Posted in Angst, BL, Drama, Family, Fluffy, Genre, Hurt, Romance, Sad, Series, WonKyu Story

Circle of Love – Take 8

C360_2014-04-06-22-38-55-927

Circle of Love – Take 8

By: -ssiihee-

Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Cho Jinra (OC)

Romance, angst, family, BL, OOC, AU, PG 15

 

Siwon punya Kyuhyun, Kyuhyun punya Siwon, sedangkan WonKyu punya wks… Hehehe.. ^^

Don’t Like, don’t read !

Dilarang membashing WonKyu jika ingin hidup tenang!

(= ̄▽ ̄=)V

 

***

CoL

ssiihee©2015

Totally Reserved

***

Yang lupa boleh baca cerita sebelumnya di Take 7

Oppa?”

Ne~ Rin-ah. Ini sudah malam kau belum tidur?”

Heerin menggigit bibir bawahnya mendengar suara lemah kakaknya. Ia sudah mengetahui apa yang sedang terjadi antara kakaknya dan Kyuhyun yang kini berada di rumah sakit. Bagaimana ia bisa tahu tentu saja dari Kim Heechul.

“Kyuhyun oppa?” Tanya Heerin ragu. Terdengar suara helaan nafas. Siwon -kakaknya- pasti lelah.

“Dia baik-baik saja. Kau bisa kesini besok.”

Heerin menggigit kuku ibu jarinya. Ia ragu untuk bertanya hal selanjutnya. Namun ia begitu penasaran dengan apa yang dikatakan Heechul padanya.

“Ku dengar umma Cho mengetahuinya.” Heerin memejamkan matanya berharap kakaknya tidak marah. “Oppa.” Panggil Heerin kembali setelah lama tak ada jawaban.

“Maksudmu?”

“Heechul oppa mengatakan ia tidak sengaja melihatmu dan umma Cho di rumah sakit. Dan kebetulan ia sedikit mendengar apa yang kalian bicarakan saat akan menghampiri kalian.”

Heerin pasti akan mati di tangan Kim Heechul karena mengatakan hal ini. Tidak mungkin. Ia jelas tahu perasaan pria cantik itu padanya. Aish. Heerin mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk. Bisa-bisanya ia memikirkan hal itu saat ini.

“Kim Heechul?” Heerin diam tak menjawab.”Rin-ah mianhae. Oppa dan Kyuhyun….”

“Tidak apa-apa oppa.” Sela Heerin. Ia mengenal kakaknya. Pasti saat ini Siwon tengah merasa bersalah kepadanya karena tidak bisa memberi contoh yang baik pada adiknya. “Awalnya aku sedikit terkejut. Tapi jika oppa bahagia aku akan mendukungmu.” Heerin tahu kakaknya kini sedang tersenyum.

Gomawo. Oppa senang kau, Heechul, dan umma Cho tidak memarahi kami.” Benarkan. Ada nada bahagia kini terdengar dari suara kakaknya membuat Heerin tersenyum kecil.

“Tunggu dulu. Umma Cho maksud oppa?” Heerin menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar di pinggir jendela kamarnya. Lalu menatap pemandangan malam.

Ne. Hanya saja ia tidak bisa mendukung kami secara langsung. Jinra…”

“Ah Jinra oenni.” Seru Heerin. Kakak perempuannya itu pasti begitu terpukul. Heerin harus menemuinya.

Oppa boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu saja.”

“Apa kau… kau… Sangat mencintai Kyuhyun oppa?”

Mwo?!” Heerin tersentak mendengar seruan terkejut itu. Pasalnya itu bukan berasal dari ponsel yang kini menempel di telinganya. Cepat ia membalikan badan dan seketika tubuhnya kaku melihat wanita yang ia dan Siwon panggil sebagai ibu berdiri dengan tatapan yang tidak bisa Heerin artikan.

***♡***

Siwon menatap mata ibunya dalam. Ada kecewa disana namun tidak sedikitpun terlihat kemarahan. Apa memang semua ibu seperti ini. Ah tentu saja. Ibu adalah tempat semua anak pulang walau jarak membentang. Saat mengetahui ibunya mendengar pembicaraannya dengan Heerin Siwon segera bergegas pulang ke rumahnya.

Minhae.” Siwon hanya mampu mengucapkan kata itu berulang kali sejak ia berkata jujur kepada ibunya tentang hubungannya dengan Kyuhyun. Tentang semua yang terjadi belakangan ini.

“Tentu saja kau harus minta maaf. Tapi tidak kepada umma.” Nyonya Choi mengusap lembut pipi putranya yang kini terbaring dalam pangkuannya. “Ada hati lain yang lebih tersakiti.”

“Tentu saja. Hanya saja umma katakan sesuatu. Apa kau marah?” Siwon kembali menatap lirih ibunya. Ia tidak ingin mengecewakan wanita yang begitu ia kasihi. Nyonya Choi menatap Heerin yang terduduk di ujung ranjangnya. Mereka bertiga berbicara tanpa sepengetahuan tuan Choi.

“Sedikit.” Nyonya Choi terdiam lama. “Namun kau sudah dewasa, tentu kau tahu setiap konsekuensi dari apa yang kau lakukan. Hanya saja umma berharap hal ini tidak membuat banyak orang terluka. Siwon-ah..”

Siwon mengangkat wajah dan menatap ibunya menunggu perkataan selanjutnya.

“Kau harus cepat menyelesaikannya. Umma tidak ingin nantinya baik keluarga Choi atau Cho saling merasa tidak enak. Kau mengerti maksud umma?”

