Posted in BL, Genre, Hurt, Oneshoot, Romance, WonKyu Story

[Gift From WKC Friend] FAITH

FB_IMG_1425710162765

FAITH

Author : EllenaCho

Rate : T+

Genre : Hurt/comfort, romance

Cast : WonKyu, little bit YunJae

Summary : Ketika kesalahpahaman menjadi akar dari permasalahan, saat cinta membuahkan penantian yang entah kapan akan berakhir, saat itulah akan terbukti, sebuah ketulusan cinta sejati.

 

#all Kyuhyun POV

Hai.. Aku Cho Kyuhyun… Hah.. Apakah perkenalan ini penting menurut kalian ? Tapi..ini penting bagiku, yah..mengingat yang akan kalian baca ini adalah kisah hidupku. Aku sudah mencoba untuk menuliskannya tidak semelankolis yang ada di drama-drama dan sepertinya aku berhasil. So… Ini kisahku, ceritaku bersama dengan kekasihku. Hanya sepenggal cerita dari perjalanan panjang hidup kami. Hanya sebuah cerita kecil tentang tak pernah menyerah dalam sebuah penantian yang tak tahu batas kadaluarsanya.

.

.

.

.

Kurapatkan hoodie hitam yang aku pakai, hawa memang tak terlalu dingin, karena ini sudah memasuki musim semi, tapi tetap saja akan terasa dingin untukku. Langkah-langkah kakiku bergema di lorong Rumah Sakit terbaik di Korea ini. Sepi. Ya…wajar jika sepi, mengingat di luar sedang cuaca cerah, mungkin banyak pasien atau pengunjung yang menikmatinya diluar.

Aku sedikit melenguh pelan ketika kepalaku terasa berdenyut. Ya ampun… Ini sudah ke 7 kalinya dalam seminggu ini aku menderita sakit kepala yang sangat. Entahlah, mungkin memang daya tahan tubuhku sedang menurun, atau memang aku kurang istirahat atau.. Ah sudahlah..jangan membahasnya sekarang…

Apa kalian bertanya kenapa aku disini, di cuaca secerah ini ? Ya..kalian benar, cuaca baik seperti ini seharusnya aku menikmatinya di luar, hang out bersama teman-temanku atau berkencan dengan kekasihku. Kekasih ya… Justru karena itulah aku disini sekarang…  Hahaha..tak perlu memasang wajah seperti itu, nanti kalian juga akan paham apa maksudku…

Langkahku terhenti di depan ruang rawat 407, pintu ruang itu tertutup rapat. Tentu saja…ini ruang rawat special, aku meminta mereka mendesainnya senyaman mungkin. Yahh… Walaupun senyaman apapun, tetap saja ini rumah sakit, dan aku yakinkan kalian jika kalian tak akan berharap untuk di rawat disini. Perlahan aku membuka pintu ruangan itu, setelah sebelumnya mengintip dari jendela kaca yang ada disana. Tak ada siapapun…

Aku berjalan mendekati ranjang putih besar itu dengan pandangan kosong. Miris, seharusnya aku sudah tahu apa yang akan aku lihat, heck..aku bahkan sudah melihat ini setiap hari selama hampir 3 tahun. Tapi, tetap saja hal ini akan membuat detak jantungku meningkat dan dadaku sakit seperti dipukul palu dari dalam. Kalian tentunya akan merasakan hal yang sama jika kalian ada dalam posisiku.

Aku mendekati sosok yang terbaring diam itu. Kekasihku… Ya… Dia kekasihku, Choi Siwon. Sekarang kalian tahu kan apa alasanku datang kemari… Ku pandangi wajahnya yang pucat pasi, ingin rasanya aku pergi dari sini, sungguh melihatnya seperti ini bukan hal yang akan aku pilih, tapi tidak, aku tidak akan pergi, aku merindukannya, aku akan membebaskannya dari rasa sakitnya. Kepalaku mulai berulah, berdenyut-denyut nyeri. Ya Tuhan…sungguh jangan lagi…

Ku ambil kursi pengunjung di samping ranjangnya. Aku duduk disana, mengamati setiap bagian-bagian kekasihku. Kuusap rambut hitamnya yang masih terasa lembut dan nyaman di telapak tanganku. Ku kecup dua bola mata yang dinaungi alis tebal, mata yang dulu selalu memandangku penuh cinta, mata yang sempat aku lukiskan luka saat terakhir kali aku melihatnya, dan mata yang 3 tahun ini menolak menatapku dan terus terpejam. Aku tahu mungkin kesalahan yang aku lakukan sudah begitu fatal hingga dia masih belum mau membuka matanya lagi.

Kususuri rahang kokoh yang kini mulai menirus. Bibirku mengecup lembut bibir Siwon yang tertutup rapat. Semua masih sama, masih terasa begitu lembut walaupun sekarang sudah pucat pasi. Aku selalu suka saat bibir tipis itu melumat bibirku dulu, terasa begitu panas, dan penuh cinta.

