Posted in Angst, BL, Hurt, Oneshoot

It’s About You, Not Us

By. Ichie

Cast : Siwon (37 Tahun)

Kyuhyun (32 Tahun)

Minho (10 Tahun)

Suho (4 Tahun)

Genre : Angst, hurt

Rate : K

 

It’s About You, Not Us

Lamanya usia pernikahan tak menjadi jaminan kelanggengan rumah tangga seseorang. Karena mengenalnya, aku merasakan kembali degupan jantung yg berirama cantik, dan membuatku tahu, bahwa Ia lebih indah dari segala hal yang pernah ku miliki. Meskipun cinta pertama begitu berkesan, namun cinta kedua tentu lebih indah bukan?

Aku merasa tak menyesal meskipun ada tiga orang yang kini ku sebut keluarga, sedikit ku lupakan. Apakah cinta perlu di persalahkan?

Aku adalah pria dewasa yang juga manusia biasa, ketika kepenatan menghampiriku, terkadang bukan istriku yang ingin aku rengkuh. Bukan wajah penuh kusam dan kadang berjerawat yang menyambutku.

Aku terlampau terlena dengan cinta yang saat ini tengah ku rasakan. Perhatian, suara manjanya, dan kadang tak ku pungkiri tubuhnya sering membuat libidoku naik dengan cepat. Tak kan ada yang mampu menolak seseorang yang menjadi sekretarismu, yang menghabiskan waktu lebih banyak denganmu daripada istrimu, yang dengan cekatan menanggapi situasi pekerjaan dan keadaan. Bahkan suatu hari di malam akhir pekan, Ia rela menemaniku lembur bersama beberapa karyawan yang lainnya hingga larut. Ia terlihat lelah, namun tetap tersenyum ketika menyapaku. Entah apa yang merasukiku malam itu, aku merasa sadar.

Ia begitu indah dan …. seksi.

wpid-img-20140816-wa0025.jpg

Tingginya memang tak lebih tinggi dari istriku, namun montok di bagian tertentu, tentu Ia memiliki nilai lebih dari istriku, yang memang seorang pria manis. Dadanya montok dengan belahan dada yang menggiurkan, pahanya seksi dan betis yang indah. Ku akui, pantatnya tak lebih berisi dari pantat istriku, namun tetap saja aku tergoda untuk menyentuhnya.

Mungkin jika dosa memiliki rasa, aku tak menyesal melakukan ini semua. Ini dosa yang terindah.

Wajahnya yang selalu segar, tutur kata lembut namun manja, perhatian, dan yang paling penting adalah sosok yang paham akan pekerjaanku, menjadi tipe ideal bagi ku untuk menggapainya. Semua gerakan dan bayang wajahnya makin membuatku jarang pulang ke rumah. Senyum darinya menyadarkan ku kalau ia begitu berharga. Telepon darinya selalu membuat ku berdebar-debar rasanya. Tak jarang Ia membawakan makanan sehat untukku. Memeluk dan menciumnya membuatku merasa melayang seperti berada di surga.

Aku terbuai akan dirinya dan karena sosoknya lah aku ingin berpisah dari istriku yang telah lebih 10 tahun mendampingiku, ah ani,,, hanya menjadi istriku, karena sadar atau tidak, 2 tahun terakhir cintaku yang dulu besar padanya perlahan meluntur, dan tentu sekretarisku-lah yang hampir setiap hari mendampingiku, bahkan ketika aku harus keluar negeri karena bisnis.

.

.

.

“Umma, kapan appa pulang?”

“Kenapa sayang? Apa kau tidak bisa mengerjakan soalnya?”

Wajah Minho berubah sendu, Ia menggenggam erat pensil di tangannya. Itu memang tidak akan membuatnya patah, bagaimanapun ia hanya anak berusia 10 tahun, namun itu membuat ketakutan tersendiri untuk sang adik yang duduk di sampingnya.

Kyuhyun sedikit khawatir dengan ekspresi kedua anaknya, terutama suho yang tiba-tiba memegang erat kausnya, “Min,,,,?? Gwenchana?”

Biasanya, hanya Minho yang membuat Suho ketakutan. Minho adalah kakak kesayangannya dan Ia takut jika sang hyung marah atau sedih.

