Posted in Angst, BL, Drama, Family, Genre, Hurt, Romance, Series, WonKyu Story

Someday part 3

10171824_1441574696082091_2404563096989853755_n

.

Tampak kedua anak laki-laki menyusuri lorong sebuah penginapan bergaya khas Jepang, dengan pintu gesek dan terbuat dari kertas khusus, membuat sebagian cahaya tampak samar-samar berwarna kuning-jingga. Keduanya terlihat cukup kesulitan memapah seseorang yang memiliki tubuh lebih besar dibanding Kyuhyun dan Kim Soohyun, sahabatnya. Ketika sudah sampai pada sebuah pintu kamar, dengan cukup kesulitan kedua pemuda yang bersahabat itu membaringkan tubuh yang sudah terkulai lemas akibat mabuk.

“Huft~! Dia sangat berat!” keluh Kim Soohyun, sembari menyeka bulir keringat yang hampir memenuhi wajah lucunya dengan bibir mengerucut dan pipi yang mengembung.

“Soohyun-ah, gomapta. Aku akan membayar biaya sewanya nanti.”

“Aish! Kau tidak perlu memikirkan itu. Yang penting istirahatlah, dan nanti aku akan meminta seorang pelayan dari dapur untuk mengantar makanan dan air hangat kemari. Jangan sungkan padaku, Kyuhyun-ah. Kita satu Negara, aniya?”

Kyuhyun membungkukkan tubuhnya beberapa kali. Dia merasa sangat tertolong kali ini, sebab mustahil ia pulang dengan menggeret tubuh Siwon yang berukuran sedikit lebih besar dari tubuhnya kerumah. Apa lagi ini hampir tengah malam, dan Kyuhyun sedikit ngeri jika nanti mereka terjadi sesuatu di jalan. Dicegat preman misalnya, Kyuhyun tidak ingin ambil resiko. Pemuda itu menghela napas beberapa kali karena lelah, kemudian menoleh kearah Siwon yang sempat melenguh.

Perlahan Kyuhyun melepas jaket Siwon melihat sahabatnya itu berkeringat banyak, namun baru saja dia akan melepas kaos yang dikenakan Siwon, tubuhnya justru terjerembab jatuh dengan intensitas jarak yang hanya beberapa senti dari wajah Siwon, dan jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Melihat wajah tampan pria itu dengan sedekat ini membuat pipi bulatnya bersemu.

Siwon semakin erat memeluk pinggang Kyuhyun dan matanya mulai terbuka sedikit, menatap sayu wajah manis di depannya lantas tersenyum sembari bergumam, “Kyuhyun-ah…”

Kyuhyun yang mengira Siwon sudah cukup sadar, balas tersenyum. “Nde?”

Namun didetik berikutnya, ketika bulan tampak malu-malu pada dua sosok yang bergumul dibawah selimut yang sama. Ketika hanya ada debur ombak dan desah halus yang begitu lepas menemani satu malam yang terasa begitu cepat. Satu malam yang membuat sebuah rasa dimasa lalu kembali hadir, lalu mengikis rasa lainnya dengan cepat.

Rasa itu tidaklah egois, karena dia hanya kembali pada tahtanya. Pada hati dimana singgasana itu seutuhnya milik Si Cinta yang semula pergi entah kemana. Ketika sepasang senyum itu terus menemani hingga malam hari itu habis, mendatangkan fajar dan membuat rasa yang baru saja berpulang kembali menjadi yang terbuang.
.
Siwon merasa menjadi makhluk paling hina dan tidak termaafkan ketika dia mengabaikan sebuah tatapan mengiba dari Kyuhyun yang tidak hentinya dipukuli Tuan Kim, Ayah Kibum. Dia sendiripun tidak tahu harus berbuat apa ketika pagi itu terbangun dengan keadaan tak lazim pada sekitar serta kepala yang berdenyut nyeri. Namun ketika dia menyadari semuanya, itu hanya berakhir pada sebuah penyesalan yang tidak berkesudahan.

Siwon mengutuk diri sendiri yang tidak bisa berbuat apapun untuk menolong Kyuhyun yang terus menangis saat itu. Dia yang brengsek. Dia yang tidak seharusnya dimaafkan. Namun apa daya, dia terlalu pengecut untuk mengulurkan tangan ataupun sekedar melempar senyum kasihan pada sosok rapuh dimatanya. Kalimat maafpun hanya bisa terucap dalam hatinya selama lima tahun ini.

