Posted in BL, Drama, Family, Fluffy, Genre, Oneshoot, Romance, WonKyu Story

Stuck On You – Another Story

PhotoGrid_1406925709482

Stuck on You – Another Story

-ssiihee-

Siwon&Kyuhyun

Romance, Family, Fluff, PG 18, BL, M-preg, OOC, AU,

Siwon punya Kyuhyun, Kyuhyun punya Siwon, sedangkan WonKyu punya wks… Hehehe.. ^^

Don’t Like, don’t read!

Dilarang membashing WonKyu jika ingin hidup tenang!

(= ̄▽ ̄=)V

***

SoY

ssiihee©2014

Totally Reserved

***

Mommy,,,, wake up.”

Kyuhyun melengguh kecil mendengar suara bisikan di telinganya. Sebuah beban menimpa tubuhnya. Walaupun tidak terlalu berat namun tetap saja mengganggu tidurnya. Kyuhyun baru terlelap menjelang pagi, Siwon membuatnya terjaga sepanjang malam. Jadi saat ini dia sangat lelah dan ingin tidur. Namun kecupan-kecupan kecil di wajahnya kini membuatnya harus membuka mata dan mata kecil nan jernih itu menjadi pemandangan pertama yang dia lihat dengan senyuman di wajahnya.

Wake up Mom. Ini sudah siang.” Kyuhyun tertawa melihat wajah putrinya yang kini menyandar diatas tubuhnya. “Dad bilang Mom lelah, tapi Mom sudah janji hari ini kita akan jalan-jalan. Tepati your promise ok,” ucap Jihyun dengan cerianya membuat Kyuhyun dan juga Siwon yang sejak tadi hanya melihat tertawa.

Sungguh bagi Kyuhyun ini adalah hal yang paling membahagiakan. Dia sudah tidak ingin apapun di dunia ini lagi. Cukup Siwon orang yang paling dia cintai dan juga Jihyun putri kecilnya, malaikat hidupnya. Bersama keluarga kecilnya.

Arraso.”

“Yay!” seru Jihyun senang. Dia berdiri dan meloncat-loncat di ranjang. Sementara itu Siwon bergerak dan memberi sebuah kecupan kecil di bibir Kyuhyun membuatnya terpekik.

Hyung! Ada Jihyun,” ucapnya pelan yang hanya dibalas cengiran oleh Siwon.

Morning baby.”

Kyuhyun bangun dan menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang dengan wajah merah dan selimut yang menutupi tubuh polosnya melorot hingga pinggang. Dia segera membenarkan selimutnya namun putrinya sudah terlanjur melihatnya.

Gadis kecil itu kembali menyelinap diantara ayah dan ibunya. Menatap keduanya dengan penuh tanya.

Waeyo Baby?” tanya Siwon pada akhirnya.

“Kenapa Mom dan Dad tidak pakai baju? Memangnya tidak dingin?”

Kyuhyun terbatuk dan segera mengubur dirinya kembali dalam selimut sementara Siwon hanya tersenyum kecil lalu membawa Jihyun dalam pelukannya. Beruntung hanya tubuh atasnya saja yang polos. Siwon sudah kembali memakai celananya mengingat Jihyun sering menyelinap masuk ke kamar mereka jika anak itu sudah bangun.

Siwon dan Kyuhyun terkadang memang tidak mengunci kamar mereka. Karena Jihyun masih sering terbangun lalu mencari ibunya. Gadis kecil itu pernah menangis karena tidak bisa membuka pintu kamar ibunya yang terkunci. Siwon hanya akan mengunci pintu kamar mereka saat akan melakukan aktifas malam namun setelah itu dia akan membukanya agar Jihyun bisa masuk. Seperti pagi ini anak itu menjadi alarm bagi Siwon dan Kyuhyun untuk segera bangun.

“Jihyun-ah ikut Daddy ok. Hari ini Daddy yang memandikan.”

Jinja? Ok.” Jihyun tersenyum senang lalu mengalihkan tatapannya ke arah Kyuhyun, “But Mommy?”

I’m okay sweety.” Mendengar jawaban ibunya Jihyun tertawa dan segera melingkarkan lengan kecilnya di leher Siwon.

Tak lama setelah pintu tertutup Kyuhyun membuka selimutnya dan menghembuskan nafas. Dia harus mulai menyiapkan diri menerima pertanyaan-pertanyaan Jihyun. Putrinya itu sedang dalam masa ingin tahu. Jika dia melihat hal-hal yang baru otomatis dia akan menanyakannya pada Kyuhyun atau Siwon. Masalahnya dia dan Siwon terkadang suka tertangkap basah oleh Jihyun saat sedang berciuman atau hal-hal lainnya. Untuk ciuman mereka bisa mengatakan bahwa itu bentuk sayang ayah dan ibunya. Namun jika sudah hal lain, Kyuhyun hanya bisa mengalihkannya. Dia dan Siwon harus lebih hati-hati terhadap sikap mereka yang seperti pasangan remaja.

Sekali lagi Kyuhyun menghela nafas dan memandang kamar tempat di mana Siwon menyentuhnya pertama kali. Ya. Dia ada di apartement Siwon tempat kisah semalam mereka yang akhirnya menghadirkan Jihyun. Sudah seminggu dia di sini. Siwon memaksanya untuk pindah ke apartementnya. Karena dia sudah tidak bisa mengejar waktu jika harus bolak balik. Dan karena tekad Siwon yang akan membawa dia dan putrinya kehadapan orang tua Siwon. Pia itu berniat menikahinya.

Bahagia. Tentu saja. Namun Kyuhyun juga sudah menyiapkan hatinya jika mereka menolak. Bagaimanapun hubungan mereka bukan hubungan yang biasa bagi sebagian atau hampir semua orang. Ditambah hadirnya Jihyun. Siwon dan putrinya sudah cukup. Kyuhyun tidak pernah mengharapkan lebih.

.

.

.

“Kau yang buka pintunya.”

“Kenapa aku bukannya kau yang ingin bertemu Siwon.” Donghae menatap kesal pada Hyukjae disampingnya.

“Aku lupa passwordnya.” Hyukjae tersenyum menampilkan gummy smilenya.

“Alasan.”

Saat ini dia bersama Donghae sedang berdiri di depan pintu apartement Siwon. Sejak kejadian 2 bulan lalu dimana Siwon menemukan cek yang diberikan Kyuhyun padanya dia tidak pernah bertemu dengan Siwon lagi. Apa sebegitu marahnya Siwon sampai sahabatnya itu terlalu sibuk untuk menemuinya. Hyukjae penasaran kenapa Siwon begitu marah. Apa semua ini benar-benar berhubungan dengan Kyuhyun. Apa pemuda itu juga yang membuat Siwon berubah menjadi semakin gila kerja 5 tahun belakangan ini.

Arraso aku akan membukanya,” ucap Hyukjae pada akhirnya karena Donghae yang hanya memandangnya dengan wajah aku tidak tahu apapun.

Dengan cepat Hyukjae menekan tombol angka-angka di pintu tersebut. Mereka bertiga memang saling mengetahui password masing-masing. Jadi jika akan berkumpul di salah satu tempat mereka tidak perlu menunggu.

“Aku yakin itu passwordnya.” Hyukjae terlihat bingung saat beberapa kali memasukan angka yang dia ingat namun tidak ada hasil. “Apa dia sudah menggantinya?” tanya Hyukjae pada Donghae.

Annie. Saat aku akan menjengukmu itu belum diganti masih sama.” Hyukjae mengerutkan alis. Sampai semarah itukah sahabatnya. “Sudahlah apa susahnya diketuk,” lanjut Donghae yang sudah memencet bel menunggu sang penghuni keluar.

Tak lama pintu terbuka namun tidak ada siapapun disana. Membuat Donghae mengeratkan alis dengan wajah semakin terlihat bodoh.

Adjussi aku disini.”

Donghae menurunkan pandangannya sedikit kebawah dan terkejut melihat seorang gadis kecil yang berdiri tanpa pakaian dengan rambut basah.

“Ya Tuhan apa Siwon benar-benar gila,” ucap Donghae. Dalam pikirannya kini berseliweran sahabatnya yang frustasi lalu melakukan hal-hal yang aneh kepada seorang bocah. Namun sebuah pukulan di dahinya membuyarkan semua itu. Hyukjae pelakunya.

“Gadis kecil apa yang kau lakukan disini?” tanya Hyukjae dengan nada tidak ada ramah sedikitpun membuat Donghae menyikutnya lalu menyamakan tinggi tubuhnya dengan gadis itu.

“Hai adik kecil. Sedang apa kau disini?” Hyukjae memutar mata mendengar nada manja Donghae. Anak kecil yang sebenarnya saja tidak seperti itu.

Adjussi tampan mau bertemu Daddy? Dia di dalam.”

“Jihyun-ah pakai bajumu dulu sayang.”

Tiba-tiba suara yang begitu Donghae dan Hyukjae kenali terdengar dengan derap langkah semakin dekat. Dan benar saja pria dihadapan mereka ini dengan selembar gaun kecil berwarna baby blue di tangannya adalah Siwon.

Daddy apa mereka teman Daddy?” Jihyun sudah berlari ke dalam gendongan Siwon membuat ke empat pasang mata yang berdiri di depan pintu mengerutkan alisnya bingung. Siwon tersenyum tipis pada Jihyun sebelum menatap sahabatnya.

