Posted in Angst, BL, Genre, Hurt, Romance, WonKyu Story

Tears In Pink Rain. II

10154090_1445744805665080_6346301057580644600_n

.

Suasana khidmat pada sebuah gereja tidak menyurutkan degup jantung seorang wanita si pemeran utama dalam pernikahan hari ini. Wajah cantiknya semakin cantik dengan polesan bedak serta blush-on, bibir kecilnya dilapisi lipstick berwarna peach. Dia tidak berhenti tersenyum sejak digiring oleh Ayahnya menuju altar pernikahan, di samping seorang pria tampan dan juga di hadapan seorang pastur yang usianya sudah cukup tua.

Wanita itu semakin tersenyum malu ketika pujian-pujian yang dipanjatkan pada Sang Kristus akan berakhir, dilanjutkan oleh janji pengantin, kemudian saling menyematkan cincin dan diakhiri dengan ciuman singkat yang menjadi sarat sahnya sebuah pernikahan.

Dan kali ini dia berada pada saat penyematan sepasang cincin pengantin. Omo, jantungnya semakin berdetak cepat. Rasanya begitu malu ketika ada sepasang mata yang menatap teduh sembari menggenggam tangan yang terbalut kain tipis sarung tangan , hendak menyematkan sebuah cincin polos kejari manisnya. Wanita itu serasa ingin mencair saja saking gugupnya.

Perlahan, cincin polos itu melewati sebuah ruas kosong dan sampai pada ujung jari. Senyum sang wanita sedikit luruh karena sadar jika cincin yang melingkar itu kebesaran di jarinya. Pengantin pria di hadapannya juga menampakkan wajah yang cukup terkejut. Tapi buru-buru dia kembali tersenyum manis agar tidak ada yang menyadari apa yang terjadi pada cincin pengantinnya. Wanita itu mengambil cincin satu lagi, lantas menyelipkannya diantara ruas jari si pengantin pria.

Ketika kedua belah bibir yang berbeda itu bertemu, suara riuh tepuk tangan mengiringi euphoria bahagia yang tak sempat diuraikan oleh sepasang pengantin disiang hari itu.

Namun hanya si mempelai wanita yang tahu, ketika cium yang bertemu itu ibarat sebuah jarum yang menusuk tepat diulu hatinya saat melihat setetes cairan bening jatuh dari sudut mata pasangannya.

.
Tears In Pink Rain. II
.
WonKyu

Kyuhyun sedikit mengulet saat sinar siang mengganggunya untuk sesegera mungkin bangun. Alisnya mengkerut kesal, namun beberapa detik kemudian kelopak matanya terbuka, menampilkan sepasang iris kecokelatan yang tertidur beberapa jam yang lalu. Dia menyibak selimutnya, lantas bangun dan menuju jendela. Kembali menyibak gorden dan membuatnya reflex menutup mata saat cahaya terang dihari hampir siang itu lumayan terik.

Dilangkahkan kakinya pada balkon kamar apartemennya, merentangkan kedua tangan dan melakukan gerakan-gerakan ringan untuk merilekskan tubuhnya yang sempat kaku. Dia menghirup dalam oksigen dan menghembuskan karbondioksida secara perlahan.

Pagi yang sepi membuatnya kembali mengingat kenangan demi kenangan yang sudah lewat cukup lama, sejak dia memutuskan untuk hidup sendiri di Negara asing. Alisnya mengkerut jika mengingat kenangan satu itu. Ternyata selama ini dia sudah tertipu oleh rayu manis serta bual janji seseorang. Seunghyun tidak sebaik yang ia kira. Dia seumpama dengan Serigala berbulu Domba. Dan Kyuhyun muak dengan dirinya sendiri yang sudah tertipu dengan gampangnya.

Suatu malam, tiga tahun lalu dia benar-benar mengutuk seorang pria bernama Choi Seunghyun. Pria yang sudah membuatnya terbuai selama ini.

Ketika tahun awal dia hidup di Virginia bersama Seunghyun, Kyuhyun merasa menjadi lelaki paling beruntung karena pria bermarga Choi itu memperlakukannya seperti seorang perempuan, namun dia tidak keberatan. Dia suka ketika Seunghyun mengucap rayuan yang seharusnya ditujukan untuk wanita. Dia rela ketika Seunghyun menyentuhnya dengan perlahan namun semakin intim. Sampai puncaknya mereka bercinta beberapa kali, dan Kyuhyun tetap menyukai pria itu.

