku berhak memilih bagaimana aku akan menjalani hidup. Jika kaupun tidak bisa, kau bisa pergi.”

 

“Cho Kyuhyun!” Bentak Siwon. Emosi berkumpul diubun-ubun hingga membuat kepalanya berdentum-dentum.

 

“Lalu apa? Kita mempunyai pendapat masing-masing dan tidak bisa disatukan.”

 

Kyuhyun memalingkan wajah. Menghindari tatapan kecewa yang menghujaninya.

 

Kepalan tangan Siwon melonggar. Ia ingin menyanggah, tapi ia tahu itu hanya akan memperburuk keadaan. Jadi dia memilih berbalik, membuka pintu apartemen dan terakhir berkata, “dinginkan kepalamu. Jika kau sudah berpikir dengan benar, datanglah padaku.”

 

 

Kyuhyun menyeret tubuhnya untuk duduk diranjang, memijit kepalanya sejenak sebelum berdiri. Ia terhuyung kedepan dan menggapai meja sebagai pegangan. Ia mengutuk Siwon dalam hati karena tidak memegangi pinggangnya seperti biasa.

 

“Siwon hyung! Kenapa kau tidak membangunkanku?! Ini sudah jam delapan, kau tahu?!”

 

Tangannya meraih bantal lalu berbalik, berniat memukulkannya pada kekasihnya. Tapi bantal itu berakhir membentur ranjang kosong.

 

Kyuhyun jatuh terduduk kembali, kedua tangannya menutupi wajah. Bahunya berguncang dan isakan keluar dari sela bibirnya. Bodoh. Sudah satu bulan dan dia tetap melakukan hal itu setiap hari.

 

Ia pikir keputusannya meminta berpisah sudah tepat, tapi tidak. Hidupnya bertambah buruk. Ia akan selalu mencari Siwon disetiap ia melakukan sesuatu. Bertanya mana yang toples garam dan gula karena disana tidak ditempeli nama. Menyajikan secangkir kopi dimeja yang akan tetap disitu sampai pagi menjelang lagi.

 

Pekerjaannya berantakan. Ia tidak bisa menulis satu kalimatpun. Pikirannya mendadak kosong dan ide yang selama ini mendiami kepalanya lenyap tak berbekas.

 

Ia baru sadar bahwa sosok inspirasinya selama ini adalah Choi Siwon.

 

Kyuhyun mengusap pipinya dan beralih mengambil ponselnya yang berdering diatas nakas. Ibu Siwon.

 

Tiga puluh menit kemudian dia sudah berlari disepanjang koridor rumah sakit beralaskan sandal rumah dan sepasang piyama masih melekat ditubuhnya. Ia menghampiri ayah, ibu dan adik Siwon yang duduk dikursi tunggu depan ruang operasi.

 

“Dimana Siwon?” Ia bertanya ditengah isakannya.

 

“Ia sudah masuk sepuluh menit yang lalu.” Jawab adik Siwon.

 

Kyuhyun jatuh terduduk dilantai dingin. Ia terus memaki dirinya yang tidak berguna dan tolol. Bagaimana jahatnya dia pada pria itu. Tubuh pria itu sudah menderita dan dia menambahinya dengan sakit hati. Ia kejam.

 

Tumor otak. Siwon menderita penyakit itu tujuh bulan terakhir.

 

.
.
.

“Kita sebenarnya sudah berpisah ‘kan?”

Kyuhyun meremat tangannya yang berada diatas paha. Akhirnya saat itu tiba juga. Saat dimana Siwon mengetahui masa kelam mereka. Ia takut.

“Kenapa diam? Apa itu artinya benar?”

Kyuhyun bergeming. Tetap menunduk dan membiarkan tetes-tetes air mata membasahi punggung tangannya. Tangisannya pecah saat merasakan Siwon beranjak pergi dan terdengar pintu yang tertutup.

“Maaf. Maafkan aku.”

.
.
.

Hasilnya tetap sama berapa kalipun ia memejamkan mata dan berusaha mengingat. Ada kekecewaan yang ia rasakan saat tahu bahwa Kyuhyun membohonginya. Tapi disalah satu sudut hatinya menyangkal hal itu.