“Masuklah.”

Hyung…

Tak lama Donghae dan Hyukjae duduk suara lain terdengar. Dan dari arah kamar Siwon keluarlah seorang pria dengan kemeja longgarnya berwarna putih. Dia menghentikan langkah saat tatapannya beradu pandang dengan Donghae dan Hyukjae.

“Jihyun-ah kau ikut Mommy ne.”

Siwon menyerahkan Jihyun pada Kyuhyun dan mendorong mereka masuk kedalam kamar. Bagaimanapun dia harus menyelesaikan masalahnya dengan kedua sahabatnya sebelum mengenalkan Kyuhyun dan Jihyun.

“Sepertinya banyak yang kau harus jelaskan pada kami?” Hyukjae mengeluarkan suara tepat setelah Siwon duduk dihadapan mereka.

“Itu putrimu Siwon-ah? Mirip sekali denganmu.” Donghae bertanya dengan wajah setengah bingung dan sisanya bodoh menurut Hyukjae yang kembali menyikutnya.

Ne. Namanya Jihyun. Choi Jihyun. Putriku dengan Kyuhyun.”

Mwo?”

Mwo?”

Siwon tertawa senang. Sudah lama sekali dia tidak melihat kedua sahabatnya ini menampilkan wajah seperti saat ini penuh dengan keterkejutan.

“Maksudmu kau dan Kyuhyun… kau dan dia tadi berhubungan?” tanya Donghae yang dibalas Siwon hanya dengan senyuman. “Aku tidak menyangka Siwon-ah, kau benar-benar merubah orientasi seksmu. Bahkan kau sampai mengadopsi seorang anak untuk….”

“Aku tidak mengadopsinya. Dia anak kandungku. Kyuhyunlah yang melahirkannya,” sela Siwon dan kali ini benar-benar membuat Donghae dan Hyukjae terdiam dengan beribu pertanyaan di kepalanya. Persis seperti saat dia pertama kali mengetahuinya.

***

“Bagaimana mungkin itu terjadi?”

Siwon mengeratkan genggaman tangannya kepada Kyuhyun yang duduk di sampingnya dengan kepala tertunduk. Saat ini mereka bertiga -Siwon, Kyuhyun dan Hyukjae- sedang duduk di ruang tamu menjelaskan semua hal yang kini memenuhi pikiran Hyukjae. Sementara Donghae sedang bermain dengan Jihyun di kamarnya. Sepertinya anak itu menyukai Donghae karena sejak dibawa ke kamar oleh Kyuhyun dia terus bertanya mengenai Donghae.

“Aku sendiri awalnya bingung Hyuk. Tapi itulah yang sebenarnya,” ucap Siwon pelan.

Hyukjae mengamit kedua tangannya dan menjadikannya tumpuan di dagu lalu menatap Kyuhyun penuh selidik.

“Ini benar-benar membuatku pusing. Bagaiman bisa seorang dia mengandung dan melahirkan. Itu hanya terjadi dalam dunia fiksi. Kau tidak sedang membohongi Siwonkan Kyuhyun-ssi?” Hyukjae memandang Kyuhyun dengan tatapan bagai seorang hakim yang tengah memvonis terdakwa.

“Hyuk…” ucapan Siwon terhenti saat Kyuhyun menggenggam tangannya lebih erat.

Siwon memandang Kyuhyun yang kini menatap Hyukjae. Kyuhyun sadar dia tidak bisa hanya hidup dengan Siwon dan Jihyun. Putrinya butuh lebih banyak orang-orang yang dapat melindunginya ketika orang-orang memandang aneh kedua orangtuanya. Dan itu mungkin bisa dimulai dari sahabat-sahabat Siwon. Tidak masalah jika mereka tidak menerimanya. Asalkan mereka bisa menerima Jihyun itu sudah cukup untuk Kyuhyun.

“Aku tidak memintamu percaya Hyukjae-ssi.” Kyuhyun tersenyum lembut membuat Hyukjae merasa tidak enak karena pandangannya sendiri. “Namun kenyataan bahwa aku melahirkan Jihyun itu adalah fakta. Kau bisa bertanya pada mereka yang mendampingi hidupku 5 tahun ini. Yang melihatku mepertaruhkan nyawa demi anak yang tidak pernah aku bayangkan hadir dalam tubuhku.”

“Aku mencintai Kyuhyun Hyuk-ah. Dia adalah alasan mengapa aku seperti orang gila 5 tahun ini. Kau tentu mengetahuinya,” sambung Siwon dia berharap sahabatnya ini dapat mengerti.

Siwon tahu perasaan Hyukjae. Sahabatnya ini masih memendam perasaan bersalah atas kejadian 5 tahun lalu. Awal bagaimana Siwon dan Kyuhyun bertemu.

“Baiklah jika kau memang melahirkannya.” Hyukjae kini memandang Siwon. “Tapi Siwon-ah, kau percaya kalau Jihyun itu putrimu? Kau tahu… maksudku Kyuhyun….”

“Pria penghibur?” sela Kyuhyun. Dia tersenyum menatap Hyukjae yang kembali dibuat salah tingkah. “Itukah yang ingin kau katakan? Bisa saja Jihyun anakku dengan pria lain? Tenang saja Hyukjae-ssi aku tidak sedang memperalat sahabatmu. Jika aku ingin sudah ku lakukan sejak saat aku tahu aku hamil. Sejak dulu aku hanya berniat mengenalkan Jihyun pada ayahnya suatu saat namun tidak berharap mereka bertemu. Tapi kau tahu doa anak kecil yang merindukan ayahnya begitu mudah di terima Tuhan dan tanpa bantuanku dia bertemu ayahnya dengan sendirinya. Aku tidak memintamu menerimaku, tapi Jihyun dia butuh perlindungan menghadapi orang-orang yang akan memandangnya aneh.”

Suara Kyuhyun mulai bergetar. Dia berusaha menahan air matanya. Bagaimanapun dia tidak ingin Hyukjae berpikiran bahwa dia sedang menjeratnya dengan tangis murahan. Siwon memeluk Kyuhyun dan mengusap pundaknya lembut. Sementara Hyukjae mulai melunak. Bagaimanapun dia bukan orang jahat. Dia hanya khawatir dengan sahabatnya.

Mommy.”

Ketiganya menoleh kearah Donghae yang kini berdiri dengan Jihyun dalam gendongannya.

“Maaf mengganggu. Tapi sepertinya baby Hyun lapar,” ucap Donghae dengan senyuman di wajahnya. Sepertinya hanya dia yang dengan begitu mudahnya menerima keadaan ini.

“Jihyun-ah sama Mommy sayang kita masak. Bagaimana?” Kyuhyun sudah beranjak dari sisi Siwon dan berdiri dihadapan Donghae, mengulurkan tangannya untuk menggendong putrinya. Namun Jihyun justru semakin mengeratkan pelukannya pada leher Donghae.

Annie. Mommy masak saja sama Daddy. Hyun mau sama Hae Oppa,” jawabnya manja membuat semua orang yang mendengarnya tertawa.

Mwo?! Kau panggil apa? Harusnya Uncle Hae,” ucap Kyuhyun yang gemas dengan putrinya sendiri.

Annie. Hae Oppa. Benarkan?” Jihyun menatap Donghae meminta persetujuan dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Donghae.

Aigo. Lee Donghae ini pasti ulahmu,” sahut Hyukjae. Dan susana tegang di ruang tamu itu berubah menjadi santai karena tingkah lucu Jihyun.

Kyuhyun berharap malaikat kecilnya itu mampu menyebarkan kebahagiaannya pada orang-orang disekitarnya. Dia berharap sifat baik putrinya mampu membuat orang-orang yang awalnya memandangnya dengan sebelah mata menjadi begitu menyayanginya.

***

“Dimana Jihyun?” tanya Siwon yang saat ini melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kyuhyun yang sedang berdiri di depan cermin mengaitkan kancing kemejanya. Namun gerakannya dihentikan Siwon yang kini justru melepasnya satu persatu.

“Kedua sahabatmu membawanya jalan-jalan. Apa tidak merepotkan mereka?” tanya Kyuhyun yang mulai menyandarkan tubuhnya pada Siwon meresapi kehangatan yang mulai menyelubunginya berkat gerakan tangan Siwon di tubuhnya.

Annie. Biarkan saja mereka membawanya. Jadi kita bisa punya waktu berdua lebih banyak. Dan tenang saja aku akan memberikan balasan untuk mereka karena membuat putri kita senang.”

“Sepertinya kau juga senang sekali?”

“Tentu saja.” Sebuah kecupan mulai menjalar di leher Kyuhyun dan membawa tubuhnya melayang. “Karena aku bisa memilikimu sendiri hari ini,” lanjut Siwon yang sudah membawa Kyuhyun ke atas ranjang dan mengurungnya dalam dekapannya.

***

“Apa tidak apa-apa jika aku kesana?”

Siwon mengelus punggung telanjang Kyuhyun yang kini berada di atasnya. Mencoba menghilangkan kegelisahan Kyuhyun sejak dia mengatakan bahwa esok mereka akan bertemu dengan kedua orangtuanya.

“Kau tenang saja. Aku akan mengurus semuanya.”

