Posted in BL, FF Kontes, Friendship, Oneshoot, Romance, Sad, WonKyu Story

[FF Kontes] 3rd Win – Undefined

undefined

Undefined
Author : Joanbabykyu
Main Cast : Kyuhyun, Siwon.
Support Cast : Jiyoon, Changmin
Genre : Boys Love, Romance, Sad, friendship
Rate : PG-15
Summery : Siwon dan Kyuhyun hanyalah sepasang sahabat yang tidak mengerti apa itu cinta. Seiring waktu berlalu, perasaan mereka berubah, kebodohan mereka tentang cinta membuatmereka mengerti bahwa cinta itu tak terdefinisi.

.
.
.

Cinta itu bukan sekedar janji dan komitmen, cinta itu sebuah perasaan abstrak pengusik hati tak terlihat, tak terbaca, tak tergenggam.

Kyuhyun kembali merapatkan jaketnya ketika angin musim gugur terasa semakin menusuk tulangnya, dengan pipi mengembung kesal pria manis itu menggerutu tak jelas dengan volume suara yang sengaja ia kecilkan. Tentu saja, ia tak ingin dianggap gila oleh orang-orang yang saat ini tengah berlalu lalang dihadapannya. “Awas kau, Choi Siwon! Kau membuatku membeku disini!” umpatnya pelan.

Ia sudah akan melangkah meninggalkan tempatnya ketika sebuah motor sport berwarna hijau berhenti dihadapannya beserta pemiliknya –yang ia umpat tadi- menyengir lebar merasa bersalah. “I’m sorry!” ucapnya sok english. Kyuhyun memandangnya datar merasa kesal karena telah dibuat menunggu lama oleh pria yang ada dihadapannya kini.

“Traktir aku jajangmyun selama 2 minggu! Ku anggap impas dengan waktu menungguku selama 30 menit.” Ujar Kyuhyun datar.

Siwon tersenyum maklum sebelum berseru men-deal-kan keinginan sahabat –yang biasanya cerewet- nya itu. Yeah, Siwon amat sangat mengerti pria manis dihadapannya ini akan berbicara datar jika sedang kesal. “Jja, kalau begitu kita bearangkat sekarang!” Siwon berseru sambil menyerahkan helm kepada Kyuhyun yang segera di ambil dan dipakainya kemudian menaiki motor hijau yang joknya menungging hampir 45 derajat itu.

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Siwon segera menancap gasnya menembus ruang dan waktu menuju salah satu Mall terkenal di daaerah Seoul. Siwon memang meminta Kyuhyun untuk menemaninya mencari kado ulang tahun untuk calon kekasihnya. Namun, karena Siwon tidak ada jadwal kuliah lantas ia hanya dapat menunggu kepulangan Kyuhyun di Cafe dekat Kampus miliknya dan berjanji akan menjemput Kyuhyun sepulang kuliah. Well, meski ia harus membuat Kyuhyun menunggu selama 30 menit.

Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam lebih. Namun, Siwon masih belum menemukan kado yang tepat untuk calon kekasih yang sebentar lagi merayakan hari lahirnya. Kyuhyun sendiri sudah mulai lelah dan hanya bisa mengikuti kemanapun Siwon pergi. Bibir pinkish-nya telah terpaut sejak tadi. Berharap Siwon segera sadar dan ingat akan rumah.

“Kyu!”
Kyuhyun terlonjak kaget matanya menatap tak fokus pada Siwon yang kini mendekat kepadanya. “Ada apa?”
“Bagaimana menurutmu?” Siwon menunjukkan sebuah jam tangan mewah dengan kombinasi warna ungu dan putih. Terlihat mahal dan glamour.

Kyuhyun mengambil jam tangan tersebut. keningnya berkerut tanda kurang setuju dengan pilihan Siwon. Dasar orang kaya!. Pikir Kyuhyun. “No Siwonnie, ini terlalu mewah. Jiyoon-sshi pasti tidak akan suka.” Kyuhyun kembali meletakkan jam tangan tadi di atas tangan Siwon, lalu beranjak meminta pelayan mengambil salah satu jam tangan berwarna putih dari banyaknya deretan jam tangan yang ada. “Ini mungkin lebih cocok untuk Jiyoon-sshi. Simpel tapi elegan. Tapi kalau kau tidak suka juga tidak apa”

“Umm, aku ambil yang ini!” tangan kekarnya meraih jam tangan putih tersebut dari tangan lentik Kyuhyun. Matanya sekejap terpana dengan keindahan yang disuguhkan oleh jari-jari panjang nan lentik itu. Begitu kulit tangannya bergesekkan dengan kulit Kyuhyun seolah ribuan sengatan listrik menyengat jantungnya. Halus. Dan Siwon tidak mengerti mengapa kini ia merasa sesak nafas.

“H-hyung? Kau baik-baik saja?”