Kekasihku pun masih sama, masih tetap tampan, semua yang melihat pasti akan mengira jika dia pangeran yang sedang tertidur,  tentunya dengan mengabaikan semua peralatan aneh yang menempel ditubuhnya dan selang-selang yang menembus kulitnya. Semua alat-alat yang membuatku muak karena akan menyakiti tubuh kekasihku. Ya..dia memang pangeranku, tidak ada yang lain boleh memilikinya, selain aku.

Aku meringis, menahan denyut di kepalaku yang semakin menjadi. Membuatku ingin sekali berteriak. Tangan putihku menuruni tulang hidung Siwon yang mancung, mengusap selang oksigen yang menancap disana.

Aku memberinya senyum terpahitku, sebelum dengan sekali sentak, aku mencabut selang itu dari tubuhnya. Aku tak mau benda-benda ini menyakiti kekasihku.

“Jaljayo..my love…”

Nafas yang semula naik turun halus itu mulai tersengal. Aku merebahkan kepalaku di samping lengan Siwon, menulikan telingaku dari suara Kardiograf yang mulai bernyanyi panjang. Air mataku mengalir, tanpa isakan, aku sudah mati rasa. Rasa sesak ini berlomba memenuhi hatiku.

Bunyi kardiograf itu semakin nyaring, membuat telingaku berdenging, tapi aku mengabaikannya. Entahlah..harusnya aku segera berlari meminta bantuan, tapi tidak..aku tak punya perintah otakku untuk melakukan itu. Aku hanya ingin disini, disisi kekasihku.

Hingga sebuah tarikan kasar kurasakan di lenganku, menarikku untuk berdiri.

‘PLAAAKKK’

Sebuah tangan menampar pipi kananku, menghempaskanku kesudut ruangan.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH !!???”

Teriakan orang itu terasa samar-samar di telingaku. Ruangan tenang kekasihku mendadak ramai, penuh teriakan perintah yang berlomba dengan detik kardiograf yang masih bersuara nyaring.

“Dokter..pasien kehilangan detak jantung…”

“Siapkan alat pacu jantung…”

“Dokter..tekanan darah pasien semakin menurun…”

“Dokter… Dokter… Dokter…”

Semua suara itu bagai musik mengerikan di telingaku. Tubuhku mulai gemetar di pojok ruangan, dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Kututup telingaku dengan dua tanganku.

“Tidak…tidak…aku mohon hentikan…hentikan itu…hentikan Hyungg…”

Aku bergumam lirih, entah pada siapa, masih dengan tubuh gemetar hebat, ketika kulihat tubuh kekasihku berulang kali tersentak, saat alat itu menyentuh dadanya. Aku tak tahu rasanya akan sesakit ini.

‘Aku mohon..hentikan…berhenti menyakiti kekasihku…’

                Aku berteriak, tapi entah kenapa tak ada suara yang keluar. Air mataku terus menerus mengalir membuat pandanganku semakin mengabur.

Tidak…aku tak menyangka rasanya akan sesakit ini. Kenapa aku menangis ? Harusnya aku melarang mereka menyakiti kekasihku lagi. Tapi..tapi..rasa sakit ini bisa membunuhku perlahan. Tuhan…apa yang telah aku lakukan ? Apa aku bersalah melakukan itu pada kekasihku ? Aku hanya ingin Siwonku tidak lagi menderita Tuhan…

Rasanya sudah seperti berabad-abad kemudian, ketika ruangan besar itu kembali sunyi, hanya detik teratur kardiograf dan desir halus pompa oksigen. Tapi aku masih gemetar di sudut ruangan, aku tahu, aku tidak akan selamat setelah ini.

Aku hanya bisa diam dan menangis ketika seseorang menyentakku hingga berdiri, dua tangannya meremas bahuku kuat-kuat.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH…APA…!!!!”, orang itu, hyung sekaligus dokter penanggung jawab kekasihku, mengguncangkan bahuku keras-keras, berteriak marah tepat di depan wajahku.

“H-hyung…h-hyungg…hiks…”

“KAU INGIN MEMBUNUHNYA…”

“Hiks..T-tidak…tidak…”

“LALU APA….APA KYU… APA…DIA BISA SAJA TIDAK BISA KUSELAMATKAN TADI….”, orang itu, Jung Yunho, masih mencengkeram dua bahuku keras-keras. Jika aku yang biasanya pasti sudah berteriak kesakitan padanya. Tapi tidak kali ini, rasa sakit itu belum seberapa jika dibandingkan nyeri di hatiku. Rasa sakit yang mulai bercampur rasa putus asa.

“A-aku…aku..hanya hiks..tak ingin hiks… Dia menderita lagi Hyung…”

“Dia tidak menderita Kyu…dia sedang berjuang…”

Air mataku semakin deras.

“Dia akan meninggalkanku Hyung..”

“Siapa yang bilang dia kan meninggalkanmu Kyu…SIAPA….dia begitu mencintaimu…dia tak akan meninggalkanmu begitu saja… Dia masih ingin bertahan Kyu…”

“Kemarin kau bilang harapannya kecil Hyung…”

“Demi Tuhan Cho Kyuhyun…. Kemungkinan memang kecil, tapi aku bukan Tuhan Kyu…aku tak berhak mempermainkan nyawa pasienku begitu saja…”

Aku masih terisak..sesak itu datang lagi..rasa bersalah itu datang lagi.

