Posted in Angst, BL, Oneshoot, Romance

From Beijing With Love

FB_IMG_1428230171475

By. EllenaCho

Rate : T+

Warning : BL, OOC, Typos

Cast : Choi Siwon, Cho Kyuhyun and… You will know then.

 

-From Bejing With Love-

“Tahan tembakan. Target membawa sandera….”

“Regu A masuk dari sebelah kiri, no. 2 masuk dari depan bersama.”

“Bukankah lebih baik kita menyelamatkan sandera terlebih dahulu”

“Jangan tembak”

“SIIIWWOONNN!!!”

Dooorrrr…

Namja tampan itu terbangun dengan peluh membasahi seluruh wajahnya. Nafasnya terengah, tenggorokannya terasa kering akibat teriakannya tadi, kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya dengan cepat menyapu kesekeliling ruangannya yang gelap. Sepi, hanya desir angin dari jendela besar yang menerbangkan tirai putihnya.

Mimpi, hanya mimpi, semua hanya mimpi…?

Bukan, bukan hanya mimpi. Mimpi itu mimpi yang sama yang selalu di lihatnya sejak saat itu. Mimpi yang selalu membuat beban rasa bersalah semakin menggunung di hatinya. Lagi-lagi kenyataan pahit seolah memukul benteng indah yang dia gunakan untuk melindungi dirinya sendiri, benteng indah bernama kepalsuan. Dia sadar, dia sedang membohongi dirinya sendiri jika semua baik-baik saja dan hanya akan seperti mimpi buruk yang hilang jika kau membuka mata.

Tidak. Semua tadi bukan hanya sekedar bunga tidur, kejadian itu nyata. Dia adalah salah satu tokoh utama dalam adegan itu. Ya… Kisah itu pernah dia alami. Air mata kembali menuruni pipinya yang tirus, tempat dimana lesung pipi dalam enggan menampakkan diri sekarang. Tangannya meraih sebuah bingkai foto lama dari meja nakasnya. Citra 3 orang yang berpelukan dengan senyum hangat mereka. 3 orang yang sekarang hanya menjadi 2 orang.

Sekali lagi palu imajiner menghantamnya. Air mata masih membanjir di pipinya. Apa pedulinya jika dunia melihatnya menangis seperti perempuan. Air mata bukan hanya milik perempuan. Air mata adalah penghapus dosa, dan pria itu benar-benar berharap semoga memang benar seperti itu.

“Kami merindukanmu. Aku merindukanmu…. Semoga Tuhan memberimu tempat terindah. Dia masih merindukanmu, Hyung….”

Di luar, langit bersih dengan sejuta bintang, bertambah indah dengan 3 garis bintang jatuh di atas horizon. Dan pemuda itu masih menangis.

.

.

.

Sekian ribu kilometer, di belahan bumi lain, seorang namja masih menatap hamparan kilau cahaya matahari yang dibiaskan oleh air sungai dibawah tempatnya berdiri dengan matanya yang indah. Membuat binar-binar itu terpantul di bayangan korneanya yang bulat besar. Mata coklat itu basah. Air mata, apalagi? Hanya mereka teman setianya disini. Hanya mereka yang mengerti dirinya.

Langit sungguh cerah, dengan udara yang cenderung panas daripada hangat, tapi tidak dengan dirinya yang justru menggigil kedinginan, tubuhnya bergetar pelan, di tangannya tergenggam bingkai perak usang kesayangannya. Citra 3 orang berpose aegyo yang sama sekali tidak imut, well kecuali untuk dirinya. Hatinya beku, bahkan cahaya matahari seakan tak mampu menyentuh nya. Perlahan tangan putihnya menyapu 2 sungai yang mengalir di pipinya. Mata bulatnya terpejam, mencoba merasakan desir-desir angin yang menerbangkan poni di surai coklatnya.

Seulas senyum lembut terlukis di bibirnya, ketika dalam kegelapan dia masih melihat hal yang sama, hal yang rasanya sudah berabad lalu terjadi. Hahaha… hiperbola.  Kenangan itu masih ada dan akan selalu ada. Tak peduli akan menjadi berapa jumlah orang yang masih berdiri, semua akan tetap ada dalam bingkai terdalam otaknya. Dia tahu tak ada gunanya menyesali semua yang telah terjadi. Tak ada gunanya, karena dia sendiri tak yakin apakah dia masih memiliki hati untuk merasakan sakit yang sama.

Tapi, jika dia memang sudah tak memiliki hati, kenapa rasa sakit itu masih menderanya, sesak yang menumpahkan air mata masih membuatnya sakit? Bukankah itu hanya seakan bukti bahwa dia masih manusia. Manusia yang memiliki batas pada setiap kesabarannya.

Dan kali ini dia menyerah, dia ingin menangis untuk sekejap saja dan dia akan tersenyum untuk seterusnya seperti yang pernah orang itu inginkan.

“Kau akan selalu ada di hatiku, Hyung. Apapun yang terjadi, aku masih merindukanmu…”

Sekali lagi mata indah itu terpejam. Hari masih begitu cerah, tapi namja itu masih menangis, membuat kilau matahari terpantul di dua sungai di pipinya.

.

.

.

Manusia tak akan pernah tahu jalan hidup mana yang akan mereka lalui. Tapi apapun itu, jalan itu akan selalu menjadi jalan yang terbaik.

Choi Siwon menyeret kopernya sepanjang jalan setapak itu. Dia baru saja mendarat di kota ini satu jam yang lalu. Sebenarnya akan lebih baik jika dia mencari tempat menginap terlebih dahulu atau apa, hingga dia tak perlu membawa koper sialan itu kesana kemari. Tapi lagi-lagi mari kita salahkan kekeras kepalaannya yang memutuskan mengunjungi seseorang terlebih dahulu. Sahabatnya.

Tak ada yang tau bagaimana perasaan Siwon, saat kemarin atasannya menugaskannya ke luar negeri lagi. Siwon tak peduli kemana pria tua itu akan membuangnya kali ini, tapi begitu telinganya mendengar tempat yang disebutkan orang itu membuat dunianya kembali membeku.

Beijing…!

Kota itu, tempat sahabatnya beristirahat. Dan disinilah dia sekarang, di suatu pemakaman sunyi di tepian kota Beijing. Mata hitamnya memandang nama-nama yang terukir di setiap nisan yang dilaluinya. Sakit yang menusuk kembali menghujam hatinya. Hah…. sesak itu kembali. Pemuda tampan itu masih melangkah, hingga kakinya berhenti di salah satu nisan di bawah pohon maple besar yang di kelilingi lautan bunga rumput yang indah.

