Posted in BL, Oneshoot, Romance

Definition of Happiness

By. Ellena Cho

Rate : T+

Genre: Romance

Warning: BL, OOC, typos

Cast : WonKyu as always

 

 

another story from Loving You

 

-Definition of Happiness-

Apa arti bahagia untukmu? Apakah perlu penjelasan secara bertele-tele ataukah hanya ingin jawaban sederhana dari hatimu…

“Kau bahagia ?”

Aku berhenti menulis, “Kalau yang kau maksud bersamamu, ya.. Aku bahagia…”

“Apa yang membuatmu bahagia..?”

“Kau..”

“Tsk..bukan itu maksudku…”

“Aku pikir kau sudah tahu jawabanku..”

“Kau selalu seperti itu jika aku bertanya…”

“Dan haruskah aku menjawab semua pertanyaanmu ?”

“Hell..yeah…”

“Bukankah aku sudah menjawabnya tadi??”

“Ayolah Kyu..”

“Apalagi Siwon…?”

“Hah..kau selalu seperti itu..”

“Kau selalu memaksa..”

“Aku hanya ingin tahu, Baby..”

“Kau sudah tahu Hyung…”

“………..”

“………..”

“………..”

“Jangan merajuk Hyung..”

“Tidak..”

“Wajahmu tidak menunjukkan kata Tidak…”

“Sampai kapanpun aku tak pernah menang berdebat denganmu, sayang..”

“Kalau begitu kenapa masih kau lakukan, Hyung..”

“………………”

Aku meletakkan pensil yang kugunakan untuk mencoret-coret kertas sejak tadi, menatap kekasihku yang sedang berdiri memandang keluar jendela di seberang sana. Aku tahu, kekasihku itu tidak sepenuhnya memandang keluar. Setiap gerak tubuhnya sudah begitu aku hafal.

Oh ya..apa kalian tahu..kekasihku itu semakin tampan saja, tubuh tinggi dan tegapnya di balut kaos putih lengan panjang yang digulung sampai siku ditambah jeans biru yang membalut kaki jenjangnya, wow…dia tampak lezat. Ah..tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk mengaguminya, mengingat sepertinya dia sedang merajuk.

Ya ampun….jangan lagi…kenapa Choi Siwon lebih sensitif daripada aku. Akhir-akhir ini dia sering sekali tersinggung dengan ucapan-ucapanku.

Aku beranjak dari tempatku duduk, menghampiri Siwon yang masih menatap ke luar jendela. Jika saja saat itu aku tidak ingat kekasihku itu sedang kesal, oh ingin sekali aku mengambil kamera dan memotret wajah Siwon. Ya Tuhan…dia lucu sekali.

Sepertinya kali ini sedikit lebih sulit untuk membujuknya, karena Siwon sama sekali tidak memandangku, ketika aku berdiri di sisinya. Tangannya tetap terlipat di depan dada. aku menghela nafas. Ikut-ikutan memandang keluar jendela.

Oh..diluar sudah mulai senja, kenapa aku tidak menyadarinya. Sudah berapa lama tadi aku mengurung diri kalau begitu? 6 jam, 7 jam, atau entahlah, seingatku, aku mulai bekerja tadi setelah Siwon datang dan membuatkanku sarapan, entah jam berapa, yang pasti sudah tidak pagi lagi. Hei..hei… jangan menatapku seperti itu, aku memang tidak bisa bangun pagi.

Tak ada yang bersuara. Aku tau Siwon menungguku untuk bicara. Tapi tak tahu kenapa aku malas untuk mengucapkan kata apapun.

Hei..bukankah biasanya ceritanya, Kyuhyun yang merajuk lalu Siwon yang harus membujuknya, kenapa sekarang jadi terbalik. Ini tidak bisa dibiarkan.

