Posted in BL, Oneshoot, Romance

Yess, It’s Trues

By. EllenaCho

Rate : T+

Warning : BL, OOC, typos

Cast : Only WonKyu

 

 

Just an awful sequel of Not a Mistake

Yess It’s True

Siapa yang mengatakan jika kami tak akan bahagia ? Well..mereka keliru kalau begitu. Nyatanya… kami bahagia… sangat bahagia… Bisa selalu berbagi cinta dengan kesayangan.. Apa lagi hal baik yang kami inginkan?

Kami yakin.. jika cinta kami yang akan menuntun jalan kami, cinta kami yang akan menunjukkan pada kami, kemana kami harus melangkah, langkah yang akan membawa keyakinan untuk kami, bahwa cinta kami bukanlah suatu kesalahan

.

.

.

“Hyung… cepatlah sedikit, kau ingin terlambat?”

“Sebentar Baby….” Namja tampan itu menghampiri orang yang berteriak padanya tadi di pintu depan “Dan hei… Kenapa aku harus takut terlambat? Perusahaan itu milikku, jadi tak masalah kan jika aku datang kapanpun…”

Plaakkkk…..

“Aawww… itu sakit Baby.. kenapa memukulku?” Siwon mengusap kepalanya yang baru saja mendapatkan ciuman sayang dari gulungan laporan di tangan kekasihnya itu.

“Don’t Baby me… Tsk… memang benar perusahaan itu milikmu.. Tapi berilah contoh yang baik untuk pegawaimu…”

Siwon dengan masih mengusap kepalanya, hanya bisa tersenyum mendengar ucapan tegas dari belahan jiwanya itu “Ok.. ok.. my lovely wife…”

“Tsk… berhenti memanggilku wife… aku ini namja…”

“Tapi kau kan memang istriku, Sayang….” Siwon masih sibuk dengan kegiatan mari mengikat dasi yang tak pernah selesai itu, “Kenapa susah sekali…” bibirnya menggerutu, membuat Kyuhyun, namja manis yang di panggilnya wife tadi terkekeh pelan.

“Kau selalu saja payah dalam hal seperti ini…” Kyuhyun menggantikan tangan Siwon dan mulai merapikan dasi di leher namja tampan itu.

“Hei.. setidaknya aku tak payah dalam…”

“Tutup mulutmu Hyung…” Kyuhyun memotong ucapan Siwon dengan pipi merona. Dia tahu kemana arah pembicaraan suaminya itu. Ya… Siwon memang suami Kyuhyun… eerr.. Ada masalah? Oh good… mari kita lanjutkan..

“Kenapa wajahmu merah Baby… kau demam?”

“Sudah aku bilang diam Hyung…” Kyuhyun masih sibuk membenahi kemeja suaminya itu. Dia selalu ingin memastikan jika suaminya selalu mendapatkan penampilan yang terbaik. “Nah..sudah rapi… sekarang berangkatlah…”

“Kau memang istri yang hebat, Sayang…” Siwon memandangi penampilannya dari kaca jendela di samping pintu masuk.

“Tsk..tsk… Tuan Choi Siwon, sudah aku bilang aku ini namja… jangan sebut aku istrimu…. Itu aneh..”

“Kenapa?? Bukankah kau memang istriku. Kau kan selalu dibawahku saat kita…”

“Ada kalanya aku juga di atas Siwon…” potong Kyuhyun cepat.

“Ya.. ya.. tapi kan tetap saja kau yang aku mas….”

“CHOI SIWWOOONNNN….. Berangkat sekarang juga!! Atau ucapkan selamat tinggal pada hidupmu…” Kyuhyun mendelik sebal. Astaga… ini masih pagi dan suaminya itu sudah membicarakan hal-hal yang bisa membuatnya berakhir di kamar mandi.

“Baiklah.. baiklah… aku berangkat sekarang…. Mana ciuman untukku…”

“Ini di luar Hyung…”

“Memangnya kenapa… ini kan masih dirumah kita Baby…” kening Siwon mengernyit, membuat Kyuhyun memutar bola matanya malas. Dia tahu suaminya itu hanya berpura-pura tidak mengerti. Kyuhyun menghela nafas pasrah, sebelum mengulas senyum lembut, dan meraih leher Siwon untuk mengecup singkat bibir tipisnya, hanya kecupan sederhana penuh cinta.