Namun itu hanya awal yang manis, sampai ketika dia menemukan klimaks pada ceritanya kali ini. Dia menemukan Seunghyun tengah bercumbu dengan seorang wanita berkebangsaan Russia, Alexandra Zakharov, rekan kerjanya sendiri di sebuah perusahaan asing.Kyuhyun hancur saat itu. Pria yang selama ini dia percayai dengan sangat justru berbalik menjadi pedang yang menusuk dirinya sendiri.

Kyuhyun semakin mengeratkan pegangan pada pagar besi balkon kamarnya sembari menggigit bibir bawah saat mengingat dialog perpisahannya dengan pria itu. Dia bahkan menampar lelaki itu dengan segala amarah dan rasa benci yang ada saat tahu alasan sesungguhnya Seunghyun mendekatinya selama ini.

“Kau pengkhianat! Aku membencimu, Choi Seunghyun!”

“Ah, tamparanmu cukup menyakitkan juga, Kyuhyun.”

“Wanita jalang, pergi dari sana!”

“Kau tidak punya hak mengusirnya.”

“Aku kekasihmu! Tentu punya hak…”

“Kekasih? Yang benar saja? Haha, kau percaya dengan ucapanku selama ini? Sungguh lucu sekali, Cho Kyuhyun.”

“M-mwo?”

“Aku mendekatimu selama ini hanya untuk menyakiti Siwon. Aku seolah terlahir sebagai bayangan untuknya. Marga kami sama, tapi tidak dengan nasip kami berdua. Dia terlahir di keluarga yang kaya, sedangkan keluargaku, kami harus bekerja keras untuk sampai di titik yang tinggi. Sejak sekolah menengah hingga jenjang universitas, aku selalu bertemu dengannya. Dia selalu mendapatkan dengan mudah apa yang kuperjuangkan dengan susah payah. Setiap aku mencintai seseorang, maka orang itu akan mencintai Siwon. Aku muak dengannya!”

“Kau—“

“Aku berhasil merebutmu darinya. Aku menang kali ini dan membuatnya menjadi seseorang yang menyedihkan.”

Saat itu Kyuhyun buru-buru mengemasi seluruh pakaiannya kedalam beberapa koper. Dia benar-benar sakit hati. Namun ucapan terakhir Seunghyun ketika dia hendak keluar dari rumah milik pria itu, Kyuhyun justru membenci dirinya sendiri.

“Sebelum pergi, Siwon mendatangiku dan memohon agar aku menjagamu. Sungguh ironis ketika yang dicintainya justru berkhianat!”

Sungguh, Kyuhyun begitu ingin melempar Seunghyun dari lantai 30 agar langsung mati dan dia tidak lagi melihat pria itu hidup.

Tok. Tok. Tok

Suara ketukan pintu menyadadarkannya dari lamunan sesaat. Dia berbalik kemudian membuka pintu, dan tampaklah seorang gadis barat dengan rambut hitam sebahu berdiri dengan sepiring makanan.

Mommy menyuruhku untuk mengantar sarapan.” Ucap Bella, gadis belia berusia 12 tahun yang menempati kamar di sebelah kamar Kyuhyun.

“Ah, terima kasih. Aku selalu merepotkanmu dan Mommy-mu.” Kyuhyun mengusap pelan puncak kepala gadis itu dan mempersilahkannya masuk sementara dia memindahkan makanan kepiringnya sendiri.

Mommy tidak keberatan. Dia bilang seperti memiliki anak laki-laki.” Bella duduk dikursi dengan kaki yang bergerak maju-mundur.

“Apa Will belum pulang?”

Gadis itu menggeleng, “Daddy selalu sibuk bekerja, sampai Mommy sering marah.”

Kyuhyun tersenyum. Dia berjalan menghampiri gadis itu dan duduk dikursi sebelahnya. “William selama ini bekerja keras untukmu dan juga Mommy-mu, agar kalian bisa hidup dengan baik. Jadi kau jangan nakal.”

“Aku tidak nakal kok!” Bella membela diri dengan mengerucutkan bibirnya.

Kyuhyun tertawa. Rasanya sudah agak lama dia tidak tertawa selepas itu. 1 tahun? 2 tahun? Ah, dia lupa.
.

.
“Ah, kau sudah datang? Ada surat untukmu.” Bernadette, wanita yang bekerja sebagai Manager Secretary menghampirinya yang baru saja tiba di bilik kerjanya.