Choi Siwon terdiam, membaca setiap huruf yang terukir di batu dingin itu dalam diam. Di bungkukkannya dalam-dalam badannya, memberi salam untuk jiwa yang terbaring disana.

“Ni hao, Hyung. Aku datang. Masih tetap sendirian Hyung” Choi Siwon menengadahkan kepalanya ke langit biru di atasnya, menahan setiap butiran yang mulai berkumpul di manik hitamnya.

“Maafkan aku, aku baru mengunjungimu sekarang. Divisiku yang sekarang membuatku harus terlempar ke berbagai macam negara kau tahu?”

“Hah… Setelah.. setelah kau pergi, aku mengajukan pindah divisi, bukan aku tak ingin mengingatmu, bukan Hyung… hanya saja aku ingin sedikit melupakan beban rasa bersalah dihatiku”

“Aku tahu, kau mungkin akan mengatakan jika itu bukan salahku, tapi tetap saja rasa ini tidak akan semudah itu hilang dari hatiku…”

“Aku menyesal, tentu saja. Kau satu-satunya sosok kakak, sahabat, yang berarti untukku. Andai saja dulu kau tidak sok pahlawan dengan menyelamatkanku, hahahaha…” Butir-butir itu mengalir di pipi tirus Siwon.

“Sekarang semua tak lagi sama Hyung. Tak akan pernah sama lagi tanpamu, kau tahu? Kejadian itu selalu menghantuiku. Katakan padaku apa yang harus aku lakukan?”

“Ah… maaf, aku menangis” Siwon mengusap air mata dipipinya dengan tangannya.

Sungguh, dia sangat merindukan sahabatnya itu, sudah begitu lama dia mengharapkan pertemuan ini, tapi sekali lagi-lagi seolah hidup mempermainkannya, pertemuan yang dia harapkan bukanlah pertemuan antara orang hidup dan batu nisan.

“Aku merindukanmu Hyung. setelah kau pergi tak ada lagi orang cerewet yang mengomeliku ini itu, tak ada lagi sarapan seenak buatanmu dan tak ada lagi senyuman hangat dari bintangmu”

“Kau tahu? Bintangmu itu jahat sekali Hyung, dia meninggalkanku. Apa kau tahu dimana dia sekarang? Aku sungguh ingin bertemu dengannya…”

“Ijinkan aku menemukan kembali bintangmu Hyung, akan aku kembalikan sinar untuknya” Choi Siwon masih menangis, rasa bersalah ini sudah tak tertahankan lagi. Seharusnya dia yang terbaring di bawah tanah. Bukan sahabatnya ini, seharusnya sahabatnya ini berbahagia dengan…

Ah.. mengingat sosok manis bermata bulat itu membuat hati Siwon dilema, antara desir halus dan tusukan rasa bersalah. Sejak kejadian 5 tahun lalu itu Siwon sama sekali tak pernah bertemu sosok manis itu lagi.

“Hari sudah sore Hyung, aku harus mencari tempat menginap. Aku akan segera mengunjungimu lagi dan bisakah kau sampaikan pada bintangmu? Biarkan aku menemukannya, hehehehe…”

Pemuda tampan itu sekali lagi membungkuk dalam. Menarik nafas panjang sebelum berbalik berniat melangkah pergi. Hingga semua berhenti. Hanya menyisakan desir halus angin yang menerbangkan guguran daun maple.

Pemuda manis itu berdiri 20 langkah dari tempat Siwon, membawa sebuket bunga Lily putih. Mata bulat itu masih sama, surai coklat itu masih tampak begitu lembut dimainkan angin, hanya saja kilau caramel itu tak lagi berbinar hangat, hanya sorot dingin dan hampa, wajah kekanakan yang selalu tersenyum itu kini hanya berupa pahatan es, dingin. Mata itu menatap Siwon dengan kilau yang tidak bisa di artikan. Membuat lidah Siwon kelu. Berbagai rasa, berjuta kata yang sudah dia susun jika bertemu dengan orang ini menguap begitu saja. Bibirnya hanya mampu bergetar lirih.

“Kyu….”

.

.

.

3 orang pemuda itu berjalan berdampingan. Tak peduli pada lalu lalang massa di stasiun kereta padat itu yang tentu saja terganggu dengan posisi mereka.

Pemuda berlesung pipi, melingkarkan lengannya untuk pemuda bermata bulat disisi kanannya dan pemuda berwajah oriental disisi kirinya. Senyum terkembang di bibir mereka. Sesekali si mata bulat terlihat memukul kepala si pemuda berlesung pipi dengan wajah merona merah. Sedangkan pemuda oriental itu hanya tersenyum simpul.

“Kalian akan mengirimiku surat kan?”

“Memangnya kau pikir kami akan pergi liburan Kyu?”

Pllaaakkkk…

“Aww… Kyu, kau sudah ketularan penyakit orang ini yang suka sekali memukul kepalaku” Choi Siwon meringis, mengusap-usap kepalanya.

Pemuda yang dipanggil ‘Kyu’ tadi hanya mendelik sebal pada si tampan yang masih meringis memandangnya.

“Tentu saja Kyu… kau tak perlu khawatir, kami akan mengirimimu surat, setiap hari kalau kau mau”

Suara tenang itu membuat Kyuhyun menghentikan delikannya pada Siwon dan berubah merona merah.

“Eheeemm… ya.. ya.. kami akan mengirimimu surat setiap hari, karena aku yakin, sampai disana nanti, orang ini sudah pasti akan sibuk mencari kertas surat untukmu”

Pplllaaakkk……

Kali ini tangan si oriental yang bekerja memukul kepala Siwon.

“Ya Tuhan… kenapa mereka suka sekali memukul kepalaku”

“Tsk… tsk.. tutup mulutmu Siwon” Kyuhyun berdecak kesal.

“Hei…. dimana salahku? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya”

Kyuhyun kembali melemparkan tatapan membunuh yang semakin tidak menyeramkan karena rona merah yang telah sampai ke telinganya.

“Hentikan Siwon-ah, jangan menggodanya lagi”

“Ahh.. baiklah, jadi? Apa ini saatnya aku meninggalkan kalian sebentar agar kalian bisa mengucapkan salam yang…”

“CHOI SIWOOONNNN…..”