Siwon mendekap tubuh Kyuhyun dengan begitu erat. “Aku mencintaimu Baby…”

“Aku tidak…”

“Eh..?”

“Aku tidak hanya sekedar mencintaimu Hyung…. karena kau segalanya bagiku…”

Siwon tersenyum, mengusap pipi bulat milik pemilik hatinya itu. Orang yang sudah menemani hidupnya, mengikat hatinya dan menawan raganya. Namja manis yang selalu bisa membuat Siwon berdiri tegak dengan kakinya sendiri. Seseorang yang mengikrarkan janji bersamanya di hadapan Tuhan 6 tahun lalu. Betapa Siwon mencintai segala sesuatu tentang Kyuhyun nya.

Pemuda manis yang tak pernah berhenti tersenyum untuknya apapun jalan mereka. Ya.. jalan mereka berbeda dan itu bukan jalan yang mudah. Tapi Siwon yakin dia bisa melalui semua ini, selama Kyuhyun selalu bersamanya. Dikecupnya kening Kyuhyun, membuat mata bulat itu terpejam, menikmati sentuhan sayang dari belahan jiwanya.

Cinta kami tak perlu hal-hal mewah yang bernilai mahal. Cinta kami hanya perlu aku mencintaimu dan kau mencintaiku.. .hanya itu Tuhan… jadi, kami mohon.. lindungi cinta kami. Biarkan kami tetap bersama apapun yang terjadi Tuhan…—-

.

.

.

“Yeobo, tak bisakah kau mengalah pada mereka??” perempuan paruh baya itu menatap jauh kedepan. Pada pasangan muda yang masih berdiri di depan pintu rumah itu.

“Hal itu tidak benar, Chagiya…” pria disampingnya berbisik lirih. Ada banyak keraguan di nada suaranya.

“Tapi, bukankah lebih tidak benar lagi jika memisahkan seorang ibu dari anaknya Yeobo… Dia putraku.. Aku yang melahirkannya, apakah hanya karena jalannya yang berbeda lalu harus membuatku terpisah darinya?” Perempuan yang masih terlihat cantik di usianya itu masih memandang keluar dari dalam mobil mewahnya yang berhenti tak terlalu jauh dari rumah sederhana itu.

Dipandanginya wajah putranya yang tampak bahagia dan begitu hidup. Belum pernah dia melihat putranya menatap penuh cinta pada seseorang sampai seperti itu. Bahkan tidak juga padanya, ibunya. Saat itulah nalurinya sebagai seorang ibu memberontak. Apa lagi yang dia inginkan sebagai seorang ibu kecuali kebahagiaan putranya. Apa semua harta dan kehormatan yang dia pertahankan dengan mengorbankan putranya bisa menambal kesedihan hatinya?

Air mata mulai menuruni pipinya yang menua. Ya.. sekarang dia tahu.. di hari tuanya, dia hanya ingin bersama dengan putranya, buah cintanya, tak peduli bagaimanapun itu. Choi Siwon akan tetap putranya. Seandainya dia lebih cepat menyadari kekeliruannya yang membandingkan cinta putra mereka dengan kehormatan yang mereka miliki. Seandainya dia tahu dan mau mencoba untuk mengerti jika tak pernah ada yang salah dalam cinta. Ah.. Semoga kata seandainya masih memberinya harapan. Harapan agar putranya mau memaafkannya. Agar menantunya mau menerimanya. Semoga… semoga.. harapan itu masih ada.

“Chagiya….”

“Aku tak mau dengar apapun lagi yeobo.. cukup..”

“Maafkan aku…” pria tua itu hanya berbisik lirih, menatap sendu istrinya yang mulai terisak disampingnya. Ya… hatinya pun terasa sakit.. tapi entah sakit yang seperti apa? Dia sendiri juga tak tahu.

Pria itu menyuruh sopir untuk melajukan mobilnya, meninggalkan rumah sederhana yang sejak tadi diperhatikannya dengan sang istri. Rumah putranya…. jika dia masih bisa disebut seorang ayah.

