Posted in Angst, BL, Genre, Hurt, Oneshoot, Romance, WonKyu Story

Snow In Summer

PicsArt_1405867349184

SNOW in SUMMER

By: -ssiihee-
Genre: Romance, Family, Hurt, Angst
Rate: PG 18
Main cast: Choi Siwon, Cho Kyuhyun

Disclaimer: Cerita ini punya saya, jika ada kesamaan dalam hal tokoh, cerita dan sebagainya dikarenakan faktor yang tidak di sengaja. Dan ini hanya khayalan saya belaka.

Siwon punya Kyuhyun, Kyuhyun punya Siwon, sedangkan WonKyu punya wks… Hehehe.. ^^

Warning: BL, OOC, AU, abal, alay, typo, jauh dari EYD judul tidak sesuai dengan isi cerita dsb.

Don’t Like, don’t read !
Dilarang membashing WonKyu jika ingin hidup tenang!
(= ̄▽ ̄=)V

***
SIS
ssiihee©2014
Totally Reserved

***
.
.

“Anda ingin pesan apa?”

Siwon memandang jengah pada pemuda yang duduk di sudut ruangan dekat dengan jendela yang menghadap ke jalan tempat ia bekerja. Sudah hampir 15 menit lebih ia berdiri menunggu pemuda bernama Cho Kyuhyun itu menyebutkan pesanannya. Namun pemuda tersebut hanya membolak-balikan buku menu tersebut dengan sesekali melontarkan pertanyaan. Ingin Siwon tidak menjawab namun itu akan berdampak pada kupingnya yang panas karena puisi sang atasan yang menyatakan pelanggan adalah raja.

“Aku mau caramell machiatto.”

Siwon memutar matanya dan mencatat pesanan pemuda itu. Ia sudah menebak bahwa pemuda itu hanya akan memesan segelas caramell machiato sama seperti hari-hari kemarin dalam seminggu. Dan itu berlangsung sejak ia dan pemuda itu tidak sengaja bertabrakan di sebuah jalan. Annie. Lebih tepatnya Kyuhyunlah yang menabraknya dengan sepeda. Dan pemuda itu bersikeras bahwa Siwonlah yang salah. Dasar orang kaya maunya bertingkah seenaknya.

Bukan tanpa alasan Siwon mengatakan bahwa Kyuhyun bertingkah sesukanya. Karena sejak pemuda itu tahu Siwon berkerja di sebuah cafe, pemuda itu selalu datang dan meminta ia melayaninya. Ia sudah berbicara kepada atasannya untuk memberikan tugas tersebut pada orang lain. Namun sang atasan justru mengancam akan memecatnya jika Siwon membantah dan terpaksa Siwon menjalankannya. Ia butuh dana untuk pengobatan ibunya.

Karyawan lainpun mulai paham dan memaklumi jika Siwon hanya berdiri di samping pemuda itu. Belakangan Siwon tahu bahwa cafe tersebut kini sepenuhnya milik Kyuhyun. Entah sejak kapan. Jika sudah seperti ini maka Siwon yakin kemanapun ia pergi maka akan ada Kyuhyun.

“Princes datang hari ini?”

Siwon menoleh kearah Donghae seniornya yang menjabat sebagai kepala pelayan. Dan ia memahami siapa yang ia sebut princes. Tidak lain adalah Kyuhyun. Menurut Donghae dan pelayan lain baik laki-laki maupun perempuan mengatakan bahwa Kyuhyun itu sempurna. Dengan kulit putih susunya dan tubuh yang tinggi semampai. Mata coklatnya yang tajam, hidung mancung dan bibirnya yang melengkung tipis disudut. Namun itu semua tidak merubah pendapat Siwon mengenai Kyuhyun.

“Tolong antarkan ini hyung. Katakan padanya bahwa aku sedang ke toilet.” Siwon menyerahkan segelas caramell machiato di atas sebuah nampan kepada Donghae. Setelahnya ia melesat meninggalkan pantry.
“Ya. Kau memerintahku?”

***♡***

Siwon melirik kursi di pojok tempat Kyuhyun biasa duduk. Namun pria tersebut sudah tidak terlihat. Biasanya pemuda itu baru akan meninggalkan cafe jam 7 malam. Pemuda itu biasa datang jam 5 lalu duduk selama 2 jam hanya dengan segelas caramell machiato. Entah apa yang di lakukannya.

“Kau mencarinya? Dia pulang tiba-tiba.”
Ryeowook juniornya yang menangkap Siwon meperhatikan singasana princes Kyu menjawab pertanyaan Siwon.
“Annie. Aku tidak mencarinya.” Siwon kembali menyusun gelas-gelas di pantry.
“Hyung. Tidakkah kau merasa bahwa Kyuhyun mungkin saja menyukaimu. Makanya ia selalu memesan hanya kepadamu. Itu pasti karena ia ingin berlama-lama didekatmu.”

“Apa yang kau bicarakan? Sudah sana kembali bekerja.” Ryeowook mempotkan bibirnya. Siwon akan selalu seperti itu jika teman-temannya mengatakan bahwa Kyuhyun meyukainya. Itu tidak mungkin, bagi orang kaya seperti Kyuhyun yang bertindak sesuka hatinya Siwon hanyalah sebuah mainan yang jika sudah bosan akan di buang. Jadi ia tidak pernah sedikitpun memberi Kyuhyun kesempatan untuk kembali menginjak-nginjak harga dirinya.

***♡***

Kyuhyun melangkahkan kakinya secepat yang ia bisa, sesekali ia melirik jam di pergelangan tangannya. Ia terlambat. Dari tempatnya ia bisa melihat cafe tempat ia biasa menghabiskan waktu di sore hari sudah mulai gelap. Hingga sosok tinggi itu keluar dan berjalan membelakanginya.

“Kau! Berhenti!” Sosok tinggi itu melakukan apa yang Kyuhyun serukan. Ia menghentikan langkahnya. Namun tidak beberapa lama, sebelum ia kembali melanjutkan perjalannya tanpa menoleh sedikitpun kearah Kyuhyun.

“Kenapa kau tidak berhenti?” Tanya Kyuhyun setelah berhasil menyamakan langkah dengan sosok tinggi itu. “Siwon-ssi aku berbicara padamu!”

Siwon menghentikan langkahnya dan menghadap Kyuhyun. “Kau.” Siwon menarik nafasnya kesal. “Dengar. Kembalilah ketempatmu. Dan jangan ganggu aku.” Ucap Siwon yang masih bisa menahan kesabarannya.

“Kau lupa, ini kan sabtu malam. Aku akan menemanimu pulang.” Balas Kyuhyun dengan senyum tipis di bibirnya. Setiap sabtu malam memang ia akan menambah jamnya di cafe hingga tutup. Kemudian menunggu Siwon menyelesaikan pekerjaannya dan mengantarkannya pulang.
“Tidak perlu. Pulang sana, aku ingin sendiri.”
“Kau tau, aku tidak akan pergi.” Siwon menghela nafas. Ia tidak tahu apa yang pemuda itu inginkan namun ini benar-benar sudah menganggunya.

Siwon melanjutkan perjalannya tanpa memperdulikan Kyuhyun yang sibuk bercerita. Setelah sampai di rumahnya yang kecil ia masuk tanpa mengatakan apapun pada Kyuhyun yang hanya akan menghela nafas. Ia sudah terbiasa dan Kyuhyun tahu betul bagi Siwon ia sangat menyebalkan.

“Sabarlah Siwon hyung. Ini tidak akan lama.” Kyuhyun berguman pelan sebelum membalikan badan meninggalkan tempat tersebut. Tak jauh dari rumah tersebut sebuah mobil sudah menunggu. Kyuhyun masuk tanpa mengeluarkan suara membuat sang supir hanya memandang miris pada tuannya itu. Bahkan supir tersebut sudah hapal dengan apa yang Kyuhyun lakukan seminggu belakangan ini.

***♡***

“Dia datang lagi?”
Siwon yang sedang minum di dapur menoleh kepada seorang wanita berwajah tirus. Pandangan lembut dari mata ibunya membuat segala beban dalam tubuhnya hilang seketika.

“Umma belum tidur?” Siwon memeluk tubuh kurus ibunya. Hatinya terasa pedih melihat kondisinya saat ini. “Istirahatlah jangan terlalu banyak bergerak. Nanti kau kelelahan.”
“Kau belum menjawab pertanyaan umma? Apa Kyuhyun masih mengikutimu?”
“Ne. Dan seperti biasa aku mengabaikannya. Kajja kita ke kamar.” Siwon menarik ibunya kekamar dan mendorong wanita itu ke atas ranjang.

