Posted in Uncategorized

Someday – 4 [END]

image

“Kyunnie-ya, kajja!” Siwon menarik tangan seorang anak dengan pipi yang bulat, menyusuri jalan setapak pada gunung Yeongchwisan. Sampai di pertengahan, mereka berhenti dan merapat pada pagar kayu pembatas jalan setapak tersebut.

“Kyunnie, lihat…!”

Anak kecil pemilik pipi bulat itu langsung melebarkan matanya, menatap pemandangan indah berwarna ungu dengan tatapan penuh binar. Bunga- bunga Azalea yang tengah mekar pada musim semi dibulan Februari di Gunung Yeongchwisan sungguh menakjubkan.

“Cantik, kan?”

“Uhm!” anak kecil yang dipanggil ‘Kyunnie’ itu mengangguk dengan semangat. Mulutnya tidak berhenti
menganga kagum dengan pemandangan di depannya.

“Kalau begitu, tahun depan pulanglah ke Korea, nanti kita akan mengunjungi pulau Jeju. Musim semi di sana sangat cantik!”

“Jinjja? Kalau begitu, nanti Kyu akan minta ke Appa dan Umma untuk kembali berlibur ke Korea.”

Siwon ikut tersenyum lebar melihat Kyuhyun tertawa dan memandang hamparan bunga Azalea yang tengahmekar sempurna. Semilir angin hangatmusim semi berhembus pelan-pelan,menyisiri tiap helai surai halus keduanya. Itu musim semi terindah sekaligus terakhir yang Kyuhyun rasakan bersama Siwon.

Mereka berlari menyusuri jalan menanjak di Gunung Yeongchwisan sembari bergandengan tangan, tersenyum lebar tanpa henti, seolah itu adalah kali terakhir keduanya mampu bertukar senyum. Kyuhyun kecil bahkan sampai membuatkan dua mahkota yang berasal dari rangkaian bunga Azalea yang dibentuk melingkar, satu dipakai olehnya dan satu lagi dipakai Siwon. Dia tidak keberatan menjadi Sang Ratu hari itu, berperan layaknya anak perempuan yangtengah bahagia bersama anak lelakiberparas tampan yang terusmenggandeng tangan kecilnya. Sampai- sampai mereka mengucap janji, bahwa hari itu, hanya ada Siwon Sang Raja dan Kyuhyun Sang Ratu. Tidak ada yang lain.

.

Last chapter of Someday

.

Hah. Hah. Hah.

Siwon mengatur napasnya ketika berhenti berlari dan sedang berdiri di pesisir pantai Okinawa, melihat senja yang hampir hilang dari pandangan matanya. Menatap focus pada seorang anak laki-laki yang
tengah berdiri di tepi pantai. Ingatannya kembali pada kejadian 20 tahun yang lalu, saat dia dan Kyuhyun masih sama-sama bocah. Menggandeng tangan dengan erat dan tertawa bersama. Siapa sangka dewasa ini keduanya justru seolah-olah berada di tepi jurang yang berseberangan. Dekat dimata namun sangat sulit digapai.

“Kyu…”

Siwon bisa melihat tubuh kurus itu sedikit tersentak atas panggilannya barusan. Dan dengan perlahan, tubuh itu memutar, membuatnya bisa menatap iris almond yang selama ini hilang dari pandangannya. Kini di hadapan senja yang hampir hilang di Pantai Okinawa, Kyuhyun dan Siwon kembali menumbuk pandang satu sama lain. Deru ombak dan napas keduanya beriringan, berirama dengan serempak. Dentum jantung di dada membuktikan bahwa ini layaknya mimpi bagi Kyuhyun, namun nyata bagi Siwon. Sampai akhirnya tubuh pria itu memerangkap tubuh Kyuhyun dalam pelukannya, mengucapkan kata maaf yang hanya terpendam dalam hati selama lima tahun ini. Siwon tidak peduli jika nanti Kyuhyun akan melempar dan menenggelamkannya di pantai, karena untuk saat ini, dia ingin menikmati desir aneh yang membuat seluruh tubuhnya menghangat.