Yang menyedihkan dalam kisah ini bukanlah Kyuhyun, melainkan dirinya sendiri. Hidup dalam penyesalan. Terkungkung pada kerangkeng emas yang perlahan membunuh hatinya.

.

Aku sudah lelah menjadi pihak yang terus menggenggam tanganmu dengan sangat erat hingga rasanya tanganku sendiri kaku. Aku ingin melepaskannya sekarang…
Itu yang kupikirkan selama ini. Tapi sekarang aku sadar, bukan tanganmu yang ingin kulepaskan… namun aku yang selalu berharap agar kau jangan pernah melepas genggamanmu pada tanganku… Egoiskah…?”

.

Seoul—

Pria itu berlari dengan tergesa ketika baru saja mendapat kabar mengejutkan tentang Kibum. Dia yang sedang dalam perjalanan menuju Incheon Airport harus kembali memutar arah dan sampai di Rumah Sakit secepat mungkin.

Saat dia tiba didepan sebuah pintu, Siwon langsung menghampiri Ayah Kibum yang hanya sendiri di sana, berdiri di depan ruang operasi anaknya.

Ahjussi, bagaimana ini bisa terjadi?” Siwon bertanya cepat hanya dalam setarik napas.

Tuan Kim terlihat begitu kusut dan dia menjatuhkan tubuhnya di depan Siwon yang terperanjat melihatnya. “Kibum… berpikir kalau kau akan meninggalkannya demi laki-laki itu…”, airmata mulai membasahi pipi yang hampir keriput Ayah Kibum. “Kibum menabrakkan diri pada pembatas jalan, Siwon-ah…”

Siwon tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tidak habis pikir kalau lelaki itu bisa berbuat nekat yang bisa saja membunuh dirinya sendiri, atau mungkin memang berniat bunuh diri. Siwon tidak ingin menyimpulkan apapun. Kepalanya sakit sejak kemarin karena jadwal pekerjaan yang penuh dan penat. Sekarang ditambah dengan sikap Kibum yang terkesan posesif, membuat pelipis Siwon sering kali berkedut.

Ahjussi mohon, Siwon-ah… Setelah ini, cintailah Kibum… putra Ahjussi hanya dia… hanya ini satu permintaan seumur hidup Ahjussi padamu… Jangan pernah tinggalkan Kibum apapun yang terjadi… dia mencintaimu, Siwon-ah…”

Siwon tampak linglung melihat Ayah Kibum bersujud didepannya. Saat itu dia hanya bisa mengangguk bagai boneka, tanpa menyadari sebuah seringaian puas atas jawaban yang dia berikan.
.
Siwon memasuki ruang inap Kibum, setelah dua hari yang lalu dia dipindah ruang oleh pihak rumah sakit setelah masa kritisnya lewat. Siwon tersenyum melihat Kibum juga membalas senyum dengan bibir yang masih pucat.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah sedikit membaik?”

Kibum hanya mengangguk karena dia masih sulit untuk mengeluarkan suaranya. Sejak kecelakaan yang dia alami, membuat paru-paru Kibum melemah karena mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan diatas jembatan yang menaungi Sungai Han. Kibum tenggalam hingga air sungai hampir memenuhi ruang paru-parunya dan bisa menyebabkan kematian jika sedikit saja dia terlambat diselamatkan.

Siwon mengelus tangan kurus Kibum. Semilir angin menerbangkan gorden putih rumah sakit. Dia sudah berjanji akan setia menemani Kibum hingga lelaki itu sembuh. Mengabaikan perasaan lain yang awalnya dia jaga dengan sangat baik. Percuma juga kalau ia ingin menentang, kejadian dimasa lalu ibarat aib bagi keluarganya yang merasa malu dengan keluarga Kim. Hanya dia yang malah dituntut untuk berkorban menebus aib itu, meski sebenarnya justru dia salah satu yang menjadi korban.
.

