Posted in BL, FF Kontes, Genre, Hurt, Oneshoot, Romance, Sad, WonKyu Story

[FF Kontes] Winter Lullaby

1622277_590365284385910_1823314140_n

 A Winter Lullaby
Author : Elodie
Maincast : Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Jung Yunho
Genre : Romance, BL
Rated : PG-15
Summary : Ada sekat tipis diantara rasa cinta dan benci. Baik Cho Kyuhyun maupun
Choi Siwon tidak juga menyadarinya sekalipun keduanya telah banyak
menghabiskan waktu berdua.

.

Ia tengah sibuk bergumul dengan pikiran dan batinnya ketika suara tepuk tangan dan riuh sorakan dari orang-orang di sekitarnya terpaksa mengembalikan dirinya kepada realita. Choi Siwon, ia sedikit merasa canggung hingga dia rasa perlu untuk menengok sekeliling, demi bisa menyesuaikan tindakan yang harus diambilnya dengan situasi dan kondisi yang tepat untuk saat ini. Setiap orang merasa bahagia, setidaknya itulah yang terpatri dalam benaknya. Mungkin tidak ada salahnya jika ia memberi sugesti pada pikiran serta batinnya yang terus berkecamuk bahwa pernikahan Jung Yunho dan Cho Kyuhyun ini adalah salah satu dari kebahagiaannya juga. Bagaimanapun, ia tau bahwa Yunho adalah orang yang tepat dan sangat baik untuk Kyuhyun, begitu juga sebaliknya. Tampaknya, seulas senyum yang akan ia perlihatkan pada Yunho dan Kyuhyun yang sedang melangkah menuruni anak tangga itu tidak lah hal yang sulit. Choi Siwon yakin itu, ia harus berkompromi dengan sugesti tersebut. Entah siapa yang sedang ia coba untuk bohongi…

.

.
Flashback

Mereka adalah kucing dan tikus, air dan minyak, mungkin masih banyak lagi ungkapan ungkapan yang bisa disebut sebagai kiasan dari dua orang yang tidak pernah bisa hidup rukun barang sebentar pun. Hampir seluruh dari SM corp tau bahwa Cho Kyuhyun dan Choi Siwon adalah saingan, dalam hal terkecil sekalipun. Bekerja lembur, mewakili perusahaan dalam rapat-rapat penting bersama klien ternama, memeras otak memikirkan strategi pengembangan perusahaan. Semua itu terus mereka lakukan tanpa mengenal lelah. Jika salah satunya berhasil mencapai prestasi yang lebih baik, maka dipastikan yang lainnya akan membalaskan dendam. Syukurlah, sejauh ini persaingan diantara mereka berdua murni persaingan sehat. Hanya saja di mata kebanyakan orang, Choi Siwon dan Cho Kyuhyun terlalu membuang waktu dengan persaingan-persaingannya.

Usut punya usut, rupanya hal ini tidak hanya terjadi di perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan sejak mereka pergi ke sekolah dan kelas yang sama, ada saja hal yang mereka jadikan sebagai persaingan. Begitu juga semasa keduanya kuliah di Universitas Kyunghee. Sungguh waktu yang lama untuk persaingan yang tidak ada artinya.

“Kesenangan apa yang bisa aku dapatkan jika aku berhenti bersaing dengannya? Hampir separuh hidupku aku habiskan untuk persaingan dengan Cho Kyuhyun dan bagiku tidak ada lagi hiburan terindah selain itu.” Kata Siwon suatu ketika saat ditanya seorang rekan kerjanya. Sepertinya sampai dunia terbelah menjadi dua pun tidak akan ada yang bisa menghentikan kegilaan Cho Kyuhyun dan Choi Siwon.

Namun kali ini lain. Choi Siwon ternganga cukup lebar melihat pemandangan di hadapannya. Tadinya ia hanya iseng berkeliling rumah sakit karena terlalu bosan untuk berada di kamarnya. Rupanya tidak lama setelah meninggalkan kamar VIP yang sebenarnya sangat nyaman itu, ia dikejutkan dengan suara ribut para dokter dan suster yang terburu-buru membawa seorang pasien ke ruang UGD. “Aku seperti mengenal laki-laki yang tadi itu.”

Begitu pensarannya Siwon sampai-sampai ia menunggu sampai pasien tadi dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. “Cho Kyuhyun?” batinnya begitu melihat sosok yang terbaring lemah itu. Harusnya sekarang Cho Kyuhyun sedang berbahagia karena Siwon mendapat kecelakaan kecil beberapa hari dan membuatnya harus cuti sekitar 2 minggu. Harusnya, Cho Kyuhyun sedang sibuk menjilat kepada atasannya. Tapi, apa yang terjadi sekarang benar-benar di luar dugaan Siwon. Kira-kira apa yang terjadi pada si kulit pucat itu sampai-sampai masuk ke Ruang UGD?
.
.
.
“Tsk~kenapa aku harus bertemu denganmu disini padahal Rumah Sakit ini luas.”
“Kau masih saja bisa menyombongkan diri sekalipun tempo hari kau sekarat.”
“Apa maksudmu Choi Siwon?” Kyuhyun memicingkan mata menatap Siwon tajam.