“Maaf…” entah sudah yang keberapa Siwon mengucapkannya sejak tadi tanpa memandang Kyuhyun. Dia terlalu pengecut untuk mengatakannya secara langsung dengan menatap sepasang mata pemuda itu.

“Kenapa…? Kenapa kau kembali, Siwon?”

Pria itu melepas pelukannya kemudian menunduk, “Karena tempatku hanya di sisimu, Ratuku…” ini mungkin untuk pertama kali dalam beberapa tahun mereka tidak bertemu, Siwon menatap lurus iris mata yang hampir putus asa di depannya. “Aku tidak pernah mencintai Kibum meski aku sudah berusaha. Sekuat apapun aku mencoba untuk memenuhi kepalaku dengan Kibum, namun mataku selalu melihatmu, Kyu… hanya kau… Sampai-sampai dadaku rasanya akan meledak karena kebodohanku yang telah membuatmu menderita seorang diri… Sang Raja… telah menjadi pria yang pengecut!”

Apakah Kyuhyun bodoh? Jika iya, maka dia akan menerimanya tanpa protes.

Bagaimanapun dia tidak mungkin membantah hatinya ketika melihat Siwon kini benar-benar berdiri di hadapannya, melepas peluk keduanya. “Jika Rajaku adalah seorang pengecut, lalu kenapa dia sekarang berada di hadapanku dan menangis?”, tangannya terangkat, menghapus beberapa tetes airmata yang jatuh di pipi Siwon.

“Karena aku sudah menyakitimu terlalu banyak, Kyu…”

“Siwon- ah, setiap luka yang ada, akan selalu ada obatnya… Cepat atau lambat dari sembuhnya luka itu, hanya si penyembuh dan yang ingin sembuhlah yang tahu. Luka yang kualami selama ini masih basah, namun Tuhan telah memberikan obat untuk lukaku, Siwon- ah…”

“Apakah aku masih pantas, Kyuhyun?”

“Dasar bodoh! Berhenti mengatakan bahwa kau si pecundang, karena pada akhirnya kau adalah pemenangnya, Choi Siwon.”

Tubuh Siwon merosot dan membuat Kyuhyun kaget. Pria itu bersimpuh memeluk lutut Kyuhyun sembari menangis sesungukan, sementara Kyuhyun mulai tersenyum perlahan sembari mengelusi helai rambut hitam pria yang akan selalu dia cintai.

Tidak ada yang salah dalam cinta. Tidak ada orang pintar ataupun bodoh dalam cinta. Yang ada di sana hanya orang yang saling mencintai. Hanya itu. Karena pada akhirnya hati yang sempat pergi jauh, telah menemukan singgasananya kembali.

.

.

Dari kejauhan, Jaejoong duduk melihat Siwon dan Kyuhyun di bibir pantai. Sampai Yunho menghampirinya dan menyerahkan sekaleng minuman dingin.

“Bagaimana?” Yunho bertanya.

“Aku… Tidak tahu apakah ini mampu membuat dosa keluargaku pada keluarga Kyuhyun bisa terhapus.” Jaejoong kembali menatap kedepan, dimana senja yang sebentar lagi akan hilang dari pandangan.

“Ayahku melakukan sesuatu yang buruk padanya, Yun…”

Yunho yang duduk di samping Jaejoong perlahan mengelus punggung kekasihnya, “Itu masalalu, Jae. Kau sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahan ayahmu.”

“Ini bukan hanya tentang masalalu, Yunho, tapi hidup Kyuhyun nyaris hancur jika saja aku tidak mencoba untuk mencari tahu tentangnya. Aku bahkan masih ingat betapa kosongnya mata Kyuhyun ketika kita pertama menemukannya.”

Yunho menghela napas, dia berusaha untuk tidak hanyut dalam alur percakapan yang diciptakan Jaejoong. “Tuhan itu adil, Jae. Hari ini kau terluka, maka keesokannya kau bisa sembuh seketika. Begitupun dengan Kyuhyun, kau sudah berusaha untuknya, dan diapun bisa tersenyum kembali karena dirimu. Kau tahu kenapa ada rasa menyesal?”