Kyuhyun mengambil surat dan membukanya dengan penasaran. Selesai membaca, dia membulatkan matanya lantas memandang wanita cantik di depannya yang tersenyum kecil. Kyuhyun Shock.

“Selamat, kau dipindah tugaskan ke cabang Seoul. Kau bisa mengemasi barangmu hari ini, dan bersiap untuk besok. Semua keperluanmu sudah diatur oleh perusahaan.”

Kyuhyun hanya bisa mendengar penjelasan dari atasannya karena dia sendiri tidak tahu harus menjawab apalagi berekspresi seperti apa. Antara bahagia dan… dia tidak tahu rasa apa yang mengganjal sekarang.

Seoul—pikirannya lagi-lagi melalang jauh entah kemana.
.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya melihat sekeliling yang sudah tampak cukup berubah sejak tujuh tahun lalu dia meninggalkan Negara asalnya. Gedung-gedung mulai tinggi, serta tatanan jalan yang rapi membuatnya kembali rindu sebuah rumah kecil dimana ada Appa, Umma dan juga Noona-nya duduk mengelilingi meja makan ketika musim gugur seperti ini.

Dulu dia selalu ada ketika perayaan Chuseok, dimana seluruh anggota keluarga berkumpul, saling berbagi cerita, kegembiraan serta makanan. Sejak dia berkuliah, sudah jarang sekali pulang, ditambah lagi kepergiannya ke Virginia yang membuat dia hampir-hampir lupa dengan suasana Chuseok di rumahnya sendiri.

Kyuhyun menggeret kopernya saat beberapa rekan yang lain sudah selesai mengurusi keperluan mereka selama di Seoul untuk jangka waktu yang lumayan lama. Mereka meninggalkan Incheon Airport ketika mobil jemputan sudah datang.
.

Kyuhyun membereskan barang-barangnya ketika sudah sampai di kamar sebuah hotel. Setelah merapikan baju kedalam lemari yang sudah tersedia, dia berjalan dan memandang suasana musim gugur yang didominasi oleh warna jingga daun yang hampir meranggas.

Hah! Kyuhyun menghela napas cukup kuat saat semilir angin membelai lembut wajahnya yang tirus, seperti sebuah salam selamat datang—yang entah dari siapa.

Sudah tujuh tahun… dia kembali mengingat seseorang yang tujuh tahun lalu menempati ruang tersendiri dalam hatinya. Seorang laki-laki tampan dengan senyum teduh, sepasang lesung pipi yang dalam, dan tatapan yang hangat.

Harusnya dia tidak mengingat itu lagi, namun perasaan itu hadir dengan tiba-tiba sekarang. Dia menempatkan kenangan manisnya dulu pada sebuah kotak yang mungkin sudah usang dalam ruang hatinya. Setidaknya selama dia hidup, Kyuhyun pernah merasakan bagaimana hangatnya tangan besar yang menggenggam tangannya dimusim semi. Bagaimana seluruh hatinya seperti dikerubungi oleh ribuan kupu-kupu dan mengantarkan getaran geli ketika mengingatknya.

Lelaki bermarga Cho itu tersenyum sendu. Dia tidak seharusnya mengingat pria yang kini menjadi suami orang. Kyuhyun tahu kalau Siwon menikah dengan seorang perempuan bermarga Park, yang ternyata mereka sudah dijodohkan sejak lama. Sekarang Siwon pasti bahagia dengan keluarga barunya, dan mungkin mereka sudah memiliki anak yang lucu— laki-laki atau perempuan.
.

Jalur Tembok Batu Istana Deoksugung, atau yang juga dikenal sebagai jalan Jeongding-ril adalah jalan sepanjang 900 meter di sisi dinding batu istana Deoksugung yang popular sebagai tempat kencan. Indahnya pemandangan daun gingko kuning atau oranye saat musim gugur membuat suasana terasa semakin romantis.

Dulu, rasa-rasanya Kyuhyun pernah kemari bersama seorang senior di universitas tempatnya belajar. Ah, lagi-lagi Kyuhyun tak sengaja bernostalgia pada kenangan lampau. Kyuhyun mengedarkan pandangannya dan benar saja, teman-teman rekan kerjanya sudah menghilang entah kemana dan dia sendirian di sebuah jalan setapak yang diapit oleh jejeran pohon gingko yang daunnya sudah berwarna kemerahan dan beberapa lembar yang sudah mengering jatuh begitu saja.