Siwon mengerjapkan matanya lalu kemudian menghirup udara sedalam mungkin. “Ah ya, baby. Aku baik-baik saja.” Siwon tersenyum menenangkan. Lalu berbalik meminta pelayan untuk membungkuskan kadonya. Pikirannya mendadak tidak fokus. Mana mungkin ia menjadi sesak nafas hanya karna bersentuhan tangan dengan Kyuhyun. Kepalanya menggeleng pelan mengusir pikiran-pikriran aneh yang baru saja menderanya.
.
.
.
Hujan deras menyelimuti Korea sore ini, membuat siapapun enggan untuk beranjak dari singgasana terhangat mereka. Kyuhyun menyesap Americano-nya sambil memandang hujan yang mengguyur bumi dibalik jendela cafe favoritnya. Kyuhyun yang baru saja akan pulang dari kampusnya segera berbelok ke arah cafe bgitu melihat tanda-tanda hujan, dan ia sangat bersyukur begitu ia memasuki cafe, hujan langsung turun dengan derasnya. Tak bisa ia bayangkan jika ia terlambat semenit saja ia pasti sudah basah kuyup sekarang.

Matanya bergerak menyusuri luar ruangan yang masih dapat ia jangkau dengan bantuan kacamata minusnya. Orang-orang beregerombolan mencoba berlindung dari hujan di salah satu halte, membuat Kyuhyun tersenyum tipis. Well, sepertinya ia akan menjadi salah satu dari segerombolan orang-orang tersebut jika saja ia terlambat sampai di cafe ini.

Bicara tentang cafe, sebenarnya Kyuhyun tidak terlalu mengerti mengapa ia bisa menjadikan cafe itu menjadi cafe favoritnya. Hanya saja, gaya klasik dan temperatur yang fleksibel membuatnya selalu nyaman untuk menghabiskan waktu disana. Dan mungkin, karena cafe itu merupakan cafe milik Siwon.

Kyuhyun tersenyum menatap gerombolan orang yang kini tengah berdesa-desakkan di bawah perlindungan halte bus yang kecil. Mungkin sesekali ia akan mencoba untuk ikut gerombolan itu. Sepertinya akan sangat menyenangkan. Matanya terpaku pada sepasang kekasih yang saling berpegangan tangan. Tampak tak acuh dengan keributan orang-orang disekitarnya. kyuhyun mengerti bahwa ketika orang-orang mengutuk kedatangan hujan, masih ada orang-orang yang justru mengharapkan turunnya hujan, seperti dua sejoli yang tengah dimabuk asmara tersebut.

“Kyu!”

Kyuhyun tersentak kaget dari dunianya, saat dirasa sebuah tekanan ringan menghimpit bahunya. Kepalanya bergerak menatap tersangka pelaku penepukan bahunya. “ah, Hyung!” Kyuhyun tersenyum menyambut sosok yang dipanggil hyung itu. Sosok yang sama yang telah menepuk bahunya. Mata Kyuhyun bergerak mengikuti pergerakan sosok tersbut hingga ia duduk dengan nyaman dihadapannya.

“Ku kira kau tidak akan kesini.” Siwon tersenyum.
“Yah, hujan yang membawaku kesini.” Matanya kembali menatap keluar jendela. Tidak bisa terlalu fokus karna sosok dihadapannya telah membuyarkan segalanya.
“Hujan sepertinya tidak akan berhenti hingga beberapa jam kedepan.”

Kyuhyun tersenyum menanggapi penuturan Siwon. Entahlah, iapun tidak mengerti mengapa hari ini banyak tersenyum. Ia menatap hujan yang kini semakin deras. Ia rasa Siwon benar hujan tidak akan berhenti sampai beberapa jam kedepan. Perasaan hangat melingkupi tubuhnya saat dirasanya sebuah kain tersampai di bahu kecilnya. Mau tak mau Kyuhyun harus menatap Siwon kembali. Sementara objek yang ditatap hanya mengangkat bahunya tak peduli seolah ia tak melakukan apapun. Melayangkan pandangannya keluar jendela, mencoba menikmati apa yang sejak tadi pria manis itu nikmati.

“Bagaimana? Apa Jiyoon-sshi menyukai hadiahnya?”

Siwon terdiam sejenak mencoba menelaah pertanyaan Kyuhyun. “Ah, ya! Aku belum memberikannya. Kurasa nanti malam aku baru akan menemuinya.” Siwon menatap langit. Bagaimana mungkin ia melupakan hari ulang tahun Jiyoon, padahal beberapa minggu ini ia sangat menantikan hari ini.

Kyuhyun menatap tajam Siwon. “Ck! Kenapa hyung lambat sekali? seharusnya kau adalah orang pertama yang memberikannya kejutan.”

Siwon menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Menatap Kyuhyun canggung. “Hm… ya… aku hanya ingin menjadi orang terakhir yang memberikannya kejutan.” Tersenyum garing merasa tidak yakin dengan apa yang telah ia ucapkan. Berbanding terbalik dengan sinar mata Kyuhyun yang menatapnya takjub dengan mulut terbuka. Mendadak Siwon gemas melihat Kyuhyun seperti itu.

“Benar! Hyung jenius! Kenapa aku tidak terpikir seperti itu ya?”
“Apa maksudmu, Kyu?”
.
.
.
Siwon menatap jiyoon yang kini tengah tersenyum. Jemari lentiknya menggenggam jam tangan putih yang baru saja ia terima dari Siwon. Siwon sendiri merasa kaget karena keterlambatannya memberikan hadiah. Namun, bukannya marah respon Jiyoon sangat jauh dari apa yang telah ia pikirkan. Gadis berpipi tembam itu malah memeluknya dengan erat merasa bahagia dan spesial diwaktu yang bersamaan.