“Bagaimana jika mereka menolakku? Annie. Mereka sudah pasti menolak. Kau pasti akan di marahi. Aku…”

“Ssttt….” Siwon meletakan telunjuknya di bibir Kyuhyun menghentikan ucapannya. “Dengar. Aku sudah tau mereka akan marah. Sebenarnya dengan atau tanpa ijin mereka aku akan tetap menikahimu. Hanya saja bagaimanapun mereka kedua orangtuaku jadi aku sudah pasti harus memberitahukannya yah walau seperti katamu mereka akan marah. Tapi aku tidak akan membatalkan niatku.”

Siwon mengecup bibir Kyuhyun dan membawa kepala dia tersebut bersandar di dadanya lalu mendekapnya erat. Mengirimkan kekuatan untuk apa yang akan mereka hadapi esok hari. Dia tahu bagaimana cara pandang keluarganya. Orangtuanya tidak mungkin dengan mudah menerima Kyuhyun ditambah kehadiran Jihyun. Bahkan sekalipun Siwon membawa seorang gadis kehadapan orangtuanya mereka akan mencari tahu siapa dan bagaimana latar belakang gadis tersebut. Siwon tidak menyalahkan sikap kedua orangtuanya karena dia tahu mereka sudah didik seperti itu sejak kecil. Namun Siwon sama sekali tidak ingin berlaku seperti itu kepada putrinya walau terkadang itu ada baiknya. Dia ingin Jihyun bebas memilih pasangannya kelak.

Mengingat Jihyun membuat hati Siwon menghangat. Putri kecilnya itu begitu pintar, baik dan menggemaskan. Kyuhyun mendidiknya dengan sangat baik. Dan dia akan berusaha menjadi orangtua yang pantas bagi Jihyun. Apapun akan Siwon lakukan untuk Kyuhyun dan Jihyun termasuk jika dia harus melawan orangtuanya sendiri. Annie. Siwon tidak akan sampai membenci orangtuanya karena itu tidak mungkin. Hanya saja kali ini dia akan mencoba mengalah dan sedikit mundur jika mereka tidak bisa menerima Kyuhyun. Dalam arti dia tidak akan memaksa mereka menerimanya.

.

.

.

Plak.

Rasa panas dipipi Siwon sama sekali tidak sebanding dengan 5 tahun perjalanannya menekan perasaan rindunya pada Kyuhyun. Dia mengenggam tangan kiri Kyuhyun erat memberikan ketenangan karena sejak menginjakan kaki di kediaman keluarga Choi dia terus saja menunduk. Ayahnya bahkan tidak mempersilahkan mereka duduk saat pria tua itu melihat Siwon masuk dengan menggandeng Kyuhyun.

Tuan Choi menatap putra satu-satunya dengan tatapan menyalang penuh amarah. Siwon sudah mengatakan semuanya. Tentang hubungannya dengan Kyuhyun. Tentang Jihyun. Dan tentang niatnya meminang Kyuhyun. Nyonya Choi hanya memandang putranya penuh kesedihan. Dia tidak berusaha menenangkan suaminya sama sekali.

“Aku sudah katakan, dengan atau tanpa ijin Umma dan Appa aku akan tetap menikahi Kyuhyun. Aku mencintainya.”

Plak

Kembali sebuah tamparan menghampiri pipi Siwon yang semakin memerah. Kali ini nyonya Choi sedikit menahan suaminya untuk tidak memukuli putranya sendiri.

“Apa salah Appa hingga kau seperti ini?”

Siwon tersenyum dan menatap ayahnya lembut, “Annie. Appa tidak salah apapun. Kau ayah terbaik. Hanya saja aku jatuh cinta dengan pria. Jika itu dianggap sebuah kesalahan biarlah aku yang menanggungnya. Appa dan Umma tidak perlu khawatir.”

Siwon melepaskam genggaman tangannya pada Kyuhyun lalu menarik tubuh pria itu kesisinya dan memeluknya. Dia tahu Kyuhyun sedang menahan tangisnya.

Appa…”

Tiba-tiba saja ponsel Siwon berdering dan nama Donghae tertera di mode panggilan. Siwon langsung mengangkatnya. Dia takut terjadi sesuatu dengan Jihyun. Dia dan Kyuhyun memang sengaja menitipkan putri mereka sementara pada Donghae.

Hallo Hae-ah. Terjadi sesuatu?” Kyuhyun mengangkat kepalanya mendengar Siwon menyebut nama Donghae. Dia teringat dengan putrinya.

“Siwon-ah apa terjadi sesuatu? Tiba-tiba saja Jihyun menangis dan meminta bertemu dengan ibunya. Aku sudah membujuknya namun aku tidak tega karena dia menangis hingga sesesenggukan,” tutur Donghae. Terdengar suara tangis yang Kyuhyun yakin itu putrinya. Dia berusaha meraih ponsel Siwon namun pria itu menahannya.

“Lalu sekarang bagaimana?”

“Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu. Mianhae. Tapi aku tidak tega melihat Jihyun seperti ini. Sebentar lagi sampai.”

“Baiklah kutunggu. Hati-hati.”

Siwon memasukan ponselnya kedalam saku lalu menatap Kyuhyun yang menatapnya balik dengan pandangan penuh tanya. “Donghae akan membawanya kemari. Jangan khawatir.”

Kembali suasana hening terjadi. Tuan Choi masih menatap putranya dengan penuh amarah.

“Kau akan kehilangan semuanya jika seperti ini Siwon-ah,” ucap tuan Choi berusaha membujuk putranya.

“Aku sudah memikirkannya  Appa. Selama 34 tahun hidupku hanya karirlah yang selama ini ada dalam pikiranku. Untuk itulah aku selalu menolak gadis-gadis yang Umma bawa.” Siwon menatap lembut penuh sayang ibunya. “Namun kali ini ada hal lain yang aku inginkan. Aku ingin hidup dengan orang yang aku cintai dan menyaksikan sendiri bagaimana putriku tumbuh. Merawat dan mendidiknya sepertu kalian mendidikku dengan sangat baik. Jadi aku mohon Appa dan Umma tidak menghalanginnya.”

“Jika kau berbicara soal putrimu mungkin Appa dan Umma akan menerimanya namun tidak perlu sampa menikahinya.” Tuan Choi menatap Kyuhyun dengan tajam, “Appa rasa Ummamu bisa mencarikan ibu yang baik untukknya. Bukan seorang pria yang harusnya dia panggil appa.”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap tuan Choi, “Aku sudah memikirkannya. Jika kalian tidak menerimaku itu tidak apa. Tapi jika kalian bermaksud memisahkan aku dengan putriku maka aku tidak akan membiarkannya. Bagaimana mungkin sebagai orangtua kalian mengatakannya. Jika kalian berada diposisiku apa kalian sanggup berpisah dengan anak kalian sendiri. Apa kalian…”

Mommy!”

Sebuah teriakan kecil terdengar dari arah pintu depan. Kyuhyun segera mengalihkan tatapannya menatap Jihyun yang kini berlari kearahnya dengan wajah merah dan basah penuh air mata. Dia melepaskan pelukannya pada Siwon dan segerah meraih Jihyun dalam pelukannya. Jihyun memeluk erat ibunya. Gadis kecil itu kembali menangis tersedu-sedu. Siwon mengelus pelan putrinya. Hal itu tidak luput dari pandangan kedua orangtuanya.

“Hey ada apa sayang?” tanya Kyuhyun lembut di telinga Jihyun yang saat ini ada dalam gendongannya. “Apa Hae Oppa nakal?”

Annie.” Jihyun mengangkat wajahnya yang terkubur di leher Kyuhyun dan menatap ibunya. “Mommy tidak akan pergikan? Mommy sama Hyun terus kan?” Kyuhyun menoleh menatap Siwon lalu kembali ke putrinya yang menunggu jawabannya.

“Tentu saja sayang. Mommy akan selalu bersama Jihyun.”

Promise.” Jihyun mengulurkan kelingkingnya mengajak Kyuhyun berjanji.

Promise.” Kyuhyun mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Jihyun lalu kembali memeluk putrinya.

“Jihyun agak demam. Tidak apa jika aku pulang duluan?” tanya Kyuhyun pada Siwon saat merasakan tubuh Jihyun menghangat.

Setelah Siwon mengangguk dan mencium keningnya juga putrinya Kyuhyun mengalihkan tatapannya pada Tuan dan Nyonya Choi, sedikit menundukan kepalanya sebelum pergi meninggalkan rumah tersebut.

Tak lama Kyuhyun pergi tuan Choi pun meninggalkan Siwon bersama ibunya. Dia memeluk putranya lalu menyusul suaminya. Namun sebelum dia pergi wanita itu sempat membisikan kalimat yang membuat Siwon tersenyum.

“Cucu Umma cantik sekali.” Siwon sungguh berharap bahwa putrinya akan meluluhkan kedua orang tuanya.

***

“Bagaimana keadaanya?”

Kyuhyun menatap Siwon yang berdiri di belakangnya lalu membenarkan selimut putrinya. Dia lalu berdiri di sebelah Siwon memandang Jihyun.

“Demamnya tidak terlalu tinggi. Sepertinya itu karena dia menangis.”

“Aku iri denganmu,” ucap Siwon yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun membuat dia itu mengerutkan alis. “Jihyun begitu terikat padamu. Aku yakin dia menangis seperti itu karena kau sedang sedih pada saat di rumahku. Dia dapat merasakan apa yang kau rasakan.”

Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap Siwon. “Kau selalu jadi ayah terbaik dalam hidupnya. Percayalah. Jika kau merasa tidak adil karena 5 tahun belakangan maka untuk 5 tahun seterusnya kau akan membahagiakan Jihyun dengan sepenuh hati.”

Siwon tersenyum dan mengecup kening Kyuhyun lalu menariknya kedalam pelukannya. Kyuhyun membalasanya. Keduanya seperti itu selama beberapa menit. Saling merasakan kehadiran satu sama lain yang berujung menguatkan diri untuk tetap seperti ini selamanya.

“Kau pasti lelah. Mandilah aku akan menyiapkan makanan.”

Ne aku sangat lelah sampai tidak sanggup untuk mandi sendiri. Kau mau memandikanku?”

Mwo?!” Kyuhyun mengangkat wajahnnya dan menatap Siwon, “Hyun Daddy pervet.”

Siwon tertawa lalu mengangkat tubuh Kyuhyun membuat dia itu memekik tertahan. “Salahmu sendiri yang selalu membuatku menginginkanmu,” ujar Siwon yang kini membawa Kyuhyun keluar dari kamar Jihyun. Dan kembali suara nyanyian erotis penuh cinta menggema dari balik kamar mandi.

***

“Aku tidak bisa Siwon-ah. Kau tau itu menyalahi kodrat.”

“Aku tahu Hyung.”

Siwon menatap pria dengan baju pastur dihadapannya. Park Jungsoo. Hanya dialah satu-satunya orang yang bisa Siwon mintai tolong untuk pernikahannya. Awalnya Jungsoo dengan senang hati menerimanya namun saat dia mengetahui siapa yang akan Siwon nikahi, pria itu langsung menolaknya.

“Bagaimana dengan orang tuamu? Aku yakin mereka menentangnya.”

Jungsoo menatap sepupunya. Dia tidak menyangka bahwa Siwon akhirnya menjatuhkan pilihannya pada seorang laki-laki untuk teman hidupnya. Dia sangat tahu meski Siwon gila bekerja dan cenderung hidup bebas namun dia itu begitu taat terhadap Tuhannya.

“Sudah pasti. Namun dengan atau tanpa ijin mereka aku akan tetap menikah dengan Kyuhyun. Dan kaulah satu-satunya orang yang dapat membantuku,” ucap Siwon kembali meyakinkan Jungsoo.

Pria itu melirik Kyuhyun dan Jihyun yang duduk tidak jauh dari mereka.

“Dia putriku. Cantikkan?” lanjut Siwon. Dia dan Kyuhyun memutuskan membawa Jihyun.

Gadis kecil itu sepertinya merasakan sesuatu terjadi dengan orangtuanya. Membuat dia tidak ingin berpisah dari Kyuhyun.

“Sampai sekarang aku bahkan tidak pernah bisa membayangkan bagaimana kehadiran Jihyun. Hanya Tuhanlah yang tau dengan segala bentuk kerahasiannya. Aku bahkan tidak tahu akan menjawab apa jika suatu saat dia bertanya mengapa ibunya berbeda. Aku hanya ingin memberikan seluruh kehidupanku untuknya. Memberikannya keluarga yang lengkap meski tidak seperti keluarga pada umummnya. Aku ingin selalu melihat senyum bahagia.”

Jungsoo menatap Siwon. Ada yang berbeda dari Siwon saat ini. Dia itu terlihat lebih bercahaya saat menatap putrinya. Jelas sekali raut kebahagiaan dan kebanggaan di sana namun tetap saja dia tidak bisa. Jungsoo tidak seberani itu.

“Kenapa lama sekali Daddy?” Jungsoo tersenyum melihat Jihyun yang sudah berdiri di depan ayahnya. Gadis kecil itu menatapnya sejenak. “Annyeong Adjussi. Maaf menganggu.” Jungsoo tersenyum dan menyamakan tingginya dengan Jihyun.

Annie. Adjussi yang terlalu lama,” ucap Jungsoo mengelus rambut hitam panjang Jihyun.

“Dia menyukai Adjussi tampan,” ucap Siwon membuat dia mendapat cubitan kecil di tangannya.

Kyuhyun yang sudah berdiri di samping Siwon hanya tersenyum melihatnya. Dia menundukan kepalanya saat tatapannya bertemu dengan Jungsoo.

“Apa Adjussi pastur di gereja ini?”

Ne. Waeyo?” Jungsoo menggenggam tangan kecil Jihyun. Dia masih tidak menyangka anak pintar ini lahir dari seorang pria.

“Apa Adjussi dapat berbicara dengan Tuhan? Kalau iya katakan padanya untuk selalu melindungi Mommy, Daddy dan Hyun. Apa bisa?”

Jungsoo tersenyum lembut, “Tentu saja. Tapi mengapa Jihyun tidak memintanya sendiri? Bukankah itu lebih baik?”

Jihyun menundukan kepalanya, “Annie. Jihyun takut.” Jungsoo memandang Siwon dan Kyuhyun bergantian namun mereka juga tidak mengerti maksud ucapan putrinya.

Waeyo Baby Hyun? Kenapa kau takut?” Kyuhyun menarik putrinya untuk menghadapnya. Gadis itu belum membuka suaranya hingga Siwon pun kini ikut berjongkok dihadapannya.

“Bicaralah sayang. Tidak apa-apa.”

“Mereka bilang doa Hyun tidak akan di terima Tuhan. Mereka bilang Mommy dan Daddy…” Jihyun menggantung kalimatnya. Matanya sudah bersimbah dengan kristal-kristal bening.

“Mereka bilang apa sayang?” kali ini Jungsoo yang berbicara. Dia tidak tega melihat gadis kecil itu menangis.

“Mereka bilang Mommy dan Daddy Hyun…. menjijikkan,” ucap Jihyun lirih.

Setelah mengatakannya Jihyun mengubur wajahnya yang bersimbah air mata di leher Kyuhyun. Gadis kecil itu terisak membuat Kyuhyun tak sanggup menahan perasaannya. Air matanya jatuh seraya mengelus punggung kecil putrinya.

“Hyun sayang Mommy,” Jihyun menatap ibunya. “Hyun tidak mau Mommy yang lain, yang seperti mereka bilang.”

Jihyun mengapus kasar air matanya dan menatap Jungsoo. “Adjussi bisakah? Tolong katakan pada Tuhan, jangan marah dengan Mommy dan  Daddy. Hyun akan jadi anak baik jadi maafkan Mommy dan Daddy Hyun.”

Jungsoo menggunakan kedua ibu jarinya untuk menghapus air mata di pipi chubby Jihyun. Ucapan gadis kecil itu tak ayal membuatnya ikut berkaca-kaca. Anak kecil seperti Jihyun adalah jendela kejujuran.

Arraso. Akan Adjussi sampaikan.”

Jinja?” Jungsoo mengangguk kemudian tersenyum saat Jihyun menubruknya dengan sebuah pelukan.

Kyuhyun sendiri kini terisak dalam pelukan Siwon. Dia tidak tahu jika putrinya sudah mengalami hal yang sulit karena orangtuanya. Namun gadis kecil itu tetap berdiri pada kebanggaanya memiliki Kyuhyun dan Siwon sebagai orangtuanya.

Gomawo,” ucap Jihyun yang kemuddian beralih pada gendongan ayahnya lalu mencium bibir Kyuhyun dan Siwon bergantian. “Hyun sayang Mommy dan Daddy.”

Mommy dan Dady juga,” jawab Siwon. Dia mencium pipi Jihyun dan menarik Kyuhyun kedalam pelukannya.

“Baiklah aku pamit. Hari ini aku banyak acara.” Jungsoo memecah keheningan di keluarga kecil itu. Lalu beranjak pergi.

Namun baru beberapa langkah dia berbalik lalu menatap Siwon dan Kyuhyun bergantian. “Kapan kalian menikah? Minggu-minggu ini jadwalku full. Kalian harus reservasi terlebih dahulu.” Jungsoo mengedipkan matanya lalu berjalan meninggalkan Siwon dan Kyuhyun yang tersenyum satu sama lain. Keduanya lalu mencium pipi Jihyun seraya mengatakan terima kasih pada putri mereka.

.

.

.

“Kurasa yang ini bagus Hyuk-ah.”

Annie. Ekornya terlalu panjang kau mau Kyuhyun terguling gaunnya sendiri?”

“Tapi itu juga tidak terlalu baik. Lihat dadanya terlalu terbuka Siwon tidak akan suka.”

Jihyun memutar matanya mendengar perdebatan orang dewasa dihadapannya. Saat ini dia dan kedua adjussi tampannya sedang berada di sebuah bridal house. Jihyun ingin memberikan gaun yang cantik untuk ibunya yang akan menikah sebulan lagi.

“Hae Oppa, Hyuk Adjussi!” Jihyun menarik kedua tangan pria dewasa di depannya membuat keduanya berbalik dan menyamakan tinggi mereka dengan Jihyun.

“Hyun-ah kau curang. Bukankah sudah ku bilang Hyuk Oppa,” ucap Hyukjae.

Annie. Hyuk Adjussi.” Donghae tertawa keras membuat dia mendapat cubitan di lengan dari Hyukjae.