“Hiks… hiks…”

Kening Kyuhyun mengkerut mendengar suara isak tangis anak kecil. Dia buru-buru menepis prasangkanya, mana ada hantu disiang hari begini. Lelaki itu mempercepat langkah kakinya dan berjalan menuju Seoul Museum of Art yang letaknya tidak jauh dari Deoksugung. Tapi baru sepuluh langkah, dia justru melihat seorang anak kecil berjongkok dengan wajah yang dibenamkan diantara dua lututnya, berada tepat di bawah pohon gingko yang daunnya masih hijau.

Berakibat rasa penasaran, dia mendekati anak itu dan ikut berjongkok di depannya, “Hei, kenapa kau menangis? Dimana orangtuamu?”

Gadis kecil itu mengangkat wajahnya saat mendengar suara seseorang yang begitu dekat. Matanya merah dan sembab, pipinya yang hampir mirip bakpao itu tampak menggemaskan seperti tupai. “Huwee~! Ahjussi…”

Kyuhyun salah tingkah melihat anak itu semakin kuat menangis dan membuat beberapa pejalan kaki melihat kearahnya dengan raut terkejut ataupun kening yang mengkerut. Dia bahkan gelagapan sampai-sampai membuat gerakan-gerakan abstrak yang dimaksudkan bahwa dia tidak tahu apa-apa atau dia bukan pedhofil mesum yang akan menyakiti anak kecil.

“He-hei… apa yang terjadi?!” Tidak tahu kenapa, dia menjadi gugup sendiri melihat semakin kencangnya anak itu menangis. Namun Kyuhyun bisa bernapas sedikit lega karena beberapa detik kemudian anak itu berhenti dan menyisakan isakan ringan.

“Syal pemberian Appa Jihee tersangkut… huks…” tangan kanan kecil gadis itu terangkat dan menunjuk keatas, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk menyeka airmatanya sendiri, Kyuhyun mengikuti arah yang ditunjukkan gadis kecil itu lantas tersenyum. Dia berdiri dan agak sedikit berjinjit untuk menggapai sebuah ranting.

“Ini.” Kyuhyun segera memberikannya pada gadis kecil itu yang seketika langsung terlihat ceria.

Ahjussi, gomapta!” serunya dengan lantang. Dia melilitkan syal berwarna biru muda itu kelehernya. “Uh, hangatnya~”

Mau tak mau Kyuhyun dibuat gemas sendiri dan rasanya dia ikut tersenyum tidak sadar melihat anak perempuan yang dia perkirakan berusia 5 tahun tertawa sembari mengusap syal pada pipinya.

“Siapa namamu?”

Joneun Choi Jihee imnida, ahjussi.”

“Lalu dimana orangtuamu? Bahaya sekali jika anak kecil berlarian sendiri di tempat seperti ini…”

Umma sedang bersama temannya dan Jihee…” anak perempuan itu menunduk, beranggapan bahwa gerak kakinya yang dibalut sepatu berwarna cokelat lebih menarik ketimbang melihat wajah Kyuhyun.

Laki-laki itu menghela, “Dan kau bermain sendiri?” Tebakannya langsung disambut oleh sebuah anggukan. Huft. Sedikit merepotkan karena dia kurang begitu suka dengan anak-anak, tapi tidak apalah. Toh sekarang dia juga sendirian karena teman-temannya lebih antusias memotret pemandangan ketimbang berjalan-jalan bersama Kyuhyun.

Ahjussi, ige…”

Kyuhyun merunduk dan melihat gadis bernama Choi Jihee itu mengeluarkan beberapa bungkus permen. “Untukku?”

Jihee mengangguk dua kali. “Appa selalu memberi Jihee permen kalau Jihee bersikap baik.”

Kyuhyun mengusap rambut gadis kecil itu dengan gemas dan mengambil satu permen rasa caramel, kemudian mereka berjalan-jalan dengan bergandengan tangan, seolah keduanya sudah lama dekat.

Semillir angin musim gugur yang berhembus di sekitar dua manusia berbeda usia itu menerbangkan daun berwarna merah yang sudah mengering. Tak berapa jauh, ada sesosok yang berdiri di salah satu pohon dengan daun kemerahan, tersenyum lembut saat bibir-bibir dari orang yang dia cintai merekah indah layaknya Cherryblossom di musim semi. Tapi sedetik kemudian dia pergi bersamaan dengan dedaunan cokelat yang lebih dulu jatuh terbawa angin.
.

