Posted in Angst, Drama, Family, Romance

Seven Years of Love – 2 [End]

Siwon menghadap yeoja cantik di hadapannya. Ia mengambil cincin perak dari kotaknya dan mengamit tangan Ahra. Berniat memasangkan cincin perak itu di jari manisnya.

Cling!

Cincin itu terlepas dari tangan Siwon dan membentur lantai gereja. Kemudian menggelinding entah kemana.

Suasana gereja yang awalnya sunyi dan khidmat seketika berubah riuh.

Cincin itu sepertinya tahu, jika bukan Ahra-lah pemilik jari manis yang seukurannya.

Justru seorang pemuda yang kini sedang bertaruh nyawa…

.
.

Side Story of Seven Years of Love

©

Chikuma Asuhara

WonKyu-SiBum

.
Seluruh orang yang hadir langsung mencari cincin perak bermanik permata biru yang tiba-tiba menggelinding dan hilang begitu saja.

Seorang pelayan menghampiri Nyonya Cho sembari menyerahkan telepon genggam. Seketika raut wajah wanita yang masih menyimpan kecantikan itu berubah dan tiba-tiba menangis histeris ketika mendengar kabar tentang putranya.

Ahra yang menyadari perubahan raut ibunya berjalan mendekati. Tidak memperdulikan orang-orang yang heboh mencari cincin pernikahannya.

Umma, waeyo?”

Nyonya Cho langsung memeluk putrinya, “Ky-Kyuhyun… bayiku yang manis…” racau wanita paruh baya itu di tengah isak tangisnya.

Wa-wae?”

“Kita harus kerumah sakit.”

.
.
.
.
Belum sempat mobil terparkir dengan benar, Ahra langsung berlari memasuki sebuah rumah sakit dengan menyeret gaun putihnya. Air mata tidak bisa menutupi jika ia benar-benar mencemaskan keadaan adik kesayangannya yang kini terbaring di ruang ICU.

Beberapa kali kakinya tersangkut gaunnya sendiri, dan dengan sigapnya Siwon menangkup bahu Ahra.

“Ye-Yesung-ah…” panggil Ahra ketika dia melihat pelayan adiknya dengan tampang kusut berdiri di depan ruang Operasi.

Agasshi…”

“Ba-bagaimana… bagaimana keadaannya, Yesung-ah?” Ahra menghampiri Yesung dengan langkah tertatih karena lelah. Tangan kanannya bertumpu pada dinding, menjaganya agar tetap berdiri. Sedangkan tangan kirinya mengangkat sedikit gaun pernikahannya. Siwon masih tetap menopang tubuh Ahra dengan merangkul bahunya, membantu Ahra untuk terus berjalan.

“Sa-saya juga tidak tahu, Agasshi… Nadi Tuan Muda semakin lemah saat di bawa kerumah sakit…”

Ahra membekap mulutnya sendiri dengan air mata kembali menyusuri pipi putihnya. Wajah cantiknya tidak terlihat kini, karena wajah itu memperlihatkan ketakutan akan sesuatu.

Yesung melirik Siwon yang terus memeluk Ahra, sesekali memberi kecupan pada keningnya sembari mengucapkan kata-kata penenang.

Ingin sekali dirinya menghajar pria itu karena dialah alasan utama Kyuhyun sekarat.

Tapi di sisi lain ia ingin mengucap terima kasih karena dialah satu-satunya penopang hidup Kyuhyun ketika dokter memperkirakan bahwa Tuan Muda-nya tidak akan merayakan ulang tahun yang ke-20.

Bisa bertahan di usia ke-22 tahun adalah sebuah keajaiban. Dan karena Siwon-lah Kyuhyun bertahan selama ini…

Tepat Tuan dan Nyonya Cho datang, Dokter Kim yang selama ini menangani kesehatan Kyuhyun keluar dari ruang ICU.

“Bagaimana dengan putraku, Youngwon?” Tuan Cho yang pertama menghampiri dokter sekaligus sahabatnya sejak masa kuliah dulu.

Dokter Kim menurunkan masker yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya nampak lesu, “Mianhae, Hankyung-ah… Kyuhyun hanya bisa bertahan sampai sini…Tuhan menyudahi keajaibannya…”. Pria itu menepuk pundak Tuan Cho, memberi isyarat untuk tegar.