“Kenapa kaldian meributkan gaun pengantin? Kalian lupa mommy Hyun special. Dia tidak pakai gaun seperti itu,” Jihyun menunjuk deretan gaun pengantin untuk perempuan.

Donghae dan Hyukjae tersenyum seraya menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal.

Arraso sekarang Baby Hyun mau apa?” tanya Donghae yang sudah berdiri dan membawa Jihyun mengelilingi tempat tersebut disusul oleh Hyukjae. Gadis itu berhenti tepat di depan sebuah tuxedo putih di hadapannya.

“Kurasa ini cocok untuk Mommy. Bagaimana?” Jihyun meminta persetujuan Donghae dan Hyukjae yang kini menatap tuxedo itu lalu tersenyum dan memberikan jempol mereka.

“Jihyun-ah.”

Jihyun menoleh kearah pintu saat mendengar namanya di panggil. Di sana berdiri seorang wanita berambut keriting berwarna hitam panjang. Jihyun tersenyum dan berlari ke arahnya.

Aunty. Kenapa disini?” tanya Jihyun yang sudah mencium pipi Jinra – wanita yang memanggilnya-. Jinra tersenyum dan memeluk erat Jihyun dalam gendongannya.

“Tentu saja. Aunty merindukanmu. Mommy bilang kau akan cari gaun. Kenapa tidak ajak Aunty.”

Jihyun tertawa melihat wajah auntynya yang cemberut. “Mianhae. Tapi sekarang kita bisa pilih gaun bersama.”

Jihyun dan Jinra memajukan wajah mereka sehingga hidung mereka bersentuhan lalu menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. Hyukjae dan Donghae yang sejak tadi menjadi penonton berdehem, membuat Jihyun ingat bahwa dia tidak datang sendiri.

“Oh Aunty kenalkan itu Hae Oppa dan yang seperti Monkey itu Hyuk Adjussi.”

Mwo?! Yaks kau minta di kelitiki yah!” seru Hyukjae yang kini sudah mengambil Jihyun dan menggelitikinya.

Aigo. Hae Oppa tolong aku.”

Jinra tertawa dan menghampiri Donghae lalu mengulurkan tangannya. “Jinra. Lee Jinra. Aku kakak Kyuhyun.”

Donghae tersenyum dan membalas uluran tangan gadis itu. “Donghae. Lee Donghae. Aku sahabat Siwon. Kyuhyun banyak cerita tentangmu.”

“Oh yah? Kuharap dia bercerita yang baik-baik.”

“Tentu saja. Dari ceritanya tersirat bahwa kau memegang peranan penting dalam hidupnya.” Jinra tersenyum dan kembali menatap Hyukjae dan Jihyun yang masih perang jari.

“Mereka tidak pernah akur,” ucap Donghae.

“Bagaimana persiapan pernikahannya?”

“Sudah 85%. Karena Siwon dan Kyuhyun menginginkan pernikahan yang sederhana jadi tidak begitu menyulitkan,” jawab Donghae.

Sebagai seorang sahabat dia dan Hyukjae memang berperan besar dalam proses pernikahan Siwon dan Kyuhyun. Karena pernikahan ini menurut sebagian atau seluruh orang adalah penikahan yang tidak biasa maka yang akan hadir hanya beberapa orang yang memang mengenal baik Siwon dan Kyuhyun.

“Dan ini akan jauh lebih mudah karena kau sudah hadir di sini,” lanjut Donghae.

“Tentu saja. Aku tidak akan melewatkan acara penting untuk orang yang sangat aku sayangi.”

.

.

.

Matahari bersinar hangat pagi ini. Embun di dedaunan mulai menguap dan meninggalkan titik air yang tipis. Burung-burung mulai berkicau dan saling mengejar satu sama lain mencoba menggerakkan sayap-sayap yang semalaman tertekuk. Semilir angin tidak membuat orang-orang merapatkan tubuhnya.

Kyuhyun memejamkan mata merasakan suasana pagi ini. Dia sedang duduk di bangku taman. Siwon sudah berangkat pagi-pagi sekali karena ada rapat penting. Sementara Jihyun masih menjadi tawanan Jinra. Kyuhyun senang gadis itu bisa hadir dalam pernikahannya. Mengingat pekerjaannya kali ini membuat gadis itu sering keluar kota.

Kyuhyun tersenyum saat membuka matanya cahaya matahari menyerbu penglihatannya. Semoga saat pernikahannya matahari bersedia bersinar dengan indah seperti saat ini. Mengingat pernikahannya membuat perasaan Kyuhyun membuncah. Rasanya sama saat dia membuka matanya. Seperti dia kembali menemukan sinar kehidupannya setelah gelap menyelubunginya. Inikah balasan Tuhan atas kesabarannya selama ini. Lagi Kyuhyun tersenyum seraya mengalunkan ribuan terima kasih.

“Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun menoleh mendengar suara berat yang familar di telinganya. Dan tubuhnya seperti terpaku melihat sosok yang tidak pernah dia lihat sejak kematian ibunya. Seketika rasa takut menyerbu dirinya. Bagaimana jika sosok itu kembali memukulinya. Bagaimana jika sosok itu mengganggu ketenangan hidupnya dan Jihyun.

Nama Jihyun seolah menjadi kekuatan untuk Kyuhyun. Dia tersentak dan berdiri menghadap sosok itu. Sedikit mundur dengan kepalan di tangannya.

“Kenapa Appa disini?” Begitu sulit tiga kata itu keluar dari mulut Kyuhyun.

Sosok itu yang ternyata ayah Kyuhyun tersenyum lirih melihat putranya sendiri memandang takut ke arahnya.

“Kau sudah semakin besar.” Pria itu bergerak maju dan mengulurkan tangannya namun gerakannya terhenti saat melihat Kyuhyun melangkah mundur.

“Ku dengar kau sudah punya seorang putri?”

Kyuhyun menatap ayahnya penuh waspada. Bayangan saat ayahnya memukulinya kembali berputar membuat Kyuhyun sesak. Dia tidak pernah membenci ayahnya baik dulu dan sekarang. Hanya saja Kyuhyun tidak mengerti kenapa ayahnya kandungnya sendiri bisa seperti itu. Bahkan beberapa bekas luka tersebut masih ada sampai saat ini.

“Jangan ganggu dia. Aku tidak akan membiarkan Appa memukulinya.” Kyuhyun bergerak mundur saat ayahnya berjalan ke arah kursi dan duduk disana. Lama keduanya terddiam tanpa ada seorang pun yang berbicara.

Kyuhyun memperhatikan pria yang selama 18 tahun menemaninya. Dia itu terlihat lebih kurus dari yang terakhir dia lihat. Wajahnya sudah mulai diserbu titik penuaan dengan rambut mulai memutih.

“Duduklah. Appa tidak akan memukulmu.” Pria itu berucap dengan menggerakan tangannya menepuk sisi kosong di sebelahnya.

Kyuhyun menghela nafas lalu mendudukan dirinya perlahan di ujung kursi yang masih muat untuk 2-3 orang lagi di tengahnya. Pria itu menatap Kyuhyun sekilas meresapi setiap detail postur Kyuhyun saat ini. Putranya terlihat semakin dewasa dengan sorot mata tegas dan lembut sekaligus. Mirip sekali dengan ibunya.

Appa senang kau hidup dengan baik. Selain melahirkan seorang putri yang cantik Appa dengar kau akan menikah.”

“Dari mana Appa tau?” Kyuhyun memicingkan mata saat mengingat siapa yang kemungkinan memberitahu ayahnya tentang kehidupannya.

“Jangan marahi Jinra,” ucap pria itu. Dia mengadahkan kepalanya dan memejamkan mata. “Gadis itu setiap hari menjenguk Appa hanya untuk memperingatkan bahwa Appa tidak akan mengganggu hidupmu lagi karena kau sudah bahagia.”

Pria itu tertawa dan menatap Kyuhyun lembut. Tatapan yang Kyuhyun ingat masih dia dapatkan saat dia lulus junior high school.

“Entahlah. Lama kelamaan gadis tersebut mulai menceritakan segalanya tentangmu. Bagaimana kau bisa sampai memiliki seorang putri.”

“Kyuhyun-ah.” Kyuhyun menoleh dan menatap ayahnya. Ada genangan air di mata pria  tua itu. Juga rasa bersalah yang dalam. “Appa tau Appa tidak pantas menerima maaf darimu. Tapi maafkan Appa atas semua luka dalam kehidupanmu. Atas semua beban yang Appa limpahkan kepadamu. Atas masa remaja yang Appa rebut darimu. Minhae.”

Air mata mengalir dari sudut mata Kyuhyun. Inikah akhir dari semuanya. Inikah akhir dari kisah-kisahnya yang penuh dengan kenangan buruk. Inikah juga awal dari kehidupan masa depannya yang lebih baik lagi. Perlahan Kyuhyun berdiri dan memunggungi ayahnya.

“Aku tidak pernah membenci  Appa. Tidak pernah meminta Appa untuk bertanggung jawab atas setiap luka dalam kehidupanku. Jadi mulai saat ini hiduplah dengan baik. Jangan lakukan hal-hal yang akan membuat mu menyesal. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini. Sampai jumpa lagi.”

Kyuhyun menggenggam erat ujung kemejanya. Kebiasaan yang tidak pernah bisa dia hilangkan saat resah. Dan perlahan meninggalkan dia yang kini tersenyum menatap punggung putranya.