Kyunghee University—

—tempat yang seharusnya tidak dia datangi lagi, karena ini sama halnya bahwa Kyuhyun sedang mengumpulkan kembali kenangan-kenangan manisnya bersama seseorang. Tapi apa daya, tubuhnya seolah bergerak sendiri meski otaknya berontak. Dari atap gedung universitas, Kyuhyun melihat kembali bayangan ketika seorang senior menyatakan cinta padanya.

Bibir pink pucatnya sedikit tertarik dan menciptakan seulas senyum tipis saat dia mengangguk dengan raut bingung, yang berarti dia menerima pernyataan cinta seseorang. Itu adalah cinta pertamanya.

Tanpa sadar, Kyuhyun meloloskan airmatanya sendiri.

“Aku merindukanmu, Siwon-ah…”

Rindu sampai rasanya sesak dan sulit untuk bernapas.
.

Lagi-lagi Kyuhyun bergerak diluar perkiraannya. Dan sekarang dia mendapati dirinya sendiri di depan sebuah pintu rumah seseorang. Ketika ia akan pulang dari universtas, dia bertemu dengan seorang teman. Tanpa basa-basi dia meminta alamat rumah Kim Yerim, karena setidaknya hanya wanita itu yang bisa dia tanya tentang Siwon.

Dan sekarang di sinilah dia, menunggu tuan rumah membuka pintu. Kyuhyun bergerak ringan karena hawa dingin yang berhembus membuatnya cukup bergidik kedinginan meskipun dia sudah menggunakan mantel berwarna cokelat gelap.

Cklek.

Mendengar bunyi pintu terbuka, kembali membuat Kyuhyun antusias. Tapi berbanding terbalik dengan seorang wanita yang terkejut melihat dirinya di depan pintu.

Annyeong, Kim Yerim-sshi.”
.
“Minumlah.” Yerim menghidangkan teh dan sepiring kue keatas meja. Dia menduduki kursi kayu di depan Kyuhyun. Matanya kembali menatap sosok yang sudah tujuh tahun tidak dia lihat. Cukup lama, tapi Kyuhyun tidak banyak berubah.

Keheningan membuat bunyi gesek dedaunan pada pohon semakin kentara. Diantara keduanya tidak ada atau tidak tahu, harus memulai pembicaraan ini dari mana. Lama tidak berjumpa membuat kekakuan terasa mencekik. Benar-benar tidak nyaman.

“Jika kau kemari hanya ingin bertanya tentang Siwon, maka lupakanlah…”

Kyuhyun memandang Yerim, “Maaf. Aku tahu dia sudah menikah…”

“Kau pergi cukup lama, Kyuhyun-ah…” Yerim membuang arah pandangnya ke samping saat memori tentang seseorang kembali terputar begitu saja.

“Dia tidak menahanku sama sekali waktu itu. Dia benar-benar membuatku kecewa, tapi…”

“Siwon sudah menikah, bisakah kau melepaskannya?” wanita itu menatap Kyuhyun lagi, “Siwon ingin kau melupakan semua kenangan kalian karena dia tidak punya pilihan lain. Kedua orangtuanya ingin seorang penerus, tak peduli pada cinta yang kalian miliki.”

Bola mata cokelatnya bergerak gelisah. Tidak bisa menyangkal bahwa sekarang seperti ada sebuah jarum yang menusuk. Kecil tapi sangat menyakitkan. Siwon berjuang untuk cinta mereka, tapi dia justru berjuang untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Sungguh egois.

Yerim kembali menghela, baru saja dia akan beranjak, Kyuhyun sudah menahannya.

“Aku ingin menemui Siwon.”

Huh?”

“Setidaknya aku butuh bicara dengannya. Aku tidak ingin kisah kami hanya menjadi omong kosong. Aku tidak akan mengganggu hidupnya, ataupun pernikahannya. Aku hanya ingin mendengar alasan kenapa dia melepasku begitu saja.”

Yerim memberikan secarik kertas berisi alamat sebuah tempat di kota Seoul yang belum pernah dia datangi.
.

Kyuhyun sampai pada sebuah tempat yang cukup asing bagi Kyuhyun, karena jujur saja, dia baru kali ini datang kesebuah tempat dengan gerbang yang terbuat dari batu pahatan. Belum lagi suasana yang tenang, hanya dengan beberapa orang yang keluar masuk dengan pakaian hitam.