Apa sudah terlambat jika dia menyesal sekarang? Dulu dia kira dengan berlaku keras pada putranya, dengan membuang putranya dari keluarga, akan membuat putranya menyerah, tapi tidak, putra nya yang keras kepala tetap pada pendiriannya. Perlahan bangkit, memulai hidupnya dari awal dengan kekasihnya, menjalani semua kesulitan, hingga kini putranya bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

Tak bisa dipungkiri, ada setitik rasa bangga di hatinya, ketika dia melihat semua perjuangan putranya. Ya… dia tahu… Pria tua ini tahu, semua hal yang dilakukan putranya. Tak jarang dia berlaku kejam dengan menyabotase usaha putranya, berusaha membuatnya menyerah agar kembali padanya.

Tapi sayang sekali usahanya tak ada yang berhasil, karena dibelakang putranya selalu ada pemuda manis itu, pemuda manis yang dulu pernah dia hina, yang dulu pernah dia sakiti. Namja bermata bulat yang selalu penuh senyum ketika menyambut putranya pulang apapun hasil yang dibawa putranya. Namja manis yang selalu memeluk Siwonnya saat putranya lelah dan siap menopang tubuh Siwon saat dia terjatuh. Pria tua itu sadar, dia telah kalah. Kalah oleh kekuatan cinta mereka. Kehormatannya kalah oleh ketulusan cinta Kyuhyun pada Siwon, putranya. Masih bisakah dia merubah semua, masih adakah harapan maaf untuknya, siapkah dia untuk melepaskan harga dirinya yang setinggi langit untuk meminta maaf. Tapi bukankah mengakui kesalahan itu tidak akan menjatuhkan harga diri.

“Maafkan kami Siwon-ah..” Dan mobil itu masih melaju, membawa 2 orang tua dengan hati kosong dan hampa.

.

.

.

Ketukan dipintu depan membuat Choi Siwon mengumpat pelan. Hell.. orang sinting mana yang tega mengganggunya ketika menikmati kehangatan pelukan istri tercintanya. Kyuhyun hanya tersenyum kecil melihat tingkah suaminya itu, mengecup bibir Siwon singkat dan segera beranjak membukakan pintu untuk tamu mereka. Pintu terbuka, dan Kyuhyun membeku. Namja manis itu mundur perlahan, tubuhnya mulai bergetar. Rasa takut itu kembali menguasainya. Kilasan-kilasan kata-kata itu kembali berputar ulang di otaknya.

“Kyuhyun-ah… kami…”

Kyuhyun masih terdiam, tak mampu bicara apapun. Apa lagi yang mereka inginkan darinya? Bukankah jawaban Kyuhyun selalu sama.

“Baby… Siapa yang datang?”

Mata hitam Siwon membulat ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya. Namja tampan itu melangkah tergesa-gesa, menarik tubuh gemetar Kyuhyun menjauh dari pintu. Dia berdiri didepan istrinya, memisahkan Kyuhyun dari orang tuanya.

“Apa mau kalian?”

“Siwon… kami merindukanmu…”

“Aku tidak…”

“Siwon.. jaga ucapanmu…”

“Ini rumahku… Aku bebas melakukan apapun..”

“Kami orang tuamu…”

“Ya.. orang tua yang telah membuangku dan tak pernah berhenti berusaha menghancurkan hidupku…”

“Choi Siwon… !!!”

“CUKUP!!!” perempuan paruh baya itu berteriak. Membuat dua orang yang sudah seperti bersiap saling membunuh itu terdiam.

Siwon merasakan tangan Kyuhyun mencengkeram kemejanya di belakang tubuhnya. Dia tahu istrinya itu sedang ketakutan.

“Bisakah kalian pergi dari sini.. kalian membuat istriku takut…” Siwon masih berkata dengan nada dingin. Dia tak akan membiarkan satu orangpun menyakiti Kyuhyun nya. Tidak juga mereka.

“Kami hanya ingin memintamu datang kerumah.. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan….”

“Rumah? Rumah yang mana maksud kalian…”

“Choi Siwon…!!”

“Hentikan…! Umma mohon Siwon-ah… Datanglah kerumah, rumah kami… kita harus membicarakan ini sekali lagi, Umma mohon…” Siwon masih membisu, menatap nanar perempuan yang telah melahirkannya itu. Ya… Walau seperti apapun perempuan itu tetap ummanya.

Hatinya kembali teriris, saat melihat hal yang tidak ingin dia lihat, air mata Ibunya. Namja tampan itu menghela nafas lelah sebelum menjawab lirih. “Baiklah.. kami akan datang, demi umma….”

.

.

