Posted in Angst, BL, Drama, Family, Genre, Hurt, Romance, Series, WonKyu Story

Circle of Love – Take 7

image

 

Circle of Love – Take 7
By: -ssiihee-
Genre: Romance, angst, family
Rate: PG 15
Main cast: Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Cho Jinra (OC)

Disclaimer: Cerita ini punya saya, jika ada kesamaan dalam hal tokoh, cerita dan sebagainya dikarenakan faktor yang tidak di sengaja. Dan ini hanya khayalan saya belaka.

Siwon punya Kyuhyun, Kyuhyun punya Siwon, sedangkan WonKyu punya wks… Hehehe.. ^^

Warning: BL, OOC, AU, abal, alay, typo, jauh dari EYD dsb.

Don’t Like, don’t read !
Dilarang membashing WonKyu jika ingin hidup tenang!
(= ̄▽ ̄=)V

***
CoL
ssiihee©2014
Totally Reserved
***
.

Take 6

 

“Jadi, bagaimana menurutmu Kyu?”
Heechul mengalihkan tatapannya dari layar komputer dan menatap Kyuhyun lawan bicarannya yang duduk tepat didepannya. Namun pemuda itu terlihat sedang memandang ke arah jendela dengan tangan kiri menopang dagu. Heechul tersenyum, ia belum pernah melihat Kyuhyun kehilangan fokus. Pemuda itu selalu bersemangat ketika mereka membahas sebuah program baru.

“Aigoo, Choi Siwon apa yang kau lakukan disini?”
Heechul berteriak seraya melihat kearah pintu. Dan sesuai tebakannya, telinga Kyuhyun merespon dengan baik. Terbukti pemuda itu langsung memutar kepalanya kearah pintu. Sadar bahwa ia sudah tertipu, Kyuhyun memandang Heechul tajam. “Waeyo? Kau kecewa?”

Kyuhyun hanya memalingkan wajah dan kembali menatap layar laptopnya. Sementara Heechul semakin penasaran dengan hubungan Siwon dan Kyuhyun. Ia memajukan tubuhnya dan memperhatikan Kyuhyun lekat. “Katakan apa yang menarik dari seorang Choi Siwon? Kurasa kalau hanya soal wajah aku tidak beda jauh. Annie aku lebih tampan.”

Heechul menyandarkan tubuhnya dan bersidekap. Kyuhyun hanya mendengus dan balik menatap Heechul. “Annie~~ Walaupun hyung lebih tampan aku tidak mau pacaran dengan pria bawel sepertimu.”
“Mwo?! Kau ini. Tapi Kyuhyun-ah sejak kapan kau suka dengan pria? Dan dari sekian banyak pria mengapa harus Siwon. Ckckckck.”

Kyuhyun sendiri belum tau alasannya. Mungkin karena itu Choi Siwon. Jika bukan mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. “Hyung, bagaimana kau tau aku dan Siwon hyung~~~”
“Itu mudah. Kau tidak pernah merasa terintimidasi sekalipun dengan investor penting. Tapi kemarin aku melihat bahwa kini kau bergantung pada orang lain. Lagipula bukankah sudah jelas saat aku bertanya mengenai lehermu yang penuh dengan jejak?”

Heechul tertawa melihat wajah Kyuhyun yang kini memerah dengan ekspresi yang menggelikan. “Aku pamit hyung.” Heechul kembali tertawa saat Kyuhyun beranjak dari kursinya dan meninggalkannya dengan wajah kesal.
.
.
.
“Maaf aku terlambat nunna.” Jinra tersenyum dan menggerakan tangannya menyuruh Kyuhyun duduk. “Annie. Aku juga baru sampai. Kajja mau makan apa.”

Kyuhyun segera membuka buku menu dan memilih makanannya. Saat ia baru saja akan membuka suaranya, suara lain menginterupsi keduanya. Siwon berdiri di depannya dengan senyumnya. “Apa aku terlambat?”
“Annie~~” Jinra menjawab singkat dan tersenyum.
“Ah kau tidak bilang jika Kyuhyun ikut, mungkin aku juga bisa mengajak Heerin.” Siwon mengambil tempat duduk tepat di samping kanan Kyuhyun sementara Jinra di sebelah kirinya.

“Aku sudah mengajaknya tapi Heerin bilang ia ada acara. Ah jangan-jangan bersama Heechul oppa.” Jinra menoleh ke arah Kyuhyun yang terdiam. Sadar Jinra menanti jawaban, Kyuhyun mengangkat bahu. “Entahlah. Hari ini aku tidak bertemu dengannya.”

Setelah mengucapkan pesanannya Kyuhyun pamit untuk ke toilet. Disana ia mencuci wajahnya dan menarik nafas dalam. Perasaannya mengatakan sesuatu akan terjadi, tapi ia tidak tahu apa. “Sepertinya kau sangat gelisah?” Kyuhyun terkejut melihat pantulan wajah Siwon dalam cermin.

“Hyung.” Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap Siwon dan saat itu pula pria itu memeluknya. Kyuhyun sempat memberontak namun Siwon jelas lebih kuat. Beruntung kamar mandi tersebut sedang sepi. Walau begitu tetap membuat Kyuhyun takut. Apa selamanya ia dan Siwon akan seperti ini.

“Tenanglah sayang. Aku bersamamu.” Hanya sebuah ucapan sederhana namun memberi efek menenangkan bagi Kyuhyun. Ia mengangguk dan tersenyum lalu pamit untuk keluar terlebih dahulu.

***♡***

“Oppa beberapa hari lalu aku bertemu dengan ayahmu.” Siwon dan Kyuhyun mengangkat kepala bersamaan dan menatap Jinra. “Ia banyak bercerita, dan mengatakan bahwa tidak lama lagi pertunangan kita diadakan. Bagaimana menurutmu?” Ucapan Jinra setelahnya membuat makanan yang Kyuhyun telan berubah menjadi duri, membuatnya tersedak.

“Uhukk…uhukk…”
“Makanlah dengan perlahan. Kau selalu seperti ini.” Siwon memberikan segelas air kepada Kyuhyun yang langsung di tenggak habis. Setelahnya ia membersihkan bibir Kyuhyun yang belepotan makanan dengan ibu jarinya. “Seperti biasa. Kau seperti anak kecil.”

Kyuhyun tersenyum manis, semburat pink menghiasi kedua pipinya. Mereka berdua lupa ada sepasang mata sedang memandang mereka lirih. Jinra akhirnya melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana Siwon memandang lembut adiknya. Pandangan yang tidak pernah ia dapatkan. Perhatian Siwon pada adiknya yang alami bukan karena sopan santun. Jinra tidak bisa lagi menyangkal, semuanya terlihat jelas. Dan kini semua pemikiran-pemikiran yang selalu ia abaikan seolah berebut untuk diulang. Menjadi sebuah rangkaian puzzle yang tersusun rapih menampilkan sebuah jawaban yang bukan ia harapkan. Sebuah batu terasa menghantam dadanya membuatnya tidak bisa bernafas.