“Kau harus bicara dengannya. Mungkin ada sesuatu yang sebenarnya ingin ia katakan.” Siwon menarik selimut untuk menutupi tubuh ibunya hingga batas dada.
“Tidak ada yang harus kami bicadakan umma. Dan aku sama sekali tidak ingin berurusan dengannya. Selamat malam.” Siwon mengecup dahi ibunya kemudian meninggalkan kamar tersebut. Ibunya hanya menghela nafas memandang kekeras kepalaan puteranya.
“Umma hanya takut semuanya terlambat.”

***♡***

Kyuhyun terseyum memandang foto-foto ditangannya. Foto Siwon selama berkerja di cafe dan keseharian pemuda tersebut. Kyuhyun sadar ia sudah seperti seorang maniak yang terobsesi pada sesuatu. Namun hanya inilah yang bisa ia lakukan karena ia tidak bisa menjangkau Siwon lebih dari saat ini. Choi Siwon.

Entah sejak kapan nama itu terpatri dalam hatinya. Mungkin sejak pemuda itu menatapnya tajam saat berdebat tentang siapa yang salah dalam kasus tabrakan mereka. Atau saat Siwon mengatakan bahwa ia adalah orang yang tidak berguna. Kyuhyun mengangkat bahu. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Yang jelas ia hanya ingin melihat Siwon sebanyak yang ia bisa. Dan merekamnya dalan ingatan.

“Kau belum tidur sayang?” Kyuhyun menoleh kearah seorang wanita yang bertitle sebagai ibunya. Wanita itu duduk di sebelah kanan putranya di ranjang, mengamati foto-foto ditangan Kyuhyun. “Kau bertemu Siwon hari ini?” Kyuhyun mengangguk. Ibunya mengetahui apa yang ia lakukan. “Apa yang ia katakan?”

“Masih sama. Ia masih galak dan ketus. Umma tahu, alis Siwon akan bergerak lucu saat ia marah. Kau harus melihatnya.” Ibunya tertawa mendengar cerita Kyuhyun. Wanita itu kemudian mengusap wajah putranya penuh sayang.

“Kau tidak lelah? Bagaimana kalau umma berbicara dengan Siwon, umma….”
“Sssttt..” Kyuhyun menyela ucapan ibunya. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan wanita yang mengandungnya selama 9 bulan itu. “Annie umma, tidak apa-apa. Seperti ini saja aku senang.”

Wanita itu hanya menghela nafas kemudian berdiri. “Baiklah. Sekarang kau istirahat dan jangan lupa untuk…..”
“Arra. Aku tidak akan lupa.” Kyuhyun tersenyum manis kemudian memejamkam mata saat keningnya mendapat sebuah kecupan hangat.
“Istirahatlah.” Setelahnya wanita itu keluar meninggalkan Kyuhyun sendiri menikmati kesunyiannya.

***♡***

“Siwon-ah!” Ryeowook berlari menghampiri Siwon yang sedang membersihkan gelss disudut pantry. Siwon hanya memandang datar Ryeowook.
“Kenapa kau lari-larian?”
“Princesmu sudah datang?” Siwon mengerutkan alis dan menatap jam di pergelangan tangannya. Jam 3. Tidak seperti biasanya.

“Aigoo bahkan kau kini sudah terbiasa. Dulu kau selalu berguman tidak jelas saat dia datang.”
“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”
“Ah iya.” Ryeowook menarik tangan Siwon ke pintu di mana dari sana terlihat Kyuhyun sedang duduk di tempat biasanya. Namun ada yang tidak biasa seperti jam kedatangannya. Pemuda itu datang bersama seorang pria. “Lihat. Siapa pria itu? Apa dia kekasih Kyuhyun? Bukankah ia menyukaimu? Yaks! Siwon-ah kau mau kemana?” Ryeowook mengikuti Siwon menuju ruang ganti. “Hey kau tidak apa-apa?”

Siwon menatap Ryeowook bingung. “Memangnya aku kenapa?”
“Aish. Sudahlah sana kau temui dia.”
“Kenapa bukan kau saja.”
“Percuma…”
“Siwon-ah.” Tiba-tiba saja Donghae muncul membuat Siwon dan Ryeowook tahu apa yang akan di ucapkan pria tersebut. “Kyuhyun mencarimu.”

“Kubilang juga apa.” Ryeowook memandang Siwon dengan sebelah alis yang di naik turunkan. “Sana.” Ryeowook mendorong tubuh Siwon. Setelahnya ia dan Donghae saling tertawa dan menggelengkan kepala.

***♡***

“Cafe yang bagus?”

Yunho mengomentari cafe yang di sebut-sebut Kyuhyun sebagai tempat favoritnya sementara Kyuhyun hanya tersenyum lalu mengarahkan Yunho ke tempat biasanya ia duduk. Pandangannya mengarah ke segala arah namun apa yang ia cari tidak terlihat.

“Kau mencari sesuatu?” Yunho bertanya saat ia heran melihat Kyuhyun mencari sesuatu yang sepertinya bukan pelayan karena banyak pelayan yang sedang hilir mudik di sekitar mereka.

“Annie.” Kyuhyun tersenyum kecil. Ia menyadari bahwa dirinya akan langsung mencari Siwon. Padahal ia yakin sekali bahwa pria tersebut bahkan tidak ingin melihatya.

“Kyuhyun-ah kau sudah datang?” Kyuhyun menatap Donghae yang berada di hadapannya dan tersenyum. “Ne. Hyung. Bisakah…”
“Arasso.” Sebelum Kyuhyun menyelesaikan ucapannya Donghae seger melesat menjauhin meja mereka.
“Kalian sepertinya sangat akrab.” Tentu saja. Hampir setiap hari Kyuhyun datang kesini. Bahkan terkadang karena sudah terlalu biasa, beberapa pelayan hanya akan tersenyum melihatnya.
“Ne. Seperti itulah.”

“Ada yang ingin anda pesan?” Sebuah suara hadir diantara percakapan Kyuhyuh dan Yunho. Kyuhyun sangat mengenali suara yang selalu sanggup membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Hanya karena suaranya. Kyuhyun menghela nafas lalu menoleh kearah Yunho yang sedang menyebutkan pesanannya.

“Kalau kau Kyu?” Yunho menatap Kyuhyun dengan senyuman di bibirnya.
“Caramell machiato.”
“Mwo? Bukankah kau tidak minum kopi?”
“Itu bukan kopi hyung.” Ucap Kyuhyun. Siwon sempat melirik mendegar nada bicara Kyuhyun.

“Tapi…”
“Apa ada lagi?” Siwon memotong percakapan mereka berdua. Membuat Kyuhyun segera menoleh kearah pria tampan dengan lesung pipi itu.
“Annie.” Setelahnya Kyuhyun membiarkan Siwon meninggalkannya dengan wajah yang tidak bisa di cerna.

“Jadi siapa pria itu?” Ryeowook tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia sudah memperhatikan wajah Kyuhyun sejak datang. Pemuda manis itu terlihat senang. Biasanya pemuda itu datang dengan wajah datar tanpa senyum.

“Kenapa kau tidak tanyakan sendiri?” Ryeowook mendelik kesal mendengar jawaban Siwon.
“Aigo jangan bilang kau cemburu Siwon-ah.”
“Mwo?! Untuk apa aku cemburu memang siapa dia.” Ryeowook hanya tertawa mendengarnya. Ia sudah sering melihat bahwa Siwon tanpa sengaja memperhatikan Kyuhyun. Namun ia selalu saja mengelak bahwa ia jengkel degan sikap Kyuhyun dan merasa lega jika pemuda itu sudah pergi.
Ryeowook menghela nafas. Ini akan sangat menarik.
.
.
.
Siwon merapatkan jaketnya menghalau udara malam menyentuh kulitnya. Walau saat ini musim panas ada saatnya cuaca malam menjadi sangat dingin seperti malam ini. Ia mencengkram sebuah kotak yang ia bawa dengan kencang. Hari ini ia membeli sebuah kue yang di inginkan ibunya. Beruntung masih sisa satu. Karena kue tersebut hanya di jadwalkan terpajang di etalase cafe pada hari sabtu. Kue special.

Dengan senyum ceria di bibirnya ia berjalan santai menembus kegelapan malam. Namun senyum itu seketika hilang saat melihat sesosok pemuda yang sedang berdiri menyandar di ujung gang. Pemuda itu menggosok kedua tangannya untuk membuat tubuhnya hangat. Cho Kyuhyun.