.

Ruang kerja itu terasa seperti ruang sidang ke dua bagi Siwon dan Kyuhyun. Kenangan-kenangan akan saat itu kembali terlintas, membuat genggaman tangan yang tak pernah terlepas itu semakin erat. Masing-masing mencoba memberi keyakinan pada cintanya jika semua akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi mereka tak akan pernah berpisah. Tidak dengan acara apapun.

Siwon menatap tajam ayahnya yang masih duduk di belakang meja kerjanya dengan tangan tertangkup di depan dagu. Berulang kali Siwon melirik Kyuhyun yang tampak gugup disampingnya, memberinya senyuman lembut untuk meredakan kekhawatirannya.

Hal itu juga tak luput dari pandangan Appa Choi. Pria tua itu tak pernah melihat putranya begitu tulus memandang seseorang, mencoba menenangkan orang terkasihnya yang saat ini sedang merasa gugup disampingnya. Pemandangan itu semakin membuatnya yakin jika dia telah melakukan kesalahan yang teramat sangat pada Siwon dan Kyuhyun.

“Tak kusangka kalian begitu keras kepala…” ucap Appa Choi dingin.

“Yeobo….” Umma Choi berniat menengahi tapi melihat pandangan dingin suaminya membuatnya mengurungkan niatnya.

“Apa maksud Appa?!” Siwon menjawab dengan tak kalah dinginnya. Membuat Kyuhyun mencengkeram lengannya erat-erat. Dia tak ingin suaminya itu meledak marah. Siwon mengusap lembut tangan Kyuhyun yang melingkari lengannya, memberinya pandangan tak apa-apa.

Appa Choi perlahan bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mengitari meja kerjanya. “Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan saat kalian mengambil jalan ini. Mungkin jika aku yang waktu itu, aku akan mengira jika kalian begitu bodoh. Tapi tidak, ternyata aku salah.. kalian jauh lebih pintar dariku. Kalian membuatku berfikir tentang cinta kalian. Perjalanan yang kalian lalui, perjuangan kalian dari awal. Aku melihat semuanya…”

“Appa…”

“Jangan kau pikir aku tak memperhatikanmu Siwon-ah. Aku tahu semua yang kau lakukan, sejak kau meninggalkan rumah ini. Dulu aku kira dengan mempersulit kalian maka kalian akan menyerah, tapi ternyata aku salah…”

Appa Choi berdiri di depan Kyuhyun yang masih menunduk. “Jawab aku Kyuhyun-ah, apa alasanmu mencintai Siwon??”

Kyuhyun mengangkat kepalanya. “Tidak ada Tuan Choi..”

“Kau tak punya alasan?”

“Tidak Tuan. Yang aku tahu, hanya tak ada alasan untuk tidak mencintainya, hanya itu….”

Semua terdiam mendengar jawaban dari bibir Kyuhyun. Memang hanya itu jawaban yang selalu ada di hatinya. Kyuhyun tak perlu alasan apapun untuk mencintai Siwon, jadi tak ada alasan juga untuk tidak mencintainya.

“Apakah sudah terlambat jika sekarang aku minta maaf padamu?”

“T-tuan…”

“Appa… panggil aku Appa Kyu…”

“A-appa… A-appa…” bibir Kyuhyun bergetar ketika menyebut kata itu. Aneh, sedikit aneh, tapi entah kenapa terasa nyaman dilidahnya.

“Sebagai kepala keluarga, aku diharuskan memikirkan kelangsungan dari keluargaku. Tapi aku akan disebut sebagai kepala keluarga yang gagal jika aku mengorbankan kebahagiaan putraku. Dan aku yakin, bersamamu, kebahagiaan Siwon tak akan pernah berakhir.”

Air mata perlahan mengalir di dua bola caramelnya. Ditatapnya wajah suaminya yang memberinya anggukan meyakinkan.

“Maafkan aku Appa..” Appa Choi mengusap kepala Kyuhyun penuh sayang.

“Peluk Umma, Sayang…” Kyuhyun menoleh pada perempuan yang sedang mengulurkan tangan padanya itu. Seketika itu juga kehangatan menyentuh hatinya. Seperti inikah rasanya tangan seorang ibu? Tanpa menunggu lama, namja manis itu segera menenggelamkan dirinya dalam dekapan hangat seorang ibu yang tak pernah dia rasakan. Bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan kata umma, meyakinkan dirinya jika ini memang bukan hanya mimpi.