Dengan mengenakan pakaian pasien, keduanya lagi-lagi saling memberikan tatapan benci terhadap satu sama lain. Sepertinya kali ini akan ada pertengkaran lagi, tidak peduli entah itu di Rumah Sakit. Siwon mendekati Kyuhyun yang sejak tadi berkutat dengan showcase yang sedikit macet meskipun laki-laki cute itu sudah memasukkan uang koinnya. Dengan sekali tendangan kecil dari Siwon, alat tersebut akhirnya memberikan soft drink yang Kyuhyun inginkan. Tanpa mengucapkan terima kasih, Kyuhyun hendak melangkah pergi. “Kalau aku boleh tau,memangnya kau sakit apa, Cho Kyuhyun.” Kata-kata singkat Siwon mampu menahan langkah Kyuhyun. “Tampaknya kau benar melupakan segalanya.” Desah Kyuhyun lirih.

Ada perasaan sakit di dalam diri Kyuhyun melihat sosok yang terus mengekor di belakangnya kini. Siwon yang ia kenal dulu teramat berbeda dengan sekarang. Ia ingat masa-masa menyenangkan dimana dirinya, Kyuhyun kecil, akan menangis mengadukan perbuatan anak-anak nakal yang menjahilinya kepada Siwon dan dalam sekejap saja Siwon berhasil membuat mereka semua ketakutan dan meminta maaf pada Kyuhyun.

Dulu, hubungan mereka bahkan lebih indah dari sekedar persahabatan. Kyuhyun dan Siwon sering menghabiskan waktu bersama. Belajar, berlarian menangkap serangga, bersepeda atau bahkan sekedar menggoda anjing tetangga. Hampir tidak ada yang bisa memisahkan kedua bocah itu.

“Harusnya kau memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat Direktur Lee semakin terkesan denganmu. Kenapa kau justru ikut sakit? Kau tidak bisa melewatkan sehari saja untuk tidak bertemu dan bersaing denganku?” lagi-lagi Siwon dengan kalimat pedasnya.

“Setiap orang tidak ingin jatuh sakit. Kau saja yang terlalu besar kepala, berpikir alasanku kemari hanya untuk menemuimu. Dari sekian alasan yang masuk akal, otakmu tidak dapat memproduksi jawaban yang paling benar.”

“Karena aku rasa hanya itu jawaban yang paling benar, hahaha.” Ia tidak tahan lagi. Kyuhyun membanting pintunya dengan keras, setara dengan menampar wajah Siwon yang kini berada di depan kamarnya. “Hmh, 302. Aku mungkin akan mengunjungimu lagi, Cho Kyuhyun temanku.” Siwon terkekeh. Ada rasa puas membuat Kyuhyun merasa kesal karena pada saat itu kedua pipi tembamnya akan merona merah, mungkin saja menahan emosi atau justru malu. Bibirnya yang semerah cherry itu akan mengerucut lucu. Sungguh kombinasi yang sangat cantik…tunggu, apa ia baru saja memikirkan mengatakan “cantik” ?
.
.
.
Tanpa ia sadari, mengawasi Kyuhyun sudah menjadi kebiasaannya. Siwon sendiri tidak tau, mengapa hal seperti ini membuatnya gelisah jika ia tidak melakukannya sehari saja. Dulu bahkan saat mereka masih duduk di bangku sekolah, Siwon akan mengikutinya bahkan ke toilet. Ia takut Kyuhyun merencanakan sesuatu, maju satu langkah dan mengalahkannya. Ketakutan-ketakutan tidak berdasar itulah yang membuat Siwon tanpa sadar meluangkan banyak waktu untuk sekedar mengawasi gerak-gerik Kyuhyun.

Pagi ini contohnya, ia melihat seorang laki-laki keluar dari kamar Kyuhyun, mendaratkan ciuman di keningnya lalu mengacak rambutnya perlahan. Mereka saling tersenyum, sebelum akhirnya laki-laki itu pergi meninggalkan Kyuhyun. Ia memberanikan diri mengetuk kamar Kyuhyun dan masuk setelah mendapat ijin dari empu-nya.

“Apa yang membawamu datang kesini?” Kyuhyun menutup komik yang tadinya ia baca, melihat Siwon yang sibuk mengamati kamarnya. “Kau juga meletakkan bunga di dalam kamarmu? Aku tidak berpikir kau menyukai hal-hal seperti itu.” Komentar Siwon yang membuat Kyuhyun makin kesal saja.

“Katakan apa yang kau inginkan lalu segeralah pergi dari sini.”
“Laki-laki yang barusan saja boleh masuk kemari, masa aku tidak?”
“Itu karena kau…kau bisa menyakitiku.”