Baru saja Kyuhyun ingin berbalik, namun dia sudah tidak mendapati taksi yang dia gunakan untuk sampai kemari. Dia hanya ingin memastika, apakah dia diantar pada alamat yang benar.

Kaki jenjang Kyuhyun perlahan berjalan memasuki gerbang batu itu, tapi ada sebuah perasaan tidak enak langsung menyergap di dalam dadanya. Jantungnya bergemuruh tanpa sebab, dan dia sulit menelan salivanya sendiri.

Dan perasaan itu membuatnya tercengang ketika dia melihat jejeran batu nisan yang tertancap koko di atas dataran tanah berselimut rumput hijau yang halus.

Tidak.

Ini salah.

Yerim pasti memberikan alamat yang salah karena dia tidak ingin Kyuhyun menemui Siwon.

Tapi kenapa…? kenapa kakinya justru melangkah perlahan, membantah akal sehatnya yang meminta untuk berhenti dan berbalik pergi, menjauh. Menyusuri barisan demi barisan nisam batu dengan nama-nama yang telah tiada, hingga dia sampai pada sebuah nisan yang menuliskan seuntai nama.

Dadanya sesak, Kyuhyun mulai sulit untuk menghirup napasnya, dan perlahan pandangan matanya mulai mengabur hingga tak terasa basah pada pipinya semakin menjadi. Bibir plumnya bergerak gagu, tidak ada seoktaf suarapun yang bisa dia keluarkan.

“Kau kemari?”

Sebuah suara menyadarkan Kyuhyun. Dia menghapus kedua pipinya dan berbalik, melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam ikal yang tergerai hingga pinggang. Wanita itu tersenyum dengan membawa sebuket bunga mawar putih. Dia meletakkannya tepat di depan nisan suami tercintanya yang lebih dulu pergi setahun lalu.

“Park Haerin, istri Siwon.” Wanita itu mengulurkan tangannya pada Kyuhyun dengan seulas senyum manis.

Sedesir angin seperti menghentikan waktu milik Kyuhyun.

Tidak ada tanggapan dari lawan di depannya, wanita bernama Park Haerin itu menurunkan tangannya, namun tidak menghilangkan senyuman manisnya. “Dia pergi setahun yang lalu… Dia pria yang baik, selalu memperlakukanku dengan lembut, meski dia tidak benar-benar mencintaiku.”

Tatapan Haerin tampak menerawang kemasa dimana dia menikah dulu bersama seorang pria yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya, Choi Siwon. Seorang pria ramah yang penyayang.

“Ah, mungkin kau penasaran bagaimana aku bisa mengenalmu?” Haerin berusaha untuk tidak memburamkan suasana pemakaman. Dia berbicara dengan nada yang hangat. “Aku menanyakan banyak hal tentangmu pada Yerim, dan jujur saja…” dia menatap lurus lelaki di depannya, “Aku begitu iri denganmu. Siwon sangat mencintaimu. Dia mempertahankan sebagian hatinya hanya untuk cinta kalian. Sampai-sampai, cincin pernikahan milikkupun terlalu besar dijemariku.”

“A-aku…” Kyuhyun tergagap. Entahlah, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan kejadian tiba-tiba ini. Sejak awal dia memang tidak siap jika harus bertemu dengan istri Siwon.

“Awalnya aku terus menangis di hadapan Yerim karena sekuat apapun usahaku, hanya ada kau di matanya.” Haerin berbalik membelakangi Kyuhyun, mengaitkan kedua tangannya di belakang punggungnya dan menghirup udara sebisanya. Angin yang ketika itu berhembus perlahan memainkan surai hitamnya yang hanya berhias jepit rambut berbentuk bunga Cherryblossom.

Sedangkan Kyuhyun hanya bisa menatap punggung kecil wanita di depannya dengan rasa bersalah. Wanita itu lantas menundukkan kepalanya, dan Kyuhyun tidak bisa menebak seperti apa raut beserta hati wanita itu.

“Tapi setelah aku melahirkan seorang bayi perempuan, aku mulai sadar bahwa Siwon menyukaiku meski tidak utuh, dan aku bersyukur akan hal itu. ‘Tidak apa-apa’, begitu pikirku selama ini. Siwon sangat mencintai putri kami. Dia selalu pulang tepat waktu untuk bergantian mengurusnya. Atau ketika libur, dia akan mengosongkan jadwal kantornya hanya untuk berkumpul ataupun menghabiskan waktu seharian.”