Siwon mengangguk mengerti. Tentu saja ia akan menyelesaikan semua kekacauan ini. Setidaknya saat ini sudah ada lebih banyak yang mendukung hubungannya dengan Kyuhyun. Siwon akan berusaha lebih keras lagi agar ia bisa membahagiakan Kyuhyun.

 

***♡***

Suasana kamar tempat Kyuhyun di rawat begitu tenang dan damai. Wajar saja ini sudah tengah malam bahkan hampir dini hari. Kamar tersebut hanya di terangi lampu di nakas sebelah kanan. Walaupun temaram tetap membuat Kyuhyun harus mengerjapkan matanya saat tiba-tiba saja ia terjaga dari tidurnya.

Kyuhyun memandangi sekitarnya dan iris coklat matanya menangkap sesosok pria yang tengah duduk di sofa. Choi Siwon. Mengapa ia ada disini. Jam besuk sudah pasti telah lewat dari beberapa jam yang lalu. Siwon sepertinya masih terjaga hanya saja ia tidak menyadari bahwa Kyuhyun terbangun. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan kekasihnya. Karena sampai saat ini Siwon belum menyadari sepasang mata yang menatapnya lirih.

Hyung.”

Siwon menoleh dan menatap Kyuhyun sebentar. Bahkan saat ini pria itu masih tidak fokus. Kyuhyun tersenyum kecil saat tiba-tiba saja Siwon tersadar dan melompat menghampirinya.

“Hey apa hyung mengganggu tidurmu?” Siwon membelai pipi kanan Kyuhyun lembut membuat pemuda itu memejamkan matanya sejenak merasakan kehangatan.

“Kenapa hyung masih di sini? Aku baik-baik saja istirahatlah.”

Kyuhyun tersenyum lemah. Ia menggerakan tangan kirinya menyentuh wajah Siwon. Mengukir alis pria tersebut dengan ibu jarinya, mengusap pipi dan dagu kekasihnya yang terasa kasar. Berapa lama sebenarnya ia tidak melihat Siwon. Mengapa Kyuhyun begitu merindukannya. Siwon pun hanya memejamkan matanya. Betapa ia menyadari bahwa ia begitu membutuhkan sentuhan Kyuhyun walau hanya berupa belaian kecil di pipinya.

“Istirahatlah kau pasti lelah.” Sebenarnya Kyuhyun ingin menanyakan apa yang sedang Siwon pikirkan namun ia menahan dirinya. Siwon harus istirahat. Jangan sampai mereka bergantian di rawat.

“Aku akan istirahat. Kau lanjutkan tidur sayang. Ini masih dini hari.”

“Naiklah.” Kyuhyun menggeser tubuhnya ke kiri menyisakan sedikit area kosong di sebelah kanannya. Ia menepuk-nepuk bagian itu meminta Siwon berbaring di sebelahnya. Kyuhyun yakin Siwon tidak akan tidur.

Annie. Kau harus istirahat baby. Aku akan tidur di sofa.”

“Kalau begitu aku tidak akan tidur.” Siwon mengusap wajahnya. Saat ini ia sedang tidak ingin berdebat dengan Kyuhyun walau ia tahu kekasihnya hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. “Baiklah.”

Siwon membaringkan tubuhnya di sebelah kanan Kyuhyun. Menyelipkan tangan kirinya di bawah leher kekasihnya, menjadikan lengannya sebagai bantalan. Kemudian menarik tubuh Kyuhyun ke dalam pelukannya. Setelahnya melingkarkan tangan kanannya di pinggang Kyuhyun memenjarakan tubuh kekasihnya dalam dekapannya. Kyuhyun tersenyum bahagia dan mengubur wajahnya di dada Siwon. Menghirup aroma khas pria yang begitu ia rindukan.

Hyung.”

“Hemm…?”

Tiba-tiba saja wajah Kyuhyun memanas memikirkan hal yang tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya. “Kau membutuhkan sesuatu?”

Annie. Hanya saja…” Kyuhyun memejamkan matanya sejenak lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Siwon. Ragu ia mengatakannya namun melihat mata Siwon yang menatapnya khawatir Kyuhyun membuka suaranya. “Kapan terakhir kau menciumku. Rasanya sudah lama sekali.”

Wajah Kyuhyun semakin memanas saat Siwon kini justru terdiam menatapnya. Harusnya ia tidak mengatakannya. Tapi Kyuhyun merindukan ciuman Siwon. Dia sudah benar-benar gila sepertinya.

Hyung kau mendeng… hemph…” Protes Kyuhyun terputus saat Siwon memangut bibirnya. Pria itu memiringkan kepalanya dan memegang dagu Kyuhyun agar dapat menghisap bibir yang begitu ia rindukan.

Rasa manis saat ia menghisap bibir atas dan bawah Kyuhyun begitu membuat Siwon kecanduan. Hingga Siwon merasa ia bisa memakan Kyuhyun saat ini juga. Sementara Kyuhyun tersenyum senang saat kini entah bagaimana Siwon sudah berada di atas tubuhnya. Dan sejak kapan kedua tangannya melingkar di leher Siwon. Ah Kyuhyun tidak peduli. Saat ini ia sedang ingin menikmati waktunya berdua dengan Siwon. Karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Saat matahari menyeruak dan membuat semua makhluk bergerak.

“Kau harus istirahat sayang.” Ucap Siwon dengan nafas terengah.

Dahi keduanya saling menempel dengan hidung yang juga saling bersentuhan. Sementara Kyuhyun justru malah tersenyum dan menatap dalam Siwon membuat pria itu harus menahan diri untuk tidak berbuat hal lain yang lebih jauh. Namun Siwon harus lebih menahan dirinya saat tiba-tiba saja Kyuhyun memajukan bibirnya. Kembali sebuah ciuman panjang terjalin antara dua anak manusia di temani sinar bulan yang masih enggan beranjak dari tempatnya.