.
Okinawa, Jepang—

Siwon mendudukkan Kibum kedalam mobilnya dengan hati-hati. Kibum masih saja terisak dan ini membuatnya sedikit ngilu di dadanya. Dia menyayangi Kibum. Meski ada kesalahan dimasa lalu, namun dia, Kibum dan Kyuhyun adalah sahabat baik sejak kecil. Mereka sering berbagi permen dan sering tidur bersama. Siwon menyayangi Kibum, tapi hanya sebatas sahabat. Meski dia sudah berusaha, tetap saja menghasilkan nihil dan terus membuatnya kembali mengakui bahwa pemilik hatinya bukanlah Kibum.

“Kibummie, tenanglah… Kau bisa memperburuk kesehatanmu…”

Hahk!

Baru saja Siwon menyelesaikan kalimatnya, Kibum mulai menegang dengan tangan yang meremat baju bagian dada. Rautnya menampakkan kesakitan, dan tubuhnya berjengat karena sulit menarik napas.

Tanpa pikir panjang, Siwon segera melajukan mobilnya secepat mungkin agar sampai di rumah sakit terdekat. Sampai-sampai dia tidak lagi melihat sosok yang berdiri di sisi jalan yang dia lewati, di bawah pohon rindang yang gemerisik sendu.
.
Kyuhyun biarkan dirinya menjadi cengeng kembali. Membiarkan airmatanya mengalir tanpa henti melihat Siwon dan Kibum pergi dari hadapannya dengan cepat. Rasa sakit yang kembali bersemayam dalam dada membuat dirinya menolak untuk manghapus tiap-tiap bulir yang mengalir.

“Kyuhyun? Aku mencarimu—“ Yunho menghentikan kalimatnya ketika melihat lelaki di depannya tengah berdiri kaku dengan pandangan kosong dan wajah yang basah. Yunho langsung menarik tangan pemuda itu dan memeluknya dengan sangat erat. Membiarkan tangis Kyuhyun membasahi baju yang dia kenakan.

Sesekali pria itu mengelusi rambut ikal Kyuhyun dan mengecupi pelipisnya sembari mengucapkan kalimat penenang beberapa kali.

“Tidak apa-apa, Kyuhyun-ah… menangislah…”

Sedetik kemudian, Kyuhyun meremat kaos yang Yunho pakai sebagai pelampiasan rasa sakit di hatinya. Ini terlalu menyakitkan jika ditanggung seorang diri. Dia mencintai Siwon. Sangat. Meski tidak pernah jujur pada siapapun, dan menyimpannya seorang diri, namun Kyuhyun akan sabar dengan perasaan yang dia titipkan pada orang lain itu.

Dulu dia berpikir kalau kalimat manis yang pernah Siwon katakan padanya disuatu malam adalah nyata adanya. Namun dirinya kembali harus ditampar agar sadar bahwa ketika itu Siwon tengah mabuk berat. Bodohnya dia yang terbuai dengan sentuhan intim memabukkan dari Siwon, namun pada kenyataannya, Siwon sedang tidak sadar saat menyentuhnya.

Kyuhyun harusnya membuang jauh-jauh perasaan yang perlahan menggerogoti hatinya yang rapuh.
.

Kibum berjalan menyusuri koridor rumah sakit masih dengan pakaian pasien dan sesekali berpapasan dengan beberapa suster yang memintanya untuk kembali kekamar, tapi Kibum menolak dengan halus dan tetap berjalan. Dia benar-benar bosan jika sepanjang hari hanya dihabiskan tidur di atas bangsalnya. Tubuhnya juga terasa pegal-pegal karena sejak dia masuk rumah sakit, keluarga dan juga Siwon tidak mengizinkannya untuk berdiri ataupun berjalan kecuali jika dia ingin ke toilet.

“Bukankah harusnya orang sakit itu berbaring di ranjangnya, Kibummie?”

Lelaki itu menghentikan langkahnya mendadak saat mendengar seseorang berbicara di belakangnya. Perlahan dia putar badannya dan melihat, siapa yang berbicara barusan. Bola matanya seketika membulat melihat seorang pria berperawakan cukup ramping dengan rambut almond yang ditata dengan rapi, berdiri bersebrangan darinya. Sebuket bunga lili dan sebuah kotak cake ditangannya, membuat Kibum ingin kembali merasakan rasa cake dan aroma bunga yang dibawanya. Dua hal yang di sukai oleh orang yang berdiri dihadapannya.