Siwon menghelan nafas. Lalu melanjutkan perjalannya melewati pemuda tersebut.
“Kau sudah pulang? Ah malam ini dingin sekali.” Siwon mengabaikan Kyuhyun yang terus berucap tanpa beban. “Kau bawa apa? Ah kue itu? Kau membelinya untuk kekasihmukah?”

Siwon menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Kyuhyun. Ia memandang pemuda yang wajahnya pucat dengan bibir sedikit membiru. Ia pasti kedingan. Sudah berapa lama ia menunggu di luar. Siwon mengerutkan alis. Untuk apa ia menghawatirkan Kyuhyun.

“Kalau ia apa ada urusannya denganmu?”
“Tentu saja.” Kyuhyun tersenyum paksa. Ia tidak menyangka bahwa jawaban Siwon kali ini memukul dadanya. Jadi ia sudah punya kekasih. “Aku… aku mungkin harus minta ijin kekasihmu agar bisa jalan seperti ini.” Kyuhyun tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan jadi ia memutuskan untuk berjalan mendahului Siwon.

“Kenapa? Kenapa kau terus mengikutiku? Tidak taukah bahwa itu menggangguku? Aku bukan mainan yang bisa kau perlakukan sesuka hatimu. Jadi berhentilah. Aku tidak tahu alasan mengapa kau melakukan semua ini dan itu harus membuat aku membencimu.”

Ucapan panjang tanpa jeda Siwon seketika menghentikan langkah Kyuhyun. Ada sesuatu kembali mendesak masuk dalam hatinya. Dan membuatnya sesak nafas. Kyuhyun mengadahkan kepalanya dan menarik nafas panjang sebelum berbalik menghadap Siwon yang menatapnya tajam.

“Karena aku tidak bisa tidak melihatmu. Karena aku tidak bisa menyingkirkanmu dalam pikiranku. Bahkan dari mimpiku. Karena rasanya sangat sakit disini.” Kyuhyun menyentuh dadanya. “Saat aku tahu bahwa aku tidak akan bisa memilikimu. Rasanya sangat sakit bahwa aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu. Kau yang menatapku penuh benci. Aku mencintaimu Choi Siwon.”

Siwon terpaku sejenak mendengar penuturan Kyuhyun yang tidak ia sangka. Mata pemuda itu tergenang dengan cairan bening yang siap jatuh dan mengalir di pipi putih mulus itu. Pemuda itu tidak sedang bercanda dan Siwon tidak tahu harus berkata apa.

“Tenang saja aku tidak memintamu membalasku. Aku tahu kau membenciku. Tapi aku sungguh tidak bisa tidak melihatmu. Awalnya aku hanya ingin melihat dari jauh namun godaan lain muncul, aku ingin mendegar suaramu walau dengan nada ketus. Jadi maafkan aku. Ini tidak akan lama, setelah itu aku tidak akan mengganggumu.”

Kyuhyun tersenyum pedih. Itu yang Siwon lihat sekiranya. Dan Siwon merutuki dirinya yang kini tidak bisa mengekuarkan kata-kata sedikitpun. Ia terlalu terkejut dengan penuturan Kyuhyun. Walaupun ia sering mendengar teman-temannya mengatakan kalau pemuda itu menyukainya, namun mendengar langsung dari mulut Kyuhyun membuatnya kerja otaknya melambat. Ia bahkan tidak menyadari Kyuhyun yang kini sudah berdiri dihadapannya. Begitu dekat hingga ia bisa melihat iris coklat Kyuhyun yang menatapnya lembut.

Siwon benar-benar mematung kali ini bahkan ia yang biasanya ingin sekali berjauhan dari Kyuhyun tidak bergerak saat pemuda manis itu melingkarkan kedua tangannya pada lehernya. Dan saat bibir hangat Kyuhyun menyapu bibirnya Siwon tersadar. Ia berusaha mendorong tubuh Kyuhyun namun pergerakannya terhenti saat melihat cairan bening meleleh di pipi Kyuhyun. Membiarkan pemuda itu menyesap kedua bibirnya dengan bergetar. Menimbulkan getaran aneh pada dada Siwon.

Tanpa sadar Siwon memejamkan matanya membiarkan rasa hangat di bibirnya menyebar dalam tubuhnya. Menyadari hal itu membuat Kyuhyun memberanikan diri menempelkan tubuhnya semakin merapat ke Siwon membuat pria itu dapat menghirup aroma Kyuhyun yang manis, sama seperti ciumanya. Perlahan namun pasti Siwon mulai membalas kecupan Kyuhyun membuat air mata pemuda itu semakin deras. Ia bahagia walau Siwon melakukannya pasti karena terbawa suasana. Namun untuk Kyuhyun itu sudah cukup untuknya. Dan saat ciuman manis itu semakin dalam Kyuhyun sadar ia harus segera menghentiknya sebelum ia sama sekali tidak ingin berhenti.

Dengan perlahan Kyuhyun mendorong tubuh Siwon yang entah sejak kapan mengurungnya dalam pelukannya. Pria itu sempat limbung dengan apa yang terjadi. Dengan nafas tersenggal ia menatap Kyuhyun yang sedang tersenyum.

“Mianhae Siwon Hyung. Dan terima kasih.” Kyuhyun membungkukan tubuhnya sebelum berlari dari hadapan Siwon dengan senyum bahagia di bibirnya. Sementara Siwon termenung dengan apa yang dilakukannya. Ia menyentuh dadanya yang berdetak kencang entah sejak kapan. Ia juga menyentuh bibirnya yang masih terasa manis dengan jejak panas.

Siwon menggelengkan kepalanya. Ini pasti karena pikirannya yang sedang kacau sehingga ia tidak tahu apa yang di lakukannya. Ia hanya terbawa suasan. Siwon menghela nafas dan memandang punggung Kyuhyun yang semakin jauh. Jauh dalam hatinya ia merasa kehilangan namun emosi dan ego menyingkirkannya.
.
.
.
“Dia tidak datang lagi?” Donghae bertanya pada Ryeowook yang sempat menangkap Siwon memperhatikan kursi dimana Kyuhyun biasa duduk. Sudah seminggu pemuda itu tidak pernah lagi berkunjung. Ryeowook menggeleng.
“Aku ingin bertanya pada Siwon namun melihat aura gelapnya membuatku takut. Aku lebih menyukai sikapnya yang ketus dan jutek dengan Kyuhyun daripada seperti ini.” Donghae mengelus dagunya terlihat berpikir.
“Terjadi sesuatu.”
“Apa?”
“Entahlah.” Donghae mengankat bahu. “Sudah sana kembali bekerja.”

Siwon mengelap meja itu berkali-kali. Meja yang biasa Kyuhyun gunakan. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Ia baru tersadar saat ada seseorang di dekatnya. Seorang gadis yang hendak menduduki kursi tempat dimana Kyuhyun biasa duduk.

“Permisi agashi. Bisakah pindah ke tempat lain. Tempat ini sudah di pesan.” Gadis itu menaikan alis sebentar lalu berdiri dan pindah ke tempat yang lain.

Siwon melemparkan lap di tangannya ke meja dengan sedikit kasar. Ia memandang kursi itu sejenak. Biasanya Kyuhyun akan duduk dengan tenang lalu membalikan buku menu berkali-kali saat Siwon memberikannya. 10 sampai 15 menit kemudian ia baru akan menyebutkan pesanannya yang hanya secangkir caramell machiato.

Siwon menghela nafas. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Setelah malam itu Kyuhyun tidak pernah datang lagi ke cafe atau berdiri di sudut gang menunggunya. Pemuda itu menghilang tanpa jejak. Seharusnya Siwon senang karena ia tidak akan terganggu dengan kehadiran Kyuhyun lagi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Siwon menantikan kehadiran Kyuhyun. Ia tidak pernah membiarkan siapapun menduduki tempat favoritnya di jam-jam kedatangannya. Bahkan kini ia sering meminum segelas caramell machiato -minuman kesukaanya- dan duduk di kursi Kyuhyun. Siwon tidak mengerti ada apa dengan dirinya, namun yang ia sadari bahwa ada yang hilang.

“Kau pernah dengar istilah seseorang baru akan terasa sangat berharga setelah kita kehilangannya. Kurasa kini kau mengalaminya.” Donghae menepuk pelan bahu Siwon lalu berjalan menyambut pelanggan yang datang.