Seringaian iseng Siwon memudar mendengar kalimat Kyuhyun. Rasanya setelah bertahun-tahun mengenal Kyuhyun dan bertengkar dengannya hampir setiap hari, Siwon tidak pernah mendengar nada bicaranya yang seperti ini. Kyuhyun memiliki lidah yang tajam, bahkan terlampau tajam untuk melibas mental lawan bicara yang membuatnya upset. Kemana perginya nada bicara arogan yang selalu ditunjukkan Kyuhyun padanya itu? Ia merasa suara itu lebih terdemgar seperti curahan kesedihann, sarat luka, diucapkan dari lubuk hati yang paling dalam.

“Menyakitimu? Kita memang bersaing, bermusuhan, tapi aku tidak…”
“Ya, kau sudah pernah melakukannya! Kau menyakitiku, menghancurkan mimpiku!”
Siwon penasaran, “Katakanlah dengan jelas, apa yang kau maksud?”

Bibir Kyuhyun tampak bergetar, ia begitu ingin meneriaki Siwon. Tapi ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Siwon karena tidak dapat menangkap maksud pembicaraannya. Lagipula, ia terlalu lemah untuk bertengkar dalam keadaan seperti ini. Kyuhyun menaikkan baju pasiennya, menunjukkan bekas luka di sekitar dada dan perutnya yang membekas, tidak bisa hilang sekalipun waktu telah berjalan cukup lama.

“Tidakkah kau ingat ini Choi Siwon? Apakah ini termasuk bagian yang hilang permanen dari ingatanmu?” Kyuhyun mencoba menahan diri. “Ada dua orang bocah yang bersahabat sangat baik, mereka tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kau tau, mereka punya mimpi yang sama, berada di panggung hiburan. Setiap hari keduanya akan bermain sambil mendengarkan nyanyian satu sama lain.”

Siwon masih mematung, berusaha mencerna setiap kalimat Kyuhyun. Otaknya belum bisa menebak apa yang dimaksud oleh Kyuhyun. “Suatu ketika mereka pergi bersama ke suatu kontes dan sayangnya hanya satu dari mereka yang lolos. Melihat temannya pergi dengan kecewa, bocah satunya berlari untuk menyusulnya, ingin menghibur bahkan memberikan trophy penghargaan agar temannya tidak sedih. Tapi temannya itu sudah ditulikan kesedihan, sekali pun ia dipanggil sekeras apapun tetap saja tidak mendengarkan sampai ada sebuah mobil melaju kencang sekali. Tanpa memerdulikan trophy nya lagi anak laki-laki itu berlari demi menyelamatkan temannya, lalu…” ada ekspresi sedih yang mendalam di raut wajah Kyuhyun, nafasnya membuncah, seakan ia baru saja mengoyak luka lama yang belum juga mengering.

“Ada apa Cho Kyuhyun? Lanjutkan ceritamu itu!”

“Ya, anak laki-laki dengan trophy itulah aku. Aku berusaha memanggilmu, aku ingin mengatakan bahwa trophy milikku adalah milikmu juga, sehingga kau tidak perlu bersedih apalagi berputus asa untuk kontes-kontes selanjutnya. Tapi kau mengacuhkanku. Bahkan saat aku meneriakimu supaya minggir karena ada mobil yang akan menabrakmu. Aku berlari, mendorongmu tapi karena kita hanyalah bocah-bocah kecil tidak berdaya maka tabrakan itu tidak dapat dihindari lagi. Kau mengalami cedera pada kepala. Dokter mengatakan ia tidak bisa mengembalikan beberapa ingatan dalam otakmu, sementara aku koma 4 hari. Ada pendarahan di dalam tubuhku sampai-sampai dokter hendak mengoperasi pita suaraku.” Air mata Kyuhyun tidak dapat dibendung lagi. Ia benar-benar terisak di hadapan musuh, atau mungkin mantan sahabat baiknya itu.

“Ayahku mencegah dokter melakukannya karena ia tau bahwa hal itu akan megacaukan mimpiku. Syukurlah seorang dokter dari Amerika datang dan membantu mencarikan jalan keluar. Karena kecelakaan itu, aku menjadi seorang pengidap pneumotorax atau kolaps paru-paru. Sementara kau, begitu kau sembuh, aku tidak tau apa yang ada di pikiranmu. Kau tidak mengingat apapun kecuali namaku adalah Cho Kyuhyun. Kau mengacuhkan aku, bahkan tidak peduli sedikitpun padaku yang masih berusaha untuk menjengukmu sekalipun dokter menyuruhku tidak banyak bergerak.”