“Kau….” Siwon dan Kyuhyun menoleh kearah Jinra. Saat itu pula Kyuhyun tau ia telah menyakiti hati kakaknya. “Tidak apa-apa Kyuhyun-ah?”
“Ne. Aku tidak apa-apa nunna.” Ingin rasanya Kyuhyun lari dan menghilang. Ia rasa ia tidak bisa. Kyuhyun tidak bisa melanjutkannya. Ia akan mengembalikan semua ketempat semula. Membayangkannya membuat Kyuhyun sesak. Ia memandang Siwon yang kini menatapnya lirih.

Siwon memahami situasi yang terjadi antara mereka bertiga. Namun bagaimanapun ia tidak bisa melepas Kyuhyun. Ia akan berjuang dan meyakinkan Jinra bahwa ia akan membahagiakan adiknya.
“Jinra-ah ada yang ingin aku bicarakan. Aku tau ini salah. Namun kau harus mengetahuinya.”

Kyuhyun panik. Siwon sepertinya akan membongkar hubungan mereka saat ini juga. Tidak. Ia tidak bisa. Kyuhyun menatap kakak perempuannya yang menatap Siwon dengan tenang. “Nunna. Bisa aku pulang terlebih dahulu?”
“Hem? Ada apa ? Makanannu belum selesai?” Jinra menatap Kyuhyun bingung. “Sepertinya aku tidak enak badan. Aku akan pulang saja.”

Kyuhyun berdiri dan siap pergi tanpa menunggu Jinra namun gadis itu menahannya. Terlihat dari wajahnya bahwa ia khawatir. “Kau tidak apa-apa?” Kyuhyun menggeleng. “Aku baik-baik saja. Hanya ingin istirahat.”
“Biar kuantar.” Kyuhyun dan Jinra menoleh kearah Siwon. Pria itu jelas khawatir namun ia tidak sadar bahwa saat ini Kyuhyun sedang menghindar. “Annie. Tidak perlu hyung, aku bisa sendiri.” Setelah itu Kyuhyun segera bergegas pergi. “Tapi Kyu….” Jinra tak berhasil menahan adiknya yang sudah melesat pergi. Ia memutuskan duduk kembali. Pandangannya mengarah kepada Siwon yang saat ini masih berdiri dan memandang ke arah pintu keluar.

“Dia akan baik-baik saja oppa.” Siwon menoleh kearah Jinra dan tersenyum kaku. “Bukannya kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?” Tanya Jinra saat Siwon sudah duduk kembali. “Ah ne. Sebaiknya kita bicara di tempat lain.”

***♡***

Saat ini Siwon dan Jinra terdiam satu sama lain. Keduanya memandang sungai han yang tetap memancarkan keindahannya di siang hari dari balik mobil. Siwon begitu gugup. Saat di retorant ia begitu yakin akan mengatakannya pada Jinra namun entahlah kini ia sendiri ragu.

“Aku tahu.” Jinra memecah keheningan sejak mereka sampai membuat Siwon menolehkan kepalanya menatap gadis itu. “Apa yang ingin oppa bicarakan.” Lanjut Jinra. Ia sudah memutuskan untuk menyelesaikannya. “Aku tidak akan mengalah oppa.”

Siwon semakin bingung mendengar ucapan Jinra. “Aku tidak akan memberikan kau kepada Kyuhyun atau Kyuhyun kepadamu.” Jinra mengatakannya dengan lancar tanpa ragu. Ia memandang jauh ke arah sungai. Jinra sudah memutuskan bahwa ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan membiarkan Kyuhyun merebut miliknya lagi.

“Tapi aku dan Kyuhyun…”
“Aku tau.” Potong Jinra. “Ku dengar appamu sedang sakit. Kurasa tidak baik bagi kesehatannya jika ia harus mendengar ini semua. Bukankah ia akan senang jika mendengar tentang pertunangan kita.”

“Cho Jinra.”
“Annie.” Jinra kembali menghentikan ucapan Siwon. Kini suaranya sedikit bergetar. Ia tidak akan menyerah. “Sudah ku bilang aku tidak akan peduli. Dan ku dengar perusahaan ayahmu butuh suntikan dana. Aku akan memberikan sahamku padamu jika kita menikah.”

“Hentikan.” Siwon sudah tidak tahan. Ia memegang bahu Jinra dengan kedua tangannya dan menatap gadis itu lirih. Gadis di hadapannya bukan Jinra yang ia kenal. “Ku mohon hentikan Jinra-ah. Aku menncintai Kyuhyun.”
“Aku juga mencintaimu oppa.” Teriak Jinra. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Tidak bisakah kau melihatku? Aku mencintaimu hingga aku bersikap seperti ini. Aku mencintaimu hingga rasanya aku berpikir andai Kyuhyun tidak ada mungkin kau hanya akan melihatku. Kenapa semuanya selalu kembali pada Kyuhyun.”

Jinra meluapkan semua perasaannya. Kenangan saat-saat dimana Kyuhyun mendominasi kehidupannya bermunculan. Ingatan saat orang-orang akan mengalihkan pandangannya kepada Kyuhyun mulai menyerbunya. Dimana orang-orang selalu membandingkannya dengan Kyuhyun. Mengatakan adiknya lebih pintar, lebih manis dan lebih menggemaskan darinya.

Saat dimana teman-temannya menggunakannya untuk dekat dengan Kyuhyun. Saat dimana gurunya lebih senang menceritakan Kyuhyun pada orang tuanya. Dan saat dimana cinta pertamanya menyukai Kyuhyun. Bahkan kali ini pria yang begitu ia cintai, lebih memilih Kyuhyun daripada dirinya.

Cukup sudah Jinra menekan perasaannya. Sejak dulu ia mencoba berdamai dengan hidupnya bahwa Kyuhyun memang memiliki kelebihan darinya. Ia mencoba membuang perasaan kesal, iri dan terkadang bencinya dengan berusaha membanggakan dirinya memiliki adik seperti Kyuhyun. Namun kini Jinra sadar sejak dulu ia memang tak pernah bisa berdiri sejajar dengan Kyuhyun. Ia selalu akan jadi bayangan adiknya. Dan kini semua perasaannya yang terpendam itu seolah menyeruak dan berebut untuk keluar. Membuatnya sesak. Tidak ia tidak ingin mengalah kali ini.

“Jinra-ah sadarlah ini bukan dirimu. Kau tidak akan berkata seperti itu kepada Kyuhyun.” Ucap Siwon. Ia sungguh tidak menyangka bahwa sikap Jinra akan seprti ini. Ia menyayangi Jinra. Siwon tidak mau jika pada akhirnya Jinra memusuhi Kyuhyun.

“Annie. Kau tidak tahu apa-apa tentangku oppa.” Jinra melepaskan tangan Siwon di pundaknya. Ia membuang wajahnya ke arah kaca mobil. “Sudah cukup aku mengalah pada Kyuhyun. Dan kali ini aku tidak akan melepaskanmu demi Kyuhyun. Tidak akan oppa.” Jinra membuka pintu mobil bersiap keluar. “Dan asal kau tahu oppa, aku tidak akan seperti ini jika orang yang kau cintai bukan Kyuhyun.” Setelahnya Jinra meninggalkan Siwon yang kini tidak tahu harus berbuat apa.