Ia memang tidak ingat apapun. Apakah lantas ia harus percaya dengan omongan orang lain? Keluarganya bahkan tidak tahu apapun tentang itu. Dan Kyuhyun hanya berdiam diri.

Kyuhyun memandang Siwon yang bersandar dikusen jendela, menerawang jauh kedepan sambil memutar cincin platina dijarinya.

Siwon menatap cincin pertunangannya. Bibirnya tersungging miring. Harusnya ia tahu siapa yang harus ia percayai.

Kyuhyun menghela nafas. Ia pikir Siwon benar-benar pergi. Atau ia hanya menundanya saja sampai malam ini berakhir? Apa ini akan menjadi kencan terakhir mereka?

Gerakan membenahi beanie-nya berhenti kala lengan Siwon melingkari bahunya dari belakang. Kyuhyun mendongak dan bertemu tatap dengan mata Siwon melalui cermin.

“I love you.”

Jantung Kyuhyun rasanya berhenti berdetak.

“Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada kita dimasa lalu. Apa yang kulakukan dan apa yang kau lakukan aku tidak peduli. Yang aku tahu sekarang, aku mencintaimu.”

Siwon mencintai Kyuhyun. Jika rasa itu telah hilang, cincin dijarinya pasti sudah terlepas walaupun itu hanya untuk satu detik.

END

.

.

From Admin

Dukung FF ini untuk jadi pemenang dengan cara:

  1. Share FF ini ke FB melalui kolom Share.
  2. Screenshot_2016-03-29-18-58-12-1
  3. Berikan Komentar untuk FF ini.
  • 1 username 1 komentar
  • Komentar dengan kata dibawah 20 tidak dihitung. Jadilah reader yang aktif. Jangan hanya semangat komentar jika ada war. #eh *bercanda ajah nih*
  • Penilaian oleh reader dilakukan sampai tgl 8 April jam 10 Malam atau setelah Min ssii memberikan komentar di postingan tersebut. Artinya koment yang masuk setelah komentar Min ssii tidak akan dihitung.
  1. Vote FF favorite kalian pada kolom di bawah ini.

VOTE

 

Sekian dan terima kasih.

 

Selamat berlomba untuk semua author dan selamat menikmati sekaligus memberikan nilai untuk semua reader WonKyuCorp.

 

Semangat!!!!!

Advertisements

19 thoughts on “[FF Kontes] Reset

  1. keren banget ini ff nya.. Kasihan siwon 😦 bikin mewekkkk ceritanya.
    Kalau misal akhirnya lebih jelas lagi pasti lebih keren banget tp ini udh bikin aku jungkir balik hahhaha nyentuh hati bgt. Daebakkkk!!!

  2. Cinta emang harus diperjuangkan…salut sama kyu yang mau memperjuangkan cintanya, meskipun dia sendiri yang menyakiti cintanya…
    Pilihan siwon benar, lupakan masa lalu yang menyakitkan dan yakinlah pada perasaanmu saat ini, maka kau akan menggapai kebahagiaanmu…
    Sampai kapanpun siwon akan memilih kyu untuk jadi pendampingnya…

  3. Wow wow wow ini sungguh keren sangat menyentuh wonkyu i love you, kalian harus tetap bersama meskipun tidak saling mengenal dan bertatap muka

  4. wow…siwon emang sweet bgt walaupun dia hilang ingatan tp dia ttp cinta ama kyu dan demons kyu bs memperbaiki kesalahannya dimasa lalu

  5. bagus ff nya !! ceritanya simpel , tapi dalem banget . Wonkyu tetep percaya dg apa yang mereka rasakan dan pikirkan , tidak terpengaruh apa yg dikatakan orang lain. yang paling penting apapun yang terjadi antara wonkyu , mereka akan tetep bersama dan saling mencintai diakhir cerita…^^

  6. jd siwon hilang ingatan krna penyakit tumor otak ya, kirain krna kecelakaan habis bertengkar dg kyuhyun…
    kalau cinta sejati pasti akan kembali ke sang pemiliknya

  7. Kalo cinta yg bener” tulus diperjuangin pasti ga akan berakhir dengan sia sia

    salut sama kyu.. Yang mau memperbaiki kesalahan nya di masa lalu
    biarpun sekarang siwon berasa nganggep dia kayak orang asing hhhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s