“Kau suka?” Sebenarnya Siwon tidak perlu berbasa-basi untuk menanyakan hal itu. Hanya saja ia terlalu gugup dan malah menanyakan hal yang jelas-jelas telah ia temukan jawabannya dari cara gadis itu menatap jam tangan pemberian darinya.
“Suka sekali, oppa! Jam tangannya sangat cantik!” Jiyoon memasang jam tersebut di pergelangan tangan kirinya.

Siwon merasa lega mendengar jawaban Jiyoon. Kyuhyun benar jam tangan itu sangat cocok dipakai Jiyoon. “Yah, itu Kyuhyunnie yang memilihkannya.” Siwon menerawang ke atas langit. Tiba-tiba saja ia teringat wajah manis Kyuhyun. Tak peduli bahwa kini raut wajah Jiyoon berubah masa.

“Kyuhyun-sshi?” gadis itu tersenyum miring. Ia tahu bahwa Siwon sering terlihat bersama Kyuhyun hampir disetiap waktu. Bahkan ia pernah mendengar gosip yang mengatakan kalau Siwon dan Kyuhyun merupakan sepasang kekasih. Mereka tidak normal dan sepasang gay. Padahal Siwon dan Kyuhyun bahkan berbeda fakultas. Namun, gosip itu terpatahkan saat semua orang tahu bahwa Siwon mengejarnya. Jiyoon harusnya dapat berbangga hati dengan kenyataan seperti itu.

Siwon yang masih muda namun sudah memiliki usaha ditambah dengan kenyataan bahwa ia adalah satu-satunya pewaris salah satu perusahaan besar ternama di Korea, terlahir dengan wajah sempurna tanpa cacat. Namun, dibalik segala kesempurnaan itu, Jiyoon tak dapat membohongi hatinya saat dimana Siwon mulai mengait-ngaitkan segala kehidupannya dengan nama Kyuhyun. Rasa cemburu tak beralasan menyeruak hatinya. Dan ia merasa sangat bodoh karena telah cemburu kepada seorang pria. Sungguh memalukan. “Sampaikan terima kasihku kepadanya, oppa!”
“Tentu! Akan kusampaikan!”
.
.
.
“Dasar bodoh!!”

Siwon hanya dapat meringis pelan saat Kyuhyun menggeplak kepalanya dengan sepasang sumpit. Untung saja Kyuhyun tidak menggeplaknya dengan mangkuk yang terisi penuh oleh jajangmyun yang masih utuh. Matanya manatap ngeri membayangkan hal itu.

“Aku hanya tidak tahu harus berkata apa, Kyu. Lagipula ia baik-baik saja saat aku mengatakan hal itu. Ia juga memintaku untuk menyampaikan rasa terima kasihnya padamu kan?”

Kyuhyun memutar bola matanya frustasi. Pria dihadapannya ini bodoh atau bagaimana? Bisa-bisanya ia mengatakan jika hadiah itu dipilihkan oleh orang lain. Rasa-rasanya ingin sekali ia menggeplak lagi kepala Siwon dengan mangkuk jajangmyun-nya. “Hyung, dengar! Seharusnya hyung mengatakan kalau hadiah itu kau yang memilihkannya, tambahkan saja dengan rayuan cheesy yang selalu kau kirimkan pada ku saat sebelum tidur.”

“Aish! Aku tidak bisa, Kyu. Aku hanya bisa menggombal jika aku hanya memikirkanmu.”
Kyuhyun sweetdrop. Nah kan? Apa Siwon tidak sadar? kalau sebenarnya, baru saja ia menggombal padanya? Ckck. “Aish, sudahlah. Lagipula itu sudah berlalu.” Membuka sumpitnya untuk kemudian ia raup mie yang dibumbui saus pasta kacang hitam itu. Mengaduknya sebentar agar bumbunya menyatu secara rata dengan mie. Lalu menyantapnya dengan cepat.

Siwon mengangkat bahunya tak peduli. Menatap Kyuhyun yang kini tengah sibuk dengan jajangmyun-nya. “Kyu, bagaimana kalau aku mengajaknya kencan?”

Kyuhyun menghentikan kegiatannya menyeruput mie hitam itu. “Kencan? Ide bagus.”
“Kau ada rekomendasi?”
“Minggu depan ada peluncuran film romance terbaru. Kurasa ia akan senang jika kau ajak nonton.”

Kyuhyun kembali memfokuskan dirinya untuk bercumbu dengan mie hitam favoritnya itu. Rasa yang disuguhkan jajangmyun itu lebih nikmat berkali-kali lipat dibanding biasanya. Mungkin karena ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk memakan makanan favoritya tersebut.

“Baiklah kalau begitu, aku akan mengajaknya nonton.” Siwon tersenyum kecil menyaksikan tingkah Kyuhyun lagi-lagi tampak menggemaskan dimatanya. Sinar matanya yang cerah dengan pipi menggembung membuat Kyuhyun tampak lebih imut. Siwon bahkan tidak sadar saat tangannya terjulur menghapus jejak-jejak noda di sudut bibir Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam. Mengangkat wajahnya yang seketika disuguhi oleh onyx yang kini menatapnya dengan pandangan berbeda. Kyuhyun tidak tahu apa itu. Tapi yang jelas, dadanya kini berdebar dengan cepat.
.
.
.
Malam ini hujan kembali turun. Kyuhyun membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur queen size-nya. Tangannya menggenggam sebuah ponsel putihnya. Menatap layar yang kini sedang menampilkan deretan kata-kata gombal versi Siwon. Ada yang berbeda dengan hatinya. Rasanya, ia tidak pernah sebahagia ini membaca tulisan-tulisan Siwon. Biasanya ia akan segera membalas pesan tersebut dengan umpatan atau ledekkan. Namun kali ini, ia bahkan tak bisa memikirkan kata-kata yang tepat untuk membalas pesan Siwon. Belum sempat ia membalas pesan untuk Siwon. Ponsel itu kembali bergetar.