“Tidak kau tidak seperti itu Jinra-ah.” Siwon yakin Jinra hanya belum siap menerimanya. Terbukti saat gadis itu mengatakannya ia tidak berani menatap Siwon. Kyuhyun. Siwon mengkhawatirkan kekasihnya. Bisa saja kini Jinra mengatakannya pada Kyuhyun. Siwon segera menghubungi Kyuhyun namun tidak di angkat sama sekali. Ia mencoba menghubungi kantor dan rumah namun semua mengatakan Kyuhyun belum kembali. Siwon menggebrak kemudi. “Kau dimana sayang?”
.
.
.
Kyuhyun memandang siswa-siswi yang kini mulai berhambur dari ruang kelas. Membuat sekolah itu begitu ramai. Wajar saja ini sudah waktunya jam pulang sekolah. Kyuhyun tersenyum melihat beberapa siswa terlihat sedang bercanda dengan teman-temannya mengingatkan saat ia dan Jinra dahulu. Entah apa yang membuat Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju tempat ia menghabiskan waktu sebagai siswa junior high school.

“Kyuhyun-ah?” Kyuhyun menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya dan ia membulatkan mata bahwa ia akan bertemu dengannya disini. “Yunho hyung?”

“Sekolah ini masih sama.” Kyuhyun menoleh dan tersenyum kepada Yunho. Saat ini mereka terduduk di bangku taman. Keadaan sekolah sudah mulai sepi. Hanya terlihat beberapa siswa yang berkumpul sekedar untuk ngobrol atau mengerjakan tugas.

“Tentu saja. Kitalah yang berubah.” Keduanya diserbu dengan keheningan. Pikiran keduanya sibuk mengenang kejadian-kejadian yang masih melekat dalam ingatannya. “Saat itu…” Yunho mengangkat wajah dan memandang Kyuhyun. “Bagaimana perasaanmu hyung? Saat aku mengatakan bahwa kau tidak boleh muncul di hadapanku lagi. Dan kau benar-benar melakukannya. Aku sempat terkejut saat mendengar bahwa kau pindah sekolah.”

Yunho tertawa membuat Kyuhyun bingung. “Aku memang berniat untuk tidak muncul di hadapanmu. Soal kepindahan, itu hanya kebetulan bahwa orang tuaku di pindah tugaskan ke jepang. Sepertinya alam bahkan mendukungmu.” Kyuhyun tertawa pelan.

“Mungkin saat itu kau menganggap pernyataanku sebagai ucapan dari seorang remaja yang akan melupakan kisah cintanya saat ia di tolak.” Yunho memandang Kyuhyun dengan lembut. “Namun yang terjadi sebaliknya. Hingga saat ini perasaanku masih tetap sama Kyuhyun-ah. Dan semakin besar saat aku bertemu kembali denganmu.”

“Hyung.” Kyuhyun tidak menyangka ia akan mendengar hal seperti itu lagi dari mulut Yunho. Ia pikir pria itu sudah hidup baik dengan seseorang.
“Tenang saja Kyuhyun-ah. Aku tidak memaksamu. Aku hanya ingin ? kau tahu.”
“Annie. Tidak apa-apa hyung. Tapi maaf kali ini jawabanku tetap sama.” Kyuhyun memghela nafas dan menyandarkan tubuhnya. Ia menatap langit lalu memejamkan matanya.

“Kau tahu hyung kini aku mengerti perasaanmu. Saat itu aku bertanya mengapa kau bisa jatuh cinta denganku yang seorang pria di saat banyak gadis-gadis cantik di sekitarmu. Aku merasakannya.”

“Maksudmu?” Yunho menegakan tubuhnya dan duduk menghadap Kyuhyun. Apa Kyuhyun sama sepertinya. Jika ia apakah ada kesempatan untuknya. Yunho rasa tidak dan jawaban Kyuhyun selanjutnya menegaskan segalanya.

“Aku jatuh cinta dengan seorang pria.” Sahut Kyuhyun dengan senyuman di bibirnya. Rasanya menyenangkan ada orang lain yang mengetahui perasaannya. “Ia sangat tampan dan aku yakin banyak gadis yang mengincarnya. Namun ia justru memilihku. Aku tidak tahu jika di tanya mengapa. Karena kini aku mengerti aku sungguh tak bisa memilih dengan siapa aku jatuh cinta. Dan aku juga tidak bisa memilih jika kini aku kembali menghancurkan kakakku.”

“Maksudmu?” Yunho seperti orang bodoh yang hanya mampu mengucapkan satu kata. Ia menatap Kyuhyun yang kini memejamkan mata tak berniat menjawabnya. Yunho teringat saat dulu ia suka diam-diam memperhatikan Kyuhyun seperti ini. Dan pemuda di hadapannya masih sama dengan segala keindahannya. Katakan Yunho gila, namun ia begitu menyukai memandang wajah Kyuhyun yang penuh rahasia karena memang sejak dulu ia tidak dekat dengannya.
.
.
.
Siwon kembali membanting ponselnya pada dashboard mobil setelah berkali-kali gagal menghubungi Kyuhyun. Hari sudah mulai gelap di tambah sepertinya akan turun hujan dan Kekasihnya belum kembali. Ia sudah berkeliling dan bertanya pada orang-orang yang mungkin mengetahui keberadaan Kyuhyun bagai orang gila. Ya. Siwon memang sudah gila hanya karena Cho Kyuhyun.

“Sayang kau dimana?” Ujar Siwon saat hujan mulai membasahi bumi.

Ia kembali meraih ponselnya mencoba kembali menghubungi Kyuhyun namun baru ia menempelkan benda itu ke telinganya pandangannya menangkap sosok pemuda yang sudah membuatnya gila keluar dari sebuah kedai di depannya. Dan yang membuat perasaannya seperti di timpa batu adalah kenyataan bahwa Kyuhyun tidak sendiri. Tenang Siwon. Ia segera menepikan mobilnya dan segera berlari menghampiri Kyuhyun tanpa memperdulikan guyuran hujan yang menyerbu tubuhnya.

“Kyuhyun-ah.” Sosok yang bersiap masuk kedalam mobil itu menghentikan langkahnya dan berbalik. Dan saat itu Siwon tahu siapa pria yang saat ini sedang melebarkan jaketnya untuk menutupi kepala kekasihnya. Jung Yunho.

“Hyung!” Kyuhyun begitu terkejut melihat Siwon berdiri di depannya dengan keadaan basah kuyup. Ia menghalau tangan Yunho dan segera berlari kearah Siwon. Menarik pria itu ke tempat teduh. “Kenapa hujan-hujanan? Kalau kau sakit bagaimana?”

Siwon tersenyum mendengar omelan Kyuhyun, perasaan kesalnya menguap begitu saja. Ia segera memeluk Kyuhyun tidak memperdulikan keadaan atau bahkan orang-orang yang akan memandang mereka. Saat ini perasaannya begitu lega melihat kekasihnya baik-baik saja. “Kau kemana saja?” Bisik Siwon pelan.

Perlahan Kyuhyun mengangkat kedua tangannya melingkari punggung Siwon dan membenamkan wajahnya di bahu kekasihnya. Memberikan kehangatan tersendiri untuk Siwon meski pakaian Kyuhyun kini ikut basah.

“Ehem sepertinya aku tertinggal sesuatu.” Kyuhyun melepaskan pelukannya dan memandang Yunho yang kini tersenyum kearahnya. Sepertinya kini Yunho mulai mengerti arti perkataan Kyuhyun di sekolah. “Tidak apa Kyuhyun-ah. Kita bertemu lagi Siwon-ssi.” Ucap Yunho yang kini menatap Siwon.