“Huuffh…. nde umma,,,, ” Perlahan Minho membuang nafas lelahnya. Ia pasti sudah membuat dongsaeng kecilnya takut. “Suho… sini kita belajar lagi nde…”

“Appamu adalah kepala keluarga sayang, sudah sewajarnya Ia bekerja untuk kita, menafkahi kita. Ia pasti lelah seharian bekerja, dan sudah tidak sanggup bermain di akhir pekan bersama kalian…”

Minho mendengarnya, begitupun dengan Suho. Tapi mereka memilih diam, meredam kerinduan akan sosok sang ayah yang terasa berbeda sekarang. Tak lagi mengantar mereka sekolah, memarahi ketika mereka bermain hujan, ataupun menemani mereka belajar seperti sekarang ini.

Bahkan ketika Minho sengaja pulang terlambat usai ekstrakutikuler di sekolahnya, Ia tak juga mendapati ayahnya di rumah dan menunggunya khawatir.

.

.

.

Pernikahanku tak lagi antara aku dan dia, tapi juga tentang kebahagiaanya. Lebih daripada aku menyalahkan siapa di balik dalang keretakan rumah tanggaku, aku adalah tipikal orang yang pertama kali akan menyalahkan diriku sendiri.

Tentang bagaimana aku yang tak bisa membawa kebahagiaan untuk suamiku, tentang bagaimana aku tak lagi menarik di matanya, wajah manispun tak kan cukup jika aku tak sanggup merawatnya. Aku adalah ibu rumah tangga yang cukup kerepotan dengan dua anak yang masih sangat butuh perhatianku.

Aku tak tahu dan tidak akan pernah mau tahu siapa namanya, wanita itu dua kali datang ke rumah. Yang pertama mengantarkan berkas perusahaan dan kedua ketika menjemput suamiku yang ketika itu mobil siwon tengah mogok.

Aku tidak tahu kenapa Siwon lebih memilih di jemput wanita itu daripada memakai mobilku atau mobilnya yang lain. Namun yang pasti wanita itu sangat ramah dan juga cantik, ku pikir jika aku normal aku juga akan jatuh cinta padanya. Aku memang berhak marah kepada keduanya, namun aku tak mampu melakukannya karena wanita itu benar-benar mampu menarik perhatian suamiku dan suamiku bahagia karenanya.

“Beri aku beberapa waktu lagi, hyung,,,” Aku ingin menangis, namun air mataku mungkin pun bosan jika harus terus menetes. Tanganku bergetar dengan kertas berlegel hukum di genggamanku. Sudah ku pikirkan jauh waktu bahwa hari ini pun pasti akan datang, namun tetap saja aku tak siap harus berpisah dengannya setelah sekian waktu yang cukup lama kami habiskan bersama.

“Aku juga tak ingin terus egois Kyu, tidak mungkin aku memilikimu sementara hatiku tak lagi ada padamu..”

“Aku mengerti hyung… Ku pikir kau pasti lebih bahagia saat ini daripada mempertahankan kita…”

“Malam ini aku menginap di hotel, aku cukup lelah dan ku harap kau segera membubuhkan tanda tanganmu di sana..” Ia benar-benar pergi setelahnya, bahkan hingga seminggu berlalu Ia tak pernah mengunjungi kami.

.

.

.

“Umma… appa eodi? Cuo merindukan appa…”

“Uh, appa pasti marah pada babySu karena  belum bisa melafalkan huruf S,,, hihihi…” Minho tak ingin ibunya yang kemarin sakit, kembali terbebani dengan rengekan adiknya, Ia hanya mencoba menjadi hyung yang baik.

“Uh… benarkah umma?”

Kyuhyun hanya tersenyum, haruskah kebohongan lagi yang harus Ia katakan pada anak-anaknya? Atau malah kejujuran bahwa ayahnya mungkin tengah melakukan dosa di luar sana?

“Appa adalah pria yang bertanggung jawab babySu, Appa bekerja juga untuk kita… kata umma, kita tidak boleh cengeng. Kita adalah laki-laki dan tidak boleh merepotkan appa…”

“Tapi Cuo merindukan appa, hyung…. hiks….”