H-hyung…” Kibum terbata. Dan pria di hadapannya tersenyum.
.
Pria di depan Kibum menyeruput kopi hitamnya pelan-pelan, sedangkan Kibum hanya melihat sosok yang sudah lama sekali tidak dia lihat. Sosok yang dia kenal sebagai seorang kakak laki-laki yang hangat. Rasanya waktu berlalu sangat lama dalam perpisahan itu, hingga Kibum hampir lupa jika dia masih memiliki figure seorang kakak dalam keluarga Kim.

Kini meraka sedang duduk di kantin rumah sakit yang terletak di lantai dasar.

Hyung, sudah lama…”

Ne, memang sudah lama.” Potong pria itu cepat. “Kau juga tidak banyak berubah, Kibummie… masihkah kau menjadi boneka Ayah?”

Hyung!”

“Jangan marah. Orang yang sedang sakit harusnya tetap berbaring di ranjang empuknya. Bukan malah berjalan seorang diri seperti tadi.” Pria yang Kibum panggil ‘Hyung’ tampak begitu santai dengan nada ucapannya barusan.

Hyung, tidakkah kau ingin pulang?” Kibum menatap takut-takut wajah rupawan di depannya.

Huh? Aku tidak salah dengar? Selama ini tentu aku selalu pulang kerumah, Kibummie…”

“Maksudku… rumah yang sesungguhnya. Umma selama ini sangat mencemaskanmu, Hyung. 11 tahun kau pergi meninggalkan kami…”

“Bukan aku yang meninggalkan kalian, justru seorang pria yang kita sebut ‘Ayah’lah yang membuatku serasa di neraka jika tetap berada di sana. Aku manusia yang bebas, Kibummie. Aku memutuskan pergi bukan hanya karena cinta, tapi karena aku tidak ingin terus menjadi boneka yang dimainkan oleh Ayah.”

Kibum menundukkan wajahnya. Dia selalu dibuat tidak berkutik oleh Hyung-nya. Meski pria itu orang yang selama ini dia kagumi, namun akan menjadi berbeda jika sudah berselilih paham. Puncaknya adalah ketika sang kakak dipaksa untuk menikahi salah satu putra dari keluarga Choi.

Kakaknya langsung menentang dan pergi meninggalkannya yang saat itu masih berusia 10 tahun, membuatnya menjadi putra tunggal dikeluarga Kim yang mengharuskannya sempurna dalam hal apapun.

“Kau juga bebas, Kibum-ah.”

Lelaki itu kembali mengangkat wajahnya dan memandang bingung pria yang saat ini sedang tersenyum kecil. “Kau berhak untuk memutuskan tali buatan Ayah yang mengikat pada tangan dan kakimu. Kau masih manusia, Kibum. Kau bisa lari dari panggung boneka yang dibangun Ayah, kemudian mendapatkan kebahagiaannmu sendiri tanpa perlu memerankan sosok antagonis dalam kisah orang lain.”

Kibum benar-benar kehabisan kata-kata mendengar tiap ucapan kakaknya yang seperti menggoreskan sayatan pada luka yang hampir sembuh.
.

.
Siwon mengenakan setelan jas hitamnya dengan rapi. Wajah tampannya terlihat semakin gagah ketika penata rambut mulai menyisir pelan surai hitamnya. Siwon mengamati dirinya yang terpantul di cermin ruang hias.

Rasanya seperti dalam mimpi dia bisa sampai pada saat seperti sekarang. Akan melangsungkan sebuah pernikahan di sebuah gereja yang tidak begitu mewah, di kota Okinawa. Perasaannya bercampur aduk tidak menentu. Seperti gelisah dan jantungnya juga berdebar tidak berirama seperti biasa.

Namun berkali-kali dia menghirup dan menghembuskan napasnya dengan pelan lalu meyakinkan pada hatinya sendiri kalau ini adalah hal yang wajar terjadi ketika seorang pria akan menikah. Bukan hanya dirinya saja, tapi orang lain juga merasakan hal yang sama.
.
Menikah.

