Posted in Angst, BL, Hurt, Oneshoot, Romance, Sad, WonKyu Story

One Letter

Bisakah kau mendengarnya? Bisakah kau melihatnya? Aku bahagia sekarang… Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Saat pertama kali aku berjumpa denganmu…

 

::: One Letter :::

:::…::: An absurd story by Suha Camui:::…:::

:::…:::

Membosankan.

Lagi-lagi kata itu yang menyelip pada tiap gerak jarum jam hidupnya. Menyebalkan. Semuanya benar-benar tidak ada yang bisa membuat pemuda itu tertarik atau berniat untuk sedikit antusias pada sesuatu.

 

Dia sudah memiliki segalanya. Tapi sama saja seperti tidak memiliki apapun.

 

Dia dincintai dan dikagumi semua orang. Tapi ia tidak benar-benar merasakan cinta.

 

Dia ingin sesuatu yang baru. Sesuatu yang mampu menambal ruang dalam hatinya yang kosong melompong. Dia ingin benar-benar bisa menikmati dan merasakan, seperti apa ‘Hidup’ yang sesungguhnya.

 

Tanpa pemuda itu tahu, dibalik awan, sang mentari tengah bersenda gurau tentang takdirnya.

.

.

.

 Kyuhyun menghela sebentar sebelum memutar knop pintu rumahnya yang terbilang cukup mewah. Ayah yang berkerja sebagai dosen senior di salah satu universitas elit di Seoul. Ibunya juga seringkali terlibat acara amal yang diadakan beberapa yayasan pemerintah. Juga seorang kakak perempuan yang sedang melanjutkan studinya di sebuah universitas luar negeri, membuat kehidupan Keluarga Cho cukup menjadi sorotan publik.

 

“Kyu, kau baru pulang? Kemarilah, nak…” 

 

Alisnya mengerenyit saat sang ibu yang biasanya akan marah jika dia terlambat pulang sekolah, malah menyambutnya dengan sapaan halus dan senyum yang menghiasi wajah tuanya.

 

Pemuda itu menurut. Dia berjalan keruang tamu dan dari jarak beberapa meter sebelum sampai, dia bisa menangkap seseorang tengah duduk di depan ayahnya dengan senyum tipis yang ramah.

 

Tamu ayahnya. Pantas saja, dengusnya dalam hati.

 

“Kyu, dia Choi Siwon, mantan murid Appa dulu dan sekarang bekerja sebagai dosen. Dia akan menjadi tutormu mulai sekarang.”

 

Bola mata seperti kelereng cokelatnya membulat. Orang bodoh mana yang bersedia menjadi tutor untuk seorang jenius seperti Cho Kyuhyun?!

“Menyebalkan.” Kyuhyun meletakkan nampan makan siangnya keatas meja dengan kasar, membuat seorang pemuda lain yang lebih dulu duduk mendongak dengan roti yang belum sepenuhnya dia kunyah.

 

Pemuda bernama keluarga Cho itu mengaduk menu istirahatnya tanpa berniat untuk menelan barang sesendokpun.

 

“Ada apa?”

 

“Ada orang bodoh yang menjadi tutorku.”

 

Changmin tergelak. Menjadi tutor untuk seorang jenius seperti Kyuhyun adalah kesalahan fatal. Tidak sekali-duakali pemuda itu berhasil menendang orang-orang suruhan Appa-nya yang berotak dangkal, yang hanya bermodal kata bualan.

 

Tceh! Memikirkan itu membuat Changmin menggeleng tanpa berniat untuk memberi nasehat biar Cuma sepatah kata, karena itu adalah tindakan sia-sia.

 

Kyuhyun memiliki watak keras kepala dan susah diatur. Mengingat usianya yang wajar, 17 tahun, dengan emosi yang belum stabil penuh. Meski begitu, loker miliknya tidak pernah kosong dari puluhan surat berwarna merah muda dengan aksen gambar hati dimana-mana.

 

Kyuhyun pemuda tampan diusianya. Wajar jika para remaja perempuan melihatnya dengan binar lain yang justru membuatnya muak. Karena setidaknya Kyuhyun tahu, tidak ada kata murni dalam hati mereka.