“Dia tak akan meninggalkanmu, Tuhan yang menentukan hidup manusia Kyuhyun-ah.. Kecuali jika Tuhan sendiri yang memberitahumu bahwa Siwon akan meninggalkanmu, aku mohon…tetaplah pada keyakinanmu Kyu…dia akan sembuh. Choi Siwonmu akan membuka mata…”

Perkataan Yunho begitu menusuk hatiku. Betapa bodohnya aku, hampir saja aku membuat kekasihku pergi. Pergi ketempat yang tidak akan bisa lagi aku datangi.

Ya.. Yunho benar, kemana semua keyakinanku selama ini, bukankah selama 3 tahun ini aku tak pernah menyerah menunggu kekasihku. Memberikan semua yang tebaik untuknya agar dia bisa bertahan dan tetap bernafas. Kemana semua cinta yang aku dengung-dengungkan akan mampu menyelamatkan kekasihku… Kemana kesetiaan yang sudah aku sumpahkan akan selalu untuknya….

Tapi sungguh, ada kalanya ketika kesabaran dan keyakinan melampui batasnya. Ada kalanya saat aku merasa lelah dengan semua yang tak aku tahu kapan akan berakhir… Dan lelah karena beban rasa bersalah yang terus menumpuk memenuhi setiap rongga dadaku.

Kenangan-kenangan akan hari itu kembali berkelebat dalam ingatanku. Hari yang benar-benar akan aku sesali seumur hidupku, jika Siwon benar-benar meninggalkanku.

#Flashback on#

Hah…aku selalu suka musim semi. Udara hangat yang nyaman, menggantikan dingin yang menggigit tulang. Aku melangkahkan kakiku dengan riang menyusuri jalanan kota Jinhae. Membiarkan semilir angin musim semi sedikit menerbangkan rambut coklat ikalku.

               Hehehehe….hari ini aku akan berkencan dengan kekasihku. Kalian mau tahu kekasihku….errr…dia pemuda tampan, berlesung pipi dengan senyum sejuta watt yang mampu melelehkan otakku. Ah…so chessy… Namanya Choi Siwon, aku mengenalnya sejak masih duduk di bangku kuliah.

               Geezz..memikirkannya saja membuat pipiku merona. Hei..hei..kalian sudah membuatku bertingkah seperti yeoja, padahal kan aku 100 persen namja. Apa ?  Kalian tidak percaya ? Kemarilah akan aku tunjukkan buktinya, tapi jangan salahkan aku jika kekasihku akan memutilasi kalian karena berani menyentuhku….hahahaha…

                Ah…senangnya aku hari ini, kekasihku itu akan mengajakku jalan-jalan ke Jehwangsan Park, menikmati cherry blossom yang mulai bermekaran. Wahhh…pasti akan romantis…

                Plakk

                “Aww…” aku memukul kepalaku sendiri. Apa yang sedang kupikirkan, pabboya… Hah…. kenapa aku sekarang bertingkah layaknya remaja belasan yang sedang jatuh cinta. Ya Tuhan…sepertinya memang ada yang salah dengan otakku. Yeah..mungkin aku harus menyalahkan ketampanan kekasihku yang di luar nalar itu, yang membuat ku selalu tidak bisa berfikir dengan jernih. Dan..oh ya ampun… Ini sungguh tidak ada hubungannya dengan tingkah konyolku tadi.

                Aku merapatkan hoodie biru yang ku kenakan, masih menyusuri jalanan kota Jihae, aku berjanji bertemu kekasihku di depan Jehwangsan Park. Jadi tak ada salahnya kan aku sedikit berjalan-jalan menikmati indahnya kota Jihae.

                Senyum tak henti terkembang di bibirku. Betapa senangnya aku, bayangkan saja, aku menyimpan cintaku selama 2 tahun, hingga akhirnya dia menyadarinya dan memintaku jadi kekasihnya. Aku begitu mencintainya, dan aku pun yakin dia begitu. Katakan aku terlalu percaya diri, tapi memang itulah nyatanya. Aku bisa tahu dari caranya menatapku. Hah..lagi-lagi pipiku merona.

                Deg! Deg!

               Hingga senyum di bibirku perlahan memudar. Langkah kakiku terhenti. Dahiku berkerut dengan alis hampir menyatu. Berulang kali aku menajamkan mataku agar lebih jelas dan sedikit berharap jika pandangannku salah. Detak jantungku semakin cepat.

                Disana..disebuah cafe, 20 langkah dari tempatku berdiri, aku melihat kekasihku, Choi Siwonku, sedang bersama seseorang, seorang gadis lebih tepatnya. Mereka sedang tertawa bersama di salah satu meja. Tangan Siwon yang biasanya selalu menggenggam tanganku kini menggengam tangan seorang gadis. What the hell…. Katakan aku hanya berhalusinasi.