Siwon menutup telinganya dengan telapak tangannya saat dua suara itu berteriak bersama. Kembali tersenyum polos dengan mengusap tengkuknya.

“Berjanjilah kalian akan kembali dengan selamat”

“Jaga dirimu baik-baik Kyu”

“Harusnya aku yang berkata seperti itu Hyung”

“Hei.. hei.. kalian, jangan lupa.. ada aku disini”

“Kau juga Siwon, jaga dirimu”

“Tsk… Kyu, kau memanggil orang ini Hyung dan kau hanya memanggil nama padaku?” Kyuhyun memutar bola matanya malas. Ingin rasanya dia mengubur Siwon hidup-hidup saat ini karena pertanyaan bodohnya itu.

Ya Tuhan… sebenarnya Siwon sudah tahu jawabannya, tapi tetap saja pemuda tampan itu masih saja suka menggoda Kyuhyun. Alasannya sederhana, karena Kyuhyun menarik untuk di bully, alasan yang membuat Siwon mendapatkan benjolan besar di kepalanya karena pukulan Kyuhyun.

.

.

Peluit panjang kereta membuat ketiga pemuda itu terdiam. Masing-masing menatap dalam pada mata sahabat-sahabatnya. Mereka memang tak pernah terpisah sejak masih pakai popok. Dimana ada Kyuhyun pasti ada 2 lainnya, begitupun dengan Siwon. Hingga tugas mengabdi untuk negara bagi Siwon dan sahabat orientalnya itu membuat mereka berpisah. Perpisahan pertama sejak mereka berdua memutuskan untuk bergabung dalam kemiliteran. Terjadi sesuatu yang darurat di perbatasan dan mereka diharuskan untuk ikut membela negara.

“Sepertinya sudah waktunya kami berangkat” suara tenang itu memecah keheningan di antara mereka. Pemuda itu membenahi letak ransel di punggungnya dan bersiap melangkah ketika tangan Kyuhyun menahannya.

“Hyung…”

“Aku akan baik-baik saja Kyu”

“Aku akan menjaganya untukmu Kyu” Siwon tersenyum, kembali melingkarkan lengannya di bahu si oriental.

“Aku mohon… kembalilah dengan selamat”

“Akan aku pastikan Siwon kembali dengan selamat Kyu”

Kyuhyun tertegun, tunggu… apa maksudnya?? Dia ingin mereka kembali, bukan hanya Siwon.

“Kami pergi”

Dua orang itu menaiki gerbong kereta yang mulai bergerak perlahan, bersandar di pintu kereta menatap Kyuhyun yang masih berdiri diam di peron.

.

.

“Kau menyukainya Hyung?”

“Akan aku katakan padanya jika kita pulang nanti Siwon-ah”

“Kita pasti akan pulang Hyung”

“Akan aku pastikan kau akan pulang untuknya Siwon-ah, jika aku tak bisa kembali…”

Pemuda oriental itu menyandarkan kepalanya, menikmati pemandangan luar yang mulai bergerak cepat.

“Hyung…”

“Jangan pasang wajah seperti itu Siwon. Kau menggelikan”

Choi Siwon masih membeku, memandangi wajah sahabat seumur hidupnya itu dalam diam. Perasaan apa ini? Apa maksud kata-kata Hyung nya itu. Pikiran Siwon masih terus berlomba diiringi deru gesekan kereta dengan rel yang bagai musik menyedihkan untuknya.

Cho Kyuhyun tertegun di peron tempatnya berdiri. Mata bulatnya masih mengikuti kereta yang mulai menghilang di tikungan. Entah kenapa detak jantungnya berkali lebih cepat. Firasat ini… Semoga bukan tanda bahaya…

Tuhan…. lindungi mereka… lindungi dia….

.

.

.

Taman itu sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di sudut-sudutnya. Dua orang manula dan dan sebuah keluarga kecil. Choi Siwon mencengkeram tas nya erat-erat. Sesekali mencuri pandang pada pemuda manis di sampingnya itu.

‘Ayolah Siwon, katakan sesuatu…’

“Bagaimana kabarmu Siwon?” Suara lembut itu membuat Siwon tersentak. Salahkan pikirannya yang terlalu sibuk sendiri.

“Baik. Kau?”

“Seperti yang kau lihat Siwon, aku masih hidup”

Siwon termangu. Kata-kata Kyuhyun semakin menambah himpitan di dadanya. Begitu terpuruknya kah Kyuhyun hingga dia menyesal jika dia masih hidup?

“Menjalani hidupku sendirian disini. Kau tahu… Kadang aku berhayal andai kalian masih ada bersamaku” Kyuhyun berucap lirih. Pemuda manis itu tak tahu apa yang terjadi di hatinya. Pertemuannya dengan Siwon membuka luka lama yang belum sepenuhnya kering.

Tidak. Tidak. Kyuhyun tidak membenci Siwon. Semua yang terjadi bukan salahnya. Hanya saja dia tidak mengira jika bertemu dengan pemuda ini kembali membuat kenangan itu terbuka sekali lagi.  Dulu dia pergi bukan karena dia membenci Siwon, dia pergi hanya untuk mencoba menyembuhkan kehilangan hatinya. Tapi nyatanya sampai saat ini yang dia dapat hanya kehampaan yang semakin menjadi.

“Kyu. Aku… Aku…”

“Tak apa-apa Siwon, tak ada yang perlu di sesali kan? Semua tak akan kembali seperti semula dengan menyesal”

Bibir Siwon kembali terkunci. Ya Tuhan… Jika dia bisa, dia ingin mati saat ini juga dan menukar jiwanya dengan senyuman Kyuhyun. Di pandanginya wajah sayu Kyuhyun, sudah berapa lama dia tak tersenyum…? dan kemana perginya binar-binar indah di matanya dulu. Hati Siwon kembali teriris, harusnya saat itu dia yang mati.

“S-syukurlah kau selamat Siwon-ah. A-aku mohon… j-jaga Kyuhyun…”

“Tidak Hyung, kita akan pulang Hyung, buka matamu… ingat, kau akan mengatakan perasaanmu pada Kyuhyun kan. Aku mohon buka matamu. Kita akan pulang Hyuungg….”

Bukan, ini tidak akan terjadi, orang ini bukan sahabatnya, sahabatnya masih bernafas, bukan orang ini. Siwon tahu, dia sedang membohongi dirinya sendiri. Ya… Dia gagal, gagal memenuhi janji akan membawa pulang sahabatnya. Saat tubuh itu memeluk tubuh Siwon, menjadi tameng untuknya dari terjangan peluru, saat itulah dunia Siwon pecah. Hanya teriakan keputusasaan, yang mengiringi senyum tulus yang masih terukir di bibir pucat dalam pangkuannya itu.