Begitulah, luka yang sekian lama ia sembunyikan itu kini terkoyak habis-habisan di hadapan Choi Siwon, “Tidak ada kata maaf darimu atau bahkan orang tuamu. Kudengar tak akan apa-apa jika mereka perlahan memberitau mu karena itu mungkin bisa memulihkan ingatanmu, tapi aku tau orangtua mu tidak begitu menyukaiku, entah kenapa. Aku hanya menunggumu mengatakan maaf karena pergi meninggalkanku hari itu namun yang kau lakukan justru menjadikanku musuh. Kata itu…maaf…apakah mengucapkan maaf terasa begitu sulit untukmu? Mengapa kau sedemikian bencinya kepada aku?” Dan Siwon hanya terduduk lemas. Kedua lututnya terasa tidak mampu menahan berat badannya lagi begitu mendengar semua penuturan Kyuhyun.
.
.
.
Sejak hari itu, cara pandangnya terhadap Kyuhyun benar-benar berubah. Sedikit demi sedikit kenangan masa lalunya mulai teringat kembali di benak. Ia sedikit ingat ketika aboeji marah setelah hampir seharian ia bermain dengan Kyuhyun. Saat itu, dengan entengnya Siwon akan menjawab bahwa Kyuhyun adalah satu-satunya teman terbaik yang pernah dimilikinya. Tanpa peduli omelan-omelan yang dilontarkan aboeji, yang Siwon tau hanyalah persahabatannya begitu murni dengan Kyuhyun.

Mengacak rambutnya frustasi, Siwon menatap keluar jendela. Sesaat kemudian, ia terkesima karena melihat salju-salju turun. Ia menyukai salju dan musim dingin. Ia menyukai permainan ice skating dan perang bola salju, begitu juga sahabat masa kecilnya…Cho Kyuhyun.

“Kyuhyunnie…” katanya begitu melihat Kyuhyun yang hendak cepat-cepat masuk kamar, tidak ingin berlama-lama melihat Siwon. “Salju pertama di musim dingin telah turun. Maukah kau bermain perang bola salju?” dan Kyuhyun hanya terdiam belum memberikan reaksi.

Setengah jam yang lalu, suasana canggung diantara keduanya begitu terasa. Tapi kini, Siwon sedang bersusah payah demi membuat Kyuhyun menyunggingkan senyumnya. “Hey, Kyuhyunnie. Lihatlah, nampaknya saat salju makin lebat nanti kita akan bisa bermain ice skating disini. Whooo~” Siwon begitu excited. Meskipun jauh di lubuk hati Kyuhyun ia ingin sekali bergabung bersama Siwon tapi ada yang menahan niatannya. Permusuhan, luka yang sekian lama dipendamnya sendirian tidak membuatnya bisa begitu saja sekedar melemparkan bola salju ke Siwon, menyatakan permainan perang bola salju telah dimulai.

“Aish~kau tidak mau bergabung denganku? Kau masih merasa aneh melihatku seperti ini? Kkk~jujur saja aku pun merasa aneh tapi yeah inilah aku, the new me! Choi Siwon.” Ia tersenyum lebar dengan joker lips nya. “Aku minta maaf karena terlalu lama membuatmu harus menanggung luka sendirian. Aku kembali ke kamar setelah mendengar ceritamu lalu menyesal betapa aku sangat bodoh dan jahat kepadamu. Dengarkan aku, Cho Kyuhyun sahabatku. Entah apa yang ada di pikiranku pada hari dimana aku pergi meninggalkanmu tapi yang jelas aku ingin kau tau bahwa kali ini aku benar-benar menyesal. Aku menyesal hingga rasanya aku ingin sekali kau mendorongku sekali lagi supaya aku merasakan pneumotorax yang sama sepertimu. Aku begitu menyesal hingga mungkin sekalipun kau menamparku dengan telapak kakimu pun aku akan menerimanya. Cho Kyuhyun, sahabat kecilku, maafkan aku…”

Mata Kyuhyun terasa berair, kalimat yang sejak lama telah ia tunggu kini terucap sudah. Setelah melewati masa yang cukup panjang, gunung es berupa kebencian yang selama ini memisahkan keduanya kini telah mencair, “Pangeran masa kecilku, Choi Siwon, aku memaafkanmu. Tidakkah kau ingin mengajakku bermain perang bola salju?”

Keduanya saling melempar bola salju lalu tertawa gembira bersama-sama. Tidak peduli berkali-kali suster dan dokter berusaha mengajak keduanya untuk masuk kamar karena faktor cuaca yang bisa membuat kondisi kesehatan keduanya memburuk. Choi Siwon dan Cho Kyuhyun hanya ingin menikmati masa-masa seperti ini, masa yang pernah hilang untuk sekian lama. Sampai akhirnya…

“Cho Kyuhyun, ayo masuk. Aku sudah membelikanmu soju dan tteokpokki pesananmu.”
“Yunho hyung~”
.
.
.
Hari-hari selanjutnya adalah saat Siwon dan Kyuhyun membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka. Tidak ada lagi permusuhan dan persaingan, yang terang saja membuat orang di sekitar mereka menjadi terkejut setengah mati sekaligus bersyukur. Siapapun yang melihat keduanya berdamai akan ikut merasa senang. Yah, karena perdamaian adalah hal yang lebih baik daripada apapun di atas bumi yang renta akan kerusakan ini.