Tampak Haerin menyeka pipinya sembari menunduk, “Hingga aku tahu, selama ini Siwon mengidap gagal jantung. Sepanjang masa kritisnya, dia hanya mengucap maaf dan sesekali memanggil namamu.”

Haerin berbalik, dan itu semakin membuat Kyuhyun tampak buruk. Wanita di depannya sungguh luar biasa. Rela mambagi cinta untuk seseorang seperti Kyuhyun. Haerin berusaha untuk tidak menangis meski gagal karena airmata terus menggenang dan mengaburkan pandangannya.

“Dia tidak bisa melupakanmu hingga akhir hayatnya, Kyuhyun-sshi.”
.

“Yerim-imo?” gadis kecil dalam gendongan seseorang mulai mengulet karena merasa tidurnya terusik suara angin. Padahal tadi dia sedang tidur dengan nyenyak di rumah bibinya karena sang ibu ada sedikit urusan.

“Kau sudah bangun?”

“Hung? Appa?” gadis kecil itu mengucek kedua matanya sambil berdengung, lalu melingkarkan kedua tangan mungilnya, melingkari leher kokoh milik sang ayah yang selama ini dia sayangi.

Appa mengganggumu?”

Aniyo.” Gadis itu tersenyum dan mengecup pipi ayahnya.

Sang ayah balas mengecup hidung bangir putrinya dan mengelus rambut ikal sang anak. Kaki-kaki jenjangnya terus berjalan menyusuri jalan setapak dan sampai pada sebuah halaman dengan rerumputan hijau, si ayah menurunkan putrinya dan bersimpuh.

Mianhae, Appa tidak selalu ada untukmu dan menemanimu bermain…”

Gwenchanayo, AppaUmma bilang, Appa sedang beristirahat, jadi tidak boleh nakal… hehehe…”

Appa sangat mencintaimu dan juga Umma, cinta untuk kalian berdua adalah hal terindah yang pernah Appa miliki. Jaga cinta Appa, arrachi?”

Si gadis kecil mengangguk beberapa kali, sebelum akhirnya berbalik dan berlari menghampiri ibunya.
.
Ummaaa~!”

Hup.

Sang ibu menangkap tubuh anaknya yang tiba-tiba berlari dan menubruk tubuhnya. Dia langsung menggendong tubuh kecil putrinya serta menghujani wajah menggemaskan bak tupai itu dengan ciuman-ciuman yang membuat si anak terkekeh geli.

Haerin menurunkan tubuh putri kecilnya lalu memandang Kyuhyun dengan hangat, “Jihee-ya, ayo sapa Ahjussi…”

Gadis kecil itu berbalik kemudian matanya membesar melihat lelaki tinggi di depannya, memandang Kyuhyun dengan mata bulatnya. “Ahjussi?”

Kyuhyun tergagap. Gadis kecil itu… gadis yang dia ambilkan syalnya beberapa hari yang lalu… putri Siwonkah?

Dia berjalan dengan perlahan, setelah sampai beberapa jarak, dia menjatuhkan tubuhnya kemudian… grep! Memeluk erat tubuh kecil itu. Dan tangisnya seketika pecah.

“Siwonnie… hiks…”

Haerin kembali tersenyum melihat kedua orang itu saling memeluk. Tidak dipungkiri kalau wajah Jihee lebih mirip suaminya, dengan bibir tipis dan lesung pipi yang dalam. Dia mengangkat wajahnya dan melihat sosok suaminya tengah berdiri di seberang sana.

Pria itu tersenyum sangat manis. Senyum yang membuat Haerin jatuh cinta berkali-kali. Dia membungkukkan tubuhnya sembari mengucap terima kasih, karena pada akhirnya dia bisa melepas beban yang selama ini terus menghalangi dia untuk bisa beristirahat dengan tenang.

“Terima kasih, Haerin-ah… Aku mencintaimu…”

“Aku juga mencintaimu, Siwonnie… Tidurlah, kami akan bahagia untukmu…”
.

.
Kyuhyun membuka matanya dan menghela sejenak. Suasana di Myeongdong Chatedral membuatnya benar-benar nyaman sampai dia lupa sekarang sudah hampir siang.

“Kyunnie ahjussi…” seorang gadis kecil menggenakan dress berwarna merah muda membuatnya tampak lucu. Gadis itu menghampiri Kyuhyun dan duduk di sebelahnya.

“Apa Umma sudah datang?”