Jaejoong menggeleng, dengan mata yang terus menatap sekaleng minuman yang belum dibuka.

“Rasa menyesal itu ada agar kita tidak jatuh pada lubang yang sama, agar kita tahu dan lebih waspada ketika berjalan supaya tidak lagi merasakan sakitnya penyesalan. Jadi berhenti murung, Kyuhyun akan sedih melihatmu seperti ini.”

Kali ini Jaejoong tersenyum, dengan airmata yang tiba-tiba merembesi pipinya.

Dia menjatuhkan kepalanya pada pundak kokoh Yunho dan bersyukur pria itu selalu ada sebagai penopangnya yang selama ini bersikap sok kuat. Bibir penuhnya tersenyum ketika perlahan matahari semakin hilang di ufuk barat. “Yunho- ya, terima kasih…”

Yunho merangkul punggung Jaejoong, memberikan rasa nyaman untuk pria cantiknya, “Jangan berterima kasih, kau seperti menganggapku orang asing saja.”

Sepasang mata Jaejoong tertutup namun tak menghentikan laju airmatanya. Dia biarkan menetes dan hilang bersama kenangan pahit. Alasan sesungguhnya dia kabur dari rumah bukan hanya karena sang ayah yang menentang hubungannya dengan Yunho, tetapi ketika itu dia tidak sengaja mengetahui rahasia yang disimpan ayahnya selama beberapa tahun, bahwa pria tua itu telah menjebak Tuan Cho pada rentenir. Ayah Kyuhyun yang tidak sanggup membayar hutang kemudian dikejar dan dibunuh. Seluruh aset keluarga Cho dirampas, membuat Ibu dan juga Kyuhyun yang masih begitu muda harus kembali ke Jepang, karena hanya sepetak kecil rumah yang dulu ditempatilah harta yang tersisa.
Saat itu dia benar-benar merasa kecewa, lantas pergi meninggalkan adik lelakinya yang masih begitu kecil. Ah, ternyata dia juga antagonis dalam kisah lain. Dia membuat hidup adiknya menjadi hancur karena ambisi sang ayah. Namun sekarang dia bersyukur, bahwa karma telah menimpa keluarganya yang kini hancur. Dia tidak menyesal telah melakukan hal ini, karena rasa bersalah hampir membuatnya gila.

.

.

Kibum sesekali mencondongkan tubuhnya, melihat kekiri dan kekanan, berharap sang kakak cepat datang. Lelaki itu merengut kesal. Sekarang dia berada di Narita Airport dan berencana untuk pindah ke Austria, memulai hidup baru bersama Ibu dan juga kakak laki-lakinya. Ah iya, Kyuhyun dan Siwon juga kabarnya akan ikut. Hal itu membuat Kibum semakin tidak sabar. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kyuhyun.

Umma , aku ketoilet sebentar.”
Nyonya Kim hanya mengangguk, melihat putranya beranjak dari kursi tunggu.

Kibum mengumpat kesal pada layar
ponselnya saat mendapat balasan bahwa mereka terjebak macet. Sampai-sampai dia tidak memeperhatikan langkahnya dan… Splash! Kibum terkaget karena dia menabrak seseorang dan dia merasa dingin di bagian dadanya. Aish! Bajunya terkena tumpahan minuman lawan di depannya.

Ya! Itu Chocholate Machiato -ku yang
terakhir untuk hari ini!” suara lengkingan barusan membuat Kibum memejamkan mata sembari mengelusi telinganya yang sedikit pengang.

“Maaf, aku akan menggantinya.” Sergah Kibum cepat.

“Haish! Percuma kau ganti kalau aku tidak bisa meminumnya!” Laki-laki di depan Kibum melepas kemejanya dan menyerahkannya pada Kibum, “Ini! Kau cucikan saja bajuku! Ingat, jangan dikucek terlalu kuat, nanti kau merusak serat kainnya!”