Kyuhyun meremas ujung bajunya, sepolos inikah anaknya? “Sayang,, hyungmu benar, kalau nanti kalian besar, kalian pasti akan mengerti. Menafkahi keluarga itu tidak mudah,,  Appa bahkan sangat larut bukan ketika pulang? Kalian jua sudah tidur…” Sebisa mungkin Kyuhyun tetap menjaga wibawa suaminya, suami yang sangat di banggakan anak-anaknya.

“Benarkah? Hyung, kalau kita nanti dewasa, kita harus seperti appa ne!”

“Eung! Iya babySu…”

.

.

.

Entah sudah berapa kali ponselnya berdering sedari pagi, namun Siwon masih enggan menjawabnya. Itu dari calon mantan istrinya, Kyuhyun. Mungkin Ia kehabisan uang bulanan, dan Siwon pastikan Ia akan segera mengirimkannya. Ia baru saja keluar dari ruang meeting dan Ia melewatkan makan siangnya lagi. Tapi Ia tak perlu khawatir, karena kekasihnya pastinya sudah membawakan bekal untuknya.

“Terima kasih Hyun-ah sayang…” Siwon tidak mampu mengalihkan matanya dari wajah cantik sang kekasih…

Paha ayam yang di bawakan sang kekasih entah kenapa tiba-tiba membutnya tak lagi nafsu makan. Paha lezat itu seperti paha mulus sang kekasih yang baru Ia kecap pagi tadi. Justru kini ereksinya yang bernafsu… Siwon seperti menyadari bahwa ini mang kodratnya, bahwa laki-laki di ciptakan berpasangan denan wanita.

“Mendekatlah sayang,,, I want you now…” ucapnya mesum yang di sambut senyum malu sang kekasih.

.

.

.

“Hiks… hyung,,,, jangan cakit lagi,,, Cuo tidak akan nakal lagi…hiks,,  hyuuuung,,,”

Suho tidak mampu menahan tangisnya melihat kakaknya terbaring lemah 2 hari ini. Menurutnya ini adalah kesalahannya, karena Ia yang meminta hyungnya memanjat pohon mangga di depan rumahnya yang berakhir Minho yang jatuh. Tulangnya yang masih rawan tak mampu menopang berat tubuhnya, itu membuatnya demam tinggi malam harinya.

Badannya terus menggigil dengan bibir yang mulai membiru. Suho terlalu alergi dengan bau obat, dan Kyuhyun tak tega membawa anak bungsunya ke rumah sakit, apalagi meninggalkannya sendirian. Suaminya tak sekalipun mengangkat telepon darinya dan itu membuat flunya semakin menjadi. Ia makin panik dan bingung.

“BabySu …. jaga umma ne… “

“Andweyo…. hiks… kita akan menjaga umma berdua hyu.. hiks..yyung…”

“Sayang,, kita ke Rumah sakit ne,,,” Panik, khawatir menjadi satu dalam benak Kyuhyun. Ia terpaksa membawa suho serta bersama mereka.

Sakit kepala yang menyerangnya tak menyurutkan Kyuhyun terus merawat kedua buah hatinya. Ini hari ke empat Minho di rawat di sini dan 2 hari Suho juga di rawat di ruang berbeda. Minho masih di ICU karena koma, akibat tulang rusuknya yang patah dan infeksi. Kyuhyun bagai mayat hidup karenanya. Suho yang tak sampai pingsan pun tak mampu di tinggalkannya karena anaknya terus rewel jika susah bernafas. Ia lelah, sungguh.

.

.

.

Siang itu Siwon tengah mengantar Hyun-ah ke apotik, kekasihnya bilang bulan ini Ia terlambat datang bulan dan bermaksud membeli alat test kehamilan. Tepat ketika Ia menghentikan mobilnya di parkiran, Ia juga melihat Kyuhyun yang baru saja keluar dari apotek dengan membawa kantung plastik.

“Ku pikir Ia sudah mandiri  Oppa, Ia tak lagi menghubungimu bukan hanya karena Ia sakit. Ia bisa merawat dirinya sendiri…”

Siwon mengiyakan perkataan kekasihnya. Namun matanya masih menatap ke arah Kyuhyun yang makin menjauh. Penampilannya kusut dan rambutnya terlihat makin tipis dari terakhir Ia melihatnya. Ia jadi memikirkan hak asuh kedua anaknya jika mereka bercerai nanti. Dari materi, jelas anak-anaknya akan lebih terjamin jika bersamanya. Namun Ia juga harus meminta pendapat Hyun-ah, jika itu membebani sang kekasih maka lebih baik mereka bersama Kyuhyun.