“Jangan memikirkannya sendiri hyung. Kita hadapi semuanya bersama.” Siwon yang sudah hampir tertidur membuka matanya dan menatap Kyuhyun yang kini berada di atas tubuhnya.

“Kita bicarakan besok. Annie nanti baby. Sekarang kau harus tidur.” Kyuhyun menegakan tubuhnya dengan menumpukan kedua tangannya di dada Siwon.

“Aku tidak bisa tidur lagi hyung.” Protes Kyuhyun.

Jelas ia tidak akan terlelap setelah apa yang Siwon lakukan saat ciuman panjang mereka. Siwon menghela nafas lalu mengaitkan beberapa kancing piyama Kyuhyun yang sempat ia lepas tadi. Ia dapat melihat beberapa bercak merah di dada Kyuhyun karena ulahnya. Siwon sempat bingung bagaimana ia melakukannya di saat tubuh Kyuhyun sedang dalam kondisi seperti ini. Untung saja ia tidak sampai berbuat lebih.

Siwon menghela nafas lalu menarik kepala Kyuhyun untuk bersandar di dadanya. Mengusap punggung Kyuhyun perlahan berharap kekasihnya tenang dan dapat melanjutkan tidurnya.

“Kurasa sekarang aku bisa tidur lagi hyung.”

“Benarkah?”

Ne.” Kyuhyun tersenyum dan memejamkan matanya. “Detak jantungmu membuatku mengantuk. Seperti sebuah lullabi.”

Kali ini Siwon tertawa kecil tanpa berkata apapun. Namun jika seperti itu maka ia harus membuat jantungnya terus berdetak agar Kyuhyun tetap bisa hidup dengan baik. Dan Kyuhyun harus bersamanya agar jantungnya tetap berdetak seperti ini. Siwon mengecup puncak kepala Kyuhyun pelan dan merengkuh tubuhnya ke dalam dekapannya.

.

.

.

Kyuhyun sedang membaca sebuah buku untuk menghilangkan kejenuhannya saat Heerin datang. Adik kekasihnya itu tersenyum kecil kepadanya. Namun dari tatapannya Kyuhyun tahu ada yang mengganggu pikiran gadis itu.

“Kau sendiri?”

“Uhm….”

Heerin mendudukan dirinya di tepi ranjang sementara Kyuhyun meletakan buku yang di pegangnya di nakas sebelah ranjangnya.

Umma akan datang agak sorean bersama appa.”

“Oh. Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu repot.” Ucap Kyuhyun. Ia merasa tidak enak karena membuat semua orang khawatir.

Heerin tersenyum kecil. “Kau lupa kalau kita ini keluarga.”

Kyuhyun terdiam. Keluarga? Yah kita memang keluarga dan kemungkinan ia akan menghancurkannya. Kyuhyun memejamkan matanya sejenak. Keheningan terjadi selama beberapa detik yang terasa sangat lama hingga suara Heerin kembali terdengar.

“Bagaimana dengan oppaku?” Pertanyaan Heerin membuat Kyuhyun memandang tidak mengerti ke wajah gadis yang baru ia sadari terlihat murung. Tidak seperti biasanya.

“Siwon oppa… ku rasa ia tidak pintar untuk masalah seperti ini.”

Kyuhyun semakin tidak mengerti. Namun ia membiarkan Heerin melanjutkan perkataannya.

“Walaupun ia banyak berkencan dengan gadis, namun ia tidak pernah perduli dengan mereka seperti kebanyakan pasangan kekasih, mungkin karena gadis-gadis itu juga hanya mengejarnya demi uang.”

Jinra terkekeh pelan mengingat kakaknya hanya akan memasang wajah datar saat menemani gadis-gadis yang dijodohkan denganya. Setelah itu Heerin akan mendengar keluhan kakaknya itu sepanjang malam.

“Apa Siwon oppa kekasih yang baik?” Tanya Heerin langsung ke arah Kyuhyun membuat pemuda manis itu tertawa pelan. Namun ia segera menatap Heerin dengan wajah pucat saat menyadari arti pertanyaan gadis yang juga memiliki lesung pipi seperti Siwon.

“A-apa maksudmu?” Mungkinkah Heerin juga telah mengetahui semuanya.

“Aku akan selalu berdoa untuk kalian berdua, jadi jangan pernah menyerah.” Heerin tersenyum dan menggenggam tangan Kyuhyun perlahan. “Tolong jaga Siwon oppa dengan baik”

“Rin-ah?” Kyuhyun menatap mata Heerin yang saat ini berkaca-kaca. Ia telah membuat gadis itu kecewa.

Mianhae.”

Annie. Kau tidak perlu minta maaf. Aku ingin Siwon Oppa bahagia. Dan jika orang itu kau maka aku akan tetap mendukungmu. Jadi kau tidak perlu minta maaf oppa.” Heerin kembali tersenyum. “Lagi pula bukankah semuanya sah dalam perang dan cinta?” Keduanya tertawa bersama.

Kyuhyun memeluk Heerin erat dan ia teringat dengan Jinra, kakaknya. Betapa ia juga merindukan pelukan kakaknya itu. Bagaimana kabar Jinra saat ini. Terakhir Kyuhyun bertemu kakak perempuannya saat mereka terlibat pembicaraan serius. Dan saat ini mengetahui ibunya juga Heerin mengetahui hubungannya dengan Siwon, Kyuhyun semakin merasa bersalah karena ia mendapat dukungan dari orang terdekatnya. Kyuhyun menghembuskan nafas perlahan masih dengan memeluk Heerin. Ini baru awal, segalanya baru di mulai. Dan Kyuhyun akan bertahan sampai akhir agar dapat menyelesaikan apa yang sudah di mulainya.