***

“Sejak kapan dia bebas?” tanya Kyuhyun kepada Jinra. Saat ini mereka berdua sedang duduk santai di ruang tamu apartement Jinra menunggu Jihyun yang tertidur saat akan dijemput pulang.

“Sekitar setengah tahun yang lalu.” Jinra memutar tubuhnya dan menghadap Kyuhyun. Dia menggenggam tangan dia didepannya. “Maaf karena aku tidak menceritakannya.”

Kyuhyun tersenyum dan balas menggenggam tangan gadis itu, “Annie. Terima kasih karena telah menggantikan aku untuk menjenguknya.”

“Tahun kedua aku menemuinya dia mengatakan bahwa dia sangat merasa bersalah. Ayahmu bilang dia terus memimpikan ibumu. Dia bilang sepertinya istrinya marah kepadanya karena perlakuannya padamu. Untuk itu aku mulai bercerita bahwa kau sudah hidup dengan baik. Dan perlahan ibumu sudah tidak lagi menghampiri mimpi ayahmu. Hanya sesekali saja. Dan kurasa dia sudah berubah.”

Ne. Hanya saja… aku…”

“Aku mengerti Kyuhyun-ah. Aku juga disana.” Jinra memeluk Kyuhyun dan mengelus punggung adiknya pelan. “Sudahlah tidak perlu memikirkannya. Bagaimana pernikahanmu?”

Jinra tersenyum melihat wajah Kyuhyun yang bersemu. Akhirnya adiknya menemukan kebahagiannya yang sempurna.

“Semua persiapan lancar. Itu juga karena bantuanmu dan sahabat Siwon. Terima kasih Nunna.” Kyuhyun tersenyum memandang Jinra.

“Bagaimana dengan pendampingmu? Apa sudah di putuskan?” tanya Jinra mengingat sepertinya tidak mungkin Kyuhyun meminta ayahnya sendiri.

“Tenang saja aku sudah tahu siapa yang akan membawaku ke altar.”

“Benarkah? Baguslah. Lalu bagaimana dengan Honeymoon? Aku siap jadi babysitter Jihyun jadi silahkan pergi sebanyak kaldian ingin.”

Nunna!” Jinra tertawa melihat wajah Kyuhyun yang kini memerah seperti tomat.

“Apa? Aku ingin tau apa kali ini Siwon kembali bisa membuatmu hamil. Yaks. Cho Kyuhyun jangan mencubitku.”

Dan hari itu di tutup dengan jeritan-jeritan Jinra yang menjadi sasaran jari Kyuhyun yang lentik dan mematikan di pinggangnya.

.

.

.

“Kita di mana?”

Siwon menatap rumah kecil di hadapannya. Saat ini dia dan Kyuhyun berada di sebuah perkampungan di sudut kota. Kyuhyun memintanya mengantarkan pria itu kesini. Siwon mengalihkan tatapan kearah Kyuhyun yang masih menatap layar ponselnya memastikan tempat yang dia tuju benar.

“Sepertinya ini benar tempatnya Hyung. Ayo kita masuk.” Kyuhyun menarik Siwon menuju halaman rumah yang terlihat sepi tersebut. “Appa!” teriaknya saat melihat sesosok pria keluar dari balik pintu.

Baik sosok itu maupun Siwon sama-sama terkejut. Siwon menatap Kyuhyun yang kini tersenyum padanya. Lalu menatap pria yang kini menatap penuh haru ke arah Kyuhyun. Jadi pria ini yang menorehkan luka di punggung Kyuhyun. Luka-luka yang mungkin membuat Siwon akhirnya sampai pada titik di mana sekarang dia berdiri.

Appa kenalkan ini Siwon. Ehmm calon suamiku,” wajah Kyuhyun memerah menahan malu. Bukan karena dia malu dalam arti sebenarnya dia hanya tidak terbiasa menyebut Siwon calon suaminya. Di tambah dia seorang pria.

“Choi Siwon.”

Siwon mengulurkan tangannya dan dibalas pria yang dipanggil Kyuhyun appa. Bagaimanapun jika Kyuhyun membawanya ke tempat ini, itu berarti dia sudah berdamai dengan segala hal dalam hidupnya di masa lalu.

“Ku harap Appa tidak marah karena aku menikah dengan seorang pria,” ucap Kyuhyun yang kini sudah melingkarkan tanganya di lengan ayahnya membuat pria tua itu terkejut sendiri. Kyuhyun tersenyum bahagia. Perasaannya kini lebih damai.

Annie. Asal kau bahagia apapun kini akan Appa berikan kepadamu.”

Siwon tersenyum mendengarnya. Andai orangtuanya bersikap seperti ini maka sempurnalah kebahagiannya. Namun dia tahu kesempurnaan hanya milik Tuhan.

“Masuk dan duduklah,” pinta ayah Kyuhyun dengan menarik Kyuhyun duduk di sofa ruang tamu yang tidak besar itu. “Ada apa kau kesini? Appa sudah hidup dengan baik. Jadi kau berbahagialah dengan keluargamu,” ucap pria tua itu. Dia mengusap kepala Kyuhyun yang kini menyandarkan tubuhnya di bahunya dengan manja.

“Minggu depan aku menikah Appa. Jadi kau harus hadir.”

“Jika kau menginginkannya maka Appa akan hadir.”

“Kalau begitu sekarang bersiaplah. Kita berangkat sebelum malam,” ucap Kyuhyun yang sudah berdiri.

“Tapi, masih minggu depan. Appa akan datang 2 hari sebelumnya.”

Annie. Aku mau Appa bersiap. Banyak yang harus di lakukan. Aku tidak ingin Appa menemaniku ke altar dengan wajah penuh kumis dan jenggot seperti ini. Kajja.”

Pria itu terpaku dan hanya mengikuti saat Kyuhyun membawanya kekamar dan membereskan pakaiannya. Siwon yang sejak tadi hanya melihat, tersenyum dan menghampiri Kyuhyun. Dia menyentuh tangan Kyuhyun yang sibuk memasukan beberapa pakaian kekoper.

“Biar ku bantu.”

.

.

.

Gereja mungil yang berdiri di sebuah perbukitan itu terlihat cantik dengan bunga mawar putih yang menghiasinya. Gerbangnya dihiasi dengan pita-pita berwarna merah. Dari gerbang hingga ke altar terbentang sebuah karpet merah yang penuh dengan taburan bunga. Keadaan di dalam gereja yang hanya mampu menampung beberapa puluh orang itu juga tak kalah cantiknya. Halaman di gereja tersebut di penuhi dengan meja-meja bulat di mana beberpa pelayan hilir mudik menyiapkan beberapa makanan. Di sebelah kiri terdapat sebuah panggung kecil dengan sebuah grand piano yang juga berwarna putih. Semuanya terlihat indah begitu pula dengan sosok pria yang kini tengah menundukan kepalanya penuh kegugupan. Tokoh utama acara hari ini.

“Tenanglah. Semua akan berjalan lancar.” Kyuhyun tersenyum dan menggenggam tangan ayahnya erat. Dia tidak menyangka hari ini benar-benar datang. Hari dimana dia akan menjadi satu dengan Siwon. “Sudah waktunya kita keluar.”

Kyuhyun menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan saat kakinya melangkah memasuki gereja kecil itu. Dia memastikan langkahnya agar tidak terjatuh. Tidak dia tidak akan terserimpet gaun karena Kyuhyun tidak pakai gaun. Hanya saja dia begitu gugup hingga takut melakukan hal-hal bodoh. Dia sedikit merasa tenang karena ayah dan putrinya berada disisinya.

Kyuhyun memperhatikan beberapa orang yang terlihat di kursi kanan kirinya. Ada Jinra, Donghae dan Hyukjae yang duduk di deretan depan. Beberapa orang teman ayahnya. Dan beberapa orang yang Kyuhyun kenali orang-orang yang membantunya merawat Jihyun saat kecil.

Dan tentu saja di sana berdiri seorang pria yang sudah membuat jantungnya berdegup kencang sejak pertama kali mereka bertemu. Pria yang sudah memberikannya malaikat kecil. Pria yang kini dia cintai dengan seluruh jiwa dan raganya. Pria yang bersedia menerimanya yang penuh kekurangan ini. Pria sempurna yang tidak beberapa lama lagi sah menjadi suaminya. Pria yang akan menemani kehidupannya hingga dia menutup mata. Pria bernama Choi Siwon. Ya. Siwonnya.

Apakah Siwon sudah pernah mengatakan kalau Kyuhyun begitu cantik dan indah? Jika sudah maka akan Siwon katakan bahwa belahan jiwanya kali ini beribu bahkan berpuluh ribu kali lebih indah saat ini. Tuxedo berwarna putih itu terlihat pas di tubuh ramping Kyuhyun. Membuatnya semakin bersinar. Dan wajah yang begitu Siwon rindukan itu terlihat lebih cantik dengan rona merah menghiasi pipinya. Hanya perlu beberapa langkah lagi untuk Siwon dapat menggapai tangan Kyuhyun. Hanya beberapa waktu lagi bagi Siwon untuk membuat Kyuhyun menjadi istrinya. Pasangan hidupnya.

“Siwon-ah Appa mohon jagalah Kyuhyun dengan seluruh nafasmu.” Ayah Kyuhyun menyerahkan tangan putranya kepada pria yang akan menjadi suaminya.