“Won… Siwon… Choi Siwon…”

Pemuda tampan itu tergagap. Kilasan-kilasan itu datang lagi membuat pipinya basah oleh air mata. “Kau menangis..?”

“Ah.. ini, a-aku…” Siwon mengusap air mata di pipinya dengan lengan bajunya. Diperhatikannya raut muka Kyuhyun yang menggelap.

“Kyu…dengar…”

“Well… sepertinya sudah semakin sore. Aku harus pergi” pemuda manis itu berdiri, membenahi mantel coklat yang dipakainya.

“Apakah kita bisa bertemu lagi Kyu?”

Cho Kyuhyun berbalik, menatap mata hitam yang masih memandang matanya dalam-dalam. Ada desir halus di dadanya saat pandangan mereka bertemu. “Kau tahu Siwon, dia memberimu hidupnya bukan untuk menangis, jadi.. aku mohon… jangan kau sia-siakan” Cho Kyuhyun mengucapkan kalimat itu selirih mungkin, menekan perasaannya sedalam yang dia bisa.

Pemuda itu berbalik, melangkah tenang, menengadahkan kepalanya ke langit senja di atasnya, dengan senyum lembut terulas di bibirnya. Choi Siwon masih terpaku di tempatnya, menatap punggung ringkih Kyuhyun yang mulai menjauh. Namja tampan itu mengerling kesisinya, seolah matanya menangkap bayangan yang bersinar lembut itu sedang memberi semangat padanya.

Siwon terkekeh pelan. Senyum mantap kembali terlukis di bibirnya. Ya.. kini dia tahu tujuannya. Kyuhyun. “Kita pasti akan bertemu lagi, BabyKyu…”

.

.

.

Sejak pertemuan waktu itu, dan seperti yang dikatakan Siwon, itu memang bukan pertemuan terakhir mereka. Entah itu makan siang atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Tak apa, Siwon tahu dan amat sangat mengerti jika menaklukkan Kyuhyun memang bukan jalan yang mudah dan Siwon, bukanlah orang yang mudah menyerah pada tantangan.

“Kyu, senang bertemu denganmu disini”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dari kertas-kertas yang tersebar di meja cafe itu. Sebelah alisnya terangkat saat hal pertama yang dilihatnya adalah lesung pipi milik seorang pemuda.

“Tak sengaja atau kau memang mengikutiku??”

Choi Siwon terkekeh pelan. “Apapun itu, tapi setidaknya ijinkan aku duduk dan tawari aku makan”

“Terserah kau mau apa dan apa aku terlihat seperti pelayan cafe yang harus menawarimu makan?”

Siwon tertawa, Kyuhyun memang berubah, dengan lidah yang semakin tajam. Tapi itu semua tak masalah untuknya, karena Kyuhyun yang tak menolak kehadirannya sudah lebih dari cukup bagi Siwon. Dan pertemuan seperti itu lagi-lagi bukanlah pertemuan yang terakhir, karena entah bagaimana Siwon selalu bisa menemukan dengan sengaja ataupun tidak dimana pemuda Cho itu berada. Perasaan yang dia rasakan untuk pemuda manis itu mulai membuatnya heran. Rasa yang Siwon sendiri ragu untuk memberi nama apa?

Choi Siwon menyukai menatap mata bulat yang mulai bisa menyipit tersenyum itu. Suka memandang bibir peach yang meski tipis tapi sudah mengulas senyum lembut. Ah… Siwon mulai menyukai semua hal tentang Kyuhyun.

.

.

“Apa ada yang salah di wajahku Siwon…?”

Suara Kyuhyun membuat Siwon tersentak. Pemuda tampan itu buru-buru memalingkan wajahnya. Well… ketahuan memandangi wajah seseorang dengan tatapan intens bukan hal yang patut di banggakan.

“Eum… aku tak apa-apa Kyu, tak apa”

Kening Kyuhyun berkerut, tapi tak lama, karena pemuda manis itu kembali asyik memandang langit senja yang memerah. Ya.. Pertemuan mereka untuk kesekian kalinya. Siwon dan Kyuhyun memilih untuk duduk di salah satu sudut taman. Dan ya… lagi-lagi bukan pertemuan yang tak disengaja.

“Kau tahu Siwon? Aku suka sekali pada tempat ini, karena tempat ini mengingatkanku pada taman favorit kita dulu”

Siwon bungkam, dia tak berani mengucapkan sepatah katapun. Pemuda itu tahu kemana arah pembicaraan ini. “Kau ingat, saat kita 7 tahun? Bertiga berbagi bekal piknik hahaha… piknik yang konyol, karena nyatanya kita hanya pergi ketaman yang jaraknya hanya 1 blok dari rumah kita”

“Atau saat kita Junior School. Kita memaksa orang itu untuk membolos bersama karena sedang ada peluncuran game terbaru ditaman, dan ditolak mentah-mentah olehnya, tapi tetap saja akhirnya dia kalah oleh tatapan memohonku”

“Dan saat kelulusan Senior High School kita, saat kita bertiga merayakannya di taman itu juga dan berjanji akan membawa persahabatan kita sampai mati. Hahaha… Aku tak menyangka dia akan menepati janji itu”

Air mata kembali menuruni pipi Kyuhyun. Sungguh… Kyuhyun tidak ingin membuat Siwon merasa bersalah atau apa. Dia hanya ingin sedikit mengungkapkan entah rasa apa yang ada di hatinya. Sejak dia pergi, setelah kejadian nahas itu Kyuhyun tak pernah lagi punya teman untuk berbagi. Dan kini Siwon ada disini untuknya, dia hanya ingin membagi beban di hatinya.

“Kyu…”

Hanya kata itu yang mampu di ucapkan bibir Siwon. Pemuda itu perlahan mengulurkan tangannya, merengkuh pemuda manis itu. Rasa takutnya mulai berganti rasa lega saat Kyuhyun tak menolak sentuhannya. Dia telah berjanji tak akan pernah membiarkan Kyuhyun menangis lagi. Melihat air mata nya sama saja seperti menaburkan garam di luka yang belum kering.