Aku masih menatap keluar jendela, langit Seoul sudah memerah. Senja yang indah. Aku selalu suka senja, apalagi jika menatapnya bersama kekasihku. Hahahaha…tapi sepertinya senja kali ini akan lebih istimewa karena lagi-lagi aku punya kegiatan mari membujuk Siwon yang merajuk.

‘Ya Tuhan…kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria ini…’

Hah….tapi tentu saja aku mencintainya, tak ada alasan untuk tidak mencintainya. Siwon yang selalu ada untukku. Siwon yang selalu menyayangi dan mencintaiku apa adanya. Bahkan Siwon satu-satunya orang yang berani mendekatiku saat moodku berada pada titik terendah.

Banyak yang sudah kami lalui bersama. Tapi semua kenangan yang ada masih bisa aku ingat dengan jelas, seperti baru saja terjadi.

Saat pertemuan di taman hingga kami sadar tentang perasaan masing-masing. Ketika kami bertengkar hebat untuk pertama kalinya, yang berakhir dengan aku yang terbaring di rumah sakit karena demam tinggi. Hahaha…kalian tahu betapa paniknya Siwon saat itu….dia kabur malam itu juga dari London ke Seoul karena menghawatirkanku, dan ajaibnya demamku langsung sembuh ketika bertemu dengannya.

Aku tersenyum. Ah dan satu lagi, ada satu waktu ketika aku harus menghadiri peluncuran novel terbaruku di German, dan membuatku tidak bisa pulang ke Korea selama beberapa hari. Kalian tahu apa yang aku temukan pada hari ke 3 di German? Choi Siwon. Ya, Siwon berdiri di depan pintu kamar hotel tempatku menginap dengan senyum sejuta watt berlesung pipinya dan langsung menenggelamkan aku dalam dekapannya sambil menggumamkan betapa dia merindukanku. Ya Tuhan… Aku tak tahu apa yang ada di pikiran kekasih tampanku itu, yang muncul dinegara lain semudah dia pergi ke kota lain. Dan akhirnya Siwon marah besar saat aku berkata bahwa yang dia lakukan terlalu berlebihan. Yaaahhh…akhirnya perlu ini dan itu untuk membujuknya.

Aku kembali tertawa kecil, membuat kekasihku itu sedikit melirikku. Merasa diperhatikan, aku berdehem sebentar untuk meredakan tawa. Oh God…haruskah aku melakukan ini itu lagi untuk membujuk Siwon?

.

.

.

“Jadi, apa yang ingin kau tanyakan ?”

“…………”

“Hyuunggg…”

“………….”

“Ya sudah kalau tak mau bicara..”

Aku berbalik dan mulai melangkah menjauh, tapi langkahku terhenti ketika suara Siwon terdengar, membuatku menyeringai menang.

“Aku hanya ingin tahu apa kau bahagia ?”

Aku menatap punggung kekasihku yang masih menolak untuk menatapku. Dahiku berkerut, lagi-lagi pertanyaan itu, kenapa Siwon aneh sekali hari ini. Ayolah..sehari-hari dia sudah aneh dengan tingkahnya yang ajaib, tapi kali ini lebih aneh lagi.

Mungkin karena merasa aku hanya diam dan tak menjawab, Siwon berbalik dan menatapku. Mata hitam yang biasanya bersinar penuh cinta kali ini berkilau ganjil. Ada sedikit ketakutan dan keraguan. Tunggu… Siwon merasa takut? Choi Siwon? Hell…hal apa yang bisa membuatnya takut. Setahuku hal yang bisa membuatnya takut hanya kemungkinan aku akan meninggalkannya, tapi seingatku juga, aku tak pernah punya niat seperti itu. Demi Tuhan, sekalipun tidak.

Aku mendekat ketika Siwon mengulurkan tangannya. Tangannya dingin, berarti sesuatu yang mengganggunya benar-benar membuatnya tertekan. Aku sedikit mendongak agar dapat menatap dua bola sekelam malam kesukaanku.