Tidak ada tatapan benci, gerutuan dan bahkan senyum meremehkan. Cho Kyuhyun dan Choi Siwon adalah rekan kerja yang sangat baik. Keduanya akan bekerja sama bahkan tak jarang sampai mereka pulang malam kemudian menyempatkan untuk makan ramyun di pinggir jalan sambil melepas penat dengan obrolan ringan. Yang lebih konyol lagi, keduanya akan berlari bersama ketika berhasil menggoda anjing pemilik kedai ramyun.

“Aigoo~ahhhh….” Kyuhyun tertawa puas sambil memegangi dadanya.
“Kau tidak apa, Kyuhyunnie?” Siwon mulai mencemaskan rekannya.
“Tidak apa, kau tidak perlu khawatir.”

Mereka melanjutkan perjalanan pulang. Sesekali bersahutan, bernyanyi kecil. Puff the Magic Dragon, lagu kesukaan mereka saat kecil dulu. Benar-benar persahabatan indah yang sudah lama terbengkalai. Baik Siwon ataupun Kyuhyun merasa senang karena pada akhirnya masih diberi kesempatan untuk menjalin apa yang dulu sempat hilang darinya.

“Kenapa kau terkekeh? Apa ada yang aneh denganku?” Siwon merasa bingung melihat Kyuhyun yang terus saja tersenyum memperhatikannya. Ia berhenti berjalan, menghadap kearah Kyuhyun sambil berkacak pinggang, “Ya~katakan saja ada apa? Atau kau mau aku mencium pipimu sampai kau berteriak-teriak?” ancamnya.

“Ada lelehan salju tersangkut di alis tebalmu itu pffft~kau konyol sekali.”
“Benarkah? Coba tolong bersihkan.”

Kyuhyun maju beberapa langkah dan berjinjit karena Siwon memang lebih tinggi darinya. Ia begitu fokus membersihkan alis Siwon sampai kemudian ia bertatapan mata langsung dengan Siwon dari jarak sedekat ini. Saat itulah, dadanya bergemuruh, bukan karena pneumotorax nya kambuh. Ada perasaan yang sulit ia deskripsikan dengan kata-kata. Hal yang sama terjadi pada Siwon, ia begitu tenggelam di mata kelam Kyuhyun. Keduanya masih saling menatap dengan detak jantung yang rasanya beberapa kali lebih kencang dari biasanya.

“Ah, maafkan aku…” Kyuhyun lah yang pertama tersadar dan menarik diri menjauh dari Siwon. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kyuhyun berusaha menormalkan kembali dirinya yang sempat merasa nervous untuk beberapa saat.

“Apakah…kau sudah menemukan seorang wanita yang kau sukai, Kyuhyunnie?”
“K-kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tidak, hanya saja aku penasaran. Dengan kedekatan kita seperti ini aneh rasanya jika hal seperti hubungan percintaan masing-masing saja kita tidak tau.” Siwon sedikit kebingungan. Ia sendiri tidak tau bagaimana bisa ia tiba-tiba bertanya hal seperti ini.
“Bagaimana dengan kau sendiri?”
Siwon terbelalak,”Aku? Hmh, tidak ada. Aku sedang sendiri saja.”
“Tapi kau tampan, mustahil kau belum punya seorang pacar.”
“Aish~sudahlah. Bagaimana dengan kau sendiri? Kau tidak menjawabku.”

Belum juga Kyuhyun membuka mulutnya untuk menjawab tiba-tiba dari seberang ia melihat seseorang berjalan menghampiri mereka. Rasanya ia mengenal siapa sosok ini. Ia menghela nafas dan hanya mendiamkan Siwon yang masih belum sadar akan kehadiran orang lain diantara mereka.

Ia memeluk Kyuhyun begitu saja, di depan Choi Siwon yang berganti ekspresi terkejut. Memasangkan ear muff di telinga Kyuhyun, juga syal berwarna putih. “Sudah aku bilang sebaiknya kau menungguku, biar aku yang menjemputmu pulang. Kau nakal sekali.” Kyuhyun mengangguk kecil. “Kau teman kerjanya? Perkenalkan, aku adalah Jung Yunho, calon suami Cho Kyuhyun. Kami akan menikah dalam waktu dekat.” Yunho, laki-laki itu tersenyum ramah sembari mengulurkan tangan, bermaksud berjabat tangan dengan Siwon.

