Posted in Angst, BL, Drama, Romance, WonKyu Story

Seven Years of Love – 1

Noona, apa kau mau menolongku?”

Seorang wanitaberambut ikal kehitaman itu menghampiri ranjang adiknya, lalu duduk di samping ranjang tempat adiknya sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. “Apa itu, Kyunnie?” Tanyanya lembut sambil menyingkap poni adiknya yang ternyata sudah memanjang sejak terakhir mereka bertemu setahun yang lalu.

“Aku ingin Noona meletakkan keranjang ini pada sebuah meja di taman gereja …” Sang adik menyerahkan sekeranjang origami tujuh warna berbentuk burung bangau.

.
.
.
.

Kubiarkan burung bangau ini pergi menghampirimu, agar bisa menyampaikan kata “Saranghae” pada tiap kepaknya…

Sebagai pengganti kata “Saranghae” yang tak sempat terucap…

Sebagai bukti pada Sang Waktu, bahwa aku mencintaimu…

Saranghae~

-Cho-
.

Seven Years of Love – 1

 ©

Chikuma Asuhara

WonKyu – SiBum
.

Seorang lelaki bertubuh atletis duduk di bangku taman sebuah gereja dengan sekeranjang origami burung bangau. Bibirnya terus mengulas senyum manis, menampilkan lesung yang cukup dalam sejak dia menemukan keranjang itu di bangku yang selalu di singgahinya jika selesai berdoa.

Apalagi terdapat selembar kertas yang terdapat kata-kata sederhana dan manis seperti itu, membuat pipinya sedikit bersemu. Dia mulai membongkar lipatan-lipatan kertas origami itu dan senyumnya semakin mengembang saat menemukan kalimat “Saranghae” di tiap kertas origami itu.

Tanpa tahu seorang pemuda berambut ikal caramel terus memperhatikannya dan ikut tersenyum dari balik pohon. Pada akhirnya dia putuskan untuk berbalik dan menghampiri mobil silver metalik yang terparkir tidak jauh dari taman gereja.

“Bagaimana?” sebuah suara menyambutnya saat dia sudah menduduki kursi di belakang.

Pemuda itu kembali mengulas senyum di bibir merah mudanya, “Dia tersenyum.”

“Hanya itu? Dan kau tidak menghampirinya?”

Pemuda itu menggeleng. Lalu pandangannya beralih pada sebuah bangunan serba putih. Gereja yang telah membuatnya jatuh cinta pada seorang lelaki untuk pertama kalinya.

“Suatu saat nanti, aku ingin menikah di gereja ini, Yesung Hyung…”

Si supir tersenyum, kemudian menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. “Apa kau akan memilihku untuk jadi pendamping pengantinmu nanti, Kyu?” Dia bisa melihat dari kaca kemudi, pemuda itu tersenyum meski masih memandangi bangunan itu.

“Tentu saja.”
.
.

Seven years later

.
.

Seorang pemuda berambut ikal caramel masih terlihat sibuk melipat kertas menjadi sebentuk burung bangau, lalu meletakkannya pada sebuah kotak berwarna baby blue. Kemudian melipat kembali kertas-kertas yang tersisa. Kegiatan yang selalu di lakukannya jika kondisi tubuhnya membaik.

Aigoo~ apa kau tidak lelah melipat kertas segi empat itu, Kyu?”

Kyuhyun mendongak dan mendapati seorang pria berambut hitam menghampirinya dengan nampan berisi makan siangnya. Ia tersenyum, lalu menggeleng pelan. Melanjutkan kembali aktivitas yang sudah di lakukan sejak dia berumur lima belas—Tujuh tahun yang lalu.

Pria itu meletakkan nampan dan mulai menyendok bubur, menyodorkannya pada Kyuhyun yang langsung membuka mulutnya. “Kau tahu, aku sendiri lelah melihatmu selama tujuh tahun membuat origami-origami ini…” Keluhnya, pura-pura.