******

“Memikirkan apa?”

Kyuhyun yang tengah termenung menatap jendela menoleh ke arah pintu di sebelah kirinya. Ia tersenyum kecil menatap seorang pria berjas putih dengan name tag bertuliskan Park Jungsoo.

Hyung.” Kyuhyun tersenyum kecil. Setelah menyadari sesuatu ia kembali berkata. “Ah maksudku Park Songsaenim.” Kyuhyun menundukan kepalanya singkat seraya tertawa pelan.

Park Jungsoo adalah dokter khusus keluarga Cho. ia mengambil alih tugas ayahnya yang pensiun sejak 5 tahun lalu. Walau sebelumnya ia sudah sering membantu ayahnya. Baik Kyuhyun dan Jinra sama-sama dekat dengan pria yang memiliki lesung pipi kecil itu. Mereka berdua sudah menganggap Jungsoo sebagai kakak mereka sendiri.

“Kau ini sedang sakit tapi tetap saja bercanda.” Jungsoo mendudukan dirinya di ranjang Kyuhyun lalu menatap pemuda tersebut.

“Kyuhyun-ah….” Jungsoo mengacak rambut Kyuhyun pelan dan tersenyum. “Tidak terasa kau sudah dewasa. Rasanya baru kemarin saat tengah malam aku di bawa ke rumah mu karena kau sakit.” Jungsoo tertawa pelan. “Saat itu aku sangat sedih melihatmu terkulai lemas.”

Hyung….” Kyuhyun menatap Jungsoo masih dengan senyum kecilnya. Pria di depannya ini memang sedikit melankolis namun Kyuhyun sangat menyayanginya.

Aigo, abaikan ucapanku. Sepertinya kau sudah merasa baik.”

“Tentu saja. Aku punya dokter hebat.” Canda Kyuhyun. “Oh iya hyung memeriksa nunna juga kan?”

Ne, nunna mu baik-baik saja, ia hanya butuh istirahat. Kau juga jangan terlalu banyak berpikir. Kau bisa colaps jika seperti ini lagi.”

Kyuhyun tersenyum. Ia merasa lega mengetahui kakaknya baik-baik saja. “Lalu kapan aku boleh pulang? Kau tahu aku benci rumah sakit. Makanannya tidak ada yang enak.”

Jungsoo tertawa mendengar suara Kyuhyun yang manja. Pemuda itu bahkan mempoutkan bibirnya. “Besok jika keadaanmu membaik, kau boleh pulang. Dan jika kau benci rumah sakit maka jagalah kesehatanmu.”

Kyuhyun tertawa pelan. Ia sendiri tidak bisa berjanji hal seperti itu pada dirinya sendiri. Kyuhyun sudah terlalu bosan menjaga kesehatannya sejak kecil karena pada akhirnya ia tetap sakit juga. Jadi ia hanya akan menikmati hidupnya semenyenangkan  mungkin tanpa memaksakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

******

Malam hari di kediaman kekuarga Cho terlihat sepi karena tuan dan nyonya Cho masih di rumah sakit untuk melihat keadaan Kyuhyun. Sementara sang tuan putri, Cho Jinra, mengurung dirinya di kamar setelah kedua orang tuanya memastikan ia makan malam dengan baik.

Jinra menghela nafas pelan merasa bosan tapi ia tidak ingin melakukan apapun. Buku yang ia biasa baca sebelum tidur kali ini sangat tidak menarik baginya. Kedua orang tuanya sudah kembali dari rumah sakit sejak satu jam lalu dan mereka sudah memberikan ucapan selamat malam kepadanya tiga puluh menit lalu namun Jinra sama sekali tidak mengantuk.

Merasa haus akhirnya Jinra memaksa tubuhnya bergerak untuk mengambil air minum di lantai bawah. Ketika pintu kamarnya tertutup matanya tidak sengaja memandang pintu kamar di sebelahnya. Kamar Kyuhyun. Untuk beberapa detik Jinra memandang intens pintu yang tertutup rapat itu.

Perlahan kakinya melangkah, sementara tangan kananya meraih gagang pintu yang tidak terkunci itu. Jinra menggerakan tangannya pada saklar lampu yang terdapat di dekat pintu membuat kamar dengan nuansa Baby Blue itu kini terlihat. Dengan perlahan Jinra melangkah mendekati meja dimana Kyuhyun biasa bekerja.

Senyum terukir disudut bibirnya melihat beberapa figura foto mereka berdua sedangkan fotonya dan Kyuhyun bersama orang tua mereka hanya satu. Jinra menyentuh wajah Kyuhyun yang tersenyum lebar disalah satu foto dengan ujung jarinya. Kyuhyun sedang memeluknya dari belakang. Jinra ingat saat itu mereka sedang bermain disalah satu taman bermain.

Jinra menghela nafas dan melangkah ke ranjang Kyuhyun. Duduk di pinggir ranjang dan mengusap bantal dan selimut Kyuhyun. Perlahan ia membaringkan tubuhnya dan memeluk guling yang beraroma vanilla. Aroma milik Kyuhyun. Seketika rasa rindu menyelinap dalam hati Jinra. Biasanya ketika Kyuhyun sakit maka ia yang akan paling semangat untuk menjaga adiknya. Tapi kali ini Jinra bahkan tidak bertanya apapun. Ia justru mengeluarkan kata-kata kasar kepada adiknya.

Mianhae Kyunnie, aku nunna yang buruk.” Bisik Jinra dengan mata berkaca-kaca. “Mianhae aku melanggar janjiku.” Lanjut Jinra mengingat ucapannya dengan Kyuhyun beberapa waktu lalu.