“Ne.” Siwon menjawab singkat. Ia mengenggam tangan kiri Kyuhyun menegaskan bahwa Kyuhyun miliknya.
“Kyuhyun-ah sepertinya sudah ada yang akan mengantarkanmu pulang. Aku pergi dulu. Terima kasih untuk hari ini.” Ucap Yunho dengan nada menggoda membuat Kyuhyun tertawa. Sementara Siwon menatapnya dengan alis terangkat sebelah.

Setelah Yunho pergi, Siwon segera menarik Kyuhyun ke mobil dan membawa pemuda itu ke apartementnya. Dalam perjalanan Siwon sama sekali tidak berbicara membuat Kyuhyun tersenyum kecil. Seperti inikah seorang Choi Siwon saat cemburu. Kyuhyun mengambil tangan kanan Siwon dan mengamitnya dengan jari-jarinya membuat pria itu akhirnya tersenyum.

***♡***

“Kau sudah selesai?” Tanya Siwon saat Kyuhyun keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapih walau rambutnya masih basah. Saat ini Kyuhyun terlihat menggoda dengan kaos kebesarannya. Siwon mengerjapkan mata membuang pikiran liarnya saat Kyuhyun tersenyum padanya. “Duduklah aku akan membuatkanmu makanan.” Ucap Siwon. Ia bangun dari kursi di bar mininya.

“Annie.” Kyuhyun menahan tangan Siwon dan membuat pria itu menghadapnya. Kyuhyun tertawa melihat wajah Siwon saat ini. Sepertinya kekasihnya masih kesal padanya.
“Waeyo?”

“Annie.” Kyuhyun memajukan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di leher Siwon membawa tubuh pria itu kedalam pelukannya. Mengirimkan kehangatan pada satu sama lain. Siwon tersenyum dan membalas pelukan Kyuhyun dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang kekasihnya. “Aku merindukanmu hyung. Maaf membuat mu khawatir.”

Kyuhyun mengetahui kesalahannya yang mematikan ponselnya membuat Siwon tidak dapat menghubunginya. Ia mendapati puluhan panggilan dan pesan saat mengaktifkan kembali ponselnya. Dan semuanya dari Siwon. Di tambah Siwon menemukannya bersama Yunho hyung. Sudah pasti banyak pertanyaan yang ia harus jawab.

“Ne. Aku juga merindukanmu.” Balas Siwon. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Kyuhyun dan mengecupnya pelan membuat sensasi geli segera menggelepar dalam perut Kyuhyun. “Jangan pernah menghilang dari pandanganku. Aku butuh melihatmu, membutuhkan kehadiranmu dalam hidupku.”

Kyuhyun mengankat wajah dan menatap Siwon. Menyisakan jarak yany begitu tipis membuat keduanya dapat merasakan deru nafas masing-masing. Hingga jarak itu tertutup saat Siwon menempelkan bibirnya pada bibir pucat Kyuhyun menyesap rasa manis yang begitu ia rindukan. Melumat bibir atas dan bawah Kyuhyun bergantian. Membuat tubuh Kyuhyun seketika melemah. Ciuman Siwon selalu memabukan. Membuatnya tersesat pada pusaran perasaan yang tidak pernah ia bayangkan. Cuaca dingin membuat kedua tubuh mereka semakin merapat.

Kyuhyun tertawa saat Siwon tak henti-hentinya memanggut bibirnya membuat pria itu akhirnya melepas pangutannya dan menatap Kyuhyun dengan alis bertaut lucu. Kyuhyun semakin tertawa dengan wajah memanas dan nafas tersenggal-senggal. “Waeyo? Kau senang mentertawakanku oeh?” Siwon menghujanin wajah Kyuhyun dengan kecupan-kecupan kecil sementara Kyuhyun menghindar dengan menekan kepalanya ke belakang.

“Annie. Hanya saja aku merasa kau seperti ingin memakanku. Aish hyung geli.” Kyuhyun tertawa saat Siwon mengecup lehernya membuat dagunya yang kasar menggelitik kulit Kyuhyun. “Aku tidak peduli.”

Kedua masih saling berpelukan dan saling menghujani wajah satu sama lain dengan kecupan tanpa menyadari seseorang yang kini memandang mereka dengan pandangan terluka. Ada sedih dan kecewa di iris matanya yang kini tergenang cairan bening yang siap meleleh. Dengan perlahan ia melangkah mundur meninggalkan dua manusia yang sibuk dengan dunianya sendiri.
.
.
.
Tubuh Jinra merosot dan ia terduduk di balik dinding tak jauh dari apartement Siwon. Ia ke tempat tersebut karena ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Saat sampai ia melihat pintu apartement Siwon terbuka sedikit. Entah karena kecerobohan Siwon atau karena memang itu sudah jalannya. Karena hal yang ia dapati saat melangkah masuk adalah Siwon dan Kyuhyun yang sedang bercumbu mesra.

Seketika hancur sudah perasaan Jinra. Ia mati rasa hingga sudah tidak bisa merasakan bagaimana hatinya saat ini. Dengan langkah perlahan ia memundurkan tubuh dan bersembunyi di balik dinding tak jauh dari apartement Siwon. Berjalan terasa sulit kali ini untuk Jinra.

Gadis itu berjongkok memeluk lututnya. Lalu menyembunyikan wajahnya disana. Tubuhnya bergetar karena tangis yang sudah tidak dapat ia tahan. Ia menagis dalam diam, hingga membuatnya sesak. Jinra memukul-mukul dadanya berharap rasa sakit itu hilang. Namun tidak berhasil. Siwon dan Kyuhyun benar-benar menghunuskan pedang yang membara tepat ke hatinya paling dalam hingga ia tidak sanggup menahan sakitnya.
.
.
.
“Hey baby kenapa kau menangis?” Siwon terkejut saat ia melihat air mata mengalir di pipi Kyuhyun. “Mwo?!” Kyuhyun menatap Siwon dengan perasaan kacau. “Hyung katakan apa sesuatu terjadi saat kau bersama nunna?”

Kyuhyun mengusap pelan air matanya yang terus mengalir. Ini sudah lama tidak terjadi. Menangis tanpa sebab. Hanya ada satu hal yang membuatnya seperti ini. Kakaknya sedang menangis penuh kesedihan. Terakhir Kyuhyun seperti ini saat Jinra mendengar kabar bahwa nenek mereka meninggal terlebih dahulu. Kakaknya begitu dekat dengan neneknya hingga Jinra menangis begitu sedih. Dan itu sudah 5 tahun berlalu.

“Hyung!” Kyuhyun sedikit berteriak saat kekasihnya hanya diam saja. Sesuatu sudah terjadi. Apa mungkin Siwon sudah mengatakannya. “Kau mengatakannya hyung?” Siwon mengangguk membuat Kyuhyun memejamkan matanya sesaat. “Lalu apa yang di katakannya?”