 

Semua remaja yang mengirim surat dan cokelat hanya ingin popularitas. Dengan berjalan beriringan saja sudah membuat sebagian orang seolah mengangkat derajat orang itu.

 

Changmin kembali menatap nampan di seberangnya yang sudah tidak layak lagi karena semua makanan tumpah tak menentu. Dia hanya menggeleng. Si bungsu Cho benar-benar dalam mood yang buruk sepertinya.

 

“Nikmati saja, Kyu. Kau juga bisa ‘bermain’ dengan mereka, sama seperti sebelumnya. Dan seminggu kemudian mereka mundur dengan terhormat. Bukan perkara sulit untukmu yang sudah menolak guru privat lebih dari 10 orang.”

 

Dia menepuk pundak Kyuhyun sebelum pergi menuju counter food dan meminta tambahan makanan.

.

.

.

Kyuhyun melempar tasnya keatas kasur dan dirinya bergerak duduk disalah satu sofa di kamarnya. Dia mengeluarka PSP dan menamatkan game yang sebelumnya dia mainkan selama pelajaran sekolah berlangsung.

 

“Selamat siang, Kyu. Hari ini aku mulai mengajarmu. Apa kau punya kesulitan belajar?”

 

Kyuhyun memandang malas seseorang dengan setelan kemeja rapi yang baru masuk kekamarnya. Dia mendengus sebentar lalu focus kembali pada game-nya.

 

Meski tidak melihat, namun dengan bunyi, Kyuhyun tahu pria itu duduk di kursi belajarnya. Beberapa kali juga dia mendengar bunyi kertas yang bergesek. Hal itu membuatnya sudah tidak khusyuk lagi.

 

“Pulanglah.”

 

Pria itu, yang Kyuhyun ketahui bernama Choi Siwon, menoleh. “Setidaknya biarkan aku di sini sampai malam nanti. Ayahmu sudah memasukkanku sebagai dosen di Kyunghee, jadi aku ingin membalas jasanya meski tidak melakukan apapun.”

 

Kyuhyun berdecih. Penjilat rupanya. “Terserahmu. Dan lakukan tanpa suara apapun. Aku benci berisik.”

 

Setelahnya, sampai jam makan malam, Siwon menuruti perkataan Kyuhyun untuk tidak gaduh. Dia melakukan semuanya dengan perlahan karena tdak ingin mengusik Kyuhyun.

 

Sedikit banyak dia mendengar cerita tentang si bungsu Cho itu dari sang ayah. Pribadi yang cenderung tertutup membuat kepala keluarga Cho tersebut cukup khawatir. Dan jujur Siwon harus akui, Kyuhyun tidak sama dengan pemuda yang baru menjadi mahasiswa yang sering dia jumpai di kampus. Mereka biasanya lebih suka berada di keramaian, yang berkebalik dengan Kyuhyun.

 

“Waktumu habis, Tuan Choi.”

 

“Ah, iya.” Buru-buru Siwon memberesi kertas-kertas nilai anak didiknya, juga merapikan kembali meja belajar Kyuhyun yang sempat dia serak.

 

Siwon berdiri, namun tubuhnya tidak bisa bergerak lagi ketika melihat Kyuhyun yang baru keluar dari kamar mandi dengan bathrope soft pink, sedang mengusek rambutnya sendiri. Terlihat berantakan. Namun dia tidak menyangka, Kyuhyun yang seorang laki-laki memiliki kulit serupa ubur-ubur. Seolah transparan. Putih pucat dan bening. Seperti kaca. Indah.

 

Matanya tidak berhenti bergerak mengikuti gerik Kyuhyun meski tubuhnya kaku. Dia menelan ludah susah payah saat dia sadar kalau Kyuhyun sudah telanjang dan mengenakan bajunya dengan santai di hadapan Siwon.

.

Entah apa ada yang aneh dengannya, Siwon tidak tahu. Yang jelas sejak ia melihat tubuh polos Kyuhyun, otaknya serasa kacau. Tiap melihat Kyuhyun, akal warasnya menguap hilang. Jantungnya juga seringkali memompa cepat.

 

Kyuhyun seperti magnet untuknya. Dia seperti kutub lain yang akan selalu tertarik oleh Kyuhyun meski pemuda itu selalu diam.