Tangis Nyonya Cho pecah. Tubuh Ahra merosot seketika dengan pandangan kosong.

Sedangkan Yesung menyandarkan punggungnya pada dinding. Kedua tangannya mengepal erat, alisnya saling bertaut dengan mata yang tertutup. Kenangannya bersama Kyuhyun seminggu yang lalu berputar kembali.

:::

“Hyung, jika suatu saat aku pergi, berjanjilah untuk tidak menangisinya karena aku menyayangimu. Aku tidak ingin orang yang kusayangi menangisi kepergianku…Appa, Umma, Noona, dan kau adalah yang berharga bagiku…”

:::

Dia sudah berjanji untuk tidak menangis jika hari ini tiba, tapi sepertinya gagal. Bulir-bulir air menetes dari mata sabitnya.

Mianhae, Kyu… Aku tidak bisa menepati janjiku…” desisnya lemah.

.
.
.
.

Ahra memasuki sebuah kamar di rumahnya. Betapa ia merindukan pemilik kamar ini. Kamar dengan nuansa warna burgundy, warna favorit adiknya. Tiap langkahnya menyusuri kamar luas itu, sambil mengabsen tiap sudutnya. Tidak ada yang berubah sejak kepergian adiknya seminggu yang lalu.

Bahkan aroma manis caramel masih dengan setia menguar lembut memenuhi kamar adiknya. Bibir tipis Ahra mengulas senyum. Dia tahu, adiknya belum meninggalkannya.

Matanya kembali menelusuri dan pandangannya terhenti pada sebuah kotak kaca berisi seribu origami warna-warni di atas ranjang king size. Di ambilnya kotak kaca itu, lalu memangkunya. Memainkan tiap burung bangau kertas yang terlipat rapi, menandakan bahwa origami itu di buat dengan perlahan, bukan sekedar asal lipat.

“Jo-josonghamnida…”

Ahra mendongak dan melihat Yesung berdiri di pintu sambil membungkukkan badannya. “Gwenchana…”

“Sa-saya melihat pintu ini terbuka…”

Senyum Ahra masih betah tersungging. “Mau menemaniku?”. Yeoja itu menepuk sisi kanannya, mengizinkan Yesung duduk di situ.

Yesung hanya mengangguk sebagai balasan.

“Origami ini… pasti merindukan pembuatnya…” Ahra menghembuskan nafasnya pelan.

“Tapi Tuan Muda telah menyimpan perasaannya di situ…”

“Boleh kutahu siapa yang beruntung mendapatkannya?”

“Choi Siwon.”

Ahra mengangkat wajahnya, lalu menatap Yesung. “Mwo?”

“Apa Ahra-Agasshi ingat telah mengantar sekeranjang origami pada kursi taman sebuah gereja? Kursi itu sering di singgahi Choi Siwon ketika selesai berdoa…”

.
.

Perlahan, yang di tinggalkan kembali menata ulang hidupnya.

.
.

Yesung melamar kekasihnya. Setelah menikah, dia berhenti bekerja pada Keluarga Cho, lalu memutuskan untuk membangun sebuah café.

Ahra kembali menyibukkan dirinya dengan perusahaan-perusahaan Ayahnya yang berada di Jepang. Ia meninggalkan Seoul setelah mengucapkan selamat tinggal pada Choi Siwon.
.
.
.

Kini tampak dua pria sedang menikmati makan siangnya di sebuah café.

“Josonghamnida, karena saya meminta anda meluangkan waktu yang berharga untuk menemui saya.” Yesung sedikit membungkukkan badannya.

Pria di hadapannya tersenyum, “Gwenchana, Yesung-sshi. Ah iya, ada keperluan apa anda ingin bertemu saya?”

“Saya ingin menyerahkan sesuatu yang tertinggal di Kediaman Cho.”

Kening Siwon mengkerut, “Saya merasa tidak meninggalkan apapun di sana.”

Yesung masih tersenyum sendu, sembari menyerahkan sebuah kotak kaca. Mata hitam Siwon membulat melihatnya.