Lelaki itu pergi melengos begitu saja meninggalkan Kibum yang terbengong dengan memegang kemeja yang barusan disordorkan padanya. Apa-apaan laki-laki itu berteriak seperti wanita saja! Dan apa ini?! Aish! Jika Hyung-nya sudah sampai, Kibum pastikan akan benar-benar mengoceh panjang lebar melampiaskan kekesalannya hari ini.

Tanpa Kibum sadari, lelaki jangkung barusan tersenyum misterius, “ I got you , Kim Kibum.” Bibir lebarnya kini berubah menyeringai bak serigala yang diam-diam mengendap dan mengamati kelinci buruannya.

.

Someday

.

Appaaaaa ~!” suara teriakan seorang bocah berusia 5 tahun itu membuat Siwon segera keluar dari mobil dan… Hap! Dia menangkap tubuh putranya, menggendong sembari menghujani wajahnya dengan ciuman ringan. Tak berapa lama seorang wanita berambut ikal kecoklatan menghampiri keduanya—suami dan putra kecilnya.

“Hari ini Kyunnie belajar apa?”

“Kyunnie belajar menggambar, Umma. Lihat, Songsaeng bilang gambar Kyunnie paliiinngg bagus dari yang lain…” bocah bertubuh gempal yang di panggil ‘Kyunnie’ itu mengeluarkan secarik kertas gambar miliknya, kemudian memperlihatkannya pada Ibunya yang duduk di kursi depan mobil mereka yang perlahan meninggalkan sekolah.

Omo! Bagus sekali, iya kan, Appa?”

Siwon yang tengah menyetir menganggukkan kepalanya karena dia harus tetap fokus pada jalan. “Putra Appa memang yang terbaik.” pujinya.

“Kyuhyunnie, akhir pekan nanti ingin kemana, sayang?”

Hening beberapa saat, wanita itu menoleh kebelakang dan mendapati putra kecilnya sudah tertidur. Mungkin karena kekelahan, seharian dia berada di sekolah. Wanita yang duduk di kursi samping Siwon— Hwang Yoora, melipat kertas gambar Kyuhyun. “Siwonnie, apa lebih baik aku berhenti bekerja saja?”

“Huh ? Kenapa?”

Yoora melihat lagi kebelakang, dimana Kyuhyun tertidur pulas. “Lihatlah Kyuhyun, dia harus menunggu kepulangan kita berdua hingga sore. Rencananya setelah pertunjukan besok, aku akan berhenti dan ingin memfokuskan diri mengurus Kyuhyun.”

Siwon tersenyum mendengarnya, tangan kirinya yang bebas lantas menggenggam tangan istrinya, “Kalau begitu aku juga harus mengkosongkan jadwal ketika akhir pekan agar bisa menemani kalian. Curang sekali kalau hanya kau yang mengurus Kyuhyun.”

Yoora membalas senyum Siwon. 6 tahun menikah dengan pria itu membuat hidupnya terasa benar-benar indah. Siwon adalah lelaki baik, ramah dan penyayang.

Awal pertemuan mereka ketika sedang sama-sama menghadiri sebuah pertemuan bisnis yang diselenggarakan oleh sebuah hotel berbintang. Siwon adalah seorang pebisnis yang sukses, sedangkan dirinya adalah seorang designer yang cukup terkenal dikalangan artis.

Mereka bertemu. Berkencan beberapa bulan dan kemudian memutuskan untuk mengakhirinya di altar bersama. Mereka menikah dan dikaruniai seorang bayi laki- laki yang sehat bernama Kyuhyun. Choi Kyuhyun. Yoora tidak tahu apapun tentang rahasia dibalik nama itu. Nama seseorang
yang dicintai Siwon sepanjang hidupnya— meski kini dia telah menikah sekalipun.