“Um..ma… nan jeongmal gumawoyo, saranghae…”

“Minho-ya… hiks… umma mohon sayang… bertahanlah untuk umma…”

Minho hanya tersenyum, Ia merasa lelah, sangat lelah. “Minho-ya… baby!! Andwe!! Hiks… hiks… Baby, bangun sayang… umma mohoooon…hiks..”

Tubuh itu masih hangat, Kyuhyun merasa masih ada kesempatan, hingga Ia terus menggoyangkan tubuh anaknya. Sekalipun tak ada lagi respon dari Minho. Suho sudah meraung melihat kondisi kakaknya. Kata dokter, hyungnya terkena infeksi. Tubuhnya membiru dengan kelopak mata menghitam. Tak di pedulikannya masker yang Ia kenakan basah oleh air mata dan air liurnya sendiri. Ia hanya ingin hyungnya membuka matanya lagi.

“Andweeeeee…!! Hyuuuung…huks… buka matamu hyung… huks…. Cuo tidak akan nakal lagi…. huweeeee….ummaaa… hyung ottokhe… ottokhee….!”

Kyuhyun menangis sambil memeluk anak bungsunya yang terus meraung. Apalagi ini Tuhan, batinnya mengiba. Tak cukupkah rumah tangganya hancur, hingga harus buah hatinya harus pergi mendahuluinya?

.

.

.

Saat ini Siwon tengah berada di toko perhiasan di daerah Gangnam. Membeli cincin yang sangat indah untuk kekasihnyalah tujuannya. Sekitar satu jam-an ia menghabiskan waktu nya untuk memilih beberapa cincin yang sesuai seleranya dan selera Hyun-ah. Ia bisa menebak bagaimana selera kekasihnya itu, karena Hyun-ah selalu bercerita hal-hal apa saja yang disukainya. Ia memperhatikan sekali lagi cincin indah yang ingin ia beli. Sebuah cincin yang jauh lebih indah dari cincin pernikahannya dulu. Ia tersenyum bangga dengan pilihannya. Setelah ia resmi bercerai, rasa nya ingin cepat-cepat saja meresmikan hubungan mereka.

“Appa…. ayo pulang…. umma pasti kesepian…” Tiba-tiba ada anak kecil tak jauh darinya tengah merajuk pada sang appa yang terlihat tengah memilih perhiasan juga.

“Sebentar lagi Seulgi-ah… kita akan mengejutkan ummamu dengan ini… otte?”

Si gadis kecil terlihat lebih antusias dari sebelumnya, “Benarkah appa? Umma pasti suka! Hihihi….”

“Apakah ini cantik?”

“Cantik cantik cantik…. tapi… apakah umma akan benar-benar suka?”

“Tentu saja, appa dan umma kan sudah 5 tahun menikah, appa paling tahu bagaimana ummamu…” Si gadis malah terkikik mendengar penuturan appanya.

Siwon melihat kembali cincin yang di pilihnya, Ia yakin kekasihnya akan kegirangan dengan kejutan yang akan Ia berikan. Sebuah candle light dinner mewah dan juga cincin cantik dengan ruby di tengahnya. Elegant. Ia akhirnya membayar tagihannya dan segera berlalu ke apartement sang kekasih.

Usai pemakaman Minho, Kyuhyun jatuh sakit, sebenarnya Ia memang sudah sakit jauh hari. Tapi ini pukulan berat untuknya, kehilangan satu jagoannya di dalam situasi seperti ini. Suho tertidur di pelukannya dengan jejak air mata yang telah mengering di pipinya. Berapa lamapun Ia menunggu, Siwon tak akan lagi pulang kepadanya. Siwon pastinya sangat bahagia, bahkan hingga anaknya yang ingin bertemu padanya terakhir kali, tak mampu di kabulkannya.

.

.

.

“Sayang, apakah kau bahagia…”

“Hei… tentu saja, kenapa bertanya seperti itu, hm?”