                Aku hanya terpaku. Apa yang terjadi, kenapa Siwon ada di situ, bukankah dia berjanji akan berkencan denganku, dan siapa gadis itu, kenapa Siwon tidak mengatakan padaku bahwa dia akan bertemu dengan gadis itu ? Bukankah aku kekasihnya, sudah seharusnya aku tahu dengan siapa dia akan pergi kan, tapi apa? Kali ini aku merasa begitu bodoh karena tak mengetahui apapun.

                 Emosiku tersulut, aku tak suka ada orang lain yang menyentuh milikku. Aku tak suka jika ada yang tidak jujur padaku. Pandanganku gelap akan emosi, tersulut cemburu yang mulai menguasai hatiku. Tanganku terkepal membuat buku-buku jariku memutih.

                Setengah berlari aku menghampiri mereka. Gigiku menggeretak. Cemburu ini begitu menguasaiku, membuatku tak bisa berfikir jernih.

                “Apa yang kau lakukan disini ?”

Aku heran dengan nada suaraku yang terdengar begitu dingin. Siwon tersentak, wajahnya menyiratkan kebingungan, begitu pula yeoja yang bersamanya. Ugh..rasanya aku ingin merobeknya saat itu juga.

                “Apa ada yang bisa menjelaskan padaku soal “itu” ?”  aku menunjuk tangan mereka yang masih bertautan dengan tatapanku.

                Dengan cepat Siwon melepaskan tangannya. Aku sudah tak bisa menahan rasa sebalku.

                “Baby Kyu…”

                “You fuck..Choi Siwon..”

                Aku menyambar minuman yang ada di meja dan mengguyurkannya ke kepala Siwon. Melemparkan gelas yang telah kosong itu kelantai dan bergegas meninggalkan mereka. Tak peduli jika kami mulai menjadi hiburan menarik bagi pengunjung cafe lainnya.

                 “Kyu…Baby..tunggu… Kau salah paham…dengarkan aku…” Siwon berteriak memanggilku, tapi aku menulikan telingaku. Aku terus berlari menjauh, tak menghiraukan orang-orang yang ku tabrak dan menyumpahiku. Sesekali aku mengusap air mata yang menetes di pipiku. Hell… Aku tak mau menangis karena Siwon brengsek itu.

                 “Kyu…dengarkan aku….aku mohon…”, Siwon masih mengejarku, berusaha menggapai lenganku, masih dengan basah kuyup karena guyuranku tadi.

                 Aku tak mau dengar apapun, sungguh rasa cemburu ini sudah membuatku buta. Aku tak tahu kemana aku melangkah, yang aku tahu, aku hanya ingin membuat jarak sejauh mungkin dengan Siwon.

                 Hingga kesadaran mengambil alih waktuku dengan cepat, saat aku menyadari posisiku yang sudah berada di separuh jalan raya. Mobil merah itu melaju cepat kearahku. Aku tak bisa berlari, kaki-kakiku lemas. Mungkin ini memang akhir dari hidupku. Hufhh…akhir yang miris, karena aku mati ketika hatiku  di landa cemburu.

                  Aku memejamkan mata, menyerah pada apapun yang akan terjadi. Sekali lagi tak pedulikan teriakan yang menyuruhku menepi. Aku mulai menghitung mundur pada nasibku.

                Brraakkkk…….

                 Tubuhku terdorong ke samping, jatuh menyentuh aspal, tak begitu sakit, eh.. Aneh… Tapi kenapa ? Bukankah jika tertabrak dengan kecepatan seperti itu akan membuat tubuhku terlempar jauh, dan tentunya akan sakit luar biasa. Aku perlahan berdiri, memandang kebelakang. Dan mataku membulat seketika, saat disana, ditempatku berdiri beberapa saat yang lalu, mobil merah itu berhenti dan di bawahnya tubuh yang sangat aku kenal itu sudah tergeletak berlumuran darah. Tidak…tidak…ini tidak mungkin….

                 “NOOOOOOO…….”, aku berteriak sekuat tenagaku, berlari menghampiri tubuh kekasihku yang tergeletak diam.

                 “Nooo..Hyung….buka matamu…Hyung… Aku mohon…” aku menepuk-nepuk pipinya yang ada di pangkuanku. Air mataku kembali mengalir. Tuhan….jangan… Aku mohon…

                 “Hyungg….please…buka matamu…”

Aku masih mengguncangkan tubuh Siwon dalam pelukanku. Mengayunkannya di dadaku, memaksa mata hitamnya itu menatapku, agar aku tahu dia baik-baik saja.

                Mata hitam itu terbuka dengan susah payah, menatapku dengan tatapan lega luar biasa, tangannya yang berlumuran darah perlahan mengusap pipiku.

                “S-syukurlah…. k-kau baik-baik s-saja Kyu…” Dan tangan itu kembali terkulai bersama dengan kelopak mata yang kembali menutup.

                Tidak….

  “Noo..Hyung…buka matamu…SIAPAPUN TOLONG KAMI!!!…Hyung…bangun…jangan membuatku takut…”

                “CHOI SIWOOONNN”

#Flashback off#

Seandainya saat itu aku mendengarkannya, seandainya saat itu aku tak terlalu terbutakan cemburu. Seandainya aku menunggu penjelasannya jika gadis itu adalah sepupunya yang sedang mengundang Siwon kepernikahannya.