From : Siwon
Baby? Kau sudah tidur?

Jantung Kyuhyun berdetak lebih kencang. Baby. Ia terlalu sering dipanggil baby oleh keluarganya dan keluarga Siwon. Namun sekali lagi. Kali ini berbeda. Kyuhyun buru-buru mengetikkan beberapa deret kata yang menyatakan kalau ia akan segera tidur. Baru beberapa detik, Kyuhyun sudah mendapat balasan.

From : Siwon
Baiklah kalau begitu. Tidur yang nyenyak, Baby. Nantikan aku di mimpimu. ^^

Yang kyuhyun tidak mengerti adalah ketika ia merasakan panas yang membakar pipinya. Ia tahu pasti kini pipinya sudah menciptakan semburat merah. Tidak Siwon! Kau membuat ku tidak bisa tidur malam ini!

Ruangan itu belum sepenuhnya gelap. Masih ada nyala lampu yang menyinari ruangan itu. Bukan tanpa alasan mengapa disana masih terdapat kehidupan. Seseorang diasana tengah termenung menatap layar macBook yang menampilkan wajahnya bersama wajah Kyuhyun. Tidak biasanya ia seperti ini. Tiba-tiba saja pandangannya kepada Kyuhyun berbeda. Ada rasa yang menyengat jiwanya disetiap ia menatap wajah manis itu. Wajah yang beberapa tahun belakangan ini selalu dibingkai kacamata minus ber-frame hitam itu nampak lebih bercahaya di matanya.

Siwon menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya menatap kosong langit-langit kamarnya yang berwarna biru. Sama percis seperti warna langit-langit di kamar Kyuhyun. Ia ingat saat ia mulai menginjak bangku kuliah dan Kyuhyun masih duduk di bangku sekolah menengah. Mereka mulai mendekor kamarnya dengan barang-barang yang sama hanya warna yang membedakan. Sementara warna dinding dan langit-langit mereka buat sama.

Kyuhyun dan Siwon berdiri berdampingan menatap kamar Kyuhyun yang kini sudah dikosongkan. Keduanya melipat tangan di dada dengan sebuah kuas di tangan masing-masing. Kyuhyun mengamati setiap detail kamarnya. Mengacungkan kuasnya ke arah sudut kamarnya. “Baiklah bisa kita mulai sekarang?” Kyuhyun masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamarnya.

Siwon menganguk tak peduli jika kini Kyuhyun tidak memerhatikannya. “Aku akan memulai disebelah sana!” berjalan mendekati sudut lain di kamar Kyuhyun. Mulai memoleskan kuasnya pada dinding yang dingin itu.

Kyuhyun tidak tinggal diam. Ia ikut memoleskan kuas yang sudah ia celupkan ke dalam cairan cat berwarna abu-abu tersebut. mulai menikmati kegiatannya. Sambil sesekali bernyanyi kecil. Hm, ia sedikit bersyukur karena ia dianugrahi suara yang indah hingga ia tidak perlu merasa malu jika Siwon mendengarnya bernyanyi.

“Bisakah kau bernyanyi lebih keras, Baby?”

Kyuhyun membalik tubuhnya mengikuti suara Siwon. Ia tersipu malu saat melihat Siwon tersenyum menampilkan lesung pipitnya yang dalam. Dan ia menangguk kuat lagi memperkeras suara nyanyiaannya.

Keduanya nampak kelelahan. Duduk di atas lantai balkon kamar Kyuhyun. Menyaksikan hujan rintik-rintik yang membasahi tanah bumi. Sesekali baik Siwon ataupun Kyuhyun menyesap jus jeruk yang telah disiapkan oleh maid yang bekerja di rumah Kyuhyun.

“Ini benar-benar melelahkan!” Kyuhyun membanting tubuhnya di atas lantai. Membuat posisinya menjadi berbaring.
“Ini baru kamarmu, Kyu. Besok waktunya merenovasi kamarku.” Siwon ikut membaringkan tubuhnya di samping Kyuhyun setelah sebelumnya menyingkirkan gelas-gelas dan piring yang berisi makanan ke dekat pintu yang menghubungkan balkon dan kamar Kyuhyun.
“No! Siwonnie, ini saja melelahkan. Aku tidak mau mengerjakan hal-hal seperti ini lagi.” Bibirnya mempout sedang pipinya menggembung kesal.

“Mwoya?! Kau curang sekali! aku juga sama lelahnya dengan mu, Baby. Aku tidak mau tahu kau harus membantuku besok!”
Kyuhyun mendudukkan tubuhnya. “Yak! Tidak mau!”
“Aish! Kita sudah sepakatkan? Untuk meronovasi kamar kita bersama-sama! Kau egois sekali. tahu seperti ini seharusnya kamar ku yang lebih dulu kita renovasi!”