Mereka bertiga, berjalan pulang bersama dengan pikiran dan perasaan yang berbeda satu sama lain. Yunho, sudah menjadi rutinitasnya menjemput Kyuhyun pulang bekerja sebelumnya. Yang ia tau, Kyuhyun biasa pulang seorang diri. Baru akhir-akhir ini saja Kyuhyun mengatakan bahwa ia mendapat teman kerja yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Kyuhyun sendiri, ia masih bingung dengan perasaan yang tadi datang menghampirinya saat menatap Siwon dari jarak sedekat itu. Memikirkannya kembali hanya membuatnya merasakan seperti ada ratusan kupu-kupu hinggap di atas perutnya, memberikan suatu perasaan yang tidak pernah sekalipun ia rasakan sebelumnya, terhadap Yunho sekalipun. Dan yang terakhir adalah Siwon, sama seperti Kyuhyun namun ia juga masih terlampau shock saat Yunho memperkenalkan dirinya. Tentu saja ia tidak asing dengan Yunho. Ia tau laki-laki itu sering bersama Kyuhyun tapi ia tidak tau jika hubungan keduanya ternyata sudah sejauh ini. Ah, mereka akan menikah…menikah. Tiba-tiba saja untuk sepersekian detik, Siwon sempat merasakan terluka karena di benaknya berkali-kali terngiang masalah pernikahan.
.
.
.
Tidak seorang pun bisa menebak kapan datangnya cinta. Ia akan datang bahkan tanpa bisa dihindari atau diantisipasi. Tanpa kabar berita, merasuk jauh ke dalam sanubari seseorang. Sampai akhirnya hati yang sehat itu telah benar-benar terinfeksi cinta, maka di saat itulah ia akan mengumumkan kemenangannya bersarang di hati seseorang.

Begitu pula yang terjadi pada Kyuhyun dan Siwon. Seringnya menghabiskan waktu bersama, tanpa sadar membuat mereka menjadi dekat. Mereka tidak lagi canggung bahkan sekalipun harus minum dari botol soju yang sama. Tanpa disadari, perasaan seperti inilah yang akhirnya menaklukan mereka, berlutut pada sang maha cinta.

“Kenapa mengajakku? Kau harusnya menunggu Yunho sampai ia pulang dari Busan.” Siwon kewalahan ketika ditarik Kyuhyun masuk ke dalam sebuah butik. Ia hanya mengerutkan kening, tidak tau apa lagi yang akan dilakukan Kyuhyun kali ini. “Ia terlalu lama dan waktunya tidak akan cukup untuk kami melakukan fitting baju pengantin. Kau punya tubuh yang hampir mirip dengannya, kurasa kau bisa dijadikan patokan untuk proses pengukuran.”

“Memangnya kau pikir kau menikah dengan siapa?” gerutu Siwon yang akhirnya mendapat balasan sebuah cubitan di hidungnya. Ia sungguh tidak berdaya bahkan ketika tubuhnya diukur dan Kyuhyun berkali-kali menempelkan tuxedo sambil tersenyum ceria. Hmh, Siwon bisa mengerti senyuman itu. “Kau cobalah tuxedo yang ini, aku akan mencoba yang putih. Cepat~jangan buang-buang waktu.”

Ya, baiklah Siwon dengan pasrahnya mengganti bajunya. Ia bisa mendengar kekehan Kyuhyun, merasa menang atas Siwon. Setelah merasa ia sudah rapi, segeralah ia kelar kamar ganti. Tadinya ia ingin menggerutu pada Kyuhyun karena tindakan yang dinilainya sebagai pemaksaan namun ia terhenti melihat sosok Kyuhyun yang mematut dirinya di depan cermin. Ia diam-diam mengagumi Kyuhyun yang tampak sangat berbeda dengan tuxedo putihnya.

“Kau sudah selesai?” Kyuhyun menyadarkan lamunan Siwon. “Kemarilah, biar aku lihat di depan cermin.” Maka Siwon pun lagi-lagi merelakan kakinya melangkan mendekati Kyuhyun, berdiri berdampingan seakan mereka sungguhan lah pengantinnya. Kyuhyun terus tersenyum,”Ini tampak cocok jika disandingkan. Aku rasa aku akan mengambil tuxedo ini. Nah sekarang cobalah tersenyum. Kita sedang latihan menjadi pengantinnya.”

Siwon menurut dan tersenyum.

Kyuhyun menggandeng lengan Siwon, mengusapnya perlahan. Entah kenapa ia merasa lebih nyaman melingkarkan lengannya pada lengan Siwon. Tidak, ia tidak boleh seperti ini. Ia akan sangat berdosa pada Yunho. “Siwonnie~apa kau ingat dulu kita suka bergantian menyanyikan lagu Puff the Magic Dragon sampai kita tertidur. Aku ingin nantinya lagu itu dimainkan saat aku menikah dengan Yunho.”

Siwon menggeleng.”Kau pilihlah lagu yang lebih baik.”
“Coba sekarang, bisakah kau berpura-pura menjadi Yunho dan melamarku dengan cincin ini? Bantu aku supaya tidak gugup saat Yunho melamarku nanti. Sepulang dari Busan kudengar ia mempersiapkan sesuatu, aku rasa inilah hal yang ia siapkan.”