Kyuhyun menelan bubur di mulutnya, lalu tersenyum tipis menanggapi. “Masih kurang dua ratus lima puluh, Hyung…”

“Biarkan aku membantumu.” Yesung kembali menyuapi Tuan muda yang sudah di anggapnya sebagai adiknya sendiri.

Ani. Aku ingin menyelesaikannya sampai seribu…”

“Ayolah, Kyu… Apa kau masih mempercayai mitos itu? Bahwa harapanmu akan terkabul jika membuat seribu origami burung bangau?” terdengar sedikit nada meremehkan dari ucapan Yesung.

Kyuhyun hanya menanggapinya dengan senyum tipis. “Aku mempercayai satu-satunya tujuan hidupku, Hyung…”

“Menikah dengan Choi Siwon, eh?”

Semburat merah muda kembali hadir tiap kali nama itu terdengar. Ia mengangguk sekali membuat rambut karamelnya bergelombang pelan, terlihat sangat imut.

“Kyu, tujuh tahun sudah berlalu. Choi Siwon pasti telah memiliki kekasih di California…”

Gerakan tangan Kyuhyun terhenti sebentar, lalu melanjutkan kembali kegiatannya melipat kertas-kertas di atas meja.

“Kertasnya habis, Hyung…” Ucap Kyuhyun saat menyadari tidak ada lagi kertas yang bisa di lipatnya.

Yesung menghela. Dia tahu Tuan Muda-nya itu tidak akan menanggapi kalimat bantahan yang selalu dia keluarkan. Dia sendiri tidak bisa terus menerus melihat kondisi Kyuhyun yang terkadang memburuk karena terlalu memaksakan diri untuk membuat seribu burung bangau. Tapi, Tuan Muda-nya itu begitu keras kepala.

Kyuhyun mengambil mangkuk berisi bubur yang masih tersisa setengah. Menatapnya sebentar. Perlahan, ia menyuapnya sendiri. Dia memejamkan matanya ketika ada rasa yang sering di rasakan indra pengecapnya. “Ugh… Asin…”

Kyuhyun tahu, jika bubur itu jarang di beri garam. Tapi tiap kali pembahasan mengenai Choi Siwon, maka bubur itu akan selalu terasa asin di indra pengecapnya. Karena air mata Kyuhyun-lah yang memberi rasa lain pada bubur yang selalu hambar.

Terlahir dengan tubuh yang lemah membuatnya tidak bisa bertindak seperti remaja sehat lainnya. Berteman dengan puluhan peratalan rumah sakit. Mengonsumsi ribuan butir obat. Hal itu sudah biasa baginya.

Kyuhyun tahu Yesung sangat menyayanginya. Dan diapun merasakan hal yang sama pada pria yang sudah bersamanya sejak ia berusia tujuh tahun. Terlebih saat Noona-nya, Cho Ahra, harus melanjutkan studinya keluar negeri, membuatnya sedikit kesepian.

Dia tidak ingin terus membebani Yesung dengan dirinya. Kyuhyun tahu Yesung sendiri telah memiliki kekasih, Kim Ryeowook, koki di rumahnya. Bahkan dia terkadang iri dengan lelaki berpipi tirus itu. Di cintai oleh orang yang kita cintai pasti sangat membahagiakan. Bukan berarti dia ingin Yesung mencintainya.

Namun ia ingin lelaki yang ada dalam hatinya—Choi Siwon—yang mencintainya. Sebuah harapan tulus dari seorang Cho Kyuhyun sejak tujuh tahun yang lalu…
.
.
.
Suara sepatu higheels yang beradu dengan lantai marmer menggema di rumah megah milik Keluarga Cho. Wanita cantik pemilik sepatu itu semakin mempercepat langkahnya saat menemukan hal di carinya.

Di buka pintu cokelat itu. Ia melihat sang adik sedang duduk di balkon kamarnya. Wajahnya menampakkan kerinduan yang teramat ketika melihat pemilik punggung rapuh itu menyenandungkan sebuah lagu balada—Seven years of Love

“Kyunnie~ Bogoshippoo~” Ahra langsung memeluk leher adik laki-lakinya dari belakang.