“Apa yang membuatmu bahagia?”

“Tentu saja karena kau dewasa, mapan dan yang pasti aku mencintaimu…”

Siwon tersenyum dengan pujian sang kekasih, berbanding terbalik dengan duka yang di tanggung istrinya di rumah.

“Aku tak sabar menikahimu, setelah aku bercerai, maukah kau menikah denganku?”

Dengan malu-malu, Hyun-ah segera menjawabnya, “Yes, I will!”

Siwon pun memeluk sang easih dengan eratnya, “oh ya, aku berencana mengambil hak asuh anak-anakku setelah bercerai nanti. Bagaimana menurutmu?”

Sambil melepas pelukannya, Hyun-ah berpikir yang terbaik untuknya. “Tentu saja aku tak keberatan, aku lebih tak suka jika kau sering menjenguk mereka pada Kyuhyun jika kau merindukan anak-anakmu”

“Gumawo sayang, aku janji kita akan membina keluarga yang bahagia nanti…” Satu kecupan Ia daratkan di kening sang kekasih. Ia sangat bahagia saat ini.

“Oppa, aku juga ingin kau melakukan sesuatu untukku…”

“Hm? Apapun sayang,,  apa yang kau inginkan? Katakan padaku…”

“Aku tidak ingin kau berpaling dariku, jangan berselingkuh ataupun bermain di belakangku…

Hanya itu… tidak sulit bukan?”

Degh

Siwon seperti merasakan deja vu dalam hidupnya. Ia pernah mendapati situasi yang persis seperti ini dengan kyuhyun sebelumnya.

Baby….. kau benar-benar cantik, aku sangat takut kau akan berpaling dariku…”

“Hihihi…. aku Cho Kyuhyun, tidak akan pernah berselingkuh, menduakan suamiku ataupun berpaling darinya”

Dengan lantang kyuhyun mengucapkannya di depan siwon saat itu.

“Baiklah, sekarang giliranku, aku Choi Siwon yang tampan, tidak akan menduakan istriku, Cho kyuhyun yang paling manis untuk selamanya, tidak akan berselingkuh ataupun berpaling darinya. Jika nanti aku nakal, Kyuhyun boleh membunuhku.”

“Yak!”

Kilasan-kilasan memori itu terus terbayang dalam benak Siwon saat ini. Hyun-ah pun sangat khawatir dengan perubahan Siwon, apa ada yang salah? Kenapa Ia diam saja? Tanpa sepatah katapun, Ia begitu saja berlalu meninggalkan Hyun-ah… “Maaf,,, maaf…. tapi aku harus kembali pada keluargaku…maaf”

Ia terus melangkah di iringi makian dan umpatan dari kesenangan sematanya. Tergesa dan serampangan. Bagaimana semua ini berawal? Apakah Kyuhyun kecewa padanya? Ia telah ingkar, dan berharap istrinya itu membunuhnya kala ia mulai berubah. Tapi Kyuhyun tetaplah kyuhyun, pria manis yang sangat menyayangi keluaranya melebihi kebahagiaanya sendiri.

Aku akan menjadi seperti appa kalau sudah besar nanti...”

Dirinyapun teringat dengan celotehan anaknya di suatu waktu, semakin membuatnya merasa bersalah. Bagaimana kalau anak-anaknya tahu appa macam apa dirinya? Tak patut di banggakan oleh mereka. Jalan tol yang mulai sepi di malam hari itu membuatnya tak tahu lagi berapa kecepatan ia memacu mobilnya. Yang siwon pedulikan, ia ingin segera pulang dan memeluk anak dan istrinya. Meminta maaf dan menyesali segalanya agar keluarganya mau menerimanya kembali.

Ia baru ingat, hari selasa depan adalah hari pernikahannya yang ke 12  tahun, astaga,,,, semoga Kyuhyun belum membubuhkan tanda tangannya di kertas nista yang Ia berikan beberapa minggu yang lalu. Bagaimana mungkin Ia melakukan hal gila sejauh ini dalam keadaan sadar??