“Milik Cho Kyuhyun yang ia tinggalkan untukmu…”
.
.
.
.
Setelah mengetahui semuanya, Siwon mengunjungi makam Kyuhyun untuk yang kedua kalinya. Dan sepanjang hari, hanya kata “Mianhae” yang lolos dari bibir pria Choi itu.

Sekembalinya dari pemakaman, Siwon langsung menuju ruang kerjanya di apartemen mewah pribadinya. Meletakkan sekotak kaca origami di atas meja kerja dengan hati-hati. Dalam pikirannya terlalu banyak kata “Seandainya…”

Seandainya ia mengetahui semuanya sejak awal…

Seandainya Kyuhyun hadir di hadapannya sebelum ia jatuh cinta pada Ahra…

Seandainya semua hanyalah mimpi…
.
.
.
.
Sebulan berlalu dengan tiap minggu Siwon mengunjungi makam Kyuhyun. Ia juga mulai berkomunikasi kembali dengan Ahra melalui surat-surat yang tiap bulannya mereka kirim hanya sekedar bertanya kabar.

Siwon tersenyum di meja kerjanya ketika pagi ini dia menemukan sebuah amplop cokelat di atas meja kerjanya.

Di dalamnya terdapat berita jika yeoja yang pernah di cintainya telah menikah bersama seorang pria bermarga Kim, putra dari sahabat ayahnya. Juga terdapat foto-foto pernikahan mereka.

Ahra telah kembali menyusun scenario kebahagiaannya. Dan diapun harus melakukan hal yang sama…
.
.
.
.
Hubungan Siwon dan Yesung perlahan melunak. Mereka bersahabat sekarang. Dan di tiap jam makan siang jika café itu tidak terlalu ramai, pasti di sempatkan untuk saling berbincang.

Hari ini Siwon datang sedikit terlambat karena rapat barusan memakan waktu yang cukup lama. Baru saja dia sampai di depan pintu masuk, seseorang menabraknya dan menumpahkan segelas espresso kekemeja putihnya.

“Mi-mianhae…” si penabrak berusaha meminta maaf.

Mata Siwon sedikit memicing, dia mengenal suara ini. Dan ketika namja yang menabraknya mengangkat kepala, matanya seketika membulat.

“Ki…bum…”
.

.
.
.

Sejak insiden yang tidak di sengaja itu membuat Siwon kembali pada masa lalunya. Kim Kibum, mantan kekasihnya semasa tiga tahun di SM High School. Ketika beranjak dewasa dan memiliki impian masing-masing mereka memutuskan untuk berpisah.

Mereka tahu, hubungan jarak jauh hanya akan membuat begitu banyak prasangka. Kibum memilih melanjutkan sekolah model di Itali, sedangkan dia melanjutkan studi sambil menjalankan bisnis Ayahnya di California.

Ia tidak membenci Kibum, begitu juga sebaliknya. Bahkan salah satu ruang di dalam hatinya seolah mengetuk pelan. Ruang yang pernah ia isi dengan orang yang di sayanginya. Siwon menyadari satu hal, bahwa hanya Kibum-lah pemilik kunci ruang hatinya.

.
.
.
Setahun telah berlalu…

Siwon melamar Kibum seminggu yang lalu, dan kini hari pernikahan mereka sedang berlangsung. Siwon mengenakan setelan tuxedo putih, begitu pula dengan Kibum.

Setelah saling mengucap ikrar di altar sebuah gereja, mereka melanjutkan pesta di halaman gereja yang telah di hadiri begitu banyak undangan. Pesta taman yang sederhana sebenarnya, di iringi musik intrumen yang menenangkan.

Ahra hadir bersama seorang pria tampan dengan seorang bayi laki-laki di gendongannya. Senyumnya telah kembali seperti dulu.

“Chukkae, Siwon-ah…” Ucapnya.

Siwon tersenyum lembut, “Gomawo.”

“Dia manis…” Ahra melirik Kibum yang tengah menyalami tamu undangan lainnya.

“Gomawo… Ah! Apa itu anakmu?”

“Ye, Kim Kyuwon… usianya memasuki satu tahun.”

“Nama yang bagus. Bayi laki-laki yang sangat manis… Boleh kugendong?”

Ahra menyerahkan bayinya yang sedang terlelap kegendongan Siwon dengan hati-hati. Siwon tersenyum mengamati bayi di gendongannya. Matanya tertutup damai. Kulit seputih susu itu mengingatkannya pada seseorang.