Kyuhyun tersenyum menanggapi sikap Noona-nya. “Do bogoshippo, Noona…”

Ahra beringsut pindah ke hadapan Kyuhyun, menduduki kursi besi bercat putih. Sudah sangat lama sekali dia tidak melihat wajah stoic yang justru sangat manis baginya itu. “Aigoo~ Kau tambah manis, Kyunnie…”. Ahra mencubit kedua pipi pucat Kyuhyun.

Noona, aku laki-laki. Dan aku tampan.”

Yeoja itu terkekeh. Justru sikap keras kepala itu begitu manis di matanya. “Bagaimana keadaanmu hari ini, Kyu?”

Lelaki pucat itu tersenyum manis, betapa ia merindukan Noona-nya setelah tujuh tahun tidak bertemu. Setelah ia meminta sang Noona membantunya meletakkan sekeranjang burung bangau buatannya kesebuah kursi taman gereja pagi-pagi sekali, sebelum Noona-nya itu berangkat ke California.

Nan gwenchana, Noona…” Jawab Kyuhyun.

“Ah, iya… Kudengar dari Yesung, kau sangat suka burung bangau. Sebelum ke Korea, aku mampir ke Jepang dan membeli ini untukmu…” Ahra menyerahkan sebuah kotak pada adiknya.

Namja berkulit seputih susu itu membuka tutup kotak dan menatap takjub pada benda yang ada di dalamnya. Sebuah kristal berwarna biru dengan ukiran berbentuk sepasang burung bangau yang terlihat saling merangkul.

“Cantik…”

Ahra menopang dagunya dengan kedua tangannya yang tertumpu pada meja kaca. “Apa kau tahu kisah sepasang burung bangau itu?”

Kyuhyun mendongak, lalu menggeleng.

“Aku mendengarnya dari ahjussi pemilik toko,” Wanita berambut hitam itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil menikmatai terpaan hawa hangat khas musim semi.

“Pada jaman dahulu, ada seorang prajurit perang yang tersesat di sebuah gunung bersalju. Ia begitu ingin pulang kerumah, tempat kekasihnya menunggu. Di tengah perjalanan, dia merasa lapar, lalu melihat sepasang bangau. Ia iri pada bangau itu. Sepasang bangau itu saja bisa bersama di tengah badai salju. Di ambil anak panah di punggungnya, dan anak panah itu melesat cepat menembus jantung sang bangau jantan. Entah kenapa rasa laparnya menghilang dan dia melanjutkan perlajanan untuk segera sampai di lereng gunung.

Tapi baru setengah perjalanan dia merasa tubuhnya semakin lemas dan rasa kantuk yang sangat. Dia memejamkan matanya perlahan. Di pelupuk matanya dia bisa melihat “Seseorang” yang sangat cantik dengan balutan kimono seputih salju dan mata sendu terlihat sedang mendekap sesuatu. Ia berpikir bahwa “Sosok” itu mungkinkah Shinigami, tapi justru menunjuk sebuah arah.

Prajurit itu begitu penasaran dengan apa yang di dekap “Sosok” itu dengan begitu hati-hati. Betapa terkejutnya ia ketika melihat tengkoraklah sesuatu yang di dekapnya. Mata sang prajurit seketika terbuka dan dengan sisa tenaganya ia berusaha bangkit. Dia melihat sesuatu yang perlahan bergerak lalu memanahnya bermaksud untuk di jadikan santapan, namun betapa terkejutnya Si prajurit saat mendapati bangau betina yang pernah ia temui. Kabut di gunung perlahan memudar dan menampakkan cahaya-cahaya kecil. Sebuah pemukiman desa. Ia menangis sambil memeluk bangau betina yang ternyata mendekap tengkorak Si bangau jantan. Si bangau betina justru menolong Sang prajurit yang telah membunuh kekasihnya.”