Kyuhyun menunjukkan senyum miringnya. Siwon dapat melihat jelas hal itu. Keningnya berkerut. Ada yang aneh dengan senyuman itu. Biasanya jika senyum itu membingkai wajah Kyuhyun itu artinya… “Yak! Jadi kau telah merencanakan hal ini!” siwon beranjak dari baringnya.
Kyuhyun yang mengerti bahaya yang mengintainya kini, beranjak berlari tak lupa ia menginjak ujung jari-jari tangan kanan Siwon agar memperlambat gerakan Siwon. Kyuhyun masih terus berlari menyususri tangga rumahnya saat ia mendengar jeritan tak manusiawi dari mulut Siwon. Ugh, sepertinya itu benar-benar menyakitkan.

Kyuhyun masih terus berlari keluar rumahnya. Tak peduli dengan hujan yang semakin deras mengguyur bumi. Yang ada dipikarannya hanya satu menyelamatkan diri dari terkaman kuda liar. Ia dapat mendengar dengan jelas umpatan yang dilayangkan Siwon kepadanya. Ia berbalik masih dengan larinya, menyaksikan Siwon yang berlari kencang menerjang ke arahnya.

Kyuhyun kini berada dalam pelukan Siwon. Jika tadi Kyuhyun yang tersenyum miring. Kali ini Siwonlah yang menunjukkan senyuman mematikannya. “Kau tidak akan selamat, Baby. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang jelas membuatmu kesakitan. Itu tidak berguna. Kalau kau masih tidak mau membantuku besok. Ucapkan selamat tinggal pada psp dan ps3 mu.”

Dan, ugh sial sekali karena kini dua benda berharga itu sedang menginap di kamar Siwon. Oh tidak-tidak. jelas sekali ancaman itu akan sangat ampuh untuknya. Sial! Siwon teralalu mengerti dengan kelemahannya. “Andweee!!! Arraseo aku akan membantumu besok!”

“Good Baby!” Siwon mencium pipi tembam Kyuhyun dengan gemas sebelum meledakkan tawa kemenangannya. Tak peduli jika air hujan mungkin saja masuk ke dalam mulutnya.

Siwon terkekeh kecil. Ia ingat esok harinya, Kyuhyun datang ke rumahnya dengan wajah suram. Tidak ada senyum tidak ada sapaan hanya wajah datar yang menghiasai wajah manis itu. Namun endingnya, Kyuhyun kembali tersenyum setelah Siwon iming-imingi jajangmyun gratis selama 2 minggu. Siwon kadang tidak mengerti mengapa Kyuhyun tidak pernah meminta ‘ganti rugi’ dengan barang-barang mewah. Ia lebih menyukai dijajani jajangmyun dari pada meminta barang-barang mewah.
.
.
.

Kriuk… kriuk…. kriuk…

Kyuhyun mengernyit dalam tidurnya. Merasa terganggu dengan suara-suara aneh yang terdengar oleh telinganya. Mencoba mengabaikan suara itu. Namun, suara itu terdengar lebih keras dan dalam tempo yang cepat. Aish! Ia tahu pasti siapa yang mampu melakukan hal-hal seperti itu.

Mengangkat kepalanya lalu kemudian berbalik ke arah suara itu. Rasa-rasanya ingin sekali Kyuhyun menggeplak kepala Changmin yang kini sedang duduk di sampingnya sambil tangan dan mulutnya bekerja sama menghabiskan keripik kentang berukuran jumbo. Mata bambi itu membaca sederetan huruf-huruf yang tersaji di atas tumpukan kertas yang sudah diberi cover.

“Shim Changmin! Bisakah kau tenang sedikit?” suaranya terdengar lembut dan dalam. Tapi pria yang dipanggil Shim Changmin itu mengerti bahwa dibalik suara lembut itu ada aura gelap yang terselip. Yang bodohnya, ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Kyuhyun mengeluarkan suara seperti itu. Karena setahunya ia tidak melakukan apapun yang salah yang dapat mengganggu ketenangan Cho Kyuhyun.
Rasa gatal ingin menggeplak kepala Changmin semakin berada dipuncak ubun-ubunnya. Melihat tak ada rekasi lebih dari teman tiangnya itu.

“Kau mau, Kyu?” dengan polosnya pria tinggi yang sering dipanggil Max itu mengacungkan bungkus keripik kentangnya ke hidung Kyuhyun. Membuat Kyuhyun dengan tidak sabarnya menggeplak kepala Changmin. “Yak! Sakit Cho! Apa yang kau lakukan?” ia meringis sambil mengusap-usap kepala yang menjadi objek amukan Kyuhyun.

Kyuhyun tak menjawab. Ia hanya memunyungkan mulutnya sambil menatap Changmin sendu.
“Yak Yak!! Kau kenapa?”
“Aku mengantuk Chwang, bisakah kau pelankan suara kriuk-kriuk mu itu?” Kyuhyun benar-benar mengantuk. Semalaman ia tidak bisa tidur. Dan ketika ia benar-benar ingin tidur pria tinggi itu malah menganggu dengan suara kriuk-kriuk-nya.
Changmin mngerjapkan matanya. “Mana bisa, Kyu? Aku sedang makan. Mana mungin suara kriuk-kriuk itu bisa aku pelankan. Lagi pula mengertilah sedikit. Aku sedang lapar. Jangan menggangguku.”