Dua tahun sebelum bertemu Hwang Yoora, Siwon dan Kyuhyun hidup bahagia bersama. Menikah dan menghabiskan waktu berdua meski bahagia hanya mereka yang merasakannya. Yunho dan Jaejoong juga menikah, Kibum beserta sang ibu membangun sebuah rumah
makan kecil di Austria. Mereka semuanya bahagia. Rasa hangat seperti matahari musim semi. Namun siapa yang menyangka jika itu
adalah tahun terakhir mereka menghabiskan kebahagiaan bersama
Kyuhyun. Lelaki itu menderita gagar otak akibat luka yang pernah diterima ketika masih kecil. Siwon ingat, dulu dia, Kibum dan Kyuhyun pernah bermain petak umpet di sebuah rumah tak berpenghuni yang sudah keropos. Tidak disangka kayu penyangga rumah itu lapuk dan patah, dan hampir menimpa dirinya kalau saja saat itu Kyuhyun tidak segera mendorong tubuhnya dan Kibum.

Rasanya masih seperti mimpi bagi Siwon, bahwa suatu hari dia pernah berharap bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Kyuhyun.

.

“Ugh~” bocah bernama Kyuhyun itu melenguh. Matanya mengerjap perlahan, kemudian pandangannya tertumbuk di kursi mobil di sampingnya. Ia melihat sosok berpakaian serba putih itu duduk dengan memandang kedua orangtuanya.

Sstt !’ sosok itu mendesit dan meletakkan telunjuk di depan bibirnya, memberi isyarat agar tidak berisik.

Sosok itu—Cho Kyuhyun, memandang Siwon dengan tatapan lembut. ‘Suatu hari’ yang pernah ia impikan sudah terwujud. Melewatkan musim panas dua kali bersama Siwon, duduk di bibir pantai sembari menikmati detik-detik senja yang hampir berakhir, kemudian berbahagia. Tidak ada lagi yang Kyuhyun inginkan. Dia telah bahagia, maka Siwon pun berhak untuk bahagia meski tidak bersamanya.

Mobil itu berhenti di depan sebuah mansion yang cukup mewah. Siwon
segera mengangkat tubuh putranya dalam gendongan, tapi sebelum masuk kerumah, dia memutar tubuhnya sekilas. Bibir tipisnya tersenyum saat itu ketika melihat Kyuhyun-nya juga tersenyum dengan damai.

Setidaknya dalam sebuah kisah, ia pernah menjadi seorang Raja, dan anak laki-laki lain menjadi Ratunya. Sebuah kisah yang ‘ Happy Ending ’ jika kau mau membuka mata, bahwa akhir bahagia bukan hanya tentang kedua tokoh utama yang bersatu. Bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana kau bernapas hari ini, esok, dan esoknya lagi.

.
.

Someday was Ending ^^
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini.

Advertisements

24 thoughts on “Someday – 4 [END]

  1. Annyeong, aku reader baru. Ff nya bagusss!!! Kyu nya bener2 ngenes bgt, awalnya aku sempet bingung kok istrinya siwon yoora? Bukan kyuhyun. Ohh ternyata.. ga ngira akhirnya sad ending. Semangat ya!!

  2. Knpa dri awal sampe akhir kebahagiaan yg kyu dpt ga pernah bertahan lama… disaat wonkyu udh bersatu harus ada cobaan lain yg bahkan membuat mereka berpisah selama’a T_T

  3. setiap luka yang ada, akan selalu ada obatnya… Cepat atau lambat dari sembuhnya luka itu, hanya si penyembuh dan yang ingin sembuhlah yang tahu. Luka yang kualami selama ini masih basah, namun Tuhan telah memberikan obat untuk lukaku-kyuhyun..
    Duh ternyata akhirnya kyuhyun meninggal walupun setidaknya wonkyu sempat jgg menikah walau hanya 2 tahun.. Aduh cerita ini luar biasa banget ga ketebak hehehe
    Biarlah cinta itu dibawa siwon sampai ajal menjemputnya sklipun didunia dia menikah lg huhuhu
    Semoga wonkyu bahagia di kehidupan yg lain nantinya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s