Siwon menerima tangan Kyuhyun dengan senyum penuh kebahagian. Lalu membawa pria itu menghadap Jungsoo.

Kyuhyun menoleh ke kanan dan melihat Jihyun yang kini duduk di antara Donghae dan Jinra. Gadis kecil itu terlihat menahan tangisnya. Namun senyuman tidak lepas dari bibirnya.

“Baiklah. Sebelum saya memulai semuanya. Apakah ada yang keberatan dengan pernikahan ini?” Suasana hening menyelimuti ruangan tersebut. “Tidak ada? Jika tidak ada maka akan kita mulai semuanya.”

Jungsoo menatap kearah Siwon. Dan menarik nafas sekilas. “Choi Siwon. Bersediakah engkau menerima Cho Kyuhyun sebagai istrimu. Menjadikannya ibu dari anak-anakmu. Dalam keadaan senang ataupun susah. Sehat ataupun sakit hingga maut memisahkan kalian?”

Siwon menarik nafas pelan dan menghembuskannya. Dia menatap Kyuhyun sejenak sebelum kembali menatap Jungsoo.

“Aku bersedia.”

Jungsoo mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun. “Dan kau Cho Kyuhyun. Bersediakah kau menerima Choi Siwon sebagai suamimu. Menghormatinya sebagai ayah dari anak-anakmu. Dalam keadaan senang ataupun susah. Sehat ataupun sakit hingga maut memisahkan?”

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak lalu menatap Jungsoo dengan senyum kecil. “Aku bersedia.”

“Dengan ini aku sahkan kalian sebagai suami-istri. Siwon-ah pakaikan cincin pernikahan kalian pada Kyuhyun begitu sebaliknya.”

Siwon menyematkan cincin di jari Kyuhyun tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari wajah Kyuhyun yang merona penuh kebahagiaan. Begitu juga Kyuhyun yang sudah tidak bisa meluapkan perasaannya saat ini.

“Silahkan cium pengantinmu.” Jungsoo kembali berucap.

Siwon mengarahkan tangan kanannya menyentuh pipi Kyuhyun dan mendekatkan wajahnya hingga jarak tipis kini menjadi pemisah bibir keduanya. Siwon menatap Kyuhyun dalam. “Saranghae.”

Sebuah kata sederhana namun penuh makna menjadi penutup sebelum kedua bibir Siwon menyesap bibir merah Kyuhyun.

Ciuman yang begitu dalam dengan seluruh perasaannya yang tidak mampu dia sampaikan dengan kata-kata. Air mata mengalir di sudut mata Kyuhyun. Dadanya begitu sesak dengan kebahagiannya saat ini. Dia melingkarkan tangan kanannya pada leher Siwon membawa ciuman itu semakin dalam. Membuat para tamu yang awalnya hanyut dalam ciuman manis memalingkan wajah melihat ciuman yang begitu dalam itu.

Jinra terduduk dengan air mata di pipinya. Dia terlalu bahagia hingga lupa bahwa Jihyun melihat kelakuan orangtuanya yang seakan lupa dimana mereka berada. Ayah Kyuhyunpun menangis dan berkata dalam hati bahwa istrinya kini bisa pergi dengan tenang. Ciuman itu masih berlanjut dan baru terhenti saat Jihyun berlari kearah orang tuanya.

Mommy!”

Siwon dan Kyuhyun terpaksa melepaskan tautan mereka. Siwon yang sudah dapat mengendalikan tubuhnya segera menggendong Jihyun. Sementara Kyuhyun yang sepertinya baru menyadari beberapa pasang mata yang kini menatapnya dengan senyum jahil hanya mampu mengalihkan tatapannya kepada Jihyun.

“Apa Mommy bahagia?”

Kyuhyun mengangguk. Lalu mengecup pipi putrinya. Namun belum sampai dia menyentuh kulit putrinya sesuatu bergejolak di perutnya. Membuatnya harus menutup mulutnya.

Mommy?”

“Sayang ada apa? tanya Siwon yang sudah menurunkan Jihyun.

Kyuhyun kembali menutup mulutnya saat merasa perutnya kembali seperti diaduk-aduk.

Jinra yang sudah berdiri untuk menghampiri Kyuhyun tersenyum saat mendapati apa yang terjadi. Beberapa tamu yang hadir juga tersenyum seolah mereka tahu apa yang sedang terjadi.

Aigo. Jihyun-ah sepertinya kau akan dapat adik.”

Jinja? Benarkah Mom?” Jihyun menatap ibunya penuh harap sementara Kyuhyun dengan wajah merah menatap Siwon yang saat ini tersenyum tidak jelas.

Aigo. Kau benar-benar hebat Siwon-ah,” ucap Hyukjae. Yang sudah berdiri dihadapan pengantin itu bersama Donghae.

“Kyuhyun-ah kali ini lahirkan jagoan setampan aku,” ucap Donghae yang mendapat sentilan di kepalanya.

Kyuhyun hanya mampu membenamkan wajahnya yang merah di dada bidang Siwon.

Dan acara bahagia itu berakhir saat Jihyun mendapat lemparan bunga dari ibunya. Membuat Siwon dan Kyuhyun terperangah namun tersenyum bahagia.

“Hae Oppa jika aku dewasa nanti menikahlah denganku?”

Gelak tawa memenuhi halaman kecil itu. Donghae sudah tidak tampan saat kau dewasa Jihyun-ah. Kyuhyun memandang putrinya dalam pelukan suaminya. Sejak dari altar dia tidak membiarkan Siwon beranjak dari sisinya. Sepertinya bawaan bayi.

.

.

.

Kyuhyun membuka tirai dikamarnya selebar mungkin membuat sinar matahari masuk dan mengganggu dua sosok yang masih bergelung dalam selimut. Sosok yang lebih kecil semakin menyembunyikan tubuhnya di balik sosok besar yang kini kembali menarik selimut.

Hyung, Jihyun-ah ayo bangun kalian sudah telat!”

“10 menit lagi Mom.”

Dua suara berbeda menyahut dari balik selimut. Kyuhyun mengacak pinggang menatap tuan putri dan rajanya. Dia mengelus perutnya yang membuncit dan tersenyum.

“Pangeran bantu Mommy ne?”

Perlahan Kyuhyun menarik selimut namun tidak lama kemudian dia merintih dan memegang perutnya. Mendengar suara menakutkan itu kedua sosok itupun bangun.

Baby kau mau melahirkan?”

Mommy ada apa?”

Kyuhyun mengangkat wajah dan tersenyum menatap dua wajah yang menatapnya penuh khawatir.

Annie. Mommy tidak apa-apa. Sana mandi.” Kyuhyun beranjak meninggalkan Siwon dan Jihyun yang kini memandang satu sama lain lalu memutar mata mereka.

Baby!”

Mommy!”

“Kau senang sekali mengerjai kami,” ucap Siwon saat menatap Kyuhyun yang sedang membantunya memasangkan dasi.

Siwon sangat suka saat-saat seperti ini memandang Kyuhyun dari jarak dekat. Dia juga suka menyaksikan Kyuhyun hilir mudik di apartement mereka dengan perut buncitnya. Biasanya Kyuhyun memakai kemeja yang ukurannya lebih besar dengan tangan dilipat hingga siku. Dan menurutnya itu sangat seksi. Betapa dia bahagia dengan kehidupannya saat ini.

Kajja. Sudah selesai.” Kyuhyun hendak beranjak untuk menyiapkan sarapan saat tiba-tiba Siwon menariknya kedalam pelukannya. Melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun dan mempersempit jarak mereka namun tidak sampai menekan perut Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum saat Siwon memeluknya erat.

Waeyo?”

Annie. Aku hanya bahagia hingga tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mendeskripsikannya.”

Siwon tersenyum menatap wajah Kyuhyun yang pipinya semakin chubby sejak kehamilan keduanya. Dia semakin mempersempit jarak keduanya hinggan deru nafas Kyuhyun mulai meningkat. Siwon tersenyum tipis. Sejak hamil hormon Kyuhyun memang meningkat tajam. Wajahnya akan langsung memerah ketika Siwon bahkan hanya menatapnya.

Dan ciuman lembut penuh perasaan itu mengawali kegiatan mereka. Kyuhyun sudah melingkarkan kedua tangannya di leher Siwon sementara Siwon melingkarkan kedua tangannya di pinggang dan punggung Kyuhyun menahan tubuh istrinya juga tubuhnya sendiri agar tidak menyakiti bayi mereka.

Kyuhyun mendesah kecil saat Siwon sudah memasukan lidahnya dan membelai lidah Kyuhyun membuat pandangan Kyuhyun semakin kabur karena gairah.

“Hyung~~~ heuhhh…heuhhh..” Nafas keduanya terengah karena ciuman panjang tersebut.

Benar saja tebakan Siwon baru ciuman panas saja sudah membuat Kyuhyun bergairah. Siwon kembali memangut Kyuhyun. Tangannya menyelinap ke balik kemeja Kyuhyun dan mengelus perut istrinya perlahan sebelum menyusupkan tangannya kebalik celana panjang Kyuhyun membuat istrinya semakin merintih penuh nikmat.

“Mommy!” Suara Jihyun menjadi alarm keduanya. Keduanya saling memandang namun tidak melepaskan diri satu sama lain.