Awalnya Choi Siwon merasa ragu sampai akhirnya ia berlutut di depan Kyuhyun. Dengan bingung dan perasaan bercampur aduk, ia membuka kotak cincin, menunjukkannya kepada Kyuhyun, “Untuk menemaniku saat suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin. Untuk menjadi suami, sahabat serta teman berbagiku seumur hidup. Untuk menerima segala kebaikan dan keburukanku, dengan ini aku ingin memintamu, maukah kau menikah denganku?”

Mati-matian Kyuhyun menahan supaya tangis yang ia tahan tidak terjatuh. Ia sampai menggigit bibirnya yang lama-kelamaan terasa ada rasa anyir darah. Pertahanan terakhirnya hanya sampai ia menganggukkan kepala. Saat itulah ia sadar, perasaannya pada Choi Siwon adalah perasaan yang harusnya ia berikan pada Yunho, calon suaminya. Tes sederhana yang ia lakukan ini ternyata menunjukkan hal yang paling ia takutkan, ia telah takluk, kalah telak pada cinta yang membelenggunya atas nama Choi Siwon. Sementara itu, tidak jauh berbeda dari Kyuhyun, Siwon pun kini sedang menahan emosinya. Seandainya benar ia yang akan memakai tuxedo itu, berjalan ke altar untuk menjemput Kyuhyun, mengucap janji sehidup semati, mengikat diri berdua dengan Kyuhyun di hadapan Tuhan. Mendadak, suasana sangat sepi. Mereka terlalu sibuk menenangkan perasaannya.

.
.
.
Nyanyian itu terus bersahutan tiada henti. Siwon dan Kyuhyun berdiri berdampingan menatap sungai. Saat Siwon mendengar nafas Kyuhyun yang sedikit menderu, ia memutuskan untuk melepaskan coat miliknya. “Aku mungkin bisa tertidur jika kau terus menyanyi, kkk~” ia mencoba mencairkan suasana. “Suaramu tidak berubah, sangat indah.”

“Kelak, kenanglah selalu lagu ini. Aku harap setiap kali menyanyikannya sebagai lagu tidur anakmu, kau akan mengingatku dan…persahabatan kita.” Suara Kyuhyun memelan.

“Tentu…kau juga.”

Tidak ada sahutan lagi. Mereka memilih untuk diam sesaat entah bingung ingin mengatakan apa atau bahkan kehabisan bahan obrolan. Hawa dingin mulai menusuk, jauh kedalam tulang Siwon. “Kau yakin kau tidak apa?” Tanya Kyuhyun yang hanya ia beri anggukan kepala untuk jawaban.

“Choi Siwon, tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu untukku?” Dengan berani, Kyuhyun mengambil satu langkah lebih maju. Ia ingin mendengar kejujuran Siwon, sekali ini saja. Kejujuran yang mungkin akan merubah hidup mereka berdua, kejujuran yang mungkin akan memberikan ia kekuatan untuk melepaskan hubungannya baik-baik dengan Yunho.

“Mungkin, sebelum aku menjadi suami orang lain…kkk~mungkin saja kau ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu? Sebaiknya kau cepat mengatakannya…supaya…aku…cepat bertindak.” Sedemikian sempurnanya Kyuhyun memberi tanda pada Siwon, membukakan pintu kesempatan untuk terakhir kalinya.

Lidah Siwon terasa kelu. Ada ribuan mungkin bahkan jutaan ungkapan yang ingin ia perdengarkan kepada Kyuhyun. Ada perasaan-perasaan yang tidak dapat ia artikan seorang diri dan ia butuhk Kyuhyun untuk memberikan bantuannya mengartikan semua perasaan ini.
“Choi Siwon? Apakah tidak ada?”
“Aku…”

Kyuhyun terluka, ia harusnya tidak memiliki ekspetasi terlalu tinggi. Mungkin cintanya kepada Siwon hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ia tersenyum getir, setidaknya dari seorang Choi Siwon lah ia bisa belajar, cinta yang seperti inilah yang kelak harus ia berikan pada Yunho. Ia memegang bahu Siwon untuk berhadapan dengannya, berusaha meraih kedua rahang tegas Siwon dan mendaratkan kecupan di bibirnya untuk beberapa detik.

“Inilah puncaknya, Choi Siwon. Aku akan menutup pintu itu sekarang karena kau tidak juga masuk dan melakukan perubahan besar untuk hubungan kita berdua. Inilah puncak hubungan kita selama ini, yang lebih indah daripada persahabatan, yang lebih menyakitkan dari sekedar cinta. Aku mencintaimu.” Batin Kyuhyun sambil memejamkan matanya.