“Nunna berjanjilah. Jika suatu saat aku membuatmu kecewa, jangan pernah meninggalkanku sekalipun kau tidak memaafkanku. Kalupun ada yang harus pergi biarkan aku yang melakukannya.”

“Baiklah. Tapi kau juga harus berjanji. Jika aku menghianatinya dan meninggalkamu jangan pernah memaafkanku. Pergilah dengan tenang. Carilah kebahagianmu sendiri. Jika sudah tiba waktunya maka aku akan memaafkanmu. Ku harap saat itu kau juga sudah memaafkanku.”

Jinra memejamkan matanya. Saat itu pasti Kyuhyun sudah merasa sangat bersalah. Kyuhyun sangat pintar. Bahkan ia tidak ingin Jinra meninggalkannya walaupun ia tidak memaafkan Kyuhyun. Dasar egois. Dan sekarang Jinra meninggalkannya, namun Jinra tahu Kyuhyun akan bertahan. Kyuhyun akan mempertahankan kebahagiannya.

.

.

.

“Kau yakin sudah sehat?”

Kyuhyun memutar bola matanya bosan. Siwon sudah menanyakan hal itu berulang kali sejak pria itu datang pagi-pagi hanya untuk membantu Kyuhyun. Padahal tidak banyak yang harus ia rapihkan karena semalam orang tuanya sudah membereskan semua yang harus dibawanya.

“Jungsoo hyung tidak akan mengijinkan aku pulang jika aku belum sehat.” Jawab Kyuhyun untuk kesekian kalinya. Kali ini dengan nada sedikit jengkel. “Jadi berhenti bertanya hal itu. Kau membuatku kesal!”

Siwon tertawa dan menghampiri Kyuhyun yang sedang duduk di ranjangnya. Ia lalu melingkarkan tangannya pada punggung Kyuhyun menarik pemuda itu ke dalam pelukannya. Kyuhyun tersenyum, dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Siwon dan membiarkan kehangatan melingkupinya. Kyuhyun sangat menyukainya.

Mianhae. Aku hanya khawatir. Jangan sakit lagi, aku tidak akan baik-baik saja jika kau seperti ini lagi.”

“Tsk. Cheesy.” Balas Kyuhyun dengan sedikit Kekehan. Ia lalu mengangkat kepalanya untuk menatap Siwon saat pria itu merenggangkan pelukannya.

Siwon hanya tersenyum lalu mengusap kepala Kyuhyun gemas. Hal yang membuat pemuda itu mempoutkan bibirnya karena merasa diperlakukan seperti anak kecil.

Saranghae.” Ucap Siwon pelan membuat sudut-sudut bibir Kyuhyun tertarik untuk tersenyum. Kyuhyun sangat menyukai suara Siwon saat pria itu mengatakannya. Membuat Kyuhyun merasa tenang.

Nado Hyung.”

Keduanya tersenyum. Kemudian Siwon mencium dahi Kyuhyun lalu menarik tubuh pemuda itu kembali dalam pelukannya. Kyuhyun membalas pelukan Siwon dan memejamkan matanya, mengambil semua kesempatan untuk membuat pria itu berada disisinya sebanyak mungkin. Karena setelah ini mereka harus berpisah. Siwon ingin mengantar Kyuhyun pulang hanya saja pemuda itu melarangnya walaupun ibu mereka sudah mengetahui hubungan keduanya. Siwon hanya menuruti ucapan Kyuhyun, ia tidak ingin membuat pemuda itu meŕasa tidak nyaman dengan kebersamaan mereka.

******

Ne Hyung, aku sudah sampai di rumah. Aku akan istirahat dan makan dengan baik juga meminum semua obatku. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Kyuhyun tersenyum mendengar tawa Siwon. Baru beberapa jam namun Kyuhyun sudah merindukan kekasihnya.

“Apa aku terdengar seperti seorang ibu-ibu yang cerewet? Aku hanya mengkhawatirkanmu.”

Annie hyung. Sudah ku katakan aku baik-baik saja. Kau istirahatlah, ku dengar Appa Choi juga sedang tidak dalam kondisi baik?”

Kyuhyun yang sedang manaiki tangga saat Siwon menelponnya menghentingkan langkah ketika ia sudah sampai di depan pintu kamarnya. Matanya memandang pintu kamar Jinra yang tertutup rapat. Kakaknya itu tidak terlihat sama sekali saat Kyuhyun sampai di rumah mereka.

Ne. Namun sudah lebih baik kau tidak perlu mengkhawatirkan appa. Jaga kesehatanmu saja. Aku benci melihatmu terluka baby.”

Kyuhyun tidak mendengar ucapan Siwon karena terlalu terfokus dengan pintu kamar kakaknya berharap Jinra membuka pintu dan menyambutnya dengan sebuah senyuman. Memeluknya sama seperti waktu-waktu lalu saat ia pulang dari rumah sakit.

Baby? Kau mendengarku? Hey, sayang? Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun mengerjap dan menatap ponselnya. Kyuhyun menyadari bahwa ia masih terhubung dengan Siwon. Kyuhyun menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang kering.

Ne Hyung.”

“Hey ada apa?”

Annie.” Kyuhyun sekali lagi menatap pintu kamar Jinra sebelum ia masuk ke dalam kamarnya. “Aku baik-baik saja.”

Tidak berapa lama pintu kamar Kyuhyun tertutup, pintu kamar Jinra terbuka menampilkan seorang gadis yang terlihat pucat. Jinra melangkah pelan dan berdiri di depan pintu kamar Kyuhyun. Ia memejamkan mata dan menghela nafas pelan. Tangan kanan Jinra terulur menyentuh tokoh game yang tertempel di pintu kayu bercat putih itu. Sisi lain dirinya ingin menerobos masuk lalu memeluk Kyuhyun. Jinra merindukan adiknya. Sangat. Namun sisi lain memilih untuk mengurungkan  niatnya.