“Permisi apa anda Choi Siwon?” Siwon menoleh menatap seorang pria berjas hitam. “Ne. Anda siapa?”
“Saya supir pribadi tuan muda Kyuhyun.” Mendengar nama Kyuhyun di sebut membuat Siwon seperti menemukan titik cerah.
“Tuan Kyuhyun meminta saya memberikan ini. Sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu ia menyerahkannya namun ia meminta saya
Memberikannya saat ini.” Siwon menerima sebuah amplop dari pria tersebut lalu berdiri. Pria tersebut menatapnya dengan senyum yang Siwon tidak mengerti, namun ia membalasnya.

“Kalau begitu saya permisi dulu. Dan ah tuan muda Kyuhyun benar bahwa anda sangat tampan.” Siwon terkejut mendengarnya. Namun tidak mengatakan apapun.

Setelahnya ia membuka amplop tersebut yang ternyata didalamnya terdapat sebuah surat yang ia yakini tulisan tangan Kyuhyun sendiri. Dengan perlahan ia membacanya. Sebuah senyuman tersungging dibibir Siwon. Entah mengapa air mata mengalir dipipinya. Sebuah keresahan muncul dalam hatinya. Membuat dadanya sesak. Dengan cepat ia melipat surat tersebut dan menyimpannya dalam saku.
.
.
.
Siwon memandang sebuah rumah megah yang terlihat sepi. Rumah Kyuhyun. Ia berhasil memaksa atasannya untuk memberikan alamat pemuda itu. Awalnya pria itu menolak karena Kyuhyun sendiri yang meminta untuk merahasiakannya. Namun pria itu menyerah saat Donghae dan Ryeowook membantunya. Dan disinilah ia sekarang berdiri. Di depan sebuah gerbang yang berdiri kokoh. Tanpa keraguan sedikitpun Siwon menekan bel.

“Siapa?” Sebuah suara terdengar dari pengeras suara di samping bel tersebut.
“Choi Siwon.”
“Choi Siwon? Masuklah.” Dengan perlahan Siwon memasuki rumah yang begitu megah. Ia tidak menyangka jika Kyuhyun sekaya ini. Saat ia sampai di depan pintu seseorang telah menunggunya. Pria yang mengantarkan surat kemarin.

“Saya senang anda datang. Silahkan masuk. Nyonya sudah menunggu.” Siwon mengerutkan alis bingung namun tetap mengikuti pria itu. Hingga ia sampai di ruang tamu dan bertemu dengan seorang wanita yang sepertinya nyonya rumah. Wanita itu masih terlihat cantik diusianya meskipun terlihat gurat lelah dan kesedihan mungkin.

“Jadi kau Siwon?” Wanita itu menggerakan tangan meminta Siwon duduk. Siwon mimilih duduk di hadapan wanita itu. “Kyuhyun sudah banyak cerita tentangmu.”
“Ne. Saya yakin dia cerita kalau sikap saya tidak baik padanya.” Wanita itu tersenyum namun tidak ada gurat kecewa sedikitpun.

“Kau benar. Setiap dia pulang dia akan menceritakan semuanya. Dengan semangat Kyuhyunku bercerita bahwa wajahmu sangau jelek saat marah. Dan tentu saja saat kalian bertengkar kemarin.” Siwon berdehem merasa tidak enak hati. “Tidak apa Siwon-ah. Kyuhyun memang terbiasa mendapat apa yang diinginkan. Kami selalu mengabulkan setiap permintaanya.”

Ada kesedihan dalam nada wanita itu, membuat Siwon bingung. Harusnya ia senang sebagai orang tua mampu membahagiakan anaknya. Walaupun caranya salah. Menurut Siwon.

“Ah iya bukankah kau kesini untuk bertemu Kyuhyun?”
“Ah ne.” Siwon tersenyum menatap ibunya Kyuhyun yang kini sudah berdiri.
“Kalau begitu ayo kekamarnya.”
“Ne? Apa tidak sebaiknya Kyuhyun dipanggilkan saja?” Wanita itu tersenyum kecil. Namun tetap berjalan kearah tangga memaksa Siwon mengikutinya dari belakang hingga ia berada tepat di sebuah kamar dengan pintu putih bersih.

Wanita itu -Nyonya Cho- membuka pintu kamar itu dengan Siwon di belakangnya yang sibuk memperhatikan betapa besar dan megahnya kamar Kyuhyun. Luas kamar ini bahkan setara dengan luas rumahnya. Pandangan Siwon terus mengelilingi kamar tersebut hingga matanya menangkap sesuatu di ranjang besar dengan selimut berwarna hijau muda.

Siwon menatap nyonya Cho bingung. Namun wanita itu hanya mengangguk mengisyaratkan Siwon untuk mendekat ke ranjang tempat Kyuhyun berbaring. Seketika hati Siwon mencelos bagaimana mata yang selalu menatapnya penuh harap itu kini terpejam dengan berbagai alat tertempel di tubuhnya. Siwon juga baru menyadari beberapa mesin yang berada di samping ranjang Kyuhyun. Disana terlihat jelas bagamana kondisi Kyuhyun saat ini.

“Kyuhyun sudah mengalami gangguan jantung sejak ia kecil.” Nyonya Cho memulai ceritanya pelan. “Sungguh ajaib ia bisa bertahan hingga saat ini. Berbagai cara telah kami lakukan namun belum memberi jawaban pasti tentang kesembuhanya. Setahun lalu Kyuhyun menyerah. Ia sudah tak ingin lagi sembuh. Ia memilih menghabiskan waktunya dengan hal yang menyenangkan.” Jeda sejenak. Terlihat nyonya sedang mengontrol emosinya. Siwon hanya memandang lirih wanita itu. Bagaimanapun ia merasakan bagaimana memperjuangkan orang yang ia sayang.

“Untuk itulah kami selalu memberikan apa yang ia mau karena kami tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih panjang kepadanya. Beberapa minggu lalu ia bercerita dengan wajah bersemu merah bahwa ia bertemu seorang pria yang sangat tampan.” Nyonya Cho tersenyum lembut kepada Siwon. “Ini hal pertama baginya. Kami bahkan ingin membawamu dan meminta tolong bahagiakan anak kami. Namun Kyuhyun sadar dan ia menentangnya. Ia hanya ingin bersamamu, melihatmu sampai waktunya tiba, tanpa mengikatmu disisinya. Ia takut bahwa nantinya ia akan sulit meninggalkanmu.”

Nyonya Cho tidak bisa lagi melanjutkan ceritanya. Air mata mengalir deras di pipinya. Bagaimanapun Kyuhyun putra satu-satunya dan ia begitu mencintai Kyuhyun. “Lalu bagaimana kondisinya sekarang?”

“Sudah beberapa hari ia tidak sadarkan diri. Dokter hanya meminta kami bersiap karena ia bisa pergi kapan saja. Malam itu ia pulang dengan wajah pucat, karena terlalu lama di luar. Ini diluar kebiasaanya yang akan pulang setelah mengantarmu. Ia tak sadarkan diri hingga dua hari kemudian ia sadar, namun tidak lama ia kembali tak sadarkan diri hingga saat ini. Mungkin ia benar-benar menyerah.” Nyonya Cho menyentuh pundak Siwon membuat pemuda itu menoleh menatap wajah sembab itu.

“Siwon-ah, umma mohon bicaralah padanya. Siapa tahu ia kembali.” Setelah itu nyonya Cho meninggalkan Siwon sendiri di kamar yang sunyi itu. Ia memandang wajah Kyuhyun yang pucat.

Siwon baru menyadari bahwa pemuda yang selalu mengikutinya ini terlihat manis. Bibir yang biasanya merah kini kering dan pucat. Melihatnya membuat Siwon teringat kejadian malam dimana Kyuhyun menciumnya dan ia membalasnya. Entahlah kenapa ia membalasnya. Siwon hanya mengingat bahwa tubuhnya bergetar saat Kyuhyun menciumnya.

Saat Kyuhyun tidak lagi datang menemuinya Siwon sadar bahwa ada yang hilang dalam kesehariannya. Memang tidak ada yang berubah, kehidupannya tetap berjalan. Hanya saja ada yang berbeda. Tak ada lagi yang membuatnya harus berdiri beberapa menit hanya untuk segelas caramell machiatto, tak ada lagi yang menunggunya di ujung jalan. Sebelumnya ia tidak masalah dengan hal-hal seperti itu namun kini ia merindukannya. Padahal itu berlangsung hanya sepersekian persen dalam 24 tahun kehidupannya.