Umma Choi menangkup dua pipi Kyuhyun, mengusap air matanya dengan ibu jarinya. “Selamat datang di keluarga kami, menantuku…”

Kyuhyun kembali memeluk erat ummanya. Dia rela menunggu seumur hidup demi mendengar kalimat itu. Dan kini dia diberi kesempatan mendengarnya. Terimakasih Tuhan.

Selama 30 tahun hidupnya Choi Siwon tak pernah menangis, tapi hari ini dia melakukannya. Air matanya jatuh demi melihat wajah bahagia kekasihnya dalam pelukan ibunya. Bagaimana cara ibunya memeluk erat tubuh Kyuhyun, bagaimana tangan hangat ayahnya membelai lembut surai ikal Kyuhyunnya, bagaimana Kyuhyun menyamankan dirinya dalam dekap hangat seorang ibu.

Apa lagi yang dia inginkan…

Kita menang Baby… cinta kita menang….

.

.

.

“Kau bahagia?”

“Lega lebih tepatnya…”

Siwon terkekeh pelan ketika Kyuhyun menggeliat dalam pelukannya. Mereka sedang menikmati malam dari beranda rumah kecil mereka. Setelah orang tua Siwon menerima mereka, Umma dan Appa memang meminta mereka untuk kembali ke rumah keluarga Choi. Tapi tidak, mereka memilih tetap menempati rumah kecil mereka. Rumah yang akan selalu mengingatkan mereka pada perjuangan cinta mereka.

“Aku tak akan pernah melepaskanmu Baby… Tidak dulu, sekarang, ataupun nanti….”

Kyuhyun berbalik menatap Siwon. Dikalungkannya dua lengannya ke leher tegap Siwon. “Bukankah sudah kukatakan, aku dengan suka rela menyerahkan diriku untuk kau tawan, sampai kapanpun kau mau…”

“Owh.. Aku tak tahu, kau bisa seromantis ini, Sayang…”

“Hyyunngg….” Bibir merah itu mengerucut. Membuatnya memperoleh satu kecupan dari bibir tipis Siwon.

“Sampai kapanpun kau milikku Choi Kyuhyun, Ingat itu…”

“Oh… Akan ku ingat Tuan Choi… jadi… mau menanamkan bukti jika aku milikmu?”

Siwon menyeringai mendengarnya, segera mengecup bibir plum kekasihnya yang tersenyum menggoda itu. Hanya kecupan-kecupan kecil, hingga menjadi lumatan menuntut yang membuat pikiran mereka kosong dan hanya dipenuhi oleh nama tercinta Kyuhyunnya dan Siwonnya. Tak peduli jika bintang-bintang dia atas sana mulai berkedip malu.

—– Cinta kami sederhana, cinta kami hanya perlu kasih sayang tulus dari kekasih kami.

Sudah kami katakan kan, jika cinta kami akan selalu menunjukkan jalan. Begitu pula dengan cinta kalian, jika kalian mau percaya padanya.

Jadi temukanlah cinta itu dan mulailah mencintai. Tak perlu takut jalan yang akan kalian lalui. Karena, seperti kami, apapun jalannya asalkan itu bersama, semua akan baik-baik saja. Jadi berbahagialah…—–

—-Choi Gyu-Yuan—–

——selesai——-

Note :

Hah… Mian ne yang minta sekuel.. jadinya malah seperti ini… *lirik ibu kost, lia, shanty, semuanya* semoga bisa memuaskan kalian… *pundung*

Dedek… terimakasih ide malem-malemnya… Aku ikutin saranmu lho.. berhasil kagak dek? ^^

Buat yang sudah membaca… Mau kah meninggalkan review…?

Saya akan duduk manis menunggu ripiu kalian…^^

Semuanya yg sudah mau membaca TERIMAKASIH BANYAAAKKKK *deepbow*

Buat keluargaku Magui.com

And for you too @miss.lee “I LOVE YOU” ^^ *peluk

-ellen-

Advertisements

Author:

I Love Hangeng ❤❤❤❤❤

66 thoughts on “Yess, It’s Trues

  1. Perjalanan cinta yg bgtu rumit tpi berbuah hasil yg sangat indah….
    Wonkyu…😍😍😍

    #ffx keren banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s