Ragu Siwon menjawabnya. Bagaimana jika setelah ini Kyuhyun meninggalkannya karena ia lebih memilih kakaknya. “Hyung!”
“Ia tidak akan menyerah.” Ucap Siwon pada akhirnya.
“Maksudmu?”
“Jinra mengatakan hal-hal yang tidak seperti dari dalam dirinya sendiri. Dia tidak akan membiarkan kita saling memiliki.”
“Tidak mungkin. Nunna tidak seperti itu.” Kyuhyun melepaskan pelukannya pada Siwon dan melangkah mundur. “Baby dengar, Jinra hanya terkejut. Ia pasti tidak sungguh-sungguh mengatakannya.”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Jika ia sampai menangis seperti ini sudah pasti kakaknya sangat terluka dengan kenyataan ini. Dan Kyuhyun merutukin dirinya yang masih bisa bercumbu mesra dengan Siwon sementara mungkin Jinra saat ini sedang hancur. “Tidak hyung.”

“Kyuhyun-ah!” Panggil Siwon saat Kyuhyun berlari keluar apartement. Siwon berusaha mengejar kekasihnya. Bagaimanapun Kyuhyun keluar dengan pakaian tipis dan hanya menggunakan sendal rumah. Namun ternyata saat sampai di lobi ia sudah tidak lagi melihat Kyuhyun. Membuat Siwon berteriak kesal. Menyalahkan dirinya sendiri.
.
.
.
“Nunna, mianhae~~”
Kyuhyun bersandar di depan pintu kamar Jinra Saat ia sampai di rumah beberapa pelayan menghampirinya mengatakan bahwa kakaknya pulang dalam keadaan basah kuyup dan wajah memerah. Orang tua mereka saat ini sedang berada di Jepang menemui kerabat mereka di sana. Kyuhyun langsung menuju kamar kakaknya dan ia sudah sejam terduduk seperti ini.

“Mianhae.” Hanya itu yang terus Kyuhyun ulang. Walau ia tidak pantas memintanya namun setidaknya Kyuhyun ingin mendengar suara Jinra.

Sementara di seberang pintu keadaan Jinra hampir sama dengan Kyuhyun. Ia terduduk dengan memeluk lututnya. Jinra bahkan belum mengganti pakaian yang basah, memungkinkan ia untuk jatuh sakit. Namun Jinra sudah tidak peduli, saat ini hatinya sudah begitu sakit hingga ia tidak takut lagi dengan sakit yang lain. Ia sudah memikirkannya untuk saat ini ia sama sekali tidak bisa berdamai dengan keadaan. Jinra tidak sanggup jika kali ini ia kembali mengalah, menyingkirkan diri meyakinkan dirinya bahwa membiarkan Siwon bersama Kyuhyun adalah pilihan terbaik. Tidak Jinra tidak bisa ia akan semakin hancur.

Choi Siwon entah sejak kapan nama itu terpatri dalam hatinya, pria itu bahkan belum pernah melakukan sesuatu yang berharga untuk Jinra namun namanya telah begitu lekat di hatinya. Bodoh. Kau bodoh Cho Jinra. Bagaimana bisa kau selalu tersingkir dari adikmu. Dua kali ia merebut orang yang kau cintai. Bisikan-bisikan lain dalam dirinya meyakinkan Jinra bahwa ia tidak akan menyerah. Jika ia tidak bisa mendapatkan Siwon bukankah akan lebih baik jika Kyuhyun juga sama dengannya. Itu baru adil. Jinra menekankan pikirannya itu walau ada sebagian pikiran lain yang berteriak bahwa ini bukan dirinya namun ia abaikan.

Keduanya bertahan dalam keadaan seperti itu hingga pagi menjelang. Jinra membuka matanya yang terasa tidak nyaman karena terlalu banyak menangis. Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku karena semalam tidur dalam keadaan duduk. Dengan perlahan Jinra berdiri. Ia sempat terhuyung menyadari kepalanya yang sedikit pening.

Setelah membersihkan dirinya Jinra menatap pintu kamarnya. Apa Kyuhyun masih di sana? Bagaimana kalau ia sakit? Dengan cepat Jinra membuka pintu namun hanya kekosongan yang ia dapatkan. Jinra menghela nafas. Kyuhyun tidak akan bertahan. Dengan perlahan ia menuruni tangga mengamati keadaan rumahnya yang begitu sepi.

“Nonna sudah bangun?” Jinra menoleh kepada seorang pelayang yang datang dari arah dapur. “Ne. Emm… Apa Kyuhyun sudah bangun?”
“Sebenarnya itu yang ingin saya katakan. Kami menemukan tuan muda Kyuhyun pingsan di depan kamar nonna saat beberapi kali membangunkannya namun tidak berhasil sama sekali.”

Wajah Jinra memucat mendengar ucapan pelayannya. “Kepala pelayan membawa tuan muda ke rumah sakit dan meminta saya menyampaikannya pada nonna.” Jinra melangkah bagai robot ke arah kamarnya. Ia terduduk bingung di ranjangnya. Selalu seperti ini. Jika mereka bertengkar maka Kyuhyunlah yang akan berakhir dengan melemahnya kondisi tubuhnya membuat Jinra pada akhirnya menyerah dan mengalah. Selalu seperti ini. Apa sekarang akan seperti ini juga. Ia harus menyerah demi Kyuhyun.

Suara dering ponsel memecahkan keheningan di kamar Jinra. Gadis itu menatap layar ponsel yang menampilkan kontak ibunya. Bisa di tebak bahwa saat ini orang tuanya mungkin sudah tiba di rumah sakit. Jinra tersenyum miris dan mejawab panggilan tersebut dengan kebisuan.

“Hallo. Jinnie-ah sebenarnya ada apa? Mengapa adikmu bisa seperti itu. Cepatlah ke rumah sakit umma sudah sampai.” Rentetan ucapan ummanya semakin membuat Jinra membeku. Bahkan ibunya tidak menanyakan kabarnya sama sekali. “Umma aku juga sakit.” Ucap Jinra dengan lirih.
.
.
.
Siwon menahan dirinya agar tidak menerobos pintu kamar Kyuhyun saat ia sampai di rumah sakit pagi ini. Bagai tersambar petir saat ummanya memberi tahu bahwa Kyuhyun di rawat di rumah sakit. Saat itu juga ia mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Ia tidak tahu apa yang terjadi karena ia harus menemani ummanya menjaga ayahnya yang kondisinya sedikit menurun. Membuat ia tidak bisa menemui Kyuhyun di rumahnya.

Siwon menatap lirih pintu kamar Kyuhyun. Di dalam sedang ada orang-tua Kyuhyun, namun ia tidak melihat Jinra sama sekali. Apa gadis itu tidak akan datang. Siwon megusap kasar wajahnya. Seharusnya ia sudah menyiapkan semua kemungkinan sebelum mengatakan yang sebenarnya kepada Jinra.

“Siwon-ah.” Siwon mengadahkan kepala menatap kedua orang tua Kyuhyun. Ia berdiri dan menghampiri mereka. “Tolong jaga Kyuhyun. Umma dan appa akan pulang sebentar melihat Jinra. Karena sepertinya terjadi sesuatu.” Siwon menelan ludahnya. Andai nyonya Cho tau ialah penyebab anak-anaknya seperti ini.

“Ne umma.” Jawab Siwon singkat. Setelah orang tua Kyuhyun menghilang di ujung koridor segera Siwon menyerbu masuk dan duduk di sebelah Kyuhyun.