Perlahan Siwon memegang tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya dengan lembut mencoba untuk tidak menyakitinya. Perlahan membawa tangan dengan jari-jari lentik itu kedekat wajahnya lalu mengecupnya pelan. Siwon memejamkan matanya, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat ia tidak sanggup melihat Kyuhyun seperti ini.

“Kyuhyun-ah bangunlah? Apa kau sangat marah padaku sampai tertidur lama seperti ini.?” Siwon mencoba mengajak Kyuhyun berbicara berharap pemuda itu mendengarnya. “Hey, kau tau hyung,,, hyung mulai merindukanmu? Kau pasti senang karena berhasil membuatku melihatmu. Bangunlah. Jika kau seperti ini kau lebih jahat dari hyung. Biarkan hyung membalas semua waktu yang kau berikan untukku. Jadi bangunlah.”

Siwon terus mengajak Kyuhyun berbicara. Kini hari-harinya mulai di penuhi dengan Kyuhyun. Setiap hari ia akan mengunjungi Kyuhyun hanya untuk sekedar mengajaknya berbicara atau menghirup caramell machiato. Selama seminggu lebih Siwon melakukannya tanpa mengeluh sedikitpun.

Hingga suatu hari perjuangannya tidak sia-sia. Kyuhyun sadar dari tidurnya. Siwon yang saat itu sedang berkerja segera berlari tanpa mengindahkan teriakan atasannya. Masa bodoh. Toh Kyuhyunlah alasannya.
Saat sampai di kediaman keluarga Cho, Siwon segera menuju kamar Kyuhyun yang didepannya terdapat beberapa maid.

“Kau sudah datang Siwon-ah?” Nyonya Cho yang sedang membantu Kyuhyun minum menoleh kearah Siwon yang berdiri di depan pintu dengan nafas tersenggal. “Masuklah.” Siwon bergerak maju dengan tatapan tidak lepas dari Kyuhyun.

Siwon sungguh bersyukur bisa bertemu lagi dengan Kyuhyun. Banyak yang ingin ia katakan pada pemuda itu. “Kalian biacaralah. Kyunnie umma tinggal yah.” Kyuhyun hanya mengangguk dan tersenyum lemah kepada ibunya. Sementara Siwon memberanikan diri duduk di ranjang menghadap Kyuhyun.

***♡***

Detik demi detik berlalu dengan keheningan. Keduanya hanya saling menatap tanpa ada sepatah kata. Kyuhyun sibuk memandang wajah Siwon yang begitu ia rindukan sementara Siwon baru menyadari bahwa Kyuhyun punya wajah yang sangat menyenangkan untuk dipandang. Lama keduanya terperangkap dalam dunianya sendiri, sibuk menganggumi satu sama lain hingga akhirnya keheningan itu di pecahkan suara lemah Kyuhyun.

“Umma sudah cerita.” Kyuhyun berucap pelan. Ibunya memang sudah menceritakan perihal Siwon yang memenemaninya beberapa hari ini. “Terima kasih hyung.”

“Ehmm itu.” Seketika otak Siwon sulit sekali diajak kerja sama. Lidahnya terasa kelu dan ia tidak tau apa yang harus ia katakan.
“Aku tau.” Kyuhyun mengambil tangan kanan Siwon dan menggenggamnya dengan kedua tangan. “Aku sangat senang kau disini meski atas rasa kasihan.” Alis Siwon mengkerut mendengar ucapan Kyuhyun.

“Sebenarnya aku tidak suka di kasihani. Tapi untuk kali ini saja tolong kasihani aku. Berpura-puralah kau menyukaiku, bahwa kau akan membahagiakanku. Jadikanlah rasa kasihanmu membuatmu ingin bersamaku. Menemaniku setidaknya untuk beberapa hari. Tenanglah tidak akan lama karena hidupku juga hanya sebentar. Jadi aku….”

“Cukup!” Siwon memotong perkataan panjang Kyuhyun. Sungguh ia tidak tahan dengan semua yang di ucapkan pemuda itu. “Aku disini bukan karena kasihan kepadamu.” Ya. Itu benar Siwon menemani Kyuhyun bukan karena kasihan tapi karna ia sangat ingin berada di samping pemuda itu.

“Aku kesini karena aku belum sempat meminta maaf kepadamu atas sikapku selama ini.” Pada akhirnya hanya kata-kata itulah yang bisa ia keluarkan.
“Kalau begitu sekarang kau boleh pergi. Kau tidak harus minta maaf hyung. Aku memaafkanmu jauh sebelum kau sadar atas sikapmu. Sejak awal aku akan memaafkan apapun yang kau lakukan kepadaku. Pergilah.”

Ada sesuatu yang aneh berdesir dalam dada Siwon saat Kyuhyun mengatakannya lalu memunggunginya. Ia tidak suka Kyuhyun kini tak ingin melihatnya. Ia tidak suka bahwa pemuda itu mengabaikannya.
“Baiklah. Kau memintaku untuk berpura-pura menyukaimu kan? Menemanimu. Bagaimana?”
“Gomawo hyung.” Ucap Kyuhyun lirih.

Sejak saat itu Siwon selalu menemani Kyuhyun. Entah hanya berdiri di sampingnya atau mendengarkan Kyuhyun bercerita. Siwon baru menyadari bahwa Kyuhyun teman bicara yang menyenangkan. Pikirannya selama ini yang menggambarkan Kyuhyun sebagai pemuda yang suka bertindak sesuka hatinya tidak sepenuhnya benar.

“Udara sudah mulai dingin. Sebaiknya kita masuk.” Ucap Siwon pada suatu malam saat mereka duduk di balkon memandang bintang. Dengan telaten Siwon membenarkan syal yang melilit di leher Kyuhyun. Namun pergerakan tangannya terhenti saat Kyuhyun memegang tangannya.

“Ada apa?”
“Bisa kau peluk aku hyung? Sebentar saja.” Siwon tersenyum dan tanpa banyak pikir ia memeluk tubuh ringkih Kyuhyun. Kondisinya membuat tubuhnya terlihat rentan. Dengan lembut Siwon mengusap punggung Kyuhyun mengirimkan kehangatan yang membuat Kyuhyun semakin rapuh.

“Ada apa Kyuhyun-ah?” Tanya Siwon saat merasakan punghung pemuda itu bergetar.
“Aku takut hyung.” Jawab Kyuhyun pelan. Isakan kecil mulai mengalun membuat sesuatu dalam diri Siwon bagai tersayat. “Sebelumnya aku sudah tidak takut lagi jika harus pergi semuanya. Tapi kini aku takut, aku… aku masih ingin bersamamu. Sebanyak mungkin mengingatmu. Aku…..”

“Sssttt…” Siwon menghentikan ucapan Kyuhyun. Ia menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya lalu menghapus air mata dari pipi putih itu. “Kau tidak perlu takut. Aku selalu bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Tanpa sadar Siwon mengecup bibir Kyuhyun singkat membuat alis Kyuhyun berkerut bingung. Siwon hanya tersenyum
menanggapinya.

“Ini tidak boleh hyung.” Kyuhyun melepaskan kedua tangan Siwon di wajahnya. Kemudian sedikit mendorong pelan tubuh Siwon.
“Apa yang tidak boleh.”
“Kau. Kau tidak boleh melakukakn itu.”
“Dengar Kyuhyun-ah.”
“Kau yang dengarkan aku hyung!” Kyuhyun sedikit berteriak. Bagaimanapun Siwon tidak boleh memiliki rasa lebih kepadanya. Walaupun itu adalah hal yang sangat ia inginkan. “Sejak awal hyung hanya perlu berpura-pura jangan menambah rasa lain karena itu akan menyakitimu.”

“Aku tidak pura-pura atau apapun yang kau katakan itu Kyu. Aku… Entahlah. Yang pasti aku menyayangimu.” Siwon menarik kedua tangan Kyuhyun dan menggenggamnya. Ya. Entah sejak kapan rasa itu hadir. Yang pasti Siwon hanya ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama Kyuhyun.

“Tapi hyung kau akan sakit. Saat aku pergi.” Sebulir air mata kembali mengalir. Mendengar Siwon menyayanginya sungguh membuat Kyuhyun bahagia namun sekaligus menjadikannya egois. Ia ingin hidup lebih lama dari apa yang di takdirkan tuhan padaya.