Pandangan matanya menangkap sosok yang bersinar lembut itu di antara pepohonan. Sosok yang memberinya isyarat agar Siwon mempererat dekapannya. Dan Choi Siwon pun semakin menenggelamkan Kyuhyun dalam pelukannya.

.

.

.

Tak ada lagi yang di inginkan Choi Siwon di dunia ini selain senyuman Kyuhyun. Dan seperti saat ini, tak ada seorangpun atau apapun yang bisa melukiskan bahagia hatinya. Binar dimata caramel itu saat menatap keramaian tempat mereka berada sekarang, walaupun masih belum seterang kilau 6 tahun lalu, tapi demi setiap abs yang ada di perutnya itu sudah lebih dari cukup bagi Siwon.

Pemuda tampan itu mengekor Kyuhyun yang berjalan di depannya. Mereka memutuskan mengunjungi pasar malam tradisional yang biasa di gelar saat musim gugur seperti ini. Mata hitam Siwon tak pernah lepas dari pemuda manis itu. Setiap gerak Kyuhyun dia rekam sebaik mungkin dengan memorynya. Bagaimana bibir merah itu melengkungkan senyuman saat memandang ikan-ikan kecil yang di jual disana. Saat mata bulat itu semakin membola ketika menatap kembang gula merah muda yang menggiurkan. Dan membuat Siwon tertawa ketika mata itu menatapnya memelas minta di belikan.

Mereka terus berjalan. Sesekali berbagi kembang gula di tangan Kyuhyun. Ingin rasanya Siwon berteriak saking senangnya dia. Bahkan kerlip bintang di atas sana tak sebanding dengan indahnya senyum Kyuhyun. Dingin angin Beijing entah kenapa terasa hangat bagi Siwon. Tangan mereka yang sesekali bersentuhan itu menguarkan panas yang menggoda. Kelingking yang semula hanya berdekatan itu mulai terjalin, di ikuti jari manis, hingga telunjuk yang menyatu dalam genggaman sempurna.

Deg.. deg…

Detak jantung nya yang menggila membuat Siwon mengernyit. Perasaan aneh ini datang lagi dan ketika itulah dia sepenuhnya paham apa yang dia rasakan. Yeah… Choi Siwon mencintai Kyuhyun. Bukan cinta karena rasa bersalah. Perasaan ini, rasa yang datang kepadanya saat bertemu kembali dengan sahabat kecilnya itu. Rasa yang sungguh membuat Siwon nyaman, satu rasa yang membuat Siwon yakin jika dia menginkan Kyuhyun.

Rasa ingin melindungi dan memberikan semua yang terbaik untuk pemuda manis itu. Perasaan ingin menjaga dan membuat Kyuhyun tak akan pernah merasakan sedih untuk kesekian kalinya. Cho Kyuhyun menghentikan langkah nya, membuat Siwon yang berjalan di sampingnya menatapnya heran.

“Kyu… kenapa?”

“Tak kusangka kau akan mengajakku ketempat ini Siwon”

Siwon tersenyum, menatap mata bulat Kyuhyun yang menatapnya lekat-lekat. Sekali lagi dia tersihir oleh tatapan ala boneka itu.

“Aku curiga kau kesini bukan untuk bertugas, karena nyatanya kau lebih sering menguntit ku daripada targetmu”

“Kalau jawabannya iya, apa yang akan kau katakan?”

“Eh…”

Kyuhyun tertegun. Apa dia tidak salah dengar tadi? Apa si Choi itu mengatakan sesuatu yang menyebabkan desir-desir halus di hatinya? Dua mata berbeda warna itu bertemu dalam satu tatapan dalam. Coklat karamel dan sekelam malam yang mencoba mencari kedalaman hati masing-masing. Hingga jarak yang ada perlahan mulai terkikis. Mempertemukan bibir itu dalam satu kecupan hangat.

Dada Choi Siwon seakan ingin meledak ketika merasakan kulit lembab itu di bibirnya. Detak jantung yang menggema hingga ketelinganya hampir membuat Siwon tuli. Pemuda tampan itu menutup kedua matanya. Menikmati setiap perasaan yang memang di inginkan oleh jiwanya.

Mata bulat Cho Kyuhyun terpejam ketika hembusan nafas Siwon menyapa wajahnya. Desir-desir halus didadanya mulai menggila saat bibir tipis Siwon menyentuh bibirnya. Entah kenapa dia merasa ini benar karena tubuhnya menginginkan ini.

Kecupan Siwon terasa begitu halus tak jauh beda dengan… kecupan orang itu….

Kyuhyun mendorong dada Siwon sekuat tenaga, memutuskan ciuman mereka ketika kenyataan tentang hal itu menampar otaknya. Bodoh, apa yang baru saja dia lakukan? Ini salah. Tidak seharusnya mereka berciuman. Tidak. Tidak ada apapun di antar mereka. Pemuda manis itu perlahan mundur. Iris coklatnya bekabut.

“Kyu…”

Kyuhyun menggeleng pelan. Masih terus menjauhi Siwon yang menggapainya. Pemuda manis itu berbalik dan berlari sekuat tenaga. Yang dia perlukan hanya membuat jarak sejauh mungkin dengan Choi Siwon. Dan Kyuhyun masih terus berlari. Membawa hatinya yang entah kenapa terasa semakin hampa dan sakit.

‘Apa yang harus aku lakukan?’

Choi Siwon tersentak ketika tangan Kyuhyun mendorong dadanya, setelah tadi dirinya berhasil memegang tangan Kyuhyun. Semakin teriris ketika memandang tatapan kecewa dari bola mata Kyuhyun. Tangannya berusaha meraih pemuda manis yang terus mundur perlahan itu. Mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Ya Tuhan… Ingin sekali Siwon mengubur dirinya sendiri ketika melihat iris itu berkabut oleh air mata.

Sungguh, dia tak bermaksud membuat Kyuhyun kecewa. Tapi, rasa cinta yang ada membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali hanya menatap punggung Kyuhyun yang berlari menjauh. Sakit itu terasa lebih dalam dari sebelumnya.

‘Apa memang sudah tak ada tempat lagi untuknya….?’

.

.

.

Ruangan itu gelap, sepi, hanya tirai-tirai putih yang tertiup angin. Tidak, ruangan itu tidak kosong. Seorang namja manis masih meringkuk dengan kepala di antara dua lututnya. Bahunya bergetar hebat. Cho Kyuhyun sedang menangis. Rasa sesak yang ada di hatinya hampir membuatnya gila. Pemuda itu memukul-mukul dadanya, mencoba mengurangi nyeri yang ada.