“Cerita yang menyedihkan, Noona…”

Ye, memang menyedihkan. Tapi kau tahu, Kyu, bahwa bagaimanapun, sepasang bangau itu terus bersama… Itu sebabnya si bangau betina menolong prajurit itu agar bisa kembali pada kekasihnya yang sedang menunggu kepulangannya…”

.
.
.

Suatu hari, Kyuhyun merasa keadaan tubuhnya lebih baik dan dia merasa heran dengan orang yang sedang sibuk mendekorasi ruang tamu serta sibuk memasak hidangan.

“Yesung Hyung, ada apa?”

Yesung terus mendorong kursi roda tempat Kyuhyun duduk, lantas tersenyum, “Nanti malam calon kakak iparmu akan datang, Kyu.”

Mwo?”

Yesung terkekeh pelan. “Kudengan dari Wookie, saat Ahra agasshi berada di California, ada seorang pria ramah yang membuatnya merasa nyaman. Setelah lima tahun berkenalan, pria itu melamarnya.”

“Pantas saja wajah Noona terlihat sangat bahagia… Pria itu pasti sangat beruntung bisa menikahi Noona…”

Sesampainya di taman kediaman Cho, Yesung kembali menuju dapur untuk mengambil snack yang sudah di siapkan untuk Kyuhyun. Sedangkan namja berambut sewarna caramel itu memandang langit dan menangkap beberapa kelopak sakura yang gugur.

“Bagaimana kabarmu, Choi Siwon? Ini adalah hari yang sama, saat pertama kali aku bertemu denganmu di taman gereja, tujuh tahun yang lalu. Apa kau mengingatnya? Apa kau mengingatku?”

Di genggam kelopak itu seraya memejamkan kedua iris madunya. Angin hangat musim semi berhembus perlahan. Begitu nyaman. Dan ini adalah angin musim semi terhangat yang pernah di rasakannya.

.
.
.

Begitu banyak orang berpakaian resmi yang berkumpul di ruang tamu kediaman Keluarga Cho. Mereka sibuk saling berbincang tentang bisnis. Alunan musik lembut menambah kesan damai malam itu.

“Kyunnie~”

Sebuah panggilan itu menyadarkan Kyuhyun. Ia melihat seorang perempuan cantik, dengan rambut hitamnya di gelung namun beberapa helai di biarkan jatuh, menggenakan gaun berbahan satin berwarna caramel. Sangat cantik dan manis.

“Kau cantik, Noona…” Puji Kyuhyun.

Ahra menghampiri adiknya, memasangkan kemeja senada dengan gaun yang di kenakannya. Sosok Kyuhyun justru terkesan lebih manis. Warna madu yang beradu dengan kulit putih susunya sangat pas.

“Kau juga sangat manis malam ini, Kyu.” Ahra tersenyum lembut dan mengusap lembut rambut ikal Kyuhyun. “Kau tahu, justru kau terlihat seperti yang akan menikah malam ini…”

Kyuhyun tersenyum. “Tapi, kaulah pengantin sesungguhnya, Noona…”

.
.
.

Perlahan Ahra dan Kyuhyun menuruni anak tangga. Semua mata menatap takjub kedua saudara yang mewarisi kesempurnaan itu. Tanpa tahu, mata Kyuhyun hanya tertuju pada seorang namja berpostur tinggi tegap.

Tuan Cho memperkenalkan pria itu sebagai calon suami dari Noona-nya.

Kyuhyun mengulas sebuah senyuman manis ketika Ahra menoleh padanya. Noona-nya tidak boleh tahu, jika pria itu adalah lelaki yang di cintainya selama tujuh tahun. Pria yang pernah menerima sekeranjang burung bangau dengan kata “Saranghae” di tiap lembarnya. Pria yang telah mengisi mimpi indahnya sejak tujuh tahun yang lalu..

Ahra berjalan kearah Kyuhyun, mengamit tangan pucat itu dan menuntunnya kehadapan seorang pria bertubuh tinggi. Calon suaminya.