“Untuk itulah kau harus bertanggung jawab.” Kyuhyun menatap Siwon bingung. “Kau yang menyeretku masuk kedalam kehidupanmu. Jadi kau harus memastikan bahwa kenangan indah bersamamu akan lebih menyenangkan untuk di kenang daripada saat kau pergi. Aku berjanji tidak akan menyimpan kesakitan lama-lama. Aku akan mengenangmu sebagai bagian indah dalam kehidupanku. Jadi mari kita buat kenangan sebanyak dan seindah mungkin.”

“Mianhae hyung.”
“Tidak ada yang perlu di maafkan sayang. Justru aku akan sangat marah pada diriku jika sampai tak sempat mengatakan bahwa kau berhasil mengambil hatiku dengan segala kegigihanmu. Saranghae.”

Kyuhyun kembali menangis namun kini ada senyum dalam tangisannya. Ia sadar Tuhan begitu baik padanya karena mengabulkan doa-doanya. Memberikannya kesempatan untuk bahagia bersama orang yang paling di cintai dalam hidupnya. Walau di saat-saat akhir kehidupannya.

“Nado saranghae hyung.” Kyuhyun melingkarkan kedua tangannya dan memeluk Siwon erat. Ia bahagia dan mulai saat ini ia akan lebih bahagia. Ya. Kyuhyun akan membuat kenangan indah sebanyak yang ia bisa untuk Siwon.

“Sekarang kita masuk. Bibirmu sudah pucat, udara juga semakin dingin.” Ucap Siwon saat ia melepaskan pelukan Kyuhyun. Ia sudah bersiap untuk menggendong Kyuhyun namun pemuda itu menahannya. “Ada apa? Kita bicara di dalam saja.”
“Bisa berikan aku itu lagi?”
“Apa?” Siwon menatap bingung wajah Kyuhyun yang memerah. Kemudian ia tersenyum saat Kyuhyun menunjuk bibirnya dengan telunjuknya.

“Jangan tertawa. Itu pertama kali kau menciumku. Waktu itu aku menciummu walau kau membalasnya. Dan itu yang pertama.”
“Benarkah? Aku patut berbangga karena hanya aku satu-satunya. Kajja kita masuk.”
“Tapi hyung…”

Siwon mengabaikan protes Kyuhyun dan membawa pemuda itu masuk kedalam kamar lalu membaringkannya ke ranjang dan menyelimutinya. “Kau marah?” Tanya Siwon saat melihat wajah cemberut Kyuhyun dan itu sangat menggemaskan. “Aku akan memberikannya setelah kau minum obat.” Siwon mengambil sebuah kotak berisi obat-obatan yang biasa Kyuhyun minum.

“Aku tidak mau! Aku sudah bosan dengan obat-obatan itu.”
“Benarkah. Tapi aku akan tetap membuatmu meminumnya.” Ucap Siwon yang mulai membuka satu persatu obat yang tidak sedikit itu.
“Kau menyebalkan hyung! Aku mar…. meph..” Ucapan Kyuhyun terhenti saat tiba-tiba Siwon menciumnya dan mengirimkan air yang terpaksa Kyuhyun telan. “Apa yang kau lakukan? Masa mencium orang tidak ada manis-manisnya sama sekali.” Gerutu Kyuhyun dengan bibir mengerucut.

“Tapi aku berhasil membuat mu minum obat.” Siwon terkekeh dengan ucapannya sendiri. Sebelum mencium Kyuhyun ia mengambil beberap butir obat Kyuhyun dan meminumnya dengan air namun tidak menelannya.
“Mwo?! Dasar. Bilang saja kau cari kesempatan.” Kyuhyun mencubit lengan Siwon pelean.
“Hey bukannya kau yang meminta untuk di cium.”
“Ya tapi ciuman yang manis hyung. Yang…”
“Ara..ara… Aku akan melakukannya.”

Saat keduanya berdebat sepasang suami istri yang berdiri di pintu kamar Kyuhyun yang terbuka memandang haru mereka. Tuan dan Nyonya Cho begitu bahagia karena putra satu-satunya akhirnya bisa bahagia. Nyonya Cho bahkan tak sanggup menahan air matanya membuat tuan Cho harus segara membawa istrinya agar tidak mengganggu Siwon dan Kyuhyun.

***♡***

“Aku bisa sendiri hyung.” Ucap Kyuhyun saat Siwon hendak menggendongnya. Hari ini Kyuhyun meminta Siwon untuk membawanya ke cafe. Ia merindukan suasana di sana.
“Tetap saja aku akan melakukannya.” Ucap Siwon yang sudah menyelipkan tangan kirinya di lipatan tumit Kyuhyun sementara tangan kanannya melingkar di punggung Kyuhyun.
“Tapi aku malu hyung.”
“Kau malu bersamaku?”
“Annie!”
“Kalau begitu tenanglah.” Ucap Siwon yang sudah menutup pintu mobil dan pamit kepada adjussi Lee -supir Kyuhyun- yang hanya tersenyum melihat pertengkarab kecil mereka.

Kyuhyun hanya mampu menyembunyikan wajahnya saat beberapa pelayan mentapnya dan Siwon dengan senyum menggoda. Siwon sendiri sudah mengatakan pada teman-temannya bagaimana kondisi Kyuhyun dan keinginannya membahagiakan Kyuhyun yang ternyata di sambut baik oleh teman-temannya.

“Annyeong Kyuhyun-ah. Sudah lama kita tidak bertemu.” Donghae yang pertama menyapa Kyuhyun dengan ramah. Pria ini memang sudah baik sejak awal kepada Kyuhyun.
“Annyeong hyung.” Balas Kyuhyun setelah Siwon mendudukannya di tempat biasa ia duduk.
“Senang melihatmu lagi. Siwon-ah jangan galak-galak lagi padanya.”
“Aku tidak galak hyung.” Bantah Siwon yang hanya ditanggapi kekehan dari Donghae yang sudah kembali bekerja.

“Kau mau minum apa?”
“Seperti biasa.”
“Annie tidak boleh. Kau minum jus jeruk saja. Ah aku ingat.” Siwon mengambil kursi dan duduk di samping Kyuhyun memandangnya dengan wajah cemberut membuat Kyuhyun ingi tertawa. “Katakan siapa pria yang waktu itu menemanimu saat itu. Dia bilang kau tidak suka kopi tapi selalu memesan caramell machiato.”

“Karena kau menyukainya hyung. Aku ingin tau semua yang kau sukai. Dan ia hanya temanku. Kenapa ? Kau cemburu?”
“Annie. Aku kebelakang dulu.” Kyuhyun tersenyum melihat tingkah Siwon. Sungguh ia bahagia saat ini. Terlalu bahagia hingga ia mengabaikan rasa sakit di dadanya saat ini. Bersabarlah ku mohon sebentar saja, bertahanlah.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali ? Kita kerumah sakit.”
“Annie aku baik-baik saja hyung.” Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Siwon menghirup aroma yang menenangkanya. Sementara Siwon hanya mengusap punggung Kyuhyun dengan sesekali mencium puncak kepalanya. Jalanan begitu sepi membuat keheningan benar-benar terjadi diantara keduanya. Kaca mobil sedikit berembun karena udara malam yang dingin.

“Bisa kau cium aku hyung?”
“Mwo?! Tapi kita masih di mobil sayang. Tidak enak dengan adjussi Lee.” Kyuhyun bergerak menekan sesutau di tengah-tengah kursi depan dan tiba-tiba saja sesuatu seperti tirai menghalangi pandangannya ke arah jalan di depan. Siwon tertawa melihatnya kemudian memandang wajah Kyuhyun yang menatapnya penuh harap.

“Aigo jangan menatapku seperti itu. Kau sedang membangunkan singa lapar?”
“Kau bukan singa hyung jadi aku tidak takut.” Siwon terkekeh dan segera menangkup wajah Kyuhyun dan menciumnya dalam. Memberikan lumatan lembut yang membuat keduanya melayang dan entah bagaimana kini keduanya sudah terbaring di kursi mobil dengan Kyuhyun di bawah Siwon.

Sebulir air mata kembali mengalir di wajah Kyuhyun. Sekuat tenaga ia menekan rasa sakit yang ia rasa dengan ciuman Siwon. Seraya berdoa agar tuhan mengasihaninya dengan memberikan waktu lebih kepadanya. Sejak beberapa hari lalu Kyuhyun sudah merasakan tubuhnya semakin lemah dan ia semakin takut untuk berpisah dengan Siwon. Untuk itulah ia ingin menghabiskan waktu bersama Siwon sebanyak mungkin. Namun sepertinya tuhan lebih menyanyanginya karena kini pandangan Kyuhyun mulai mengabur dan segera saja kegelapan menyelubunginya. Hal terakhir yang ia dengar hanya teriakan Siwon.