Entahlah, begitu banyak rasa yang bercampur di hatinya membuatnya tak tahu lagi apa yang sebenarnya dia inginkan. Sejak berlari pulang dari pasar malam, Kyuhyun masih menangis. Setiap ingatan yang singgah di otaknya tentang Siwon membuatnya semakin tidak mengerti. Belum lagi rasa bersalah karena dia pikir telah mengkhianati  cinta yang dia simpan untuk orang itu.

Ya Tuhan… ingin sekali Kyuhyun berteriak.

“Bukanlah aku pernah berkata padamu untuk tidak pernah menangis lagi Xiannie”

Deg.. Suara itu…

Kyuhyun mengangkat kepalanya ketika mendengar suara itu. Suara yang begitu lama dia rindukan. Suara tenang yang selalu membuatnya nyaman.

“H-hyung.. h-hyung…”

Kyuhyun tergagap, memandang tak percaya pada sosok yang membiaskan sinar lembut di hadapannya itu.

‘Ya Tuhan… Jika ini mimpi…kumohon jangan bangunkan aku….’

“H-hyung.. Benarkah itu kau?”

Sosok itu mengernyit bingung. “Astagaa. Kyu, aku tak tahu kau tak lagi mengenaliku??” Sekuat tenaga Kyuhyun menubrukkan dirinya kearah sosok itu. Membuatnya sedikit terhuyung kebelakang. “Wow… wow… pelan-pelan Kyu”

“Hyung.. Aku merindukanmu”

“Benarkah?” pemuda oriental itu tersenyum lembut. Membuat sosoknya semakin bercahaya. Dia menangkup pipi Kyuhyun yang basah oleh air mata. Menghapus setiap tetesan yang mengalir dengan ibu jarinya.

“Aku mencintaimu Hyung” Kyuhyun berbisik lirih. Terus menggumamkan kata maaf berulang ulang. Pemuda oriental itu tersenyum, mengecup dua kelopak mata Kyuhyun yang menolak terpejam.

“Kau hanya berfikir jika kau mencintaiku Kyu”

“Apa maksudmu Hyung? Aku benar-benar mencintaimu”

“Bisa kau tutup matamu??”

Kyuhyun menggeleng. Dia tak mau jika dia membuka mata nanti sosok itu akan menghilang sekali lagi.

“Aku mohon.. pejamkan matamu, aku tak akan kemana-mana”

Pemuda manis itu memejamkan matanya perlahan, menggenggam erat tangan pemuda di depannya itu dengan erat. “Katakan padaku siapa yang kau lihat?”

“Si…won…”

Kyuhyun membuka matanya ketika kata itu terucap dari bibirnya. Pemuda itu cepat-cepat menggeleng. Tidak, tidak mungkin dia mencintai Siwon. Cintanya bukan untuk Siwon.

“Kyu…”

“Tidak. Hyung, tidak… ini tidak benar”

“Itulah yang di katakan hatimu Kyu”

“Aku mencintaimu Hyung”

“Cintamu untukku…tak sama dengan cintamu untuk Siwon…” pemuda oriental itu masih mengelus pipi Kyuhyun dengan ibu jarinya.

“Dunia kita berbeda, kau mencintaiku di salah satu satuan waktu mu yang telah lalu. Sedangkan Siwon, kau mencintainya lebih dari yang kau tahu Kyu”

Kyuhyun masih terus menggeleng. Dia masih berusaha menyangkal semua. Penyangkalan yang entah kenapa justru terasa semakin menyakitkan.

“Aku mohon. Jujurlah pada hatimu Kyu”

“Dia yang membuatmu…”

“Tidak Kyu..” sosok yang masih bersinar lembut itu, memotong ucapan Kyuhyun.

“Tidak ada yang perlu kau salahkan. Aku memilih kematianku sendiri saat itu dan aku tidak menyesal sudah membuat Siwon hidup untuk menjagamu”

“Hyung…”

“Jujurlah pada dirimu Kyu, aku hanya ingin kau bahagia dan aku yakin Siwon mampu membahagiakanmu”

Kyuhyun memeluk pemuda di depannya itu dengan erat. Menyamankan diri di dekapannya yang perlahan mulai memudar. Matanya kembali terpejam dengan butir-butir yang menuruni pipinya. Hingga pelukannya tak menyisakan apapun kecuali ruang hampa. Pemuda manis itu membuka matanya. Menatap ruangan gelap yang kembali sepi. Tak jauh beda dengan hati dan jiwanya.

.

.

.

Setelah kejadian di pasar malam itu, Siwon selalu berusaha menghubungi ataupun mencoba untuk menemui Kyuhyun seperti pertama kali dirinya menemukan Kyuhyun yang selalu dikatakan ketidak sengajaan. Tapi sepertinya pemuda manis seakan menghilang di telan bumi. Hal yang membuat Siwon ingin meledak karena frustasi.

“Kyu…. kau dimana?? Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan perasaanku”

Sosok yang bersinar lembut itu terdiam di tempatnya. Sesorang yang pernah membuat Siwon masih bisa bernafas dengan baik hingga saat ini, hanya bisa menatap sedih, bukan ini yang dia inginkan. Seharusnya kedua orang yang dikasihinya bisa dengan mudah menyampaikan perasaan mereka masing – masing. Sosok itupun menghilang bersama hembusan angin dengan setetes air mata dari ujung mata sipitnya.

Siwon masih duduk diam di salah satu bangku taman, otaknya memutar kembali saat dimana dirinya melakukan kenekatan hingga berujung Kyuhyun yang kini menghindarinya. Andai ia bisa menahannya sedikit saja, mungkin semua tidak akan seperti ini.

“Kyu.. kau dimana? Aku sungguh-sunguh dengan perasaan untukmu ini…..”

Sedangkan dilain tempat sosok pemuda cantik yang di cari kini masih mengurung dirinya. Dia masih tidak mempercayai hatinya. Ia masih butuh waktu untuk menerima apa yang terjadi. Tidak mudah menerima kenyataan jika ternyata rasa yang dia simpan untuk Hyung orientalnya itu telah berubah, hanya rasa nyaman, bukan cinta, sedangkan cintanya ternyata untuk Siwon.

“Bagaimana ini Hyung??”

Hingga entah karena terlalu lelah menangis atau apa, Kyuhyun merasa kepalanya berat. Dia hanya ingin memejamkan mata dan sedikit beristirahat.

.