Jihee mengangguk, “Lee Songsaengnim juga.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. Mereka berdua keluar dari chatedral. Jihee langsung menghampiri ibunya yang sedang bersama seorang pria tampan—guru dari Jihee. Kyuhyun tersenyum melihat pemandangan di depannya.

Musim semi.

Bruk.

“Ah,”

Orang asing itu menundukkan tubuhnya beberapa kali karena sudah menabrak bahu Kyuhyun.

“Shiyuan-ge!” Tak jauh dari keduanya berdiri, seorang gadis merentangkan kedua tangannya, melambai-lambai agar sang kakak menghampirinya dan tidak tertinggal oleh barisan tur.

“Sorry.”

Deg.

Semilir angin musim semi menerbangkan kelopak Cherryblossom yang rapuh, mengajaknya berdansa mengelilingi Kyuhyun yang membatu.

Tak terasa mata Kyuhyun mulai berair, tapi buru-buru Kyuhyun tersenyum. Dia tidak boleh menangis lagi. Dia sudah berjanji akan bahagia demi Siwon. Tubuhnya berbalik menghampiri Jihee, Haerin dan seorang pria bermarga Lee yang sebentar lagi akan menikahi Haerin. Pria itu-Lee Donghae— seorang guru yang mengajar di sekolah Jihee, sudah melamar ibunya dua minggu yang lalu ketika awal musim semi. Rencana hari ini mereka akan menghabiskan waktu berjalan-jalan menikmati keindahan Cherryblossom di jalanan Myeongdong.

Kyuhyun menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Dia belajar bersyukur sejak mengenal Siwon. Belajar untuk menerima yang diberikan meski tidak sesuai harapan. Dan mengikhlaskan yang berharga untuk pergi, karena Kyuhyun tahu, sesuatu yang hilang akan selalu memiliki pengganti.

Ketika Seoul kembali menerbangkan tiap-tiap kelopak merah muda ibarat airmata, ia mengantarkan sebuah tinta untuk kisah yang baru.

Bukankah hidup ini indah ketika kau mampu untuk ikhlas pada sesuatu yang sesungguhnya bukan milikmu? Karena Tuhan lebih tahu, mana yang terbaik untukmu…
.
Fin~
.

.

a/n: Annyeong ^^

Maaf kalau saya jarang menyapa kalian, karena waktu dan keadaan yang sulit, hehe. Tapi terima kasih yang sudah hadir dan meninggalkan kesannya ketika membaca FF saya ini.

Selamat tidur ^^

Silvernriel. 3:05 AM

 

 

Advertisements

26 thoughts on “Tears In Pink Rain. II

  1. Uuhh..nyesek nyesek.
    wonnie bnran mati dn ningglin kyu dn jg klrga kcil’a.
    tp trhru,smpai wonnie prgi pun dia g lupain kyu yg dah brsma lelaki lain dn ningglin dia.
    Duh kyu ko gtu? ksian wonnie.

    Tp tuh kyu kek’a ktmu yg baru.Shiyuan????

  2. tuhkan…. wonnie nyembunyiin tentang penyakit-nya dia…. haaa… gak tau deh mesti ngomong apalagi soalnya ceritanya sedih banget… hampir kebawa emosi deh untung ingat kalau lagi puasa. btw… di tunggu cerita selanjutnya yaaaahhhh…..!?!?!?!

  3. baca lagi dan selalu suka smbil dengerin lagu sweet romancenya..
    dan nangis lagi pas dbgian siwon bilang “gomawo.. saranghae haerin-ah”
    rasanya gmn gtu…
    merasakan cinta tulus siwon walau g sepenuhnya dan itu mnyakitkan skaligus mnyenangkan, gtw harus gmn lagi… huwaaaaa suha,, jadi sedih juga kalo dirimu dah ga akan bkin ff wk lagi.. hwaiting suha..
    makasih udah buatin ff ini buat eonni,, ini kado pertama dan terakhir yang indah..
    sungguh… 😥

  4. Kyu berkhianat dan dia dikhianati juga. ckckckkkk
    Siwon matiiiiiiii hiks hiks.
    bingung mau coment apalagi hiks hiks.
    intinya jika saling mencintai perjuangkanlah jika cinta pasti tidak ada kata bosan.

    Siwon merelakan Kyu karena dia ada penyakit dan ga mau liat Kyu menangisi kepergiannya, tpi Won kyu menitipkan Kyu pada orng yg salah. hiks hiks

    okeeei semangat melestarikan WonKyu ff author author WKC tercintaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s