Siwon menggenggam tangan Kyuhyun erat. Ia sungguh takut jika Kyuhyun benar-benar meninggalkannya saat ini.
“Sebaiknya anda tunggu di luar.” Seorang suster menahan Siwon saat ia mendesak masuk keruanga UGD memaksa Siwon melepaskan genggamannya. “Bertahanlah sayang.” Bisik Siwon sebelum pintu tertutup.

Siwon menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah sakit yang dingin. Menusuk tulang-tulangnya yang sudah lemas. Tubuhnya merosot dan ia terduduk di lantai rumah sakit dengan kedua tangan mengusap wajahnya kasar. “Bertahanlan sayang.” Bisik Siwon lirih. Ia masih ingin menemani Kyuhyun setidaknya biarkan ia memandang Kyuhyun sekali lagi.

“Bertahanlah sayang.” Siwon terus berguman seraya berdoa memohon tuhan memberikannya sedikit waktu lagi kepadanya. Siwon memeluk tubuhnya erat mengumankan nama Kyuhyun berkali-kali sebagi penguat dirinya. Ia sudah berjanji akan tegar namun rasanya menyakitkan ketika mengetahui bahwa bisa saja saat ini Kyuhyun akan meninggalkannya. Memikirkannya membuat hati Siwon seperti di pukul dengan besi panas. Rasanya sangat sakit dan menyesakan melihat tubuh Kyuhyun terkulai lemas. Kalu bisa ia ingin menggantikannya. Menghilangkan kesakitan itu dari tubuh Kyuhyun. Sungguh Siwon ingin melakukannya. Namun ia hanya manusia biasa.

“Siwon-ah.” Siwon mengangkat kepalanya dan memandang orang tua Kyuhyun. Nyonya Cho menghampirinya dan memeluknya erat membuat Siwon tidak dapat lagi menahan tangisnya.
“Tidak apa-apa sayang. Kau sudah membuat Kyuhyun bahagia. Jika bersama tuhan dapat menghilangkan kesakitan yang selama ini Kyuhyun rasakan maka kita harus menerimanya.” Ucap Nyonya Cho tenang. Sebagai seorang ibu tentu saja ia sangat takut kehilangan Kyuhyun. Namun ia sudah memasrahkan segalanya pada tuhan yang lebih menyayangi putranya.

“Bagaimana keadaan putra saya dok?” Tanya tuan Choi saat seorang dokter keluar dari ruangan UGD. Siwon dan Nyonya Cho segera berdiri dan menghampiri tuan Cho.
“Bagaimana Kyuhyun?” Siwon membuka suaranya yang bergetar.
“Keadaanya sudah benar-benar lemah. Kita harus bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi.”

Nyonya Cho memeluk Siwon yang seolah membeku. Mungusap punggung Siwon mencoba menenangkanya walau ia sendiri begitu hancur. Air mata meleleh dipipinya. Begitu juga dengan tuan Cho yang sudah tidak bisa menahan perasaanya. Putra yang begitu ia sayangi harus merasakan kesakitan seprti ini. Orang tua mana yang tega. Tuan Cho sudah berusaha sebaik mungkin mengusahakan kesembuhan putranya namun kehendak tuhan tidak pernah ada yang tau. Ia lebih menyayangi putranya.

Malam ini hujan turun dengan derasnya seolah langit ikut menangis. Orang-orang bergerak dengan cepat mencari perlindungan. Sementara Siwon hanya mematung di depan pintu kamar Kyuhyun tanpa berniat masuk. Ia sedang menyiapkan dirinya. Memastikan bahwa ia harus lebih kuat dari Kyuhyun.

***♡***

“Kau sudah bangun sayang?” Ucap Siwon pelan. Perasaannya membuncah saat Kyuhyun membuka matanya pelan. Terima kasih Tuhan. Perlahan Siwon mendekatkan tubuhnya pada wajah Kyuhyun yang ingin mengatakan sesuatu. “Mianhae.” Ucap Kyuhyun lirih. Masker oksigen yang digunakannya mengnyulitkannya namun Siwon masih bisa mendengarnya.

“Annie. Istirahtalah.” Ucap Siwon menggenggam tangan Kyuhyun dan menciumnya. “Sayang apa yang kau lakukan?” Siwon berdiri saat Kyuhyun melepaskan masker oksigennya.
“Aku mau piknik hyung.” Ucap Kyuhyun pelan. Ia mencabut selang impusnya dan berusaha bangun.
“Kita akan melakukannya nanti sekarang istirahatlah.” Siwon memeluk tubuh Kyuhyun yang hampir jatuh.

“Annie. Aku mau sekarang.” Siwon menghela nafas dan ia tidak bisa menahan sebulir air mata yang jatub di pipinya. Siwon tahu apa yang sedang terjadi saat ini. “Baiklah kita piknik.”

Dengan perlahan Siwon memakaikan Kyuhyun sweeter. Ia membiarkan air matanya meluncur karena saat ini Kyuhyun pun sedang menangis dalam diam. Ia menggendong tubuh Kyuhyun dan membawanya ke taman belakang rumah sakit. Keduanya duduk bersandar di bawah pohon besar yang teduh. Dengan Kyuhyun dalam pelukan Siwon.

Cuaca begitu cerah karena matahari bersinar dengan terang menghapus jejak-jejak hujan yang mengguyur bumi tadi malam. Semilir angin yang menerpa keduanya membuat Siwon semakin mengeratkan tubuh ringkih Kyuhyun.

“Hyung.”
“Hem?”
“Jika kita menikah, kau ingin punya berapa anak? Kau tidak tahukan kalau selain penyakit ini, aku juga punya rahim. Andai kita menikah maka aku akan bisa melahirkan anak-anakmu.” Siwon mengadahkan kepalanya menghalau air matanya jatuh namun tidak berhasil sama sekali.
“Kau sendiri?”
“Aku ingin punya banyak anak. Agar kau tidak kesepian saat ku tinggalkan.”

“Benarkah? Kalau begitu aku akan berusaha membuatmu hamil berkali-kali.”
“Babo!” Kyuhyun mencubit pelan perut Siwon. Membuat Siwon berkerut bingung.
“Waeyo? Kau takut?”
“Annie. Hanya saja mana bisa aku melakukan aktifitas seperti itu dengan jantung lemah. Memandangmu saja sudah membuatnya berdetak kencang.” Kyuhyun tersenyum mengingat saat-saat ia hanya bisa mencuri pandang Siwon. Saat ini kenangan itu begitu jelas dan ia berharap dapat terus mengingatnya.

“Kalau begitu maafkan aku. Karena membuatmu jatuh cinta kepadaku dan memaksa jantungmu berdetak lebih cepat.” Siwon menyadari suaranya yang bergetar. “Aku mencintaimu Kyuhyun-ah.” Ucap Siwon dalam tangisnya. Ia memeluk Kyuhyun erat seolah takut Kyuhyun lenyap dalam pandangan matanya.

“Aku juga mencintaimu hyung. Terima kasih atas semuanya. Aku sangat bahagia. Terima kasih mau menerimaku yang lemah ini. Dan aku berdoa jika tuhan menghidupkanku lagi di lain waktu, maka aku akan meminta untuk kembali jatuh cinta kepadamu.”

“Ne. Terima kasih juga karena telah mencintaiku. Aku juga akan berdoa hal yang sama. Di kehidupan nanti aku ingin secepatnya jatuh cinta kepadamu. Dan menghabiskan waktu lebih lama lagi.” Siwon mengatakannya dengan penuh harap. Sesak di dadanya membuatnya kini benar-benar menangis pilu.

“Sayang?” Panggil Siwon pelan namun Kyuhyun tidak menjawab. Perlahan Siwon mengecup puncak kepala Kyuhyun. “Kalau kau ingin memberikan ku anak bukankah kau harus menikah denganku? Aku membayangkan bahwa kau akan sangat menakjubkan dalam busana pengantin. Aku juga membayangkan bahwa kau akan sangat cantik saat hamil. Dan aku berharap jika anak kita perempuan ia akan secantik dirimu. Kau belum pernah mendengar aku mengatakannya kan bahwa kau sangat cantik meski kau seorang pria. Kau…” Siwon menghentikan ucapannya saat tidak ada pergerakan dalam tubuh Kyuhyun. Siwon sadar Kyuhyunnya telah pergi.