.

.

Kyuhyun mengerjapkan mata bulatnya, korneanya merekam sebuah taman yang dipenuhi berbagai bunga rumput kuning dan putih, sejuk dan indah. Hingga matanya bisa menangkap sosok seorang pemuda yang memunggunginya.

“Hyung..”

“Xiannie.. kemarilah” pintanya, membuat Kyunyun melangkah mendekatinya.

“Kau sedang apa hyung??”

“Lihatlah…..” pemuda oriental itu menunjuk ke arah sebuah jalan kecil dimana terdapat seorang pemuda yang seperti sedang kebingungan, entah apa yang dicarinya. Kyuhyun tahu benar siapa pemuda itu. Hingga dia bisa melihat ada sebatang pohon yang sepertinya sudah rapuh dan…

“Siwonnie…..” panggilnya dengan keras, ia pun terbangun dari mimpinya. Keringat jatuh mengenai pelipis matanya. “Siwonnie…”

.

.

.

Setelah mimpi itu, Kyuhyun memutuskan menemui Siwon. Banyak yang harus mereka bicarakan. Tentang perasaan mereka dan semua yang telah terjadi.  Entah kenapa sejak mimpi yang seperti nyata itu terjadi, semakin membuat Kyuhyun takut jika Siwon akan pergi meninggalkannya juga. Tidak…. Itu tidak boleh terjadi….

Keheningan di antara Siwon dan Kyuhyun membuat suasana semakin terasa canggung. Tak ada yang ingin bersuara, hanya menikmati desir angin di atap gedung tempat pertemuan mereka. Hingga akhirnya pemuda tampan itu berbisik lirih.

“Kyu…. aku mohon… maafkan aku… kejadian kemarin hanya…”

“Tak apa-apa Siwon….” Siwon menatap pemuda manis itu.

“Tak apa, aku tidak akan marah padamu jika kau mau mengatakan apa yang kau inginkan dariku Siwon…..”

“Ijinkan aku menggantikannya Kyu-ah..”

Kyuhyun tersenyum tipis “Kau tak akan pernah bisa menggantikannya…”

Pemuda manis itu tersenyum miris, masih menatap langit malam Beijing yang bertabur bintang. Angin yang berhembus di atas atap gedung 20 lantai itu sedikit menerbangkan rambut coklat ikalnya.

Hati Choi Siwon mencelos, mendengar kalimat dari orang yang dicintainya itu. Begitu besarnyakah cinta Kyuhyun untuk orang itu, hingga tak ada lagi tempat untuknya. Bibirnya sudah akan mengucap sesuatu ketika suara lembut itu kembali membuatnya bungkam.

“Kau dan dia orang yang berbeda Siwon, cinta untukmu dan untuknya juga berbeda. Jadi sudah jelas jika kau tidak bisa menggantikannya”

Kyuhyun masih memandang langit malam di atasnya, bayangan sesorang tercetak di kilau bintang di atas sana. Bibirnya mengulas senyum lembut ketika air mata mulai menuruni pipinya.

“Kyu…”

“Dia hanya bagian dari hidupku Siwon. Bagian dari hidupku yang tak akan pernah bisa kumiliki lagi, sedangkan kau? Kau adalah diriku saat ini dan masa depan. Jadi kumohon jangan pernah katakan jika kau ingin menggantikannya”

“Aku tidak ingin munafik dengan mengatakan aku tak lagi mencintainya. Aku masih mencintainya Siwon, mencintainya karena dia pernah hidup dalam satu masaku dan aku mohon biarkan tetap seperti itu. Sedangkan denganmu, kau adalah cintaku saat ini dan saat nanti jika kau tak keberatan”

Mata bulat itu menatap mata hitam disampingnya.

“Aku mengerti Kyu, maafkan aku. Jadi.. apa kau mau memulai sesuatu yang baru denganku?”

“Apapun jika itu denganmu akan aku lalui, aku tak mau menyangkalnya lagi Siwon Hyung”

Siwon merengkuh tubuh ringkih itu dalam dekapannya. Air mata menuruni pipinya. Dia mencintai Kyuhyun, dulu, kini dan nanti. Ya..akan selalu seperti itu.

“Maafkan aku Kyu…”

“Tak ada yang perlu dimaafkan Hyung, kita semua tahu jika itu bukan salahmu. Mungkin Tuhan lebih menyayanginya daripada aku dan ternyata Tuhan pun masih menyayangiku dengan mengirimkanmu kembali padaku”

Siwon menangkup pipi bulat itu dengan dua tangannya. Dihapusnya jejak-jejak air mata disana dengan ibu jarinya. Dikecupnya kelopak mata Kyuhyun.

“Jangan pernah menangis lagi Kyu.. seseorang pernah berkata padaku untuk tidak pernah membiarkanmu menangis lagi”

“Dan orang yang sama juga pernah berkata padaku Hyung, jika aku boleh menangis untuk sesaat dan tersenyum untuk selamanya..dan bersamamu..akan aku lakukan itu”

“Aku mencintaimu Kyu…”

“Wo ye ai ni. Siwon Hyung…”

Dua bibir itu bertemu dalam satu kecupan hangat. Berusaha menyalurkan setiap cinta yang dimiliki untuk kekasih masing-masing. Ya… Kyuhyun tak akan mengingkari apapun lagi. Kyuhyun mencintai Siwon. Dia tak ingin berfikir apapun. Siwon benar, Kyuhyun pun berhak untuk bahagia, dan bersama Siwon, dia yakin kebahagiaannya tak akan pernah berakhir.

Choi Siwon masih mengecup lembut bibir merah itu. Memeluk erat tubuh pemuda yang dicintainya itu. Siwon berjanji tak akan pernah lagi membiarkan hati dalam pelukannya itu terpuruk lagi. Sesulit apapun jalan mereka nanti, asalkan bersama Kyuhyun akan dia lalui. Dua insan itu masih berciuman. Langit Beijing masih bertabur bintang, semakin berkilau dengan satu bintang di langit selatan yang bersinar paling terang, tersenyum pada dekapan hangat Siwon dan Kyuhyun.

.

.

.

Tanah pemakaman itu sepi, hanya desir halus angin sore yang membuat ilalang bergoyang pelan. Tempat jiwa-jiwa beristirahat dalam damai itu sunyi. Dua orang itu masih berdiri berdampingan di depan sebuah nisan.