Jika bukan karena mulutnya yang lebih dulu menganga ia pasti akan menggeplak kepala Changmin dengan tas besarnya. Ia sudah akan pindah kelain tempat saat matanya menangkap sosok Siwon masuk ke dalam kelasnya. Senyum menawan seperti biasa Siwon tampilkan. Namun, kembali jantung Kyuhyun berdetak lebih kencang karena senyuman itu. Kyuhyun tidak mengerti karena di matanya Siwon tampak lebih bersinar dan mempesona. Ia bahkan melihat beberapa burung merpati putih di sekitar tubuh Siwon? Kyuhyun mengerjapkan matanya, yang ada di matanya kini tidak ada lagi merpati putih yang mengelilingi tubuh kekar dan tinggi milik Siwon.

Siwon menyerahkan dua buah tiket di hadapannya.
“Apa ini, Hyung?”
“Itu tiket, tentu saja, Kyu.”
Kyuhyun memutar bola matanya malas. “Aku tahu ini tiket. Maksudku, untuk apa kau memberikannya kepada ku?”

Siwon tersenyum menunjukkan ke-excited-an-nya. “Kau bilang aku harus mengajak Jiyoonnie, menonton kan? Nah aku sudah membeli tiketnya. Karena kurasa menonton hanya berdua itu tidak seru makanya aku membeli empat tiket. Nah. Dua tiket ini untukmu. Dan aku tidak mau tahu kau harus datang!” tandas Siwon cepat sebelum Kyuhyun menyela dan menolak keinginannya.

Good Baby!!” Siwon dengan serta merta melenggang keluar dari kelas Kyuhyun. Meninggalkan Kyuhyun yang sekali lagi lebih cepat menganga. Matanya menatap dua lembar tiket yang kini ada dalam genggaman tangannya. Ia hanya bisa terkulai lemas. Lalu sekarang ia harus pergi dengan siapa? Ia tidak mau jika harus menemani Siwon dan Jiyoon bermesraan. Ugh, membayangkannya saja ia tidak mau.

Kriuk… kriukk.. kriukkk

Kyuhyun kembali menatap Changmin. Err, aneh saat Siwon datang ia tak mendengar suara kriuk-kriuk yang dihasilkan oleh mulut Changmin itu. Tapi sekarang, ia mendengarnya lagi. Kyuhyun menatap tiketnya lagi, lalu menatap Changmin yang masih bertransformasi menjadi buldozer berjalan, menatapnya tiketnya lagi, Changmin lagi. Begitu terus sampai berulang-ulang.

“Jemput aku jam 7 malam.” Kyuhyun meletakkan tiket itu ke dalam bungkus keripik kentang milik Changmin. Meninggalkannya untuk kembali melanjutkan tidur terganggunya.
.
.
.
Siwon, Kyuhyun, Jiyoon dan Changmin sudah berada di dalam Bioskop. Film yang Siwon pilih dan Kyuhyun rekomendasikanpun sudah dimulai semenjak beberapa menit yang lalu. Jiyoon tampak menonton dengan khidmat sambil menggenggam tangan kanan Siwon. Sementara Changmin tidak sepenuhnya peduli dengan apa yang layar lebar itu tampilkan ia sedang sibuk-sibuknya meikmati popcorn berbagai macam rasa yang ia beli sebelum mereka masuk ke dalam Bioskop.

Bukan film yang menarik sebenarnya hanya film romance anak muda dengan perbedaan kasta sebagai klimaks dari film tersebut. kyuhyun sendiri merasa bosan dengan apa yang ia lihat. Baru saja ia akan memlingkan wajahnya keltika adengan yang disuguhkan adalah adegan ciuman panas. Kyuhyun tidak bisa mencegah pipinya untuk tetap pada warna yang sama.

Siwon yang sudah merasa bosan sejak tadipun mulai menolehkan matanya pada Kyuhyun. Menggenggam tangan Kyuhyun. Ingin merasakan kehalusan yang disuguhkan oleh kulit putih pucat itu. Mata mereka saling beradu, menatap dalam di bawah cahaya redup bioskop. Yang tidak Siwon mengerti adalah ketika ia memajukan wajahnya lalu menempelkan bibir itu pada bibir penuh Kyuhyun.

Bagai musim panas dan kering, angin hanya mengantarkan debu jalanan bercampur dengan udara yang dihirupnya. Sesak, seolah paru-parunya terhimpit ribuan beton. Tangannya terkepal erat hingga buku jarinya perlahan berubah memutih. Kyuhyun tak juga mengerti mengapa waktu seolah-olah berhenti menunjukkan keangkuhannya. Debaran jantng yang berlipat-lipat kali lebih cepat. Bahkan rasa-rasanya ia melihat pelangi disana. Di tempat yang tidak dapat ia mendeskripsikannya.

Dan ketika sesuatu yang lembut itu menghilang dari atas permukaan bibirnya, ia dapat merasakan sebuah panas yang membakar pipinya, mengahsilkan semburat merah muda pada pipinya. Onyx itu menatapnya dalam. Seolah menelanjanginya dengan sebuah tatapan yang ia tak mengerti apa maknanya. Menjadikan rasa hangat pada bagian hatinya yang paling dalam. Inikah cinta?