Seandainya…kalian lihat..bahkan kata seandainya sudah tak berarti apa-apa untuk saat ini. Kata seandainya tak akan bisa membuat Siwonku membuka mata.

Kepalaku semakin nyeri, aku lelah, lelah dengan semua rasa bersalah ini, aku ingin beristirahat sebentar saja, aku ingin meletakkan beban di bahuku. Bukan menyerah, aku tidak akan menyerah, tapi biarkan aku sejenak melupakan semua masalahku.

Pandanganku mengabur. Hal terakhir yang aku dengar adalah teriakan Yunho yang memanggilku, sebelum semuanya gelap.

“Cho Kyuhyunn..”

.

.

.

.

.

.

Aku mengerjapkan mata bulatku, sedikit silau karena cahaya matahari yang tiba-tiba menusuk mataku. Perlu beberapa saat hingga aku bisa melihat dengan nyaman.

Dahiku mengernyit bingung, menatap tempatku berada. Bukankah ini Jehwangsan Park. Eh….Jehwangsan ? Kenapa…. Bukankah aku tadi…. Eh… Tapi apa yang tadi akan aku lakukan. Aku semakin mengernyit bingung. Memoryku samar-samar. Bukankah aku tadi di kamar Siwon lalu aku… Kenyataan itu kembali menghantamku. Siwon…bagaimana dengan Siwon…

Mata bulatku memandang ke sekeliling. Tempat ini masih sama indahnya dengan yang terakhir kali aku ingat. Jajaran Cherry blossom yang bermekaran, juga pemandangan laut biru di bawah sana. Aku menghirup udara beraroma bunga yang nyaman itu sebanyak-banyaknya, membuat dadaku penuh kelegaan yang menenangkan. Aku merasa memang disinilah seharusnya aku berada, dan bersama —

“Baby…apa yang kau lakukan disitu, aku mencarimu kemana-mana..”

— Choi Siwonku.

Deg..deg…

Suara itu, suara yang sangat aku rindukan, tapi bukankah dia… Ah…bolehkah aku berharap jika itu benar-benar suara kekasihku,  Tuhan….

Aku berbalik, terdiam, memandangi sosok pemuda yang berdiri di bawah cherry blossom di ujung sana. Kemeja baby blue nya di gulung sampe siku, sweater putihnya tersampir di kedua bahunya. Dua tangannya ada dalam saku celananya.

Tuhan….benarkah itu kekasihku… Dia terlihat tampan, luar biasa tampan. Senyum berlesung pipinya mempesonaku sekali lagi. Dan yang paling penting, dia hidup, dia disini, berdiri dengan dua kakinya dan menatapku dengan manik hitamnya yang bersinar lembut.

“H-hyung… Siwon Hyung…?” Aku tergagap. My dear Lord….jika ini mimpi..aku mohon jangan pernah bangunkan aku.

“Ne..Baby…kenapa kau gugup, kita jadi kencan kan hari ini ?”

“Siwonnie…benarkah itu kau..?”

Aku masih menatap tak percaya pemuda di depanku itu. Entah rasa apa yang ada di hatiku sekarang. Aku ingin berteriak… Dia Siwonku…

“Ya…tentu saja…aku Siwon, kekasihmu, yah…kecuali ada Siwon lain selain aku…” Dahi Siwon berkerut.

Ya Tuhan….

Aku berlari, menghambur kepelukan Siwon dengan keras, membuat tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang.

“Wow…wow… Pelan-pelan Baby…”

Siwon terkekeh kecil, mendekapku dalam pelukannya.

Aku semakin menyusupkan diri dalam dekapannya. Menghirup aroma tubuhnya yang selalu membuatku tenang. Tuhan..betapa aku merindukan pemuda ini. Betapa aku mencintai pemuda ini. Aku menangis, terisak, mencengkeram kemeja Siwon.

“Hei…kenapa kau menangis, Sayang..”

Siwon melepas pelukannya, menangkup pipiku dengan telapak tangannya yang hangat. Dihapusnya air mataku dengan ibu jarinya.

“Aku merindukanmu Hyung… Aku mohon..jangan tinggalkan aku…”

“Hei… Apa yang kau katakan…aku tak akan pernah meninggalkanmu…”

“T-tapi Hyung…”

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu, selama kau ingin aku bersamamu Baby…”, Siwon menatapku dengan pandangannya yang teduh. Senyum lembut terlukis di bibirnya. Senyum yang membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.

“Mianhae Hyung…. Mianhae…”

“Ssstt…tak ada yang perlu di maafkan sayang, hei… Dengarkan aku….kau masih bisa merasakan detak jantungmu ?”

Aku mengangguk.

“Selama jantungmu berdetak, maka jantungku juga akan tetap berdetak Baby… Aku akan hidup, selama kau masih ingin aku hidup… Aku tak akan pernah meninggalkanmu Baby…”

“Aku mencintaimu, Hyung..”

“Aku lebih mencintaimu, BabyKyu..”