“Annyeong Hyung. Ni hao ma? Kami datang Hyung, maaf.. kami baru mengunjungimu setelah selama ini. Bukannya kami melupakanmu hanya saja kami takut Hyung, takut tidak akan bisa melepas kepergianmu”

Pemuda yang lebih tinggi berkata pelan, air mata menuruni pipinya. Sedangkan pemuda disampingnya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia sudah menangis dari awal.

“Hari ini kami sudah datang Hyung, aku harap Hyung mau memaafkan kami. Beristirahatlah dengan tenang Hyung. Selamanya kau akan tetap hidup dalam hati kami”

“Terimakasih sudah memberikan malaikat terindahmu untukku. Aku berjanji demi apapun yang ada di dunia ini, aku akan menjaganya Hyung” Choi Siwon masih terus berucap lirih.

“Kami harap kau melihat kami dari tempatmu sekarang. Kyuhyunmu sekarang sudah bisa tersenyum bahagia lagi. Akan aku pastikan jika senyum itu tidak akan pernah meninggalkan bibirnya lagi”

“Sekali lagi maafkan aku Hyung. Tuhan menyayangimu, beristirahatlah dalam damai, aku mencintaimu”

Pemuda tampan itu membungkuk dalam di depan nisan bertuliskan huruf kanji china itu, membuat air matanya yang tak berhenti mengalir jatuh ke bunga lily putih yang dia letakkan sebelumnya.

“Aku mencintaimu Hyung, aku berjanji akan selalu berbahagia dengan Siwon Hyung. Semoga di kehidupan yang akan datang kita dipertemukan lagi”

Cho Kyuhyun ikut membungkuk dalam, tangannya masih menggenggam erat tangan pemuda disampingnya. Ringan, sekarang hati keduanya sudah terasa jauh lebih ringan. Sepasang kekasih itu berbalik, meninggalkan pemakaman yang sunyi itu. Pandangan mereka bertemu, dan saat itulah senyum hangat kembali terukir di bibir mereka. Tangan mereka masih bertautan erat.

Siwon dan Kyuhyun tahu..ini bukanlah akhir. Ini adalah awal yang baru dalam hidup mereka. Semua kenangan yang ada akan mereka biarkan tetap ada. Karena dengan seperti itu, mereka membiarkan orang-orang yang lebih dulu meninggalkan mereka akan tetap hidup dalam setiap memory yang mereka miliki.

Choi Siwon berjanji tak akan pernah meninggalkan pemuda manis ini dan membuatnya terluka, hingga nanti, hingga Tuhan menginginkan dia bertemu dengan sahabatnya yang lebih dahulu menunggunya disana. Sebelum saat itu tiba, Choi Siwon akan menjalani kehidupannya sebaik mungkin dengan Cho Kyuhyunnya.

Cho Kyuhyun menatap jalan kecil di hadapannya. Mungkin seperti inilah dulu jalan hidupnya sejak orang itu pergi, sunyi dan sepi, penuh luka. Tapi kini semua berubah setelah kehadiran Siwon kembali. Kini dia tak akan pernah sendiri lagi. Karena Siwon akan selalu bersamanya.

Kyuhyun tersenyum hangat. Sehangat hatinya karena cinta Siwon berhasil mencairkan penjara es yang membekukan disana. Dan Kyuhyun yakin bersama Siwon adalah jalan yang benar. Kyuhyun mencintai Siwon dan akan selalu seperti itu. Dua pemuda itu terus melangkah, mengeratkan genggaman tangan mereka. Senyum kembali membingkai wajah-wajah bahagia itu. Senyum sebagai keyakinan jika memang akan selalu ada akhir yang bahagia dalam setiap kisah, dan seperti itulah akhir dari kisah mereka.

Sosok yang memendarkan cahaya tipis itu tersenyum tulus. Sorot mata sipit itu berbinar bahagia, memandang punggung 2 orang yang sangat berarti untuknya itu. Wajah orientalnya bersinar indah, sebelum sosoknya memudar bersama hembusan angin senja.

“Berbahagialah bintang-bintangku. Aku selalu menyayangimu dari tempatku melihat senyum bahagia kalian…”

——-end——-

Bukankah cinta itu sederhana…. Menyerahlah pada perasaan cinta yang kalian miliki dan biarkan cinta itu membawa jalan bahagia sendiri…..

Jadi…berbahagialah…^^

–hly—

—really end—

note :

Hoorraaayyy…. Thankkiyu God…akhirnya selese juga fict ini……semoga kalian suka… *pundung*

my lope-lope miss.Lee…. Xie xie…udah mau saya repotkan…terimakasih sudah membuat cerita ini menjadi lebih baik… *civok kanan kiri atas bawah*

Dedek autumn…. terimakasih banyak juga bantuannya untuk part awal….Akhirnya ini selese lho dek…. ^^

Ibu Kost Sucii Cho… Thanks for amazing cover as always… *peluk erat* jangn bosan ya saya repotkan…. *kabbuurrr….

Annesh… Yang sudah mau mendengarkan celotehan saya tiap malam….semoga suka*deep kis big hug*

Rina, putri kembarku hyunni yuan, shanty, ang, jojo, moonmoon, dedek meonks, miss eima, my family Magui.com dan SEMUANYA yg g bisa dsebut satu2..ini buat kalian juga… Semoga suka…^^

Buat yang sudah mau baca setiap tulisan saya…TERIMAKASIH BAAAAANYAK…. *deep bow* saya tanpa kalian hanya butiran debu….*eeeeaaaaaa~

Jadi..saya masih duduk manis menunggu ripiu kalian… Ripiu ne…^^

Terimakasih sudah berkunjung ke WKC….^^

–miss.Han—

Advertisements

Author:

I Love Hangeng ❤❤❤❤❤

66 thoughts on “From Beijing With Love

  1. kok berasa nyesek yah? hik hik hik..knp hrs da korban?? huaaaaa. keren daahhhhh…dapet bgt pokoky

  2. Wuahh aq telat bacanya
    Ketinggalan banyak ff karna nggak sempet mampir kesini
    Ff nya bener2 keren
    Terharu bgt sama kisah cibta da persahabatan mereka

  3. Ommona~
    It’s awesome, daebak, kereeeeen. .!!!
    Feelnya ngena bangeeet,, ugh 😭😭

    Cinta dan persehabatan sderhana namun berakhir manis meskipun bnyak kesedihan diawalnya. .
    So sweet bngetlah.
    Ini ff prtama yg aq bca di sni, pertama dan brkesan sekali😌😌😌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s