 

Dan ketika Siwon menyadari bentuk sesungguhnya perasaan yang tersimpan selama ini, Tuhan memulai klimaks sebuah cerita.

.

.

.

Pemuda itu tampak gusar. Sedari tadi dia hanya mondar-mandir di kamarnya yang luas sambil sesekali melihat jam weker di atas nakas. Dia melihat pintu berulang kali, tapi sepertinya orang yang dia resahkan tidak akan datang.

 

Keberadaan Siwon dalam kamarnya seperti sudah kebiasaan, yang ketika tidak ada, ia merasa kehilangan. Kyuhyun sendiri tidak mengerti, tapi dia menganggap suara-suara yang Siwon timbulkan dari gesekan kertas-kertas ataupun suruhannya untuk belajar, membuat Kyuhyun sendiri merasa betah.

 

Setelah begelut dengan pikirannya, akhirnya Kyuhyun putuskan untuk mengunjungi rumah pria Choi itu. Kyuhyun tentu saja akan heran jika orang serajin Siwon tidak ada di kamarnya, yang sebenarnya hanya mengerjakan tugas mengoreksi nilai para mahasiswanya, mengesampingkan setatusnya sebagai seorang tutor.

.

Pemuda manis itu memandang pintu di depannya. Pintu kamar sebuah apartemen sederhana. Dia raih gagang pintu, matanya sedikit terbelalak. Tidak terkunci. Teledor sekali, batinnya. 

 

Dengan langkah perlahan, Kyuhyun masuk. Memandangi sebuah ruang yang tidak begitu luas namun terkesan simple. Hanya ada meja kecil di tengah ruangan, dengan beberapa rak lemari buku yang terlihat sudah penuh. Ada meja belajar dengan beberapa map di atasnya.

 

“Annyeong.”

 

Tidak ada sahutan, membuat Kyuhyun masuk lebih dalam. Tidak sungkan lagi, dengan santainya dia langsung menuju kamar, hanya mengikuti perasaannya saja. Baru saja tangannya menekan knop pintu, dia mendengar  bunyi benda jatuh yang cukup kuat. Buru-buru dia putar kemudian masuk kedalam sebuah kamar tidur yang tidap terlalu luas.

 

Maniknya membulat melihat Siwon tertelungkup di atas lantai kamar yang hanya beralas karpet berwarna biru gelap.

 

“Siwon!” Kyuhyun menghampiri laki-laki itu dan sekuat tenaga membopong tubuh yang lebih besar darinya keatas kasur. Nafas pria itu memburu, disertai keringat yang terus mengalir dan membasahi wajahya yang tampak padam.

 

Pria itu demam.

 

Kyuhyun menghela. Dia memandang sekeliling, lalu memandang wajah Siwon yang tampak tidak tenang. Sedikit banyakpun dia  juga sudah mendengar cerita tentang hidup Siwon yang dibesarkan disebuah panti asuhan.

 

Entah kenapa ada sedikit ngilu didadanya. 

 

“Hngg…” Siwon mengulet saat ada sesuatu yang dingin menyentuh keningnya, rasanya sangat nyaman sekali. Matanya yang terasa cukup panas perlahan mengerjap, membuatnya melihat cukup jelas siluet seorang laki-laki yang duduk di pinggir ranjangnya. “Kyu-hyun?”

 

“Jangan salah paham, a-aku di sini…”

 

Sret!

 

Siwon memeluk pinggang pemuda yang baru berusia 17 tahun itu dan bertindak layaknya seekor kucing yang bermanja pada majikannya. “Tubuhmu dingin… Enak…”. Setelahnya terdengar dengkuran halus.

 

Tapi Kyuhyun malah panik. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat dan wajahnya terasa panas. Dia ingin pulang tapi Siwon memeluk pinggangnya cukup kuat.

 

Sampai keesokannya, Siwon terbangun dengan tubuh tanpa busana sambil memeluk Kyuhyun yang sama-sama telanjang.

.

Derit pada roda takdir yang bergerak mulai terdengar, tapi bukan manusia namanya jika tidak mengindahkan peringatan tersebut. Mereka terlalu sibuk pada hal yang ada di depan mata, tanpa menyadari takdir tak akan pernah berubah.