Ia menggenggam tangan kanan Kyuhyun dan menciumnya perlahan. Sesak itu kembali menyerbu dirinya melihat Kyuhyun seperti ini. “Sayang, maafkan aku.”

“Hyung~~~”
Kyuhyun mengerjapkan mata menyesuaikan penglihatannya. Siwon segera menghampiri Kyuhyun dan menyentuh wajah Kyuhyun perlahan. “Hey. Bagaimana perasaanmu?”
Kyuhyun tersenyum lemah.. “Mianhae, membuat hyung khawatir.” Ucap Kyuhyun pelan. Ia mencoba bangun namun Siwon menahannya.
“Sebentar.” Siwon lalu meninggikan ranjang Kyuhyun sehingga pemuda itu bisa duduk bersandar. “Sudah nyaman? Apa kau ingin sesuatu katakanlah.”

Kyuhyun menggeleng dan ia ia menarik Siwon agar pria itu duduk di hadapannya. “Hyung. Aku mencintaimu.” Siwon tersenyum namun senyum itu hilang mendengar kalimat Kyuhyun selanjutnya. “Aku rasa kita tak bisa bersama. Aku tidak bisa melihat Jinra hancur, aku tak bisa hyung.”

Sebulir air mata jatuh di pipi pucat Kyuhyun. Ia sudah memikirkannya. Ia tidak bisa melihat kakaknya mengacuhkannya. Kyuhyun tidak bisa tersenyum sementara kakaknya hancur. Ia tidak akan pernah bahagia jika harus menorehkan luka di hati kakaknya sendiri.

“Lalu bagaimana denganku? Apa tidak apa jika aku menderita? Apa aku tidak berharga di matamu? Aku mencintaimu lebih dari yang Jinra tau. Dengar sayang, aku yakin seiring berjalannya waktu Jinra akan mengerti, kau tentu memahaminya. Mungkin saat ini ia terlalu terkejut hingga bersikap seperti itu.”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya saat Siwon memeluknya. Tentu saja ia juga memikirkan Siwon. Namun setidaknya jika ia melepas Siwon maka ia pun akan ikut menderita. Kyuhyun rasa itu adil. Walau ia yakin bukan ini akhir yang tuhan gariskan kepada mereka bertiga.

“Annie. Aku tidak akan melepasmu. Aku tidak akan membiarkan kau lari. Dengar sayang.” Siwon menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya. Memaksa pemuda itu menatapnya. “Kita hadapi bersama. Aku akan selalu bersamamu. Aku mencintaimu jadi jangan pernah melepasku.” Siwon mengecup bibir Kyuhyun dalam berusaha menyalurkan segala kekuatan yang ia miliki.
.
.
.
“Aigo. Anak umma mengapa kompak sekali saat sakit hem?” Nyonya Cho menyentuh kening putrinya lalu menurunkan tangannya menyentuh pipi Jinra. “Apa sudah lebih baik? Bagaimana jika kita ke rumah sakit saja. Agar umma dapat menjaga kalian berdua.” Ujar nyonya Cho berusaha membujuk Jinra agar mau di rawat di rumah sakit.

“Annie. Aku hanya demam umma.” Jinra tersenyum lemah. Saat ini ia tidak bisa bertemu Kyuhyun. Untuk itu ia menolak saat ibunya memaksa untuk membawanya ke rumah sakit.

“Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Maksud umma?”
Nyonya Cho tersenyum lembut. Sepertinya putrinya tidak ingin mengceritakan kejadian yang membuat ia dan adiknya menjadi seperti ini. Nyonya Cho tahu sesuatu terjadi karena ia sudah bertanya pada pengurus rumah. “Dengar. Umma adalah ibumu, kau bisa menceritakan apapun kepada umma. Jangan memendam perasaan sendiri.”

“Araso.” Jinra tersenyum semanis mungkin. Ia tidak akan mengatakannya. Bukan ia yang harus menjelaskan keadaan ini. Tapi Siwon dan Kyuhyunlah. “Baiklah. Umma akan kembali ke rumah sakit kalau begitu. Hubungi umma jika terjadi sesuatu.” Jinra mengangguk dan membiarkan ibunya meninggalkannya.
.
.
.
“Siwon-ah.” Nyonya Cho menghampiri Siwon yang baru saja keluar dari kamar Kyuhyun. Pria itu terlihat terkejut saat melihat wanita paruh baya itu. “Umma? Sejak kapan umma datang.”

“Kyuhyun?” Bukan menjawab nyonya Cho justru bertanya mengenai putranya.
“Kyuhyun sudah sadar dan saat ini ia sudah tertidur.” Jawab Siwon.
“Bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin umma tanyakan.” Siwon menatap nyonya Cho yang tersenyum kecil kepadanya. Lalu ia mengikuti wanita itu menuju bangku taman di rumah sakit ini. Entahlah Siwon merasa ini ada hubungannya dengan Kyuhyun dan Jinra.

“Sejak kapan?” Nyonya Cho bertanya tanpa menatap Siwon. Pandangannya lurus kedepan dimana beberapa perawat dan pasien hilir mudik sekedar untuk menghirup udara segar.

“Maksud umma?” Siwon jelas tidak mengerti apa yang di tanyakan wanita di sebelahnya. Namun tenggorokannya terasa tercekat mendengar pertanyaan berikutnya.

“Kau dan Kyuhyun?” Nyonya Cho bukannya tidak terkejut dengan pertanyaannya. Saat sampai di rumah sakit ia menahan diri untuk tidak masuk ke kamar Kyuhyun karena sepertinya mereka berdua terlibat pembicaraan yang serius. Namun ia begitu syock saat melihat Siwon mencium putranya. Ia bahkan sempat merasa nyawanya hilang sekejap.

Nyonya Cho sempat berpikir sebenarnya bagaimana cara ia mendidik anak-anaknya hingga Kyuhyun bisa seperti ini. Jatuh cinta pada seorang pria. Apakah ia yang membuat Kyuhyun akhirnya memilih pria untuk menyandarkan tubuhnya. Semakin nyonya Cho memikirkannya semakin ia bingung. Apakah ia gagal menjadi seorang ibu. Namun saat pikirannya kembali jernih nyonya Cho sadar. Tidak ada yang salah disini. Jatuh cinta bukan suatu kesalahan. Hanya saja putranya jatuh cinta dengan pria. Sebuah kesalahan bagi sebagian, tidak seluruh orang karena pada dasarnya tuhan menciptakan pria dan wanita berpasangan. Namun bagaimana bisa perasaan itu hadir dengan sendirinya. Nyonya Cho yakin putranya memiliki takdirnya sendiri. Hanya saja ia menyesalkan takdir putra-putrinya jatuh cinta pada orang yang sama.

Tiba-tiba saja ucapan Kyuhyun beberapa waktu lalu tentang sebuah kesalahan besar yang ia lakukan mengingatkan nyonya Cho. Jadi hal inilah yang membuat Kyuhyun terlihat bahagia namun tersirat ketakutan dalam kebahagiannya.