Matahari semakin menggeser. Lelah menyinari siang, ingin kembali keperaduannya. Tamu undangan pun telah pulang satu per satu. Menyisakan para pekerja yang sedang membereskan perlengkapan.

Siwon sedang duduk di salah satu kursi sembari melonggarkan dasinya. Ia terkejut mendapati sebuah origami berwarna baby blue di atas meja. Perlahan membuka lipatan origami itu.

 

— Kau sangat tampan, Siwon Hyung…

Hengbokhaejoyo, jebal…

Cho Kyuhyun —

 

Siwon mendongakkan kepala, berusaha mencari si pengirim origami. Matanya menangkap sosok seorang pemuda yang sampai sekarang masih di ingatnya.

Sosok itu mengenakan kemeja burgundy dipadukan dengan celana putih polos. Rambut ikal karamelnya masih sama, begitu pula dengan senyum itu…

Pria Choi itu membalas dengan senyum manis dan sedetik kemudian, sosok itu menghilang tersapu angin.
.
.
.
.
“Hei, apa kau tidak merasa dingin?”

Sepasang tangan kekar melingkar di pinggang Kibum. Namja itu tersenyum dan merebahkan punggungnya kedada suaminya. Sungguh hangat dan nyaman.

“Wonnie…”

“Hm?”

“Apa kau tidak merasa rumah ini sangat sepi?”

Siwon tersenyum diatas pundak Kibum. Ia tahu apa yang di maksud istrinya itu. “Wae?”

Kibum menunduk. Ia teringat kembali saat pesta pernikahan mereka, ketika Ahra datang bersama suami dan anaknya. Ia sempat melihat wajah bahagia Siwon ketika menggendong bayi laki-laki Ahra.

Sebagai seorang namja memang sudah tentu tidak memiliki rahim, kecuali ‘Namja Beruntung’ yang dikaruniai rahim alami oleh Tuhan. Dan Kibum juga tahu, bahwa dia tidak termasuk dalam ‘Namja Beruntung’ itu.

“Bagaimana kalau kita mengadopsi bayi? Kau tahu, aku selalu kesepian setiap kau berangkat kerja, Siwon-ah…”

Kibum membalikkan tubuhnya, sehingga ia bisa melihat wajah tampan suaminya yang tengah tersenyum manis. Siwon memeluk tubuh didepannya.

“Besok kita akan ketempat Jae Hyung di Busan. Kudengar nenek Jaejoong Hyung mengelola sebuah panti…”

.
.
.
.
Siwon dan Kibum akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup luas. Kibum bisa melihat beberapa anak kecil sedang berkejaran di taman. Wajah mereka benar-benar terlihat menggemaskan di mata Kibum.

Keduanya memasuki bangunan yang terbilang cukup megah itu. Langkah keduanya sama-sama berhenti saat melihat seorang pria cantik dengan perut yang membuncit sedang menggendong anak kecil.

“Siwon-ah, Kibummie?” sapa pria cantik itu, berjalan menghampiri keduanya.

Siwon dan Kibum tersenyum membalas. Mata Kibum lebih betah melirik bayi laki-laki yang mengenakan setelan piyama berwarna kuning. Jaejoong menyadari arah tatapan Kibum pun tersenyum.

“Mau menggendongnya? Aku ingin membuat makanan ringan untuk anak-anak…”
.
.
.
“Kupikir kau sudah lupa dengan kami, Choi…” sebuah suara membuat Siwon menolehkan kepalanya kesamping, melihat seorang pria yang berjalan mendekat.

Jaejoong yang sejak tadi menemani Siwon mengobrol pun berdiri menghampiri suaminya. Dengan sigap kedua tangannya melepas jas hitam yang di kenakan Yunho dan menenteng beberapa dokumen perusahaan suaminya. Yunho mendekatkan wajahnya pada sang istri kemudian melumat lembut bibir penuh itu, membuatnya semakin merekah.

“Ya! Tidak bisakah kalian melakukannya di dalam?! Aish! Bagaimana kalau anak-anak meniru prilaku pervert-mu, Yunho Hyung!” bentak Siwon dengan nada teramat kesal.