.

Siwon tahu perasaannya salah. Sangat salah. Hampir tiap minggu dia membuat pengakuan di gereja, namun itu seperti sia-sia saja, karena tiap dia berhadapan dengan Kyuhyun, otaknya kosong. 

 

Dua hari yang lalu Tuan Cho mengatakan jika dia ingin Siwon menikah dengan Ahra, kakak perempuan Kyuhyun, dan itu sukses membuat si bungsu menjadi kacau. Setelah makan malam itu usai, Kyuhyun menarik tangan Siwon ke dalam kamarnya dan menciumnya sangat lama.

 

Dia dan Kyuhyun saling mencintai. Namun Kyuhyun yang masih remaja membuatnya menjadi seorang yang posesif, dan Siwon sekali lagi tidak berdaya untuk menolak apapun yang Kyuhyun lakukan padanya.

 

Dan di sinilah mereka, dalam sebuah mobil milik Siwon. Kyuhyun merengut sambil melipat kedua tangan di depan dadanya, dan Siwon yang berulang kali menghela napas.

 

“Kyu…”

 

“Kau tidak mencintaiku!”

 

Siwon membenturkan kepalanya pada stir mobil dan meremas rambutnya kuat-kuat. “Ribuan kali kukatakan, aku mencintaimu…”

 

“Kalau begitu bawa aku pergi, Choi! Kemanapun! Nikahi aku!”

 

“Kau tidak mengerti Kyu…”. Perlahan, roda mobil bergerak. “Aku harus mengantarmu pulang.”

 

Kyuhyun mendelik tidak suka. “Turunkan aku!”

 

“Tidak!”

 

Kyuhyun yang sudah muak berdebat hampir seharian dengan Siwon nekat membanting stir hingga mobil hitam tersebut menabrak tepi trotoar jalan.

 

“Apa kau sudah gila?! Kau bisa membuat kita mati, Cho Kyuhyun!”

 

Salju yang tiba-tiba turun seolah mendramatisir keadaan antara Siwon dan Kyuhyun. Pemuda itu berlari secepat yang dia bisa, mengabaikan kakinya yang hampir terpleset karena jalanan yang licin. Dia mencintai Siwon. Dia hanya butuh pria itu. Kyuhyun tidak peduli dengan apapun bahkan keluarganya sendiri. 

 

“Kyuhyun, awas!”

 

Semuanya terjadi sangat cepat, bunyi dentuman benda jatuh yang kuat, bunyi decit karet ban mobil yang beradu dengan licinnya jalanan, serta bunyi cairan yang mengalir cepat, membuat Kyuhyun ingin melupakan semua yang terjadi malam itu.

 

Malam bersalju sepuluh tahun lalu, Kyuhyun kehilangan cinta yang untuk pertama kalinya benar-benar dia miliki. Siwon melindunginya. Tubuhnya tak berhenti gemetar sembari memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa. Rasa hangat yang Kyuhyun rasakan di pangkuannya malam itu bukanlah kehangatan milik Siwon, namun cairan merah yang perlahan merembesi pahanya dan mengalir, mengotori tumpukan salju menjadi genangan merah.

…:::…

…:::…

Hei, Siwon, aku ingin memberitahumu sesuatu, bahwa dulu aku pernah menulis sesuatu pada secarik kertas. Sesuatu yang berisi mimpiku. Aku bahkan menyembunyikan jurnalku itu pada sebuah lemari yang terkunci rapat agar tidak ada satu orangpun yang tahu.

Kau ingin tahu apa itu? Karena ini adalah kau, Choi Siwon, orang yang paling kucintai, maka akan kuberitahu.

Aku pernah berpikir untuk hidup bersamamu di sebuah tempat yang hanya ada kita. Aku dan kau menghabiskan waktu bersama, entah itu menunggu senja pergi, ataupun menyambut matahari terbit. Ditiap pagi, aku ingin membangunkanmu dengan ciuman lembut, dan kau akan tersenyum lantas membalas dengan mencium keningku. Setelahnya, aku akan membuatkanmu sarapan sebelum kau berangkat kerja.

Saat siang, aku akan mengurus sebuah kebun kecil yang sudah kita tanam bersama.