“Choi Siwon imnida…” Pria itu sedikit membungkuk memperkenalkan diri.

Kyuhyun tersenyum teramat manis. Ini untuk pertama kalinya dia berhadapan dengan pria pemilik marga Choi itu. Pria itu sungguh tampan. Sangat pantas bersanding dengan Noona-nya, Cho Ahra. Bukan Cho Kyuhyun…

“Cho Kyuhyun imnidaAnnyeong, Siwon Hyung…”

Senyum cerah mengiasi bibir merah Ahra ketika mendengar adiknya langsung memanggil “Hyung” pada calon suaminya.

Tak pernah sadar jika tangan Kyuhyun mengepal dalam saku celananya. Berusaha menahan getaran tubuh dan air mata yang mendesak ingin keluar. Tanpa tahu rasa perih yang bersarang di hatinya jauh lebih sakit dari telapak tangannya yang berdarah karena saking kuatnya kepalan tangan Kyuhyun, sampai-sampai kuku jarinya menembus telapak tangannya.
.
.
.

Kyuhyun terbangun dengan lemas. Tirai jendela kamarnya telah tersibak.

Pasti Yesung Hyung yang melakukannya, pikirnya.

Malam ini, untuk pertama kalinya selama tujuh tahun, Kyuhyun tidak lagi memimpikan seorang Choi Siwon.

Dengan pelan, Kyuhyun bangkit dari ranjangnya menuju sebuah meja. Ia duduk di kursi sambil menatap kotak kaca itu. Sudah begitu banyak origami burung bangau dengan kertas warna-warni di dalamnya.

Tangannya mengambil tumpukan kertas segi empat, lalu melipat tiap bagiannya sehingga menjadi burung bangau yang begitu di sukainya.

“Tersisa seratus lagi…” desahnya sambil tetap tersenyum.

“Kyunnie~”

Kyuhyun menoleh kearah pintu kamar ketika panggilan nyaring itu terdengar. Bibirnya kembali tersenyum saat melihat kepala Ahra muncul dari pintu bercat caramel itu.

Ahra berjalan menghampiri adiknya, lalu duduk di sebelah Kyuhyun sambil menatap kotak kaca di atas meja. “Sudah sebanyak ini…”. Ahra meraih kotak kaca itu, meletakkannya di atas pangkuannya.

“Tinggal sembilan puluh lagi, Noona…” Kyuhyun kembali focus pada kertas origami hijau yang sedang di lipatnya.

“Euhm… Seminggu lagi kami akan menikah… Aku ingin kau hadir, Kyu…”. Ahra merebahkan kepalanya di pundak kanan adiknya. “Aku ingin ketika aku dan dia di depan altar, diiringi permainan piano-mu…”

Kyuhyun masih tersenyum, “Chukkae, Noona… Ah! Apa kau tidak ingin memeluk adik laki-lakimu ini? Atau karena sudah ada Choi Siwon, kau enggan memelukku?”. Kyuhyun mengerucutkan bibirnya lucu. Ia menghadap Noona-nya yang sedang terkekeh pelan.

“Aish! Apa yang kau katakan, Kyu. Aku akan terus memelukmu, Adikku yang manis…” Ahra mendekap tubuh Kyuhyun sembari tersenyum bahagia.

Namja bersurai caramel itu membalas pelukan hangat Noona yang begitu di sayanginya. Ia tidak ingin Ahra tahu jika matanya memanas dan cairan bening menggenang di pelupuk matanya.

“Apa kau bahagia, Noona?”

Yeoja berambut ikal kehitaman itu tersenyum, meresapi kehangatan tubuh adiknya, sembari mengelus punggung yang terbalut kemeja burgundy itu. Ia mengangguk, “Nan Haengbokhaejo, Kyu…”

Kyuhyun memejamkan matanya, membuat airmata yang awalnya menggenang, perlahan menelusuri pipi putihnya sambil mengulas senyum yang begitu indah di bibir merah muda itu. “Aku akan bahagia jika kau bahagia, Noona…”. Bisik Kyuhyun

.
.
.