“Kyu, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Eomma menyuruh ku untuk segera pulang.” Changmin menatap bersalah pada Kyuhyun. Memang buka dia yang mengajak Kyuhyun menonoton, tapi tetap saja ia yang sudah menjemputnya.
“Oh? Baiklah tidak apa-apa. Aku bisa pulang naik bus.”

Kyuhyun tidak sadar jika Siwon menatapnya tajam. “Kau tidak usah khawatir Changmin-sshi, kami akan pulang bersama.”
“Ah! Syukurlah kalau begitu. Baiklah aku pulang duluan, teman-teman.” Changmin melangkah riang dengan teburu-buru menuju parkiran.
“Kajja, Kyu!” Siwon melangkah diikuti oleh Jiyoon yang dengan seenaknya menggelayuti lengan kekar Siwon. Membuat Kyuhyun mendelik dengan perasaan dongkol. Ada sebuah rasa sakit yang tidak ia pahami saat ia menyaksikan pemandangan itu.
.
.
.
Kyuhyun melangkah pelan menuju Cafe milik Siwon. Perasaannya hari ini tidak menentu. Sama seperti hujan yang sudah sejak pagi mengguyur bumi. Semenjak bangun pagi ia sudah merasa ada yang berbeda dengan hari ini. ia tidak dapat berhenti memikirkan Siwon. Ia bahkan masih dapat merasakan bibir joker milik Siwon yang tadi malam menyentuh bibirnya. Ada banyak kupu-kupu yang menggelitik perutnya setiap ia memikirkan malam tadi. Namun disisi lain, ia juga tak menampik rasa sakit yang ia dapatkan saat melihat Jiyoon menggandeng lengan Siwon. Yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika Siwon tidak mencoba untuk melepaskan gandengan tangan itu. Ugh, Kyuhyun merasa sesak.

Kyuhyun berbelok memasuki Cafe. Matanya menangkap sosok Siwon yang duduk membelakanginya bersama seorang wanita. Jiyoon. Tentu saja ia tahu. Namun, wajah Jiyoon terlihat berbeda. Mata itu sembab seperti habis menangis. Kyuhyun berniat berjalan ke tempat favoritnya. Namun, tubuhnya mendadak membeku saat Jiyoon memajukan wajahnya lalu bergerak mencium Siwon. Mata itu terpejam. Seolah merasakan kesakitan yang amat dalam.

Tapi, Kyuhyun semakin tidak mengerti hanya saja ia dapat merasakan sebuah kobaran api menghunus kepalanya. Sesak itu berbeda. Menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa berlebihan. Ia bahkan tidak sadar saat air matannya menyeruak dari balik kelopak matanya. Inikah cemburu? Jemari panjangnya tak ingin mencoba mengusap air mata yang menodai pipi putihnya. Toh, bagaimanapun ia mencoba, air mata itu tidak akan berhenti meluncur di pipinya.

Kyuhyun berlari sekencang mungkin menjauh dari tempat persakitan itu ada. Tak peduli hujan yang kini membasahi seluruh tubuhnya. Sakit yang ia rasakan jauh lebih membakar jiwanya. Ia bahkan tidak merasakan dingin dari hujan. Yang ia inginkan hanyalah berlari bersama sakit yang ia rasakan. berlari meninggalkan sakit yang terus menggerogoti hatinya. Sakit yang tidak dapat ia temukan obatnya. Bahkan meja operasi sekalipun tidak mungkin dapat menyembuhkan sakit yang berlebihan itu.
.
.
.
Siwon merasa frustasi. Beberapa hari ini ia tidak dapat menghubungi Kyuhyun. Beberapa kali juga ia mencoba untuk datang ke rumah Kyuhyun berharap dapat menatap wajah manis yang selalu menghantui waktu dan mimpinya itu. Namun, jawabannya sama. “Tuan muda Kyuhyun sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, Tuan. Maaf.”

Siwon tidak tahu apa yang salah pada dirinya? Seingatnya setelah mereka menonton bersama Kyuhyun masih baik-baik saja. Ia masih membalas pesannya. Tapi esoknya, Siwon tidak dapat menghubungi Kyuhyun. Di kampuspun tidak ada kesempatan karena Kyuhyun tidak masuk kuliah beberapa hari ini.

Menjambak rambutnya berharap dapat menghilangkan rasa frustasi yang menghantui dirinya. berkali ia memutar otak demi mendapat jawaban atas apa yang sebenarnya telah terjadi. Siwon menangkap bayangan Jiyoon yang berjalan memasuki ruang kelasnya. Ya, benar. Setelah hari itu. Setelah hari dimana Siwon mengungkapkan perasaannya pada Jiyoon ia mulai kehilangan Kyuhyun.

Ia juga ingat saat Jiyoon menciumnya sambil menangis. Ia mendengar langkah kaki yang cepat. Seperti berlali. Mungkinkah Kyuhyun melihatnya dicium Jiyoon? Membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Ingin rasanya ia menangis. Menjeritkan nama Kyuhyun. Memanggilnya sekuat tenaga hingga sosok itu muncul dihadapannya sekarang juga.
.
.
.
Kyuhyun membuka pintu kamarnya. Wajahnya sangat pucat seperti tak berdarah. Tidak ada sinar cerah yang biasanya selalu terpancar dari mata Kyuhyun. Tubuhnya sangat ringkih seolah tak bertenaga. Siwon tak ingin membuang waktu lagi. Ia segera meraup tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat dengan segala cinta yang ia punya. Menyalurkan rasa rindu yang nyaris membuatnya gila.