Harusnya sumpah sakral yang terucap di altar adalah suci. Tapi kenapa malah mendatangkan kegelisahan lain pada diri Siwon. Dia berdiri di altar lebih dulu, menanti kehadiran pengantin pasangannya yang perlahan digiring agar berdiri di sampingnya.

Siwon tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya sekarang. Dia benar-benar merasa gelisah sejak pagi tadi. Seolah dia tidak pernah siap untuk mengucap janji suci sekarang. Rasa gugup membuatnya sulit berpikir dengan baik.

“Sebelum saya melanjutkan prosesi pernikahan dan pemanjatan sumpah setia pengantin, ada baiknya saya bertanya agar ketika acara nanti bisa berlangsung dengan khidmat. Adakah yang ingin menentang pernikahan ini?”

Ucapan sang pastur barusan membuat sedikit kericuhan akibat bisik-bisik beberapa tamu undangan yang menduduki kursi masing-masing.

“Sekali lagi saya bertanya, tidak adakah yang keberatan jika pernikahan ini dilangsungkan?”

Perlahan, seseorang mengangkat tangannya dan akibatnya kericuhan semakin membesar. Suara yang berbisik semakin menguat dan mengundang amarah Tuan Kim yang sudah geram sejak sang pastur seolah mengulur waktu.

“Lanjutkan saja pernikahan ini!”

“Aku menentang!”

“Kim Kibum!”

“Kibummie…?”

Suara yang berbeda itu saling bersahutan, menimbulkan grasak-grusuk dari tamu undangan. Tuan Choi yang merasa risih akhirnya berdiri.

“Bisa kau jelaskan apa maksud dari tindakanmu, Kibum? Bukankah ini yang kau harapkan? Menikah dengan Siwon?”

Kibum—orang yang mengangkat tangan sebagai bentuk bantahan akan pernikahannya sendiri— berbalik dan menatap lurus seorang pria seusia ayahnya. Dia membungkuk hormat, “Maafkan kelancangan dan ketidaksopananku,Choi Aboeji. Tapi aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini…”

Satu per satu tamu undangan yang merasa terhina pergi meninggalkan kursi mereka, dan akhirnya menyisakan para keluarga yang sedang berseteru dengan alasan yang masih samar.

“Kibummie, sebenarnya apa yang terjadi padamu, heum?”

Kali ini Kibum berbalik memandang pria tampan yang telah membuatnya jatuh cinta selama lima tahun ini. Dia tersenyum miris, “Sekuat apapun aku memeluk tubuhmu… Tapi yang disini—“ Kibum menunjuk dada Siwon, “—tetap milik Kyuhyun, iya, kan, Siwonnie?”

“Eh?”

Kali ini Kibum tersenyum lebih tulus, “Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak mencintaiku… Pergilah! Temui cintamu.”
.

“Hah… hah… hah…” Siwon berlari sekuat dan secepat yang dia bisa ketika Kibum memberi tahu dimana tempat hati yang dia genggam selama ini. Keringat dengan deras mengucuri wajah serta tubuhnya. Namun bibir tipisnya masih belum melunturkan senyum lebarnya.

Rasanya ada sesuatu yang membuncah keluar dan menggelitiki tiap-tiap dinding dalam dadanya. Geli dan juga menyenangkan. Kepalanya penuh dengan tiap lembar roll ingatan demi ingatan yang berputar layaknya pemutar film klasik. Menampilkan semua memori tentangnya dan seseorang yang sudah memiliki tahta dalam hatinya sejak lama. Cho Kyuhyun. Bahkan hanya dengan mengingat namanya saja sudah membuat Siwon bahagia tak terkira.

Haah! Dasar Siwon bodoh! Untuk apa kau menjadi anak orang kaya yang memiliki begitu banyak mobil mewah, tapi ketika kau akan menjemput kekasih hatimu justru berlari seperti orang gila seperti sekarang, huh?! Cinta memang gila!
.

PLAK!

Kibum memejamkan matanya ketika satu tamparan barusan membuat sudut bibirnya pecah. Dia menyeka sedikit darah yang menetes dari sana, kemudian tersenyum aneh.

“Apa kau masih belum puas mempermalukan keluarga kita?!”

“Setidaknya Hyung membuatku sadar kalau yang Appa lakukan bukan untuk kebahagiaanku, tapi kebahagiaan Appa sendiri!”