Kini kotak kaca itu telah genap berisi seribu burung bangau.

Tepat pada saat pernikahan Cho Ahra dan Choi Siwon berlangsung.

Juga tepat kesehatan Kyuhyun semakin memburuk akibat selama seminggu menyelesaikan seratus origami.
.
.
.
Siwon menghadap yeoja cantik di hadapannya. Ia mengambil cincin perak dari kotaknya dan mengamit tangan Ahra. Berniat memasangkan cincin perak itu di jari manisnya.

Cling!

Cincin itu terlepas dari tangan Siwon dan membentur lantai gereja. Kemudian menggelinding entah kemana.

Suasana gereja yang awalnya sunyi seketika berubah riuh.

Cincin itu sepertinya tahu, jika bukan Ahra-lah pemilik jari manis yang seukurannya.

Justru seorang pemuda yang kini sedang bertaruh nyawa…

.
.

Aku…ingin sekali melihatmu menggunakan setelan tuxedo putih. Kau pasti terlihat sangat tampan, Siwon Hyung…

Berdiri di sampingmu di depan altar. Mengucap janji lalu menyematkan sebuah cincin ke jari manismu…

Hidup bersama… mengadopsi satu atau dua bayi yang nantinya akan meramaikan rumah kita yang sederhana…

Lalu… mendengar kata “Saranghae” dari bibirmu meski hanya sekali…

Itulah harapan yang tersimpan pada seribu burung bangau yang kubuat selama tujuh tahun…

Sisa hidupku… Yang kuhabiskan untuk mencintaimu…

Choi Siwon, Saranghae…

.
.
Setetes air jatuh dari sudut mata yang terpejam.

Menandakan habisnya nafas yang tersisa.

Berhentinya detakan pada pusat tubuh manusia.

Tak mengalirnya cairan merah pengantar oksigen.

Menandakan selesainya tugas Sang Dewa Kematian menjemput sebuah nyawa.
.
.
.
Five years later
.
.
.
“Jonghun-ah…” sapa seorang bocah bermanik bintang pada bocah lelaki yang lebih suka melihat bukunya ketimbang menatap si penyapa.

Bocah pemilik manik bintang itu duduk di samping bocah bernama Jonghun. Tidak berniat mengusik ketenangannya. Di ayunkan kedua kakinya yang menggantung kedepan dan kebelakang, sambil terus tersenyum menatap Jonghun dari samping.

“Hongki-ya…” seorang wanita berambut cokelat madu berjalan menghampiri putranya.

Umma!” bocah pemilik mata bintang itu segera turun dari bangku taman dan melompat kegirangan ketika melihat Appa dan Umma-nya bersama.

“Eits! Kali ini kau di gendong Appa, Hongki…” Sang Appa langsung mengangkat tubuh putranya dalam gendongannya. “Kau tak ingin menyakiti Umma dan uri aegya, kan?”

Hongki mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Umma kesayangannya, lalu mengelus perut Sang Umma yang mulai membesar, calon adiknya. “Appa, turunkan aku…”

Sang Appa menurut dan menurunkan tubuh putranya. Sedangkan bocah kelewat semangat itu menghampiri Jonghun. Mengeluarkan sebuah lipatan kertas rapi berbentuk bangau. “Semoga kau cepat sembuh, Jonghun-ahAnnyeong~” Setelah membungkuk, Hongki langsung berlari menghampiri kedua orangtuanya.

Jonghun melirik malas origami di atas meja, kemudian memfokuskan diri pada buku yang sedari tadi dibacanya.

“Hei, apa kau tidak bosan dengan buku itu, Jonghunnie?”

Tubuh Jonghun terangkat dengan mudahnya oleh seorang pria tinggi, Appa-nya. “Aniyo, Appa. Itu buku pemberian Umma…”

“Kau menyukainya, eh?” kali ini suara Sang Umma yang terdengar dari punggung Appa-nya.