Entah siapa yang memulai, kurasakan wajah Siwon semakin mendekat, hembusan nafasnya membuatku memejamkan mata. Dan dunia berhenti berputar saat bibirnya menyentuh bibirku, membuat dadaku meledak dalam satu bahagia yang membuncah.

Satu ciuman lagi kami bagi, entah ini nyata atau bukan, tak apa. Aku melumat lembut bibirnya seakan takut akan menggoresnya, mencoba menyalurkan segenap cinta yang aku punya. Di iringi musik merdu angin musim semi dan kelopak cherry blossom yang mengajak kami berdansa.

Siwon melepaskan ciumannya, tersenyum lembut padaku.

“Ayo kita jalan-jalan, Hyung akan mengantarmu kemanapun kau mau…”

“Aku ikut kemanapun Hyung pergi..”

“Naiklah…” Siwon merendahkan punggungnya. Tanpa berfikir dua kali, aku menyamankan diri dalam gendongannya. Perlahan Siwon menganggkat tubuhku, membuatku mengalungkan lenganku kelehernya, meletakkan daguku di bahunya, dan semakin erat menyamankan diri dalam hangatnya punggung Siwon.

Siwon masih melangkah, membawaku berjalan menyusuri taman Jehwangsan, dengan kelopak cherry blossom yang menyelimuti kami.

Tuhan… Aku rela menukar semua  yang aku miliki dengan ini… Aku mohon..jangan pernah pisahkan kami Tuhan… Jangan biarkan cerita kami berakhir begitu saja…

.

.

.

.

.

Aku membuka mataku, hal pertama yang tertangkap mataku adalah langit-langit putih ruanganku. Aku mengernyit bingung, mengerjapkan mataku berkali-kali. Kepalaku kembali berdenyut sakit, membuatku mengerang pelan. Rasanya aku seperti baru saja diduduki bayi gajah.

Dimana aku, dimana Siwon, Siwon.. Siw… Aku terduduk dengan cepat, membuat pandanganku berputar. Sial..kenapa aku harus sakit disaat seperti ini.

“Kyu…kau sudah bangun..?”

Aku menoleh, menemukan Jae Hyung sedang menatapku penuh kecemasan dari sisi ranjangku.

“Apa yang terjadi Hyung… Dimana aku… Dimana Siwon ?” aku balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Jaejoong.

“Kau pingsan Kyu…tertidur selama dua hari, kata Yunho kau begitu tertekan..”

“Aku…pingsan..?”

Kekecewaan kembali menggulungku. Aku pingsan, lalu Siwon, kencan kami, apakah itu hanya mimpi..?

“Siwon…bagaimana Siwon, Hyung…?”                 “Siwon baik-baik saja Kyu…tenanglah…berbaringlah dulu..kau perlu istirahat…”

“Aku ingin bertemu Siwon…”

Aku ingin turun dari ranjangku, tapi tangan Jae hyung mencegahku. Ya Tuhan…ayolah aku hanya ingin bertemu kekasihku.

“Kita akan menemuinya nanti Kyu…istirahatlah…kau masih sakit..”

“Aku tak peduli… Aku mohon Hyung… Aku ingin bertemu Siwon…”, Air mata kembali menggenang di dua bola caramelku. Ku lihat Jaejoong Hyung menghela nafas pasrah. Tatapannya sedikit tak rela, tapi akhirnya perlahan dia mulai membantuku turun dari ranjang.

Aku belum sepenuhnya turun dari ranjang, ketika pintu ruanganku terbuka dengan keras dan kulihat Yunho Hyung berdiri disana dengan nafas terengah-engah, membuatku merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi. Kulihat kilat terkejut saat pandangan Yunho menatapku, mungkin dia tidak mengira jika aku sudah terbangun.

“Yunnie…apa yang…”

Kata-kata Jae hyung terputus oleh jawaban Yunho Hyung yang membuat duniaku berhenti.

“Siwon….”

Dan satu kata itu, cukup untuk membuatku mencabut selang infus di tangan kananku dan tergesa-gesa menuruni ranjang. Berlari sekuat tenaga, menabrak Yunho yang masih terengah di depan pintu. Tak peduli pada teriakan Jaejoong yang memanggil namaku.

“Kyuhyun-ah…tunggu…”

Aku terus berlari. Mengabaikan kepalaku yang masih terasa berat, dan pandanganku yang berkunang-kunang, memaksa seluruh tubuhku untuk terus bergerak menuju kekasihku. Ada apa dengan Siwon… Apa yang terjadi padanya…

Tuhan..aku mohon jangan….tidak Tuhan…jangan sampai terjadi sesuatu pada kekasihku. Aku mohon… Ambil aku saja Tuhan…

“Siwon…Siwon…” aku terus menggumamkan nama kekasihku di setiap langkah kaki ku, mengucapkannya seperti mantra yang bisa membuat seluruh tubuhku bergerak. Aku masih terus berlari, merutuki jarak antara ruanganku dan ruangan Siwon yang entah kenapa terasa begitu jauh.

Braaakkk!!!