“Ki-Kibummie, kau bertemu Hyung-mu? Ji-jinjja? A-apa dia sehat? Dimana kau bertemu dengannya?” Nyonya Kim langsung menghampiri putra bungsunya dengan lelehan airmata sejak pulang dari gereja tadi.

Hyung baik-baik saja, Umma. Dia juga sangat merindukan Umma…”

“Oh putraku… hiks…”

“Jangan pernah mengungkit dia dihadapanku!”

Ye-yeobo-ya… dia tetap putra kita… darah dagingmu… apa kau tidak bisa memaafkannya…?”

“TIDAK! Dia sudah mencoreng nama keluarga! Kabur dengan pria lain dan mempermalukanku! Dan sekarang, dia meracuni pikiran Kibum untuk ikut membangkang padaku!!”

“Huh? Ternyata benar apa yang Hyung katakan, kalau yang Appa lakukan hanya demi NAMA KELUARGA!”

Plak!!

“Jaga bicaramu, Kim Kibum!”

“Haha…” Kibum mundur beberapa langkah sambil memegangi pipinya yang tampak membengkak merah. Dia kembali berpikir, bagaimana rasa sakit yang Kyuhyun rasakan dulu? Menerima tamparan serta pukulan Appa-nya bertubi-tubi.

“Kalau saja dulu aku mengkuti Hyung, setidaknya aku tidak akan merasa sangat dikecewakan oleh Appa-ku sendiri. Terlebih ketika tahu bahwa dalang dari orang yang hampir membunuhku lima tahun lalu adalah pria yang sudah begitu kuhormati.”

Tuan Kim mendelik. Dan itu justru membuat Kibum menyeringai.

“Apakah ucapanku benar, Appa? Bahwa memang kaulah yang dulu merusak mobil yang kukendarai sehingga aku mengalami kecelakaan?”

Setelahnya, Kibum langsung berlari menuju kamar dan mengabaikan teriakan dari Appa-nya. Dia benar-benar tidak habis pikir bahwa Ayah yang selama ini begitu dia hormati justru menggunakan cara-cara licik demi tujuannya.

Ye-yeobo-ya… kenapa? Hiks… kenapa kau menghancurkan keluarga demi ambisimu?”

“Karena sejak awal aku tidak pernah mencintaimu, Park Hyejin.” Tuan Kim sama sekali tidak bergerak ataupun menatap istirnya yang sudah berderai air mata.

Airmata wanita yang berada di hadapan Tuan Kim berhenti, lantas menatap terkejut suaminya. “A-apa maksudmu?”

“Maafkan aku, Hyejin-ah, sejak dulu hingga kini, rasa cintaku untuk Hyuna tidak pernah berubah. Aku terpaksa menikahimu karena hutang budi keluargaku pada keluargamu.”

Setelahnya Tuan Kim beranjak meninggalkan istirnya yang terduduk lemas sembari menangisi nasip dari keluarga yang selama ini ia impikan, tanpa berbalik sedikitpun hanya sekedar untuk melihat sang istri yang sesungukan.

Nyonya Kim terus menangis untuk beberapa saat, mengingat betapa sakit hatinya kini, bahwa sekuat apapun usahanya tetap tidak bisa membuat sang suami berbalik mencintainya. Sungguh bodoh dirinya yang terus berharap, meski pada akhirnya cinta sang suami tetap untuk wanita lain yang sudah dimiliki oleh orang lain.

.

Maaf… masih To Be Continue 😀

.

 

 

Advertisements

43 thoughts on “Someday part 3

  1. astaga hanya demi nama baik tuan kim sampe nyelakain anak’a sendiri ckckck
    untung sibum ga jadi nikah
    sebel juga sama siwon yg terkesan pengecut…padahal dia tau klo dia yg salah tapi saat kyu butuh disudutkan sama ayah’a kibum, siwon malah diem aja.

  2. Bener bener deh ayahnya kibum sungguh sungguh jahat uda tega hampir mw membunuh anaknya trus kibum jgg dijadikan boneka hidup yg hrs sllu menuruti perintahnya..
    Untung hyung nya segera menyadarkannya..
    Siwoonnn cepat kejar cintamu yg sebenarnya please please :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s