“Umma.” Bagaimana ibunya Kyuhyun tahu. Apa wanita itu mendengar ucapannya bersama Kyuhyun? Atau Jinra sudah mengatakannya. Siwon merutuki kebodohannya yang tidak mengingat dimana ia dan Kyuhyun berada. “Umma aku…”

“Tidak apa Siwon-ah. Katakanlah. Kau mencintai putraku? Sejak kapan?” Nyonya
Cho menatap Siwon meminta jawaban. Pria itu menundukan kepalanya. Siwon merasa bersalah membuat kedua anak wanita di sampingnya menjadi seperti ini.

“Aku tidak tahu umma. Mungkin sejak aku menemukannya di taman. Atau saat kami bertemu lagi. Yang jelas aku merasa bahagia saat bersama Kyuhyun. Aku suka memandang wajahnya, memperhatikannya, juga membuatnya tersenyum rasanya seperti aku sudah melakukan hal yang benar dan menyenangkan. Aku merasa sakit saat melihat Kyuhyun menderita. Awalnya aku menyangkal bahwa aku jatuh cinta dengan putramu. Namun rasa ini tidak bisa di bohongi saat hatiku mencari pemiliknya.”

“Kyuhyun bahkan mengalami hal sulit karena ini berhubungan dengan kakaknya. Orang yang sangat ia sayangi. Namun Kyuhyun juga tidak dapat membohongi perasaannya. Mianhae umma.”

“Lalu bagaimana dengan Jinra? Kau menyakiti putriku.” Siwon menundukan kepalanya. Ia sangat tahu akan kenyataan itu. Namun saat ini pikiran Siwon sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Hanya nama Kyuhyun yang berputar di dalam pikirannya.

“Mianhae umma.” Ucap Siwon lirih. “Sejak awal aku berniat menjalankan hubungan baik dengan Jinra. Namun tidak ada yang tahu saat ini aku justru menemukan belahan jiwaku.”

“Kau tahu resikonya kan? Kalian menentang hukum tuhan. Bagaimanapun jalan yang kalian pilih bukanlah jalan yang mudah.”
“Aku tahu umma. Biarlah kami yang menanggungnya. Aku tidak peduli dengan omongan orang lain. Dan entahlah bagaimana aku bisa jatuh cinta pada Kyuhyun jika itu bukan atas campur tangan tuhan. Aku tidak tahu karena aku hanya manusia biasa.

“Siwon-ah tolong jaga Kyuhyun.” Ucap nyonya Cho. Ia memegang tangan Siwon dan menatapnya lirih. “Umma tidak bisa berada di sisinya. Bagaimanapun Jinra dan Kyuhyun anak umma yang sangat berharga. Umma tidak ingin kedua anak umma tersakiti.”

“Tentu saja umma. Aku akan menempatkan Kyuhyun sebagai prioritas hidupku yang pertama. Dan maaf atas perlakuanku terhadap Jinra.” Nyonya Cho memeluk Siwon erat. Entahlah tindakannya ini benar atau tidak. Namun tetap saja jika ia menentang hubungan Siwon dan Kyuhyun maka Kyuhyunnya akan terluka. Jika ia secara terang mendukung keduanya maka Jinralah yang akan semakin hancur. Nyonya Cho berharap tuhan memberikan jalan terbaik bagi anak-anaknya.
.
.
.
“Hei kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?” Siwon menyentuh wajah Kyuhyun perlahan namun pemuda itu sedikit menjauhkan wajahnya. “Waeyo? Kau tidak suka ku sentuh.”

“Hyung.”
“Annie. Sudah ku bilang aku tidak akan melepasmu.” Siwon menggenggam tangan kanan Kyuhyun dan mengecupnya. “Umma sudah mengetahuinya.”
“Mwo?!” Kyuhyun membulatkan matanya. “Kau mengatakannya hyung?” Saat ini Kyuhyun tidak tahu bagaimana menghadapi ibunya.

“Ne. Umma tidak sengaja melihat.”
“Lepaskan hyung.”
“Sayang.”
“Ku bilang lepaskan tanganku hyung!” Kyuhyun berusaha menarik tangannya. Awalnya Siwon tidak akan menyerah namun ia tidak ingin Kyuhyyn terluka.

“Sayang dengar umma….”
“Aku ingin sendiri hyung.” Sela Kyuhyun. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain selain mata Siwon. Bagaimanapun ia tidak bisa jika harus melihat Siwon bersedih.
“Tapi…”
“Siwon-ssi.” Siwon mengalah dan meninggalkan Kyuhyun sendiri. Ia akan pulang dan melihat kondisi ayahnya. Lalu sedikit beristirahat sebelum kembali menjaga Kyuhyun.

Setetes air mata mengalir di sudut mata Kyuhyun. Bagaimanapun ini juga menyakiti hatinya. Hanya meminta Siwon meninggalkan sendiri saja terasa menyakitkan. Bagaimana jika ia harus berpisah dari Siwon. Bagaimana bisa Kyuhyun berpikir untuk melepaskan Siwon saat ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpanya.

Kyuhyun menghapus kasar air matanya. Namun entah kenapa rasanya sulit sekali untuk menghentikannya. Di remas dadanya erat berharap sedikit dapat mengurangi sesak di dalamnya. Namun gagal. Ia tahu apa yang dapat meredakannya. Hanya satu orang. Choi Siwon.

“Bisa kita bicara?”

Terlarut akan perasaanya hingga Kyuhyun tidak menyadari kakaknya yang sudah berdiri di sisi kanan ranjangnya. Gadis itu terlihat pucat. Tidak ada senyum di bibirnya yang saat ini kering. Kyuhyun telah menghancurkan kakaknya hanya dalam hitungan jam.

“Nunna.”
“Sepertinya kau baik-baik saja. Tidak perlu di opname. Baguslah mari kita bicara.” Suara datar Jinra semakin membuat Kyuhyun merasa bersalah. Tidak ada lagi sapaan lembut dari kakaknya. Dan Kyuhyun berusaha untuk menahan air matanya.

“Nunna aku….”
“Kurasa Siwon sudah mengatakannya.” Jinra tidak membiarkan Kyuhyun berbicara sedikitpun. Karena ia tahu. Jinra akan lemah jika sampai itu terjadi. “Aku tidak akan menyerah.” Jinra menghela nafas. Melihat Kyuhyun seperti ini rasanya ia ingin berlari. Kau selalu lemah di depan Kyuhyun, Cho Jinra.

“Kau tahu Kyu, sejak kecil aku sangat iri denganmu.” Kyuhyun mengangkat wajah dan menatap kakaknya bingung. “Kau terlahir begitu menggemaskan hingga orang-orang begitu menyukaimu. Seharusnya aku sebagai anak perempuan akan sangat lucu kan. Namun orang-orang lebih menyukaimu. Mereka akan selalu menyukaimu baru kemudian aku.”

“Kau tidak tahu kan rasanya terabaikan dan disisihkan. Aku merasakannya hingga aku sendiri bosan.” Jinra menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya kencang. Ini seperti mengorek luka lama yang bahkan belum kering sepenuhnya.

“Dan pada akhirnya aku menyerah untuk selalu melebihimu. Aku menyerah membuat orang-orang melihatku terlebih dahulu. Berusaha membuat diriku bangga akan segala kelebihanmu. Hingga kejadian dimana aku juga harus merelakan cinta pertamaku lebih memilihmu. Aku sudah berdamai dengan keadaan dimana aku hanya akan selalu berada di belakangmu.”