“SIIIWWOOONNNN……” aku membanting pintu ruang rawat itu dengan keras, meneriakkan nama kekasihku, nafasku masih tersengal.

Dan….

“Tuhan…” dadaku seakan ingin meledak.

Ya Tuhan… Dia Siwonku… Kekasihku…menatapku dengan mata hitamnya dari tempatnya berbaring. Air mataku semakin deras, tetapi kali ini air mata bahagia. Mata yang selama ini aku tunggu untuk terbuka, sekarang menatapku, membawa binar-binar kehidupan. Dia hidup.. Kekasihku… Terimakasih Tuhan….

Aku mendekatinya perlahan tanpa melepaskan kontak mataku dari manik hitamnya. Aku masih terlalu takut, takut jika aku berhenti menatapnya maka ini hanya akan jadi halusinasi dan aku akan kehilangan kekasihku lagi.

“A-apakah akan sakit jika aku memelukmu Hyung…?”

Siwonku menggeleng lemah, merentangkan lengannya dengan susah payah. Tanpa menunggu, aku memeluknya dengan begitu lembut, seolah tubuhnya adalah keramik yang akan retak jika aku memperlakukannya dengan kasar.

Rasa lega itu langsung menguasaiku saat kurasakan hangat tubuhnya. Betapa aku merindukan pemuda ini, betapa aku mencintai pemuda ini. Bahuku bergetar. Aku menangis dalam dekapannya. Rasa bahagia ini begitu melegakan. Tuhan..terimakasih…terimakasih…

Aku melepaskan pelukanku, menatap wajah Siwon yang tirus.

“Mianhae…mianhae Hyung…maafkan aku..a-aku..”

Siwon menggeleng pelan, tangannya berusaha menyentuh pipiku. Aku meraihnya dan meletakkannya di tempat yang dia inginkan.

Bibir Siwon bergerak-gerak perlahan, dia sedang berusaha mengatakan sesuatu. Aku mendekatkan wajahku, tersenyum padanya dan menyemangatinya mengucapkan kata-katanya.

“S-sarang..hae…B-baby..Kyu…”

Hiks…

Tuhan…. Terimakasih sudah mengijinkan malaikatku kembali padaku. Aku tahu Kau begitu menyayanginya, tapi terimakasih sudah mengalah padaku Tuhan… Terimakasih untuk kesempatan keduaku… Kebahagiaan seperti dia, dan apapun tentangnya tak akan pernah aku sakiti lagi Tuhan… Hukum aku jika itu terjadi… Ini janjiku…

                   ‘Saranghamnida…geurieunsaram’

.

.

.

.

.

.

.

#EPILOG

“Apakah kau Choi Siwon, menerima Cho Kyuhyun sebagai pendamping hidup yang telah di pilihkan Tuhan bagimu, dan akan setia kepadanya saat suka dan duka, sehat dan sakit, sampai Tuhan memisahkan ?”

“Saya bersedia…”

“Apakah kau Cho Kyuhyun, menerima Choi Siwon sebagai pendamping hidup yang telah dipilihkan Tuhan bagimu, dan akan setia kepadanya saat suka dan duka, sehat dan sakit, sampai Tuhan memisahkan ?”

“Ya…saya bersedia..”

“Semua yang telah disatukan Tuhan, tak akan bisa dipisahkan oleh manusia… Kau boleh mencium pengantinmu…”

Aku memandang pemuda yang beberapa saat yang lalu menyematkan nama nya di depan namaku. Menatap mata yang binarnya aku harap tidak akan pernah berubah hingga nafas kami enggan untuk berhembus. Senyum lembut yang hanya ditujukan untukku itu membuatku terdiam. Dan aku masih terpesona dengan lesung pipinya saat dia menciumku, ciuman lembut penuh cinta sebagai tanda jika aku miliknya. Ya..aku memang miliknya, dulu, kini dan nanti. Cinta ini hanya akan jadi cintanya.

Setelah Siwon sadar dari komanya 1 tahun yang lalu, kesehatannya terus membaik dengan cepat. Dia begitu semangat menjalani terapi ini itu dari Yunho Hyung, untuk memulihkan tubuhnya. Dia juga jadi 500 kali lebih manja padaku, jika dia bisa, maka dia akan menolak dipisahkan sedetik pun dariku. Mengharuskan aku ada saat dia sedang melakukan apapun. Bahkan dia mulai bertingkah gila dengan mengharuskanku mengantarnya ke kamar mandi sekalipun. Aku sering mencandainya dengan mengatakan sifatnya berubah menjadi seperti itu karena dia terlalu lama tidur sehingga otaknya sedikit berkarat.

Dan hari ini, 07 April, satu hari yang indah di musim semi, kami mengikrarkan janji di hadapan Tuhan. Bukan sebuah pesta yang meriah, hanya perayaan sederhana bersama keluarga dan sahabat-sahabat kami. Mataku menangkap bayangan Jaejoong Hyung yang berulang kali menyeka air matanya di temani suaminya Yunho Hyung. Astagaa…. Jae… Adikmu menikah dan kau malah bertingkah seperti menghadiri pemakaman dengan menangis seperti itu. Aku akan memberinya pelajaran nanti.