Biasanya ketika Kyuhyun pulang dari rumah sakit, Jinra akan membuatkan makanan yang Kyuhyun suka agar adiknya itu senang dan cepat pulih. Jinra juga akan melakukan apapun yang Kyuhyun minta, sampai terkadang Kyuhyun dengan jahilnya memanfaatkan kakaknya dengan menyuruh ini dan itu.

Jinra tersenyum kecil saat ingatan berputar saat Kyuhyun bertingkah bagai putera mahkota yang suka memerintah. Kyuhyun akan kesal saat Jinra menertawakannya karena tidak bisa memerintah dengan tegas tanpa membuat ekspresi wajahnya menjadi lucu. Sebenarnya apapun ekspresi Kyuhyun, Jinra akan tertawa atau hanya tersenyum. Adiknya itu terlalu menggemaskan.

Hembusan nafas kembali terdengar. Ya. Menggemaskan. Hal inilah yang dahulu sempat membuat mereka berseteru, lebih tepatnya dirinya. Kyuhyun memang menggemaskan membuat siapa saja menyukainya hal yang membuat Jinra iri. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa ia cantik namun masih jauh dari Kyuhyun.

Jinra kembali menghela nafas dan menatap sekeliling rumahnya yang kali ini terasa sunyi, bukan sunyi yang menenangkan seperti biasanya. Namun dingin seperti tidak pernaha ada kebahagian di dalamnya. Kemudian Jinra lebih memilih kembali mengurung dirinya di kamar.

.

.

.

Pagi ini Siwon terbangun dengan wajah yang cerah. Semalam ia tidur dengan nyenyak setelah beberapa hari lalu ia hanya tidur beberapa jam karena memikirkan kesehatan Kyuhyun dan juga ayahnya. Siwon bahkan bermimpi bahwa ia sedang tertidur dan bangun dengan Kyuhyun di sampinya.

Senyum ceria terlukis di bibir Siwon ia mengusap wajahnya dan segera pergi ke kamar mandi lalu bersiap ke kantor. Ayahnya masih belum bisa bekerja jadi ada beberapa pekerjaan yang ia harus tangani. Setelah semuanya siap Siwon segera turun dan menemui keluarganya yang sudah berkumpul di ruang makan termasuk ayahnya.

“Bagaimana keadaan appa hari ini?”

“Seperti yang kau lihat Siwon-ah, appa merasa jauh lebih baik.” Siwon tersenyum kepada ayahnya dan bersyukur kesehatan ayahnya berangsur membaik.

Appamu masih harus banyak istirahat Siwon-ah. Jadi kau bekerjalah dengan baik hingga ia tidak perlu merasa khawatir dengan keadaan perusahan.” Nyonya Choi ikut mengeluarkan suaranya saat ia menyendokkan nasi untuk suami dan anak-anaknya.

Umma tenang saja. Siwon oppa yang terbaik.” Sahut Heerin.

Aigo, Rin-ah kau sekarang memilih appamu? Padahal dulu appa yang terbaik.” Siwon dan Heerin juga ibu mereka tertawa mendengar ucapan ayah mereka.

“Tenang saja appa, kau masih yang terbaik hanya saja di belakang oppa sedikit. Hanya sedikit. Pokoknya kalian yang terbaik.” Heerin mengacungkan kedua jempolnya.

“Lalu bagaimana dengan Kim Heechul?” Nyonya Choi tidak mau ketinggalan untuk menggoda putrinya.

Aigo. Ini pasti ulahmu oppa, jangan dengarkan umma, appa. Siwon oppa hanya mengada-ada.” Heerin bergerutu dan memicingkan matanya kepada Siwon.

Siwon berpura-pura bingung yang justru semakin membuat adiknya kesal. “Aku? Mengada-ada?  Aku hanya berbicara fakta. Kau sudah tau tapi sok jual mahal.”

“Aku memang mahal.”

Siwon dan Heerin masih saling menyahut dan berperang mata sementara orang tua mereka hanya tertawa melihat tingkah putra putri mereka yang sudah dewasa namun seperti anak remaja yang sedang bertengkar. Namun hal seperti ini selalu menjadi kebahagiaan bagi tuan dan nyonya Choi. Bagaimanapun kedua anaknya sudah dewasa. Akan ada saatnya mereka akan sarapan seperti ini dan bercanda dengan keluarga mereka masing-masing. Memanfaatkan waktu sebanyak mungkin adalah pilihan terbaik.

Siwon memandang orang tuanya juga adik perempuannya. Ia sedang berpikir bagaimana jika ayah mereka tahu keadaan yang sebenarnya. Diantara keluarga mereka hanya ayahnya dan ayah Kyuhyun saja yang belum mengetahui kebenaran tentang hubungan Siwon dan Kyuhyun. Apakah ayahnya akan menentang atau seperti ibunya, mendukung apapun keputusannya. Namun mengingat pembicaraan mereka beberepa minggu lalu bahwa ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk menolak saat Siwon menanyakan tentang dirinya dan Jinra, sepertinya hal itu tidak mungkin.

“Jika keadaan appa sudah lebih baik appa dan Cho adjussi mungkin akan mulai membicarakan pertunangan kau dan Jinra, Siwon-ah.”

Siwon yang sedang meminum air hampir saja tersedak mendengar perkataan ayahnya. Nyonya Choi dan Heerin seketika saling pandang dalam diam. Tuan Choi menyadari perubahan suasana yang terjadi di sekitarnya.