Lagi. Air mata mengalir di sudut mata Kyuhyun. Selama ini ia sudah terbiasa bahkan cenderung mengabaikan orang-orang yang membanggakannya tanpa mengetahui bahwa Jinra terluka. Bukankah Kyuhyun sangat jahat. Di tambah kini ia merebut apa yang seharusnya menjadi milik kakaknya.

“Nunna, aku…”
“Tidak Kyu, aku tidak akan mengalah kali ini. Aku tidak akan membiarkan kalian bersatu. Aku mencintai Siwon.”
“Tapi Siwon…”
“Mencintaimu? Aku tahu. Annie aku tidak tahu bagaimana perasaan seorang pria terhada pria lain. Apakah itu cinta atau penyimpangan.” Kyuhyun memejamkan mata mendengar ucapan Jinra. Ini benar-benar bukan Jinra. Atau Kyuhyunlah yang tidak mengenal kakaknya.

“Tidak apa jika aku tidak memiliki Siwon kedepannya. Hanya saja aku juga tidak akan membiarkan kalian bahagia. Tidak bisa Kyu, rasanya sangat sakit di sini.” Jinra menunjuk dadanya. Ia berusaha menahan kristal-kristal bening yang mulai menggenang di matanya.

“Tidak. Aku juga tidak akan menyerah jika kau berniat menyakiti Siwon hyung nunna.” Kyuhyun merutuki sikapnya yang berubah-ubah. Namun kali ini ia sudah yakin. Kalaupun ia harus hancur, maka ia lebih memilih hancur bersama kakaknya dari pada melihat Siwon menderita. “Maaf, jika aku banyak menyakitimu.”

Kyuhyun menyesali bahwa ia terlambat mengetahui bahwa ia sudah sangat sering menyakiti hati kakaknya. Atau selama ini Kyuhyun terbiasa mendapat perlakuan lebih hingga ia tidak menyadari bahwa selama ini Jinra terkucilkan dan tertutup oleh dirinya. Namun jika Jinra merasa bahwa Kyuhyun memiliki segala kelebihan yang tidak kakaknya miliki maka itu tidak benar. Karena sejujurnya Kyuhyun sangat iri dengan kekuatan fisik Jinra. Kyuhyun membenci tubuhnya yang lemah.

Ia benci saat kakaknya bebas bermain hujan sementara ia tidak bisa karena ibunya melarangnya. Kyuhyun membenci saat-saat ia harus bertahan di rumah sakit ketika ia memaksa tubuhnya bekerja berlebihan sehingga kondisi tubuhnya melemah. Dan masih banyak hal-hal yang tidak bisa Kyuhyun lakukan karena kondisi tubuhnya. Di tambah kecelakaan yang beberapa tahun ia alami semakin membuat tubuhnya rentan. Tidakkah Jinra mengetahuinya atau ia juga terbiasa dengan kondisi tubuh Kyuhyun yang turun naik.

“Baguslah. Jadi aku tidak perlu sungkan. Aku pergi.” Jinra berbalik dan meninggalkan Kyuhyun yang menatapnya dengan pandangan sedih dan mata berkaca-kaca. Saat berada di ambang pintu Jinra berhenti dan menatap Kyuhyun. “Oh satu lagi. Kyuhyun-ah. Kau dan Siwon….” Jinra memutar kepalanya kembali kedepan menghindari tatapan mata Kyuhyun sebelum melanjutkan ucapannya. “Menjijikan.”

Satu kata yang disusul bunyi pintu tertutup seketika menghantam perasaan Kyuhyun. Ia tidak menyangka kakaknya akan mengatakan hal seperti itu. Air mata mengalari di pipi Kyuhyun. Ia menunduk dan memejamkan mata. Menggelengkan kepalanya berulang kali berusaha meyakinkan diri bahwa itu tidak benar. Jinra tidak mungkin berpikiran seperti itu. Terlihat dari cara Jinra menyampaikannya. Kakaknya tidak berani memandang matanya. Jinra sedang berbohong.

Kyuhyun memang benar bahwa Jinra sedang berbohong. Saat pintu tertutup tumpahlah air mata Jinra. Ia menyesali ucapannya yang berlebihan. Tidak. Ia tidak benar-benar berniat mengatakan hal seperti itu. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana kata itu terucap dari mulutnya. Jinra berjongkok dan menangis dengan menutup mulutnya, meredam raungannya. Ia sudah menyakiti perasaan Kyuhyun. Karena kini ia merasa sakit setelah mengatakannya.

Langit begitu gelap bersiap menurunkan hujannya. Ikut menangis atas kesedihan dari 3 hati yang kini tersakiti. Akankah hujan menyamarkan tangis mereka dan membawa luka pergi sejauh mungkin atau ia hanya memberi sedikit kesejukan sebelum badai yang sebenarnya datang.
.
.
.
.
Note:
Annyeong~~~ akhirnya update juga… gak taulah ini apa… bener2 deh… aku gak puas dengan part ini tapi gak ada ide buat ngembangin atau ngerapihin… maaf mengecawakan kalian yang nunggu FF ini… huhuhuhuhu…. ㅠ________ㅠ
Aku kesulitan ngeluari perasaan Jinra… perasaan ketika terbiasa mememdam suatu hal, sampe suatu hari meledak…. *hela nafas*

May be sekitar 3 atau 4 part lagi end,,,, dan saya punya 2 vers untuk endingnya tapi kayanya dua2nya tetep ajah saya di timpukin….

Makasih banget buat readers lama yang masih rajin ke mari… *bow* dan buat readers baru welcome,,, terima kasih sudah mau mampir ketempat kami yang masih berantakan ini….

Sedikit info sekitar minggu depan akan ada project dari wkc menyambut annivnya wonkyu… so… jangan lupa untuk stay tuned di wkc… hehehehehe…
Once again than규… goma원 ^^

Last but not least
See you next time and keep spreeding WonKyu love !!! ♡
Annyeong~~~ ^^

Advertisements

Author:

Me and My Dirty Little Secret Are Heaven ^^

101 thoughts on “Circle of Love – Take 7

  1. ya ampun, Jinra dalem banget. udah pasti sakit hati banget kyu. relain aja kyu sama siwon, Jinra. nanti kalo udah waktunya kamu juga pasti menjemput kabahagiaan my sendiri. 🙂

  2. Waaah… Ternyata fic ini terakhir update thn lalu yaaa… Menarik banget lho padahal story nya…
    Semoga menjelang setahun udh gak writer’s blocked lagi…
    Pingin banget baca lanjutannya smp happy end… Hrs happy end dwooong.. Kan WONKYU… Lol..
    Ditunggu sangat update nya…
    Cheers…

  3. Eonniii..kpn ini dlanjut..q sll ngecek apakah sdh ada chap barux..asli ff-nya bgs bgt..serasa qt ada dsitu nyaksiin..mlh sering q bc berulang2 dan g bosen. Setiap bc pst mewek lg..
    Semangat eon, q bantu doa y..

  4. annyeong..
    critany tmba bgus and seru,,
    aigoo jinra knpa kau bilang menjijikan pda dongsaengmu sndri huh,walaupun stlahny kau mnyesal..
    ayo kyu smngat,,jng lpasin siwon begitu saja ne..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s