Aku terkekeh pelan, aku tahu, Jaejoong hanya terlalu bahagia untukku hingga membuatnya menangis. Akupun sebenarnya juga seperti itu, bahagia, amat sangat bahagia. Hei… Aku bahkan tak pernah membayangkan jika hari ini akan benar-benar terjadi.

Ku tatap suamiku yang sedang berdiri di sampingku, sebelah lengannya melingkari pinggangku. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya, membuatnya terlihat… Oh My… Aku bisa jatuh cinta jutaan kali pada pria ini…

“Mau berdansa…?”

Aku mengangguk, membiarkan Siwon merengkuh pinggangku dan mengalungkan lenganku ke lehernya.

“Saranghae…” kami tertawa ketika mengucapkan kata ajaib itu bersama-sama.

Inilah puncak dari tujuan kami, ini bukan akhir, ini hanya awal dari sebuah jalan panjang yang akan kami lalui. Hanya saja sekarang kami tak akan melalui jalan ini sendirian, karena selama kami bersama, kami akan baik-baik saja. Tak peduli sebesar apapun kesalahan di masa itu, hanya akan selalu ada keyakinan jika cinta kami memang untuk bersama.

Kami berdua tersenyum, berdansa di bawah kelopak cherryblossom yang ikut menari bersama langkah kami.

Dan inilah kisahku, kisah kami… Bukan kisah indah seperti dalam dongeng..tapi ini akan tetap menjadi bagian dalam perjalanan hidupku. Akan menjadi pengingatku jika aku mulai lelah dalam keyakinannku. Terserah kalian akan menilainya seperti apa. Tapi aku harap ini juga akan membuat kalian percaya pada cinta yang kalian miliki….

Kalian semua berbahagialah, karena kami disinipun akan berbahagia….

—-END—–

#Ellen#

Advertisements

69 thoughts on “[Gift From WKC Friend] FAITH

  1. Cie lenna umma postingannya sweet banget dah
    Penantian yg membuahkan hasil yg manis, asal kita percaya akan keajaiban itu sendiri
    Hidup wonkyu

    Umma 😘😘😘😘😘

    1. Hyunnie…?? Hay…ini akunnya siapa…hehehe…kok enggak asing panggilannya untuk saya…hehehe….
      Ini indah ya..? 😘😘😘😘
      Terimakasih sudah membaca… ^^

  2. huwaaaa suka banget sama ini cerita. Menyentuh banget perjuangan mereka . Ga kenal lelah .
    Akhirnya apa yg mereka tunggu bener-bener terwujud..
    Bahagia selalu wonkyu..
    Kalian pantas bahagia 😥 😥
    aku menangis bahagia dan terharu huhuhuhu

  3. anyeong… uniee .. mianhae hiks *pelukbabyKyu baru bisa baca … baru bisa comen ..

    romantis bgt sih .. lagi sakit juga masih bisa jalan2 ke mimpi nya *momKyu

    itu si *WonDad makan nya apa sih bisa kadar romantis nya OverLoad kya gitu ….

    hayo author nim tangung jawab ….knpa *Wondad Kya gitu …

    kan yuli jadi melelehhh Baca nyaa …

    #KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    *UPSH #SEMBUNYIDIBALIKWONKYU

  4. Kyaaaa!! bener2 akhir yg bahagiaaaa!! aaah syukurlah Siwon bakal kembali sma Kyu dan merajut kisah hidup yg bru kkk ~
    heung ~ ga tau mau komen apa lg,pkoknya yaah lanjutkan ff yg happy ending nya ka ellen hihi

      1. kalo di hp komen nya lngsung ngalir,tpi klo di pc mlh nge blank hahaha
        itu lah knapa komen nya dkit wkwk
        haha its not amazing bundoo,but its simple hihi

        1. Bagi saya itu amazing cii.. karena saya g bisa buat sendiri… hahahaha…
          Hahaha..iya cii.iya… yg penting udah mau baca… hahahaha…. 😘😘😘

  5. Ellen author mmg jagonya bikin ff romance. ajarkan aku buat ff romance dan happy end dong, hihi. bagus bgt alurny, seru dbaca. kukira d awal alur akan brakhir sedih..good job. ngeliat review kyanya sbnrnya kmu yg mnang deh thor. kkkkk

    1. Hah…jago apanya…saya belum seahli itu…masih banyak yg lebih jago… hehehehe….
      Cerita kamu juga g kalah seru lhooo….
      Kita sama-sama belajar yaaaa…. ^^
      Terimakasih sudah membaca ^^

  6. huuaaa daebakkk lagi…. hehehe gak bosen2 baca ff wonkyu… gila…
    alhamdulillah setelah penantian yang lama akhirnya hehehhe menikah….
    heheheh sneng bangettty
    semangattt eon nulisnya…

  7. Hoaaaaaa. . .
    Mengharukan sekaleeeeee. . >_﹏<)
    Mreka memang tercipta utk brsama. . muehehe
    FFnya kren, daebak, awesome, kakkoi *apah gua*
    Pkoknya emeging binggo!!!
    God job authornim 👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s