Ye, Umma…”

“Dia jadi mirip denganmu, Bummie…”

Namja di belakang terkekeh. “Aku menemui dokter Park dulu…”. Setelah mengusap surai hitam putranya, namja berkulit seputih salju itu memasuki ruang dokter di dekat taman rumah sakit.

Siwon menurunkan tubuh putranya dan mendudukkan Jonghun di pangkuannya. Mata hitamnya tertuju pada sebuah origami yang tergeletak di atas meja. “Origami siapa ini?”

“Milik Hongki…”

“Hm? Hongki?”

Jonghun mengangguk, “Anak laki-laki yang sering kemari. Dia memberikannya sambil berkata semoga aku cepat sembuh…”

Siwon tersenyum, membuat wajah tampannya masih terlihat meski tidak bisa di bilang masih muda.

“Hei, apa kau ingin mendengar kisah tentang seribu origami?”

“Eih?” Jonghun mendongak, menatap wajah Appa-nya dari bawah.

Siwon semakin mengeratkan pelukannya. “Kisah seorang pemuda yang percaya, bahwa jika ia membuat seribu origami bangau maka harapannya akan terkabul…”

Perlahan kelopak mata Siwon menutup.

Menampilkan seorang pemuda berkulit putih susu, bersurai caramel, dengan senyum terpatri di bibir merah mudanya, sedang melipat kertas segi empat.

“Di sisa hidupnya yang singkat, hanya di habiskan untuk mencintai seorang pria yang tidak pernah tahu, bahwa ada cinta yang begitu tulus untuknya. Pria bodoh yang akhirnya menyesal setelah pembuat origami itu tiada…”

“Lalu, apa origami itu di buang?”

Siwon membuka kembali matanya dan menggeleng. “Tidak. Seribu origami itu kini di simpan oleh pria bodoh itu. Masih dengan kotak kacanya… Tersimpan rapi di atas meja kerjanya, agar pria bodoh itu tidak lupa, masih ada begitu banyak harapan pada kotak kaca itu…”

“Siwonnie~” panggilan itu menginterupsi cerita Siwon. Ia menoleh, dan mendapat isyarat dari Kibum untuk mengantar Jonghun ke ruang periksa.

Siwon menurunkan putranya, lalu mengambil origami berwarna biru. Ia berlutut di depan Jonghun, menyamakan tinggi pada bocah berambut hitam pekat. Di ambil tangan kiri Jonghun, membuka telapak tangan putih itu, meletakkan origami bangau di telapak tangan putranya.

“Jonghun-ah, kau boleh melupakan apapun, tapi jangan pernah lupakan kata Appa, ne?”

Bocah berusia tujuh tahun itu memiringkan kepalanya, menatap bingung Sang Appa.

Siwon tersenyum, membuat kedua lesung pipi pemanis senyumnya terlihat. Tersenyum teduh menatap putranya. “Apapun yang terjadi, jangan pernah abaikan burung bangau yang menghinggapimu, arraseo?”

Jonghun mengangguk patuh, meski masih belum mengerti ucapan Appa-nya, origami berwarna biru itu di masukkannya kedalam saku jaketnya.

Siwon yang melihatnya hanya tersenyum. Cukup dirinya yang menjadi “Pria bodoh” dalam kisah Seven Years of Love…



End

Advertisements

15 thoughts on “Seven Years of Love – 1

  1. huwaaaaaaaaaaa…
    apa kyu meninggal? 😥 😥 😥
    msi banyak potongan yg hilang…
    harus baca next part nih,,, 🙂 🙂

  2. Sudah kuduga pasti kekasih ahra siwon….
    Kyuhyun hebat… Bisa bertahan saat berhadapan dng siwon, walaupun siwon adalah kekasih kakaknya…..

    Apa kyuhyun benar sdh tiada.?

    ——1315——

  3. Sad ending.. keburu nangis jd bingung hrus comment apa

    sumpah sedih bgt.. tp salut sih Kyu bisa. ertahan sampe akhirnya bangaunya jd 1000 … hahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s