“Ada apa? Kalian seperti mendengar sesuatu yang salah.” Tuan Choi memandang satu persatu wajah anggota keluarganya.

Annie. Yeobo untuk saat ini bisakah hanya memikirkan kesehatanmu.” Jawab nyonya Choi.

“Benar appa. Tidak lucu jika kau sakit justru di hari-hari penting nanti. Serahkan saja semuanya pada Siwon oppa.”

Siwon tersenyum kepada ayahnya. “Heerin dan umma benar appa jangan memikirkan apapun saat ini. Aku tidak ingin melakukan apapun jika appa dalam keadaan seperti beberapa hari lalu.”

Aigo.. kalian berlebihan. Aku hanya sakit biasa.” Tuan Choi melanjutkan sarapannya dalam diam kali ini.

Nyonya Choi memandang wajah putranya yang murung setelah mendengar ucapan suaminya. Nyonya Choi sangat hapal dengan karakter suaminya. Jalan Siwon tidak akan mudah kedepannya. Jikalau pertunangan itu batalpun semua tidak akan baik-baik saja. Pasti akan ada sesuatu yang berubah baik dalam keluarganya maupun dengan keluarga Cho.

Di tengah suasana yang tiba-tiba hening dan hanya terdengar suara denting sendok dan piring yang saling bersentuhan Siwon merasakan ponselnya bergetar. Ia meraih saku jasnya dan mengecek ponselnya. Biasnya pagi-pagi asistentnya sering mengirim pesan singkat mengenai jadwalnya hari ini. Namun yang Siwon lihat justru hal yang membuat suasana hatinya yang sebelumnya mendung menjadi cerah bahkan dihiasi pelangi saat membaca sebuah pesan dari kekasihnya.

Aku merindukan Choi. SW.

Siwon tersenyum kecil lalu segera menyelesaikan sarapannya. Ia lalu berdiri dan pamit dengan orang taunya dan Heerin yang sedikit memutar mata. Adiknya pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi.

Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Siwon memakai earphone dan mendial nomor Kyuhyun. Sedikit lama namun saat Siwon mengeluarkan mobilnya dari garasi rumahnya suara kekasihnya sudah menemani perjalanannya.

******

Kyuhyun mengerjapkan matanya perlahan lalu menaikan selimutnya hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah. Bergulung dalam selimut tebal di pagi hari adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Kyuhyun, terlebih ia baru saja keluar dari rumah sakit. Kyuhyun merasa semalam tidurnya sangat nyenyak mengingat beberapa hari ia tidur di rumah sakit meskipun di kelas terbaik, tetap saja lebih nyaman di kamar sendiri.

Sinar matahari yang menghangatkan kamarnya dari tirai jendela yang terbuka menyadarkan Kyuhyun bahwa ibunya pasti yang melakikannya. Tapi ibunya tidak membangunkan Kyuhyun. Jam di nakas menunjukan pukul 07.30 tentu saja ibunya akan membiarkan Kyuhyun istirahat lebih lama. Meskipun begitu karena tidurnya sangat nyenyak maka Kyuhyun bangun lebih awal kali ini.

Setelah merenggangkan sedikit tubuhnya Kyuhyun meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Tersenyum menatap layar wallpapernya. Kyuhyun sudah merindukan kekasihnya hanya dengan menatap foto Siwon. Lihatlah Kyuhyun merasa lebih sentimental saat ini.

Berulang kali ia mengetikkan beberapa kalimat dalam kolom pesan namun Kyuhyun selalu merasa itu bukan kalimat yang tepat. Hingga Kyuhyun iseng menuliskan pikirannya saat ini.

Aku merindukan Choi. SW.

Kyuhyun terkekeh, ia hendak menghapusnya namun jari tangannya justru menekan tombol send membuat matanya melotot seketika.

Aigo, Cho Kyuhyun bodoh.” Kyuhyun memaki dirinya sendiri dengan berguling sambil memeluk selimut hinga tubuhnya terlilit. “Itu terlalu jelas, dan ini masih pagi.” Gerutunya.

Kyuhyun menghela nafas lalu meletakan ponsel di sampingnya. Ini memang masih pagi, tapi tidak ada larangan untuk merindukan seseorang kapanpun itu. Benarkan. Sekali lagi Kyuhyun menghela nafas hingga tiba-tiba saja ia terkejut dengan suara nyaring dari ponselnya. Menampilkan nama seseorang yang Kyuhyun pikirkan sejak ia membuka mata.

Sebelum menjawab Kyuhyun menyamankan tubuhnya dengan bersandar pada headboard ranjang lalu memelul guling yang sempat ia gigit untuk meredam rasa senangnya. Lihatlah sikapnya benar-benar seperti seorang gadis saat ini. Kyuhyun menghirup udara lalu menghembuskannya perlahan dan segera menjawa panggilan telpon dari Siwon.

“Hai Hyung.” Kyuhyun tidak dapat menahan senyumannya.

“Pagi sayang. Bagaimana dengan tidurmu? Nyenyak?”

“Hemm,,, kau sendiri?” Kyuhyun memainkan jari telunjuknya pada guling di pelukannya dengan membuat lingkaran berulang.

“Aku? Tentu saja, tapi lebih menyenangkan tidur dengan memelukmu.”

Kyuhyun teringat saat mereka berdua menginap di rumah sakit. Wajahnya memanas mengingat hal lain yang terjadi saat itu. Bagi Kyuhyun saat itu adalah waktu terbaik sepanjang ia pernah dirawat di rumah sakit.

“Tsk. Ini masih pagi hyung. Kau sudah di kantor?”