“Kyuuu~~ Kyuhyunnie…. Baby..” Siwon semakin mengeratkan pelukannya. Tak ingin sosok itu lepas lagi. Tak ingin sosok itu meninggalkannya lagi.

Kyuhyun sendiri hanya dapat memejamkan matanya. Membalas pelukan yang Siwon suguhkan. Meluapkan semua rindu yang selama beberapa hari ini ia derita. Ia sadar bahwa sejauh apapun ia berlari. Sepintar apapun ia menghindar. Hatinya tak dapat berbohong. Hatinya akan selalu menuntun cintanya pada cinta Siwon.
.
.
.
Hujan. Kyuhyun dan Siwon sama-sama terdiam menikmati panorama yang diciptakan Tuhan. Di bawah hujan, mereka ingat banyak sekali kenangan mereka buat disana. Saat Siwon mengajarkan Kyuhyun berseperda, hingga akhirnya mereka asyik bermain hujan. Dan esok harinya, ketika Siwon akan mengajak Kyuhyun bersepeda lagi, Kyuhyun telah jatuh sakit.

Masih banyak yang mereka lalui bersama saat hujan mengguyur bumi. Yang tidak mereka sadari adalah ketika hujan turun, rasa itu mulai tumbuh. Hujan yang membawa mereka pada cinta. Rasa yang sering mereka abaikan, rasa yang tak pernah mereka mengerti. Rasa yang mengantarkan mereka pada sebuah ikatan yang tak dapat mereka lepas lagi. Meski tahu bahwa cinta yang mereka rasakan haram hukumnya. Namun, biarkan kebersamaan itu berlanjut. Cinta itu bersemi dan berkembang hingga menghasilkan madu agar dapat mengantarkan kebahagiaan kepada sekitar mereka.
Siwon menggenggam erat jemari lentik Kyuhyun. Menghantarkan kehangatan pada hati keduanya. Hangat yang tak pernah mereka terima dari siapapun. Hangat yang menimbulkan rasa cinta yang mendalam.

Kyuhyun menolehkan wajahnya pada Siwon merasa diperhatikan.
“I Love You!”

Kyuhyun memejamkan mata. Sedetik kemudian, ia merasakan kembali ketika joker itu menjamah plumy-nya dengan lembut dan menggoda menciptakan getaran-getaran rasa yang tak dapat didefinisikan.

Kyuhyun semakin yakin akan perasaannya. Ia berjanji. Meski tahu ini salah. Meski tahu semua orang akan menentang. Meski tahu ini salah. Baginya, sekalipun itu dosa besar, asal itu Siwon. Ia tak peduli.

FIN

“Maaf Jiyoonie, sepertinya aku salah.” Siwon menatap Jiyoon sedih. Ia tahu ini pasti akan menyakiti hati gadis itu. Tapi walau bagaimanapun, ia tak dapat membohongi hatinya lagi.
“Apa maksud, oppa?” Jiyoon sudah merasakan firasat tidak enak saat ia menatap mata Siwon.
“Sepertinya aku tidak mencintaimu. Aku tidak menginginkanmu. Maafkan aku.” Siwon bahkan tidak berani menyentuh tangan gadis itu.

Jiyoon menunduk. Ia tahu akan seperti ini jadinya. Tidak lain dan tidak bukan alasan Siwon mengatakan hal ini adalah Kyuhyun. Ia sudah merasakannya saat tiba-tiba Siwon mengajaknya nonton dan kemunculan Kyuhyun di bioskop waktu itu. Ia tahu bahwa, Siwon hanya tidak mengerti bahwa sebenarnya ia mencintai Kyuhyun. Bahkan disetiap obrolan mereka Jiyoon tidak pernah sekalipun tidak mendengar Siwon tidak menyebutkan nama Kyuhyun. And Last, ia tahu ia telah kalah dari Kyuhyun yang bahkan seorang pria.

Gadis itu menangis tertahan. Air matanya terus merebak dibalik kelopak matanya. Cintanya bertepuk sebelah tangan.

.

.
END

Advertisements

28 thoughts on “[FF Kontes] 3rd Win – Undefined

  1. Bhkan siwon dan kyuhyun dah saling mncintai jauhh sblm jiyoon hadir.tp wonkyu g nyadar ato emg g peka soal bgtuan.mngkin krna dah trbiasa brsama jd g nyadar klo yg mrka rasakn bkn cuma skdar sayang aja tp itu cinta.

    Akhr’a mrka nyadar jg.dan untg’a jiyoon jg g mksain siwon..
    Sweeettt aku suka saat won bisa jujur dgn prsaan’a.kyu jg wlo smpe mnghndar tp dia g bisa mnghndar trllu lama.

    Daebakkkk…

  2. Suka banget ama alurnya jelas banget, n tipe kek gini cerita yg akika suka, sedih d’pertengahan tp akhirnya bahagiaaaaaaaa,

  3. Manisnya….
    Ff nya bagus…..
    Yach maaf awalnya aku masih bingung dng ceritanya….
    Tapi setelah baca sampai tengah, aku tahu mksdnya… 😀

    hihihi aku suka wonkyu ff yg happy end.. Seperti ini….

    ——1315——

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s