Saat sore, kau akan pulang dan langsung memelukku dan kemudian kita menyiapkan makan malam bersama.

Kemudian suatu hari kita mengadopsi bayi perempuan dari sebuah panti asuhan. Kita akan merawatnya dengan cinta dan kasih tanpa batas. Hingga gadis kecil itu akan semakin dewasa dan hidup bersama orang yang dia cintai. Menghabiskan sisa hidupnya sama seperti kita.

Mimpi yang konyol, kan? Itu sebabnya aku menyembunyikan mimpi ini dari siapapun.

Hei, Siwon, apakah surga itu begitu indah? Jika iya, kenapa kau pergi sendiri dan tidak mengajakku? Kau tahu, kau adalah orang paling jahat yang pernah kukenal. Pencuri tidak tahu diri yang sudah membawa semua cinta yang kumiliki.

Jadi kumohon satu hal, tolong… Kembalikan cinta yang sudah kau bawa pergi…

:::…:::

One Letter

:::…:::

“Kyuhyun-ah!”

 

Seorang laki-laki bersurai ikal mendongak saat namanya dipanggil. Buru-buru dia menutup jurnal dan memasukkan kedalam tas. Dia lantas tersenyum sembari berdiri dengan menenteng tas belanja yang cukup besar. “Jaejoong Hyung, maaf kemarin aku sudah mengobrak-abrik dapurmu. Ini sebagai ganti bahan yang kupakai.”

 

Laki-laki di depan Kyuhyun itu hanya menghela napas. Dia tidak heran lagi dengan pemuda yang sudah berani mengacaukan dapur hanya sekedar membuat waffle dan esspresso. “Kau ini…”

 

Sedesir angin yang barusan melewati Kyuhyun membuat pemuda itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya menoleh dan melihat satu punggung seseorang. Punggung yang pernah ia lihat sepuluh tahun lalu. Berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun, namun Kyuhyun percaya, bahwa sekilas barusan dia bisa melihat si pemilik punggung itu tersenyum. Entah pada apa…

 

Daun-daun yang sudah kering terlepas dari ranting, lantas membubung tinggi terbawa angin hingga ketempat yang tak pernah bisa dijangkau oleh manusia. Tempat dengan padang rumput luas dan semilir angin hangat yang berhembus pelan-pelan. Daun kering itu jatuh di atas telapak tangan seseorang yang tengah tertidur, menyampaikan surat yang tersirat dari hati seorang anak manusia yang rindu akan cintanya.

…:::selesai:::…

.

A/n: Hallo, lama gak mampir, lama gak hadir, dan lama gak nyapa. Yosh ini kado dari saya, maaf kalau aneh karena sudah lama gak nulis. Di depan laptop rasanya canggung ^^a

Pokoknya selamat menikmati aja, saya gak tau mesti ngoceh apa lagi karena ngerasa jd anak baru di sini. Buat semuanya, salam kenal ^^v

Advertisements

31 thoughts on “One Letter

  1. Kisah cinta yg indah tp jg menyayat hati. Surat cinta dr cho kyuhyun utk cintanya yg kini berada di alam kedamaian.

  2. Yayaya ~ lagi2 angst huks
    eww ~ Kyu yg arogan trnyata dalam nya dia rapuh jg ya? dan kasian dia ditinggal Siwon T.T
    tpi tpi siapakah yg diliat Kyuhyun? org yg mirip Siwon kan? duuh nyess bgt sma kisah nya Kyu.
    smoga nnti ending nya Happy ending ya kkk ~
    welcome for you suhaaa!! *tebarkolorchangmin XD

  3. Aishhh Unniee~~ kenapa Siwonnya dibikin meninggal?? Aaaa ga asik ni *pout* alurnya kecepetan Un. Dibikin lama lagi biar dapet feelnya. Sequel..sequel..sequel…hhe

  4. Haaaah,😢😢😢
    Surat yg bner2 mengharukan. .
    Demi org yg paling di cintai, won rela ke surga lbih dlu.
    Hiks,, knpa mreka gak bsa bersma???
    Knpa won gak selamat ajja???
    Ya sdahlah, kadang cinta memang tak selalu berisi kebahagiaan. . huuuuuu
    😭😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s