Setelah beberapa saat, ia menjauhkan dirinya. Meskipun sedikit malu, Kyuhyun berusaha supaya ia tidak terlihat menyedihkan di depan Siwon,” Itu tadi adalah puncak pesta bujangan diantara kita hari ini. Dulu saat kita masih kecil, kau suka membuatku kesal ketika aku menangis maka kau akan membujukku dengan cara mengecup bibirku. Maka sekarang, inilah balas dendamku. Saat aku menjadi suami Yunho nanti, aku berharap aku akan masih bisa dekat denganmu seperti sekarang. Selamat tinggal Choi Siwon…” Kyuhyun melangkah pergi sebelum Siwon melihat air matanya.

Flashback End
.
.
.
Kyuhyun dan Yunho tampak serasi, Siwon sedang bersusah payah menghibur dirinya sendiri. Ada perasaan menyesal dan benci terhadap dirinya sendiri yang terlampau bodoh dan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Kyuhyun padanya. Kini, ia akan benar-benar kehilangan Kyuhyun, sahabat kecilnya yang suka menyanyikan lagu tidur yang indah untuknya, ia akan kehilangan Kyuhyun, tempatnya berbagi suka dan duka. Tidak akan ada lagi jalan-jalan makan ramyun sambil minum soju selepas pulang kerja. Tidak akan pernah ada lagi perang bola salju atau ice sakitng, karena di kemudian hari Kyuhyun akan lebih fokus terhadap kehidupannya sekarang, bersama dengan Yunho.

Ia baru menyadarinya, betapa tipisnya sekat antara cinta dan benci waktu itu. Begitu tipisnya, sampai ia adalah yang pertama tau alasan Kyuhyun absen dari sekolah. Begitu kentaranya sekat itu sampai ia akan diam-diam merampas uang Kyuhyun yang dimintai paksa oleh gangster-gangster amatiran di sekolah mereka, mengembalikannya di laci bangku Kyuhyun. Ia memang memusuhi Kyuhyun, ia ingin Kyuhyun sadar bahwa Siwon jauh lebih hebat dari Kyuhyun. Namun sesungguhnya, ia hanya ingin Kyuhyun terfokus, melihat hanya kepadanya.

Pengantin yang berbahagia itu lewat di depannya, Kyuhyun melihat Siwon dan sedikit terkejut karena ia tersenyum, wajah tampannya dipadukan dengan senyuman yang terlihat begitu tulus, sepersekian detik menampar Kyuhyun bahwa cintanya benar-benar tidak berbalas. Kyuhyun mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin terluka di hari yang harusnya menjadi hari terbahagianya. Saat itulah, Siwon menundukkan kepalanya, menyesali kebodohannya untuk melepaskan Kyuhyun kedua kalinya sekaligus selamanya. Batinnya memberontak,”Jika ada hal yang harus aku sesali maka itu ialah ketika aku mendapati cinta yang datang terlambat, dari matamu.” Cinta telah pergi, cinta yang harusnya bisa ia perjuangkan dan menangkan jika saja ia bersikap lebih berani, seberani tindakan-tindakannya dulu yang selalu menantang Kyuhyun. Tapi kenyataannya, hanya dengan satu tantangan dari Kyuhyun saja, Choi Siwon sudah menyerah, tidak mampu berbuat apa melainkan menyesal dan mengutuki kebodohannya.

.

.

Klik di sini jika ini FF favorit Kalian ^^

Advertisements

19 thoughts on “[FF Kontes] Winter Lullaby

  1. nangis pas bacanya 😥
    tp dpt moral value dari ff ini. Jangan sia-siakan kesempatan yang ada dan berani mengungkap perasaan kpd org yg kita cintai.

  2. hiks hiks hiks cuma bisa nangis huaaaa sediiiiiiiiiiiihhhhh wonkyuuuuuuu, sesuju sequel dun, buat wonkyu bersama, hiks hiks sukaaaaa

  3. Cryingg! Menyakitkan melihat pernikahan yunho dan kyuhyun tapi siwon hanya diam saja. Siwon Silly! Huhuhu TT___TT minta sequelnya boleh?

  4. Ffnya bikin mewek malem malem… Razor aja tuh alisnya siwon, mbah T_T masa gabisa nahan kiyunya. Bikin sekuelnya jebaaall!! Buat yunhonya keracunan ta apa gitu xDD

    Bahasanya sederhana, gampang dipahami setiap plot plot pemainnya. Feelnya dapet pas wonkyu kissing >< (o..emji!! Gigit won gigit!! XD) . Ditunggu next storynya mbah~~

  5. Omg nyesek bgt…
    siwon jg udh dikasih tanda gitu sama kyu masih aj ga ngerespon dgn baek…
    kasian sm kisah cinta mereka yg kandas sebelum dimulai…

  6. Aish,,,
    Knp won bodoh bnget??
    Wae,???wae,???wae???
    Pdahal kyu udh ngasi ksmpatan, tp knpa malmaldi sia2in???. .
    Hiks, 😢😢😢
    Nyeselkan jdinya. . hueeeeeee
    Tp ya sdahlah, pnyesalan emang slalu di akhir. . yg terjadi terjadilah *apadeh*

    Endingnya gak enak, tp ff nya keren. .
    ^_^*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s