Annie. Aku dalam perjalanan. Bagaimana Jinra?”

Kyuhyun terdiam mendengar nama Jinra. Ia belum melihat kakaknya lagi sejak terakhir mereka berbicara di rumah sakit. Mungkin setelah ini ia harus turun dan menemui kakaknya. Bagaimanapun Jinra tidak bisa selamanya menghindari Kyuhyun.

“Sayang?”

“Aku akan menemuinya hyung. Tenang saja aku bisa menghadapinya. Bagaimana dengan Choi appa?”

Hening sejenak membuat Kyuhyun berpikir telah terjadi sesuatu dan Kyuhyun seperti takut mendengarnya.

“Terjadi sesuatu hyung?” Kyuhyun mendengar kekasihnya menghela nafas.

Annie. Hari ini kami sarapan bersama dan ia mengatakan sesuatu seperti pertunangan.”

Kembali hening sejenak, baik Siwon ataupun Kyuhyun tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Hanya terdengar hembusan nafas cepat dari keduanya. Hingga akhirnya suara Kyuhyun memecahkan keheningan di antara mereka.

“Oh. Lalu?” Hanya itu kata yang bisa Kyuhyun ucapkan. Kerja otaknya tiba-tiba saja melambat.

Mian, aku menghacurkan pagimua dengan hal ini.” Kyuhyun mendengar nada menyesal dalam suara Siwon dan itu membuat senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.

Annie. Bukankah kita harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini kedepannya. Selama hubungan kita seperti ini maka hal itu bukan sesuatu yang aneh.” Kyuhyun menggigit bibir bawahnya.

“Mungkin jika pertunangan itu terjadi, bisakan aku memilikimu sebelumnya. Aku,,,,”

“Hal itu tidak akan terjadi, aku akan segera mengatakannya kepada appa. Kau tidak perlu memikirkan apapun sayang mengerti?”

“Tapi…”

“Aku mencintaimu. Aku hanya akan mencintaimu. Tidak yang lain. Hanya kau Cho Kyuhyun.”

Nada kesungguhan dalam ucapan Siwon membuat Kyuhyun tersenyum. Jalan apapun dan sesakit apapun yang akan ia hadapi agar dapat bersama Siwon akan Kyuhyun hadapi. Kyuhyun tidak akan menyerah dengan mudah. Kyuhyun sudah memutuskannya.

Nado Hyung. Aku mencintaimu. Aku hanya akan hidup untukmu. Choi Siwon.”

.

.

.

T.B.C

Note:

Sudah satu tahun sejak FF ini terakhir di update… *hela nafas*

Ok… sebaiknya apapun yang kalian pegang saat ini untuk nimpuk aku coba di singkirin dulu… Kalo aku end krna timpukan kalian FF ini benar-benar akan discontinued… *ngemeng apa sih*

enggak tahu yah setelah satu tahun ga di update apakah memenuhi harapan kalian… aku juga gak tau tulisan aku sama atau enggak seperti tulisan sebelumnya,,,, gak tau juga apa masih ada yang inget sama FF ini dan mau baca lanjutannya…

gpp kalo gak ada yg baca… yang jelas seperti yang selalu aku bilang bahwa bagaimana pun dan selama apapun ff ini akan aku selesain krna ini FF pertama aku yg sebenrnya udah ada endingnya cuma jalan ke sana nya ajah yang susah… kadang salah masuk kamar, kadang ketemu alamat palsu kadang juga males jalan pengennya di supirin siwon … *jeger*

dan chap ini chap terlama yang aku buat… udah selesai dari kemarin sih entah kenapa ragu dan karena hari ini WonKyuday makanya aku keluarin… karena tahun ini WKc gak buat event….

jadi bagi kalian yang kebetulan lewat dan baca terima kasih…. makasih juga buat reader yg selalu nanyain lanjutan cerita abal-abal ini… makasih buat unvir sama wulwul yg rajin ngurusin blog,,, maafkan aku yg seperti lupa dengan rumah sendiri…

sebelum selesai ijinka aku nyanyi sedikit….. *hening*

Cong……ratulation…. congratulation selamat WonKyuday buat semuanya… congratulation… congratulation… uri WonKyu makin lengket,,,,

ok…

last but not least

see you next time and keep spreading WonKyu love!!!

Annyeong…

Advertisements

Author:

Me and My Dirty Little Secret Are Heaven ^^

36 thoughts on “Circle of Love – Take 8

  1. baca ff ini banyak feel nya u,u ..
    favorite banget sama ff ini, gimana ntr nasib cinta segitiga ini hiks TvT
    plisss buat bahagia si mom dad u,u
    next asap juseyooooo

  2. Blm pernah baca ff sebelumnya….pertama kali baca ketemunya wonkyu….walopun gtu rasanya nagih. Pingin baca terus lanjutan nya. Hehehe….ditunggu take selanjutnya. 😊love wonkyu couple

  3. Hadduuhhhhh aku ingin Wonkyu bahagia….
    Jadi takut berakhir menyedihkan.
    Belum terjadi apa-apa, tapi sudah nyesek bacanya.
    Pokoknya moga Wonkyu berakhir bahagia!!! tapi kalo liat di prolog, takutnya berakhir menyedihkan.

    Apapun yang terjadi, ini ff berkesan banget. Bikin ketagihan.
    Take 9, nggak bisa dibuka. Apa berarti di PW? atau emang blom lanjut? hehe… maklum reader baru jadi agak bingung.

    Pokoknya selalu ditunggu lanjutannya….

  4. Kangen banget sm ff ini..aku telaaat..hiks hiks..#abaikanaku
    Kyu emang nggemesin banget, pingin nimpuk jadinya hehe..
    Fighting Eonniee..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s