Siwon membanting pintu mobilnya dan berlari tergesa memasuki rumahnya. Rumah itu terlihat rapi dan berantakan di waktu bersamaan. Perabotannya masih sama tempatnya, hanya saja mengapa rumahnya banyak sekali kiriman bunga lily putih dan beberapa ucapan,,,  bela sungkawa?? Ia tak tahu apa yang terjadi pada keluarganya… dimana mereka.

Sekeras apapun Ia berteriak, tak ada lagi sambutan Kyuhyun yang lembut untuknya, atau suara Minho yang dengan keras bermain games, dan juga Si bungsu yang biasanya berceloteh dengan suara cemprengnya. Ia ingin marah, marah pada dirinya sendiri. Siwon berlari ke tangga di sebelah kanan yang menghubungkan kamar tidurnya bersama Kyuhyun. Tak ada apapun, sama dengan keadaan di ruang bawah. Hanya beberapa note, tulisan tangan Kyuhyun untuknya dan juga ada dua map di bawahnya.

Ia membaca beberapa note kecil yang berisi tulisan Minho dan juga Suho.

Appa, jangan lupa minum obat ya, aku tidak ingin ayah sakit...’

Appa, Suho sangat pintar, Ia menjadi juara kelas hari ini. Aku malu sebagai hyungnya, hehehe…’

Dan masih ada beberapa yang tak sempat Siwon baca. Ia kemudian beralih pada tulisan Kyuhyun,

Hyung, aku sudah menandatangani surat cerai dari mu. Ku pikir aku tak sanggup untuk mendengar suara hakim mensahkan perpisahan kita. Jadi aku akan mengirim pengacara ku saja untuk mengurus semuanya. Aku tak akan menuntut apapun dari mu dan mengikhlaskan semuanya. Walau aku berat meninggalkan mu, aku berusaha sanggup melakukannya. Tapi aku bersumpah tak pernah sanggup meninggalkan anak kita bersamamu dan harus jauh darinya. Aku membawa Suho bersama ku. Ku pikir kini aku hanya memiliki dia sebagai pegangan hidupku.

Tgl 12 kemarin aku sempat menghubungimu, namun sepertinya kau sangat sibuk,  aku hanya ingin menatakan bahwa Minho kini telah tiada. Kunjungilah makamnya jika kau ada waktu. Jaga dirimu baik-baik hyung. Meskipun aku tak ingin mengucapkannya, namun aku benar-benar ingin kau bahagia.

Selamat tinggal.

CKH

Air mata tak lagi mampu di bendungnya lagi. Siwon merasa bodoh, Ia baru menyadari kenapa Kyuhyun semakin kurus dan berantakan. Ia pasti tertekan karena ulahnya. Ia tersakiti fisik dan mental. Siwon kembali membuka map berwarna hijau tua dan benar saja, Kyuhyun telah menandatangani surat perceraian mereka.  Dan map satunya berisi tentang surat kematian anak sulungnya.

Kini harus bagaimana Ia menjalani hidup?

Inikah balasan untuknya? Inikah jalan yang harus ia jalani setelah semuanya ia sadari bahwa ia telah bersalah kepada istri dan anak – anaknya. Masih bisakah ia berharap bisa merubah keputusan istrinya dan membuatnya kembali kepadanya? Walau itu sangat sulit, karena kesalahannya sungguh tak terhingga.

“Miannae Kyuhyun-ah, jeongmal miannae… saranghae… saranghae”

FIN

 

Note :

Maaf, berantakan

Saya baru debut menjadi penulis, hehehe….

Review? Boleh?

Kamshahamidaaaa…..

Advertisements

Author:

I Love Hangeng ❤❤❤❤❤

57 thoughts on “It’s About You, Not Us

  1. weeeeeee…. siwon jahat bangeett, rasain siwon nyeselkan akhirnya!!! ini hrs ada seqeulnua thoorrr, bikin siwonnya menderita merawung2 minta maaf sm Kyuhyun thorr….

  2. Fanfic ini sukses membuat mataku sembab! Huweeee~ 😥
    Siwon jahat banget! Kasihan Kyukyu harus menanggung beban yang sangat berat sampai kehilangan Minho segala >_<
    Bikin sequel donk~ please~
    Bikin Siwon lebih tersiksa, please~ please~ please~ 😦
    Fanficnya kereeeeeeeeeennnnn~ 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s