Nehh!!!” Kyuhyun berusaha mengeluarkan suaranya senormal mungkin namun gagal.

Mommy kenapa?”

Anniehh sayhanghhh… Ada aphah?” Kyuhyun memelototi Siwon yang tangannya masih bergerak aktif di bawah sana. Meraba dan memijat pusat tubuhnya.

“Menurut Mommy hari ini bandananya pink atau merah?” Suara Jihyun kembali terdengar. Sekuat tenaga Kyuhyun berusaha menjawab.

“Pink sayang.”

“Kenapa?”

Kyuhyun memutar matanya. Putrinya terlalu banyak bertanya untuk saat ini. “Karena yang merah sudah Hyun pakai kemarin.”

“Oh. Ok.”

Suara Jihyun menghilang seiring dengan teriakan Kyuhyun mencapai puncak kenikmatan yang diredam dengan ciuman panjang Siwon. Senyum terukir di bibir Siwon. Dia selalu suka melihat wajah Kyuhyun yang memerah dan penuh dengan keringat saat mencapai puncak kegiatan pribadi mereka. Kyuhyun terlihat semakin cantik dan sexy.

“Terima kasih Tuan Choi sudah membuatku lelah.” Siwon tersenyum kecil dan mengecup sekilas bibir Kyuhyun.

“Sama-sama Nonya Choi. Hari ini kau bisa tidur dengan tenang,” balas Siwon yang kembali memeluk Kyuhyun. Dan mencium rambutnya dengan penuh sayang.

***

Kyuhyun mengelap peluh di dahinya. Akhirnya pekerjaannya membersihkan rumah selesai juga. Walau lelah namun dia sangat senang. Sebenarnya Siwon sudah meyuruhnya menggunakan jasa pembantu. Namun Kyuhyun merasa apartement Siwon masih bisa dia bersihkan sendiri. Mungkin dia baru akan mempertimbangkan saat usia kandungannya memasuki trimester ke tiga. Atau saat mereka pindah ke rumah yang baru.

“Sekarang waktunya makan. Kau pasti lapar,” ucap Kyuhyun mengelus perutnya pelan.

Namun baru saja dia hendak ke dapur suara bel menggema. Kyuhyun mengerutkan dahi lalu segera membuka pintu depan. Dan tamu yang tidak disangkanya kini berdiri menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Tidak mengijinkan Umma masuk?”

Kyuhyun menelan ludah dan menggeser tubuhnya membiarkan Nyonya Choi -ibu mertuanya- masuk. Ini kedua kalinya mereka bertemu setelah kejadian saat mereka membuka hubungannya.

“Silahkan duduk. Euhmm… Umma mau minum apa?”

Kyuhyun sudah bersiap jika Nyonya Choi memarahinya karena memanggilnya umma. Bagaimanapun wanita dihadapanya ini kini ibunya juga. Nenek dari putrinya juga bayi yang kini di kandungnya.

“Apa saja.”

Kyuhyun segera ke dapur dan kembali dengan segelas orange jus. Dengan tangan sedikit bergetar dia meletakan gelas tersebut di meja. Lalu duduk di sofa menghadap Nyonya Choi. Kebisuan melanda keduanya. Kyuhyun tidak tahu harus berbicara apa. Dia sibuk menggenggam erat kemejanya sedangkan pandangannya sama sekali tidak fokus.

“Berapa usianya?”

Ne?”

Kyuhyun mengangkat wajah dan menatap Nyonya Choi bingung. Wanita itu menatap perutnya membuat Kyuhyun juga menatap perutnya lalu mengusapnya pelan.

“24 minggu,” jawab Kyuhyun dengan senyuman di wajahnya. Dia selalu seperti ini jika ada yang bertanya mengenai kehamilannya.

“Sudah tahu jenis kelaminnya?”

Kyuhyun menatap Nyonya Choi dan tersenyum perasaan gugupnya hilang karena sikap wanita tersebut. “Menurut dokter dia laki-laki.”

“Maaf karena datang tanpa memberitahumu.” Nyonya Choi mengambil sesuatu yang dia letakan di sampingnya. “Ini sup rumput laut(?) makanlah. Bagus untuk kehamilan.” Kyuhyun menatap sebuah bungkusan yang tertutup selembar kain. “Umma akan mengirimkannya secara rutin. Jika kau tak suka kau harus tetap memakannya. Karena Umma memberikannya untuk cucu Umma.”

Kyuhyun tersenyum penuh haru. Dia tidak dapat menahan kristal bening mengalir di sudut pipinya. “Ne. Aku akan memakannya Umma.”

***

“Hey ada apa? Sepertinya kau sangat bahagia?” tanya Siwon saat dia mendapati istrinya tengah duduk di sofa memandangi sebuah bungkusan putih di depannya. Siwon memang terkadang pulang untuk sekedar makan siang. “Dari mana ini?”

“Dari Umma,” jawab Kyuhyun pelan membuat Siwon mendudukan dirinya di samping Kyuhyun.

Umma?” Kyuhyun mengangguk saat Siwon memutar tubuhnya.

“Dia memberikannya untuk cucunya.” Kyuhyun kembali menangis dan memeluk erat bayi dalam kandungannya. Begitu juga Siwon yang memeluk istrinya erat. Dia sudah tahu bahwa ibunya adalah wanita terbaik di dundia.

Mom?” Jihyun yang baru pulang dari sekolahnya menatap bingung ayah dan ibunya.

“Jihyun-ah?” Kyuhyun memekik bingung melihat putrinya. Terlalu lama memandang hadiah dari ibu mertuanya membuatnya lupa menjemput Jihyun. “Bagaimana kau bisa pulang?”

“Oh itu tadi Hae Oppa yang menjemput. Lalu kami makan siang bersama Kakek,” ucap Jihyun yang sudah berada dalam pangkuan Siwon.

“Kakek?” tanya Siwon. Jihyun mengangguk membuat Siwon dan Kyuhyun saling bertatapan bingung.

“Kakek itu bilang Hyun mirip Dady saat kecil. Memangnya dia pernah liat Daddy saat kecil?”

Kyuhyun kembali menangis dan memeluk Jihyun. Siwon pun tak dapat menahan perasaan harunya. Dia mencium putri dan istrinya. Jihyun terlihat bingung dan kemudian ikut menangis. Kyuhyun benar-benar bersyukur bahwa anak-anaknya diterima keluarga Siwon. Tidak apa jika mereka tidak menerima Kyuhyun. Baginya kebahagian anak-anaknya lebih penting. Kyuhyun akan bahagia jika putra putrinya bahagia memiliki ayah, ibu dan juga kakek nenek.

Dalam perjalan hidup seseorang mencapai sesuatu memang terdapat 2 jalan. Jalan lurus tanpa hambatan dan jalan berliku yang penuh dengan rintangan. Namun pada akhirnya rintangan itu memberikannya pelajaran dan membuatnya semakin dapat menghargai kehidupan. Menjaga setiap apa yang Tuhan berikan hingga kebahagian itu menjadi kekal atas kehendak-Nya. Dan kisah ini di tutup dengan sebuah senyuman meski jalan kedepan masih penuh dengan rintangan lainnya namun akan di hadapi dengan semangat juang yang tidak akan kalah dari sebelumnya.

.

.

.

E.N.D

NOTE;
Tadaaaaa saya datang bawa sekuelnya stuck on you… ㅋㅋㅋㅋ
Gak kepikiran buat bikin sekuel sebenarnya, cuma tiba-tiba ajah ide datang dan alurnya jelas sampai akhir. Di ketik deh… heheheheh…
Mian kalo sedikit aneh dan berbau menyesatkan… #plakk
Oh iya untuk nama Jihyun itu saya cuma iseng karena gk pandai nyari nama, kalo kata unvir jd serasa Jinra-kyuhyun. Yah anggap ajah saat itu jinra kekeuh buat nyangkutin namanya di anak Kyuhyun….. wkwkwkwkwk

Kalo d ff wonkyu lain mungkin anaknya Suho, Minho atau Sulli maka saya tidak akan memakai mereka… kenapa??? karena saya gak kenal mereka… cuma tau muka… itu juga cuma muka minho sama sulli.. kalo suho cuma kenal kalo di tunjukin ini loh suho… (= ̄▽ ̄=)V

Dan juga maaf kalo ada kata2 yang aneh atau di ulang2 atau gak nyambung… ㅋㅋㅋ dan karena saya biasa menganhadiri pernikahan dengan kata ‘SAH’ saya membuat janji nikah dengan sederhana seperti kebanyakan….
Saya masih belajar tapi udah ngerasa sedikit meningkat… seenggaknya sekarang bayang mereka kissue2an semakin nyata di mata saya… #plakk

Udeh segitu ajah… berapa word ini ??? ( ۳ ˚Д˚) ۳
makasih atas respon untuk ff saya yang lain… maaf jarang di bales… ><
*bow*

Last but not least
See u next time and keep spreading WonKyu Love ♡ !!!
Annyeong~~~ ^^

Advertisements

Author:

Me and My Dirty Little Secret Are Heaven ^^

67 thoughts on “Stuck On You – Another Story

  1. Seperti mimpi…wonkyu menikah bahkan akan punya baby lagi…selamat buat wonkyu…buat author yg bikin cerita in i aku ucapin makasih sebanyak”nya karena udah bikin cerita yang indah ini…love you..😚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s