“Apa yang terjadi, Hyung…”

“………..”

“Hyuunngg..”

“Tidak ada sayang..”

“Jangan bohong..kau tidak pandai berbohong…” Aku meremas tangan Siwon yang ada digenggamanku.

“Aku hanya ingin tahu apa kau bahagia bersamaku…apa kau..kau…aku sudah cukup baik untukmu…a-aku..a-aku..”

“Kau tahu…” Siwon terdiam ketika aku memotong ucapannya….”Aku tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Aku begitu tertutup dengan lingkungan sekitarku. Entah aku sendiri juga tak tahu apa sebabnya aku seperti itu, yang jelas aku tak pernah bisa dekat dengan orang lain manapun, hingga aku bertemu denganmu, dan semua berubah. Kau dengan pesonamu berhasil menghancurkan duniaku hanya untuk membangunnya menjadi dunia yang baru. Jadi yang mana yang tidak menunjukkan aku tak bahagia bersamamu ?”

“Kyu..aku…”

“Kau meragukanku ?”

“Tidak..tidak…bukan seperti itu..”

“Lalu..”

“Sudahlah..lupakan saja…maafkan aku..” Siwon mengusap kasar wajahnya. Aku tersenyum, aku tahu ini belum selesai. Entah apa lagi yang masih dipikirkan si bodoh ini.

“Peluk aku…”

“Eh..”

“Peluk aku Siwon…” Siwon merengkuhku dalam dekapannya. Di luar matahari senja mulai menghilang.

“Kau tahu..kau dengan segala apa yang ada di dirimu, aku menyukainya..ah tidak…aku mencintainya. Aku mencintaimu apapun yang terjadi padamu. Dan kau tahu, bagiku arti bahagia tidak perlu dijelaskan dengan ini dan itu. Bagiku bahagia adalah mencintaimu. Itu saja, tak ada alasan lain. Dan aku harap, aku bisa merasakan bahagia itu selamanya…”

Tangan Siwon yang mengusap punggungku berhenti bergerak, membuatku mendongak menatapnya. Siwon meraih tanganku dan melingkarkan di lehernya. Aku tersenyum lagi. Oh..sepertinya sudah membaik.

“Maafkan aku…kau tahu Baby…pernikahan kita minggu depan membuatku gugup..aku..”

“Kau ingin membatalkannya..”

“NOO…!!!”

Aku tertawa… Ya Tuhan…selama 28 tahun hidupku baru pertama kali aku melihat Choi Siwon merona. Hei..hei..lagi-lagi dia mengambil bagianku merona.

“Baguslah..karena kau tahu? Aku tak akan semudah itu melepasmu..”

“Aku tahu kau pasti akan membuat hidupku menderita, jika itu terjadi..”

“Hei..itu salah satu tujuanku menikahimu Siwon..”

“Apa…?”

“Yah..untuk membuat hidupmu menderita, Tuan muda Choi..” Aku menyeringai.

Ah..untung aku memilih menutup mata pada saat yang tepat. Saat bibir tipis Siwonku melumat bibirku.

‘Bukankah bahagia itu sederhana. Hanya perlu aku memilikimu dan aku mencintaimu. Jadi… Saranghae Siwonnie…’

— Cho Kyuhyun —

-End-

Note :

Ah..apakah lagi-lagi aneh…?

Satu lagi tulisan gaje dari saya…semoga masih ada yg mau baca… ^^

Buat yg sudah baca semua tulisan saya…terimakasih banyaaaakkkkkk…… *deepbow*

Mian gak bisa bales komen kalian satu-satu..tapi saya selalu baca kok komen kalian…

Jadi untuk kali ini… Masih adakah yg mau komen ?? *puppy eyes*

ThankKyu as always..my dear Miss Lee… *pelukcium

Advertisements

Author:

I Love Hangeng ❤❤❤❤❤

22 thoughts on “Definition of Happiness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s