“Cho Kyuhyun will you marry me? Aku tidak menerima jawaban tidak. Aku hanya akan mendengar bahwa kau akan mengatakan ‘aku bersedia’ di altar nanti.” Siwon memeluk tubuh Kyuhyun dan menangis sejadinya. Tangisan tanpa suara yang memilukan hati bagi siapa saja yang melihatnya.
“Selamat jalan sayang. Bahagilah disana. Jangan menderita lagi. Aku mencintaimu.”

Siwon mengusap wajah Kyuhyun yang pucat namun dengan bibir tersenyum. Mata itu kini benar-benar telah terpejam dan tak akan pernah memandang Siwon lagi. Dengan perlahan Siwon mengecup kening Kyuhyun, kedua mata, hidung, pipi yang akan bersemu merah saat ia menyentuhnya dan terkahir bibir pucat yang kering yang pernah begitu memabukannya. Sebelum kembali memeluk Kyuhyun erat.

Tak jauh dari tempat Kyuhyun dan Siwon, tuan Cho sedang memeluk istrinya yang menangis pilu. Ia sendiri menangis dalam diamnya berdoa semoga Kyuhyun bahagia. Ia yakin Kyuhyun pergi dalam keadaan bahagia.

***♡***

“Hai sayang. Maaf aku terlambat.” Siwon meletakan seikat bunga kedekat pusara bertuliskan Cho Kyuhyun. “Kau tahu ayahmu membuatku sibuk seharian ini. Padahal ia tahu hari ini jadwalku mengunjungimu.” Siwon memulai ceritanya.

“Kau tahu 5 tahun belakangan ayahmu benar-benar mendidiku agar aku bisa menggantikannya di Cho group. Kalau aku tahu akan seperti ini jadinya maka akan ku tolak sejak awal. Astaga dia benar-benar bos yang baik sampai-sampai aku tidak tega jika tidak bekerja dengan baik. Aku yakin jika kita menikah maka kau hanya akan uncang-uncang kaki karena mendapat pengganti tugasmu di perusahaan.” Siwon tertawa sendiri.

Sejak kepergian Kyuhyun jelas hidupnya berubah. Setelah setahun menghilang dan hidup berdua dengan ibunya. Tuan Cho berhasil menemukannya dan memintanya menjadi anaknya. Siwon sempat menolak namun bujukan ibunya yang mengatakan bahwa mungkin ini jalan tuhan yang akan merubah kehidupannya membuat Siwon menerimanya. Akhirnya kini ia sudah berhasil menduduki posisi sebagai salah satu manager di Cho Group. Ibunya juga sudah berhasil sembuh dari penyakitnya dan kini sibuk mengurus bisnin ala ibu-ibu dengan nyonya Cho.

Ya semuanya sudah mulai kembali menata kehidupannya begitu juga dengan Siwon. Ia hanya belum mampu menata hatinya. Ia masih suka menagis dalam mengingat semua kenangannya bersama Kyuhyun walau sebentar. Ia berharap waktulah yang akan menyembuhkan hatinya. Walau ia tidak tahu kapan namun ia yakin bahwa Kyuhyun akan meminta pada tuhan agar membuatnya bahagia.

“Kau mengadu Siwon-ah?” Siwon menoleh dan tersenyum saat melihat tuan Cho dan nyonya Cho beserta ibunya menghampirinya.
“Annie.”
“Jangan percaya Kyuhyun-ah. Dia memang pantas bukan melakukannya. Appa bersyukur dan berterima kasih padamu karena kau membawanya kepada kami.”
“Kyuhyun-ah.” Nyonya Cho mengusap pusara Kyuhyun lembut. “Umma merindukanmu. Kau bahagiakan?”

Semua mata memandang pusara Kyuhyun dengan penuh doa berharap ia bahagia dan tidak merasakan sakit lagi karena sebaik-baiknya perlindungan adalah perlindungan tuhan. Angin bertiup pelan menerbangkan setiap kenangan-kenangan manis. Membawanya mengitari bumi hingga kembali kepada sang pemilik kenangan. Siwon memejamkan matanya mengingat nama Kyuhyun dalam setiap darahnya. Dan ia tersenyum saat bayanyan Kyuhyun yang tersenyum bahagia menyelinap dalam pikiranya.

“Aku merindukanmu.”
.
.
Annyeong~~~ Siwon hyung…

Aku merindukanmu. Jika kau membaca suarat ini maka sudah sekitar seminggu aku tidak menemuimu dan menganggumu. Kau senang? Tentu saja. Bisa terbebas dari gangguanku. Tidak tahukan disana banyak pria yang berusaha mendekatiku tapi kau justru memusuhiku. Itu berarti aku sangat menyebalkan bukan karena aku tahu kau orang yang ramah. Namun jika itu bisa membuatmu mengingatku tidak apa jika kau berkata ketus kepadaku.

Kau tahu wajahmu sangat jelek saat menatapku. Terkadang membuat aku merasa bersalah muncul di hadapanmu. Oh iya aku ingin bertanya mengapa kau sangat menyukai caramell machiato? Padahal rasanya tidak enak menurutku. Tapi tidak apa. Aku tetap meminumnya agar aku tetap mengingatmu. Dan mengenai kejadian malam itu aku minta maaf. Tapi terima kasih sudah membalas ciumanku walau karena terbawa suasana. Setidaknya aku kembali mendapat suatu kenangan indah.

Siwon hyung. Choi Siwon. Aku mencintaimu. Walau entah sejak kapan. Aku tidak tau jika kau bertanya. Mulai saat ini kau bebas. Aku tidak akan menganggumu. Berbahagialah. Dan jangan tampilkan wajah ketusmu lagi pada orang lain. Itu khusus untukku. Aku berharap jika takdir mempertemukan kita lagi kau akan tersenyum kepadaku. Karena aku sangat menyukai senyumanmu yang membuatku tenang.

Terima kasih telah memberikanku kesempatan untuk mencintaimu, mengenalmu. Berjalan di sampingmu. Menciummu. Dan mengijinkan aku menjadi sebuah kenangan dalan perjalanan hidupmu. Tolong simpan aku dalam ingatanmu. Walau hanya kekesalan yang akan terasa saat kau mengingatku. Terima kasih. Terima kasih.

Yang mencintaimu Cho Kyuhyun.
.
.
.

END.
.
.
.
.
Note:
Hiyaaa selesai juga… agak aneh tapi yah begitulah…. ini sedikit obat buat yang rindu col sama afy… *kalau ada yg kangen*
Makasih buat yang mau baca…
Gak mau banyak cincong karena udah panjang juga…

Last but not least.
See you next time and keep spreading WonKyu love ♡ !
Annyeong~~~

Advertisements

Author:

Me and My Dirty Little Secret Are Heaven ^^

63 thoughts on “Snow In Summer

  1. Nih ff berhasilbikin aq nangis
    Sedih bgt ffnya
    Disaat cinta kyu udh diterima siwon, kyu malah harus meninggalkan orang2 yg disayanginya
    Kasian siwon disaat di udh bisa mencintai kyu, tp kyu pergi ninggalin dia untuk selamanya
    Tp setidaknya perjuangan kyu gak sia2, kyu bisa ngebuat siwon mencintainya, kyu juga bisa merasakan kebahagiaannya walaupun cuma sebentar

  2. Wahhh ceritanya ngena bangetttt dehhh,,
    Sedih banget sampai* meneteskan airmata,,
    Wonkyu you’re the best couple,,
    I luph u wonkyu ❤❤❤❤❤❤❤❤❤

  3. Huweeeee…np Kyu di bikin mati sih eon..Siwon kasihan menduda..hiks hiks..teganyaaa..
    Ceritanya bagus bangeet..aku g berani ngebayangin mencintai segitu besarnya lalu pergi meninggalkannya utk selamanya..yg dicintainya pun mencintainya yg sama besarnya hingga ikhlas melepasnya pergi..
    Sii eonnie..ffmu bener2 kereen..fighting..

  4. tengah malam baca ini nyeseeeeeekkkkk.. benar2 nangis pas baca part kyu yg meninggal. apalagi dengan kata2 siwon tu. huaaaa tambah mewek lah.
    tapi untung ja siwon ga terlambat2 amat untuk sadar ma perasaannya sehingga bisa bersama n bahagiain kyu. daebak tuk ff nya. thank u

  5. Ceritanya menyayat hati….
    Sangat menyentuh dan meninggalkan pesan yg berarti bgi pembacax khususx sya pribadi…..😢😢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s