Kedua suami-istri Jung itu terkekeh melihat Siwon cemberut.

“Berbincanglah, kubuatkan kopi untukmu…” Ucap Jaejoong sebelum berlalu kedapur.

Yunho duduk di kursi di depan Siwon, adik sepupunya. “Ada perlu apa kemari?”

“Bummie ingin mengadopsi anak…”

Mata musang Yunho sedikit melebar, “Mwo? Kupikir Kibum bisa mengandung…”

Siwon tersenyum, lalu menyeruput espresso buatan kakak iparnya. “Tidak semua pasangan seberuntung kalian, Hyung.”

Yunho mengangguk. Memaklumi. Dia sendiri awalnya tidak pernah menyangka jika Jaejoong memiliki rahim dan sebentar lagi dia akan di panggil “Appa”.

Kibum mulai berdiri dengan bayi berpiyama kuning. Di tuntunnya bayi laki-laki itu untuk berjalan mendekat kemeja Siwon dan Yunho. Setelah sampai di hadapan suaminya, Kibum mengangkat bayi itu kepelukan Siwon.

“Ppa…Ppa…” bayi tampan itu kembali berceloteh.

Siwon dan Yunho melongo sedangkan Kibum dan Jaejoong yang sudah bergabung terkekeh ringan.

“Aigoo~ Kau pintar sekali, Jonghunnie~.” Ucap Kibum, gemas mencubit pelan pipi bayi imut itu. “Aku ingin dia Wonnie… Jonghun… Choi Jonghun, bagaimana menurutmu?”

Siwon mendudukkan bayi laki-laki itu di pangkuannya. Tangannya membelai rambut hitam bayi yang baru berusia satu tahun itu. “Jonghun, ne? Nama yang bagus…”
.
.
.
.
.
.
Desir angin membuat dedaunan bunga kamboja bergesek ringan. Menciptakan ritme tersendiri di sebuah pemakaman.

Siwon meletakkan sebuket lili putih di atas sebuah nisan yang sudah terdapat beberapa buket bunga mawar putih.

Pasti Tuan dan Nyonya Cho baru saja kemari, pikirnya.

“Annyeong, Siwon-ah…”

Siwon menoleh ketika suara lembut itu menyapa pendengarannya. Ia melihat seorang yeoja cantik berjalan kearahnya sambil menggendong putranya. Ia tersenyum. “Annyeong, Ahra-ya… kau sendiri kemari? Dimana Seungjin?” Tanya Siwon.

“Seungjin sedang mengambil kereta bayi Kyuwon. Saat kesini tiba-tiba saja dia tertidur…” Ahra mengelus pelan punggung yang di dekapnya. “Bagaimana kabarmu dan Kibum?”

“Sebulan yang lalu kami mengadopsi seorang bayi laki-laki… namanya Jonghun…”

Jinjja? Kalau begitu Kyuwon harus menjadi Hyung yang baik untuk Jonghun nanti…”

Seorang pria mendekat dengan kereta bayi berwarna soft blue. Ahra langsung membaringkan Kyuwon kedalam kereta itu dengan perlahan, takut bayinya bangun dan menangis.

Mereka kembali berbincang seolah masa yang lalu bukan sesuatu yang buruk. Tidak menganggap sunyi pemakaman adalah sesuatu yang mencekam. Justru begitu nyaman untuk menjadi sebuah tempat peristirahatan terakhir manusia.

Mungkin ketika itu mereka masih tertalu ‘Hijau’ untuk mengetahui takdir Tuhan. Ketika pada akhirnya Tuhan mengirim salah satu malaikatnya untuk menghubungkan mereka berdua. Seorang malaikat bernama Cho Kyuhyun.

Ahra maupun Siwon tidak pernah menyesali keputusan untuk berpisah dulu. Karena mereka tahu, scenario Tuhan jauh lebih indah dari scenario ciptaan manusia jenius manapun…



End

 

Advertisements

16 thoughts on “Seven Years of Love – 2 [End]

  1. inilah potongan yang hilang itu jawaban dari segala misteri dan kabut yang msi menutupix di part pertama…
    amazing story… 🙂 🙂 🙂 🙂
    meski sedih kyu harus pergi…. makasih kepada author yang telah menulis cerita seindah ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s